Title : Primrose

Author : chickenKID and dinodeer

Main Cast :

• Luhan

• EXO – Sehun

Support Cast : Find it by yourself

Pair : HunHan

Genre : Fantasy, Romance and Friendship

Rated : T

Length : Chaptered

Poster by : shinstarkey

Disclaimer : Terinspirasi dari sebuah anime yang berjudul "Uragiri wa Boku no Namae wa Shitteiru". Sehun punya Luhan, Luhan punya Sehun, keduanya saling memiliki dan keduanya milik Tuhan. Fic punyanya chickenKID dan dinodeer

IF YOU DON'T LIKE PLEASE DON'T READ !

IF YOU RED, DON'T BE SILENT READERS !

Previous Chapter

Luhan masih berpikir di sana, tanpa tahu sepasang mata sedang memperhatikannya.

"Sabarlah sebentar lagi Pixies, besok baru aku bisa menghampirinya" ujar namja yang memiliki sepasang mata itu tanpa mengalihkan pandangannya pada Luhan.

Guk

Seekor anjing menjawab penyataan darinya. Anjing yang bernama Pixies itu terdiam di samping namja yang sedang memperhatikan Luhan.

'Akhirnya besok aku dapat bertemu Luhan, Luhan Bogoshippo' batin namja tersebut.


HunHan | Primrose

Chapter 2

"Aku pulang," ujar Luhan saat ia baru saja sampai di teras panti.

"Hyung!"

"Oppa!"

Anak-anak kecil berlarian menghampiri Luhan dengan mata yang berbinar-binar.

"Oppa, malam ini kau akan bercerita lagi kan ya? Tentang putri dan pangeran?" tanya salah satu gadis kecil.

Luhan tersenyum. "Kalau kalian menginginkannya aku akan menceritakannya,"

"Sebenarnya itu cerita untuk yeoja tapi entah kenapa menurutku cerita itu menarik," ujar seorang anak lelaki sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kalau begitu ayo masuk kita akan bersiap-siap untuk makan malam," ujar Luhan.

"Oppa, kau membawa anjing kemari?" tanya salah satu dari anak panti.

Luhan mengernyit heran. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati seekor anjing kecil berwarna putih dengan campuran abu-abu tengah menatapnya dengan tatapan yang entah bagaimana Luhan deskripsikan sebagai tatapan yang berbinar-binar saat melihatnya.

"Guk!"

"Aku bahkan tidak tahu kalau ada anjing yang mengikutiku," ujar Luhan.

"Jadi Oppa tidak mengambilnya tapi anjing itu mengikutimu?"

"Guk!"

Sebelum Luhan menjawab si anjing kecil tadi kembali menggonggong. Anjing itu tiba-tiba mendekati Luhan dan mengelus-eluskan kepalanya ke kaki Luhan.

"Lucunyaaaaa" seru semua anak panti.

"Sepertinya anjing ini menyukaimu Hyung," tutur salah satu anak panti.

"Kita pelihara saja Oppa!" usul Hyorin.

Luhan menatap anjing yang ukurannya kecil itu. Anjing itu memang sangat lucu dengan warna putih dan abu-abu dan mata yang berwarna coklat tua. Luhan terus menatap anjing itu sampai ia sadar bahwa anjing tersebut memakai sebuah kalung lonceng berwarna perak. Luhan berjongkok dan menggoyangkan kalung lonceng itu.

Cring

"Guk!"

"Sepertinya sudah ada yang memiliki anjing ini," ujar Luhan. "Jadi kita tak bisa memilikinya." Lanjutnya. Anjing itu tiba-tiba mengelus-eluskan kepalanya ke tangan Luhan yang sedang terjulur.

"Tapi Hyung, anjing itu bahkan telihat menyukaimu, bisakah kita memeliharanya?"

"Guk!"

"Lihat! Dia bahkan setuju dengan ucapan Minwoo Oppa!" lanjut Hyorin.

"Tidak boleh, di panti ini kan tidak boleh memelihara hewan," tolak Luhan.

"Tapi Oppa, anjingnya lucu sekali, tega sekali jika kita membiarkannya di luar," ujar Hyorin.

"Tapi panti kan tidak boleh memelihara hewan, kita masuk saja nanti dia pasti akan pergi," ujar Luhan sambil menuntun anak-anak panti untuk masuk ke rumah.

"Yaaah Oppa,"

"Hyuuung,"

Eluh anak-anak namun tak mampu berbuat apa-apa selain masuk ke dalam rumah mengikuti perintah Luhan.

"Luhan kau sudah pulang?" tanya Nenek panti.

"Iya," jawab Luhan.

"Kenapa anak-anak terlihat lesu?"

"Mungkin mereka masih ingin main diluar tapi aku menyuruh mereka masuk ke dalam karena di luar sudah mulai gelap," jawab Luhan.

"Oh begitu, ya sudah kau mandi dulu nanti tolong bantu Nenek membuat makan malam ya," ujar Nenek panti.

"Baik, Nek," Luhan pun segera masuk ke kamarnya lalu membawa handuk dan baju ganti lalu berjalan ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Luhan telah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Anjing itu sudah pergi belum ya?" gumam Luhan. Ia pun memutuskan untuk mengecek ke luar dari jendela rumah panti dan terkejut saat melihat anjing itu masih ada di depan teras rumah panti.

"Kenapa anjing itu masih belum pergi?" gumam Luhan.

"Mungkin dia menyukaimu Hyung," ujar Minwoo yang ternyata sedang sama-sama mengintip dari jendela.

"Kau ini bicara apa? Seekor anjing itu biasanya selalu setia pada majikannya," kilah Luhan.

"Biasanya itu artinya hampir semua kan? Berarti ada juga beberapa anjing yang tidak setia pada majikannya Hyung," timpal Minwoo.

Luhan berdecih pelan. "Kau sekarang pintar ya, sial."

"Jangan salah Hyung, saat tes ke SMP kemarin aku kan dapat peringkat satu," ujar Minwoo bangga.

"Sombong sekali kau,"

Zraaassh

"Hyung! Hujan! Ayo cepat bawa anjing itu masuk, kita tidak bisa membiarkan ia mati kedinginan!" seru Minwoo.

"Kalau ketahuan Nenek bagaimana?" tanya Luhan.

"Hyung, lagipula memelihara anjing bukanlah suatu kejahatan, ayo Hyung!"

Luhan menghela napas panjang. "Baiklah, tapi jangan sampai ini ketahuan oleh Nenek oke?"

Minwoo mengacungkan jempolnya. Luhan dan Minwoo pun segera keluar rumah dan mendekati anjing yang bahkan tidak bergerak sedikit pun dari posisi saat Luhan meninggalkannya tadi.

"Guk!"

Luhan mengambil anjing itu ke pangkuannya.

"Dengar ya anjing kecil, kau tidak boleh bersuara sama sekali, karena kalau aku dan Minwoo ketahuan memeliharamu, kami akan mendapatkan hukuman. Kau mengerti?"

''Guk!"

"Sudah kubilang jangan bersuara," ujar Luhan lagi.

Anjing itu menjawab pertanyaan Luhan mengelus-eluskan kepalanya ke tangan Luhan.

"Anjing pintar." Puji Luhan sambil mengelus puncak kepala anjing tersebut.

"Luhan! Minwoo! Kalian dimana?" seruan Nenek panti membuat Luhan dan Minwoo terperanjat.

"Hyung, bawa saja ke kamarmu, kau kan tidur sendirian pasti mudah sekali menyembunyikan anjing ini di kamarmu," usul Minwoo.

"Baiklah, kau alihkan perhatian Nenek oke?" ujar Luhan dan Minwoo pun mengangguk.

"Aku akan mengajak Nenek ke dapur, saat itu kau bawa anjing itu ke kamarmu Hyung,"

Luhan mengangguk mengerti. Minwoo pun masuk dan Luhan bisa mendengar Minwoo membujuk Nenek untuk ke dapur bersamanya. Setelah beberapa saat Luhan tak mendengar suara lagi, Luhan pun memutuskan untuk masuk ke rumah sambil menyembunyikan anjing kecil itu dengan tangannya. Dengan cepat ia segera berlari ke kamarnya, setelah ia berhasil masuk ia pun lalu mengunci pintu kamarnya.

"Kau tunggu disini dan diam oke? Aku harus membantu Nenek lalu makan malam dan menceritakan cerita sebelum tidur untuk anak-anak, jadi jangan bersuara sampai aku kembali oke?"

Anjing kecil itu melompat-lompat kecil di dekat tempat tidurnya seolah ia mengerti apa yang baru saja Luhan katakan.

"Kalau ada orang yang masuk dan itu bukan aku kau harus bersembunyi oke? Sembunyi,"

Anjing itu kembali melompat-lompat. Luhan tersenyum kecil, ia berjongkok lalu mengelus kepala anjing itu pelan. "Anjing pintar." Ujarnya.

Skip Time

"Oppa, ayo ceritakan dongeng putri dan pangeran!" seru beberapa anak sambil menarik-narik tangan Luhan saat ia baru saja selesai mencuci piring.

"Baiklah, kalian tidak perlu menarik-narikku seperti ini," ujar Luhan.

Anak-anak itu pun bersorak lalu mereka berlarian menuju ruang keluarga yang menjadi tempat yang selalu digunakan Luhan untuk bercerita. Luhan duduk diantara anak-anak yang sudah duduk dengan rapih dengan mata yang berbinar-binar.

"Ayo Oppa cepat!"

Luhan berdehem pelan. "Baiklah,"

"Dahulu kala ada seorang putri kerajaan yang tidak pernah pergi keluar dari istana sampai suatu hari ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian ke luar istana secara diam-diam. Ia bahkan memakai gaun yang sudah cukup lusuh agar tak ada orang yang tahu kalau dia adalah seorang putri. Saat sang putri berada di luar istana ia sangat terkagum-kagum melihat banyaknya orang di luar istana, ia melihat pasar, mengunjungi banyak toko sampai akhirnya melihat jalan kecil yang menuju hutan. Sang putri yang merasa penasarun pun memutuskan untuk masuk ke hutan itu. Hutan tersebut ternyata hutan yang sangat indah, penuh dengan bunga-bunga yang cantik, dan pohon rindang yang membuat udara di hutan tersebut menjadi sangat sejuk. Sang putri bahkan menemukan banyak hewan yang tinggal disana seperti kelinci, tupai, rusa, dan hewan lainnya. Sang putri sangat menyukai hutan tersebut sampai akhirnya ia sadar kalau ia tersesat, ia tidak tahu jalan mana yang dapat membawanya pulang. Putri tersebut terus mencoba banyak jalan namun ternyata ia hanya berputar-putar saja di tempat yang sama, ia putus asa ia pun duduk disalah satu pohon dan menangis. Sampai tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang, sang putri mendongak dan mendapati-"

"Seorang pangeran sedang berdiri dihadapannya!" seru Hyorin.

"Ya, benar sekali. Ada seorang pangeran yang berdiri dihadapannya. Sang putri mengetahui kalau pemuda tersebut pangeran karena dari pakaian yang ia kenakan terdapat lambang kerajaan disana. Pangeran itu bertanya kenapa putri menangis, namun sang putri hanya terdiam ia ingat perkataan ayahnya bahwa ia tidak boleh dekat-dekat dengan orang asing walaupun ia terlihat baik. Pangeran itu terus berusaha meyakinkan sang putri kalau ia hanya ingin menolong dan tak mempunyai maksud buruk. Sang putri yang melihat kesungguhan pangeran akhirnya memberitahu pangeran tersebut kalau ia tersesat, sang putri mengatakan daerah dimana ia tinggal dan pangeran ternyata mengetahui tempat itu, ia pun menawarkan sang putri untuk naik ke kudanya. Sang putri awalnya takut namun ia mencoba untuk percaya pada pangeran itu, sampai akhirnya ia tiba di pasar yang tadi ia kunjungi. Sang putri menolak untuk diantarkan ke rumahnya oleh pangeran, ia berbohong pada pangeran kalau ia hanyalah anak pemilik toko bunga. Sang pangeran meminta putri untuk bertemu lagi, ia berkata kalau ia akan mengunjungi toko bunga milik orangtuanya. Sang putri menolak, ia berkata bahwa tak mungkin seorang bangsawan mengunjungi toko bunga biasa. Pangeran terlihat kecewa, sebelum pulang ia berkata akan menunggu putri di tempat mereka bertemu dua hari lagi. Setibanya dia di istana para pelayan menanyakan dimana keberadaannya tadi siang, namun sang putri mengabaikannya ia teringat dengan ucapan sang pangeran. Lalu apa kalian tahu apa yang terjadi dua hari kemudian?" tanya Luhan.

"Sang putri ternyata tak bisa melupakan ucapan sang pangeran, ia pun memutuskan untuk kembali jalan-jalan keluar istana secara diam-diam." Jawab Minwoo.

"Betul sekali Minwoo," ujar Luhan.

"Tentu saja aku kan sudah mendengar cerita ini ratusan kali, aku pasti mengingatnya."

"Sssh, Minwoo Oppa sudah diam, aku ingin mendengarkan lanjutannya!" seru Hyorin.

"Sudah-sudah jangan bertengkar, aku akan melanjutkannya lagi kok." Ujar Luhan.

Anak-anak panti kembali memfokuskan pandangannya kearah Luhan.

"Sang putri mencoba mengingat jalan yang ia lalui saat pertama kali ke hutan, saat ia merasa sebentar lagi akan sampai ia mendapati pangeran tengah duduk di pohon tempat ia menangis dua hari yang lalu. Sang pangeran yang mendengar langkah sang putri langsung menolehkan pandangannya dan tersenyum pada sang putri. Setelah itu mengobrol banyak hal sampai tiba-tiba pangeran tersebut mengatakan kalau ia mengetahui kalau putri berbohong kalau ia hanya anak dari pemilik toko bunga dan ia tahu kalau sebenarnya sang putri itu adalah seorang putri dari kerajaan. Sang putri terkejut, ia langsung berdiri dan hendak berlari namun sang pangeran langsung menahan tangan sang putri dan berkata kalau ia juga pangeran dan ia yakin kalau sang putri sudah tahu, ia berkata kalau ia hanya ingin mengenal putri lebih jauh. Sang putri yang sebenarnya juga tertarik dengan pangeran pun memutuskan untuk duduk kembali lalu mereka kembali berbincang. Hal itu berlanjut di hari-hari berikutnya. Sang putri selalu bertemu dengan pangeran dua hari sekali. Mereka membicarakan banyak hal termasuk penderitaan sang putri yang selalu di kekang oleh orang tuanya dan saudara-saudaranya, ia selalu dijaga dengan ketat tidak seperti saudara-saudaranya yang bebas melakukan banyak hal, bahkan untuk pergi ke taman istana pun ia harus memberitahu kepala pelayan terlebih dahulu. Sang pangeran selalu memberikan kata semangat ia berkata kalau ia tak akan melakukan hal itu karena ia tahu bagaimana penderitaan sang putri, ia juga berkata kalau ia tak akan pernah mengkhianati sang putri."

Luhan menghela napas panjang sebentar, lalu kembali bercerita.

"Mereka terus bertemu setiap dua hari sekali sampai akhirnya penjaga istana sang putri tahu kalau ternyata sang putri selalu pergi diam-diam ke hutan untuk bertemu seseorang. Penjaga-penjaga membuntuti sang putri dan mendapati bahwa sang putri menemui pemuda yang ternyata pangeran dari kerajaan musuh. Setelah itu sang putri dipaksa untuk pulang. Orangtua sang putri yang mengetahui hal itu langsung menampar sang putri dan mengurungnya dan tidak pernah membiarkannya keluar bahkan jika ia hanya ingin pergi ke taman istana. Orangtuanya bahkan mengancam akan memborgol sang putri apabila ia berniat untuk kabur. Sang putri selalu menangis setiap hari, ia bahkan tak pernah memakan makanannya kecuali jika ia dipaksa untuk makan. Hal yang sama juga menimpa sang pangeran, ia bahkan menerima hukuman dari orangtuanya dan diancam akan dicabut haknya untuk menjadi raja apabila ia mencoba untuk menemui sang putri. Setelah hampir dua minggu sang putri akhirnya berhasil kabur dari kamarnya, ia berharap akan bertemu dengan sang pangeran di tempat biasa. Setelah berlari tanpa henti, sang putri berhasil sampai ke tempat biasa dan menemukan sang pangeran tengah duduk di samping pohon dengan wajah lebam. Sang putri terkejut melihatnya ia segera menghampiri sang pangeran, sang pangeran berkata bahwa ia mencoba kabur setiap hari dan mendapatkan lebam saat penjaga istana menangkapnya. Sang putri menangis, ia berkata kalau ia sudah tak tahan lagi, ia tak ingin sang pangeran terluka, ia juga tak ingin terus-terusan mengalami hal ini. Sang putri bahkan mengatakan pada pangeran jika ia harus mati maka ia ingin mati di tangan sang pangeran, namun sang pangeran membantahnya ia mengatakan bahwa ia tak akan pernah melakukan hal itu karena ia tak akan pernah mengkhianati sang putri..."

Luhan menghela napas lagi. "Begitulah ceritanya."

"Aku heran Oppa, karena setiap kali Oppa menceritakan cerita ini, Oppa hanya akan menceritakannya sampai bagian ini, lalu lanjutannya bagaimana?" tanya Hyorin.

Luhan menatap anak-anak yang sedang menatapnya penasaran.

"Aku tidak tahu. Setiap aku memimpikan hal ini aku hanya akan memimpikannya sampai bagian ini, aku sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutannya." Jawab Luhan.

"Ceritanya sudah selesai kan? Ayo anak-anak segera tidur, besok kita harus mempersiapkan acara yang besar untuk kakak yang sudah bercerita ini," ujar Nenek panti.

Anak-anak pun mengangguk setuju lalu mereka berdiri dan meninggalkan ruang keluarga satu persatu.

"Selamat malam Hyung,"

"Selamat malam Oppa,"

Luhan tersenyum. "Selamat malam semua, semoga mimpi indah."

"Ayo, kau juga harus segera tidur Luhan." Ucap Nenek panti.

"Ya, selamat malam Nek." Ujar Luhan.

"Selamat malam Luhan, semoga mimpi indah."

Esoknya.

Luhan yakin saat itu matahari belum muncul, ia ingin sekali melanjutkan tidurnya namun ada sesuatu yang mengganggunya. Ia merasakan sesuatu yang basah di pipinya dan saat ia dengan terpaksa membuka matanya ia mendapati seekor anjing tengah menjilati pipinya.

"Huwaaaaaa!" teriaknya.

Anjing kecil menatap Luhan dengan tatapan heran.

"Jangan menjilatiku seperti itu!" teriaknya. Anjing kecil itu hanya melompat ke pangkuan Luhan.

"Luhan, bolehkah aku masuk?" suara nenek panti membuat Luhan segera menutupi anjing kecil itu dengan selimut.

"Jangan bersuara oke?" ucapnya pada anjing itu. Luhan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu "Tentu saja nek, ada apa?" lanjut Luhan.

Ceklek.

Baru saja Luhan membuka pintunya suara ledakan sudah masuk ke telinganya dan confetti yang bertebaran membuatnya heran.

"Selamat ulang tahun Hyung!"

"Selamat ulang tahun Oppa!"

Luhan tersenyum lebar saat melihat Nenek panti, petugas panti dan semua anak panti mengucapkan ucapan selamat padanya. Ia memeluk mereka satu persatu mengucapkan terimakasih.

"Kalau begitu sekarang Minwoo dan Hyorin kalian pergilah belanja untuk pesta nanti malam."

"Siap Nek!" seru mereka.

"Aku ikut!" seru Luhan.

"Tidak bisa Oppa, kau kan yang ulang tahun hari ini jadi kau harus istirahat dan biarkan kami yang bekerja," tutur Hyorin.

"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan kalian keluar hanya berdua, berbahaya, bagaimana kalau terjadi sesuatu, aku akan menemani kalian." Ujar Luhan.

"Tidak akan terjadi apa-apa Hyung, lagipula aku kan sudah besar," timpal Minwoo.

"Kau baru kelas satu SMP bocah, pokoknya aku ikut."

"Sudah, kalian tidak perlu bertengkar, begini saja Luhan kau boleh ikut tapi hanya menemani mereka, kau tidak perlu membawakan barang belanjaan oke? Hanya menemani," ujar Nenek panti.

"Hmm, baiklah. Kalau begitu tunggu di ruang tamu akan akan selesai lima belas menit lagi," ujar Luhan sambil segera ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Luhan sudah rapih di kamarnya. Ia mengenakan jeans hitam dan kaos berwarna merah dengan garis putih horizontal, tak lupa sepatu berwarna merah yang cocok dengan kaos yang ia pakai.

Luhan menatap anjing kecil yang masih berada di tempat tidurnya itu. Luhan baru saja memberikannya makan setelah diam-diam mencuri beberapa makanan di dapur yang untungnya dimakan habis oleh anjing kecil tersebut.

"Aku harus pergi lagi, kau jangan bersuara oke? Kalau ada yang datang bersembunyilah," titah Luhan.

Anjing itu meloncat-loncat dan mendekati Luhan. Luhan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anjing itu. "Anjing pintar," gumamnya.

"Luhan Hyung ayo cepat!" seruan Minwoo membuat Luhan segera berjalan keluar kamarnya.

"Ayo," ajaknya setelah ia berada di ruang tamu. Mereka pun segera berangkat ke supermarket yang berada cukup jauh dari rumah panti mereka.

Luhan, Minwoo dan Hyorin sampai di supermarket sekitar tiga puluh menit kemudian. Luhan membiarkan Minwoo dan Hyorin membawa troli mereka, Luhan bahkan tak diberitahu apa saja yang akan mereka beli. Ia pun memutuskan untuk mengikuti mereka berdua dari belakang saja. Karena ia cukup bosan hanya melihat mereka berdua belanja Luhan memutuskan untuk melihat beberapa buah untuk dirinya sendiri.

"Kalau kalian mencariku, aku di tempat buah-buahan oke?" ujar Luhan sementara Minwoo dan Hyorin hanya mengangguk lalu meneruskan acara belanja mereka. Ia baru saja akan memilih beberapa buah favoritnya sampai sebuah teriakan menginterupsinya.

"Kyaa! Luhan!" teriakan seorang yeoja yang jelas-jelas memanggil namanya membuatnya mau tak mau menolehkan wajahnya dan mendapati seorang yeoja tengah berlari kearahnya. "Ya! Krystal!" sementara itu seorang namja yang tadi berteriak memanggil nama yeoja tadi mau tak mau mengikutinya untuk berlari. Luhan menatap mereka berdua seperti pernah melihat mereka berdua.

"Luhan! Aku tidak tahu kalau kita akan bertemu disini, kurasa ini benar-benar takdir karena kita tak sengaja bertemu disini, ya ampun aku sangat senang sekali!" serunya sambil meloncat karena kegirangan. Luhan terheran sendiri dengan yeoja yang satu ini bagaimana bisa dia bisa mengetahui namanya? Bahkan ia saja tahu nama yeoja itu karena namja disampingnya memanggil namanya.

"Jangan berteriak Krystal, kita diperhatikan banyak orang," ujar namja di sebelahnya.

"Jangan hiraukan mereka Oppa, yang penting kita bertemu Luhan hari ini di hari ulang tahunnya!" serunya yeoja yang bernama Krystal itu.

Luhan mengerutkan keningnya.

"Mereka bahkan mengetahui aku berulang tahun hari ini?"

"Luhan maaf mungkin ini membuatmu bingung, kita sudah bertemu kemarin apa kau ingat?" tanya namja itu.

"Ah, kau yeoja yang menghajar berandalan itu kan? Dan ya, sepertinya aku juga melihatmu kemarin," jawab Luhan.

"Maaf tentang yang kemarin, kau pasti bingung dengan ucapan kami tapi sepertinya mulai sekarang kita mungkin akan sering bertemu. Aku Minhyuk, dan ini adik bodohku Krystal," ujar namja berambut hitam cepak yang memperkenalkan dirinya sebagai Minhyuk itu. Sedangkan yeoja berambut hitam panjang yang bernama Krystal itu hanya mengumpat tak jelas pada kakaknya.

"Ah ya Luhan! Ini ada hadiah untukmu!" seru Krystal sambil membawa sebuah kotak besar yang dilapisi kertas berwarna pink dengan corak hati yang menghiasinya dari troli yang mereka bawa.

Luhan kembali mengerutkan keningnya. "Ini, untukku?" tanyanya tak percaya.

"Sudah kubilang harusnya kau membungkusnya dengan kertas yang lebih layak," ujar Minhyuk sambil menjitak kepala Krystal.

"Bukan urusanmu, lagipula aku dan Luhan kan sama-sama yeoja, sudah pasti kami pasti suka warna pink dan gambar hati karena itu gambar yang manis!" seru Krystal sambil menjulurkan lidahnya pada Minhyuk.

"Eh? Yeoja?" tanya Luhan heran.

Krystal terdiam sebentar lalu menatap Minhyuk yang hanya menatapnya balik seolah berkata 'sudah kubilang kan?'. Krystal tertawa canggung.

"Hehe, maksudku, engh, ah! Oppa! Kau harus pergi kerja kelompok kan sekarang? Ayo pergi! Maaf Luhan, aku harus pergi dulu, nanti kita akan bertemu lagi." Seru Krystal terburu-buru sambil mengecup kedua pipi Luhan dan setelah itu memberikan kotak besar itu pada Luhan.

"Sampai nanti!" serunya sambil menarik tangan Minhyuk serta troli mereka menjauh. Minhyuk hanya menepuk bahu Luhan sebelum akhirnya mereka benar-benar menghilang dari pandangan Luhan.

Luhan menyimpan kotak itu di lantai lalu menyentuh kedua pipinya yang baru saja di kecup oleh Krystal. Luhan merasa pipinya memanas. Pasalnya ini untuk pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh seorang yeoja. Dan karena ciuman di pipi yang diberikan Krystal ia lupa tentang hal aneh yang Krystal bicarakan.

"Luhan Hyung!" seruan seseorang membuat Luhan tersadar dari lamunannya.

"Oh Minwoo? Kau sudah selesai?" tanya Luhan.

Minwoo dan Hyorin mengangguk. "Ayo Hyung, kau jadi beli buahnya?" tanya Minwoo.

"Tidak, ayo kita pulang." Ujar Luhan.

"Oppa, itu kotak apa?" tanya Hyorin sambil menunjuk kotak besar yang tingginya mungkin sepinggang gadis kelas lima sekolah dasar itu.

"Ah, ini dari temanku," jawab Luhan.

"Hadiah ulang tahun? Besar sekali! Lalu kenapa warnanya pink? Aku baru tahu Oppa menyukai warna seperti itu," ujar Hyorin.

Luhan menggeleng keras. "Aku tidak suka warna pink, hanya saja temanku yang membungkusnya dengan kertas berwarna ini,"

Hyorin hanya mengangguk mengerti. Setelah membayar bahan makanan yang sudah dibeli oleh Minwoo dan Hyorin mereka bertiga menaiki bus untuk pulang ke rumah panti.

"Nanti Oppa jangan mengintip ke dapur oke?" ujar Hyorin saat mereka sudah sampai di teras rumahnya.

"Iya, aku tahu," timpal Luhan.

"Ah, Yifan Hyung!" seru Minwoo saat mereka baru saja memasuki ruang tamu.

Luhan tersenyum lebar saat melihat Yifan yang tengah duduk sambil membaca koran itu kini melihat ke mereka bertiga sambil tersenyum.

"Kalau begitu kami ke dapur duluan," ujar Minwoo sambil menarik paksa tangan Hyorin yang sebenarnya masih ingin berada di ruang tamu itu. Setelah mereka berdua pergi dari ruang tamu Luhan duduk di sebelah Yifan meletakkan hadiah dari Krystal disamping kursi ruang tamu.

"Itu apa?" tanya Yifan heran.

Luhan menggaruk pelipisnya pelan. "Dari temanku."

"Pink?" ujar Yifan heran.

"Entahlah, aku hanya bisa menerimanya saja Hyung," ujar Luhan agak malu.

"Oh begitu, temanmu aneh. Apa kau tidak penasaran apa isinya?" tanya Yifan.

Luhan berpikir sebentar. "Iya ya aku penasaran bagaimana isinya, habisnya kotaknya besar sekali,"

"Kalau begitu buka saja sekarang," usul Yifan.

Luhan mengangguk lalu mulai merobek kertas yang melapisi kotak besar itu. Setelah berhasil ia membuka kotak besar itu dan mengernyit saat melihat isi dari kotak yang diberikan oleh yeoja yang baru Luhan kenal tadi itu.

"Apa isinya?" tanya Yifan.

"Err sepertinya Hyung tidak perlu tahu," jawab Luhan sambil menutup kembali kotak besar itu. Namun Yifan dengan cekatan mengambil kotak itu dari tangan Luhan dan mengeluarkan isi kotak besar itu.

"Teddy bear putih dan bando berwarna pink?" gumam Yifan saat benda yang ia keluarkan dari kotak besar itu ternyata sebuah teddy bear besar berwarna putih dan bando pink yang dipakaikan ke teddy bear tersebut. Luhan hanya bisa menutup wajahnya yang memerah karena malu.

"Sudah Hyung, masukkan lagi hadiahnya."

Yifan tertawa lalu kembali menatap teddy bear itu. "Apa temanmu tahu kau itu seorang namja?" tanya Yifan sambil terbahak.

"Hyung, sudah jangan dibahas lagi," pinta Luhan dengan wajah yang memerah.

"Hahaha, baiklah baiklah," Yifan pun segera memasukkan kembali hadiah dari Krystal itu ke dalam masih menutup wajahnya malu.

"Oh ya, selamat ulang tahun Luhan, kau sudah tujuh belas tahun sekarang," ujar Yifan sambil mengacak rambut Luhan, berusaha mengganti topik tentang hadiah dari Krystal tadi.

"Haha, terimakasih Hyung,"

"Semoga kau semakin tampan seperti Hyung-mu ini ya," ucap Yifan.

Luhan mendengus. "Aku sudah lebih tampan darimu Hyung!" serunya.

Yifan tertawa kecil. Luhan juga ikut tertawa karenanya.

"Oh ya, ini ada hadiah untukmu," ujar Yifan sambil memberikan kotak yang berbanding terbalik dengan yang diberikan Krystal. Kotak itu dilapisi dengan kertas berwarna biru muda dengan corak ombak yang menghiasinya.

"Wah, untukku? Serius Hyung?" tanya Luhan dengan mata berbinar.

"Bukan, untuk Minwoo. Tentu saja untukmu pabbo! Kau kan sedang berulang tahun hari ini," seru Yifan.

Luhan tertawa kecil. "Hahaha, Hyung terimakasih! Boleh kubuka hadiahnya sekarang?" tanya Luhan penasaran.

"Tentu saja,"

Luhan dengan cepat merobek kertas yang melapisi kotak itu lalu membuka kotak tersebut dan mendapati sebuah jam tangan berwarna putih berada di dalamnya.

"Wah! Jam tangan!" seru Luhan.

Jam tangan itu merupakan jam tangan analog dengan dengan bentuk bulat dan ada ukiran kotak-kotak kecil disampingnya.

"Kau menyukainya?" tanya Yifan.

"Ya, terimakasih Hyung!" seru Luhan.

"Bagus kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu ya, kau tunggu disini, dan jangan pernah sekalipun kau membantu kami oke?" ancam Yifan.

Luhan tertawa. "Iya Hyung aku mengerti,"

Skip Time

Pesta baru saja akan dimulai ketika nenek panti berbicara pada Luhan bahwa dua orang anak panti belum pulang sedari tadi. Nenek panti meminta Luhan untuk mencari anak tersebut. Yifan menawarkan diri untuk membantu Luhan. Kemudian mereka berdua keluar dari panti dan mencari dua anak panti tersebut.

"Jieun-ah! Siwan-ah!" Luhan berteriak seraya menyusuri jalan mencari dua anak panti tersebut. Yifan berjalan di samping Luhan. Mereka mencari tempat di mana kira-kira dua anak tersebut berada. Namun Luhan dan Yifan tak kunjung menemukan dua anak panti tersebut.

Hari sudah semakin larut, awan terlihat berkabut namun bulan terlihat terang tanpa terhalang kabut awan.

"Di mana mereka?" Luhan bergumam. Sudah terlihat keringat di keningnya. Luhan dan Yifan sudah berjalan cukup jauh dari panti asuhan.

"Mereka tak akan mungkin pergi terlalu jauh dari panti kan?" tanya Luhan, Yifan hanya mengangguk.

"Eottohke? Apa mereka baik-baik saja?" tergurat kekhawatiran di wajah Luhan.

"Tenanglah, kita harus tetap mencarinya, bagaimana jika kita berpencar saja agar lebih efektif? Kau ke arah sana, dan aku ke arah sini," ujar Yifan seraya menunjuk arah kanan dan kiri.

"Baiklah kalau begitu, Hyung jika kau menemukannya tolong beritahu aku ne," ujar Luhan.

"Pasti, pasti aku akan memberitahukanmu," ujar Yifan. Lalu mereka pun berpencar. Luhan kembali berjalan begitu pun Yifan, mereka berjalan ke arah yang

berbeda. Namun setelah beberapa saat Yifan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap punggung Luhan yang semakin menjauh.

"Apa yang akan terjadi ya?" ujarnya seraya tersenyum penuh makna.

Sedangkan Luhan yang masih mencari dua anak panti itu tiba-tiba menerima telepon. Ia melihat nomor yang tak ia kenal terpampang di layar ponselnya.

"Yobbosaeyo?" Ujar Luhan.

"Luhan, ini aku Xiumin."

"Ne, Xiumin ada apa?"

"Apa kau kehilangan adikmu?" tanya Xiumin. Luhan mengerutkan keningnya.

"Ne, dan kenapa kau bisa tahu?"

"Aku melihat dua orang adikmu masuk ke dalam sekolah kita, aku mengikutinya dan ternyata mereka pergi ke arah gedung sekolah. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan di sekolah kita,"

"Bukan itu. Maksudku, kenapa kau tahu itu adikku?"

"Aku pernah melihatmu bersama mereka. Soal kejadian kemarin maafkan aku karena aku telah memarahimu. Aku tahu kau tinggal di panti asuhan. Saat kau menyemangatiku, aku tahu kau tulus mengatakannya. Jadi kali ini aku ingin membantumu, ini sudah larut malam dan adikmu masih berkeliaran di luar itu sangat berbahaya." Ujar Xiumin. Luhan tersenyum.

"Gomawo Xiumin-ah, aku tahu kau itu orang baik, aku akan segera ke sekolah, tolong beritahu aku jika ada apa-apa ne,"

"Ne, kutunggu kau," lalu telepon pun terputus. Luhan segera berlari menuju ke sekolahnya yang berada tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Ia sangat senang telah mengetahui keberadaan dua anak panti itu. Saking senangnya ia bahkan lupa tak memberitahukan Yifan bahwa ia sudah tahu tempat anak-anak itu berada.

Setelah beberapa menit berlari, akhirnya Luhan sampai di sekolahnya. Dengan napas terengah-engah ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari kedua anak tersebut dan Xiumin.

"LUHAAANN!" Terdengar teriakan dari atap sekolah. Luhan segera menengadah melihat ke atap sekolah.

"Adik-adikmu ada di sini, entah mengapa mereka tertidur di sini!" Itu suara Xiumin, dia sedang berada di atap sekolah.

"Baiklah Xiumin-ah, aku akan ke sana. Tunggu sebentar!" seru Luhan. Kemudian ia berlari kembali menuju gedung sekolah dan menaiki tangga menuju atap sekolah.

BRAK

Pintu menuju atap sekolah terbuka, menampilkan Luhan yang sedang terengah-engah di sana. Xiumin melihat Luhan dan kemudian tersenyum. Entah kenapa Luhan merasa aura di sekitarnya menjadi tak enak. Ia kemudian menoleh ke arah kiri dan kanannya mencari adik-adiknya.

"Dimana adik-adikku Xiumin-ah?" tanya Luhan. Ia berjalan mencari adik-adiknya di atap sekolah itu, dan ia terdiam saat melihat adik-adiknya yang duduk tak jauh darinya dengan tangan dan kaki diikat, lalu mulut ditutup oleh sapu tangan. Luhan membulatkan matanya.

"Xiumin-ah, apa maksudnya ini?" tanya Luhan. Ia kemudian beralih menatap Xiumin.

"Apa yang telah kau lakukan pada adik-adikku?" tanya Luhan. Ia melihat adik-adiknya sudah mengeluarkan air matanya di sana. Sepertinya jika tidak ada sapu tangan yang menutup kedua mulut anak-anak tersebut pasti kini mereka tengah berteriak dan terisak menangis.

"Akhirnya hari ini tiba, hahahaha aku sudah menunggumu sedari dulu. Aku akan melenyapkanmu hari ini juga!" Luhan tercengang mendengar penuturan Xiumin.

"A-apa maksudmu?" tanya Luhan. Xiumin tertawa lagi, ia mendekati Luhan.

"Hari ini kau resmi berumur tujuh belas tahun. Dan jika aku membunuhmu sekarang di malam bulan merah sekarang ini, aku akan berubah menjadi Opast. Darahku akan menjadi darah Opast, aku pasti akan semakin kuat, hahaha!" Ia tertawa kembali sedangkan Luhan mengerutkan alisnya bingung.

"Aku tidak mengerti, apa yang sedang kau bicarakan?"

"Aih, kudengar kau memang hilang ingatan saat terlahir di dunia ini lagi, tapi aku tak menyangka kau benar-benar kehilangan ingatanmu."

"Sungguh Xiumin-ah, apa yang tengah kau bicarakan sekarang ini? Kenapa kau menculik adik-adikku?"

"Kau memang Lessieona yang paling menjijikan. Jangan pura-pura bodoh, kau mengerti kan aku menculik adik-adikmu untuk memancingmu ke sini?"

Luhan masih terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Xiumin.

"Kau, jadi kau masih marah padaku Xiumin-ah atas kejadian waktu itu?"

"Hahaha, tak perlu aku basa-basi terlalu lama denganmu, kau adalah Asklepios, Lessieona yang berharga bagi para bangsamu. Aku pasti akan menjadi semakin kuat jika membunuhmu sekarang!" dan setelah itu Xiumin langsung menghajar Luhan.

BUGH

Satu pukulan saja kena telak di perut Luhan, Luhan mengaduh. Kemudian satu pedang panjang tiba-tiba berada di tangan Xiumin.

"Ayoo kemarilah, kita selesaikan ini dengan cepat dan aku akan menjadi seorang Opast."

"Kau, kau bukan Xiumin temanku!" Seru kemudian Xiumin tertawa lagi.

"Hahaha, kau menganggap orang yang berada di tubuh ini temanmu? Jangan bercanda, orang yang berada di tubuh ini sama sekali tak menganggapmu sebagai temannya. Jika dia menganggamu sebagai teman, tak mungkin aku dapat merasukinya. Asal kau tahu saja, dia sangat membencimu, karena itulah aku dapat memasuki tubuhnya. Jiwanya lemah, tapi perasaan benci terhadapmu tertanam kuat di benaknya, karena itulah aku dapat membunuhmu dengan memanfaatkan orang ini."

"Siapa kau? Apa tujuanmu?"

"Sudah kukatakan tadi kan? Aku ingin membunuhmu agar aku menjadi Opast!" Luhan tak mengerti, sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang yang berada di hadapannya kini. Ia terus saja mengatakan kata-kata yang bahkan asing ditelinganya. Namun ia sadar, yang sekarang berada di hadapannya bukan Xiumin teman sekelasnya.

'Xiumin membenciku?' batin Luhan.

"Tak usah terlalu banyak berpikir, karena sebentar lagi kau akan meninggalkan dunia ini!" Xiumin atau seseorang yang merasuki tubuh Xiumin sudah akan menebaskan pedang panjangnya pada Luhan. Luhan tak dapat bergerak dan sama sekali tak ada tenaga untuk menghindar. Ia memejamkan matanya seraya berdo'a, tapi...

BUGH

TRANG

Bukan kesakitan yang didapatnya, melainkan suara pedang terjatuh yang terdengar pada gendang telinganya.

"Eh?" gumam Luhan.

"Guk!"

Suara anjing juga terdengar di sana. Luhan kemudian membuka matanya dan melihat seekor anjing sedang berada di depannya.

"Guk! Guk! Guk!"

Anjing itu terus menggonggong. Kemudian lama kelamaan anjing itu berubah menjadi seekor serigala yang besar. Luhan membulatkan matanya. 'Apa-apaan ini?' batinnya. Ia mengucek matanya beberapa kali, ia mungkin salah melihat. Namun beberapa kalipun ia berusaha mengucek matanya, pemandangan di depannya tetap sama. Anjing itu benar-benar berubah menjadi seekor serigala.

"Kerja bagus Pixies." Tiba-tiba terdengar sebuah suara dan tibalah seorang namja membelakangi Luhan. Luhan terkaget melihatnya, pasalnya namja tersebut entah darimana datangnya.

"Hei kau Horrast rendahan, jika kau ingin membunuh Luhan, hadapi dulu aku." ujar namja tersebut. Luhan kembali terheran, darimana namja asing tersebut dapat mengetahui namanya?

Namja tersebut memang asing di mata Luhan. Luhan memang tak melihat wajahnya karena ia membelakangi Luhan. Namun Luhan yakin bahwa ia tak mempunyai satu pun kenalan yang mempunyai rambut berwarna merah. Ya, namja tersebut memiliki rambut berwarna merah. Di lihat dari lehernya, namja tersebut memiliki kulit seputih susu. Tingginya melebihi tinggi Luhan, badannya agak kurus, namun terlihat berisi di daerah lengannya. Namja tersebut mengenakan pakaian serba hitam. Namun kemudian ia membuka kemeja yang ia pakai, hanya menyisakan sebuah kaus oblong berwarna hitam juga.

Xiumin yang tengah dirasuki itu menggeram marah. Kemudian ia kembali membawa pedangnya yang tadi terjatuh.

"Kau, kau berani-beraninya menyakiti pedang kesayanganku!" seru orang yang merasuki Xiumin yang tadi di sebut Horrast oleh namja asing yang menolong Luhan.

"Aku tidak akan pernah mengampunimu!" lanjutnya.

Ia sudah mengacungkan pedangnya siap melawan namja yang berada di hadapan Luhan.

"Pixies, jaga Luhan." Ujar namja itu tanpa menoleh. Anjing yang tadi berubah menjadi sertigala itu kini mendekati Luhan. Luhan berangsur mundur hingga jaraknya cukup jauh dengan dua namja yang kini tengah bergulat. Anjing yang tadi berubah menjadi serigala terdiam di depan Luhan dengan posisi siap siaga menjaga Luhan. Luhan tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Dan Luhan tak tahu sebenarnya siapa yang merasuki Xiumin itu? Apa namanya Horrast karena tadi namja asing itu memanggilnya dengan sebutan Horrast? Dan siapa namja yang kini tengah bertarung melawan Horrast itu untuk menolongnya? Namja asing itu juga memiliki senjata yaitu pedang namun berbeda bentuk dengan pedang milik Horrast yang kini tengah merasuki Xiumin. Pedang namja asing itu cukup panjang namun juga lebar. Luhan pertama kali melihat pedang yang seperti itu. Yang jelas sebelumnya ia tak pernah melihat benda-benda seperti itu.

"Uhuk!"

Hingga suara batuk terdengar. Luhan melihat Xiumin yang tengah dirasuki Horrast itu mengeluarkan darah.

"Siapa kau?" Tanya Horrast pada namja asing itu.

"Kau tak tahu aku?" Ujar namja asing itu dengan nada meremehkan. Xiumin yang tengah dirasuki Horrast itu terdiam sejenak memperhatikan namja asing itu seraya mengusap bibirnya dan menghapus noda darah di sana. Saat melihat sesuatu di lengan kiri namja berambut merah itu, seketika ia membulatkan matanya.

"K-kau, apa kau –benar ? Tunggu tanda itu, aku tahu tanda itu." Ujar Xiumin. Ia menunjuk tepat ke arah sesuatu yang berada di lengan kiri namja asing itu. Lengan yang lumayan berotot itu. Luhan sedikit penasaran, karena itulah ia menggeser tubuhnya dan menengok kearah yang ditunjuk oleh Horrast. Ternyata di lengan kiri namja asing itu terdapat sebuah tattoo.

"Tanda salib dengan bulatan seperti kepala kunci diatasnya. Kau Agarest? Agarest yang kuat itu?" Tanya Horrast kembali dengan nada ketakutan.

"Kau telat sekali menyadari bahwa aku itu kuat. Sayang sekali kau terlambat untuk kabur sekarang, sekali berurusan denganku kau tak akan pernah lolos dariku." Ujar namja asing tersebut. Kemudian ia kembali menebaskan pedangnya. Horrast yang tengah dirasuki itu dengan cekatan menahan dengan pedang yang dimilikinya. Namun naas pedang tersebut patah dengan sekali tebasan. Kini Xiumin yang dirasuki Horrast itu tengah bergetar di sana.

"Tu-tunggu, kau pasti tahu kan? Jika kau membunuhku jiwa orang yang berada di dalam tubuh ini juga akan mati!" Seru Xiumin.

"Ya, aku tahu. Namun itu bukan urusanku, kau tetap akan mati. Dan waktunya tak akan lama lagi." Ujar namja asing itu datar. Kemudian ia bersiap menebaskan pedang kembali jika saja suara Luhan tak terdengar.

"Tunggu!" Ya, Luhan mengehentikannya.

"Jangan bunuh dia! Xiumin temanku, aku tak akan membiarkanmu membunuh temanku!" seru Luhan. Pedangnya hanya sampai di udara saja, tak sempat untuk menebas pada tubuh Xiumin yang tengah dirasuki Horrast.

"Hahaha, aku tahu tentangmu yang sangat lemah hanya karena seorang manusia sepertinya. Kau ini Agarest, kenapa bisa kau lemah hanya karena Asklepios sepertinya? Dengan begini kau tak bisa -ugh" saat Horrast itu tertawa tiba-tiba saja sebuah rantai sudah terpasang di kedua tangannya dan di kedua kakinya. Rantai itu kemudian menancap di sebuah besi besar. Kemudian Horrast itu mengaduh.

"Apa-apaan ini?" ujarnya.

"Atas nama kebaikan dan perdamaian dunia ini, kembalikan iblis ini ke neraka, aku Lessiona yang diperintahkan untuk memberantas iblis. Beri aku kekuatanmu." Tiba-tiba saja suara seseorang terdengar. Suara seseorang yang tengah mengucapkan mantra. Luhan segera menoleh ke arah sumber suara. Di sana terlihat Minhyuk yang tengah memejamkan matanya dan Krystal yang kini tengah berlari menghampirinya.

"Gwenchana?" tanya Krystal. Luhan tak mengerti, kenapa pula Minhyuk dan Krystal berada di sana. Dan tiba-tiba terdengar suara jeritan di sana.

"AAARRGGHHHTTTT!" Xiumin berteriak di sana. Kemudiam sebuah makhluk yang menurut Luhan mengerikan dan baru pertama kali dilihatnya keluar dari tubuh Xiumin. Makhluk itu berwujud manusia, hanya saja ia tak mempunyai hidung dan mempunyai telinga yang berbeda dengan manusia.

"KALIAN AKAN MEMBALASNYA, UMAT MANUSIA HARUS MUSNAH, DASAR MAKHLUK RENDAHAN!" Teriaknya. Namun kini sedikit demi sedikitnya tubuhnya hangus. Hingga tak berbekas, dan terbawa angin malam. Kemudian Xiumin terjatuh dan tak sadarkan diri. Luhan menyaksikan semua itu dengan pandangan heran dan ketakutan. Ia benar-benar tak mengerti dengan hal yang tadi ia lihat. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

"Syukurlah kami datang tepat waktu, jadi Minhyuk Oppa dapat melakukan pemurnian," ujar Krystal. Apa pula itu pemurnian? Luhan semakin tak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin kini ia tengah tertidur lelap dan inilah mimpinya. Mungkin ia memiliki fantasi yang berlebihan sehingga terciptalah mimpi yang tidak masuk akal seperti ini.

"Hei Luhannie~" ujar Krystal seraya mencubit pipi Luhan. Tunggu ia merasa sakit saat Krystal mencubit pipinya. Itu berarti dia tak bermimpi kan? Ini kenyataan?

"Kau pasti kaget, namun sejak awal aku ingin sekali mengatakan ini. Selamat datang kembali Luhan, perang akan segera di mulai." ujar yeoja cantik itu tersenyum ke arah Luhan. Luhan hanya menatapnya, kemudian menatap anjing serigala yang kini telah berubah wujud menjadi anjing biasa, lalu ke arah namja asing yang masih membelakanginya.

'Perang? Apa yang mereka maksud dengan perang?' batin Luhan.

To Be Continued


Halo, ketemu lagi di chapter 2 Primrose ^^

Terimakasih untuk yang sudah mereview untuk chapter 1 ya :D

Nah, namja yang berambut merah sudah mulai menampakkan dirinya nih, kalian pasti udah tau kan dia siapa? hehe

Semoga pada gak kecewa sama chapter 2 ini ^^ Kalo ada typo maaf ya, chickenKID dan dinodeer sudah berusaha untuk meminimalisir typo :))

Please respect our fanfic with your review ^^

Balasan Review

NoonaLu : gomawo, ini sudah dilanjut ^^

SFA30 : gomawo ^^

Luhan Oh : iya hehe ini sudah dilanjut ^^

Xxilu90 : haha sehun bukan ya? Iya gomawo ^^ ini sudah dilanjut

.58 : sepertinya memang sehun xD siapa hayo? Kkk terimakasih sudah review ini sudah dilanjut ^^

RZHH 261220 II : gomawo, ini sudah dilanjut ^^

: kira kira apa lagi ya keistimewaan luhan? kkk ini sudah dilanjut ^^ gomawo

Hunhahahan : gomawo ^^ ini sudah dilanjut

/Tebarsenyumhunhan ^o^/