TAP!
TAP!
TAP!
Bunyi nyaring lantai lorong sekolah yang beradu dengan hak sepatu tinggi milik seorang wanita cantik yang rambutnya diikat dua, mengisi keheningan. Kenapa bisa sekolah begitu sepi? Terang saja, bel masuk sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Para siswa pasti kini berada dikelasnya masing-masing dan mungkin memulai pelajaran.
Wanita dengan mata madu itu sangat cantik, siapa yang menduga kalau hidupnya sudah hampir satu abad. Dibelakangnya seorang gadis yang tak kalah cantik sedang menggigit bibirnya, gugup. Berbagai kenangan masa lalu tergambar dipikirannya, bagai film singkat yang membuatnya takut. Ia takut pada teman-teman yang akan ia temui. Helai merah mudanya berayun ringan seiring langkah si gadis. Suara berisik yang berasal dari sebelah kirinya membuat Sakura−nama gadis itu−tersadar, apalagi setelah itu wanita didepannya menghentikan langkah sejenak lalu masuk meninggalkan Sakura.
Di dalam kelas..
"Ohayou~" sapa wanita tadi tersenyum sinis melihat kelas berantakan dan berisik yang seketika menjadi rapi dan hening.
"Ohayou, Tsunade-sama!" balas para siswa kompak. Bisik-bisik mulai terdengar, mempertanyakan maksud kedatangan kepala sekolah di pagi hari ini.
"Hm, bisa tenang sedikit? Aku hanya memberi tahu kalian bahwa aku membawa murid baru hari ini. Silahkan masuk." Seorang gadis masuk, semua mata tertuju padanya.
"Perkenalkan , aku Haruno Sakura. Aku baru saja pindah dari Suna. Mohon bantuannya." Ia mengakhiri perkenalan singkat itu dengan ber-ojigi.
"Sakura?"
"Sakura-chan?"
.
.
Haruna Lee proudly present
It's Love
Chapter 2
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This fic is purely belongs to Haruna Lee
Warning : OOC (hopefully no), typo(s), drama
Kalau ada kesamaan alur, ide, tokoh, setting, dsb kami mohon maaf. Pada dasarnya semua karya memiliki hal yang menginspirasi berarti setiap karya itu mengcopy, meniru. Jadi, jangan marah kalau ada kesamaan. Karena keoriginalitasan itu tidak ada, menurut kami. Well,
Happy reading, minna~
.
.
"Sakura?" Ino yang baru saja memekik langsung menutup mulutnya. Ia merutuki kebodohannya. Ia begitu senang melihat kehadiran sahabat lamanya.
"Sakura- chan?" Naruto yang biasanya lambat merespon kini tengah melambaikan tangannya ke arah Sakura. Tindakan bodoh, padahal ia ragu apakah itu benar Sakura atau bukan, padahal ia tadi memanggil nama Sakura dengan nada bertanya. Perhatian Sakura langsung teralih pada Naruto, ia tertawa kecil dan balas melambaikan tangan.
"Baiklah, kurasa cukup perkenalannya, karena sebagian besar dari kalian pasti masih mengenalinya. Kau bisa duduk disamping Uchiha−" Tsunade menghela nafas lelah melihat kelakuan muridnya yang satu itu. 'Astaga, bocah Uchiha itu.' Tsunade menggerutu dalam hati dan memanggil Naruto untuk membangunkan Sasuke.
"Hontou ni arigatou, Tsunade-sama." Sakura segera menuju tempat duduknya di samping Uchiha Sasuke setelah ber-ojigi kepada Tsunade. Tidak ada yang melihat, walau sebentar, mata itu memandang sendu ke arah Sasuke yang masih tampak enggan untuk bangun dan malah kembali tertidur sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Sakura segera mengontrol diri dan menggigit bibirnya pelan, setengah gugup ia mendekati Uchiha Sasuke dan sesekali mengangguk kecil membalas sapaan 'kawan lama'-nya.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan kalian. Kudengar Kakashi-sensei tidak akan hadir hari ini." Pamit Tsunade-sama yang merupakan kabar baik bagi seluruh penghuni kelas.
"Ha'i, Tsunade-sama." Jawab anak-anak serempak. Setelah dirasa cukup aman, mereka semua berteriak kesenangan dan beberapa dari mereka kembali menyibukkan diri tanpa memperdulikan 'tugas' yang telah diberikan.
"Sakura-chaaaannnnn! Aku rindu sekali. Astaga, kapan kau pulang? Kenapa tidak bilang? Aku kan bisa menjemputmu. Ah, iya! Kau pulang bersama oji-san dan oba-san kan? Apa kabar mereka? Kalau kabar dirimu bisa kulihat baik. Ah, sampaikan salamku pada oji-san dan oba-san yaa? Hehehe" Sasuke yang membelakangi Sakura mengernyit mendengar perkataan Naruto yang terdengar begitu nyata.
"Kau tidak berubah yaa?" Sakura tersenyum manis sampai kedua matanya menyipit, sedangkan Naruto tersenyum semakin lebar sambil menggaruk belakang kepalanya−salah tingkah−dan membuang muka, matanya membulat sesaat melihat orang disamping atau seharusnya dibelakangnya.
"Oi, Teme! Ini ada Sakura-chan, lho~ Asli, lho~" Naruto menarik-narik topi hoodie Sasuke jahil.
"Hentikan omong kosongmu, dobe! Jangan ganggu aku, Baka!" Sasuke yang kesal akhirnya bangkit dan memukul kepala Naruto.
"Ouch, ittai! Heh, bagaimana aku tidak bodoh kalau kau memukul kepalaku terus?" Naruto mengusap kepalanya yang baru saja menjadi sasaran empuk Sasuke. Sakura tertawa begitu keras tanpa bisa dikendalikan, ia merasa geli melihat kelakuan dua lelaki yang seperti dua bocah itu. Sasuke sontak menoleh dan ia hanya diam memperhatikan Sakura.
"Hm, Sa-sa-Sasuke-kun." Sakura mencoba menetralisir kegugupannya dan berharap suara yang ia keluarkan tidak bergetar. Sasuke merasa ini mimpi, mata hijau nan jernih itu, rambut sewarna permen kapas dan senyuman manis yang mampu menggetarkan hatinya itu.
"Si teme ini sangat merindukanmu lho, Sakura-chan~"
"Tutup mulutmu, dobe." Sasuke mendengus keras dan membalikkan wajahnya kearah jendela di sampingnya, matanya memandang entah kemana. Tetapi ada sebuah senyuman langka diwajahnya dan segaris tipis, begitu tipis dan hampir tak terlihat rona kemerahan di pipi tirusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Raven dan soft pink. Berjalan berdampingan. Hening. Tanpa suara. Sasuke sedang bergelut dengan pikirannya, sepanjang hari ini Sakura selalu menghindari topic pembicaraan mengenai kepergiannya dan alasan kedatangannya kemari. Sakura sendiri masih merasa canggung dengan Sasuke.
"o-" / "o-"
Bersamaan. Sontak keduanya saling berpandangan lalu tertawa sambil membuang muka.
"Ladies first." Ucap Sasuke, akhirnya, setelah keheningan sempat melanda.
"oji-san dan oba-san.. Apa baik-baik saja? Apa mereka ada disini sekarang?" Sakura bertanya dengan keraguan, ia bahkan tidak berani memandang wajah Sasuke.
"Entahlah.." jawab Sasuke sambil menerawang langit sore yang mulai berubah warna.
"Ng, sampai disini, Sasuke. Kita berlainan arah." Sakura tak menanggapi ucapan Sasuke dan langsung pergi setelah sedikit menunduk−tanda pamitnya. Sasuke juga tak menjawab, ia hanya memperhatikan punggung gadis itu yang semakin menjauh. Dari punggungnya saja Sasuke bisa mengetahui bahwa gadis itu kesepian. Seolah ada beban yang begitu berat, jalannyapun sedikit bungkuk.
Tiba-tiba sosok itu berubah menjadi gadis kecil..
Flashback on
"…..Makanya.. Sasuke-kun, jangan seperti tou-san yang pelupa yaa? Bisa gawat nanti hahaha" ucap seorang gadis kecil mungkin usia sekolah dasar dengan rambut ponytale kepada seorang bocah lelaki seumurannya di sampingnya.
"Hn. Sekarang aku tahu darimana asalnya sifat pelupamu itu, Sakura." Jawab Sasuke sambil menoyor kepala Sakura. Sakura mengumpat sebal dan langsung menendang Sasuke.
"Kalau begitu, ini semua salah Tousan! Sasuke-kun jangan menyalahkan aku, salahkan saja Tousan yang menurunkan sifat pelupanya." Sasuke mendengus. Argument macam apa itu?
"Hn. Terserah." Jawab Sasuke tak acuh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragam sekolahnya.
"Ne, Sasuke-kun. Kenapa ikut berbelok? Rumah Sasuke-kun kan lurus." Sakura memandang Sasuke penuh tanya.
"Mengantar seorang pelupa. Aku takut ia melupakan rumahnya." Jawab Sasuke datar. Membuat Sakura kecil naik pitam.
"Aku bukan amnesia, Uchiha! Pulang sana. Aku bisa pulang sendiri." Sakura yang kesalpun memukul lengan Sasuke dan membuat uchiha bungsu itu sedikit terhuyung. Sasuke hanya diam setelah itu karena Sakura langsung berlari dan setelah agak jauh, Sakura berjalan biasa dan rambut ponytalenya bergoyang mengikuti langkah Sakura kecil. Sasuke masih terus memperhatikan, sampai tiba-tiba..
"Aww, kakiku.." Sakura jatuh terduduk.
Flashback off
"Aww, kakiku.." Sakura jatuh terduduk. Ia berusaha untuk bangun, namun.. "argghhh.." gagal. Kakinya sepertinya keseleo. Sasuke mengerjap, kaget. Rasanya seperti de javu. Ia segera berlari menghampiri Sakura.
"De javu, eh?" ucap Sasuke spontan. Sakura pun hanya menunduk malu sambil meringis kecil ketika Sasuke membantunya berdiri. Setelah itu Sasuke membantu Sakura duduk di kursi di dekat mereka.
"Arigatou gozaimasu.." ucap Sakura sambil menahan sakit ketika Sasuke memijat kakinya.
"Padahal jalan lurus-lurus saja, di trotoar mana mungkin ada polisi tidur, jalanpun tidak rusak bahkan batu kecil tidak ada tapi, bisa-bisanya kau jatuh, Sakura? Kau memang tidak berubah." Sasuke dengan santai memijat kaki Sakura seolah itu hal mudah, hal biasa yang ia lakukan. Sakura tersenyum kecil dan bersyukur dalam hati.
"Begitulah aku. Kau lebih aneh lagi, Sasuke-kun. Bak pangeran berkuda putih, kau datang dan langsung menolongku. Jadi, prince charming, apa rahasiamu?" tanya Sakura setengah meledek.
"Karena aku selalu memperhatikanmu." Jawab sasuke tenang. Sedangkan Sakura merasa senjatanya menjadi boomerang. Tak bisa dipungkiri, pipinya memerah dan ada bunga bermekaran di dalam hatinya.
Tidak apa-apa kan kita mengingat masa lalu dan melupakan masalahkita walau hanya sejenak ne, Sasuke-kun?
Rasanya aku ingin menghentikan waktu, agar kita bisa lebih lama seperti ini. Bahagia seperti ini, dan kamu, Sakura..
TBC
Huaaaa! Apa ini? Apa?! -" Feel-nya kerasa ga? Aneh ga? Huhuhu gomen ne kalo kurang memuaskan yaa T.T
Tadinya aku mau bikin long chapter, tapi kayanya aneh kalo kita lanjut setelah ini jadi, cukup sampai disini dulu yaa~ udah banyak ide buat fanfic-fanfic baru, kalau memungkinkan akan segera dipublish.. mohon dukungannya semua^^
RnR, please…
