Disclaimer © Sebenernya Naruto milik saya namun semua berubah saat negara api mulai menyerang *dicekik Kishi sensei
My Short Stories © Veoryxocie
Pairing : SasuSaku, SasuHina, NejiSaku,
Rated : T
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort (maybe -,-)
Warning : OOC, Abal, Alur gak jelas+kecepetan, Bikin muntah, Karangan amatir, Typo(s) berterbangan, dan kecacatan lainnya.
HARD WARNING : Don't Like Don't Read OK!
Douzo~
.
.
.
.
.
.
'My Short Stories'
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil yang tadinya melaju dengan kecepatan diatas rata-rata itu kini telah menepi. Terlihat sang pengendara mobil melongokkan kepalanya keluar meneliti suasana serta keadaan sekeliling tempat itu.
"Jadi rumahmu disini?" tanya pemuda berambut coklat menatap penumpang lain disampingnya. Gadis yang tengah duduk disebelah pemuda itu mengangguk singkat sambil melepas ikatan sabuk pengamannya.
"Terima kasih Neji," ucapnya seraya membuka pintu mobil, namun tangan Neji menghalangi. "Apa?" tanya sang gadis sedikit kebingungan.
"Eh? Ti-tidak ada." Gadis musim semi itu menatap heran tingkah aneh teman satu angkatannya itu. "Hmm… baiklah, sekali lagi terima kasih. Maaf aku sudah merepotkanmu." Neji menatap tidak rela gadis yang sudah melangkah keluar mobilnya itu, mata lavender laki-laki itu mengawasi sang penghuni apartemen yang tak terlalu besar dan juga mewah. Ketika dirasa sudah tidak dapat melihat warna rambut gadis itu lagi, Neji mulai menancap gas dan pergi dari tempat itu.
Sakura melangkah pelan menyusuri setiap ruangan sewa di apartemen tempat tinggalnya. Emerald gadis itu menatap sejenak sebuah pintu yang terletak disebelah pas kamarnya. Sambil memutar gagang kunci pintu apartemennnya Sakura menggumam pelan. "Mungkin Ino sudah tidur."
Setelah menutup pintu dan menguncinya lagi, Sakura langsung melesat menuju kamarnya. Melemparkan tasnya kesembarang arah dan merebahkan diri diatas kasur yang terasa begitu nyaman. Emerald-nya hanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Dua detik kemudian, Sakura beranjak lagi dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri tas yang Ia lempar tadi. Sakura merogoh tasnya dan mengambil sebuah undangan, kemudian Ia kembali ke kasurnya untuk merebahkan diri lagi. Sakura menatap benda putih berupa buku itu. Sesak rasanya melihat nama yang terukir disana adalah nama seseorang yang pernah menjadi tambatan hatinya itu. Terlebih lagi akan sangat menyakitkan jika sampai gadis Haruno itu berharap nama yang bersanding disamping nama 'Sasuke Uchiha' itu adalah namanya, Sakura Haruno. Tapi kenyataan selalu berbeda dari keinginan kita bukan? Terlampau jauh berbeda malahan.
Perlahan Sakura membuka sampul undangan itu. Seketika itu juga seluruh dunia terasa mengucilkannya, melihat tanggal yang tertera pada kertas putih di halaman pertama undangan tersebut.
"Hhh… jadi lusa. Kenapa dia tidak memberitahuku jauh-jauh hari sih." Dengan kesal Sakura melempar undangan tersebut hingga membentur tembok.
Emerald Sakura menatap kosong pintu di depannya, posisi miring tubuhnya membuat air mata Sakura lebih mudah jatuh. Perlahan Ia memejamkan matanya, pikirannya melayang kemana-mana. Gadis itu belum siap jika 2 hari lagi dia harus melihat laki-laki yang–mungkin–masih dicintainya itu memasangkan cincin pertunangan pada gadis lain. Setidaknya pacar pertamanya itu memberikan tenggang waktu yang sedikit lama. Biarkan gadis itu mempersiapkan mentalnya, sebelum menghadapi kenyataan terpahit dalam hidupnya.
Dengan sesekali terisak Sakura memilih untuk tidur, karena hanya itu yang bisa Ia lakukan untuk saat ini. Tidur mungkin akan mengurangi beban pikiran dan tekanan batinnya.
.
.
.
"Apa? Jadi… jadi dia hanya mengundangmu Sakura," Ino menatap tidak percaya temannya yang kini sedang menganggu-angguk cuek. "Dan kau akan datang." Imbuhnya lagi. Sakura tidak merespon kalimat Ino. Ia hanya menatap ke arah lain, namun ekspresi yang tertera jelas itu cukup menjelaskan semua tindakan yang akan diambil Sakura, dan itu membuat gadis blonde di depannya menggeram kesal.
"Ck, jadi selama ini dia mengikutimu, menjadi stalker tidak jelas hanya untuk menyerahkan undangan pertunangannya?" Sakura mengangguk lagi. "Jangan datang Forehead." Sunggut Ino setengah berteriak. Sakura langsung menatap mata biru safir yang sedari tadi Ia hindari, menampilkan raut wajah menolak.
"Tidak bisa Pig, aku sudah terlanjur bilang akan datang."
"Kau bercanda?" Ino berkata tegas lagi. Beruntunglah mereka berdua kini sedang berada di ruang kelas yang sepi. Jadi tak perlu takut akan tatapan-tatapan mengganggu mahasiswa lain.
"Dengar! Aku juga perempuan Sakura. Aku mengerti perasaanmu." Nada bicara Ino mulai melembut, Ia menatap iba pada teman yang Ia kenal tiga tahun lalu itu. Sakura tersenyum melihat reaksi Ino, dalam hati dia sudah cukup berterima kasih karena sahabat barbie-nya sudah mau mengkhawatirkannya.
"Aku akan tetap datang, lagi pula pertunangannya besok. Kalau aku batalkan–" Sakura menggantungkan kata-katanya, membuat Ino memandangnya bingung. "–aku akan terlihat lemah." Ino menghela nafas pasrah. Terkadang Sakura bisa menjadi lebih keras kepala dari pada dirinya.
"Kalau itu keputusanmu, aku tidak bisa komentar banyak." Sahut Ino, kedua tangan gadis blonde itu Ia letakkan di atas pudak Sakura. Mencoba meyakinkan–sekali lagi–akan keputusan yang akan diambil sahabat dekatnya itu. "Terima kasih Pig, kau memang sahabat yang pengertian." Sakura merangkul Ino dan memeluknya.
"Aku sebenarnya tidak setuju, kau tahu 'kan datang kesana hanya akan membuatmu tambah sakit hati." Sakura mengerling sambil menghela nafas. Baru saja selesai, gadis blonde itu malah memulai lagi.
"Iya aku tahu Pig. Sudah, aku tidak mau membahas hal ini lagi…" ucap Sakura kesal–akhirnya Sakura berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Ino yang menatapnya gemas setengah mati. Susah sekali sahabatnya itu dibujuk, wajar dong kalau dia mengkhawatirkan Sakura.
"Kau mau kemana Forehead?" Tanya Ino berteriak agar Sakura berhenti. Namun nihil, Sakura tetap melangkah tanpa membalikkan badan. Dan membuat Ino menghentakkan sebelah kakinya ke lantai, kesal karena tak dihiraukan.
Sedangkan Sakura, meskipun mendengar dengan jelas teriakan Ino Ia tetap tak mengacuhkannya. Sakura membalikkan badan, dilihatnya Ino sedang ngedumel tidak jelas sambil mengerucutkan bibirnya. Dan itu membuatnya tertawa pelan.
"Hoi Pig… aku mau ke mall membeli kado dan baju. Kau mau ikut?" teriaknya lantang, karena jarak mereka cukup jauh. Ino langsung menoleh melihat Sakura yang cengingisan. Dengan tampang kusut, segera Ino meraih tasnya dan melangkah menyusul Sakura yang lagi-lagi meninggalkannya. Sepertinya tekad gadis berambut merah muda itu sudah bulat.
'My Short Stories'
Sakura melihat bayangannya yang terpantul di depan cermin, sudut-sudut bibirnya terangkat tatkala melihat penampilannya sendiri. Sebuah gaun berwarna putih dengan lengan balon serta pita ynag tersemat di perut bagian kanan, membalut tubuhnya yang langsing. Tak lupa sebuah pita berwarna putih menghiasi mahkota merah muda Sakura. Bisa dikatakan Sakura mengenakan gaun dan pernak-pernik yang berwarna putih.
"Nee… bagaimana ino?" Sakura menoleh kebelakanng pada Ino. "Bagus… kau terlihat cantik Forehead," jawab Ino dengan tampang sumringah. "Err… kau yakin akan pergi Sakura." Sakura menghela nafas bosan. 'Pertanyaan itu lagi' pikirnya sambil mengambil tempat duduk disebelah Ino.
"Iya, dan jangan tanya lagi," kata Sakura tegas.
"Baiklah, aku akan berhenti menghalangimu Nona Haruno," Sakura tersenyum dan memeluk sahabatnya itu, hatinya lega. "Kalau kau mau, kau boleh ikut." Ino mengernyit kaget mendengar tawaran Sakura.
"Tidak, terima kasih." Tolak Ino sambil membuang muka ke arah lain dan juga penuh penegasan disetiap katanya. Sakura tertawa pelan melihat reaksi Ino, kemudian mata hijau Sakura mengerling menatap jam dinding. Sadar akan waktu yang terus berjalan membuat gadis itu berlonjak berdiri dan langsung menyambar tasnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintunya Pig." Ino menatap Sakura tidak rela, karena dia mengerti apa yang akan dirasakan Sakura nantinya. Sejurus kemudian, Ino menepuk keningnya dan segera berlari menyusul Sakura yang sudah menuju pintu.
"Nee… Sakura kau pergi dengan siapa?" tanya Ino yang mengekor dibelakang Sakura.
"Aku pergi dengan–"
'CKLEK'
Ino terkejut menatap sosok pemuda tegap dengan wajah imutnya yang tiba-tiba berada diambang pintu yang sudah dibuka Sakura, laki-laki itu terlihat terlihat ingin mengetuk pintu namun karena pintu sudah terbuka jadi Ia mengurungkannya.
"Sakura-chan~ kau cantik sekali," tak sampai disitu keterkejutan Ino. Melihat sikap pemuda berambut merah yang tanpa komando langsung mendekap Sakura didepannya. "Lepas Sasori-kun." Ino mengernyit mendengar panggilan Sakura pada senpainya yang tahun ini akan wisuda itu.
"Hah? Tunggu dulu, sejak kapan kau memanggilnya dengan nama –kun?" tanya Ino penuh selidik dan menunjuk wajah Sasori. Sasori hanya tersenyum penuh kemenangan, sambil menghalangi Sakura yang mencoba melepas rangkulan mautnya.
"Ceritanya panjang Ino, sudah ya… aku pergi dulu, jaa." Tanpa membuang waktu lagi, Sakura langsung menggeret Sasori dan melepaskan pelukannya. Ino hanya dibuat melongo oleh sepasang adam dan hawa yang meninggalkannya tanpa memberi penjelasan. Bahkan gadis berambut pirang pudar itu lupa menanyakan kenapa Sakura bisa pergi dengan Sasori.
"Sudahlah…"
.
.
"Siap," tanya Sasori yang sudah menstater mobilnya, Sakura mengangguk pelan sambil memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan pas dan aman.
"Ayo kita berangkat." Mobil Ferari merah itu-pun melaju menghambur dengan para pengendara lain di jalan.
.
.
.
Suasana ramai nun meriah kini mengisi kediaman orang yang paling berpengaruh di kota itu, Konoha. Banyak orang-orang dengan pakaian formal serta gaun-gaun indah hadir dalam acara penting kedua keluarga besar tersebut. Lampu-lampu besar dalam ruangan seperti istana itu terlihat dihias dengan kertas warna-warni. Namun sang pemeran utama dalam acara itu nampak tak acuh dan hanya memandangi para tamunya, berbeda dengan lawan mainnya yang menyambut hangat setiap orang yang menyapa dan menyalaminya, untuk memberikan selamat.
Mata lavender gadis berambut indigo itu menoleh pada sang calon tunangan, sebuah senyum ramah yang selalu Ia tampilkan untuk sang kekasih.
Obsidian laki-laki itu menatap bosan orang-orang yang lalu lalang didepannya, belum lagi cekikikan tidak jelas dari kaum hawa semakin menambah risih hatinya yang tengah bingung, entah karena apa? Sekilas mata legamnya melihat perempuan berbalut gaun ungu, gadis itu tampak sangat cantik, mata lavender miliknya menatap lembut para pengunjung. Belum lagi senyumannya yang terkadang selalu dapat menggetarkan relung hatinya itu. Tapi ada yang berbeda dengan gadis itu… bukan. Gadis itu tetap cantik dan menawan, hanya saja. Ketika Ia menatap mata lavender-nya Ia merasa ada sesuatu yang hilang. Seolah hatinya menginginkan tatapan lain.
"Oi Sasuke… kenapa kau masih disini?" tanya tiba-tiba suara familiar dari arah belakang. Sasuke hanya memandang kakaknya itu dengan wajah datar andalannya.
"Sepuluh menit lagi acara dimulai baka otouto," sahutnya seraya menepuk pundak Sasuke. dengan cepat Sasuke langsung menyingkirkan tangan nii-san-nya. Sasuke mendengus, mood-nya sedang tidak bagus hari ini… kalau bisa dibilang dia sedang galau.
"Sedang apa kau disini?" Tanya nii-sannya lagi.
"Bukan urusanmu Itachi," jawab Sasuke tak acuh, mata onyx-nya kembali meneliti setiap orang dan mobil yang baru memasuki halaman pekarang rumahnya. "Hei…hei ini 'kan acara milikmu kenapa kau tidak bersemangat begitu sih?" tanya Itachi lagi, mata onyx-nya juga turut mengikuti arah gerak pandang Sasuke.
"Hn, entahlah?" Itachi mengernyit mendapati jawaban Sasuke yang terdengar malas itu. "Ada yang kau tunggu eh?" Sasuke memandang Itachi yang menatapanya jahil. Kakak sulungnya itu benar-benar bisa menebak isi hatinya rupanya.
"Hn, mungkin," jawab Sasuke ambigu lalu melengos pergi meninggalkan Itachi yang menggelengkan kepalanya. Dengan tidak semangat Sasuke melangkah menuju ruang utama rumah itu. Di mana banyak orang berkumpul menyaksikan peresmian pertunangannya dengan gadis dari keluarga Hyuuga. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat seseorang yang sangat Ia kenali, jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali melihat penampilan anggun perempuan itu. Matanya tampak bersinar, helaian rambut softpink-nya bercahaya karena cahaya lampu.
Hanya saja satu hal yang membuanya risih, gadis itu tak sendirian. Dia bersama orang lain, seorang laki-laki berambut merah yang berwajah imut dan menggandeng tangannya. Dan itu membuat dadanya merasa tidak nyaman.
"Sasori!" Sasuke menoleh ke arah kakaknya. Laki-laki dengan usia 1 tahun lebih tua darinya itu tengah melambai pada seseorang yang menjadi salah satu objek matanya. Degupan jantung Sasuke kian menggema mengisi rongga dadanya ketika gadis itu menghampirinya dengan senyuman manis.
"Ah… hai Sasuke," Sasori tidak menghampiri Itachi, melainkan Ia menyapa sang pemilik acara, Sasuke. "Hn," jawab Sasuke singkat matanya mengerling memandang Sakura yang berdiri di samping Sasori–orang yang dikenalnya sebagai teman lama kakaknya itu. "Hai… aku datang 'kan," ucap Sakura lembut.
"Lama tak jumpa…" sapa Itachi pada Sasori. Kedua orang itu tampak berpelukan. Terlihat kedua sahabat lama itu mulai asik meogobrol, Sasuke hanya menatap sekilas Itachi dan Sasori, matanya kini lebih tertarik menatap gadis didepannya.
"Jadi… mana Hinata?" tanya Sakura sambil menatap sekeliling. Sasuke hanya terdiam, dalam hati Ia tersenyum kala melihat penampilan Sakura yang terlihat dewasa.
"Sakura…" bukan Hinata yang ditemui, Sakura malah melihat orang yang memanggilnya. Dan tentu gadis itu sangat mengenali suara familiar itu.
"Neji?"
"Bagaimana kau bisa disini?" tanya Neji heran. Sakura menatap Sasuke yang masih terdiam.
"Itu…Err"
"Aku yang mengundangnya," jawab Sasuke cepat. Neji melirik Sasuke yang menatapnya tajam. Jujur pemuda berambut coklat itu kurang suka dengan sikap Sasuke.
"Kalian saling kenal," tanya Neji memastikan. Sakura yang menyadari arah topik pembicaraan itu akan berlanjut hanya tertawa canggung. "I-iya kami teman lama," jawab sekenanya. Gadis bermata emerald itu tidak menyadari tatapan tidak suka dari Sasuke.
"Baiklah acara akan kami mulai, harap untuk Tuan Sasuke Uchiha dan Nona Hinata untuk segera ke ruang tengah." Sebuah suara tiba-tiba menyahut dan membahana di ruangan tersebut. Membuat seluruh mata menatap bintang utama di ruangan itu.
"Nah… Sasuke cepat kesana Hinata sudah menunggumu." Itachi tiba-tiba menggeret Sasuke dan membawanya ke tengah-tengah ruangan. Disana ada Hinata yang tersenyum ke arahnya. Onyx Sasuke sempat melihat Sakura yang menatapnya sendu… namun Ia tak bisa melihat begitu jelas karena orang-orang juga tengah berkumpul disana.
Sekarang Sasuke menjadi pusat perhatian seluruh mata di ruangan itu, sebentar kali acara pertukaran cincin. Entah kenapa Ia ingin sedikit mengulur waktunya. Onyx-nya kembali mengerling pada Sakura, gadis itu berada di antara kerumunan banyak orang bersama calon kakak iparnya dan juga Sasori. Sakura tersenyum menanggapi celotehan Sasori… dan itu membuatnya tidak Suka.
"Terima kasih atas para tamu undangan yang telah hadir. Hari ini merupakan hari bahagiah bagi keluarga kami… Sasuke putra bungsu kami akan segera menjalin hubungan lebih dalam dengan Hinata putri keluarga Hyuuga, entah saya harus berkata apa lagi yang pasti kami sangat senang."
Jelas Fugaku kepala keluarga Uchiha. Para tamu tampak tersenyum menanggapi omongan pria setengah abad itu. Berbeda dengan gadis musim semi diruangan itu… hanya satu orang yang merasa acara itu bagai drama yang begitu menyedihkan hingga mebuatnya sulit untuk menghirup udara.
Sakura menatap nanar pemandangan di depannya… ternyata rasa sakit itu datang untuk yang keseian kalinya. Sepasang adam dan hawa itu terlihat begitu bahagiah–dimatanya. Ia mengedarkan emerald-nya kesekeliling, suasana begitu tenang. Para tamu itu terlihat senang dengan acara utama tersebut. Tidak untuk Sakura, rasanya Ia ingin menjerit. Dilihatnya Sasori yang mengobrol dengan Itachi, meskipun dia sekarang bersama dengan Neji tapi kesepian di dalam keramaian itu benar-benar memuakkan. Tempat Sakura berada seolah menjadi tempat paling panas yang pernah Ia kunjungi. Ia merasa seorang diri disana.
"Ne-neji aku keluar sebentar ya…" Sakura langsung melesat meninggalkan Neji yang masih terkaget. Sakura menunduk, tangan kecilnya Ia gunakan untuk menutup mulutnya yang kapan saja siap mengeluarkan isakan. Ino benar, jika Ia datang maka Ia hanya akan tersakiti. Namun pemandanagn itu akan membuatnya menerima kenyataan. Jadi Ia tidak peduli… Sakura akan menikmati rasa sakitnya hingga batas kemampuannya. Satu hal yang tak disadari gadis itu, bahwa kini Ia tengah menjadi objek sorotan dari tiga pria sekaligus.
"Hhh…" Disinilah gadis itu sekarang berada, Ia sedang berdiri di tepi kolam renang. Karena acara utama hampir dimulai, tempat itu jadi terlihat sepi. Air mata sudah mengalir sejak Ia bisa keluar dari tempat pengap itu. Sakura menatap air di depannya dengan tatapan kosong, hatinya serasa diremas-remas.
"Hiks… kau bodoh Sakura, kenapa kau menangis huh?" ucapnya yang tak lebih pada dirinya sendiri. Tepukan tangan mulai terdengar dari arah Sakura datang tadi, mungkin acara sudah benar-benar dimulai. Tapi kaki sakura seolah mati rasa, tak mau melangkah untuk melihat kebahagiaan mantan kekasihnya itu. Tapi Ia tak boleh bersikap egois.
Sosok lain yang hadir disana hanya memandang dengan tatapan aneh… sejak mengetahui bahwa Sakura adalah teman lama Sasuke–calon adik iparnya. Ada suatu perasaan yang membuatnya tidak bisa tenang. Pemuda berambut coklat itu menghela nafas, Ia pernah mendengar dari adiknya–Hinata. Bahwa Hinata adalah pacar keduanya, dulu laki-laki berambut raven itu pernah punya kekasih. Bahkan sang adik itu selalu tersenyum senang ketika menceritakan sosok cinta pertama Sasuke. Entah dia itu memang kelewat polos atau apa? Tapi satu hal yang Ia tahu bahwa Hinata sangat senang ketika bisa mendapatkan Sasuke, dan mempertahankannya hingga sekarang.
Kembali Neji melihat Sakura yang berjalan ke arahnya. Walau samar laki-laki itu bisa melihat jejak-jejak air mata yang berada di pelupuk mata indah gadis musim semi itu. Langkah gadis itu sedikit gontai, entah karena lantai pinggiran kolam yang basah hingga membuatnya sedikit susah berjalan dengan sepatu hak tinggi, atau beban hatinya yang membuat Sakura jadi terasa berat untuk melangkah. Berulang kali Neji melihat Sakura hampir kehilangan keseimbangan gara-gara alas kakinya itu, dan membuatnya was-was. Takut kalau perempuan itu akan jatuh… setelah dirasa cukup untuk bersembunyi. Laki-laki bermata lavender itu menghampiri Sakura yang masih belum sadar akan keberadaannya. Belum rasa was-was itu hilang, Neji membulatkan matanya ketika Ia melihat Sakura oleng karena terpeleset dan jatuh ke arah kolam.
"Kyaaa…."
'BYUUR'
Tanpa pikir panjang Neji langsung menghambur ke arah Sakura berada. Setelah melepas sepatunya, Pemuda berkuncir itu langsung menceburkan diri ke kolam. Suara cipratan air itu terdengar hingga ke dalam ruang utama rumah itu. Sedangkan disana tengah berlangsung acara tukar cincin dari pasangan.
.
.
Sasuke menatap gadis yang baru saja keluar dari keramaian dengan tatapan penuh arti, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Sedari tadi onyx miliknya tidak bisa lepas untuk tidak memperhatikan Sakura, terkadang Ia juga kesal sendiri ketika gadis berambut merah muda itu tengah bercanda dan tersenyum bersama Sasori. Hatinya risih ketika tahu bahwa Sakura juga mengenal calon kakak iparnya. Seolah Ia sudah benar-benar tidak tahu apa-apa tentang perkembangan Sakura. Kau pikir Sakura itu anakmu Uchiha?
'Kenapa ini?' batin Sasuke. Ia memegangi dadanya yang merasakan suatu perasaan tak karuan. Apa mungkin ini akibat karena dia menjadi stalker dadakan selama seminggu? Ingatan pemuda berambut emo itu mulai melayang pada minggu terakhir yang Ia lewati bulan ini. Saat keluarganya memutuskan untuk mengikat hubungannya dengan Hinata lebih erat lagi. Tentu pemuda itu tidak menolak…
Tapi… semuanya berubah saat Sasuke menginjakkan kakinya di kampus kakak iparnya itu. Itu adalah saat pertama kalinya setelah sekian lamanya, Sasuke melihat warna hijau emerald lagi. Awalnya Ia tidak peduli, baginya Sakura hanya masa lalu. Namun semakin lama keinginan itu membelot ke arah lain. Tanpa Sasuke sadari hatinya-lah yang membuatnya seperti ini. Seolah apa yang Ia lakukan selama ini adalah sebuah kenyataan yang semu.
Ia sadar…sangat sadar kalau setiap kali Ia ke kampus Neji untuk membahas study banding dari Universitas Oto. Sasuke selalu menyempatkan diri secara diam-diam melihat Sakura. Tak dapat dibohongi jauh dari lubuk hati pemuda itu sangat merindukan harum tubuh dari gadis musim semi itu.
"Sasuke…" Hinata melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke membuat laki-laki itu terlonjak kaget. Dilihatnya gadis di depannya itu menunggunya untuk memasangkan cincin, Ia merasa hampa tatkala tangannya bergerak sendiri memasukkan lengkungan putih bercahaya itu ke jari manis Hinata.
'Apa yang sebenarnya kulakukan ini? Ada apa denganku? Seharusnya aku senang,' pikir Sasuke. Keadaan ramai disekitar Sasuke seolah tiba-tiba hening tersedot oleh black hole, semuanya terasa melambat. Hatinya seolah beronta ingin berteriak.
"Kyaaa…"
'BYUUR'
Seluruh orang di ruangan itu langsung memandang sebuah kaca transparan di belakang mereka. Tentu mereka bisa melihat secara jelas pemandangan yang tersaji di luar sana, seorang gadis tengah menggapai udara kosong dari dalam kolam renang. Tak hanya itu saja, para penonton diruangan itu di kejutkan oleh seseorang tiba-tiba meluncur ke dalam kolam dan menarik gadis bergaun putih itu.
Sasuke menatap kaku dua sejoli yang tengah berusaha menggapai tepi kolam. Kakinya tiba-tiba bergerak berlari menuju tempat kejadian perkara. Bahkan cincin yang Ia pegang Sasuke lepaskan begitu saja demi melihat kondisi gadis yang diketahuianya sebagai Sakura. Hinata yang sebenarnya juga terkejut kini hanya memandang punggung calon tunangannya yang menerjang kerumunan orang-orang.
"Sakura…" Neji terus menekan dada Sakura dengan kedua tangan yang Ia tumpuk. Raut kecemasan dan ketakutan tercetak jelas di wajahnya yang basah oleh air kolam renang. Terlebih Ia baru tahu kalau Sakura tidak bisa berenang. "Sakura sadarlah…" teriaknya lagi. Neji benar-benar takut jika gadis di bawahnya itu tidak akan sadar. Sudah berulang kali Ia menekan-nekan dada Sakura tapi gadis itu belum memperlihatkan emerald-nya. Setelah dirasa usahanya sia-sia, Neji mendekatkan wajahnya, menarik dagu manis gadis itu dan menyalurkan udara dari mulutnya.
Semua mata terpana atas tindakan berani Neji, tak terkecuali Sasori yang baru tiba. Laki-laki itu syok ketika melihat bibir ranum gadis pujaannya di renggut oleh orang yang di kenalnya sebagai seorang saingan.
Berbeda dengan Sasuke, pemuda itu masih memasang wajah datarnya. Namun hatinya panas, tangannya mengepal ingin menghancurkan sesuatu. Amarahnya memuncak tatkala kedua bibir itu saling bertemu bertukar oksigen.
"Uhuk…uhuk…."
"Sakura…" Neji menepuk pelan pipi Sakura yang memucat. Ia sudah bisa bernafas lega melihat Sakura yang masih mencoba mengatur nafasnya setelah air menyembur keluar. Segera Neji memeluk Sakura dan membopongnya pergi dari tempat berbahaya itu. Dengan tertatih Sakura sudah mulai bisa berjalan. Ia bisa merasakan cahaya menembus kelopak matanya hingga membuatnya sadar. Namun gadis itu masih tidak kuat berjalan.
Sasuke harus menahan nafasnya ketika dua orang itu melewatinya, sungguh hatinya terasa panas dan terbakar. Ia belum pernah merasakan hal ini sejak 3 tahun yang lalu. Pikirannya kacau melihat gadis berambut merah muda itu dirangkul pria lain. Sasuke memegangi dadanya yang terasa sesak, Ia menoleh ke belakang melihat Neji dan Sakura berjalan pelan melewati kerumunan orang-orang yang rencananya mau melihat acara pertunangannya itu. Inikah rsanya cemburu? Onyx Sasuke melebar tatkala melihat gadis itu kembali akan limbung.
"Sa-Sakura…" kembali Neji was-was tatkala gadis yang sedang Ia bopong tiba-tiba ambruk hingga bebannya bertambah. Namun sebuah tangan tiba-tiba terulur memegang pinggang gadis itu dan menggendongnya ala bridal style.
"Biar aku yang urus…" Sasuke terus melangkah menghiraukan tatapan aneh dari para tamu kedua keluarga besar itu. Ia tidak peduli apapun, yang ada di pikirannya hanya melihat wajah gadis itu lagi, tersenyum ke arahnya, dan hanya untuknya. Rahang Neji mengeras melihat perempuan-nya berada di tangan pria lain, terlebih lagi di tangan calon adik iparnya sendiri.
Hari itu ada tiga orang yang memiliki tatapan terluka yang begitu mendalam, jangan lupakan sang pemeran utama wanita dalam pesta pertunangan itu. Mata lavender-nya sudah basah dengan air mata melihat Sasuke gagal memasangkan cincinnya.
.
.
.
Berulang kali mata Sasuke melihat gadis disampingnya, matanya masih terpejam erat, menambah kekhawatirannya. Bahkan Ia tidak sadar bahwa telah meninggalkan acara penting keluarganya hanya untuk mengantarkan Sakura ke rumah sakit. Sasuke semakin mempercepat laju mobilnya saat tangannya menyentuh tangan Sakura, tangan kecil itu kini terasa dingin.
"Bertahanlah Sakura."
Mobil Sasuke melaju kencang, Ia tidak memperdulikan umpatan-umpatan dari para pengguna jalan yang lain. Yang ada di otak pemuda itu adalah melihat kembali manik hijau yang akhir-akhir ini begitu menghipnotisnya lagi.
Sasuke memarkirkan asal mobilnya di halaman rumah sakit besar. Tangan kekarnya langsung terulur menggendong Sakura lagi. Setelah menutup pintu mobil, Sasuke langsung berlari kecil menuju pintu depan rumah sakit Konoha itu.
"Sa-Sasuke?" Seorang pria berpakaian dokter menatap teman lamanya itu kaget. Antara terkejut karena tidak menyangka akan bertemu disini dan terkejut melihat Ia tak sendiri, melainkan bersama gadis lain. "Oi Teme…" merasa sangat familiar dengan panggilan itu membuat Sasuke menolehkan kepalanya. Alis pemuda berambut raven itu mengernyit menatap sosok orang berjubah dokter dengan raut kaget. Tentu Ia juga kaget bahwa orang yang kini tengah berlari menghampirinya adalah teman SMA-nya dulu.
"Astaga, ini Sakura-chan." tanyanya saat sudah jelas melihat dengan jelas perempuan di dekapan Sasuke. "Hn, Tolong aku Dobe."
"Tanpa disuruh aku juga tahu… Suster cepat…" beberapa suster langsung menghampiri kedua laki-laki itu dengan keranjang dorong. Sasuke meletakkan Sakura diatas keranjang tersebut dan segera berlari menuju ruang ICU untuk pemeriksaan.
.
.
5 menit telah berlalu sejak Ia harus mengeluarkan tenaganya untuk berlari-lari dengan yang lebih. Sasuke menunggu cemas di ruang tunggu, jasnya yang basah Ia lepas hingga hanya meninggalkan kemeja birunya.
'CKLEK'
Ketika mendenar suara pintu terbuka pemuda berambut raven itu langsung beranjak dan menghampiri laki-laki yang baru membuka pintu ruang ICU tersebut.
"Bagaimana Naruto?" tanyanya penuh dengan nada khawatir. Dokter muda bernama Naruto itu tersenyum melihat gelagat langka milik Uchiha–temannya dulu.
"Tenanglah… dia tidak apa-apa." Sasuke sedikit menghela nafas lega mendengar diagnosis dokter berambut kuning itu. Naruto melangkah menghampiri bangku duduk di depannya, yang kemudian di ikuti oleh Sasuke. Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Kenapa Sakura-chan bisa begini?" tanya Naruto pada Sasuke yang mengambil duduk disebelahnya pas.
"Dia tercebur ke kolam."
"Hah? Ya ampun Teme, aku pikir kau tahu kalau Sakura-chan itu tidak bisa berenang." Jelas Naruto mencoba mengingat-ingat.
"Ya aku tahu… " jawab Sasuke singkat. Naruto menatap onyx disampingnya itu bingung.
"Kupikir kau dan dia sudah tidak berhubungan lagi," lanjut Naruto masih menatap wajah Sasuke yang datar. Sasuke sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Naruto, namun kalimat tanya itu membuatnya sadar akan suatu hal. Naruto benar, Sakura sudah bukan apa-apa lagi baginya sekarang.
"Sudahlah… Sakura-chan baik-baik saja. Dia hanya perlu tidur bahkan besok sudah bisa pulang," jelas Naruto lagi dengan gamblang. Ia bisa melihat raut kekhawatiran khas Sasuke meski itu samar.
"Hn, boleh aku melihatnya?" tanya Sasuke sambil melihat ke arah pintu putih di depannya.
"Tentu… aku akan menunggu disini. Aku ingin berbicara banyak padamu Teme." Sasuke tersenyum tipis sebelum akhirnya pergi menuju pintu di depannya. Naruto menatap Sasuke yang sudah hilang di balik pintu itu, perasaannya senang bisa bertemu sobat lama. Ya… meskipun dengan cara yang kurang mengenakkan.
Obsidian Sasuke tidak bisa terlepas dari wajah yang sedang terlelap damai itu. Jari-jemarinya perlahan menyentuh pipi putih Sakura yang dingin. Saat ini wajah itu terlihat begitu indah untuk dipandang. Sasuke menyelipkan helaian rambut Sakura yang setengah kering kebelakang telinga. Perlahan jari jemari itu menelusuri setiap lekuk dan pahatan di wajah gadis berambut pink itu. Untuk pertama kalinya di hari itu Sasuke tersenyum senang, jari-jari besarnya tak bisa berhenti untuk tidak menyentuh lebih jauh lagi. Hingga tak sengaja telunjuk Sasuke menyentuh bibir pucat Sakura.
Hatinya kembali panas, namun sebisa mungkin Ia menepis rasa sakit itu jauh-jauh. Entah kenapa melihat wajah bagai malaikat tidur itu membuat Sasuke seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang selama ini.
Perlahan Sasuke mulai mendekatkan wajahnya, tatapan onyx yang biasanya dingin dan tajam itu kini menyanyu dan melembut. Hanya untuk gadis yang tertidur itu. Sasuke mendekatkan bibirnya, setelah jaraknya terasa cukup dekat Ia memejamkan mata onyx-nya dan meresapi sensasi yang bagitu lama tidak Ia rasakan.
Meski bibir itu terasa dingin namun itu membuat hatinya menghangat.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Jejak Author :
Selesaaaaaaii~ huhuhuhu… akhirnya chap ini selesai.
Ureshii nee~ XD
#plaaaak
Gomen kalau ada kekurangan di chap ini… maklum saya ngerjainnya bener-bener penuh dengan gangguan duniawi *ngelirik Otouto
Apa chapnya kepanjangan? Gomen kalo iya saya ngerasa alurnya makin nyandet dan kecepetan.
Mohon dimaafkan… *sujud
Dan juga terima kasih atas reviewnya minna… awalnya saya tidak PD mau update chapter ini.
Secara saya ini benar-benar masih awam hohoho #ditonjok XD
Maaf kalo banyak typos-nya Dx
Saya juga bukan orang yang teliti dan gak sempet ngedit banyak-banyak #pundung
Ya udah… kalau pengen saya update cepet, review ya minna~ :D #digorok
Ini balesan reviewnya…. xD
Jangan bosan-bosannya mereview yaach…
SJ : Ni udah update kilat xD
akaba : Makasih udah mau review, tenang ini emang si Neji gak sengaja ketemu Sakura xD
Rise : hoho kita lihat aja kelanjutannya fufufu #digeplok
Gomen kalo ada yang gak kesebut ._.v
Yang log in selahkan cek PM kalian
Sampai jumpa di chap 3 besok~ xD
*longkiss
#disepak
TTD :
Veoryxocie
