Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo, OOC, Gaje dan kesalahan di sana-sini, crack pair..

GaaIno

Don't like don't read

.

.

.

.

.

Attantion: Aku ingin ngucapin terimakasih kepada reader yang sempet-sempetnya me-review, ng-fav, atau nge-foll.. Thank you all I love You So Much. Dan aku ingin jelasin kalau Puzzle: Tears are Falling ini merupakan fict trilogy dari fict puzzle ku yang lain, jadi fict ku yang berjudul puzzle berhubungan satu sama lain. Bagi yang ingin tahu Hinata kemana? dan ingin tahu punya hubungan apa sama Sasuke silahkan baca Puzzle: Secret of life.. Thank you ^_^

.

.

.

.

Happy Reading

Wajah yang biasa tersenyum secerah mentari itu kini berubah marah merah padam , otot-otot wajahnya menegang ketika melihat undangan pernikahan Ino yang kini ditangannya.

Undangan tersebut berhiaskan lukisan serta puisi-puisi bertulis tangan hasil dari seniman ternama. Tebal halaman mencapai 15 lembar berisikan tentang acara pernikahan yang akan di adakan di hotel termewah di jepang. Bahkan undangan tersebut di bungkus kotak perak di kemas juga dengan hantaran berbahan perak yang di ukir tangan, tak lupa foto-foto calon kedua mempelai terpampang disana meski tak ada foto yang menunjukan keduanya sedang bersama.

Kedua bola mata shappire itu terus menatap tajam gadis di hadapannnya, ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran sepupunya yang dengan mudah menerima perjodohan neneknya. Yang lebih membuatnya marah ialah pernikahan Ino akan berlangsung dua hari lagi, oh sungguh rasanya kepala akan pecah kali ini.

"Yamanaka Ino" Rahang Naruto mengeras. Jika ia sudah menyebut nama lengkap sesepunya maka sudah dinyatakan Naruto marah besar.

"Aku tidak tahu jika nenek tua itu mempunyai selera yang bagus" Bukannya malah menjawab Ino malah memuji kartu undangannya yang menurutnya terlalu mewah.

Naruto sama sekali tidak menanggapi perkataan Ino, dengan setia ia masih menatap tajam sepupunya meminta penjelasan.

Ino menghela nafas sebelum menjelaskan semuanya, ia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa pikirannnya sedang berkecamuk di mana-mana. Niat semula ia akan jalan-jalan berkeliling Tokyo tetapi rencana itu berantakan ketika pintu kamar hotelnya diketuk begitu keras oleh sesorang yang tak lain Naruto.

"Satu minggu yang lalu wanita tua itu mengunjungi ku, tanpa bujukan atau kata-kata seperti dalam film atau dorama ia langsung mengatakan jika aku dijodohkan" Ucap Ino matanya menerawang mengingat setiap detail yang terjadi.

"Hari itu aku seperti sedang tertimpa palu yang cukup besar, rasanya begitu menyakitkan sampai aku tidak bisa bernafas untuk sesaat. Ia mengatakan perlengkapan acara sudah berjalan sampai 90% hanya tinggal menunggu calon pengantin saja"Jelas Ino, matanya merah menahan tangisia tak ingin terlihat lemah di depan siapa pun termasuk Naruto.

"Kau bisa menolaknya Ino"Suara Naruto melembut,sekarang apa yang ia bisa lakukan? undangan sudah tersebar ke seluruh Jepang bahkan ia harus bersiap-siap menerima tamu yang tak diundang yaitu para wartawan yang memblokade kantornya.

"Aku tidak bisa karena aku juga menginginkan sesuatu dalam pernikahan ini, satu-satunya cara agar aku tetap di jepang yaitu menerima perjodohan ini. Dengan begitu nenek mungkin tak akan mengusir ku lagi" Lirih Ino, pernikahan ini seperti bumerang dalam hidupnya. Yang siap memporak-porandakan kehidupannya jika ia tak hati-hati dalam menjalani misinya.

"Kau tidak tahu siapa sebenarnya calon suami mu Ino-chan, dia sudah punya kekasih. Kau tak mungkin merusak hubungan mereka bukan? Dan apa yang kau ingin sebenarnya?"

"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga kita" Ucap Ino, tangan putih itu mengambil kartu undangan yang tergeletak di atas meja. Untuk melihat siapa gerangan calon suaminya yang sudah punya kekasih.

Matanya mengernyit ketika melihat nama yang terbuat dari perak itu.

Sabaku No Garaa

Pria yang tempo hari di buru wartawan, serta pria yang dalam lift bersama gadis berambut secerah bunga sakura. Ino menelan ludahnya Pria berambut merah serta lingkaran hitam di kedua matanya tak lupa tatto kanji di keningnya pria itu yang akan menjadi suaminya. Matanya mengerjap beberapa kali tak percaya jangan-jangan undangan ini hanya ilusi tetapi tetap saja kedua nama itu tak berubah.

Sabaku No Garaa with Yamanaka Ino.

Oh kami-sama takdir macam apa lagi ini.

"Garaa yang akan menjadi calon suami mu dia musuh ku Ino-chan, dan dia juga adalah kekasih dari sahabat ku Haruno Sakura" Naruto mengacak rambutnya prustasi.

"Dan jangan berusaha mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga kita, karena itu akan membuat mu lebih sakit dari saat ini" Lanjut Naruto, tangannya mengepal ketika mengingat yang terjadi dalam keluarganya ia hafal betul setiap detail yang terjadi di masa lalu. Namun ia tak ingin membuat Ino lebih menderita, dulu ketika kecil ia tak mampu untuk melindungi gadis pirang di depannya sekarang dengan kedua tangannya Naruto akan berusaha untuk melindungi Ino apa pun yang terjadi.

"Apa kau mengetahui sesuatu Naru-chan?" Tanya Ino antusias. Naruto mendengus sebal saat ino menyebut nama kecilnya.

"Aku tidak tahu apa-apa, yang aku tahu kau adalah sepupu ku" Jawab Naruto yang jawabannya tidak di percayai sama sekali oleh Ino.

"Kau tahu kenapa nenek menjodohkanmu dengan Sabaku itu?" Tanya Naruto ia berusaha mengalihkan pembicaraan tentang masa lalu.

"Karena perusahaan sedang mengalami kesulitan, ayah mengalami kecelakaan ia koma selama satu minggu. Berita tentang ayah mengalami kecelakaan menjadi tranding tofic sehingga membuat saham perusahan mengalami pemerostan secara drastis. Kau tahu kapan tepat semuanya terjadi?"Wajah Naruto begitu terluka ketika menceritakan semuanya.

Ino menggeleng ia terlalu syok dengan fakta yang sedang di ucapkan sepupunya.

"Tepat setelah hari kematian ayah mu,"Ino tak mengerti harus seperti apa tubuhnya seolah kaku mendengar semuanya.

"Nenek sama sekali tidak memberitahu ayah tentang kematian paman Inoichi mereka bertengkar hebat saat itu. Lalu ayah memutuskan untuk ke London segera tetapi belum sampai menuju bandara ia mengalami kecelakaan. Tetapi Tuhan masih melindungi ayah ia selamat. hanya saja sampai saat ini ayah tak bisa berjalan. Lumpuh untuk sementara waktu"Suara Naruto terdengar menyedihkan

"Aku tidak tahu sama sekali Naruto. Maaf kan aku" Ucap Ino penuh penyesalan. Pikirannya kini di penuhi dengan keadaan pamannya. Mata Ino berkaca-kaca. Semua yang didengarnya seperti butiran peluru yang berdesing-desing menebus kepalanya. Tubuhnya lemas, aliran darahnya seperti terhenti.

"Ini bukan salah mu Ino, ini semua takdir dari rencana Tuhan. Aku hanya merasa gagal menjadi seorang anak untuk ayah ibu dan kakak untukmu tidak bisa melindungi perusahaan kau dan keluarga kita" Naruto menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Ino yang melihatnya merasa tersayat ia tak pernah melihat Naruto seperti menderita ini.

"Aku tetap menerima perjodohan itu tidak peduli ia sudah punya kekasih atau tidak. Yang penting perusahaan kita selamat"

"Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kau akan lebih menderita. Dan jika kau menerima ini semua itu berarti kita selalu kalah oleh wanita tua itu"

"Dengar! Tidak peduli apa pun yang terjadi aku tidak akan terluka sekali pun aku terluka aku akan berhenti dan meminta pertolongan mu. Aku berjanji pada mu Nii-san" Ino meyakinkan Naruto untuk menyetujui pernikahannya gadis itu tersenyum cerah.

Hati Naruto bergetar mendengar kata Nii-san dari mulut Ino, itu membuatnya terasa hangat seandainya Ino tahu kenyataan yang sebenarnya akan kah senyum itu tetap melekat padanya.

"Berjanjilah pada ku jika kau terluka berhenti lah dan datang pada ku. Dan jangan pernah mencoba untuk menggali masa lalu keluarga kita" Naruto mengangakat jari kelikingnya ke udara. Ino yang sudah mengerti mengikutinya dan mengangguk. Manautkan kelikingnya pada jari Naruto

' Tapi aku tidak bisa berjanji tentang masa lalu keluarga kita Naruto' Ucap Ino dalam Hati

Mereka tersenyum bersama. " kau harus ingat tanpa mengetahui masa lalu pun kau bisa hidup bahagia Ino" Ucap Naruto, yang di jawab anggukan oleh Ino

Semakin Naruo mencegah semakin gencar pula untuk Ino mengetahui segalanya. Hidup mu akan sulit jika kau mempersulitnya tetapi semua akan mudah jika memandangnya dengan kemudahan. Yamanaka Ino tak sadar bahawa apa yang didepannya akan membuatnya lebih mengetahui tentang puzzle kehidupan yang sesungguhnya.

.

.

.

.

."Kau yakin tidak ingin aku antar?" Tanya Naruto saat mereka tiba di ruangan neneknya.

"Tidak perlu. Bukankah kau ada rapat? Lagi pula wanita itu tidak mungkin memakan ku hidup-hidup kan?" Ino berusaha agar Naruto tidak ikut ke dalam karena ia tak ingin pembicaraan antar neneknya di ketahui oleh Naruto.

"Baiklah. Hati-hati" Naruto melangkahkan kakinya untuk kembali ke kantor tetapi langkahnya terhenti saat Ino mengucapkan sesuatu yang membuatnya mematung.

"Naruto, Apa kau tahu di mana Hinata tinggal sekarang? Sejak kembali ke jepang aku menghubunginya tetapi hasilnya nihil" Tanya Ino tentang sahabat lamanya Hyuuga Hinata.

"Bagaimana kabarnya sekarang ?" Ino terus menatap sepupunya penuh harap agar mengetahui tentang Hinata.

"Ino. Sebenarnya Hinata sudah…" Belum sempat Naruto melanjutkan ucapan seorang wanita paruh baya yang masih cantik memotong pembicaraan mereka.

"Kau sudah datang? Kenapa tidak langsung masuk saja" Ucap Tsunade yang tak lain nenek dari Mereka berdua.

"Aku pergi dulu Ino"Pamit Naruto, ia sama sekali tak melihat kearah neneknya. Jangankan memberi salam untuk menyapa pun Naruto enggan untuk melakukannya.

Tsunade terus memandang kepergian cucu kesayanganya dengan sedih. Sungguh buruk itu kah dia dimata Naruto?

"Bisa kita mempercepat semuanya?"Ino memandang Tsunade tak suka ucapan yang keluar darinya pun terkesan ketus.

"Jaga bicara mu. Apa Inoichi tak mengajarkan sopan santun pada mu?"Ucap Tsunade kata-katanya begitu penuh penekanan. Entah hanya perasaan Ino atau bukan tatapan Tsunade tak pernah berubah terhadapnya.

"Penuh kebencian dan rasa tidak suka yang mendalam. Kau sama sekali tidak berubah"Kata-kata itu meluncur dengan begitu mudahnya dari bibir mungil Ino. Tanpa meminta ijin masuk ia sudah melangkah terlebih dahulu memasuki ruangan neneknya.

"Inoichi benar-benar tak mengajarkan mu tatakrama yang baik"Tsunade memandang tajam Ino yang seenaknya duduk disofa.

"Aku tidak peduli apa pun yang kau katakan. Tetapi kuingatkan agar kau tidak membawa orang yang sudah meninggal ke dalam masalah kita yang masih hidup" Ino mencoba untuk tetap tenang tidak terpancing emosi, meski sebenarnya dadanya sudah naik turun menahan marah.

"Langsung saja apa yang ingin kau bicarakan?" Sambung Ino, gadis bermata aquamarine itu sungguh tak sanggup lagi jika harus berlama-lama satu ruangan dengan neneknya.

"Pernikahan mu tinggal dua hari lagi, undangan telah di sebar.."belum sempat Tsunade melanjutkan Ino sudah mencelanya.

"Aku tahu bukan itu yang akan kau katakan. Lagi pula tanpa kau beritahu pun aku sudah mengerti. Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan?'Ino tersenyum sinis, kemudian pandanganya beralih kepada Tsunade yang menatapnya tajam diliputi kemarahan.

"Setelah pernikahan di laksanakan mereka akan menyuplai dana ke perusahan kita. Tetapi mereka melakukannya dengan cara membeli saham yang berada di tangan orang lain untuk menguurangi rasa curiga dari pihak luar, berarti sekitar 30% saham akan di miliki Sabaaku. Tetap saja itu merupakan ancaman bagi perusahaan. Meski mereka bilang akan mengebalikannya setelah perusahaan stabil aku tidak mempercayai mereka" Tsunade menjelaskkan panjang lebar. Inoyang mendengarnya hanya mendengus sebal neneknya terlalu gila matanya melotot tak percaya nenknya sudah terlalu jauh untuk di hentikan.

"Dan satu-satunya cara agar perusahaan tetap di tangan kita. Setelah menikah kau harus melahirkan seorang anak agar kelak ia menjadi ahli waris dari Sabaku. Setelah kita mengusai seluruh kekayaan Sabaku kau harus menceraikan Garaa"Tsunade terus mengutarakan cara liciknya tak peduli dengan keadaan Ino.

Ino diam membeku. Tangannya terasa dingin seperti es. Lehernya nyaris tak sanggup menahan kepalanya yang memberat.

"Kau benar-benar menjadikan ku alat?" Geram Ino "Kau.." Suaranya tercekat di kerongkongan.

Seolah tak sanggup lagi mendengar ucapan Tsunade. Ino segera berdiri untuk melangkah keluar tetapi kedua lututnya terasa lemas tak bisa menahan berat tubuhnya, Ino hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada kursi. Pandangan mata Ino terasa kabur, kepalanya berdentam-dentam aseperti di pukul seratus benda tumpul.

Tsunade hanya memandang Ino dalam diam bahkan untuk menenangkan Ino pun tak terbesit dalam hatinya.

Ino terus melangkah keluar perasaannya benar-benar hancur. Sakit, kecewa, terluka, marah. Semua terasa membelenggu hatinya.

Sebelum benar-benar keluar ia menatap tajam Tsunade.

"Satu hal lagi yang harus kau ingat. Aku bukan Yamanaka Ino yang dulu. Jadi berhati-hatilah dengan rencana mu"

Brughh

Debaman pintu begitu keras Ino sudah tidak peduli dengan tatakrama.

Persetan dengan itu semua.

.

.

.

.

Di dalam taksi yang ditumpanginya tangis Ino pecah. Hatinya tak lagi merasa sakit air matanya mulai mongering. Semengerikan inikah kehidupan.

Dari luar taksi Ino sudah melihat hotelnya di kepung oleh wartawan. Cepat atau lambat Ino harus menghadapi mereka. Sebelum keluar Ino merapihkan penampilannya yang berantakan akibat menangis. Di keluarkannnya alat make-up setelah melihat wajahny ayang kembali bersinar Ino sudah mantap untuk menemui wartawan, tinggal satu sentuhan lagi kaca mata hitam untuk menutupi mata bengkaknya.

"Itu Yamanaka Ino" Teriak salah saatu wartawan. Mereka yang melihat Ino berjalan memasuki Hotel mulai mengerubuni Ino. Tim keamanan yang mulai menyadari situasi akan ricuh berusaha melindungi sang aktris.

"Ino-chan apa benar kau akan menikah dengan Sabaaku Garaa?"

"Bukankah Garaa sudah memiliki kekasih?"

"Mungkinkah ini adalah perjodohan untuk menyelamatkan perusahaan Namikaze?"

Semua wartawan terus membondong Ino dengan pertanyaan-pertanyaan. Sukurlah keamanan di hotel di perketat sehingga memudahkan Ino untuk melangkah masuk. Setelah melewati pintu hotel Ino terdiam sejenak. Mengembalikan badannya ia kembali menghadap semua wartawan.

Wartawan yang tak ingin kehilangan kesempatan mereka mengarahkan kilatan blitch pada Ino.

"Halo semuanya." Ino menyapa seluruh wartawan

"aku ingin mengklarifikasi semua berita tentangku. Aku Yamanaka Ino akan menikah dengan Sabaaku Garaa. Ini bukan hanya sekedar perjodohan tetapi kami memang sudah menjalin hubungan sebelumnya"jeda sejenak, Ino melihat semua wartawan menulis apa yag di ucapkannya.

"Dan aku adalah kekasihnya. Kami memang sepakat untuk tidak mempublikasikan tentang hubungan kami"

"Maaf kan kami yang sebelumnya tak mengabarkan berita bahagia itu"Ino membukukkan badannya ke seluruh wartawan. Wajahnya begitu innocent. Pantas saja ia selalu di anugerahi penghargaan aktingnya benar-benar memukau.

"Terimakasih" Ino membukukkan badanya sekali lagi, ia lalu melambaikan tangannya pamit undur diri tak lupa senyum lima jari masih melekat diwajahnya.

.

.

.

.Di lain tempat Garaa yang sedang memandang layar televisi tentang konfirmasi dari Ino ia hanya tersenyum sinis. mengeram kesal tak percaya apa dengan apa yang dikatakan Ino.

"Kau yang memulai semuanya lebih dulu, jadi jangan menyesal Yamanaka" Garaa langsung melempar remote yang sejak tadi di pegangnya ke dinding hingga remote itu hancur berkeping-keping (ahh remote yang malang untungnya bukan Ino yang di lempar)

"Akan ku tunjukan siapa sebenarnya Sabaaku Garaa pada mu" Garaa melangkah keluar meninggalkan kamar hotelnya.

.

.

Sesampainya di hotel Ino tak langsung kembali ke kamarnya melainkan pergi ke bar hotel, ia benar-benar butuh minum sekarang. Membuatnya mabuk adalah yang terbaik untuk saat ini.

Ia tak peduli lagi dengan orang-orang yang akan mengenalinya.

Ino memesan minuman beralkohol tinggi. 2 botol sudah ia habiskan tetapi ia tak knjung mabuk. Sungguh aneh apa ia kurang banyak meminumnya.

Bahkan ia tak peduli dengan tatapan semua orang yang memandangnya takjub yang masih belum mabuk. Sebagian pria ada yang memandangnya lapar. Ino memang cantik dalam hal fisik pesonanya tak mungkin terbantahkan.

Sepasang mata onyx sejak tadi memandangnya penuh minat, Ino yang sudah merasakan terus dipandangi menatap balik. Onyx itu terdiam menunggu reaksi Ino, jauh dari dugaan sang pria Ino malah mengacungkan gelasnya.

"Mau bergabung?" Setelah di ijinkan mendekat pria itu berjalan kearah Ino.

"Siapa nama mu?sepertinya aku pernah bertemu denganmu?' Tanya Ino ketika pria itu sudah duduk di hadapannya. Ia menuangkan minum ke gelas kosong di depannya.

"Terimakasih" Dengan senag hati sang pria menerimanya dan meminum dalam sekali tegukan.

"Aku Sasuke, Kita pernah bertemu di dalam lift saat itu kau mengenakan t-shirt I am single"Ucap pria itu yang tak lain adalah Sasuke.

Ino mengernyitkan dahinya berusaha mengingat, setelah mengingatnya Ino malah terkekeh kecil.

"Apa ada yang lucu?" Tanya Sasuke bingung.

"Tidak hanya saja aku teringat tentang T-shirt nya. Aku Yamanaka Ino, panggil saja Ino"

"Hn"

Mereka berdua langsung larut dalam obrolan tetapi apakah bisa di sebut obrolan jika hanya Ino yang berbicara tentang masalah yang terjadi dalam kehidupannya.

Ino sendir tak tahu kenapa ia begitu mudah mempercayai pria dihadapannya sehingga ia menceritakan semuanya.

"Kau bukan wartawan yang sedang mengorek informasi dariku kan?'Tanya Ino yang mulai waspada. Sejak tadi Sasuke tidak merespon ucapannya pria berambut raven itu hanya menjawab 'Hn'

"Apa wajah ku mengatakan seperti itu?" Sasuke balik bertanya.

Ino menggeleng pelan, "Gomen. Dan terimakasih telah mendengar cerita ku"

"Dengar Yamanaka Hidup itu seperti puzzle yang harus kau susun tidak peduli apa pun yang terjadi kau harus menyusunnya bahkan…..."

" Jika salah satu potongan itu rusak, bukan berarti kau harus berhenti untuk menyusun puzzle. Kau harus tetap mempersatukan potongan-potongan yang lain. Begitulah hiduh. Tidak peduli apa pun yang terjadi kau harus terus melangkah kedepan untuk membentuk takdir mu yang lain" Ino menyambung ucapan Sasuke. Ia menatap Sasuke heran dari mana Sasuke tahu tentang kata-kata itu.

"kata-kata itu?'

"Kekasih ku yang mengatakannya"Jawab Sasuke, ia beranjak dari kursinya.

"Maaf Ino aku harus segera pergi" Belum sempat Ino mencerna semuanya Sasuke sudah menghilang dari pandangannya.

Kekasih? Ino terus menguras otaknya untuk berpikir.

Yahh.. Gelang itu milik Hinata jadi ia kekasih Hinata.

Ino yang sudah menemukan jawabannya segera bergegas menyusul Sasuke untuk menanyakan keadaan Hinata. Tetapi terlambat ia kehilangan jejaknya.

.

.

.

.

Ino kembali ke kamarnya, tetapi matanya di kejutkan oleh kehadiran calon sang suami yang tengah bersandar di depan pintu kamarnya.

Ino mendekat, Garaa masih memejamkan kedua matanya Ino melihat penampilan Garaa pria itu memakai celana panjang bahan berwarna coklat serta kemeja abu-abu yang lagi-lagi ia biarkan tidak terkancing tiga dari atas. Kedua tangan dibiarkan masuk kedalam kantung celana.

Tuhan benar-benar memahat Garaa dengan sempurna.

"Terpesona pada ku Yamanaka?" Tanya Garaa ia menatap Ino brgitu intens.

"Itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu. Bisakah kau menyingkir" Ino mendengus kesal

Dengan patuhnya Garaa mengikuti perintah Ino, tetapi dengan gerakan cepat Garaa memutar posisi ia menarik tubuh Ino dan membenturkannya ke dinding hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Ahh.. Apa yang kau lakukan?" Teriak Ino, ia berusaha melepaskan kukungan Garaa semakin ia berusaha Garaa semakin erat mencengkram tangannya. Ino terperangkap dan terpojok.

"Yang aku lakukan? Menjalankan peran sebagai kekasih" Bisik Garaa tepat di telinga kanan Ino.

Membuat sang gadis menahan nafas seketika. Garaa membelai pipi Ino jarak di keduanya begitu dekat. Bahkan Garaa bisa merasakan nafas Ino yang mulai memberat.

"Berapa ayah ku membayar mu untuk menjadi istri ku? Ahh.. atau lebih tepatnya berapa saham yang ayah ku beli dari perusahaan mu" Ucap Garaa

"Aku akan membayar mu dua kali lipat jika kau membatalkan pernikahan ini tetapi aku menginginkan tubuh mu sekarang juga" Lanjut Garaa, wajahnya menyeringai.

Ino membulatkan kedua mata nya tak percaya. Ia baru saja di tampar secara tidak langsung oleh Garaa. Wajahnya cantik memerah padam menahan marah.

"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, lepaskan aku sekarang juga atau…"

"Atau apa nona manis? Kau sungguh pandai berakting berpura-pura kau adalah racun yang mematikan"

Plak

Ino menampar Garaa begitu keras dan mendorongnya hingga pria menjauh beberapa langkah dari posisi semula.

"Aku bukan wanita murahan mu Tuan. Menjauhlah sebelum kau menyesalinya"Ino menatap tajam. Tak terima di remehkan Garaa menarik Ino lagi dan membenturkannya ke dinding tanpa bicara apa pun ia mengeleminasi jarak di antara keduanya. Ino membelalakan matanya Garaa menciumnya. Ia memukul dada Garaa berusaha melepaskan ciuman sepihak itu tetapi itu tak menggangu Garaa.

Garaa terus mencium bibir mungil Ino. Manis itu lah kata yang terbesit dalam pikiran Garaa saat menghisap bibir Ino. Ia terus melumat dan menggigitnya hingga membuat Ino membuka mulutnya tak menghilangkan kesempatan yang ada ia mengeksplore seluruh isi mulut Ino.

Ino masih tidak membalas ciuman Garaa, tetapi bukan Garaa namanya jika ia tak bisa menaklukan wanita. Tangan Garaa perlahan mengusap perut hingga punggug belakang Ino, dan tangan itu terhenti menangkup wajah Ino untuk memperdalam ciumannya

Seberapa kerasnya Ino untuk bertahan akhirnya ia terbuai juga ia mencengkram rambut Garaa yang begitu halus agar lebih dekat. Saat Ino sudah membalas ciumannya Garaa melepaskan begitu saja, terlihat jelas raut kecewa di wajah sang gadis Yamanaka.

"Sekarang kau benar-benar terlihat seperti gadis murahan milik ku" Garaa meninggalkan Ino begitu saja.

Sesak itu yang ia rasakan sekarang. Ia terlalu bodoh terjebak dalam pesona Garaa.

Ino memukul-mukul dadanya semuanya teras begitu menyakitkan. Hari ini Kami-sama benar-benar memberinya banyak kejutan.

"Ino-chan Kau baik-baik saja?" Tanya Tenten yang sudah ada di samping Ino.

"Sejak kapan kau disini?" Ino balik bertanya.

"Sejak kau melakukan ini"jawab pria di samping Tenten yang tak lain Naruto, ia mempraktekan Ino yang tengah memukul dadanya.

"Aku hanya sedang berolahraga menghilangkan stress menjelang pernikahan"Jawab Ino asal. Ia tak ingin membuat Tenten dan Naruto khawatir.

"Oh ya Naruto. Apa kau mengenal Sasuke? Apakah benar ia kekasih Hinata?" Tanya Ino .

"Eumm Ino sebenarnya Hinata.." Naruto tak snaggup untuk memberitahu sepupunya.

"Kenapa dengan Hinata?"

"Ia sudah meninggal"Lirih Naruto.

Ino diam mematung tubuhnya benar-benar mati rasa sekarang. Sebegitu kejamkah dunia ini?.,

Tuhan tidak akan menguji umatnya melebihi batas kemampuan umat itu….

_TBC_

Hoi-hoi aku bawa chapie 2 puzzle: tears are falling.

Fict ku benar-benar ancur bukan kawan?

Chap ini butuh perjuangan. Aku rela bawa-bawa laptop ke kampus demi menyelesaikan chap ini.

Tetapi dewi fortuna tidak sedang berpihak kepada ku. Hujan turun deras. Aku terjebak di kampus, pada hal sudah tidak ada mata kuliah lagi. Akhirnya sambil menunggu hujan reda aku menyelesaikan fict ini.

Maafff jika mengecewakan kalian.