What I Want to Do Once I Have a Lover
Cast: YunJae
Rate: T
Genre: Hurt/ comfort, angst, romance
Disclaimer: all is God's possession
Warning: OOC, OC, Typo(s), Gender Switch for Jaejoong
Inspirited by song of G . NA feat Rain- What I Want to Do Once I Have a Lover
:::
:::
What I Want to Do Once I Have a Girlfriend (Yunho's Version)
_0oo0_
Kim Seo Jin aka Kimmy
_0oo0_
Annyeong, kalian tahu aku? Tidak? Kasihan.
Baiklah, perkenalkan.
Aku si tampan Jung Yunho. Usiaku 18 tahun. Aku duduk dibangku SMA kelas 3. Seperti yang ku katakan tadi, aku ini tampan, pintar dan juga kaya. Di sekolah aku juga sangat popular. Aku menjadi kapten tim sepak bola dan bermimpi untuk menjadi pemain sepak bola professional.
Namun mimpi, tinggallah mimpi.
Aku Jung Yunho, usia 18 tahun, pengidap kanker otak stadium tiga.
Ah, tidak.
Dari yang ku curi dengar, sekarang sudah naik level jadi stadium 4.
Hebatkan?
Itulah aku, si hebat JUNG YUNHO.
::
::
::
Aku menatap datar langit sore. orang yang tidak tahu pasti akan mengira kalau aku ini orang yang frustasi atau apalah itu. Tapi sungguh, aku tidak benar- benar menatap datar pada langit. Hanya pura- pura saja. Aku hanya ingin terlihat tampan.
Bagaimana tidak?
Kalau ada gadis cantik yang selalu menatapku dengan mata indahnya yang bulat, apakah aku harus berpenampilan buruk?
Itu bukan Jung Yunho namanya.
Akh, aku sedikit menyesal kenapa baru menyadari sekarang bahwa ada seorang gadis cantik yang selalu menikmati hari setiap sore. Seharusnya aku tidak usah kabur dari rumah sakit untuk menghilangkan kebosanan.
Rumah sakit?
Benar, aku penghuni rumah sakit menyebalkan ini.
Eits, tapi itu dulu.
Sekali lagi, gadis itu membuatku betah berada disini.
Apa aku terkesan gombal?
Aku tahu tapi kalau boleh jujur, ini pertama kalinya aku jatuh cinta sedalam ini. Bohong kalau aku yang tampan ini tidak pernah memiliki kekasih namun tidak dengan perasaan ini.
Perasaan berdebar- debar saat gadis itu memperhatikanku. Hanya dengan seperti ini saja aku tahu ada ketertarikan yang lebih dari biasanya ku alami.
::
::
::
Aku selalu suka ketika gadis itu memperhatikanku. Entah kenapa, rasanya hangat. Tapi sungguh, meski aku tampan, aku tidak berani manatap balik matanya.
Aku sungguh takut.
Takut bahwa aku akan terjebak dan tidak bisa lari dari pesona gadis itu.
Namun, entah keberanian dari mana. Aku kini berani menatapnya. Tersenyum padanya yang dibalas senyum manis darinya. Tuhan pasti sedang kebingungan mencari salah satu malaikatnya yang ternyata sedang singgah di bumi untuk menemui si tampan Jung Yunho.
Oh ya, aku selalu menyebut 'gadis itu'. Namanya Kim Jaejoong. Dari yang aku dengar melalui suster Park, gadis itu seusia denganku dan dia menderita Ataxia. Aku benar- benar tidak percaya ketika mendengar penjelasan dari suster Park tentang penyakit mematikannya.
Sungguh, entah karena apa. Rasanya ada bagian dari tubuhku –selain kepalaku yang memang sering sakit – yang berdenyut sakit. Ada sebuah perasaan ingin melindunginya.
Tapi apa aku bisa?
Melindungi diri sendiri saja sudah kewalahan. Apalagi melingungi BooJaejoongie-ku.
BooJaejoongie?
Maniskan?
Itu panggilan sayangku untukknya.
::
::
::
Pagi itu dokter mengatakan pada orang tuaku bahwa aku boleh pulang ke rumah. Seharusnya aku senang karena dengan begitu aku bisa kembali bersekolah dan tidak harus mencium bau obat- obatan yang menyeruak ke hidungku setiap aku melangkah. Namun ada perasaan tak rela meninggalkan BooJae-ku sendiri. Perasaan tak rela ketika aku tidak bisa melihatnya untuk sore- sore selanjutnya.
::
::
::
Aneh memang. Sepertinya Tuhan mendengarkan do'aku yang tak ingin jauh dari BooJae-ku.
Malam itu, kepalaku tiba- tiba sakit. Sakit yang amat sangat. Sungguh sulit sekali mendeskripsikan seperti apa sakit yang ku alami. Seperti sebuah palu seberat puluhan kilo menghantam kepalaku bertubi- tubi, seperti ada sengatan listrik dengan kapasitas ribuan volt yang menjalar di sekujur sel otak.
Sakit sekali memang. Tapi dengan begini, aku kembali ke rumah sakit dan bisa melihat BooJae-ku.
Seperti pagi ini, saat aku sedang berbicara dengan ibuku bahwa ada gadis seusia denganku yang akan datang. Aku sangat senang ketika mengetahui bahwa nama Jaejoong lah yang meluncur dari bibir ibuku.
Sungguh, aku tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
Sebut aku gila.
Gila karena jatuh cinta pada gadis itu. sungguh aku rela.
::
::
::
Aku menolehkan wajahku ketika pintu ruang rawatku dibuka. Disana ada BooJae- ku dan ny. Kim, ibunya.
Ahh, senang rasanya bisa melihat wajahnya sedekat ini. Dia benar- benar cantik meski pipinya sedikit tirus dan kulitnya pucat.
"selamat pagi ny. Jung, nak Yunho," sapa ny. Kim pada kami. Aku hanya tersenyum tampan.
"Pagi ny. Kim, pagi Joongie," balas ibuku.
"Maaf, aku tak bisa berlama- lama. Aku harus berkerja. Aku titip Joongie ne," ucap ny. Kim lagi.
"Tenang saja, aku akan menjaga Joongie. Ayo aku antar sampai depan. Ada yang ingin ku bicarakan," balas ibuku seraya menghampiri ny. Kim.
"Joongie, eomma pergi dulu ne. temani Yunho, arrachi?" ujar ny. Kim lembut pada Jae dengan senyum yang manis seperti senyum BooJae-ku.
::
::
::
"Jung Yunho," ucapku memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan setelah ibu dan ny. Kim keluar.
"m-mianhae," kata itulah terlontar dari mulutnya.
Tsk, rasanya aku benar- benar meruntuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku lupa tentang penyakitnya? Dengan segera aku menarik kembali tanganku.
Aku menatapnya lekat.
Apa dia marah? Apa dia kecewa?
"Maaf," hanya kata itulah yang bisa kuucapkan.
Ku lihat dia masih diam. Aissh, apa dia tersinggung?
Apa dia marah?
Andwae..
"Kim Jaejoong kan?" tanyaku hati- hati namun dengan senyum yang tampan.
"n-ne," jawabnya gugup.
Aissh,, gadis ini manis sekali.
"Mau menemaniku jalan- jalan?" tawarku masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampanku
"Tapi..kau.."
"Tenang saja," ucapku sambil melepas selang infuse di tanganku lalu beranjak dengan susah payah dari ranjangku.
Akh, sebenarnya tubuhku masih lemas. Tapi biarlah, setelah ini pasti semangat lagi.
"Yunho-ssi," panggilnya dengan nada cemas.
"tenang saja. Aku tak selemah itu boo," ucapku sambil mendorong kursi rodaku keluar.
"Boo?" tanyanya sedikit bingung.
Aissh, dia menggemaskan sekali.
"Itu panggilan sayang. Dan kau juga harus membuat panggilan untukku."
Dan
Blush
Ini yang paling kusuka. Rona pink diwajah pucatnya. Meskipun samar tapi aku masih bisa melihatnya.
"Yun..Yunnie," gumamnya ragu.
Aku tersenyum tampan dan rona itu makin terasa dipipinya.
Issh, Kim Jaejoong membuatku gila.
::
::
::
Hari berlalu dengan cepat. Semakin hari kami pun semakin dekat dan rasa cintaku padanya semakin hari semakin membesar dan kuat.
Setiap hari aku akan menjemputnya keruang rawat dan mengajaknya bercengkrama di taman belakang rumah sakit.
Namun hari itu, aku harus kembali ke rumah. Dokter mengatakan aku sudah bisa pulang. Aku tahu saat aku mengatakan itu, dia bersedih. Tanpa bicarapun aku tahu.
Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa memahaminya. Dan untuk meembuatnya tidak bersedih lagi, aku berjanji akan sering mengunjunginya. Tentu saja aku akan menepati janjiku karena Jung Yunho tidak pernah mengingkari janji.
::
::
::
Aku menatap tak percaya pada ibuku. Setelah aku pulang dari rumah sakit menjenguk BooJae, ibu dan ayahku mengajakku bicara. Mereka membicarakan tentang pengobatanku di luar negeri. Tentu saja aku menolak. Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga BooJae-ku? Pasti dia akan kesepian.
"kau harus pergi Yunho-ah. Eomma mohon," pinta ibu padaku. Sungguh aku tidak ingin ibuku bersedih. Tapi aku lebih tak ingin meninggalkan Jaejoong sendiri.
"Kenapa tidak di Korea saja eomma? Rumah sakit di Korea juga bagus," ucapku semoga saja dapat mengubah keputusan ibu dan ayahku.
"Peluang kesembuhanmu kalau kita berobat ke Amerika lebih besar Yun. Appa mohon padamu. Kami semua ingin kau sembuh. Kami ingin yang terbaik untukmu," kini ayah yang berusaha membujukku.
Aku hanya diam. Tak menjawab apapun. Aku benar- benar bingung. Akhirnya aku beranjak dari ruang keluarga tempat kami bicara tanpa sedikitpun menjawab permintaan orang tuaku. Aku benar- benar butuh untuk berpikir.
::
::
::
Aku meruntuki mataku yang sulit sekali diajak kompromi. Salahkan aku yang baru tidur sekitar pukul empat pagi dan harus bangun pukul 6 pagi untuk ke sekolah. Dan hasilnya, ini masih jam 8 tapi aku sudah sangat mengantuk. Tak lagi ku dengarkan penjelasan Mr. Kim yang tengah mengajar bahasa Inggris.
Kalian pasti tahukan penyebab aku tidak tidur?
Tidak.. bukan karena penyakitku kambuh lagi tapi jelas karena permintaan orang tuaku yang ingin aku melakukan pengobatan di luar negeri dan itu benar- benar membuatku pusing.
"Yunho, are you OK?"
Suara Mr. Kim membuatku tersentak. Sedikit rasa kantuk hilang sekejap.
"I'm sorry, sir. Would you please to let me go home now?" ucapku lesu.
Akh, kalian bingung kenapa kau bisa meminta pulang sesuka hatiku?
Itu karena semua guru tahu tentang penyakitku. Lagipula sekolah ini milik keluargaku.
So?
You got what I mean, eoh?
Mr, Kim tersenyum, "Yes, of course. I'll make you a permission letter."
"Thank you sir," ucapku sambil membereskan buku lalu membungkuk keluar dari kelas.
::
::
::
Dan disinilah aku sekarang. Di depan sebuh pintu bercat putih. Bukan rumahku karena cat pintu rumahku berwarna coklat. Ya, ini pintu ruang rawat BooJae-ku.
Aku menghela nafas sebelum akhirnya meraih handle pintu dan membuka pintu.
Ada BooJaeku yang tengah berbaring diranjang. Gadis itu tersenyum. Sangat cantik meskipun pipinya semakin tirus dan wajahnya juga semakin pucat. Aku hanya bisa membalas dengan senyum yang sewajarnya. Aku tahu pasti dia bingung kenapa aku berada disini padahal masih jam 9 pagi.
Perlahan aku berjalan kearahnya. "Boo," panggilku ketika dia sudah berdiri disisi kanan ranjangnya, menggenggam tangannya, mengusapnya lembut di pipiku. Lembut dan hangat. Aku menyukai sensasi ini sampai tak sadar aku memejamkan mata.
"Waeyo?"
Ahh, suaranya begitu menenangkan.
"Ani. Aku hanya ingin seperti ini," ucapku masih dengan memejamkan mata.
Ya, aku hanya ingin seperti ini. Menikamati sentuhan hangat yang nyaman ini.
::
::
::
Aku memandang aneh ruangan sekelilingku. Seingatku setelah pulang dari rumah sakit, kepalaku sakit lagi dan ibuku memanggil dokter ke rumah. Dokter itu membiusku lalu disinilah aku. Diruangan asing dengan selang infuse yang menenmpel di tanganku.
Apa ini rumah sakit?
Kenapa beda dari biasanya?
Ku tolehkan pandanganku ketika mendengar suara pintu terbuka. Ada orang tuaku dan dua orang asing yang ku tahu dokter dan perawat dari seragam mereka. Namun wajah mereka berbeda, maksudku tidak seperti orang Korea kebanyakan. Lebih mirip orang Jepang. Benarkah?
"Kau sudah bangun Yun?" ucap ibuku seraya mengusap surai pirangku.
"Eomma, aku dimana?" tanyaku menyuarakan pikiranku.
Ibuku hanya tersenyum lalu menatap ayahk membuatku mengerutkan dahiku.
"Kita ada di rumah sakit Yun. Di Jepang," ucap Ayah yang membuatku terkejut.
Jepang?
Itu artinya aku berada jauh dari BooJae-ku?
Itu artinya aku tidak bisa melihat BooJae-ku?
Aku bahkan belum mengatakan padanya aku mencintainya.
Aku bingung, sedih dan kecewa hingga tanpa sadar air mata mengalir dari mataku begitu saja, membuat ibu dan ayahku panik.
"Yun, kau kenapa chagi?" tanya ibuku khawatir.
"Yunho-ah, kenapa menangis?" kini kudengar ayah yang bertanya.
Aku hanya diam. Air mata keluar tanpa bisa kubendung, "boo~," lirihku kecil sampai kesadaranku berangsur hilang.
::
::
::
Ini sudah hari ketiga aku disini dan sudah selama itu pula aku tak bersuara. Yang kulakukan hanya memandang keluar melalui jendela ruang rawatku. Aku tidak tahu alasan kenapa orang tuaku akhirnya memilih Jepang. Aku tidak peduli. Ingin rasanya aku kabur, tapi setelah itu aku harus apa?
Jepang dan Korea Selatan.
Dekat namun tak bisa ku tempuh dengan berlari atau berjalan kaki.
Bukannya kau tak ingin sembuh. Tapi mendengar –mencuri dengar lebit tepatnya – pembicaraan yang dilakukan orang tuaku dan dokter Sato tentang operasi yang harus kujalani dan resikonya, aku lebih memilih untuk tidak sembuh sama sekali.
Resiko yang pertama kalau operasiku gagal maka aku akan mati.
Sederhana.
Lalu resiko kedua kalau operasiku berhasil maka aku akan kehilangan ingatanku.
Rumit bukan?
Aku hidup tapi aku tidak memiliki kenangan berarti yang terekam diotakku.
Untuk apa?
Aku lebih memilih menanggung penyakit ini ketimbang harus menghadapi kenyataan bahwa aku akan melupakan orang tua, teman- teman dan yang terpenting BooJae-ku.
Aku benar- benar merindukan BooJae-ku.
Rindu sampai- sampai sesak rasanya.
Aku belum menyatakan perasaanku padanya. Aku belum mewujudkan impian sederhanaku kalau aku memiliki kekasih yang aku cintai dengan benar.
Menikmati matahari terbenam dipantai
Konyol eoh?
Apa peduliku.
Aku harus ke Korea. Aku harus kembali. Aku harus bicara dengan ayah dan ibuku.
::
::
::
Aku terus berlari sepanjang koridor rumah sakit. Buka rumah sakit di Jepang tapi di Korea.
Ya, aku sudah kembali ke Korea setelah dokter Sato mengizinkanku. Tanpa ingin membuang waktu, aku langsung ke rumah sakit tempat BooJae-ku dirawat. Berlari tanpa memperdulikan teguran para suster dan dokter yang ku lintasi.
Aku mengatur nafasku yang terasa putus- putus ketika pintu ruang rawat no 129 terlihat dimataku. Kuraih handle pintu agak terburu, kulihat BooJae-ku terkejut terbukti dengan buku kecil yang mungkin tadi dipegangnya terjatuh.
"Yu-yunnie," kurasakan ada nada tak percaya dalam panggilanya.
"Boo~," balasku yang langsung menghambur memeluknya. "Bogoshipo," ucapku tanpa bisa menahan air mataku.
"Nado Yun," balasnya.
Aku tenhenyak.
Benarkah?
"Saranghae," ucapku penuh keyakinan.
Dia terdiam. Kurasakan tubuhnya menegang. Terkejut mungkin.
"Saranghae Boo. Jeongmal Saranghae," ucapku lagi, mencoba meyakinkannya.
"Na-nado Yunnie," balasnya dengan air matanya yang mengalir.
Ya Tuhan, aku benar- benar bahagia. Dia membalas perasaanku. Kulepas pelukan kami. Kuhapus lelhan air bening yang keluar dari matanya. Ku kecupi matanya, dahi lalu kedua pipi tirusnya hidungnya lalu bibir cherry pucatnya.
Manis
Aku benar- benar menyukainya. Tapi aku harus menahan hasratku. Aku tak ingin menyakitinya.
Aku mencintainya.
BooJae-ku yang cantik.
Terima kasih Tuhan karena telah mengirimkan malaikatmu disisa akhir hidupku.
Terima kasih karena Jaejoonglah orangnya.
Maaf kalau aku egois tanpa memikirkan kedua orang tuaku yang ingin aku sembuh. Tapi dengan Jaejoong disisiku, cukup sebagai obat bagiku.
Hanya dia Tuhan. Aku hanya ingin dia.
End of Yunho's Version
T . B . C
Next part is based on author's version and will be the last chap.
Gomawo yang sudah review ^^
Maaf update telat dan untuk chap depan juga bakalan telat karena saya sibuk kuliah dan nyiapi ospek..
Huaa~ ribet ternyata jadi Koordinator Konsumsi dan perlengkapan.. biasanya nulis proposal doang… jiah.. curhat saya..
Baiklah…
Berikut balasan reviewnya..
Kim Jung Min
Gomawo,, syukurlah kalau feel kerasa.. review lagi ne.. semoga yang ini juga kerasa
Nara – Chan
Nado annyeong Nara- chan ^^
Happy End ya? Mmm… We will see… gomawo.. review lagi ne ^^
Guest
Gomawo.. itu dah lanjut.. review lagi ne ^^
Irengiovanny
Gwenchana ^^
Ne, ini lagu G . Na unnie n Rain oppa..
Gomawoyo ^^
Review lagi ne..
Riviiisofayy
Gomawo..
Wah, padahal udh di genre angst..
Beneran angst kalo authotnya dibacok.. hehehe..
Gomawoyo.. review lagi ne^^
Julie Yunjae
Suka?
Syukurlah~
Ini sudah lanjut..
Gomawo.. review lagi ne ^^
Aoi Ko Mamoru
aigoo.. jgn sampai terbawa arus chingu.. nti kelelep..
gomawoyo.. mian updatenya lama..
review lagi ne ^^
Yunnieee boo
Ini UPDATENYA SAY…
Mian telat..
Gomawo..
Review lagi ne ^^
Pai- pai~
