Rhyme A. Black
00oooo00
PresenT
00oooo00
Lembaran Buku Tua
00oooo00
Dedicated for HTNH/ NaruHina's Tragedy Day
Naruto belongs to Masashi Khisimoto
WARNING : OOC, ALTERNATIVE UNIVERSE,MISSTYPO, GAJE *maybe?*
00oooo00
Hope you enjoy it!
00oooo00
1... 2... 3... TAKE... ACTION!
00oooo00
Mendung akhir-akhir ini selalu menyelimuti Desa Konoha. Hari-hari yang biasanya cerah itu, selama beberapa minggu terakhir ini selalu saja diguyur hujan. Setiap hari, orang-orang berlalu lalang menggunakan mantel, payung ataupun kereta kuda untuk melindungi mereka agar tidak terkena rintik-rintik air yang dingin selama diperjalanan.
Jalan-jalan pun tampak lenggang, hanya ada beberapa rakyat jelata yang berjalan di tengah mendung serta gerombolan-gerombolan petani yang sedang membawa hasil panen mereka menuju gudang penyimpanan di salah satu sudut kota. Biasanya para petani itu datang dengan beramai-ramai sambil memboyong hasil pertanian mereka, tapi hal itu sedikit berubah. Selain karena hujan hasil panen mereka menjadi sedikit menurun, belum lagi dengan makin maraknya pertempuran yang sering terjadi dimana-mana dan dadakan. Mau tidak mau, petani-petani ini harus mengungsi dulu, belum lagi jembatan-jembatan penghubung antar desa serta kota yang rusak dan hanyut karena hujan deras belakangan ini.
Terlihat, salah satu rumah di jalan yang dilalui petani-petani itu tampak ramai. Beberapa orang berseragam prajurit berpatroli di sekitar rumah itu sambil menenteng senapan laras ganda. Belum lagi terdengar teriakan-teriakan dari dalam rumah, membaur menjadi satu dengan guruh yang sesekali terdengar dari angkasa.
Di hari yang mendung di bulan november itu berkumpul prajurit Pejuang Konoha disalah satu rumah pemimpin mereka. Hari itu juga adalah hari pertemuan mereka setelah melakukan pertempuran di tengah hutan seminggu yang lalu, dan pertemuan mereka kali ini adalah untuk membahas aksi penyerbuan yang akan mereka lakukan lagi.
Di dalam rumah yang tidak seberapa luas itu berkumpul puluhan prajurit berseragam militer yang sama, hijau kecoklatan. Jarak umur dari mereka semuapun berkisar antara 20-30, atau bahkan bisa saja lebih.
"Rusaknya jembatan penghubung desa pastilah karena perbuatan OTO! Hal itu sudah jelas titik pangkalnya!" teriak salah satu diantara mereka yang bertato segitiga merah di kedua pipinya. Perkataannya tadi mampu menimbulkan beberapa seruan dari bagian belakang yang duduk berdesakan. Suasana pertemuan yang sedari tadi sudah dipenuhi dengan teriakan-teriakan pembakar semangat, kini bertambah lagi dengan lemparan caci maki yang di tujukan pada negara yang pernah menjajah mereka itu.
"MEREKA ITU PERUSAK!" seru yang lainnya lagi, yang berambut bob klimis. Sesaat keadaan dirumah itu tampak tidak terkendali, beberapa orang yang masih bisa berkepala dingin berusaha untuk menghentikan teriakan-teriakan itu dengan memukul-mukul meja. Namun yang ada hal itu malah menambah ramai suasana yang mendung sore itu.
DORRR!
Letusan peluru kaliber pendek itu ternyata mampu mendiamkan suasana pertemuan yang semakin ricuh. Sebagian besar langung menutup mulut dan diam, sedangkan beberapa orang lainnya menggerutu dengan suara pelan. Pria dengan brewok yang bernama Azuma Sarutobi itu kembali memasukkan pistolnya kedalam sarungannya, pria berumur tiga puluh lima tahun itu sedikit merasa kesal atas tingkah prajurit-prajuritnya yang diluar kendali itu. sebagai komandan pasukan darat, seharusnya dia mampu memimpin pertemuan itu dengan baik.
"Pertemuan kita kali ini tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali rasa lelah bila seandainya kita terus-terusan bertindak seperti ini." Ucap seseorang yang tadi meletuskan satu peluru senjata, pandangannya menyapu semua yang hadir sore itu. Mereka menunduk. Tak ada yang mampu berkata-kata sampai lima menit berlalu.
"Tapi rusaknya jembatan penghubung desa karena pasti dilewati alat-alat berat. Dan sekarang, akibatnya petani-petani kita kesulitan untuk melakukan pekerjaan mereka karena jembatannya rusak." Ujar yang bertato segitiga tadi, dan kali ini tidak ada teriakan yang mengiringinya.
"Hal itu tidak bisa menentukan bahwa Oto pelakunya. Bisa saja jembatan itu kurang kokoh dan akhirnya hanyut karena hujan deras," kata salah seorang diantara mereka, yang duduk di sisi kanan yang menembakkan peluru tadi. Sebagian dari mereka mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju terhadap ucapan pemuda berambut pirang itu. "sebaiknya kita memusatkan perhatian kita pada apa yang akan kita lakukan."
"Dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, tanggal dua puluh empat nanti akan diadakan perjamuan makan di hotel Grand Konoha. Akan banyak petinggi-petinggi militer Oto yang hadir disana. Jadi, kita bisa melakukan penyerbuan saat itu." ucap laki-laki pirang itu.
"Jadi, pada tanggal dua puluh lima nanti, kita akan menyerang daerah pabrik kopi, Hotel Violet of Konoha, dan juga Hotel Grand Konoha. Sebaiknya, kalian melakukan persiapan dan pelatihan sebaik mungkin." Ucap Azuma sambil bangkit dari duduknya. Menandakan bahwa pertemuan mereka telah usai. Setelahnya, orang-orang bergerombolan keluar dari ruang pertemuan itu dengan wajah puas. Karena sebentar lagi mereka akan membantai habis penjajah itu dari tanah air mereka.
"Shikamaru... Naruto.." panggil Azuma ketika sudah tidak ada orang lagi diruangan itu. hanya menyisakan dia, seorang Pria berkuncir, dan pemuda pirang yang tadi memberikan informasi padanya.
"Siap Komandan!" sahut mereka sambil menegakkan badan mereka. Azuma tersenyum tipis, sebelum akhirnya menghisap rokoknya yang tinggal setengah itu. Mengepulkan asap putih dari celah bibir dan hidungnya.
"Shikamaru.. aku ingin kau lagi yang memimpin penyerbuan ini. Dan kau Naruto," katanya sambil menunjuk pemuda pirang yang bernama Naruto itu, "aku tidak ingin kau membuat kesalahan lagi.."
"Siap! Laksanakan!" ucap dua orang pemuda itu sebelum berbalik meninggalkan ruangan yang tadinya penuh dengan hiruk pikuk itu.
00oooo00
Wanita berambut indigo itu melangkah turun dari jep hitam ayahnya. Lalu kemudian masuk ke dalam bangunan yang tampak berdiri megah dihadapannya dengan menggandeng lengan ayahnya. Wanita berdarah Oto itu memakai gaun pesta berwarna ungu muda dengan banyak renda di lengan dan dibagian leher yang berkerah tinggi itu, dengan bagian pinggang kebawah yang megar. Sang ayah sendiri memakai pakaian kebesarannya, pakaian militer berwarna biru tua dengan atribut pangkat dan penghargaan militer yang menghiasi dadanya, berpadu dengan sepatu hitam pantofel dan juga tongkat pendek khas eropa yang berwarna hitam dan bercincin perak.
Telah banyak tamu undangan yang datang, terbukti dengan banyaknya jep-jep mewah yang berjejer di depan hotel megah itu. Yang diundang dalam acara itu antara lain adalah pemimpin angkatan militer, komisaris besar, dan juga bangsawan-bangsawan Oto. Banyak bangsawan-bangsawan wanita Oto yang berpakaian kurang lebih sama dengan Hinata, memakai gaun megar mewah, cantik, anggun, dan bahkan tak sedikit diantaranya yang bagian atasnya lebih terbuka, dan menampakkan kulit putih mulus mereka dan belahan yang dada yang terlalu terlihat.
Mereka langsung disambut dengan ramah ketika memasuki bagian ballroom hotel. Ruangan itu tampaknya tak cukup luas untuk menampung banyaknya orang kulit putih yang datang siang itu. setiap orang di ruangan itu saling menyapa dan bercengkrama satu sama lain. Tak lama berselang, yang menyelenggarakan acara siang itu datang menghampiri Hinata dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan Komisaris Jendral Oto.
"Terima kasih telah mau datang ke perjamuan saya siang ini, Tuan Van Hyuuga, Nona Hinata." sapa seseorang kepada mereka berdua. Sapaan dari yang punya jamuan itu langsung mendapatkan senyuman hangat dari Tuan Van Hyuuga.
"Kami juga senang sekali anda mau mengundang kami, Tuan Uchiha."
"Hmm, sungguh kehormatan besarlah bagi saya anda berdua datang kemari..." balas Pria yang bermata onyx dan berparas tampan itu, "terutama anda, Nona Hinata.." sambungnya sambil meraih tangan kanan Hinata dan mengecupnya. Mencoba mempesona di mata nona Hyuuga, namun sayang.. gagal.
Dan percakapan-percakapan itu terus berlanjut, menambah riuh ramai suasana pesta pesta, entah itu percakapan tentang keadaan Konoha yang tidak kondusif saat ini ,kekuasaan, perang, gelar atau bahkan hubungan antar bangsawan dalam bentuk pernikahan.
Suara-suara tawa kian ramai, belum lagi cekikikan-cekikikan dari para gadis bangsawan yang tebar pesona kesana kemari. Wajah-wajah itu terlihat bahagia, bercengkrama dengan sesama mereka yang sederajat membuat mereka semakin percaya diri. Belum lagi sebagian dari mereka yang terus-terusan berlomba untuk menggumbar kekayaan mereka, mencoba untuk menjadi yang paling teratas di lingkunganya waktu terus berjala, Jamuan makan siang telah datang, memberikan kepuasaan bagi yang menunggunya sejak tadi.
Jendral Van Hyuuga dan Hinata duduk semeja dengan Letnan Sasuke de Uchiha dan juga pembesar militer lainnya, wajah mereka sangat sumringah menerima jamuan makan dari orang yang memiliki jabatan tinggi di pemerintahan Hi-Oto, mereka saling bersulang anggur dan tertawa bersama merayakan rencana yang mereka anggap brilian. Rencana untuk membuat para pejuang Konoha tunduk kepada kekuasaan Hi-Oto.
Namun, mereka tidak tahu bahwa ada sesuatu yang mengintai mereka diluar sana...
Beberapa orang Konoha terlihat sedang mengamati halaman hotel yang berpenjagaan ketat itu. Disetiap sudut hotel itu dijaga oleh beberapa orang prajurit Oto, belum lagi mereka yang berjaga di dekat pintu dan di dalam ruangan. Seketika orang-orang Konoha tadi bergegas dari halaman hotel itu menuju suatu tempat yang tak jauh dari hotel yang mereka intai tadi, salah seorang di antara mereka dapat dikenal sebagai prajurit Konohagakure yang sewaktu pertemuan dulu paling banyak berontak.
Si tato merah itu langsung memberikan kode tanda aman pada teman-temannya yang berada disekitar tempat itu. Dan, lebih dari tiga pasukan militer yang beranggotakan pemuda-pemuda itu sekonyong-konyong datang dengan membawa senapan, granat, dan obor menuju halaman depan Hotel Grand Konoha. Dari kejauhan sudah terdengar arak-arakan mereka yang terdiri dari ratusan orang itu. Halaman hotel yang tadinya lenggang itu, kini penuh dengan ribut-ribut suara yang penuh dengan orang-orang yang mencaci maki dan hujatan yang ditujukan pada bangsawan Oto yang ada di dalam ruangan hotel.
Pertahanan dalam posisi siaga satu. Orang-orang Oto yang berjaga tak mengira bahwa mereka akan mendapatkan serangan di siang bolong. Sebagian dari mereka ciut nyalinya melihat ratusan pemuda Konoha yang semangatnya menghujat mereka.
"SERANGGG!"
Dan dengan satu teriakan itu, peluru-peluru saling ditembakkan yang berdesing memekakkan telinga. Baku tembak tidak terhindarkan dan obor saling dilemparkan pasukan Konohagakure datang menyongsong pertempuran siang itu. Membalas semua letusan peluru di tubuh tanah air dengan senjata yang telah mereka lucuti dari musuh mereka sebelumnya.
Sementara itu api telah merembes di sisi kiri gedung hotel, orang-orang didalam hotel berlarian kesana kemari berusaha menyelamatkan diri mereka dari hujanan peluru. Asap hitam dan juga api yang makin membesar menambah panasnya aksi teror siang itu.
Naruto yang merupakan salah satu dari prajurit Konohagakure, terus mengarahkan bidikan senapannya ke orang-orang yang berlarian dari dalam gedung. Terus membidik dan menembak. Alih-alih salah, tembakan yang dia luncurkan selalu mengenai sasaran dengan tepat. Tak salah bila dia dijuluki 'sang penembak jitu' oleh teman-teman seperjuangannya. Dan ketika dia hendak menembak salah satu petinggi Hi-Oto, matanya tertumbuk pada siluet wanita yang tampak terhuyung ditengah-tengah kobaran api yang semakin besar. Bayangan itu tertatih dan hampir jatuh ditengah-tengah kobaran api yang semakin panas dan besar.
Dan semuanya benar-benar diluar dugaan...
Entah apa yang merasuki Naruto saat itu, dengan cepat ia melempar senapannya dan berlari menuju wanita itu, tanpa mempedulikan peluru yang bisa saja mengenainya dan juga teriakan teman-teman seperjuangannya. Tahu-tahu dia sudah ada disamping wanita itu, dan membawanya berlari dari lahapan si jago merah. Keterkejutan menghampiri wanita itu, dikiranya prajurit Hi-Oto yang datang menolongnya. Namun, ternyata malah pemuda berkulit kecoklatan yang datang menghampirinya.
Kontak mata diantara mereka hanya sekilas saja terjadi, akan tetapi menimbulkan perasaan yang mendalam pada dua orang yang berbeda itu. Ketika warna biru mata pemuda itu bertemu dengan warna perak keabu-abuan wanita itu detik berikutnya, mereka telah berlari sejauh mungkin dari api yang terus menjalar.
Dengan spontan, rasa bersalah muncul di sanubari Naruto. Dia merasa bodoh akan tindakannya yang memang bodoh itu. Dia, dengan seenaknya meninggalkan pertempuran yang tengah berkobar dibelakangnya hanya untuk menolong bangsawan Oto yang tidak dikenalnya itu. Namun, sesuatu yang berbeda merayapi hati Naruto ketika mereka saling beradu pandangan tadi. Ada rasa hangat yang menjalari tubuhnya, rasa yang berbeda dari yang selama ini pernah ia rasakan.
"Terima kasih,karena telah menyelamatkan saya tuan..." Ucap wanita itu ketika mereka telah selesai menyelamatkan diri dengan berlari sejauh 500 meter lebih tanpa henti. Hartanto masih mengatur nafasnya, begitu pula dengan gadis Oto itu, Berlari ratusan meter mungkin merupakan pengalaman baru bagi si gadis. Naruto meneliti wajah wanita itu baik-baik, mencari tahu apa yang membuatnya rela meninggalkan medan tempur hanya untuk menolongnya.
Paras wanita itu masih tetap cantik, meskipun asap telah mengotori sebagian wajahnya. Dandanannya sedikit berantakan dan rambutnya pun begitu. Namun, seperti yang dinilai Naruto tadi, wanita itu tetap cantik. Belum lagi ketika mata abu-abu keperakan yang menghujamkan tatapan penuh rasa penasaran dan ingin tahu. Gaun ungu muda gadis itu sedikit terbakar dan kotor oleh asap dan debu.
"Naruto ... ya sama-sama"
Sumpah mati! Bila si tato merah alias Kiba itu melihat hal ini, dengan pasti Naruto akan ditembak mati saat itu juga. Kok bisa ya...
Wanita itu tersenyum, merasa aneh akan hal yang dilakukan oleh pemuda Konoha yang ada dihadapannya. Mau tak mau semburat merah nakal datang menghiasi pipi putihnya.
"Nama saya Hinata Van Hyuuga. " ucap wanita itu dengan logat Otonya yang masih sangat kentara. Rasa bersalah yang membebani hatinya langsung bertambah ketika wanita berparas ayu itu memerkenalkan dirinya.
"J-jja..jadi anda seorang VAN HYUUGA?"
O-Ohh... sepertinya dia akan benar-benar ditembak mati.
...
TO BE CONTINUED
00oooo00
00oooo00
AUTHOR'S SIDE
AYAAAMMM! Hohoho...
Please jangan bunuh saia karena fanfict aneh bin lebay ini yak?
Haduh, kok rasanya... rasanya.. aneh ya?
Hihihi, sudahlah.. biar minna-sama saja yang menilai fanfict ini, huahaha..
Nah, yang suka perhatiin pelajaran disekolah pasti tahu nih, cerita ini diambil dari apa..
Yaphzz.. sejarah Bandung Lautan Api. Haduh, gimana yah kalau para pejuang membaca nih fict? Pasti bakalan dibilang gak jelas, gak jelas nih fict. Haduh... *ngelantur mode : on*
Lagi pula, siapa juga pejuang yang mau baca nih fict. Mana maksa banget lagi, Hindia-Belanda malah nyosor ke Hi-Oto. Ampun dahhh..., malu-maluin banget tapi tetep nekat bin gak tahu malu buat dipublish.
PrenkzZz, maafin yee kalo ada.. sesuatu yang.. yang aneh gitu deh, alias gak masuk akal.
Toh ujung-ujungnya author yang bla-bla-bla ini juga minta satu hal :
Review!
Review ya friends!
SELAMAT HTNH NHL!
Narsiez dikit gak papa yaphz?
...NaruHina, The Greatest Pairing
Ever after...
*gak suka? Ya udah..*
