Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

De Facto © Momokaze

Warning : AU, OOC, TYPO

Chapter 2

Brak...

Terdengar suara pukulan cukup keras yang menggema diseluruh ruangan yang berisi sekitar 3 orang laki-laki dengan perawakan yang cukup menyeramkan, salah satunya laki-laki yang baru saja memukul meja yang tidak berdosa tersebut.

"Brengsek!" geram seorang pria dengan wajah yang memerah menahan amarah, pria dengan wajah yang dipenuhi dengan tindikan itu terus memukul, menendang dan menghancurkan benda-benda yang berada disekitarnya.

"Hentikan! Apa dengan cara begitu kau bisa merubah segalanya?" pria yang kini tengah bersandar disalah satu sudut ruangan bersuara dengan nada bosan namun penuh penekanan, pria dengan kulit pucat dan dengan wajah yang selalu menampilkan senyum palsu itu jengah juga melihat partnernya terus-terusan merusak semua benda-benda yang ada disekitarnya.

"Diam kau!"

"CK! Daripada kau melakukan hal yang tidak ada gunanya lebih baik pikirkan bagaimana cara mengeluarkan Dia Pein." pria merah yang sedari tadi hanya bersandar di sofa mulai membuka suaranya, ia sama halnya dengan teman pucatnya, ia juga jengah melihat kelakukan partnernya tersebut yang suka seenaknya.

Hening, diantara tiga pria tersebut tidak ada yang membuka suara lagi, mereka sedang hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing, sampai sang pria kulit pucat kini mulai melangkahkan kakinya menuju kearah pintu hendak ingin keluar ruangan tersebut..

"Kau mau kemana Sai?" tanya si pria merah yang sedari tadi hanya berbaring disofa.

"Menemui kekasihku."

Setelah mengatakan itu dengan senyum palsunya Sai benar-benar sudah keluar dari ruangan tersebut. Dan kini hanya tersisa dua orang pria dengan rambut ekstrimnya yang masih belum mau mengeluarkan suaranya sama sekali, pria merah yang barusan bicara dengan Sai mulai memejamkan matanya lagi, dan pria yang di panggil Pein itu juga sedang berkutat dengan ponselnya.

"Kau punya rencana Sasori?"

"Tidak!"

"Ck!" Pein memandang tajam kearah pria merah a.k.a Sasori.

"Aku yakin Sai pasti sudah punya rencana, tunggu saja."

Pein hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Sasori dan mungkin apa yang dikatan Sasori ada benarnya juga, ia sebenarnya juga yakin jika Sai pasti sudah memiliki rencana, Sai adalah tipikal pria yang diam-diam menghanyutkan.

"Ada yang bisa saya bantu nona?"

Gadis yang baru saja disapa kini tengah terlonjak kaget, karna ia sedang melamun yaa itu adalah kebiasaan buruknya entah kenapa ia sangat suka melamun dimanapun dan kapanpun.

"Ahh.. maaf mengagetkanmu nona." laki-laki yang menyadari akan keterkejutan gadis tersebut hanya menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

"Oh.. tidak masalah, bisa aku bertemu dengan Yamanaka Ino?"

"Ya, dengan nona...?"

"Hyuuga Hinata." gadis dengan nama Hinata tersebut mengulurkan tangannya hanya untuk sekedar menjabat tangan. Laki-laki yang ada dihadapan Hinata mengerti maksud Hinata juga mengulurkan tangannya hanya untuk sekedar membalas jabatan tangan sang gadis.

"Inuzuka Kiba."

"Salam kenal Inuzuka-San."

"Salam kenal Hyuuga-San, baiklah tunggulah sebentar aku akan memanggilkan Yamanaka-San."

"Ya.. Arigatou."

Setelahnya pria Inuzuka itu berlalu pergi. Saat ini Hinata tengah berada di salah satu kantor kepolisan Konoha. Hinata baru saja mendengar bahwa salah satu buronan yang sama mengerikannya dengan Kabuto baru saja ditangkap dan ia ingin melihat buronan tersebut bukan untuk apa-apa tapi ia hanya ingin tau kebenaran yang sebenarnya terjadi, sebuah kebenaran yang membuat sahabat baiknya kini sudah kembali ke hadapan-Nya.

Siapa sebenarnya yang membunuh sahabat baiknya? Dan apa maksud dari orang tersebut? Setau Hinata sahabatnya itu adalah orang yang benar-benar baik, Hinata memang masih belum bisa menerima kenyataan tersebut, ia sudah berjanji bahwa ia akan membalaskan dendam akan kematian sahabatnya , tapi bukan berarti Hinata juga akan melakukan hal yang sama, balas dendam juga bisa dilakukan dengan hal yang berbeda, membunuh bukan berarti juga harus dibunuh Hinata juga tidak akan tega melakukan hal sekeji itu bahkan ia saja merasa bersalah hanya karna tidak sengaja menginjak semut, bukannya berlebihan tapi memang itulah sifat Hinata ia terlalu lembut dan baik.

"Hei.. melamun lagi.."

"E-Eh! Ino kau mengagetkanku."

"Kau saja yang terlalu banyak melamun, memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Mmm.. tidak ada."

"Benarkah?"

Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertannyaan Ino, mata Ino mulai memicing penuh curiga itulah kebiasaan Ino jika ia tidak mendapat jawaban yang ia mau dari Hinata.

"Ino berhenti menatapku seperti itu" Hinata mulai merasa risih dengan tatapan Ino.

"Ya .. ya baiklah, ada apa mencariku Hinata-chan?"

"Mmm.. aku ingin bertemu dengan buronan yang baru ditangkap semalam, apa boleh?"

"Untuk apa?"

"Hanya ingin bertemu, aku mendengar kabar bahwa ia ada hubungannya dengan kematian Dia"

"Aku mengerti, baiklah ayo!"

Hinata dan Ino mulai beranjak dari kursi yang baru mereka duduki beberapa menit yang lalu. Hinata membutut tepat dibelakang Ino sesekali matanya berkeliling melihat dekorasi dari kantor kepolisian Konoha, ternyata disini lebih sibuk dibanding dengan kantor persidangan, banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari, karna sangking sibuknya melihat sekeliling Hinata tidak sadar jika ia tengah berada di salah satu ruangan yang tidak terlalu besar tapi tidak juga sempit, ruangan itu gelap dan hanya diterangi beberapa lampu yang berada disudut-sudut atap, didalam ruangan tersebut juga ada meja panjang diatasnya terdapat tumpukan kertas yang cukup banyak dan satu buah mikerofon dan ada satu pintu yang terbuat dari besi didalamnya berisi dua orang pria yang tengah duduk berhadapan dengan meja kecil yang menjadi batas jarak diantara mereka, Hinata bisa melihat dari kaca besar yang ada di hadapannya, karna dua pria tersebut duduk menyamping jadi Hinata tidak dengan jelas melihat wajah keduanya.

"Shikamaru." Ino menepuk pudak seorang pria yang kini tengah duduk disalah satu kursi dengan menopang dagu dengan wajah yang mulai mengantuk. Tapi sebenarnya memang ia tiap hari mengantuk walaupun ia sudah tidur lebih dari batas normal.

"Oh..Ino."

"Perkenalkan dia temanku Hinata."

Hinata yang berada di belakang Ino menunjukan senyum manisnya dan menjulurkan tanganya sama seperti ia bertemu dengan laki-laki bernama inuzuka.

"Hyuuga Hinata."

"Nara Shikamaru." Shikamaru juga membalas jabatan tangan Hinata dengan senyum tipis.

Setelahnya mereka berdua Hinata dan Ino duduk dibangku yang telah disediakan setelah mendapat tawaran duduk dari Shikamaru.

"Bagaimana?" tanya Ino pada Shikamaru yang duduk tepat disebelah kananya.

"Sasuke sedang mengintrogasinya." setelahnya mereka bertiga hanya diam dan memperhatikan dua orang yang kini tengah saling berhadapan dengan tatapan saling menusuk satu sama lain.

"Nama?" Hinata dapat mendengar percakapan dua orang yang berada didalam melalui speaker yang di pasang di salah satu sudut ruangan.

"Uzumaki Naruto"

Deg

Jantung Hinata berdegup ia seperti mengenali nama pria tersebut, tapi ia tidak dapat mengigatnya dengan jelas, entah kenapa perasaannya saat ini benar-benar tidak enak bahkan keringat dingin mulai bercucuran padahal diruangan itu sudah cukup dingin dengan adanya pendingin ruangan, entah kenapa ia benar-benar gelisah.

"Umur?"

"26"

"Kau mengenal gadis ini?" Sasuke menjulurkan salah satu foto seorang gadis yang terbaring dengan banyak darah, bahkan bukan hanya darah saja tapi luka sayatan dan juga lebam disekujur tubuhnya.

"Tidak!"

"Yang ini?" kini Sasuke menunjukan foto seorang gadis yang sedang ternsenyum manis dengan aksen bunga sakura sebagai bagrounnya.

Naruto yang melihat foto tersebut tidak bergeming dan hanya diam menatap foto itu tanpa berkedip, Sasuke yang melihat reaksi Naruto hanya menunjukan wajah datarnya.

"Kau mengenalnya?" lagi-lagi Sasuke menanyakan hal yang sama dan hanya dijawab dengan kebisuan.

Brak..

Sasuke mulai geram dan akhirnya ia menjadikan meja sebagai pelampiasan akan kemarahannya. Shikamaru yang melihat hal itu hanya menguap malas, ia sudah bertahun-tahun menjadi partner kerja dengan Sasuke pastinya ia juga sudah tau tabiat buruk dari partnernya tersebut, Sasuke bukan orang yang sabar dan selalu memaksa dan tidak suka dibantah tipikal Uchiha memang, sedangkan Ino dan Hinata hanya terlonjak kaget.

"Sudahlah Sasuke. Kita lanjutkan besok." Shikamaru berucap dengan nada malas dan ditambah dengan mulutnya yang terbuka lebar tanda ia sudah mulai mengantuk.

Sasuke yang mendengar itu hanya berdecak kesal dan kembali menatap tajam Naruto, setelahnya ia membereskan semua kertas yang berserakan dimeja dan beranjak keluar, Naruto yang melihat itu tidak bergeming sama sekali dan pandangannya hanya lurus menatap kedepan.

Sasuke keluar dengan wajah yang benar-benar menyiratkan akan kemarahan bahkan ia sampai membanting pintu, untungnya pintu itu kuat, pintu yang malang, ya itulah tabiat seorang Uchiha saat dalam keadaan mood yang buruk jangan mencoba-coba untuk mendekatinya Berbahaya!.

"Kenapa kau senang sekali merusak sesuatu tuan Uchiha?!" Ino yang melihat kelakuan Sasuke barusan benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala, ia bingung bagaimana Shikamaru bisa betah dekat dengan Sasuke, apa karna sama-sama lelaki? Entahlah..

"Urusai!"

"Baiklah, aku ingin mengenalkanmu dengan temanku." Ino membalikan badannya kearah kiri yang tadi dimana Hinata duduk disampingnya, dan ternyata Hinata belum beranjak dari posisi sebelumnya, Hinata kini tengah menatap lurus kearah Naruto.

"Hinata, kau baik-baik saja?" merasa namanya dipanggil Hinata menolehkan kepalanya kearah kanan dan mendapati Ino tengah menatapnya khawatir. Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Tapi kau tampak pucat."

"Aku baik-baik saja Ino." jawab Hinata meyakinkan dengan memperlihatkan senyumnya.

"Baiklah, oiya Hinata perkenalkan dia Sasuke, dia adalah detektif kepolisian Konoha dan Sasuke ini Hinata dia adalah seorang pengacara"

Mata hitam pekat itu kini tengah menatap mata bulan dengan pandangan intens, dengan tangan keduanya yang saling terulur dalam jabat tangan ringan, tangan besar dan kekar itu kini tengah menangkup tangan mungil nan lembut, dan tanpa mereka sadari ada sesuatu yang aneh tengah terjadi seperti ... entahlah.

"Uchiha Sasuke."

"Hyuuga Hinata."

TBC

Hello..

Akhirnya chapter 2 update haha, sebelumnya Momo minta maaf karena telat update karena ada beberapa masalah. Dan juga Momo berterimakasih untuk yang sudah mau bersedia membaca dan menunggu De Facto.

Dan untuk #ASLfan terima kasih untuk koreksiannya itu pelajaran banget untuk Momo haha sekali lagi terima kasih. Dan terimakasih untuk yang sudah meninggalkan jejaknya di kotak Review, Momo dengan senang hati menerima kritikan dan saran apapun.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Thank You Bye Bye!