Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Genre: Romance, Humor
Warning: OOC n AU
Pairing: ItachixHinata
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
DARE, MARKET, LOVE
~*~*~*~*~*~*~
"Bagaimana bisa? Itachi-kun menghabiskan waktu bersama Tobi dan Akatsuki! Itachi-kun anak baik!! Tobi anak baik!"
Ini bukan sulap, apa lagi sihir, makhluk bertopeng orange dengan jas hitam yang memeluk sempurna tubuh tinggi-tegapnya muncul di samping Itachi. Suara cemprengnya yang khas sungguh menarik perhatian.
Itachi dalam diam memanjatkan puji syukur kehadirat TYME karena berkat rahmat dan kuasa-Nya, Ia telah mengutus seseorang yang –mungkin- bisa menyelamatkan hidupnya.
Hinata dalam diam melanjutkan essay orang-orang mesum dengan nama baru, untuk sementara, mari kita tulis 'Unknwon'.
Mengingatkan permainan tenis, bola kini dipukul si pemain pendatang baru. Semua mata
menatapnya penuh tanda tanya.
"Maaf, anda siapa?" Tanya Hiashi, sedikit tersinggung.
Fugaku mengedik ke arah Tobi, matanya memicing, seolah ingin bilang 'Minggat, Lo!' "Perkenalkan, ini Tobi, anggota klan Uchiha." Katanya keras, mengatasi teriakan trademark Tobi.
Hiashi menatap Tobi lama, menilai, sebelum menanggapi "Uchiha selalu punya anggota yang… unik."
Hyuuga lain tertawa tertahan mendengar komentar Hiashi, sementara Uchiha hanya menyeringai sinis.
"Terima kasih." Balas Fugaku sarkastis.
Itachi yang bisa melihat celah untuk jalan keluar membuka mulut "Kita semua sudah dengar apa kata Tobi, saya tidak pernah melakukan hal yang anda tuduhkan, Hyuuga-san. Sepanjang hari saya bersama Tobi dan Akatsuki." Jelas Itachi, sekilas ia menangkap bayangan Nona Hyuuga yang terlihat siap menerkam. Bukan pemandangan bagus. Ia lalu buru-buru mengalihkan pandangannya pada Hiashi.
"Dan Tobi ini bisa dipercaya?"
Itachi dalam diam berharap TYME dengan rahmat dan kuasa-Nya mengirim orang yang tampak lebih meyakinkan.
Hinata dalam diam merubah judul essay-nya menjadi Mesum dan Tolol.
"Tentu! Tobi-kun anak yang baik, selalu jujur." Senyum Mikoto melebar, menjulurkan tangan untuk memberi tepukan pelan di puncak kepala Tobi yang dibalas pelukan erat.
"Tobi anak baik! Gak pernah bohong. Kalau gak percaya, coba tanya Akatsuki! Konan, Dei---"
"Konan, Hidan, dan Zetsu." Sela Itachi.
Hinata mengalami badai hebat dalam batinnya.
Laki-laki mesum ini ingin melarikan diri! "L-lebam itu!" Jerit Hinata "Itu… i-itu aku yang memberikannya! A-aku yang memukulmu."
Ada yang manggut-manggut sebagai respon atas pengakuan Hinata. Ada yang menarik nafas tajam, kaget dengat pernyataan yang cukup mencengangkan. Ada yang terkekeh membayangkan adegan Uchiha prodigy kena tonjok, tunai dari Hyuuga Heiress yang bahkan bicara satu kalimat utuh saja nyaris gak mungkin.
Wajah Itachi sedikit memerah, sadar sepenuhnya bahwa berpasang-pasang mata kini tertuju pada pipi kirinya yang sedari tadi berusaha ia tutupi.
"Sedikit kecelakaan. Terpeleset." Tutur Fugaku, secara hati-hati meninggalkan keterangan tempat, kamar mandi.
Dalam diam Itachi bersyukur karena ia tahu, masalah telah selesai.
Dalam diam Hinata malu sekaligus menyesal, wajah memerah, sebelum mengundurkan diri kebelakang dan pingsan untuk waktu yang lama.
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Paling gak, Itachi berpikir semua masalah sudah selesai.
Dunia memang sempit.
Dua hari kemudian ia bertemu lagi dengan Hyuuga Heiress saat ia sedang konsentrasi bergelut dengan tugasnya memburu barang-barang yang terdapat dalam daftar pesanan Mikoto. Dari semua tempat di muka bumi mereka harus bertemu lagi di pusat perbelanjaan.
Mengingat pertemuan pertama mereka, Itachi menyesal dan mengutuk kecil, mengapa dia gak bawa pengaman? Apapun itu yang penting bisa melindungi pipinya. Atau, mungkin ia harus melindungi daerah yang lain. Siapa tahu. Iya, kan?
"U-Uchiha-san." Sapa Hinata dengan wajah merona. Hanya sebuah gerakan gak disengaja ketika sepasang mata lavender menangkap sosok yang tampak kerepotan di antara rak-rak berbagai produk makanan. Ia langsung mengenali sosok tersebut sebagai pria malang yang menjadi korban salah-tuduhnya, dan gak mungkin dia melupakan sosok yang sudah mencetak begitu banyak memori baginya hanya dalam waktu yang begitu singkat.
Diselimuti rasa bersalah, Hinata menguatkan niat untuk meminta maaf juga membantu Uchiha-san –apapun masalahnya- selama ia mampu sebagai wujud bahwa ia bersungguh-sungguh dengan kata maafnya.
Tapi, apakah Uchiha-san akan memaafkannya? Setelah semua hal yang ia lakukan?, pikir Hinata, sedih.
"Hyuuga-san." Jawab Itachi pendek "Kebetulan sekali."
Itachi menatap penasaran saat wajah gugup Hinata berubah cerah tepat ketika kata terakhirnya selesai. Itachi buru-buru membetulkan pose-nya. Jangan sampai dia berpose terlalu santai (nanti dikira gak sopan), jangan sampai terlalu formal (nanti dikira gak mau ketemu sama Nona Hyuuga –dan memang dia gak mau, kalo boleh milih-), jangan berpose mesum, sekecil apapun pose atau gerakan itu (bisa berabe…), dan yang paling penting, jangan pernah menyentuh Hyuuga Heiress! Haram hukumnya!
"Hinata, t-tidak masalah." Kata Hinata, wajah merona plus seulas senyum kecil bertengger manis.
"Hinata-san." Ralat Itachi, sukses menyembunyikan nada panik dan kesalnya perihal Hyuuga Heiress yang masih bisa pasang tampang polos padahal dia nyaris memberikan gelar Almarhum pada Itachi kemarin.
Itachi sudah akan membuat satu kebohongan besar lagi untuk menyelamatkan nyawa-nya namun batal begitu Hinata membungkuk dalam-dalam sembari mengucapkan kata maaf berulang-ulang kali.
Itachi bengong "Untuk apa?"
Masih tetap membungkuk, Hinata menjawab "I-insiden saat pesta, mencemarkan nama baik… Semuanya." Bangkit dari posisi membungkuk yang cukup lama, Hinata melanjutkan "Saya benar-benar bodoh. Uchiha seperti Anda, mana m-mungkin melakukan hal seperti itu. Maaf."
Dibilang begitu, Itachi jadi salting. Pasalnya, secara teknis memang dia pelakunya. "Tidak masalah. Hanya kesalahpahaman."
Sekarang, wajah Hinata berbinar-binar, senyumnya melebar, mengetahui bahwa Itachi ternyata adalah seorang pria yang bermoral, baik, sabar dan pemaaf "Terima kasih." Katanya "Anda baik sekali dan s-sangat pemaaf."
Itachi makin salting. Dia belum pernah disebut baik ataupun pemaaf sebelumnya, kalo keren, tampan, kaya, macho, tajir, cool, jenius, de-es-be sih, udah makanan hari-hari. Tapi, ini? Belum lagi yang bilang adalah Nona Hyuuga, gadis yang ngasih oleh-oleh bogem mentah. Dugaan sementara: Hyuuga Hinata bipolar.
Berhubung pengalaman pertama, Itachi gak tahu harus menjawab bagaimana atas pujian Hinata. Jadinya, Itachi cuman jawab "Hn."
Hinata menengadah, heran. Biasanya kalo seseorang dipuji, jawabannya thanks, tidak juga, jangan begitu, atau Anda berlebihan. Kalo jawaban ini, respon-nya seperti apa? Jika Uchiha-san bercanda, mana mungkin dengan suara dan mimik yang serius.
Di waktu genting inilah, kemampuan berkomunikasi Hinata yang pada dasarnya parah dan kemampuan bersosialisasi Itachi yang cuman standar diuji. Apa lagi, mereka berdua menginginkan pertemuan keduanya paling gak bisa disebut normal.
Demi keselamat Itachi dunia-akhirat dan hati rapuh Hinata.
"Ah… I-iya…" Balas Hinata, setuju dengan apapun maksud dari pernyataan Itachi.
"Hn."
The end
Percakapan Hinata dan Itachi tewas sampai disitu. Masing-masing pihak sudah kehabisan kosa kata yang bisa dilontarkan.
Waktu berlalu dengan Itachi dan Hinata yang berdiri berhadap-hadapan tanpa sepatah katapun. Kaki Itachi mulai mengalami yang namanya kram-kram. Ia berulang kali melirik Hinata, berharap Hyuuga Heiress berinisiatif bilang see you, atau lebih baik good bye supaya gak perlu ketemu-ketemu lagi. Tapi harapan tetap jadi harapan. Hinata, meski merona dan mengganti tumpuan berat badannya dari kanan ke kiri, sama sekali tidak memberikan tanda bahwa ia akan segera pergi.
Bahkan pertemuan kedua-pun gak berubah banyak, kecuali gak ada bagian tonjok-tonjokan.
"Permisi, Nak. Ibu mau ngambil margarin itu." Suara lembut mengalun. Hinata menoleh kemudian menyingkir begitu menyadari bahwa ia menghalangi jalan ibu tersebut lalu mengucapkan kata maaf.
Itachi melakukan hal yang sama, menyingkir agar Ibu itu mendapatkan akses yang lebih baik.
Mereka berjalan beriringan beberapa langkah menjauh dari TKP, tetap alam diam mode:on.
Setelah keheningan yang cukup lama, Hinata membuka mulut, teringat janjinya pada dirinya sendiri "U-uchiha-san, tadi tampak kerepotan. Ada yang bisa saya bantu?"
Itachi mendengus. Ya, dia sangat kerepotan. Tapi, berlama-lama dengan dengan Nona Hyuuga juga bukan hal bagus, sama dengan menyerahkan lehernya untuk dipancung. Meskipun begitu, ia juga butuh bantuan.
Itachi menyerah, gak ada pilihan lain.
Hey! Dan dia baru ingat sesuatu. Jika ini berjalan mulus, ia adalah Uchiha pertama yang menjadikan seorang Hyuuga sebagai babu! Keren.
"Harus mencari barang-barang di daftar ini." Katanya, mengangkat selembar kertas yang kumal dan sobek di sana-sini terkena azab genggaman erat tangan Itachi "Secepatnya." Ia memasukkan lagi kertas itu ke dalam sakunya saat Hinata menengok, mencari tahu jenis barang apa yang harus diburu "Aku akan menyebutkan jenis barangnya, kau yang menuntun." Lanjutnya, lupa dengan segala bentuk keformalan "Dan jangan mencuri lihat daftar belanjanya. Ini rahasia Uchiha."
Hinata mengangguk meski agak bingung. Kalau dia membantu, bukannya ia akan tahu daftar belanjanya?
Itachi dengan cuek menyebutkan nama barang pertama "Tepung terigu."
Hinata mengangguk sekali lagi, tanpa banyak bicara ia berjalan melewati pembeli-pembeli lain diikuti Itachi di belakangnya. Mereka melewati beberapa rak produk makanan ringan dan rak-rak produk minuman kaleng, kemudian berhenti di depan rak yang berisi beraneka ragam merk tepung. Hinata berbalik "Uhm… Tidak ada merk khusus Uchiha-San?"
"Apa bedanya? Ambil yang mana saja."
Hinata berjalan pelan, tangannya menyisir kantong-kantong tepung, lalu mengambil salah satunya yang be-merk terkenal dan memasukkannya ke keranjang belanjaan Itachi.
Merasa puas, Itachi menyebutkan barang lainnya "Detergent."
Lagi, Hinata mengangguk. Mereka kembali melewati rak-rak dan pembeli yang terus sibuk setelah itu berhenti di depan setumpuk detergent dari berbagai merk "Uhm… Tidak ada merk khusus Uchiha-San?"
Itachi mengeluarkan sedikit tawa frustawa yang hanya bisa di dengarnya "Apa bedanya? Ambil yang mana saja! Dan jangan tanya-tanya lagi!." Tuntut Itachi, menarik detergent di tangan Hinata untuk memasukkannya ke keranjang belanjaan "Telur. 10 butir."
Gak lama, lebih banyak nama barang keluar dari mulut Itachi yang berakibat penuhnya keranjang belanjaan.
"Sereal."
"Susu."
"Pasta gigi, shampoo, sabun mandi."
"Roti."
"Aku tidak melihat ini tadi. Conditioner." Hinata mengambil satu conditioner dari rak-nya.
Itachi mengangguk setuju, lalu "Pem…" Mata Itachi melebar "Pem…" Ia harus setuju dengan Ayahnya, Ibu sungguh sangat menyebalkan. Bukannya ia gak berpikiran begitu, sih. "Pem…" Ia mendengar Hinata meng-'hmm?', melirik si Nona Hyuuga, kemudian dengan garis-garis merah di pipi, berkata gugup "Pembersih kaca!"
Blushing, Itachi mengikuti Hinata dan mencomot satu botol pembersih kaca, sambil dalam hati nyerocos gak jelas.
Ia tersiksa berbelanja di sini juga karena ibunya. Ibunya bilang, Itachi dan Sasuke terlalu manja, sesekali harus turun tangan sendiri dalam melakukan suatu hal. Dan ini hasilnya. Berbekal lembaran berukirkan tulisan tangan sang ibu, Itachi maju ke medan perang.
Itachi gak tahu kenapa, wajah Hinata tiba-tiba ikut memerah. Apa dia sadar? Berpikir begitu, Itachi semakin merona.
Merasakan getaran di saku celananya, Itachi meraih dan menatap kata 'Ibu' di layar ponselnya. Ia membalikkan badan dan mencari tempat di mana terdapat sedikit jumlah pengunjung sebelum menoleh, memastikan Hinata gak mengekor lalu menekan tombol answer "Ya?"
"Itachi-kun, semuanya dibeli kan?"
Ekspresi Itachi membatu "Aku tidak mau membali yang satu itu."
"Itachi-kun, ibu butuh itu sekarang. Stock milik ibu habis, dan… Intinya waktu ibu sekarang!"
"Para pelayanan bisa membelikannya."
"Terlalu lama. Kau kan kebetulan ada di sana, sekalian dibeli."
"Suruh Ayah."
"Ayahmu sedang ada meeting."
"Terserah. Aku tidak mau." Memangnya para wanita gak sadar, itu termasuk dalam daftar pantangan untuk para pria. Ck.
Meski ada perasaan bersalah di sudut hatinya –biarpun muka batu, hati besi, Itachi tetap memiliki perasaan sebagai seorang anak- Itachi memutuskan untuk gak membeli barang itu. Jangan bercanda! Tanpa Hyuuga Heiress saja sudah susah, apa lagi dengan keberadaannya! Nanti itu malah menguatkan argument bahwa ia memang seorang mesum.
"Uchiha-san?"
Itachi berbalik, menuntun Hinata menuju kasir. Semakin cepat cobaan ini berakhir semakin baik. Pundak dan punggunggnya pegal-pegal menanggung beban berat dunia.
Itachi, bersama Hinata di sebelahnya, menatap bosan seorang wanita setengah baya yang sedang menghitung jumlah harga barang-barang yang mereka beli. Lama sekali… Tekhnologi sekalipun ternyata tetap tidak bisa memperbaiki keadaan hati manusia.
Ia lalu menyerahkan barang-barang yang telah rapih berada di dalam kantong plastik berlabel Plaza Konoha sembari tersenyum "Wahh… Pengantin baru, ya? Mesranya. Datang lagi ya pak, bu."
Hinata makin mengecil, wajah memerah, istilah untuk makanan siap dihidangkan, udah benar-benar mateng. Klop, dah!
Itachi mengkonfirmasi, melalui gigi-gigi yang bergemeretak "Kami bukan suami-istri." Kalo ia dan Hinata jadi suami istri, pantesnya dibikin jadi film Horror. Pasti laku.
Si kasir meng-oh lugu lalu menambahkan, pengen banget nyari tahu. Jarang-jarang ia ketemu pasangan lucu dan imut yang jalan-jalan di sini barengan buat beli perlengkapan rumah tangga. Makanya ia pikir pasutri "Pacar, ya?"
Hinata tidak bisa disebut mateng lagi, cocoknya hangus.
Gemeretak gigi Itachi yang makin mengerikan berusaha ia kontrol. Kehilangan geraham sudah cukup baginya "Bukan."
"Ihhh… Malu-malu… Ya, ampyuuun… Sooo cuuute." Ia kemudian menunjuk satu arah, berkata senang macem lagi liat adegan telenovela "Tuh… Pegangan tangan. Hayooo ngakuuu."
Itachi mendengus. Ibu-ibu di mana-mana sama saja.
Matanya mengikuti arah yang ditunjuk oleh ibu kasir. Keningnya berkedut tanpa ampun melihat dua tangan yang bergandengan.
Ha! Sekarang ketahuankan siapa sebenarnya yang mesum! Hyuuga Heiress ME-SUM!! Megang-megang orang sembarangan! Padahal pake nuduh-nuduh. Semua orang tahu, mana ada maling yang mau ngaku!
"Lho! Kamu ngapain grepe-grepe!!" Wtf! Mulut ma otak kadang-kadang gak konek, nih. Kalo digrepe-grepe ma Hyuuga Heiress, sih dia ma… Ah, mampus gue! "Maksud saya, ngapain kamu pegang-pegang!"
Hinata berjengit, berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik rambut indigo yang membingkai sempurna sisi wajahnya. Sekujur tubuhnya gemetar hebat.
"Ngaku gak!" Desak Itachi, sebelah tangan mengguncang-guncang tubuh mungil Hinata.
Maling ketangkep basah! Kalo ia tahu akan ada kejadian besar seperti ini, ia pasti sudah nyiapin handycam dari rumah. Rekam terus sebarin di Youtube. Judulnya… Judulnya… apa, ya… Hmm… bagusnya 'Rupa Asli Pewaris Hyuuga'. Kedengaran menarik.
Pembalasan memang selalu manis.
Itachi mendecak sebal begitu Hinata –dengan ekspresi ketakutan luar biasa- menggelengkan kepalanya sambil menggumamkan sesuatu seperti 'B-b-bu-bukan!'. Keringat mengalir membasahi punggung serta pelipisnya.
Mau bagaimana lagi. Hinata sama sekali gak ingat ia telah melakukan kesalahan. Dan Uchiha-san yang marah-marah dapat menyaingi aura seram Ayahnya.
"Masih belum mau ngaku!" Bentak Itachi, semakin kesal. Ternyata benar apa kata para tetua, Hyuuga memang licik. Seharusnya ia berhati-hati sejak dulu. Tittle-nya saja Hyuuga Heiress, berarti dia yang paling licik! "Ngomong gak?!"
"Euhh… Permisi, pak… i-itu—"
"Kamu jangan fitnah, ya! Sejak kapan saya jadi Bapak kamu?!" Itachi balik membentak seorang remaja yang berada pada antrian di belakang mereka. Ia sedang dalam kasus penting sekarang ini. Gak bisa diganggu.
Remaja itu melanjutkan takut-takut "Kan B-bapak yang megang tangan si Ibu. Bukan Ibu yang megang tangan Bapak."
Death glare.
Itachi lalu melihat Hinata yang mulai mengalami kesulitan pernafasan kemudian memandangi gandengan mereka yang…
Oh, damn!
Itachi memerah, rasanya malu udah main hakim sendiri.
Tapi sekarang ia tahu, bukan hanya otak dan mulutnya yang kadang-kadang gak konek tapi otak dan matanya pun jago bikin efek plus halusinasi tingkat tinggi.
"H-hinata-san, saya min…"
BRUK
"…ta maaf. Hinata-san! Hinata-san!!"
Just… Great.
T B C . . .
a/n:
Ava gak tahu mau ngomong apa –lha, kalo gitu ngapain bikin a/n?; digampar- Ya itu tadi, bikin a/n buat bilang 'Ava gak tahu mau ngomong apa'. =.=a
Oh… ya…
R I V I E W, PLZ!!
Salam,
Ava^^v
