Illuminate

#Peace [1]

Note : Alur mundur, dan ini flashback

Hinata tidak pernah berharap pada hidupnya. Ia belajar untuk tidak hancur seperti keluarganya. Ayah yang gila, dan Ibu yang telah meninggal. Satu-satunya alasan baginya untuk tetap waras hanya adiknya seorang. Sebagai anak tertua pula, ia ingin menjadi panutan yang baik. Terlewat dari kelakuan Ayahnya.

Pikiranya begitu sederhana dan pendek. Ia tak pernah juga menginginkan menjadi gadis kaya atau pekerjaan yang menguntungkan. Tidak sama sekali, cukup bekerja ala kadarnya di sebuah toko bunga membuatnya sudah bersyukur atas apa yang ia dapat. Setidaknya, gajinya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan juga biaya sekolah adiknya.

Bunga-bunga yang harum selalu menemani harinnya. Lalu lalang distrik kecil di kyoto. Aroma toko roti disebelah, juga koran pagi adalah rutinitasnya. Hinata menyukai itu, segala hal tentang hidupnya. Meskipun itu pahit sekalipun.

Ayahnya yang suka sekali berceloteh hal tidak penting. Mengenai hidupnya dulu, yang dibilang kaya dan makmur. Hingga kekayaanya hilang begitu saja karena ayahnya melanggar aturan klan demi menikahi ibunya. Ayahnya terus saja mengomek, bercerita hal-hal tidak penting, banyak tetangganya yang mengatainya gila alias tidak waras. Meski begitu Hinata menyayangi ayahnya, apapun kondisinya.

Adiknya yang masih SMA, membutuhkan banyak uang untuk sekolah. Hinata paham, itulah mengapa ia tidak mengaambil kuliah sama sekali. Ia bekerja demi adiknya. Beruntung Hanabi tipe anak yang pengertian juga. Ia memaanfaatkan kebaikan kakaknya dengan baik. Belajar dengan serius, meski sikapnya sangat kasar dan tidak sopan. Jauh dalam lubuk hatinya, ia menyayangi Hinata, tidak ingin membuat kakaknya itu merasa kecewa.

Pelanggan Hinata rata-rata orang menengah ke atas. Para pengusaha yang mencari bunga untuk wanita mereka, bunga untuk ucapan selamat, bunga untuk pemakaman dan bunga sebagai syarat sebuah hubungan.

Toko bunganya termasuk yang paling besar di distriknya. Mempekerjakan tiga petugas lain, dan banyak pesanan untuk hari-hari besar. Tentu toko bunganya jarang sepi.

Kali ini, Hinata bertugas merawat bunga-bunga, memberi mereka nutrisi lewat penyemprot bunga. Dia tekun memberikan beberapa nutrisi pada bunga lily putih, hingga suara pintu tokonya terbuka. Membawa masuk seorang pelanggan.

"Selamat siang. Anda ingin mencari bunga apa?"

Hinata meletakkan penyemprot dan melepas sapu tangannya, menghampiri sekaligus menatap pelanggan yang sepertinya baru ia lihat. Barangkali pelanggan itu baru, atau bukan orang sini.

Pria itu mengamati Hinata dari atas higga kebawah. Setelan jas yang ia kenakan cukup membuat Hinata tau, pria itu orang kaya.

"Bunga untuk perpisahan. Bisa tolong kau carikan?"

Agak aneh jika sesorang membeli bunga untuk menyiratkan perpisahan. Kebanyakan orang selalu membelinya untuk hal yang membahagiakan, dan ia merasa agak ganjal dengan cara bericara pria itu, dingin dan disiplin. Hinata berjalan ke arah kelompok bunga untuk berduka. Barangkali pria ini habis kehilangan kekasihnya.

"Kurasa, bunga sweet pea cocok untuk menggambarkan situasi anda tuan."

"Menurutmu apa definisi bungan itu nona?"

"Sweet pea bisa berarti perpisahan. Bunga ini mengandung makna selamat tinggal, kedatangan, kepuasan dan ucapan terima kasih bagi saat-saat menyenangkann sepasang kekasih."

Pria itu terseyum miring, ia memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.

"Apa menurutmu aku seperti pria yang habis kehilangan wanitanya?"

"Maaf. Tapi kebanyakan orang begitu."

Biasanya banyak pelanggannya yang membeli bunga sweet pea untuk perpisahan dan bunga mawar putih untuk putus. Tidak salah kan perkiraanya itu? Hinata menganggap pria dihadapannya ini sama seperti orang pada umumnya.

"Apa tokomu punya bunga Meadow sweet?"

Hinata agak tersentak mendengar pria itu menyebut bunga itu. Tidak biasa seseorang membeli bunga yang jelek. Bunga yang berarti 'tak berguna', serasa menghina seseorang dan mengintimindasi orang yang akan diberikan bunga. Hinata merasa tidak nyaman dengan pelanggan itu, tapi pelanggan adalah raja dan ratu bukan? Dirinya harus bersikap profesional. Seaneh apapun permintaan pelangganya.

"Tentu tuan. Tapi, harganya agak akan mahal, karena bunga itu jarang dibeli. Dan stoknya mungkin sedikit."

"Tak masalah. Rangkaikan kedua bungaa itu, Sweet pea dan Meadow sweet."

Perpaduan bunga yang aneh baginya. Hinata mengangguk, mengambil beberapa tangkai bunga sweet pea dan pergi ke lantai dua. Tempat rumah kaca, dimana bunga-bunga yang sulit tumbuh atau jarang dibeli dipelihara dan dijaga.

Sembari menunggu, pria bersurai pirang itu duduk di ruang tunggu yang terbuka, didekat kasir. Ia mengamati beberapa bunga yang tumbuh subur di toko ini. Lalu memainkan ponsel pintarnya.

Selang beberapa menit, dari lantai atas Hinata turun, pria itu kemudian memasukkan ponselnya kedalam jas. Mengamati Hinata hingga gadis itu berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk.

"Ini tuan, silahkan bayar di kasir," Hinata menyerahkan rangkaian bunga yang sudah dirangkai dengan indah dan baik.

Tanpa mengucapkan sepatah kata dan ucapan terima kasih, pria itu berlalu pergi menuju kasir. Hinata yang diabaikan, menggulirkan mata kebawah. Dia mendesah pelan, berusaha tidak mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Memilih berlalu dan melakukann pekerjaanya lagi.

Hinata tidak pernah kembali menatap lelaki itu. Namun, lelaki misterius itu tetap menatap Hinata tanpa disadari olehnya hingga melewati pintu.

"Hei Hinata."

Ten-ten selaku kasir memangilnya selang beberapa menit setelah pelanggan mereka tadi telah pergi.

"Ada apa ten-ten?"

"Apa kau tau? Pria tadi menanyai namamu, sepertinya dia tertarik padamu?"

"Benarkah? Itu konyol."

"Kau ini payah. Apa salahnya kau mencari pacar? Dia tidak buruk. Lain kali pakai name-tag mu, bos bisa ngomel kalau mengetahuinya."

Hinata mengibaskan tangan tak perduli, gadi itu kemudian mengambil tag name yang ia simpan di saku apron yang ia kenakan. Keluar menuju halaman toko, dan kembali merawat bunga-bunga yang berada di luar toko. Bulan ini, toko mereka memilih bunga matahari untuk hiasan di depan toko. Dan Hinata menyukai bunga itu.

Di tempat lain. Diseberang tokoh bunga berlabel 'cordelia' yang dipasang diatas papan kayu jati. Disebuah mobil sedan berwarna gelap, pria bersurai pirang itu masih memandang Hinata.

Menikmati setiap gerak-gerik yang gadis itu lakukan.