Title : Never Say Good Bye Anymore

Genre : Hurt/Comfort, Angst

Length : Chapter 2

Main Cast : Kim Kibum, Kim Jaejoong

Cast : Kibum, Jaejoong, Yunho, Siwon

Pair : YunJae (till the END)

Warning : YAOI, gaje, hasil remake, typos. Karena alurnya mundur, perhatikan tanda waktunya yah? Hehee

Pengorbanan dalam cinta itu indah, seberapapun luka yang didapatkannya. Cinta tak hanya sekedar kata yang cukup kau umbar di luar sana, karena jauh didalamnya, tersimpan makna berjuta kata. Meski terkadang semu, masam, dan tak semanis pertama kali kau mengecapnya, ingatlah satu hal, karena cinta itu tak hanya sekedar bahagia. Cinta, luka, pengorbanan, dan penantian. Ada berbagai hal dapat kau temui saat kau merajutnya.


( Jaejoong PoV )

Nyaris akhir Januari beberapa bulan yang lalu, aku masih mengingatnya dengan jelas. Merasakan tekstur lembut yang berpadu dengan gairah penuh nafsu. Mendengungkan geraman kesal yang tak dapat kulupakan begitu saja. Serta tatapan tajam yang tersirat dendam membara.

Dia seperti setan.

Demon yang terbebas dari jerat kekang. Menyembul keluar dari sarang.

Menghujam tubuhku tanpa ampun. Mengabaikan rintih kesakitan yang kusuarakan. Menutup mata dari pedih yang kurasa. Melampiaskan kekesalan dengan hukuman yang tak pantas dilakukannya.

Malam itulah aku dihadapkan pada Jung Yunho yang tak pernah kukenal sebelumnya. Jung Yunho dengan aroma alcohol yang mengoyak kehormatanku, menggerus janji suci yang dahulu pernah ia lontarkan padaku, tak kan menyentuhku sebelum aku benar-benar menyandang marga yang sama dengannya. Namun detik itu, ia membabi buta menodaiku.

Aku tahu, segalanya kian memburuk sejak enam bulan terakhir ini. Tautan suci yang kami genggam erat tercelup dalam kubang kotor penuh kenistaan. Seolah segala kebahagiaan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya hanyalah khayal semata.

Kebohongan asal mulanya, dan berakhir dengan pengkhianatan yang tak berperasaan.

(End of Jaejoong PoV)

Gelegar Guntur yang mengaum sadis membuat pandangan keduanya terputus. Kilat yang menyambar di luar sana adalah satu-satunya hal yang dapat menjadi obek alihan keduanya. Kilau keperakan dengan gores orange kemerahan saling bersusulan. Dibarengi dengan gaung nyaring yang saling bersahutan.

Tetes kehidupan kembali menebah perut bumi. Menghantarkan percikan yang bertabrakan dan siap berperang.

Keheningan menenggelamkan keduanya dalam batas memori pahit yang terkunci dalam hati. Gemeretak pepohonan yang tersapu kuatnya sang bayu seolah menebar kunci pasti terbukanya garis tangis kedua sosok ini.

( Flashback )

Tertatih...

Jaejoong terseok menyusuri lorong apartemen mungil yang selama ini ia tinggali bersama kekasihnya. Ngilu tubuhnya membuat cara berjalan namja cantik itu tak sesempurna biasanya. Hanya satu tujuan Jaejoong, kamar mandi.

Meremas dadanya keras, saat dingin air membasahi tubuh berpeluhnya. Kini ia kotor. Dia bukan Kim Jaejoong yang sama seperti beberapa jam sebelumnya.

Menyesal?

Tidak!

Jaejoong tak pernah menyesalinya. Meski kenyataannya ia dipaksa. Digauli tanpa ikatan suci. Hanya tautan abstrak yang kian hari ia jalani. Satu-satunya hal yang mengikat kebersaman dua insan ini.

Dia tidak tidur.

Sejak peristiwa yang dialaminya semalam, ia memilih untuk terjaga. Menatap kosong sosok tampan dihadapannya. Memandangnya tanpa tahu harus memikirkan apa. Kim Jaejoong, namja cantik itu, amat tak mengerti.

Perubahan drastis yang terjadi pada Yunho belakangan ini. Sikap kerasnya, dan ketidak pedulian namja tampan itu padanya. Hubungan keduanya yang telah memasuki tahun ketiga seolah karang ditelan lautan. Tak ada kejelasan kenapa dan mengapa. Seolah Jaejoong dihadapkan pada sosok baru yang tak berganti raga.

Padahal ia masih Yunho yang sama, Yunho yang tetap namja chingunya.

"Nggh…"

Yunho menggeliat masih dengan kelopak mata terpejam. Merenggangkan otot tubuhnya yang kebas di beberapa bagian. Seberkas cahaya sang surya jatuh tepat mengenai paras tampannya.

Saat kembar onyx itu tak lagi tenggelam dalam iris kelamnya, satu titik pertama yang menjadi pusat perhatiannya hanyalah sosok cantik yang duduk jauh disudut sofa. Memandanginya tanpa kilau yang sering ia jumpai.

Yunho bangkit dari tidurnya, menatap terkejut saat selimut yang tadi membungkus tubuh polos itu kini hanya menutupi setengah dari tubuh kekarnya. Satu pukulan kuat menghantam ingatannya, kala moment gila yang ia lakukan semalam kembali berputar ulang dalam kepalanya.

Lagi, ia memandang Jaejoong.

Dengan mata sendunya dan dibarengi helaan nafas panjang, Yunho menyambar celana pendek yang tercecer di dekat ranjang. Memakainya cepat, dan berjalan menghampiri sosok cantik itu. Memandangnya tanpa mengatakan apapun. Hanya menyelami paras pucat Jaejoong. Dan berbalik meninggalkannya begitu saja.

Namja cantik itu mendesah kecewa, tetes bening yang ia tahan sejak keduanya berpandangan merembes melalui sela-sela bulu matanya.

Kenapa?

Apa yang terjadi pada namja tampan itu?

Tatapan yang tak Jaejoong mengerti, tatapan yang selalu Yunho berikan padanya beberapa bulan terakhir ini. Tatapan penuh perasaan, namun menyimpan sesuatu yang sampai saat ini tak Jaejoong pahami.


"Kau sakit? Wajahmu pucat sekali, perlu kubelikan sesuatu untukmu?"

Jaejoong menggeleng malas, menundukkan kepalanya tanpa mau menatap sosok tampan yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.

"Apa Yunho melakukan sesuatu padamu? Semarah apa dia semalam?"

Lagi, Jaejoong tak bersuara. Enggan menanggapi pembicaraan ini.

Seolah menyadari tak ada niatan yang mendasari sosok cantik itu menjawab segala macam pertanyaannya, Choi Siwon, salah satu sahabat dekat Jaejoong hanya memandangnya prihatin.

"Maafkan aku ne? semua ini salahku, jika aku tak mengajakmu jalan-jalan sampai larut malam, Yunho tak kan semarah itu"

Hnn…

Tak sadarkah pria itu bahwa kalimat yang ia ucapkan cukup melukai batin seseorang? Seperti apa Kibum mengontrol detak jantungnya saat ini? Meski ekspresi paras manis itu tak menunjukkan perubahan sedikitpun, tak pahamkah Siwon luka sayatan yang Kibum terima tepat di ulu hatinya?

Mencoba meredam emosi, Kibum menegak habis cola yang dipesannya. Minggu hangat yang seharusnya menjadi saat kencan termanis tak dirasakannya. Namja chingunya justru sibuk meladeni sahabat dekatnya.

"Yunho sungguh tak datang, padahal aku ingin menjelaskan kesalah fahaman semalam"

"Tak perlu melakukannya. Dia tak peduli lagi padaku, kurasa saat inipun ia sibuk menemani gadis-gadis yang menggilainya"

Kekehan miris itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Jaejoong. Mengaduk jus mangga pesanannya tanpa minat.

"Kau sudah bertanya padanya? Apa pembelaannya?"

Hening…

Siwon masih setia menunggu jawaban Jaejoong.

"Tidak ada, dia tak pernah menanggapiku. Dan aku juga tak mau membahasnya lagi"

"Ck! Lama-lama aku tak tahan melihat sikapnya"

"Yunho hyung pasti memiliki alasan. Jika memang ia tak mau mengatakan apa itu, tak bisakah Jaejoong hyung percaya saja padanya?"

Kibum bersuara, tak tahan sosok yang tak memperlihatkan batang hidungnya itu dicela begitu saja.

"Kau selalu membelanya Bummie-ah…"

Satu gumaman singkat dari sang namja chingu hanya membuahkan keheningan. Kibum yang semula memandang Jaejoong terpaksa mengalihkan perhatiannya.

Ia hanya menghela nafas, begitu terbiasa jika sosok tampan ini menggumamkan kalimat seperti itu.


Liuk lilin mungil yang berpendar cerah dengan warna orange kekuningan itu menari dengan indah. Remang yang tercipta darinya seakan memutus segala harapan yang ada. Mengubur mimpi indah yang harusnya ia terima. Menunjukkan kenyataan pahit yang telah lama ia rasa.

Tart manis dengan topping beberapa potongan strawberry merah itu tak menggugah selera. Gula yang tersimpan di dalamnya tak sedikitpun mengurangi kepahitan dalam hatinya.

Enggan meniup liuk cantik itu, hanya memandangnya dengan tatapan kosong.

Bahkan saat tepukan lembut mendarat manis di bahunya, ia hanya mengabaikannya. Bisikan dari satu dongsaeng kesayangannya juga tak diindahkannya.

Make a wish?

Untuk apa?

Itu tak kan membantunya bukan?

"Jae-ya… cepat tiup lilinnya, kita sudah menunggu dua jam. Kurasa Yun—"

"Aku tidak peduli!"

Kibum yang mendengar geraman samar itu hanya memandang miris Jaejoong, detik berikutnya tatapan matanya terpusat pada pintu utama. Berharap sosok itu muncul dari sana, menebar senyum canggung sebagai ucapan permintaan maafnya.

But…

Pintu itu tak pernah terbuka.

Kibum mengerti, paham betul pada perih yang Jaejoong alami.

Angan seakan membawa sosok cantik itu dalam mimpi yang nyaris nyata. Dan saat dinding tebal dalam hati itu tak lagi kuat menahan luka, yang Kibum saksikan hanya tawa penuh derita. Tawa palsu terbalut derai pilu.

"Jae-ya…"

Satu sudut dalam hati Kibum turut terluka. Kala lengan kekar yang seharusnya hanya menjadi miliknya kini merengkuh sosok rapuh itu. Menenangkan dengan dekapan hangatnya. Kibum tersenyum, membuang pandangannya begitu saja. Meski Choi Siwon adalah kekasihnya, Kibum sadar ada batas tertentu yang menghalangi namja manis itu mengeratkan tali kekangnya. Dari awal ia tahu, jalinan kasih yang ia jalani seakan fana.

"Aku mau pulang…" cicitan lirih dengan remasan kuat di dada kiri itu terdengar menyakitkan. Nafas Jaejoong yang tersengal menciptakan gurat khawatir kedua sosok lainnya.

"Jae…"

"Ugh!"

"Apa kau membawa obatmu? Kau taruh dimana?"

"Pulang… aku mau pulang…"

Diam, Siwon meremas lembut bahu namja cantik itu.

"Kuantar ne?" tawarnya penuh perhatian.

Manik bulat dengan kilau cantik yang kini pudar itu menatap cemas sang sipit sendu. Seakan mengerti, Kibum hanya mengangguk setuju. Tersenyum masam, dengan sayatan luka yang kian mendalam.

Tak tega, tak ingin hyung yang disayanginya semakin terluka.


Malam Seoul yang beku, bukan karena salju, bukan pula karena hembusan sang bayu. Tersentak dari lamunan kala motor yang ia naiki terhenti di pinggir jalan. Tempat yang tak pernah dikunjunginya. Meski tak asing, ia tak pernah menjejak bumi tempatnya berpijak saat ini. Memandang penuh tanya punggung lebar yang tadi sempat menjadi tempat bersandarnya. Dan saat sosok tampan itu mengenyahkan helm yang membungkus kepalanya, senyum hangat ia terima.

"Apa sekarang jauh lebih baik?"

Satu pertanyaan singkat yang Siwon lontarkan hanya dibalas anggukan Jaejoong.

"Kubilang aku mau pulang~" rengeknya polos, hingga membuahkan senyum tulus namja tampan ini.

"Ini hari ulang tahunmu, aku tak mau kau pulang dengan wajah seperti itu"

Lagi, Jaejoong hanya memandang tak mengerti.

"Kembang gula, permen kapas, yah… apapun yang kau sukai, kita bisa mencarinya disekitar sini. Kajja!"

Genggaman hangat yang menyelubungi jemari mungil itu membuahkan seulas senyum tulus. Tarikan yang membuat Jaejoong menapak tiap langkah seakan menggerus sakit hatinya. Jauh di dalam sana, tepat di hatinya, ia amat bersyukur memiliki Siwon di sampingnya. Satu sosok selain Kim Kibum yang amat berpengaruh dalam kehidupan namja cantik itu.

Hingar bingar dari kerlip jejaran lampu deretan pertokoan menjadi saksi bisu tautan tak berdasar itu. Keduanya terseret arus waktu, melupakan status jelas yang kini tampak semu. Tatapan mata yang tak pernah berubah sejak paras elok itu tertangkap dalam indra penglihatannya, menjadikan satu alasan kuat getar dalam hati Siwon tak dapat melupakannya begitu saja.

"Sampai kapan kau mau menatapku seperti itu?" kekehan geli Jaejoong mengantarkan namja tampan satu itu kembali dari mimpi.

Siwon turut menunjukkan cengiran tak berdosa, menepuk-nepuk surai kecoklatan namja cantik itu. kekhawatirannya lenyap begitu saja kala binar cantik yang mempesona matanya kembali ia terima.

Namun saat ia menoleh, satu titik membuka lebar mata elangnya.

Genggaman tangannya yang membelit jemari sosok cantik itu mengerat seketika. Air mukanya mengeras. Membuatnya tampak menakutkan dalam sekejab.

Jaejoong yang tak mengerti hanya mengikuti arah pandang sang penebar harum kematian. Dan apa yang ia lihat sontak menohok ulu hatinya. Mencabik organ penting itu dengan pisau berkarat.

Menabur garam dalam luka. Mengoyak nyeri itu membabi buta.

Seakan tersiram air raksa, perih itu semakin menjalari hatinya.

Di sana, di depan matanya, Jung Yunho sibuk melumat garis merah seorang yeojya. Seolah semua yang berada di sekitarnya hanyalah sekumpulan manusia buta.

Tetes kesedihan Jaejoong kembali menghantam bumi. Diantara dingin dalam hati, panas yang dirasanya semakin mendominasi. Meski ia tahu kelakukan Yunho belakangan ini, baru kali inilah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.

"Jangan…" hanya mampu begumam lirih, kala kaki jenjang pemuda tampan yang berdiri disampingnya nyaris menghampiri sang objek bidikan mata.

"Lepaskan aku Kim Jaejoong! biar kuhancurkan tulang-tulangnya!" gemeretak deretan gigi rapi Siwon cukup menjadikan bukti kesungguhan omongannya.

Lagi, Jaejoong menggeleng tak setuju.

Menatap penuh harap pria tampan itu. Tak mau terlibat keributan di tengah keramaian seperti itu.

"Bawa aku pergi Wonnie… bawa aku pergi dari sini…"

( End of Flasback )

Dalam satu kedipan mata, jiwa yang melayang jauh sampai batas angan itu kembali pulang.

Termenung sejenak mengingat kembali satu dari tumpukan memori pahit yang mengganjal hati. Tak satupun dari dua sosok itu yang mau meneteskan air mata. Meski merah nyata tampak di tiap bola matanya.

Menekan kuat emosi agar kembali tertata rapi.

Hanya bising Guntur yang menjadikan melodi pengantar tiap detik dalam malam itu, mengikis kesuNyian yang membelenggu dalam kalbu.

"Apa kau lupa Kibum-ah… aku juga mengkhianatinya. Aku bahkan mengkhianati kalian berdua…"

Jerit pilu Zeus kembali mengaung. Bersamaan dengan bola mata sipit Kibum yang semakin menyendu.

Tak saling menatap, seolah terdapat sekat tak nyata di hadapan keduanya.

Menunduk, Kibum meremas handuk basah yang tadi dipakainya. Enggan mengangkat wajahnya, meski rasa bersalah itu tak sepatutnya hidup dalam dada.

Dia yang dikhianati, dia yang tersakiti, dan dia pula yang tersingkir. Terbuang dengan alasan pasti. Terbilang menyedihkan, daripada apa yang kerap disebut orang menyakitkan.

Kala helai daun basah menghantam lembut kulit bumi ini, satu moment yang terjadi pada musim semi beberapa bulan lalu kembali merajai waktu.

( Flashback )

Saat azalea telah bermekaran, saat gunung Hallasan menunjukkan keindahan, dan saat setiap pasangan saling menggenggam tangan. Saat dimana kita dapat berbagi suka cita. Menebar cinta dengan hati yang berbunga-bunga.

"Mianheyo… aku jadi mengganggu kencan kalian"

Kim Jaejoong menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memandang Kibum dengan bibir mengerucut lengkap dengan puppy eyes andalannya.

"Tidak apa-apa hyung, jangan seperti itu" satu senyum tulus Kibum berikan. Menggenggam jemari sang hyung yang tak juga terlepas kaitannya. "Aku senang melihat Jae hyung bisa tersenyum lagi seperti ini, berbagi hal yang menyenangkan dengan teman tak salah bukan?"

Bahkan saat kalimat terakhir itu Kibum tambahkan, tak sedetikpun senyum tulus itu ia hilangkan. Tiap kata yang keluar dari bibirnya tak perlu kau ragukan lagi kebenarannya.

Telah lewat satu bulan sejak kejadian itu, malam dimana harapan hyung tersayangnya terputus begitu saja. Dilupakan saat hari ulang tahunmu itu menyakitkan bukan? Apalagi jika itu oleh namja chingu yang sangat kau cintai. Membayangkannya saja membuat batin Kibum turut terluka.

Dan jika hanya berbagi waktu bertiga semacam ini bukanlah masalah bagi namja manis itu.

Meski kenyataannya Kibum tak tahu, satu hal menyakitkan tersembunyi rapi dibalik senyum Jaejoong kala itu.


TBC!

ini FF hasil remake, jadi endingnya sudah ada. Miaaaaaaaaan banget buat yang minta chara tambahan macam Hae dan Kyu *bow

Terimakasih banyak buat readers yang sudi mereview FF abal ini. Yunho akan muncul di part depan ^^ dan buat Old Oak Tree, saya tak bisa menjanjikan sekuel *deepbow

Jeongmal gomawo buat DewiDestriaPutri, Meirah1111, yukishima7, MissChoi, namikaze, KishiZhera, wonniebummie, Hae, Nara-chan, tiara2112, lovesibum, dan juga silent readers.

Saya janji akan membalas review kalian di part selanjutnya, sampai jumpaaa^^