Tak terasa sudah tiga minggu sejak Yunho pindah ke SM High School dan bertemu dengan Jaejoong, dan itu berarti sudah tiga minggu pula Yunho mengikuti Jaejoong pergi ke mana pun. Sekarang para murid hampir tidak pernah melihat namja cantik itu tanpa seorang Jung Yunho di sampingnya.

Ya, sejak kejadian di kolam renang itu, Yunho sepertinya benar-benar serius dengan ucapannya. Hampir setiap saat dia selalu berada di samping Jaejoong dan mencoba bicara dengan namja cantik itu (meski tentu hanya dibalas dengan atmosfer yang dingin dan diam oleh Jaejoong). Meski begitu, Yunho tak pernah menyerah, dan selalu tetap berusaha berada di samping namja cantik berambut hitam itu dan mengenalnya lebih dekat.

Jaejoong sendiri, entah memang tidak peduli atau sudah pasrah, hanya membiarkan saja Yunho selalu mengekornya ke mana-mana. Meski pada awalnya dia memang merasa tak nyaman dengan sikap namja tampan yang sudah seenaknya melanggar batas privasinya itu, mau tak mau Jaejoong merasa kagum dengan namja itu, karena dia sedikit pun tak gentar dengan segala caci maki dan bentakan darinya dan selalu mau mendampingi dirinya, yang selama ini selalu ditakuti dan dijauhi oleh semua orang. Bagi Jaejoong, Yunho adalah orang pertama yang tidak takut dan peduli padanya. Dengan interaksi itu, sedikit demi sedikit Jaejoong juga mulai merasa nyaman dengan keberadaan Yunho di sampingnya dan dalam hati selalu menikmati saat namja tampan itu berbicara padanya (meski tentu selalu dia diamkan. Bagi Jaejoong, kuda harus punya sayap dulu sebelum dia mau berbicara dan tersenyum pada seorang Jung Yunho). Meski tetap saja, ada beberapa hal yang dibenci namja cantik itu dari diri Yunho.

Salah satunya adalah senyum manis yang diberikan Yunho untuknya.

Ya, Jaejoong sangat membenci senyum yang selalu berada di bibir Yunho. Dia tidak suka senyum itu, bahkan tidak sekali dua kali dia berpikir untuk menghapus senyum itu dari bibir namja tampan itu. Dia tidak suka karena bagi Jaejoong senyum itu adalah bukti yang nyata.

Tentang betapa berbedanya dunianya dengan Yunho.

Bagi Jaejoong dunia yang dihuni Yunho tentu dunia yang penuh dengan kebahagiaan, sebuah dunia yang nyaman dan tenang seperti surga. Yunho pasti tidak pernah mengenal apa itu kenyataan dunia yang pahit, tidak pernah mempunyai beban hidup, apalagi menderita.

Dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang dilihat dan ditinggali Jaejoong.

Bagi Jaejoong, Yunho, yang selalu tersenyum dan bersikap santai seperti itu, yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan dan cahaya seperti itu, tentu tidak akan pernah mengerti dunianya yang gelap dan suram. Karena itu dia membenci senyum itu. Senyum bahagia, yang sebenarnya ingin dia miliki, tapi tak pernah bisa.

Karena dunianya tak pernah mengijinkan senyum itu ada di bibirnya.

Tapi yang tidak pernah disadari Jaejoong adalah kemungkinan kalau senyum di bibir Yunho itu palsu. Kenyataan bahwa sebenarnya dunia mereka tidak jauh berbeda, dan mereka sebenarnya begitu mirip.

Bahwa kemungkinan seorang Jung Yunho yang Jaejoong kenal bukanlah dirinya yang sebenarnya….


Yunho berjalan sambil menundukkan kepalanya dan memijat bahunya yang terasa pegal setelah menyelesaikan hukuman dari Siwon, yaitu membersihkan kolam renang, bersama Jaejoong. Dia menghela napas lelah sambil terus berjalan menuju rumahnya.

Rumah yang sebenarnya tidak ingin dia lihat, apalagi dia tinggali.

Setidaknya tidak selama masih terdengar caci maki dari kedua orangtuanya yang bertengkar tiada henti di rumah besar itu.

Ya, jauh dari anggapan orang yang selalu menganggap kehidupan Yunho itu bahagia dan cerah, sebenarnya dunia namja tampan itu gelap dan dingin. Ayah dan ibunya, yang sama-sama sibuk, selalu meninggalkannya sendirian di rumah besar itu. Semua masalah di rumah mereka mulai terjadi saat perusahaan keluarga mereka semakin kaya dan kedua orangtuanya semakin dan semakin jarang pulang. Mulanya satu sama lain, juga dirinya tidak curiga, berpikir kalau masing-masing hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setidaknya dia berpikir begitu, sampai semua fakta terbongkar.

Fakta bahwa ayah dan ibunya masing-masing berselingkuh dengan orang lain, bahkan sudah membentuk keluarga baru. Sejak itu, hampir tak ada hari tanpa bertengkar dan saling mencaci maki oleh keduanya. Ingin bercerai pun, mereka tidak bisa, karena seandainya bercerai dan ketahuan bahwa mereka berselingkuh, tentu yang akan malu adalah mereka. Selain itu ingin bercerai pun, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas Yunho, karena masing-masing mengaku sudah punya anak sendiri yang jauh lebih hebat dan sempurna darinya.

Dan yang paling menyakitkan, karena tidak bisa bercerai dan berpisah itu, semua rasa frustasi mereka dilampiaskan ke Yunho. Mereka menganggapnya sampah, bahkan selalu menyiksanya lahir batin. Bagi mereka, Yunho hanya pengganggu dari tujuan mereka untuk berbahagia dengan keluarga mereka yang baru.

Pengganggu… yang tidak pantas untuk dilahirkan, apalagi hidup.

Yunho membuka pintu rumahnya dengan pelan. Wajahnya langsung terlihat kecut saat dia melihat sepatu ayah dan ibunya di depan lorong rumahnya.

"Mereka…pulang, ya?" gumam Yunho pelan. "Kenapa harus pulang…?" Telinga namja itu segera menangkap suara teriakan-teriakan dan bentakan di ruang tamu. "Kalau cuma untuk bertengkar saja?"

Yunho pun segera melepas sepatunya dan mencoba menguping pembicaraan kedua orangtuanya dari balik pintu ruang tamu yang tertutup.

"Aku tidak peduli! Apa urusanku dengan itu? Kalau mau cerai, cerai saja! Kau sadar kan kalau kau yang akan malu?" bentak ibu Yunho, Nyonya Jung, dengan nada tinggi.

"Hah? Sudah kuduga kau memang wanita murahan, selama ini kau hanya mengincar hartaku, iya kan?" seru ayah Yunho, Tuan Jung, keras

"Kalau memang iya, kenapa? Kau juga menikahiku karena status keluargaku yang tinggi, kan? Apa bedanya denganku? Dasar lelaki bajingan!" seru ibunya lagi.

"Setidaknya bukan aku yang melahirkan anak sampah yang tidak berguna itu!" seru ayahnya.

Hati Yunho langsung terasa sakit mendengar perkataan ayahnya itu. Sakit…seperti ditusuk ribuan pisau yang tidak terlihat.

"Kau pikir aku mau melahirkan anak itu? Anak tidak berguna macam dia? Aku juga menyesal melahirkannya?" seru ibunya.

"Kalau tidak suka kenapa melahirkannya? Kau melahirkannya hanya untuk mengikatku denganmu, kan? Kau melahirkannya karena kau ingin aku tidak meninggalkanmu!" seru ayahnya.

"Hah, jangan bermimpi! Untuk apa aku mengikatmu? Aku melahirkannya semata-mata karena orangtuamu bilang menginginkan cucu, tidak ada alasan lain!" seru ibunya. "Lagipula untuk apa aku mengikat lelaki sepertimu? Suamiku yang sekarang ratusan kali lebih baik darimu, tahu!"

"Kau kira kau pantas jadi istriku? Jangan bermimpi, wanita murahan!" seru ayahnya keras.

Yunho yang tidak tahan lagi mendengar perkataan kedua orangtuanya segera membuka pintu ruang tamu, membuat kedua orangtuanya menatapnya tajam.

"Kalau kalian memang tidak suka aku ada, lebih baik kalian tidak usah menikah dari dulu!" seru Yunho keras pada kedua orangtuanya. "Kalian pikir aku bahagia punya orangtua macam kalian?"

Wajah orangtua Yunho merah padam menahan amarah. Ayahnya segera maju mendekati namja tampan itu dan…

PLAKKK!

Tanpa peringatan apa pun, Tuan Jung segera menampar Yunho dengan keras, membuat tubuh namja tampan itu terhempas ke lantai.

"Jaga mulutmu, anak brengsek!" seru Tuan Jung keras. "Seharusnya kau bersyukur kami mengijinkanmu hidup sampai hari ini! Kau…anak tak berguna sepertimu…aku tak mengerti kenapa kau harus ada di dunia ini!"

"Benar," desis Nyonya Jung dengan tajam. "Hidup kami akan lebih bahagia tanpa kau di dunia ini! Aku menyesal melahirkamu! Kau…kau hanya parasit! Parasit yang mengganggu dan mengacaukan hidup kami!"

Yunho hanya terdiam sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan ayahnya tadi. Sakit…dibandingkan rasa sakit di pipinya, sakit yang ditorehkan kedua orang tuanya dengan kata-kata tajam itu ke hatinya jauh lebih sakit.

Karena kata-kata itu menunjukkan dengan jelas betapa sebenarnya dia tak pernah diinginkan, bahwa keberadaannya sama sekali tidak dibutuhkan oleh siapa pun.

"Ah! Menyebalkan! Kalian semua memang menyebalkan!" seru Tuan Jung keras. "Hidup bersama kalian memang hanya membuat frustasi!" Pria itu segera mengambil jaketnya dan berjalan menuju pintu depan dan pergi keluar rumah.

Nyonya Jung hanya menatap jijik pada Yunho sebelum ikut berjalan keluar dari ruang tamu. "Aku juga ingin pergi, aku muak melihat mukamu! Melihatmu…rasanya aku ingin muntah, selalu teringat dengan wajah ayahmu yang bajingan itu," gumamnya sebelum membanting pintu rumah dengan keras dan ikut berjalan pergi keluar rumah, meninggalkan Yunho sendirian di kesunyian rumah besar itu.

Yunho menghela napas lagi sebelum akhirnya bangkit dan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu dia sampai, dia segera mengunci pintu kamarnya dan menjatuhkan diri di atas ranjang.

Selalu begini…. Setiap kali orang tuanya pulang pasti selalu begini. Dia merasa kosong…juga hampa.

Yunho memejamkan matanya lelah. Tanpa disadarinya, dia berusaha mengingat apa ada seseorang yang pernah menganggapnya berharga di hidupnya, tapi hanya ada satu orang yang bisa dia pikirkan di otaknya.

Dia hanya bisa memikirkan nama dan wajah seorang Kim Jaejoong.

Seseorang yang dia tahu pasti mengerti perasaannya.

Seseorang yang hidup di dunia yang sama dengannya.

Sejak pertama melihat Jaejoong, Yunho merasa mereka begitu mirip. Mata yang menyambutnya saat itu…adalah mata yang gelap, penuh kesedihan dan kegetiran. Sejak memandang mata itu Yunho merasakan perasaan kalau sebenarnya Jaejoong seperti dirinya, selalu menyembunyikan luka hati yang diterimanya di hatinya sendiri.

Tapi jika Yunho menyembunyikannya dengan senyum, maka Jaejoong menyembunyikannya dengan sikap dingin seperti es itu.

Karena itu juga dia mendekati Jaejoong. Keinginannya melihat senyum di bibir Jaejoong bukan bohong. Dia sungguh-sungguh ingin melihat senyum di wajah namja itu, apalagi kalau senyum itu ditunjukkan untuknya. Itu adalah taruhannya dengan dirinya sendiri.

Taruhan kalau dia sanggup membuat Jaejoong menganggapnya sebagai orang penting sehingga bisa tersenyum lepas padanya. Dia ingin dekat dengan namja berwajah cantik itu. Cukup dekat sehingga mereka bisa saling berbagi kesedihan dan kegelapan hidup ini bersama.

Dia ingin mereka bisa hidup di dunia terang milik mereka sendiri. Dia ingin bahagia…bersama dengan namja berwajah cantik itu.

Taruhan konyol memang, tapi dia ingin melakukannya. Kebahagiaan dan hidupnya semua tergantung dari sana.

Yunho sadar, mengerti sepenuhnya…bahwa hanya Jaejoong yang bisa mengerti dirinya yang sebenarnya. Hanya dia yang bisa membuat Yunho bahagia seumur hidupnya. Hanya namja cantik itu yang bisa menjadi tempatnya bersandar.

Karena Yunho tahu…dia mencintai Jaejoong, sejak pertama kali melihat mata gelap penuh kesuraman dunia itu menatap matanya.

Dan dia ingin suatu hari nanti…namja cantik itu mau balas mencintainya. Dia ingin namja cantik itu juga mencintainya dengan tulus… dan mereka bisa berbahagia bersama selamanya.


Suara alarm dari jam di meja kecil di sebelah ranjangnya membangunkan Yunho dari tidur panjangnya yang terasa melelahkan dan tidak nyaman. Yunho memijat kepalanya yang terasa sedikit sakit sebelum menghembuskan napas lelah untuk yang kesekian kalinya dan berjalan turun dari ranjang tempatnya berbaring.

Yunho menatap jam di mejanya dengan pandangan kosong. "Jam delapan pagi…sekarang pasti sekolah sudah mulai, ya…" gumam Yunho pelan. "Sekolah tidak ya…?"

Namja tampan berambut hitam itu pun segera melangkah ke kamar mandinya sambil membawa baju seragam sekolah miliknya. Setelah selesai dia pun segera turun dari kamarnya ke lantai bawah. Rumah itu masih sunyi, sepertinya orang tuanya tidak pulang kemarin malam. Ya…mau mereka pulang atau pun tidak toh tidak banyak berarti bagi Yunho. Pulang dia akan disiksa oleh mereka, tidak pulang juga keadaannya di rumah tidak akan semakin baik, karena mereka seolah mengatakan betapa mereka tidak membutuhkannya. Jadi mereka ada atau pun tidak tak banyak artinya bagi namja tampan itu.

Yunho segera menatap jam dinding di dapur setelah dia selesai sarapan. Jam itu menunjukkan pukul setengah Sembilan pagi. Yunho memandang tas ranselnya yang tergeletak di kursi sebelum menggelengkan kepala dan menyambar tas ranselnya sambil berjalan keluar dari rumahnya.

"Sebaiknya hari ini aku membolos saja…" gumam Yunho sambil mengunci pintu rumahnya dan berjalan dengan gontai. Pikiran namja itu terbayang-bayang ke kehidupannya dan perkataan orangtuanya.

Yunho berpikir apa memang sebenarnya dia begitu tidak diharapkan oleh siapa pun? Apa tidak ada siapa pun yang akan merindukannya jika dia tidak ada? Apa ada seseorang yang akan cemas dan khawatir padanya saat terjadi sesuatu padanya? Apa ada orang yang akan menangis kalau seandainya dia mati? Apa…ada orang yang mencintainya begitu dalam sehingga tidak mau kehilangan dirinya? Siapa pun? Di mana pun?

Saking seriusnya melamun, Yunho sama sekali tidak menyadari lampu penyeberangan jalan yang berubah menjadi merah dan tetap menyeberang dengan pandangan kosong. Tanpa disadarinya, sebuah mobil melaju cukup kencang ke arahnya. Yunho baru sadar dirinya dalam bahaya saat telinganya menangkap suara klakson mobil yang sepertinya dibunyikan oleh pengendara mobil yang menuju ke arahnya itu. Matanya terpaku menatap mobil yang melaju ke arahnya itu.

'Apa…aku akan mati di sini?' pikir Yunho dalam hatinya saat melihat mobil di hadapannya iru. Sesaat dia ingin berjalan pergi, ingin menghindar, ingin menjauh dari mobil itu. Apa pun untuk menyelamatkan nyawanya tapi perkataan orangtuanya seolah membuat kaki Yunho tertancap ke tanah.

'Tapi…biarlah,' pikir Yunho sambil memejamkan matanya, pasrah menanti saat itu menubruk tubuhnya dan mengakhiri nyawanya. 'Aku mati pun…tidak ada yang akan sedih, kan?'

Tapi tiba-tiba saja mobil itu melenceng dari jalur melewati tubuh Yunho. Jelas, pengemudi mobil itu membanting setir untuk menghindari tabrakan. Yunho tetap berdiri terpaku, meski jelas nyawanya terselamatkan dari kematian. Meski ada perasaan lega karena hidupnya selamat, terselip perasaan kecewa.

Kecewa…karena dirinya masih dibiarkan hidup.

Pengemudi mobil yang kini berada di belakangnya membuka pintu mobilnya dengan kasar. Namja pengemudi mobil itu segera melangkah ke arah Yunho dan menampar pipi namja tampan itu dengan keras.

"APA YANG KAU LAKUKAN BERDIRI DI TENGAH JALAN, JUNG YUNHO?" pekik namja yang menampar pipi Yunho itu dengan keras. "KAU MAU MATI, EOH?"

Yunho terpaku menatap namja yang kini berdiri di hadapannya. Namja tampan itu hanya bisa terdiam menatapa dua bola mata yang mengilat penuh kemarahan dan kekhawatiran.

Mata dari seorang Kim Jaejoong.

"YA! Jawab aku Jung Yunho! Kau mau bunuh diri? Kenapa tidak menghindar? Seandainya aku tidak membanting setir mobilku kau sudah tergeletak berlumuran darah di sini, tahu!" seru Jaejoong. "Kenapa kau begitu bodoh?"

Entah ilusi otaknya atau apa, entah kenapa Yunho merasa nada suara Jaejoong terdengar berbeda. Seperti…khawatir padanya. Dia…apa dia salah dengar? Atau memang namja cantik di hadapannya ini mengkhawatirkannya? Apa benar namja cantik di hadapannya ini…peduli dengan hidupnya?

"Yu…." Perkataan Jaejoong langsung terputus saat Yunho tiba-tiba saja memeluknya erat. Awalnya namja cantik itu tentu saja tidak terima dan malah meronta dan memukul dada Yunho agar dia bisa lepas dari pelukan namja tampan berambut hitam itu. Tapi dia terdiam setelah dia merasa tubuh Yunho yang memeluknya itu terasa…bergetar?

"Yun…" gumam Jaejoong pelan sambil terdiam di pelukan Yunho. Entah karena apa, Jaejoong merasa Yunho yang berdiri di hadapannya dan sedang memeluknya ini berbeda dengan Yunho yang biasanya selalu bersamanya. Berbeda dengan Yunho yang selalu ceria dan tersenyum.

Entah kenapa rasanya bagi Jaejoong, Yunho yang sekarang memeluknya…tidak berbeda dengan dirinya. Yunho yang dingin, sedih, dan menderita. Yunho yang mirip dengannya.

Atau memang…sejak awal mereka memang begini mirip?

"Maaf Jae…" gumam Yunho pelan sambil mengusap rambut Jaejoong pelan. "Biarkan aku begini sebentar saja. Biarkan aku bersandar di pundakmu sejenak saja. Aku…lelah…. Aku…butuh istirahat, meski cuma sedetik saja…."

Pandangan Jaejoong yang tadinya dingin terlihat melembut saat dia mendengar ucapan Yunho itu. Bagi Jaejoong, Yunho yang sekarang terasa rapuh ini membutuhkannya melebihi apa pun. Yunho memintanya mengerti, memintanya mendampinginya.

Dan itu satu-satunya yang bisa Jaejoong lakukan untuk saat ini. Karena dia…tidak mengerti apa penyebab Yunho menjadi seperti ini.

Untuk saat ini dia hanya bisa menjadi tempat bersandar yang diinginkan oleh Yunho. Mengesampingkan sikap dingin dan harga diri yang biasa dijunjungnya, membuang rasa benci yang biasa dia gunakan untuk menyamarkan rasa bahagianya, untuk seseorang yang kini terluka di hadapannya ini.

Jaejoong pun segera mengangkat lengannya dan balas memeluk Yunho, mengalungkan lengannya di pinggang dan leher Yunho dan ikut mengelus rambut namja tampan itu dengan penuh sayang. "Silahkan…" gumam Jaejoong pelan. "Bersandarlah padaku kapan pun kau mau…dan berapa lama pun yang kau ingin. Aku akan ada di sini, berada di sampingmu selamanya…."


Author note:

Oke, chapter kedua selesai~ -narinari-

Btw, kayaknya di chapter ini saya ngebikin Yunho appa nelangsa sangat ya? –sok polos- -dibakarparaCassie-. Iya, maafkan saya~kesannya Yunho memang beda dengan seorang Jung Yunho yang santai, polos, kejam, apalagi mesum seperti yang selalu digambarin di fic YunJae yang lain! –PLAK- -digamparYunppa- tapi yah…hanya ini yang bisa saya pikirkan untuk sikap seorang Yunho appa di fic saya, lagian cerita hidupnya aja udah ngenes, gimana saya bisa gak bikin Yunho appa nelangsa, tapi…saya usahakan di chapter selanjutnya gak gini lagi deh, tapi gak janji ya~ -PLAK- -ditamparreaders-

Terima kasih atas semua yang mau membaca dan mereview fic YunJae perdana saya ini! Saya sangat bahagia ternyata fic YunJae perdana saya ini banyak yang baca dan suka! Terima kasih semuanya~ -pelukreaders- -dibuang-

Oke, special thanks to:

YunJaeshipper| JoongieJungJung| jung hana cassie| Cho Luna Kuchiki| Lee Tae Ri| 3375571| ryu cassie| Kyumin saranghae| Indrie| Enno KimLee| Rubby| HISAGIsoul| Arisa Adachi| zueTeuk| Miss A7X| .Young| w| Luo HanSiBum| PutryboO

Karena sudah mau mereview cerita saya ini~terima kasih banyak! Review kalian benar-benar membuat saya bahagia! Sekali lagi terima kasih~ maaf karena belum bisa balas review kalian satu-satu (modem lemot~) tapi akan saya usahakan di chapter selanjutnya!

Akhir kata, mind to review? Saya akan berterima kasih sebanyak-banyaknya jika kalian mau melakukannya, oke?

Oke, sekian. Meet again at (hopefully) the next chapter! Bye bye ^_^