Hallo minna san, chapter 2 telah hadir. Tidak ingin terlalu banyak kata lagi, langsung balas review saja ok!

Guest :

Makasih, yang membunuh Ino umm...bisa tebak siapa?

Sudah dilanjut nih, makasih sudah review

Kinana :

Ga bisa ngomong ya, ga apa-apa.

Nih sudah dilanjut, makasih sudah review

PoeChin :

Sasu tahum tapi bukan tahu siapa orangnya... Haya tahu siapa pembunuhnya, jawabannya cukup membingungkan =="

Sudah update, makasih sudah review

narusay :

iya, sekali-kali dia dibikin menderita.

Panggilnya jangan senpai, Kagari aja ok!

Nih sudah dilanjut, makasih sudah review

devilojoshi :

..

Yang psico, apa benar itu Naru~?

Sasu menderita dulu baru bisa ma naru, hehehe

Sama, aku juga ga suka SasuXAll Female. Hanya saja itu dibutuhkan. Sukanya Sasu seme aja.

Makasih sudah review

Gunchan CacuNalu Polepel :

Eh, prolognya kepanjangan ya?

Yah, ini rate M for Gore juga may be lemon. Jadi pasti ada tuh adegan pembunuhannya.

Yah, pembunuhnya juga memang belum ketahuan sih..

Makasih sudah review

Nanaki Kaizaki :

Terima kasih untuk pengkoreksiannya,

Makasih juga sudah review

Two Brother Crazy Lady and Boy :

Gomen, chapter satu memang dibuat dengan ide pas-pasan. Jadi begitu deh hasilnya..

Diharap untuk tidak kapok membaca. Makasih sudah review

Tikus FFN :

Oh, tidak perlu dibilang juga tahu kok kalau fic ini kayak sampah.

Yang bikin juga sampah kok! #lho?

Jadi silahkan review(?) lagi, yang banyak juga diterima kok.

So enjoyed ^^

.

.

.


Disclaimer Chara : Masashi Kishimoto sama

Disclaimer Fic : Uzumaki Kagari

Genre : Hurt/Comfort, Tragedy(?)

Tidak bisa dipastikan genrenya

Rate : M

Pairing : Sasuke x ... , Slight KakaNeji, NejiNaru(?)

Warning : Yaoi, Sho Ai, Gore scene, Death chara, Psikopat, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame!

Terinspirasi dari fic : From Hell, To Hell Diclaimer : Harumi Kitara


.

.

Kamu...

.

.


Kesenangan dalam diriku telah lama hilang, bersamaan dengan setiap tetesan darah yang keluar dari orang-orang yang kusayangi. Bersama dengan kematian yang selalu menghantui hidupku. Jauh, sangat jauh aku melangkah meninggalkan semuanya di belakangku hingga hanya aku, tinggal aku seorang diri. Tapi kematian itu selalu datang, berkeliaran disekitarku bagai candu yang tak mau berhenti.

Aku tak pernah berhenti melangkah, menjauhimu walau kau terus datang dan datang lagi. Aku bahkan tak mengenalmu, tapi kau adalah racun dalam hidupku. Terus membunuh pikiranku hingga perlahan menungguku untuk menyerah padamu.


.

.

...milikku...

.

.

Muak, aku tak ingin lagi mendengar semua kata-kata yang kau kirimkan padaku. Tak ingin lagi melihat semua deretan huruf yang selalu kau selipkan dihidupku. Bahwa aku hanya milikmu. Tak pernah sedikitpun ku kira jika ini akan terulang. Membuka semua ingatan yang selalu ingin kulupakan.

Lagi, satu nyawa lenyap di depan mataku. Seseorang yang mengisi kekosongan hatiku, dan kau membawanya dariku. Membiarkanku kembali terpuruk dengan semuanya. Menjadi bayangan yang terus menenggelamkan kehidupanku. Perlahan, membawaku terpuruk bersama rasamu.

.

.

...hanya...

.

.

Bagai belenggu, kau memenjarakan semua kebebasan diriku. Penjara tak kasat mata yang selalu merantai setiap pasang kaki dan tanganku. Selalu mengetahui dimana aku berada, seberapapun jauhnya aku. Matamu seakan mampu menembus waktu, melihatku yang lagi-lagi jatuh. Seberapa inginkah kau untukku jatuh. Bahkan aku tidaklah tahu seberapa dalamnya jurang yang kau gali untukku. Rasaku, tak lebih dari sekedar tak kepedulian darimu.

Sama seperti kematian yang kau tunjukan padaku, lama aku sudah mati. Lirihku seperti kebahagiaan bagimu. Kapan jeratan ini akan berhenti mencengkram gerakku. Sampai kematian itu sendirikah yang mendatangiku atau, hingga nanti kau sendiri yang datang dan menjemput akhirku.

.

.

...aku...

.

.

Right...My Dear?

.


Dentingan jam besar itu sudah menggema hingga bunyinya terdengar untuk ketiga kalinya. Menampakan burung kenari kuning yang keluar dari pintu kecil yang menjadi singgasananya. Tengah malam telah menjelang, harusnya kesunyian tengah meliputi bumi. Tenggelam dalam lelapnya tidur sang mentari. Ya, seharusnya. Tapi itu sangat berbeda jauh dengan yang terjadi. Rumah bergaya jepang tradisional yang jauh dari kebisingan kota itu kini terdengar riuh oleh sirine mobil polisi. Meramaikan keadaan rumah yang ditinggali oleh seorang pemuda yang biasanya sunyi.

"Bagaimana, apa dia sudah bisa untuk bicara?"

Neji menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban bagi laki-laki berambut silver dengan wajah yang sebagian besar tertutupi oleh masker hitam yang berdiri di sampingnya. Menghela napasnya lelah, pemuda bermarga Hyuuga itu kembali menghadapkan dirinya pada fusama yang menjadi pemisah antara ia dan sahabatnya. Mencoba sekali lagi untuk membujuk sahabatnya keluar, setidaknya untuk memakan makan malamnya.

"Sasuke, bisakah kau keluar? Kau belum makan sejak tadi siang."

"..."

Tak ada jawaban, sama seperti sebelumnya. Hanya kesunyian yang ia dapat dari pertanyaannya. Neji kembali menatap Kakashi yang masih setia berdiri di sampingnya.

"Bisa anda lihat sendiri, Kakashi san." Neji tampak sangat kelelahan, sebagai salah satu sahabat dari sang 'akar' pembunuhan berantai ia juga harus ikut diintrogasi oleh polisi dan setelah empat belas jam dihadiahi berbagai macam pertanyaan wajar jika ia merasa kelelahan.

"Sebaiknya biarkan Sasuke sendiri dulu, anda pasti bisa mengerti." Ucapnya memohon kemakluman dari polisi disebelahnya itu.

Setelah menimbang-nimbang apa yang dikatakan pemuda di depannya, ia pun mengangguk sebagai persetujuannya. "Kau juga sepertinya butuh istirahat Neji kun." Kakashi memperhatikan Neji yang wajahnya terlihat pucat namun tetap memaksakan dirinya.

"Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja." Neji melangkahkan kakinya menyusuri lantai berkayu rumah itu. "Ayame san akan menyiapkan- ugh," Dengan tiba-tiba ia merasakan kakinya yang lemas dan tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Membiarkan tubuhnya perlahan limbung ke belakang.

Brugh!

"Ha'ah. Sudah kubilang jika kau butuh istirahat Neji kun." Kakashi yang melihat tubuh di depannya mulai goyah segera menangkap tubuh Neji yang terjeblak ke arahnya. Ia melihat Neji dengan napas yang terengah-engah dan matanya yang sayu mulai tak fokus.

"Aku baik-baik saja."

"Dan aku memaksa." Dengan itu Kakashi menggendong tubuh Neji dengan kedua tangannya, tak mempedulikan protesan keras dari pemuda bermarga Hyuuga itu.

"Kakashi san, a aku bisa jalan sendiri." Neji mendorong pelan dada bidang milik Kakashi, meminta agar ia diturunkan dari gendongan polisi itu.

"Ck! Apa yang kalian lakukan? Melakukan hal-hal romantis disaat pembunuhan baru saja terjadi."

Kakashi menoleh ke kiri, melihat seseorang yang baru saja bertanya sekaligus menyindirnya. Nara Shikamaru, laki-laki dengan mata kuaci dan rambut coklat gelap dikuncir tinggi yang menjadi ciri khasnya. Teman, sekaligus rekannya dalam menyelesaikan kasus kali ini.

"Na Nara san." Semburat merah diwajah Neji semakin terlihat saat melihat Shikamaru yang melihatnya digendong Kakashi.

"Lalu, bagaimana dengannya?"

Shikamaru tampak menyenderkan punggungnya pada tiang kayu yang berada dikoridor rumah. Melihat rekannya yang berjalan ke arahnya dengan pandangan malas.

"Masih sama, kita juga tidak bisa memaksanya kan."

Helaan napas dari Shikamaru membuat Kakashi menaikan sebelah alisnya, tidak biasanya rekannya itu terlihat tidak bersemangat ya meskipun memang sering mengucapkan kata merepotkan dan terkesan acuh pada semua yang dikerjakannya tetapi kali ini dia menghela napas saat kasus baru saja terjadi.

"Kapan aku bisa bebas dari kasus yang tak ada ujungnya ini jika 'akar'nya saja tidak mau bekerjasama." Ia menegakan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menyusuri lantai kayu rumah itu, di sampingnya Kakashi berjalan tak jauh darinya.

"Maaf. Tapi Sasuke juga merasakan hal yang sama." Neji tampak sedikit kesal dengan ucapan Shikamaru barusan. Ia menatap polisi bermarga Nara itu dengan pandangan sebal.

"Yeah, hidup dengan kematian yang selalu mengelilingimu memang merepotkan." Shikamaru tampak acuh dengan tatapan yang diterimanya. Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang dibatasi oleh Shoji sebagai sekat.

Shikamaru menggeser Shoji di depannya dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan beralaskan tatami dengan sebuah meja persegi di tengahnya. Ia bisa melihat seorang pemuda yang tengah duduk dengan gelisah di sisi meja. Pemuda itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arahnya.

"Shikamaru san, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya pemuda itu, ia benar-benar tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi lagi pada adiknya. Ia sudah mengikuti saran dari polisi di depannya ini untuk memindahkan Sasuke ke sekolah lain, juga menyetujui jika adiknya berpindah tempat tinggal bahkan mengubah nama keluarga adiknya itu. Tetapi semuanya tetap berulang, pembunuhan itu tetap terjadi di sekitar adiknya.

"Itachi san, tenangkan dirimu." Ucap polisi muda itu tapi tetap pemuda yang menjadi kakak dari Uchiha Sasuke itu terlihat gusar. Shikamaru berjalan menuju ke tengah ruangan namun langkahnya sempat berhenti saat melihat Kakashi yang tak mengikutinya.

"Aku akan mengantar dia dulu." Ucap Kakashi seraya membenarkan posisi tangannya yang menggendong Neji dirasanya sedikit merosot. Shikamaru hanya mengangguk dan kembali berjalan menuju meja di ruangan itu.


.

Kau suka hadiah kecil yang kuberikan untukmu?

.

Detikan demi detikan jarum serasa begitu lambat menambahkan waktu dini hari, dengan suara yang menggema di ruangan enam kali enam meter itu. Menemani tiga pria yang tengah dengan serius memperhatikan lembaran foto yang berserakan dihadapan mereka.

"Kapan foto ini tiba?" Shikamaru terlihat bertanya lebih dahulu, ditangannya terdapat selembar foto dengan picture seorang wanita dengan perut yang terbelah, juga usus besarnya yang ditarik keluar sudah tak berbentuk lagi. Membuatnya menahan napas karena perutnya yang mulai merasakan mual.

"Pagi tadi," Jawab Itachi, "Aku menemukannya bersama surat-surat lain di kotak surat tapi aku tidak mengira jika isinya..." Ia memandang lembaran foto di depannya dengan wajah tak percaya.

"Shikamaru," Polisi berkuncir tinggi itu mengalihkan pandangannya pada Kakashi yang baru saja memanggilnya.

"Bagaimana menurutmu dengan semua foto-foto ini?" Tanya rekan satu timnya itu.

"Entahlah Kakashi, pembunuhan kali ini agak sedikit berbeda dengan dua pembunuhan yang lalu. Foto, kartu ucapan juga surat 'cinta' ini baru pertamanya." Jawab Shikamaru, keningnya berkerut memperhatikan setiap detail tulisan yang di print dalam selembar kertas putih di depannya. Deretan huruf yang menguntai kata demi kata 'indah' yang ditulis seorang tersangkanya.

Kakashi mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan agar bisa melihat isi dari surat itu, "Kurasa tersangka kita ini orang yang lumayan romantis." Tanggap Kakashi saat ia membaca baris perbaris kalimat yang tertulis di sana.

"Bungaku, bukan lagi ribuan mawar yang kupersembahkan untukmu.

Secantiknya sang mawar merah akan terkalahkan jua dengan apa yang sanggup kuberikan untukmu.

Merah, apa kau melihatnya My Dear?

Betapa pekatnya warna itu memandikan sang Angel.

.

Merah, bagai benang takdir yang mengikatmu bersamaku.

Tak terputus karena aku akan terus menyambungnya meski kematian dipenghujung hidupmu.

Tak cukup kah dengan semuanya?

.

Cintaku,

Kemarilah dan sambut aku dengan kehangatan tubuhmu.

Setiap cumbuan dari cinta yang memenuhi nadiku.

Berjalanlah ke arahku, jadikan aku tujuanmu.

Biarkan ku memiliki seluruhnya dirimu.

.

Frasaku tak mampu lagi menguntai kata untukmu sayang,

Indah pun tak akan mampu melukiskanmu.

Tetapi sayang, mengapa lari dariku?

.

Tak tahu kah kejar-kejaran ini menyakiti hatiku.

Para Angel yang selalu merebutmu dari sisiku.

Selalu berujung dengan ternodainya sayap putih itu dengan merah.

Tak cukup kah dengan mencabik rasaku.

.

Cupid selalu membawamu pergi.

Membuatmu bermandikan cahaya surga.

Bukankah lebih indah jika kau berada dalam gelap, Dear?

Membuatmu tersembunyi diantara kelamnya alam.

Dan, hanya aku yang mampu melihatmu."

Sreek!

Ketiga orang itu dengan serempak menatap pintu yang baru saja digeser, melihat seseorang yang berdiri mematung di sana. Dengan bibir terbungkam, pemuda raven itu memasuki ruangan yang dihuni ketiga orang itu. Ia berjalan dengan langkah pelan, terlampau pelan hingga ia berdiri tegak di samping meja seraya memandangi lembaran foto yang berserakan di atasnya. Semua foto yang memperlihatkan bagaimana sang terkasih meregang nyawa karena kecemburuan sang iblis.

Ia tersenyum meremehkan, mengambil selembar foto di sana dan menatapnya dengan pandangan kosong. "Seharusnya jika kau mencintaiku, bukan hanya ini yang kau lakukan." Gumamnya pelan.

Itachi yang melihat adiknya dalam keadaan seperti ini segera bangkit dan memeluk adiknya erat. Sedikit terkejut saat tubuh dalam dekapannya itu ternyata tengah gemetaran, ia tahu benar apa yang dirasakan Sasuke. Takut, meskipun adiknya tak akan mengakui itu. Setelah semua yang dilalui olah adiknya ini, wajar jika Sasuke merasa takut.


.

Atau, kau menginginkan hal lain?

.

Keempat orang itu hanya duduk diam bersebelahan dimeja makan, satu-satunya ruangan yang tampak sedikit modern dibandingkan ruangan lain yang ada di rumah itu. Ayame, pelayan di rumah itu hanya sesekali melirik ke arah keempat pemuda itu seraya menaruh beberapa sajian untuk makan malam di atas meja. Sedikit bingung saat dengan tiba-tiba siang tadi ia dikejutkan dengan adanya polisi di depan rumah sang majikan, ditambah dengan perubahan sikap majikannya yang biasanya pendiam menjadi lebih murung dan terus mengurung diri di kamarnya.

"Terima kasih Ayame san." Itachi memberikan senyum kecil pada pelayan wanita itu, tidak ingin membuat pelayan itu ketakutan karena adanya polisi di rumah ini. Akan sedikit merepotkan jika si pelayan memilih untuk berhenti jika dia mengetahui majikannya terlibat kasus pembunuhan.

Atmosfir ruangan itu kembali menegang saat pelayan rumah itu pergi. Shikamaru yang pertama kali memecahkan keheningan yang tak nyaman itu.

"Jadi, bisa aku bertanya padamu Sasuke san?"

Pemuda berstyle emo itu memejamkan matanya sejenak, dan membukanya kembali. Diliriknya polisi yang baru saja bertanya padanya itu. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi sebelum mengengguk untuk menyetujui sebagai jawaban atas pertanyaan yang di ajukan padanya.

"Foto ini, kuyakin kau tahu siapa pengirimnya?"

Polisi muda itu mennyodorkan selembar foto ke depan Sasuke, menekankan agar pemuda itu melihat gambar yang tercetak di sana.

"Hn, orang gila yang tergila-gila padaku." Jawaban bernada sarkasme itu meluncur mulus dari mulut Sasuke.

Shikamaru terlihat tidak senang dengan jawaban yang ia terima, sudah cukup untuknya bersabar selama ini. Sangat lama, kejadian selama empat tahun ini dengan tiga nyawa yang telah menjadi korban bukanlah kasus yang biasa jika selalu saja terhubung dengan satu orang yang sama.

"Jadi, kau suka melihat mereka terbunuh Sasuke san?"

Kakashi dan Itachi sontak menatap Shikamaru, mengerutkan keningnya seakan tidak mengerti dengan pertanyaan dari polisi muda itu.

"Kau suka melihat mereka mati dengan cara terpotong-potong seperti itu? Melihat tubuh hangus terbakar mereka? Kau ingin satu nyawa lagi untuk kau saksikan mati-"

"Shikamaru san!" Dengan marah Itachi berdiri dari duduknya, membiarkan kursinya yang berdecit karena tergeser ke belakang. Pandangan tak suka ia arahkan pada polisi yang duduk di seberangnya.

Shikamaru tak sekali pun mengalihkan pandangannya, ia hanya menatap lurus pemuda yang dengan angkuhnya diam tak merespon semua ucapannya. Tak mempedulikan Itachi yang baru saja memotong ucapannya, Shikamaru kembali membuka suara. "Kami takkan bisa membantumu Sasuke san, takkan bisa jika kau tetap menyembunyikan sesuatu dari kami."

Deg!

Tangan terlipat Sasuke mencengkram erat kedua lengannya, berusaha keras agar sikapnya tak terlihat berubah. Namun Shikamaru dapat merasakannya, pemuda di depannya ini.

"Apa maksudmu Shikamaru san? Menyembunyukan sesuatu, kau menuduh adikku?" Tanya Itachi tidak sabaran, terlihat tidak senang dengan polisi yang tengah menuduh adiknya itu.

"Sudah terlalu malam, kami permisi dulu."

Polisi bertampang malas itu beranjak dari duduknya, ia mendudukan sedikit tubuhnya dan berlalu mendekati pintu. Langkahnya terhenti sesaat sebelum ia benar-benar melangkah keluar, "Kami membutuhkan kerjasama darimu Sasuke san, pikirkan baik-baik apa yang lebih penting." Dan sosoknya menghilang dari ruangan itu.

"Ya ampun, kalau begitu aku juga permisi Itachi san." Pamit Kakashi, ia menundukan tubuhnya sedikit. "Maafkan ucapan Shikamaru tadi, dia tidak bermaksud untuk menyinggung." Ucapnya seraya menatap Itachi yang berdiri di sampingnya.

"Ya, tidak apa-apa." Itachi memberikan senyuman maklum pada Kakashi, "Ku antar sampai depan." Ia memiringkan tubuhnya agar Kakashi dapat melewatinya. Kakashi hanya mengangguk dan mengikuti pemuda yang telah lebih dulu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


.

Katakan, dan aku akan melakukannya untukmu sayang?

.

"Tidak apa-apa kau sekolah hari ini Sasuke?" Neji bertanya pada pemuda yang tengah dengan fokusnya menatap jalanan di depannya.

"Hn."

"Kali ini juga mungkin sama, kau akan di pindahkan."

"..."

Neji hanya menghela napasnya saat Sasuke tak merespon. Percuma bicara padanya sekarang, mungkin nanti jika sahabatnya itu sudah baikan. Mobil sport biru itu berhenti diparkiran sekolah. Baru saja Sasuke dan Neji melangkahkan kakinya keluar dari mobil, sudah banyak siswi yang mengerubuni mereka. Berbondong-bondong mendekati kedua pemuda itu. Wajah mereka terlihat cemas dan sedih yang atas apa yang baru saja menimpa Sasuke, bahkan ada yang menangis. Tapi Sasuke hanya mengacuhkan mereka, ia tahu pasti jika semua sikap yang diperlihatkan para gadis itu hanya untuk menarik perhatiannya. Tak ada yang sungguh mengerti perasaannya, sangat terbukti dengan saling mendahuluinya mereka mendekati Sasuke.

"Minggir kalian!"

Para siswi itu menatap seorang yang baru saja berteriak, di ujung parkiran seorang gadis cantik berambut merah muda terlihat geram menatap puluhan siswi yang berdesakan itu. Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati kerumunan. Menggeser beberapa siswi yang berada di depannya dengan kasar dan berdiri di depan Sasuke.

"Sasuke kun, kau baik-baik saja?" Tanya gadis itu penuh perhatian, ia mengarahkan tangannya untuk menyentuh wajah Sasuke.

Sasuke menelengkan kepalanya, menghindari sentuhan tangan gadis berambut merah jambu itu dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat parkiran itu diikuti dengan Neji di belakangnya. Meninggalkan gadis yang diacuhkannya itu dengan raut kesal. Beberapa gadis lain menahan tawa mereka dengan tangan yang menutupi mulut mereka.

"Apa yang kalian lihat, hah!" Bentaknya seraya menatap nyalang ke arah para siswi itu.

Mendengar bentakan garang dari gadis merah muda itu dengan terburu-buru mereka semua membubarkan diri, meninggalkan gadis itu seorang diri. Matanya kembali melirik tempat dimana Sasuke melangkahkan kakinya pergi. Kemudian ia tersenyum sangat lebar, 'Tidak apa-apa, nanti juga Sasuke akan menjadi milikku.' Pikirnya dalam hati.

"Penghalang sudah hilang, hanya tinggal sebentar lagi. Benarkan Sasuke kun?" Gumamnya pelan seraya terus melangkah meninggalkan tempat itu dengan tak lupa senyuman yang merekah diwajah cantiknya.

"Penghalang memang sudah hilang nona Sakura, tapi kau adalah penghalang baru untukku."

Seringaian terbentuk dengan sempurna di bawah bayangan gelap, memperlihatkan betapa keinginannya untuk kembali bersenang-senang . Matanya terus memperhatikan langkah menjauh gadis berambut merah muda itu hingga tak terlihat lagi hilang di balik dinding tikungan dan ia pun ikut menghilang bersamanya.

.

.

Hembusan angin menerpa helaian raven milik pemuda yang tengah menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas berbahan besi di belakangnya. Membuat beberapa dari rambutnya berantakan hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia duduk terdiam tanpa melakukan apa pun, matanya menatap lurus pada luasnya hamparan langit. Iris kelam itu menyendu begitu ia melihat indahnya sang langit. Membuatnya teringat dengan seseorang yang benar-benar ingin ia lupakan.

Seseorang yang memenuhi hatinya untuk pertama kalinya, yang membuat ia tahu apa itu cinta. Dia sangat suka memandang langit, sama seperti yang ia lakukan sekarang. Biasanya dia akan tersenyum malu setiap ditanyai kenapa menyukai langit, dan jawaban darinya membuat degup jantungnya seakan bekerja lebih cepat karenanya.

'Karena aku sudah punya Sasuke kun sebagai malamku, jadi aku suka langit biru yang tidak bisa kumiliki.'

Tes

Sasuke sangat berharap hari ini akan hujan, ia tidak ingin mengakui jika ia baru saja meneteskan air matanya. Ia tak ingin dirinya menjadi lemah karena air mata, tapi ia sangat butuh menyalurkan semua perasaannya. Bagaimana hatinya terasa sakit saat lagi-lagi ia kehilangan seseorang yang disayanginya.

'Hinata,'

Matanya terpejam, membiarkan lagi-lagi sebutir air mata yang jatuh dari ujung matanya. Mengalir menyusuri pipinya. Angin yang berhembus membuatnya merasakan sensasi dingin disetiap jejak air matanya.

Hanya kurang dari satu bulan cintanya telah direnggut, membawa sayangnya pergi jauh darinya dan untuk pertama kalinya juga ia merasakan sakit yang teramat menghujam jantungnya, meremukan hatinya hingga sulit baginya untuk memperbaiki semua. Meski itu tak bisa seperti semula, sesuatu yang hilang takkan pernah bisa kembali lagi.

Cup

Sasuke membuka matanya begitu ia merasakan beban berat yang tiba-tiba dibagian pahanya juga sesuatu yang licin menyentuh bibirnya. Ia menatap tajam seseorang yang tengah duduk dipangkuannya, juga dengan seenaknya melingkarkan kedua tangannya pada lehernya.

"Menyingkir." Ucap Sasuke begitu sangat dingin. Pandangan langsung menajam pada perempuan yang malah memilin-milin helaian ravennya.

"Sasuke kun, aku tahu kau sedih karena Ino meninggal." Ucap perempuan itu dengan nada sedih meski dengan jelas wajahnya tak menunjukan hal itu.

"Tapi, Ino juga pasti tidak suka jika kau terus bersedih seperti ini." Perempuan itu menghapus jejak air mata yang masih kentara di pinggiran mata Sasuke. Tangannya ia gerakan hingga menghimpit dua gundukan didadanya dan memperlihatkan sebagai mana besarnya yang ia miliki karena dua kancing teratas seragamnya yang tidak dipasang.

"Kubilang menyingkir Haruno." Sasuke terlihat sangat marah dengan perlakuan yang diterimanya dari perempuan dipangkuannya itu.

"Tak apa Sasuke kun, aku mengerti perasaanmu. Aku akan selalu berada di sisimu, menggantikan Ino."

Kesabarannya sudah hilang, dengan sekali dorongan Sasuke mendorong bahu Sakura hingga gadis itu tersungkur ke samping.

Brugh!

"Awh!"

Sakura meringis saat merasakan tangannya yang tergores lantai, dengan kesal ia menatap Sasuke yang sudah berdiri dan berniat untuk ppergi padi tempat itu.

"Apa masalahmu Sasuke kun!" Teriaknya kencang hingga pemuda di depannya menghentikan langkahnya dan terdiam.

"Aku menyukaimu, sama seperti Ino menyukaimu. Bahkan aku lebih menyukaimu. Tidak , aku sangat mencintaimu Sasuke kun! Aku bisa lebih baik dari Ino, aku bisa lebih sempurna darinya. Aku bisa membuatmu bahagia-"

"Hn, yakin kau bisa membuatku bahagia?" Sasuke memotong ucapan Sakura, ia bertanya pada gadis itu tanpa membalikan tubuhnya .

"Te tentu saja! Aku pasti! Aku pasti bisa membahagiakanmu Sasuke kun!" Jawab Sakura dengan yakin, ia menatap lurus pemuda tampan itu dengan kilatan mata yang menyatakan jika ia akan memenangkan pemuda itu.

"Kalau begitu..."

Sakura hampir saja mengembangkan senyumnya saat pikirannya sudah menghayalkan apa yang akan dikatakan Sasuke padanya. Kakinya bergerak bersiap melangkah mendekati Sasuke, namun terhenti saat pemuda itu melanjutkan kata-katanya.

"Orang sepertimu sangat tidak pantas menjadi sahabat Ino. Orang yang kau sebut sahabat baru saja meninggal kemarin dan kau dengan beraninya menggodaku, kekasih dari sahabatmu itu sendiri. Heh." Tawa pelan meremehkan keluar dari mulut Sasuke, ia tahu pasti kata-katanya itu akan membuat Sakura naik pitam. Tapi apa pedulinya, gadis itu juga tak mengerti bagaimana perasaannya dan malah berbalik menggodanya dengan memperlihatkan tubuh moleknya.

"Kau tidak pantas disebut sebagai sahabat." Lanjut Sasuke, ia mulai melangkahkan kakinya lagi. "Enyahlah Haruno."

'As your wish, My Dear.'

Menahan amarahnya yang sudah naik keubun-ubun hingga wajahnya yang berubah merah, Sakura berteriak dengan kencangnya dan membanting tas merah muda ditangannya hingga terlempar jauh beberapa meter darinya.

"SASUKE KUUUN!"

.

.

Dengan bingung Neji menatap sahabatnya yang baru saja menuruni tangga dari arah atap sekolah. Ia baru saja akan menyusul temannya itu ke sana tetapi Sasuke sudah lebih dulu turun. Wajah Sasuke terlihat dingin hingga ia juga sedikit takut melihatnya.

"Kau dari mana saja?" Tanya Sasuke dengan masih bernada dingin.

"Aku? Bukankah sudah kubilang aku ke UKS untuk mengambil obatku." Neji masih terlihat bingung dengan sikap Sasuke, bahkan saat sahabatnya itu memberinya tatapan tajam ciri khas Sasuke.

"Kita kembali ke kelas."

Sasuke melangkahkan kakinya terlebih dahulu diikuti Neji di belakangnya. Ia tak mempedulikan sekitarnya yang seperti biasa dikerubuni oleh siswi-siswi kecentilan yang terus saja memberinya tatapan khawatir padanya. Sungguh Sasuke tidak membutuhkan itu, kepalsuan yang mereka tunjukan padanya hanya bisa membuatnya bertambah kesal.

.

.

"Ma maaf," Sasuke mengerutkan keningnya seraya memandang seorang pemuda yang berdiri gugup di depannya. Wajahnya tertekuk ke bawah dengan sesekali memandang takut ke arah Sasuke dan kembali menunduk.

"Naruto?" Sasuke menatap Neji yang memanggil nama yang kalau ia tidak salah tebak adalah nama pemuda yang sedang berdiri di depannya ini.

"Ada apa?" Tanya Neji pada pemuda itu.

"A ano, i ini. Terima kasih sudah meminjamkanku pakaianmu kemarin, Hyuuga senpai." Ucap Naruto gugup, ia membungkukan tubuhnya seraya menyodorkan kedua tangannya yang memeggang pakaian milik Neji.

"A aduh, kenapa kau membungkuk begitu. Lagi pula kenapa kau memanggilku dengan sebutan senpai, Naruto." Neji terlihat sedikit tidak enak dengan sikap yang ditunjukan Naruto padanya.

"Gomen, gomennasai. Aku minta maaf senpai." Ucap Naruto yang malah membungkukan tubuhnya berkali-kali. Neji yang melihat itu berusaha untuk menghentikan Naruto. Wajahnya terlihat menahan tawanya agar tak keluar, pemuda di depannya ini benar-benar lucu.

"Naruto, sudah. Kau tidak perlu seperti ini."

"Ta tapi,"

"Sudah, terima kasih sudah mengembalikan bajuku." Neji mengambil pakaiannya dari tangan Naruto, ia tersenyum saat pemuda itu memalingkan wajah darinya. Ia bahkan hampir lupa jika di sampingnya ada Sasuke.

"Ah, Sasuke."

"Aku kembali lebih dulu." Ucap Sasuke seraya melangkahkan kakinya menjauhi Neji dan pemuda bernama Naruto itu.

"Ano, apa Uchiha senpai baik-baik saja?"

Neji sontak menatap Naruto yang baru saja bertanya padanya, kemudian ia tersenyum lembut pada pemuda itu. Benar juga, pemuda di depannya ini tahu nama Sasuke karena dia adalah senior mereka di kelas dua SMP lalu.

"Ya, dia akan baik-baik saja." Jawab Neji seraya menatap Naruto, "Jadi Naruto, kenapa kau pindah kemari?" Tanyanya seraya menyipitkan matanya.

"Pi pindah? Maksud Hyuuga senpai?" Tanya Naruto yang terlihat bingung.

"Senpai lagi, sekarang kau itu kelas tiga. Sama sepertiku, tidak perlu menggunakan kata senpai." Ucap Neji, ia menyentil pelan dahi Naruto.

"Sekarang jawab aku, kenapa kau pindah kemari?" Neji mengulang pertanyaannya.

"A aku," Memalingkan wajahnya, Naruto berusaha agar ia tak menatap Neji yang berdiri di depannya. Dengan tiba-tiba ia terlihat sangat gugup, lebih gugup dari yang tadi. Ia memainkan jari-jari tangannya, menautkannya satu sama lain untuk mengalihkan rasa gugupnya.

Pemuda bersurai coklat panjang itu menatap sekelilingnya, koridor sekolah. Tempat yang kurang tepat untuk berbincang. Ia kembali menatap pemuda yang masih mengalihkan pandangan darinya,
"Naruto, bagaimana kalau kita pindah lokasi?" Tanyanya pada Naruto.

"Eh? Memangnya kenapa Hyuuga sen- ah Hyuuga san?" Tanya Naruto, ia memiringkan kepalanya sedikit tanda ia tidak mengerti.

"Neji, panggil saja Neji. Dan memangnya aku tidak boleh mengobrol denganmu?" Tanya Neji.

Naruto menundukan kepalanya sejenak dan kembali menatap Neji dari balik kaca mata besarnya. "Ba baiklah, Neji..san." Jawab Naruto, Neji tersenyum mendengar jawaban darinya dan memandu Naruto untuk mengikutinya.


*########*###########*##############*#############*###############*##########*

O. Kagari Hate The Real World.O


Ting Tong Ting Tong

Ting Tong Ting Tong

"Iya-iya tunggu sebentar kenapa sih!" Dengan langkah terburu, Sakura melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dengan kesal, ia bersumpah akan memarahi siapa pun yang berani mengganggu kesenangannya.

"Hei kau- eh? Apa-apaan ini! Kenapa tidak ada orang!" Ucapnya kesal karena begitu ia membuka pintu, tak seorangpun yangberdiri di depannya.

Dengan kesal ia hampir saja akan menutup pintu itu sebelum ia melihat sebuah kotak yang diletakan tepat di depan pintu. Ia menendang kecil kotak itu dan melihat bungkusan berwarna merah muda itu dengan penasaran. Sakura menundukan tubuhnya untuk mengambil kotak itu, sedikit waspada karena tak ada nama pengirim atau apapun yang melekat dikotak itu.

'Apa ya?' Pikirnya seraya memperhatikan kotak persegi panjang ditangannya. Perlahan ia membuka kotak itu dengan sebelah tangannya, mengintip isinya dari celah kotak yang telah ia buka sedikit. Namun dengan tiba-tiba ia membuka keseluruhan kotak itu dan menatap sumringah isi di dalamnya.

"Kyaaa! Gaun rancangan Tsunade Senju!" Teriaknya seraya memeluk erat-erat gaun berwarna putih itu dalam dekapannya. "Ah! Tidak! Tidak! Nanti bisa rusak!" Teriaknya lagi seraya merapikan gaun ditangannya.

'Tapi siapa yang mengirimnya?' Tanyanya dalam hati, ia menaruh kembali perhatiannya pada kotak yang tergeletak di lantai. Ia memperhatikannya secara menyeluruh dan mendapati selembar surat yang tertempel di sisi kotak.

'Surat?'

Sakura membaca surat itu dengan seksama, matanya tampak berbinar begitu ia tahu siapa pengirim dari gaun yang sangat ia inginkan itu.

"Yey! Sasuke kun, aku pasti akan datang!" Teriaknya semangat seraya meloncat-loncat kegirangan.

'Dear, Sakura

Aku minta maaf atas tindakanku tadi siang,

Maukah kau memaafkanku?

Aku ingin mengajakmu makan malam sebagai permintaan maafku,

Dan apa kau suka gaun yang kuberikan untukmu?

Pasti sangat cocok untuk gadis secantik dirimu.

Kutunggu di xxx xxx jam 8 malam nanti.

Your love, Sasuke'

"Sudah kukatakan jika aku bisa menjadikanmu milikku. Hahaha..."

Sungguh ia tak akan tahu apa yang menunggunya nanti dan saat ia tahu, ia akan berharap jika ia takkan pernah memenuhi undangan itu.


.

Keinginanmu adalah titah untukku sayang.

.

'Sepatu? Cek! Riasan? Cek! Parfum? Cek! Gaun? Cek!'

"Perfect!" Ucap Sakura girang, menatap keseluruhan dirinya di depan kaca kecil yang dibawanya. Ia melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah yang dilihat sekali saja kau bisa memastikan bahwa itu adalah rumah tak terawat. Entah kenapa gadis berambut merah muda itu dengan mudahnya masuk ke rumah itu tanpa ada sedikit pun rasa curiga.

Ia begitu sumringah saat mendapati banyaknya kelopak mawar putih yang tersebar dilantai, ia benar-benar tidak menyangka jika Sasuke bisa seromantis ini. Ia tahu jika sebenarnya Sasuke sudah mencintainya sejak dulu, hanya saja terhalang karena adanya Ino. Ya, sahabatnya yang telah merebut Sasuke darinya. Tapi tak apa, sekarang Sasuke sudah menjadi miliknya.

"Sasuke kun~?" Sakura terlihat celingak-celinguk mencari seseorang yang telah mengundangnya ke tempat itu. Masih dengan senyuman, ia terus mencari dimana gerangan Sasuke'nya' itu.

Kakinya melangkah menyusuri dalam rumah itu, mengikuti arah kelopak mawar yang bertebaran di lantai. Menuntunnya memasuki sebuah ruangan berpencahayaan remang, hanya ada tiga buah lilin yang menyala di atas meja.

"Sasuke kun?"

Sakura menautkan kedua alisnya karena sejak tadi tak sekali pun ia melihat Sasuke meski sudah mencarinya disetiap ruangan yang ia lewati. Kejutan lain, itulah yang mungkin dipikirkan gadis pinky itu.

Tok!

Dengan cepat Sakura memutar tubuhnya saat ia mendengar sesuatu yang diketuk, pandangannya mengarah pada pintu lain yang berada di ruangan itu. Pintunya tertutup tapi ia yakin jika ia sempat melihat pintu itu terbuka walau hanya sekejap. Karena rasa penasarannya yang tinggi, Sakura perlahan berjalan mendekati pintu itu. Ia mengendap-ngendap seperti seorang pencuri yang sedang menjalankan aksinya.

Sedikit ragu, Sakura memutar kenop pintu itu hingga terdengar bunyi 'cklek' karena terbukanya penahan pintu. Ia sedikit mengintip ruangan dibaliknya, Sakura semakin mengerutkan keningnya saat didapatinya ruangan itu kosong. Bahkan saat ia membuka lebar pintu itu, yang nampak hanya lembaran kain putih panjang yang tersampai dipinggiran dinding.

Sreek

Sakura kembali menatap arah belakangnya, seperti mendengar sesuatu yang bergesekan dengan lantai.

"Sasuke kun? Apa itu kau?" Ucapnya seraya mencari-cari asal suara itu. "Jangan bersembunyi lagi, aku kan sudah di sini."

Sreek Sreek

Deg!

Sakura mulai merasakan seseuatu yang tidak beres ketika tetap tak ada jawaban dari suara itu. Ia sedikit merapatkan diri pada pintu di belakangnya dan memandang lebih teliti sudut demi sudut ruangan di sana.

"Sa Sasuke kun?" Panggilnya sekali lagi, masih berharap jika ini semua hanya kejutan dari Sasuke untuknya.

Buagh!

Tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam pundaknya hingga ia merasakan sakit yang teramat dan yang terakhir ia tahu adalah semuanya menjadi buram lalu menggelap hingga ia tak melihat apapun lagi.

.

.

Tang!

Tang!

Tang!

"Ungh..." Lenguhan pelan terdengar dari Sakura, pundaknya sakit seperti terhantam sesuatu. Ia berusaha menyentuh pundaknya namun kedua alisnya berkerut merasakan ia tak bisa menggerakan kedua tangannya. Sekali lagi ia berusaha menggerakan kedua tangannya namun sama seperti sebelumnya, tangannya tak bisa ia gerakan.

Perlahan kedua matanya terbuka, memperlihatkan iris hijau emerald yang menatap bingung kegelapan disekitarnya. Mendapati dirinya yang berada di atas tempat tidur. Sakura menatap sekelilingnya, menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan meski pun itu membuatnya merasakan sakit dibagian pundaknya.

Ia melihat tangannya yang diikat oleh tali tambang yang terhubung dengan pinggiran tempat tidur. Ikatannya sangat kuat hingga tangannya terasa mulai sakit karenanya.

"Sudah bangun tuan putri?"

Suara barusan mengalihkan perhatian Sakura, ia mengarahkan pandangannya ke depan. Menatap tajam seseorang yang tengah berdiri seraya bersandar pada dinding di belakangnya. "Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya ketus pada orang yang tengah menatapnya balik itu.

Orang itu hanya tersenyum seraya menegakan tubuhnya dan berjalan ke sisi kiri ruangan itu, mendekati sebuah lemari pakaian yang sudah bobrok di sana sini. Sakura baru menyadari bahwa sejak tadi orang itu memegang sebual tongkat baseball yang selalu menimbulkan bunyi saat bergesekan dengan lantai. Bunyi yang ia dengar tadi.

"Apa yang kau lakukan di sini? Katakan dimana Sasuke?" Tanyanya dengan masih berwajah ketus.

"Hmm? Sasuke? Apa aku tidak salah dengar, Sasuke. Dia tidak ada di sini."

"Heh! Jadi begitu, kau menipuku. Oh, apa jangan-jangan kau mencintaiku? Hahaha, kau itu buta ya? Lihat dirimu, kau tidak selevel denganku. Dasar idiot!" Ucap Sakura dengan nada penuh meremehkan. Ia menatap penuh jijik pada orang di depannya itu.

Tanpa diketahui Sakura, orang di depannya itu tengah menyeringai lebar mendengar semua ucapannya. Dengan tangan yang masih sibuk mengutak atik sesuatu yang ada di dalam lemari.

"Lepaskan aku, Idiot!" Teriak Sakura, tangannya mulai memerah karena ikatan yang terlalu kencang dan ia tidak ingin bekasnya membuat ia harus menutupi kulit mulusnya itu.

Orang itu membalikan tubuhnya, membuat ia bisa melihat air muka marah yang terpantri diwajah Sakura. Ia tersenyum senang melihat itu, kakinya mulai melangkah mendekati tempat tidur. "Aku punya sesuatu yang pasti kau sukai." Ucapnya seraya terus berjalan mendekati Sakura, ia menyembunyikan kedua tangannya di balik punggungnya.

"Mau apa kau?" Tanya Sakura setengah membentak. Ia melihat orang itu terus berjalan mendekatinya.

"Kau suka menjadi sempurna bukan?" Tanya orang itu padanya.

"Kau selalu melakukan operasi pada setiap bagian tubuhmu untuk menjadi sempurna, mata, hidung, bibir, dagu juga kedua belah dadamu itu. Ku yakin semuanya sudah kau permak."

"Jadi..." Orang itu mengangkat kedua tangannya yang tadi tersembunyi, memperlihatkan benda yang ia pegang dengan kedua tangannya. "Mari kita lakukan operasi kecil-kecilan, dengan aku. Sebagai dokternya."

Pandangan horror menghampiri wajah Sakura, matanya menatap nyalang orang yang berjalan semakin dekat ke arahnya dengan kedua tangan yang memegangi benda yang sangat ia kenali apa itu.

Jeritan kesakitan itu tersamar dengan kerasnya dentuman konstruksi bangunan yang tak jauh dari sana. Meredam semua teriakan memohon pertolongan dari gadis yang tengah berada dalam ambang kehidupannya.


.

As your wish dear, she is begone...

.

Lingkaran hitam di bawah matanya membuktikan betapa lelahnya ia sekarang. Tiga hari penuh ia belum mengistirahatkan tubuhnya, walau pun hanya sejenak. Tapi setelah ia kira bisa istirahat pagi ini, ia kembali dipanggil untuk sebuah kasus pembunuhan lain yang terjadi hanya berselang beberapa hari dari pembunuhan yang lalu. Shikamaru yang memang sedang dalam keadaan yang kurang baik langsung melesat ketempat kejadian bersama Kakashi yang juga sama letihnya dengannya, terbukti dari matanya yang sayu menekuk ke bawah.

Sekarang, setelah sampai di tempat kejadian ia harus dengan rela makan malamnya kembali ia keluarkan melewati tenggorokannya dan menyisakan rasa tidak mengenakan dalam rongga mulutnya. Benar-benar cara mengawali hari yang buruk melihat korban pembunuhan yang terbaring di atas ranjang single. Bahkan saat matanya menangkap tubuh korban dalam penglihatannya, ia langsung berlari keluar untuk memuntahkan semua isi perutnya.

Bayangkan saja, melihat korban pembunuhan yang bisa dikatakan sangat mengenaskan dengan tubuh yang dikuliti habis hingga rambut, kuku jari tangan dan kakinya yang terlepas dari tempat seharusnya. Memperlihatkan daging merah muda yang seharusnya tersembunyi di bawah kulit, bisa terlihat dengan jelas. Urat-urat yang ditarik paksa hingga darah terus mengucur hingga tidak ada tetesan lagi.

"Dasar iblis." Geram Shikamaru seraya membersihkan pinggiran mulutnya dengan tisue yang disodorkan Kakashi padanya.

"Kau sakit." Ucap Kakashi yang memijat pelan tengkuk Shikamaru. Kasihan juga melihat temannya yang terlihat menyedihkan seperti ini.

"Siapa pun yang melakukan ini, dia iblis." Polisi bermarga Nara itu memejamkan matanya. Marah, harga dirinya sebagai seorang polisi seperti terinjak-injak dengan semua kelakuan tersangka ini. Ia memandang Kakashi yang tengah melihat ke arah para perugas forensik yang tengah memfoto dan memeriksa mayat yang terbujur kaku di sana.

"Baiklah. Kalau begitu, sebaiknya kita juga periksa bangunan ini."Ucap Kakashi. Ia mengalihkan pandangannya pada ribuan kelopak mawar putih yang telah berubah warna menjadi merah karena darah yang menyebar hampir diseluruh lantai ruangan itu.

Shikamaru mengikuti arah pandangan Kakashi, kelopak mawar putih yang ternodai darah. Saat ia memasuki ruangan ini tadi ia juga sempat menginjak mawar itu dan menyebabkan sepatunya yang harus disita perugas forensik hingga ia dengan sangat terpasa menggunakan sandal jepit usang yang sudah lama teronggok dibagasi mobilnya.

"Masih kesal dengan sepatumu?" Tanya Kakashi.

"Bukan sepatunya, tapi orang yang memberikannya. Dia pasti akan dengan sangat senang hati menceramahiku." Shikamaru tidak ingin membahas itu sekarang, yang lebih penting adalah menemukan petunjuk, bukti atau apa pun itu yang bisa membawanya pada tersangka pembunuhan kali ini. Membuat tersangka itu mendapatkan timbal balik atas semua yang telah dilakukannya, perbuatannya yang telah menghilangkan satu nyawa manusia.

.

Kalian yang mengganggu, aku juga akan melenyapkannya sayang.

.


To be continue~

A/N : Chaper 2 dirasa sudah cukup panjang, meski pun rasa kurang puas masih mengganjal.

Forensik itu tulisannya begitu bukan ya? Kalau bukan, yang tahu kasih tahu yang benarnya apa ya ^^

Untuk itu silahkan reviewnya m-,-m