YOHOOO aku nambah fandom nih~

Ssebenarnya otp aku tuh banyak. Rencananya pengen nambah fandom lagi selain SFN sama RiFRen. Doakan aja semangat sama mood aku masih ada buat ngelanjutin cerita – cerita yang udah aku buat.

Btw sorry banget karena jadwal update ga tetap dan cenderung lama update. Biasa anak kuliahan plus tipe orang yang punya banyak hobi. Jadi bagi waktunya itu yang err

Sebenarnya aku itu berharap banget kalau kalian bisa ngasi masukan atau saran tentang cerita cerita yang aku buat. Jadi aku bisa memperbaiki dan mengembangkan kosa kata yang kadang aneh waktu di baca.

Langsung saja nikmati ceritanya.

Here we go!

Levi Ackerman: 27 th

Eren Jaeger: 13 th

Disclaimer: Hajime Isyama tapi ff ini mutlak punya saya

Rate: M (mungkin ini saatnya T-T)

Pairing: LevixFemEren

Genre: Romance, Tragedy, maybe little bit comedy

Warn: Typos, Absurd dan lain lain

Don't like, don't read!

Impossible 1

Di sini Eren sekarang. Di apartemen besar yang sepi hanya Dirinya dan seseorang bernama Levi. Ayahnya biang jika dia akan tinggal bersama dengan seseorang bernama Levi. Pria berwajah menyeramkan ya walau dia akui jika Levi itu lumayan tampan.

Eren hanya duduk diam di sofa berhadapan dengan sosok bernama Levi itu. "Jadi kau benar – benar Eren?." Pertanyaan aneh macam apa itu? Eren menyerengit. Bukankah sudah dengan jelas ayahnya mengatakan jika dirinya itu Eren.

"Tuan. Bukankah sudah papa katakan dengan sangat jelas pada anda?." Eren mendengus keras.

"Hooh jadi benar." Levi mengerutkan dahinya seperti tengah berfikir. Jadi Eren berengkarnasi menjadi wanita? Ini benar – benar mengejutkan dan sulit di percaya. Di tambah lagi jika Eren dengan wajah wanita itu terlihat sangat- err Manis. Wajar saja jika dia menjadi incaran penculikan.

Levi bukanlah tipikal orang yang bisa mengurusi anak kecil. Jadi ia sedikit bingung untuk meladeni Eren. Di tambah lagi Levi kurang suka jika barang – barang pribadinya di usik.

"A-ano. Ackerman-san, bukankah rumah anda itu bersebelahan dengan rumahku?." Tanya Eren penasaran.

"Hn itu adalah rumah inti keluarga Ackerman. Tapi aku lebih nyaman tinggal di sini." Jelasnya. Eren hanya mengangguk kecil. Jujur saja Eren masih sangat takut padanya. Namun mau bagaimana lagi. Eren harus mengikuti pesan dari ayahnya jika ia harus menjadi gadis baik ketika bersama Levi.

.

.

.

Eren berdiri menghadap jendela kaca dari kamar apartemen milik Levi. Terpampang jelas pemanangan Kota di malam hari. Gemerlap lampu yang dihasilkan dan taburan bintang di langit bergabung menghasilkan pemandangan bak lukisan. Mata jadenya berbinar terang.

Levi yang sedari tadi menatapnya hanya bisa heran. Kenapa anak kecil bisa sangat bahagia karena hal sederhana seperti itu? Apa karena sekarang Eren itu seorang gadis? Ah tentu saja tidak. Eren dari dulu memang sangat sering memandangi bintang – bintang di malam hari.

Ada satu masalah yang belum terselesaikan sekarang. Eren dan dirinya sama sekali belum dekat. Di tambah lagi Levi bingung harus memperlakukan Eren yang sekarang. Tidak mungkinkan Levi harus memperlakukannya seperti dulu? Dengan sangat terpaksa Levi harus meminta bantuan seseorang.

Pagi harinya. Levi terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur. Levi bangkit dari kasurnya dengan bertelanjang dada. Di lihatnya sosok anak kecil yang tengah menggeledahi dapurnya.

Anak kecil? Levi menyerengitkan dahinya.

Seketika ia kembali teringat bahwa sekarang ia tinggal bersama putri bungsu Mr. Jaeger. "Hoi Eren. Sedang apa kau?" Levi menyandarkan bahu kirinya pada sekat antara dapur dan ruang tengah.

"A-ah. Ohayo Ackerman-san. Aku sedang menyiapkan sarapan dan bekal untuk ku." Eren tertunduk.

Oh Levi baru sadar jika bocah sepertinya pastilah masih bersekolah. Di lihat nya ke arah jam. Waktu masih menunjukan pukul 6:00 A.M. sepertinya Eren sudah terbiasa bangun pagi dan menyiapkan semuanya sendiri. Apa dia memang selalu seperti ini?

"Hoo. Not bad." Gumamnya sembari berbalik mengambil kaos untuk dia kenakan. Etika ia kembali Roti sudah tersedia di atas meja makan tidak lupa dengan secangkir teh. Dia tarik kata – kata sebelumnya jika memelihara Eren yang masih kecil di tambah seorang wanita itu akan merepotkan.

Levi terus menatap gestur makan Eren sambil menyeruput teh yang sepertinya sangat menarik untuk di lihat. Caranya melahap makanan, mengunyah serta caranya meminum. Benar – benar anggun bak Lady kecil. Namun tetap saja. Sekali bocah tetaplah bocah. "Tch. Dasar bocah." Levi mengambil tisu dan mengelap pinggiran bibir mungil Eren yang terkena selai coklat.

Mata Eren membulat seketika rona merah mucul di pipi chubbynya. Dengan cepat ia menepis tangan Levi dan menyelesaikan kegiatan makannya lalu pergi.

"Apa itu barusan." Eren meringkuh di balik pintu kamarnya sambil memegangi kedua pipinya yang tiba – tiba memanas. Jantung yang berdetak tidak seperti biasa membuatnya kebingungan. Dapat Eren lihat dengan jelas warna mata Levi yang indah. Ia sudah tahu sebelum nya walau memiliki tatapan yang menyeramkan Levi itu memang memiliki wajah yang tampan. Oh ayolah Eren baru kelas 2 di Junior High School tapi ya memang di usia seginilah seorang wanita mengenal yang namanya pria tapi-

Plak plak

Eren menepuk keras pipinya. "Apa yang aku pikirkan?." Desisnya. Lebih baik sekarang dia bersiap dan berangkat ke sekolah.

Eren menarik nafas untuk menenangkan jantungnya. Kemudan keluar dari kamarnya. Dengan langkah pasti Eren melangkah menuju pintu dan-

"Apa yang kau pikirkan huh? Ingin pergi sendirian setelah tahu apa yang akan terjadi padamu." Eren menoleh kearah sumber suara. Dan terpampang jelas sosok Levi yang sudah berpakaian rapi dengan style kasual dengan kacamata hitam modis. Seperti yang ia duga jika Levi akan mengantarkannya ke sekolah. "Ayo." Titahnya sambil membuka pintu dan berjalan mendahului Eren.

.

.

.

Hooh benar – benar sosok Ackerman di bayangan Eren. Mobil super mewah bahkan lebih mahal dari milik ayahnya. Di tambah lagi mobil sportlah yang di miliki orang ini. Walau pun Eren merupakan orang kaya juga namun rasanya tetap enggan menaiki mobil itu. Sepertinya mau tidak mau Eren harus menaikinya.

.

.

.

Tiba di depan gerbang sekolahnya. Melihat kondisi sekolahnya Levi yakin betul jika Mr. Jaeger memang mengingkan hal terbaik untuk Eren. Dengan mengambil SMP elit berlatar belakang yang bagus menjadi pilihan.

Eren membuka pintu dan menghampiri jendela "Arigato." Ucapnya sembari membungkuk.

"Kapan kau pulang?".

Eren memiringkan kepalanya. Apa Levi akan menjemputnya juga? "A-ah jam 1:30." Jawabnya. Levi hanya terdiam. Menganggap pembicaraannya sudah selesai Eren kembali membungkuk dan berbalik meninggalkan Levi di mobilnya dan memasuki sekolah.

.

.

.

"Ereeen." Panggil sosok pria berambut pirang yang menyambut kedatangannya di bangku.

"Kau datang lebih awal dari biasanya, Eren." ujar teman satunya yang berambut hitam pendek.

"Ah. Begitulah." Eren berjalan menuju bangkunya.

"Aku dengar kau sudah pindah. Pindah kemana?."

"Eh? Bagaimana kau bisa tau Mikasa?." Eren tersentak kaget.

"Begini Eren. Kemarin sore kami mampir ke rumah mu. Ayah mu bilang kau sudah tidak tinggal di sini lagi." Jelas Armin.

"Aha souka. Ya aku sudah tidak tinggal di sana lagi. Sekarang aku tinggal dengan seseorang yang di percayai Papa." Jawabnya sembari menggaruk pipi yang tak gatal.

"Dimana?" Tanya Mikasa cepat.

"Ah itu aku tinggal di-." Belum sempat Eren menjawab bell tanda masuk sudah berbunyi dan harus kembali ke bangku masing – masing.

Mikasa sedikit merasa sebal. Kenapa Grisha tidak menitipkan Eren di rumahnya saja. Orang tuanya pun sudah saling mengenal dekat. Eren yang manis sering menjadi target penculikan, tentu saja Mikasa tahu penyebab mengapa Eren dititipkan. Tapi pada siapa?

Pertanyaan yang masih menggantung di kepala Mikasa.

.

.

.

Jam pulang. Eren berjalan menuju gerbang keluar. Setidaknya selama di kelas Eren selalu berhasil lolos dari pertanyaan Mikasa. Eren tahu apa yang Mikasa pikirkan. Kenapa ia tidak di titipkan padanya?

Eren sudah seperti adik bagi Mikasa. Dan Mikasa terbilang over protektif pada Eren. Tentu saja. Mereka besar bersama – sama. Sudah seperti saudara kandung bahkan. Dan Mikasa sama sekali tidak ingin jika ada orang lain yang merebut Eren darinya dan menjadi orang terdekat bahkan melebihi hubungannya dengan Eren, tidak akan. Jika terjadi maka terancamlah nyawanya. Eren bergidik ria larut dalam pikirannya.

Langkah Eren terhenti akibat geromblan di depannya. "Ada apa ini?" gumamnya sembari menjinjit dan mencari celah.

"Kyaa Kyaa" pekik para wanita yang mengerumun itu.

Apa ada yang sedang berkelahi atau semacamnya? Eh tapi kenapa wanita semua? Batin Eren. Eren menyelip antar gerombolan mencari tahu penyebab keributan dan kerumunan ini dan walla.

"Ackerman-san." Pekiknya. Sungguh tak di duga jika orang yang tinggal bersamanya akan menjadi pusat perhatian begini.

"Tch. Kau lama sekali." Levi langsung menarik tangan Eren memasuki mobil.

Para gerombolan wanita itu saling memandang dan menatap heran Eren. Tentu saja mereka mengenal Eren yang statusnya adalah putri bungsu dari Dokter terkenal Mr. Jaeger. Tapi hubungannya antara pria keren barusan mereka sama sekali tidak mengetahui.

"Pfft." Eren menahan tawa melihat wajah datar Levi yang sekarang terlihat kusut.

"Hei Eren. Kenapa kau tertawa?."

"Pfft aku tidak tahu ternyata Ackerman-san cukup populer di kalangan gadis SMP." Eren terkikik geli.

"Tch. Mereka itu benar – benar berisik sekali." Ujar Levi ketus tidak suka.

Ahh Levi juga tidak suka kebisingan. Itu yang harus di catat Eren dalam kepalanya.

Eren melamun memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ayahnya akan menitipkan dirinya pada Levi sampai kapan? Sebentar bukankah Levi pria dewasa? Tentu saja ia akan menikah bukan? Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa ia akan di kembalikan pada ayahnya? Atau tetap di titipkan pada Levi walau Levi sudah menikah?

Eren mengerutkan dahinya. Merasa kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perasaan tidak suka pastinya.

"Ackerman-san. Berapa usiamu?" Eren melirik Levi dengan ekor matanya.

"Kenapa kau sangat ingin tahu?." Levi melirik Eren sekilas.

"Aku hanya penasaran saja." Eren mengembungkan pipinya. Ia sudah menduga jika Levi tidak akan menjawabnya dengan mudah.

"29." Dengan cepat Eren menoleh dan menatap Levi dengan tatapan tidak percaya.

"USOO" Pekiknya.

"Tch. Urusai." Levi mengusap kuping kirinya yang berdengung karena pekikan Eren.

"Yang benar saja. 29? Sebentar lagi akan 30? Tidak mungkin." Eren menatap Levi tidak percaya.

"Tch. Terserah. Aku sudah menjawabnya."

"Itu mustahil. Kau terlihat masih sangat muda." Apa ini karena ukuran tubuhnya yang dibawah rata – rata? Pikir Eren. "Kau lebih terlihat seperti pria yang berusia 22 tahun. Geezz." Levi hanya menatap datar Eren.

Hoo gaya bicaranya sudah berubah sekarang. Pikir Levi. Barusan Eren menggunakan kata 'kau' bukannya 'anda'. Entahlah ini pertanda bagus atau bukan. Yang jelas Levi sama sekali tidak keberatan mengenai itu.

.

.

.

Tiba di apartemen Levi. Eren haya di duduk di sofa mengganti ganti siaran karena bosan. Sama sekali tidak ada sesuatu yang harus ia lakukan atau kerjakan. Eren melirik Levi yang berkutat dengan kertas – kertas di sofa satunya. Dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya. Oh shit Levi terlihat lebih tampan dari biasanya di tambah lagi wajah seriusnya itu.

Merasa di perhatikan Levi langsung membalas tatapan Eren yang sontak membuatnya dengan cepat memalingkan wajah. Wajah Eren bersemu merah. Merasa tertangkap basah karena memperhatikan Levi diam – diam.

Ding dong

Bell berbunyi.

"Akhirnya datang juga." Levi bangkit dari bangkunya menuju pintu. Ditatapnya layat monitor melihat siapa gerangannya datang dan sesuai dugaan.

"Hanji." Gumamnya.

"LEVIIII BUKA PINTUNYA." Pekik orang di luar sana. Tanpa menuggu timing yang begitu lama Levi langsung membukakan pintu.

"He di mana dia? Eren yang berwujud wanita?"ujarnya to the poin. Levi hanya menujuk keberadaan Eren dengan matanya dan sontak membuat Hanji mengikuti arah pandang Levi. "Waaaaah sulit di percaya." Hanji langsung berlari menghampiri Eren. "WHAAA KAWAII." Hanji menarik gemas pipi Eren.

"I-itte." Ringisnya.

Hanji melepaskan cubitanya dan Eren langsung berlari berlindung di belakang Levi. "Are." Hanji menatap gestur unik itu dengan rasa tertarik. "Jadi apa masalahnya? Jika aku perhatikan tidak ada masalah sama sekali." Hanji mengendikan bahunya.

Levi juga keheranan. Kini Eren menatap hanji dengan tatapan sama seperti Eren menatapnya dulu. "Ah kau bilang Eren juga tidak memiliki ingatan masa lalu?"

"Hn."

"Bagaimana bisa?"

"Tch. Mana aku tahu." Levi berdecih ria.

"A banyak juga dari kita yang tidak memilikinya tapi banyak juga yang memilikinya." Hanji memegang dagunya berfikir. "Yang tidak masuk akal sekarang kenapa Eren manjadi perempuan?" Hanji berjongkok di depan Eren dan membuat Eren semakin tenggelam bersembunyi di belakang Levi.

"Hoi kau menakutinya." Levi menarik kerah belakang baju Hanji.

"Ahahaha omoshiroi na." Hanji terkekeh. "Jadi sekarang kau yang mengurusinya?."

"Hn begitulah."

"Ahahahahah aku tidak percaya kau akan menyetujuinya semudah itu. Di tambah lagi bocah ini adalah Eren." Haniji terkekeh geli.

"Ini permintaan langsung Dr. Jaeger." Jawab Levi jujur.

"Ahahaha souka – souka." Hanji mengelap air matanya akibat tawanya tadi. "Ne Eren." Hanji melambai pada Eren.

"Dia ini teman ku." Levi menujuk lancang Hanji. "Shitty four eyes Hanji Zoe."

"Hoi Levi. Jangan tambahkan kata – kata mengerikan pada nama ku." Protesnya. "Hay Eren.

"Hay."jawab Eren pelan.

"Ah dia manis sekali." Geram Hanji.

Jadi wanita ini teman dekat Ackerman-san? Eren menatap Hanji dan Levi secara bergantian. Eren tidak terlalu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Mengenai masa lalu dan dirinnya?

"Ah jadi begitu. Ya kau memang tidak terlalu bagus dengan anak – anak." Hanji mengangguk paham. "Mungkin Erwin bisa membantumu."

"Tidak." Bantahnya cepat.

"He?"

"Mengenai ini aku tidak akan meminta bantuannya." Entah kenapa Levi merasa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan dirinya. Levi tidak mau menyesal dengan keputusannya mengenai Eren maka lebih baik dia menolaknya.

"Jadi bagaimana?" Hanji memiringkan kepalanya.

"Tidak ada cara lain." Levi menghela nafas. Levi memutuskan membiarkan waktu yang akan menjawab.

"Ya baiklah kalau begitu." Hanji menghela nafas.

Levi yang duduk di sampingnya tiba – tiba saja berdiri dan pergi entah kemana. Hanya tersisa Eren dan Hanji.

"Na Eren. Jadi benar kau sering sekali di culik?." Hanji memulai percakapan. Eren sedikit tersentak mendengar pertanyaan Hanji dan menjawabnya dengan anggukan. "Ah sou. Aku mendengar ceritanya dari Levi. Kau tahu apa penyebab kenapa kau sering di culik?." Hanji menaikan jari telunjuknya.

Eren menggeleng kecil. "Itu karena kau sangat manis." Ucap Hanji gemas. "Bagaimana jika kau tinggal dengan ku saja dari pada dengan Levi. Dia itu memiliki tabiat aneh dan mengerikan."Hanji sontak memeluk Eren.

Bukk

Buku mendarat keras di kepala Hanji. "Hoi. Jangan menghasutnya." Desis Levi kesal. "Dari pada aku. Tabiat mu jauh lebih aneh."

"Ah Levi ayolah biarkan Eren tinggal bersama ku." Mohonya.

"Tidak." Jawab Levi mutlak.

"Bukankah kau bilang jika kalian itu kurang dekat. Jadi biarkan dia-." belum sempat Hanji melanjutkan ucapannya buku kembali mendarat dengan keras kali ini di wajahnya. "Ah baiklah." Akhirnya Hanji menyerah.

"Kembalikan itu pada Erwin. Dia meninggalkannya di rumahku."

.

.

.

Pada akhirnya Hanji sama sekali tidak membantu. Dan mereka berdua kembali canggung. Kali ini Levi yang menyiapkan makan malam. Levi memasak dengan telaten membuat Eren sedikit terpana. Entah kenapa ketampanan Levi meningkat 200% ketika sedang memasak. Dan ini sama sekali tidak bagus untuk jantungnya.

Makanan telah siap. Mereka berdua mulai melahap hidangan. Seperti kemarin Levi terus menatap cara makan Eren yang dianggapnya menarik. "Ackerman-san. B-berhenti menatap ku." Wajah Eren berpaling. Tampak semburat merah di pipinya.

"Makan saja. Jangan perdulikan aku." Titahnya. Eren hanya bisa menghela nafas dan melanjutkan makannya hingga selesai.

.

.

.

Sebenarnya ini sedikit membingungkan. Mereka tidak dekat tapi tidak juga jauh. Mereka hanya bicara seperlunya dan ahh suasana ini sangat melelahkan bagi Eren. Siaran yang mereka berdua saksikan juga sangat tidak menarik. Dan ini sangat membosan. Suasana ini membuat Eren sangat mengantuk.

Buub

Levi sedikit terkejut karena tiba – tiba sesuatu bersandar di bahunya. Ternyata sosok Eren yang sudah terlelap. Levi menghela nafas. Haruskah ia menggendongnya sampai ke kamar? Ataukah membiarkannya tidur di sini? Sepertinya Levi cukup punya hati untuk tidak membiarkan gadis kecill tidur di luar.

Levi menggendong tubuh mungil Eren menuju kamarnya, menyelimutinya kemudian mematikan lampu dan membiarkan lampu tidur yang menyala. Setelah itu Levi kembali melanjutkan pekerjaanya.

Bersambung...

Review?