Disclaimer: i don't own nothing but this story.
WARNING: keanehan author (duaak)
Chapter 2: Like Dogs Playing Poker
.
.
Roxas mengedipkan matanya berkali-kali, membawa dirinya kembali ke kesadaran. Alih-alih keraguan membawanya dari dunia nyata dan jatuh ke pemikirannya sendiri. Namun ia kembali sadar dan menatap Namine yang terlihat sedih. Oh tidak, ia pasti berpikir bahwa aku menganggapnya aneh, batin Roxas.
"Kau.. hebat," Roxas berkata sedikit ragu sambil berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan, "bermain piano seperti itu.. pasti butuh latihan berbulan-bulan.."
Roxas melihat kembali wajah Namine yang sepertinya menatap bibir Roxas dan berusaha mencerna perkataan Roxas lalu gadis mungil itu berkata sambil menggerakkan jari-jarinya, "Kelihatannya begitu. Tapi kalau kau justru memainkannya dengan perasaanmu, maka yang terdengar justru indah. Aku tidak begitu mendengarnya karena awalnya aku memainkannya dengan pelan—"
"Indah," sela Roxas, "memang awalnya begitu pelan lalu pada akhirnya kau bermain dengan tempo yang cepat. Alunannya tetap terdengar indah di telingaku."
Roxas dapat melihat wajah Namine yang memerah. Sepertinya ia sudah menangkap apa yang kumaksud, batin Roxas. Roxas berdeham lalu berkata, "Enng.. Kau bilang kau menggunakan..," Roxas menunjuk hearing aid milik Namine, "alat itu untuk mendengar kan?"
Namine mengangguk lalu berkata sambil menggerakkan jari-jarinya, "Iya. Tapi hanya sedikit. Aku hanya bisa mendengar suara keras dari alat bantu ini. Seperti.. mobil, motor. Kalau untuk berkomunikasi, aku harus membaca bibir lawan bicara atau menggunakan bahasa isyarat."
Roxas mengangguk tanda mengerti. Lalu ia menyadari sesuatu, "Enng.. Bukan bermaksud untuk ikut campur, tapi...," Roxas merasakan kegugupan di dalam dirinya, padahal ia belum mencoba bersosialisasi dengan orang lain minggu ini. "..sejak kapan kau—"
"Tuli?" sambung Namine. Sebagai orang yang tidak bisa mendengar, ia cukup ahli menangkap gerak bibir lawan bicaranya. Namine menjawab, "sejak aku berumur lima tahun. Duniaku langsung berubah menjadi dunia tanpa suara."
Melihat wajah Namine yang berubah seketika, Roxas berusaha mengubah topik pembicaraan. "Eeh.. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau ada kelas?"
Namine memandang Roxas dengan heran, "Aku berniat menanyakan hal yang sama padamu."
Roxas menghela napas panjang sambil menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal dan berdecak kesal, "Ungh...kau tidak mau tahu, Namine." Suaranya terdengar menggerutu
Namine tersenyum sambil duduk kembali ke kursinya dan meletakkan jari-jarinya ke tuts piano, memainkannya dengan pelan, "Aku mau tahu."
"Urgh..," gerutu Roxas sambil duduk di samping Namine, "..kau tidak tahu aku, Namine?"
Namine menghentikan permainan pianonya lalu menatap Roxas sambil mengangkat kedua bahunya, "Aku tahu. Kau adalah Roxas Ames yang baru saja kukenal, masuk tanpa sepengetahuanku, dan bertanya apa yang kulakukan di sini."
"Itu terdengar kurang meyakinkan," Roxas bergumam, mendapati Namine yang menertawakannya. "Ayolah.. Yang bertanya duluan kan aku."
Namine menganggukkan kepalanya tanda mengerti lalu menggunakan bahasa isyaratnya sambil berkata, "Cukup adil. Baiklah, alasanku ke sini karena aku memang mau."
Roxas menunggu sekitar kurang lebih dua detik, namun ia tidak mendapati kelanjutan dari jawaban Namine. "Lalu?"
Namine menghela napas panjang sambil memainkan jari-jarinya ke tuts piano lalu menjawab, "Latihan. Untuk kompetisi piano musim semi ini."
Ah, pikir Roxas. Ia pernah mendengarnya dari beberapa gurunya yang selalu membicarakan kompetisi itu. Bagi Roxas, hal itu tidak terlalu penting. Namun, sepertinya bagi Namine itu sangat penting.
"..Semua orang bergantung padaku," Namine bergumam. Suara pianonya memelan perlahan. Tatapannya kosong, namun jarinya masih terus bermain. Roxas tidak tahu apa yang sedang ia mainkan, sesaat ia melihat kumpulan kertas partitur piano yang terselip di buku piano Namine.
"Apa ini?" tanya Roxas penasaran sambil mengambil kertas partitur yang terselip itu. Terdapat sekitar lima lembar dan yang Roxas lihat sebuah coret-coretan pensil bergambar not-not balok yang tertera rapi.
"Ah, itu..," Namine tidak bisa berkata apa-apa sambil menghentikan permainan pianonya dan memandang kertas partitur yang sudah diambil Roxas. "..itu lagu kesukaanku."
Roxas memandang partitur itu lalu membaca judulnya yang bertuliskan Your Song dan dibuat oleh Elton John. Roxas menaruh kembali partitur itu lalu menaruh jari-jarinya ke atas tuts piano sambil bertanya pada Namine, "Bolehkah..?"
Namine menganggukkan kepalanya pada Roxas, memersilahkan Roxas memainkan lagu yang Namine susun di partiturnya. Roxas mulai memainkan pianonya lalu menyanyikan lagu tersebut sesuai dengan lirik yang tertera di bawah not.
It's a little bit funny
This feeling inside
I'm not one of those
Who can easily hide
I don't have much money
But boy, If I did
I'd buy a big house
Where we both could live..
Namine membulatkan matanya, terkejut dengan suara Roxas dan permainan piano Roxas ketika laki-laki itu memainkan lagu itu di piano. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Roxas.. Harus Namine akui, suara Roxas terdengar bagus.
And you can tell everybody
This is your song
It may be quite simple
But now that it's done
Roxas mulai memainkan lagu tersebut sedikit lebih keras dari sebelumnya sambil menatap Namine yang tersenyum terus menatapnya.
I hope you don't mind
I hope you don't mind
That I put down in words..
Roxas memelankan kembali suara pianonya lalu bermain dengan lembut.
How wonderful life is
When you're in the world..
Setelah Roxas selesai bernyanyi, Namine bertepuk tangan sambil tersenyum cerah. Roxas menatapnya heran lalu bertanya, "Apa?"
"Suaramu!" Namine berseru, "dan kemampuan bermainmu sangat bagus! Aku menyukainya. Aku tidak tahu kalau kau suka bernyanyi. Karena kau kelihatan berbeda sekali saat bernyanyi tadi."
"..menurutmu suaraku bagus?" Roxas bertanya tidak percaya. Dan ia masih tidak percaya gadis ini bisa mendengar suaranya. Aah, benar.. Namine bisa mendengar suara keras. Dan saat Roxas bernyanyi tadi, ia cukup yakin bahwa suaranya memang sedikit lebih keras. Namun, seingat Roxas, ia belum pernah dipuji suaranya terakhir kali ia menyanyi di depan umum saat berumur 12 tahun.
"Tentu saja. Kau punya bakat. Kau berani menunjukkan itu," Namine menundukkan kepalanya lalu bergumam namun Roxas masih bisa mendengarnya, "..dan aku tidak mempunyai keberanian untuk hal itu."
Roxas menatap Namine yang bergumam 'aku memang penakut bla bla bla'. Dari lubuk hatinya ia merasa bahwa ia harus menghibur gadis itu, mendorongnya untuk maju. Untuk bersinar. Tapi entah kenapa, ia tidak tahu caranya.
Tanpa pikir panjang, Roxas berkata pada Namine, "Aku tidak seberani yang kau duga, Namine." Namine menatap Roxas, Roxas tetap melanjutkan, ".. suatu hari nanti kau akan tahu. Dan untuk saat ini, aku mungkin belum bisa membantumu. Tapi mungkin apa yang akan kukatakan padamu, bisa saja membantumu."
Namine menatap bibir Roxas baik-baik, tanda-tanda bahwa gadis itu menyimak apa yang akan dikatakan laki-laki itu.
Roxas memutar otaknya mencari kata-kata yang tepat lalu pada akhirnya ia berkata, "Dibanding aku, kau justru berbakat. Lebih malahan. Yang selalu kau pikirkan adalah hal negatif apa yang akan terjadi padamu setelah tampil, padahal tidak. Justru yang membuatmu takut adalah itu. Dan yang perlu kau lakukan adalah.. yaah, anggap saja seperti..seekor anjing bermain poker."
"..anjing bermain poker?"tanya Namine. "Entahlah, Roxas. Itu terdengar tidak masuk akal."
"Justru itu!" Roxas berseru. "Hal yang tidak masuk akal, kalau melakukan hal yang masuk akal bukankah terlihat menarik? Apalagi melihat anjing yang bermain poker, apa itu tidak lucu?"
Namine tertawa geli mendengarnya namun ia mendapatkan apa yang dimaksud Roxas. Ia memang tuli. Tapi ia bisa bermain piano. Ia memang tuli, tapi ia bisa menangkap apa yang sedang dibicarakan orang lain (walau sedikit). Ia memang tuli, namun memang itulah dirinya. Seperti anjing bermain poker..
"Mengerti apa yang kumaksud?" tanya Roxas, meyakinkan Namine yang dari tadi melamun cukup lama. Lalu ia mendapat Namine yang mengangguk sambil tersenyum.
"Ya," kata Namine. Semburat merah mengambang di pipinya saat ia mengucapkan, "..terima kasih, Roxas."
RING!RING!
"Ah!" Namine langsung merapikan dan membawa buku-bukunya sambil beranjak berdiri dari kursi. Ia terlihat terburu-buru sekali membuat Roxas tambah dan lebih penasaran.
"Aku dapat kelas Mister Strife hari ini," Namine menggoyangkan kedua tangannya tidak sabaran, ingin cepat-cepat keluar, "aku sudah dipercaya olehnya untuk mewakili tim perempuan dalam permainan basket. Dan percayalah, aku tidak ingin mengecewakannya."
Nice move, Namine, batin Roxas sambil tersenyum. Lalu begitu ia sadar bahwa Namine sudah berada di ambang pintu, Roxas berseru, "Hei, kita akan bertemu lagi kan?"
Namine sedikit terkejut dengan pertanyaan itu dan Roxas sendiri heran mengapa ia bertanya hal itu. Apa karena ia ingin bertemu dengan Namine dan menghabiskan waktu bersamanya lagi? Entahlah.
"Ya, aku yakin," Namine berkata, senyum mengembang di wajahnya. "Bye, Roxas. Sampai ketemu." Setelah mengucapkan itu, Namine langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju gym.
Roxas duduk ke atas kursinya sambil menatap tuts piano yang menganggur meminta untuk dimainkan setelah Roxas memainkannya tadi.
Suaramu dan kemampuan bermainmu sangat bagus! Aku menyukainya. Aku tidak tahu kalau kau suka bernyanyi. Karena kau kelihatan berbeda sekali saat bernyanyi tadi.
Roxas menaruh jari-jarinya ke atas tuts piano dan memainkannya dengan lembut. Lalu ia mulai tersenyum sambil bernyanyi lagu kesukaan gadis mungil yang tadi ia temui di ruangan ini. Bermain sedikit lagi, tidak menyakitkan kan?
A/N: 'Kay. Jadilah chapter 2nya.
Maaf seribu kali kalo ada typo dan well, banyak kata-kata yang kurang enak dibaca –_- sepertinya saya mulai jadi seorang yang tua.. (pake tongkat)
lagu tadi bukan pnya saya-_- punya Elton John. Dan kalo mau dengerin, saya sarankan dengerinnya punya Cameron Mitchell aja..
KuroMaki RoXora: wahai! Selamat datang lagi :D iya kali ini, ceritanya si Namine tuli, terus walaupun dunia Namine tanpa suara, ia mampu membuat dunia Roxas bersuara kembali (azeeek) makasih atas review nyaa~ review lagi yaaw
Inori Yuhuriza: Wedeh.. lama ga ketemu nih ;) memang kali ini Naminenya beda, di sini dia jadi tuna rungu. Roxas juga diceritainnya jadi orang ga bener gituh,, tunggu chap selanjutnya yaw
Mistletoe: hehe saya abis tidur panjang haha. Makasih :D
Makasih atas Review untuk fic kali ini, jadi
Mind ga buat Review?
