Hari 2 - Berpelukan di Suatu Tempat

Takane mengira ini hari yang baik untuk mengajak Haruka ke suatu tempat seusai sekolah. Kenyataannya, hujan deras turun dengan tiba-tiba hanya setelah 10 menit mereka meninggalkan gerbang sekolah.

Dia dengan Haruka cepat-cepat berteduh di bawah atap sebuah rumah yang menjorok.

"Mereka tidak bilang akan hujan, apalagi hujan badai seperti ini!" seru Takane, dirinya basah kuyup. Dia maksud 'mereka' adalah aplikasi ramalan cuaca di ponselnya.

"Cuaca mah tidak ada yang dapat menebak," Haruka merespon Takane dengan sabar, dirinya juga sama kebasahan.

"Atap ini tidak dapat melindungi kita!" seru Takane, amarahnya belum mereda.

Haruka tersenyum dengan tingkah Takane. Pergantian cuaca memang terkadang membuat amarah seseorang tak tertahankan. Tujuan mereka yakni toko buku, Takane yang mengajaknya. Pasti ada buku yang sangat ingin dibeli Takane sehingga dapat begitu kesal.

"Kalau begitu kita ke dalam, sepertinya rumah ini tidak dihuni," Haruka mengusulkan setelah melihat-lihat keadaan di belakang punggung mereka.

"Bagaimana kau bisa yakin?" Takane bertanya tetapi langsung berjalan menapaki lantai kayu rumah tersebut.

Haruka tertawa kecil sebelum menyusulnya.

Benar saja, rumah tersebut tidak terkunci. Takane cepat memasukinya. Dia merasa sedikit ngeri dengan begitu gelap dan kosongna rumah tersebut. Andaikan di luar tidak hujan, dia tidak akan mau berlama-lama di rumah ini. Dia membiarkan pintu rumah terbuka agar cahaya yang walaupun sedikit tetap bisa masuk. Dia pun duduk menatap hujan. Haruka duduk di sebelahnya tak lama kemudian.

Takane melipat lututnya dan mendekatkannya pada tubuhnya, memeluknya. Pakaian yang melindungi dirinya basah semua, rambutnya lepek, dia kedinginan, ditambah lantai kayu yang sama sekali tidak hangat.

"Dingin ya, Takane..."

"Sudah jelas," Takane menggerutu tetapi tidak keras. Kemudian dia sedikit kaget dengan Haruka yang menempelkan bahunya dengannya. Takane tidak bergerak, tetap melihat ke lantai kayu, kemerahan mulai muncul di pipinya.

"Ehh untung tas kita anti air ya!"

"Hmm.." Takane tidak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi. Dia sangat benci hujan yang mendadak ini. Dia benci rencana dia dengan Haruka gagal. Akan tetapi dia lebih benci karena bertingkah seperti anak kecil saat ini.

Tiba-tiba lantai kayu berwarna gelap itu tertutupi oleh sesuatu berwarna biru cerah, Takane meraihnya, dia merasakan teksturnya yang lembut. Sesuatu kemudian bergerak di punggungnya, dia mendongak untuk melihat Haruka menaruh selimut di antara mereka, sebuah senyum terhias di wajahnya.

"Terkadang ibuku memasukkan selimut di tasku. Untunglah, dengan begini kita tidak terlalu kedinginan,"

Takane mengangguk, meremas kain tersebut. Kemarahannya perlahan menghilang seiring dengan meresapnya kehangatan di dalam tubuhnya.

Tiba-tiba Haruka menolehkan kepalanya ke arahnya, bersandar di kepala Takane.

"Haruka, geli tahu.." seru Takane tetapi tidak dengan nada kesal.

"Tetapi lebih hangat kan?"

Takane mengangguk, kemudian memberanikan diri bersandar di bahu Haruka. Nah, begini kan lebih nyaman.

(*********)

A/N:

Kadang ada chapter yang lebih panjang, sangat panjang, lebih pendek, sangat pendek. Maafkan atas ketidakjelasan ini.