"Meet in Hospital"

LEE BONBONIE *a.l.m.b.e*

Genre : Romance and Sad

Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Kibum aka Key, Park Yoochun, Shim Changmin, Park (?) Seulgi, Lee Jinki aka Onew, ETC.

Length : 2shoot. 2 of 2 (end)

Rated : T-M (for words)

Warning: GS (genderswitch), typos bertebaran, tidak sesuai EYD probably, OOC, DLDR.

NOTE : Mungkin cerita pasaran. Masih perlu perhatian dan pembelajaran. Cerita murni hasil pemikiran, penglihatan dan imaginasi yang muncul di berbagai tempat. Jika ada terdapat kesamaan di lain cerita, itu hanya kebetulan yang tidak disengaja.

THANKS BEFORE

summary :dia tidak memakai kaca mata lagi/ Apa ini namanya ketertarikan yang muncul pada pandangan pertama?/ apa aku harus memanggilmu oppa?/ Yunho adalah perawat magang. Jaejoong sakit dan Mereka bertemu di rumah sakit.

..

Rumah sakit sedang lenggang, tidak sesibuk kemarin. Para pasien pun masih terlihat tidur di beberapa (banyak) kamar.

Pagi itu terasa segar tetapi Yunho dan kawan sepekerjaannya merasa begitu lelah, mereka berjaga malam dan sekarang mereka merasa begitu lemas dan mengantuk. Yunho akan pulang ke rumah pagi ini karna sudah waktunya dia untuk istirahat dan nanti ia akan kembali ke rumah sakit lagi untuk bekerja.

Yunho adalah mahasiswa tingkat akhir yang hampir lulus dan sedang magang bekerja di Bon Hospital. Bisa di bilang ia sudah di terima bekerja disana secara terikat karena ia sudah menerima panggilan bekerja beberapa bulan yang lalu. Hanya menunggu wisudanya, ia akan lebih bersyarat untuk menjadi perawat dan status magangnya akan langsung terganti menjadi Pegawai tetap.

Yunho membasuh wajanya di wastapel toilet pegawai dan mengelap wajah lelahnya yang basah dengan tisu dan membuangnnya di tempat sampah.

"ahh ngantuknya" Yunho memijat-mijat lehernya dan menggerak-gerakkan kepalanya kesegala arah untuk merilekskan lehernya yang sedikit tegang. Ia masih berdiri di depan wastapel yang berbingkai kaca besar.

"Hei Yun"

"Ya Park Yoochun! kenapa wajahmu sangat mengerikan!" Yunho terkejut dan bergidik melihat wajah Yoochun yang berbingkai mata merah dan terlihat bengkak serta rambut yang tidak tertata rapi. Wajahnya sangat kusut.

"hah, pasienku adalah seorang kakek kuat yang selalu teriak-teriak saat kami akan menyuntikkan obat padanya, ia akan meloncat dari ranjang pasien untuk melawan" Yoochun menggaruk samping belakang kepalanya dan memejamkan matanya yang sangat lelah.

Yunho meringis melihat kawannya itu begitu memprihatinkan, untung saja ia mendapatkan pasien yang gampang dan tak mengerikan seperti itu.

"untung saja pasienku adalah ibu-ibu yang tenang"

Yoochun membasuh wajahnya dan sedikit membasahi rambutnya agar lelihat lebih fresh "enak sekali kau!"

Yunho tersenyum senang karena merasa beruntung.

..

..

Jaejoong sudah mulai menjalani rawat inap di Rumah sakit hari ini dan ia sebentar lagi akan berangkat ke sana.

Jaejoong belum memberitahukan penyakitnya pada sahabat satu-satunya itu alias Key dan ia merasa menyesal karenanya. Jaejoong hanya tidak mau orang merasa kasihan padanya yang begitu menyedihkan menurutnya. Masih muda harus menerima penyakit mengerikan. Entah kapan ia akan memberitahukan pada Key.

"Joongie kau sudah siap belum? Ayo berangkat"

Jaejoong melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Jam sepuluh lebih. Jaejoong mengehembuskan nafas. Ia harus semangat dan harus tabah menghadapi ini.

"ne eomma! aku sudah siap!" Teriaknya nyaring dari dalam kamarnya agar eommanya bisa mendengarnya.

..

..

Jaejoong sudah berada di dalam kamar inapnya. Ada empat ranjang dalam satu kamarnya. Dan jaejoong mendapatkan ranjang yang dekat dengan jendela menghadap pemandangan luar. Jaejoong juga sudah mengganti bajunya dengan baju pasien dan sudah di infus oleh perawat wanita tadi di tangan kanannya. Jadwal operasinya belum di tentukan karena masih harus dilakukan pemeriksaan.

"Tunggu di sini, eomma akan membeli roti"

Jaejoong mengangguk dan mulai mengedarkan pandangannya pada ruangannya. Kosong hanya ada dia yang mengisi.

"kenapa sangat sepi di sini"

Jaejoong berpikir apa hanya ia di kota ini yang mendapat penyakit seperti itu sehingga tidak mempunyai teman sepenyakit. Jaejoong meringis, betapa tidak beruntungnya dia.

Jaejoong berbaring dan mulai memainkan Handphonenya dengan tangan kirinya.

KRIETT

Seseorang masuk dan langsung mengalihkan perhatian Jaejoong dari handphonenya.

..

..

Jaejoong hanya tersenyum menanggapi ibu-ibu hamil yang mengisi tempat di depan dan sebelah kanan ranjangnya. Pasien yang mengisi di sebelah kananya adalah ibu hamil dan di seberang ranjangnya adalah ibu yang menderita penyakit Kista.

Jaejoong mengangguk mengerti, ia menspekulasikan bahwa kamar ini untuk orang yang melakukan operasi pada perutnya.

Mrs. Kim datang dan langsung melihat ada pasien lain selain anaknya disini. Ia menyapa sebentar pada ibu hamil tersebut. "wah anak keberapa?"

Ibu muda itu tersenyum. "kedua"

"hmm anak pertama apa?"

"perempuan"

"aku rasa anakmu laki-laki kali ini"

"benarkan? dari mana anda tahu" terselip nada senang disana. Ia sangat mengharapkan anak laki-laki yang lahir kali ini.

"aku bisa melihat dari wajahmu" Kata Mrs. Kim tersenyum.

"baiklah aku datangi anakku dulu ya"

"ne gamsahamnida ahjumma" wanita itu menundukkan kepalanya sebentar dan membaringkan tubuhnya untuk istirahat, ia menunggu suaminya yang masih belum juga selesai dengan urusan resepsionis.

"Joongie ini makan roti dulu"

Jaejoong mengakat wajahnya yang sebelumnya menunduk pada layar hpnya.

"Ne eomma" dan yang Jaejoong lihat lagi, eommanya kembali bercengakrama bersama ibu yang berada di seberang ranjang Jaejoong yang menderita Kista. Eommanya memang suka berteman dan selalu ramah pada orang.

..

..

Yunho kali ini mendapat pertukaran pasien. Ia harus menjaga pasien di ruang nomor tiga puluh enam yang ruangannya diisi oleh ibu hamil.

Yunho mengangguk mengiyakan pertukaran ini, di manapun ia ditempatkan, ia tidak merasa keberatan, semua ini memang kerjaannya jadi ia tidak boleh menolak.

"baiklah kembali bekerja!"

Semuanya bubar saat atasan selesai dengan menjelaskan pertukaran ruang, dan mereka kembali melanjutkan kerja dengan beberapa yang akan ke ruang pasien baru mereka.

"Apa kau yang berjaga diruang tiga puluh enam? botol infus anakku akan segera habis"

Yunho mendongak saat sebelumnya membaca data tiga pasien yang akan dia pegang.

Yunho mengangguk. "ne nyonya, maaf tunggu sebentar saya akan mengambilkan, silahkan anda masuk kembali"

Mrs. Kim mengangguk dan kembali ke kamar anaknya.

Yunho mengambil satu botol dan membawanya ke kamar tersebut, kaca mata bacanya ia lepas dan menaruhnya di meja yang sebelumnya ia duduki.

KRIETTT

Bunyi pintu tergeser dan Yunho masuk dengan sebelumnya menundukkan kepalanya sebentar pada pasien yang ada di dalam dan memberikan senyum simpul.

Jaejoong sedang melamun memikirkan sekolahnya, rawat inapanya pasti akan berlangsung lama dan ia akan banyak ketinggalan pelajaran.

"hah nilaiku bagaimana" desahnya.

Jaejoong baru tersadar saat merasakan kabel infusnya bergoyang dan ada perawat namja yang sedang memasangkan botol infusnya.

Jaejoong mendongak melihat pada namja itu.

'dia yang menabrakku kan?' Jaejoong mengingat perawat di sampingnya ini yang menabraknya saat ia pertama kali datang periksa.

Perawat itu tersenyum simpul pada Jaejoong.

'dia tidak memakai kaca mata lagi'

"Bagaimana parasaan mu, apa ada keluhan?" Tanya Yunho yang sudah memegang buku catatan kecil untuk mencatat keluhan Jaejoong.

Jaejoong membuka bibirnya. "biasa saja, tidak ada keluhan"

"Baiklah saya permisi dulu jika ada keluhan bisa panggil saya" Yunho memberikan senyumnya pada Jaejoong dan di balas anggukan oleh Jaejoong. Wajah Jaejoong hanya menunjukkan raut wajah biasa, tapi di dalam dirinya ia merasa begitu terpesona pada perawat di depannya itu. Bahkan matanya masih memandang pada punggung perawat yang semakin menjauh itu.

Mrs. Kim menyempatkan berterima kasih pada Yunho dan dibalas Yunho dengan senyuman.

..

..

Yunho tahu dan masih ingat dengan jelas jika Yeoja yang baru saja diperiksanya itu adalah Yeoja yang ia tabrak beberapa hari yang lalu.

Ia tersenyum membanyangkan hal yang menurutnya aneh. Ada apa dengan dirinya. Entah kenapa ia merasa sedikit tertarik pada gadis itu. Aneh sekali. Apa ini namanya ketertarikan yang muncul pada pandangan pertama?, Yunho terkekeh.

Dibacanya data yang ada di pegangannya. Data untuk pasiennya.

"Kim Jaejoong tujuh belas tahun, tumor"

Yunho terdiam memandangi tulisan itu. Hatinya merasa sedih melihat data yeoja itu. Pantas saja yeoja itu terlihat begitu sedih di matanya dan juga sangat pendiam, ternyata ia mempunyai penyakit yang cukup mengerikan di umur mudanya.

..

..

Malam ini di ruangan Jaejoong, pasien yang berada di seberang ranjang Jaejoong mengeluh tentang dirinya yang sakit di bagian pinggang kanan. Ketua perawat datang bersama dua perawat lainnya termasuk Yunho. Yunho ikut karena ingin melihat wajah Jaejoong yang selalu terbayang-bayang dipikirannya. Oh apa sekarang ia sedang mendapat serangan cinta dari seorang Kim Jaejoong yang terlihat berantakan itu. Ia sudah merasakan dirinya begitu penasaran dan juga ketertarikan pada gadis itu setelah kurang lebih satu minggu ini.

Saat masuk keruangan Jaejoong tadi, Yunho hanya bisa melihat punggung Jaejoong yang sedang memandang pada lelampuan atau mungkin juga bintang-bintang yang ada di depan kaca jendela sebelah ranjangnya. Rambut Jaejoong begitu berantakan tak tersisir, wajahnya pun tidak terpoles bedak sedikitpun tapi kenapa Yunho selalu merasa berbunga saat melihat wajah polos Jajeoong memandang padanya.

Yunho melirik-lirik pada Jaejoong yang tidak memandang padanya. Yunho berharap Jaejoong memandang padanya agar ia bisa merekam wajah polos Jaejoong secara keseluruhan dengan sempurna.

Yunho terdiam saat melihat Jaejoong menoleh dan memandang padanya. Terpana tampa sebab dengan mata Jaejoong yang terlihat menyelam padanya.

"Yun! Yunho-ah!"

Yunho tersadar saat mendengar nada bentakan dari teman seperawatnya.

"ah jwaesonghamnida"

"ambil suntikan dan bawa obat neoromin juga!"

Yunho langsung mengagguk dan berlari saat menerima perintah dari kepala perawat. Astaga ia tadi terlalu terpaku pada Jaejoong sehingga melalaikan tugasnya.

Yunho kembali dengan cepat dan terburu, tapi langkahnya kali ini malah membawanya ke ranjang Jaejoong. Ia terdiam. memikirkan keerobohan keduanya yang sangat tidak fokus dan memalukan.

Jaejoong kebingungan saat perawat yang ia tahu berwajah tampan itu membawa obat kepadanya.

'bukankah untuk ibu itu' batinnya.

Yunho menggaruk tengkungnya dan dengan cepat mangalihkan langkahnya berbalik arah menghampiri ranjang ibu yang menderita kista. Ia menunduk sebentar pada perawat kepala dan menyengir minta maaf.

Jaejoong terkikik dan tersenyum melihat kekonyolan yang baru saja terjadi. Astaga itu sangat lucu menurutnya dan itu cukup menghiburnya. Jaejoong pun melanjutkan aktivitasnya sebelumnya, memandangi bintang dan lampu-lampu komplek rumah yang dekat dengan bangunan rumah sakit.

Yunho berdebar saat matanya tak sengaja melihat Jaejoong menertawainya dan tersenyum manis. Ternyata senyumnya sangat manis. Pikir Yunho. Ia pun kembali memfokuskan dirinya pada pasien yang masih di urus oleh kepala perawat walaupun tanpa disadarinya matanya selalu melirik-lirik berulang pada Jaejoong yang kembali pada aktivitas memandangi malam.

..

..

Setiap pemeriksaan, Yunho selalu menyempatkan untuk mencoba mengobrol dengan Jaejoong, awalnya Jaejoong begitu pasif dan bingung untuk merespon, tetapi akhirnya ia hanya merespon dengn sikap biasa. bagaimanapun ia tidak merasa harus mempunyai teman atau mendapatkan kekasih *mungkin* saat di rumah sakit ini. Ia rasa ia hanya harus fokus pada penyakitnya dan penyembuhannya. Tetapi setiap Yunho datang dan mencoba bertanya keluhan ataupun hal diluar pertanyaan dari penyakit Jaejoong, entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga saat melihat Yunho tersenyum begitu tampan kepadanya. Ia sepertinya menyukai perawat tampan itu. Lalu apa yang harus Jaejoong lakukan? menyakatan perasaan? tidak mungkin baginya. Sudahlah, mungkin Jaejoong hanya akan menganggap perasaannya angin lalu. Ia disini untuk penyembuhan dan belum saatnya untuk memikirkan kekasih.

Jaejoong medesah bosan. Tidak ada ibu ataupun Changmin yang menemaninya seperti biasa. Ia juga tidak tahu kenapa jam segini ibu dan Changmin belum datang.

Jaejoong sudah di rumah sakit selama sepuluh hari dan ia belum juga dioperasi karena ia kekuarangan darah, sehingga ia harus di tambah darah dulu. Darahnya adalah O. Yang Jajeoong tahu orang yang berdarah O itu kuat tapi kenapa darahnya tidak bisa melawan penyakit mengerikan yang dideritanya. Jaejoong merengut memikirkan itu. Mungkin darah O bukan darah Kuat!. Changmin mempunyai darah A dan sangat Jarang sakit. Ia selalu iri pada Changmin!.

Saat ini Jaejoong sedang ditambah darah dan ia tidak boleh duduk ataupun bergerak banyak, hanya boleh berbaring.

Jaejoong meringis saat merasakan darah masuk mengalir pada dirinya. Sesi pengisisan darah adalah yang paling sakit untuknya. Selama sejam-an darah itu baru akan kosong dari tempatnya dan Jaejoong harus menahan sakit jika itu mengalir kepadanya, ditambah ia tidak bisa bergerak banyak dan berduduk.

"aduh" keluh Jaejoong meringis kesakitan pada pergelangan tangannya yang menyambungkan darah masuk.

Key datang menjenguknya beberapa kali beberapa hari yang lalu dan itu yang pertama kalinya. Key hampir menangis melihat Jaejoong yang terlihat lemah terbaring di ranjangnya.

'kenapa kau tidak bilang padaku!' katanya menahan tangis.

Jaejoong tersenyum tenang 'aku tidak mau kau khawatir dan memandang menyedihkan padaku'

'kau jahat sekali! tidak menganggap ku sahabatmu!'

'kau ini selalu cerewet sekali! sudah jangan menangis, setelah operasi ini, semua akan selesai! dan kau tentu saja sahabat terbaikku! emm terima kasih buah yang kau bawa sangat banyak!'

'huhuhu Jaejoong kau jahat sekali padaku!' Key menangis tersedu sambil mengelap lelehan air matanya yang susah berghenti.

'dasar cengeng'

Jaejoong tertawa membanyangkan kedatangan pertama Key ke rumah sakit. Key menangis sangat histeris sehingga Jajeoong kesusahan menghentikan tangisan Key.

Jaejoong memandang kesekelilingnya dan tidak menemukan orang lain selain dirinya diruangan ini. Mungkin pasien lain sedang cek ke lantai satu. Cek langsung ke dokter untuk memberikan keluhan. Pagi tadi dokter tidak datang ke ruangan mereka, entah Jaejoong juga tak tahu. Mungkin dokter lupa, Pikirnya. Pikiran yang tidak asuk akal tapi hanya itu yang terpikir di otaknya. Jaejoong akan cek jika eommanya datang nanti.

KRIETTT

Jaejoong mendongak dan mendapati perawat bernama Yunho itu masuk keruangannya.

'periksa lagi? kenapa cepat sekali?'

Yunho tersenyum. "hai! hmm ada keluhan?"

Jaejoong hanya memberikan senyum seadanya untuk membalas senyum Yunho.

"Tidak ada"

"ah baiklah aku periksa tensi mu dulu"

Jaejoong mengangguk.

"110/90 sip normal" Yunho lagi-lagi tersenyum. "di mana ibu mu?"

"belum datang"

"ahh, apa kau butuh sesuatu? em makanan?"

Jaejoong tertawa kebingungan "ahaha. tidak perlu"

"oh.. hahah"Yunho tertawa garing dan membuat Jaejoong tambah terkikik. Poin plus untuk Yunho karena melihat wajah ceria Jaejoong yang selama ini selalu murung.

"hmm boleh aku memanggilmu Jaejoong-ah?"

Jaejoong mengangguk, mendapat teman disini lumayan juga untuk menghilangkan rasa suntuknya.

"kau Yunho?"

Yunho tersenyum. "ternyata kau sudah tahu namaku"

"aku tahu sejak kau salah memberikan obat saat itu" Jaejoong kembali terkikik saat mengingat itu. "sepertinya kau lebih tua dariku, apa aku harus memanggilmu oppa?"

"terserah padamu saja menanggilku apa"

"apa kau seorang mahasiswa?"

"ne aku sudah semester akhir. Jaejoong-ah, apa kau su-"

KRIETTT

"noonaaaaa"

"Changmin jangan teriak!" seru Mrs. Kim.

Yunho menghentikan perkataannya dan langsung bungkam, ia gugup saat melihat ibu Jaejoong datang.

"noona!"

"ah aku permisi dulu Jaejoong-ah" Yunho memberikan senyumannya untuk Jaejoong dan .

Jaejoong mengangguk dan membalas tersenyum manis.

..

..

Yunho tersenyum senang saat ia keluar dari kamar inap Jaejoong. Tadi itu hanya alasannya saja untuk memeriksa Jaejoong, pemeriksaan untuk Jaejoong masih dua jam lagi. Hanya agar ia bisa mengobrol dengan Jaejoong dan akhirnya ia menggunakan cara itu.

Yunho senang karena berhasil membuat percakapan yang cukup panjang dan menyenangkan dengan Jaejoong, ia juga akan di panggil 'oppa' oleh Jaejoong. Oh kenapa ia merasa seperti remaja yang jatuh cinta. menggelikan sekali.

"hei kau terlihat senang sekali Yun!"

"Ah yoochun-ah, tidak apa kok!" katanya sambil tersenyum miring.

"kau menyukai pasien remaja itu ya?"

Yunho mengerutkan alisnya hampir menyatu. Bagaiman Yoochun bisa tau, pikirnya.

"kau tahu dari siapa?"

"apa! jadi benar?! aku tadi hanya menebak!"

Yunho tergagap dan kelabakan. Panik mulai menyerangnya. "mwo?! Ya kau tidak boleh bilang pada yang lain!"

"ahaha kau lucu sekali, segitu saja panik, aku bukan penyebar gosip kok. Dun worry"

"awas saja kau"

Yoochun bersiul "hmm love in hospital"

"ya! diam!"

..

..

Hari ini ternyata Jaejoong operasi dan Yunho tidak sempat melihat ia masuk ruang operasi. Yunho sedih dan ketakutan jika berita buruk datang tentang Jaejoong tetapi ia menggeleng. Operasi seperti itu pasti tidak terlalu beresiko, jadi Jaejoong pasti selamat.

Yunho juga sedih karena kepala perawat memberitahukan bahwa akan ada pertukaran ruangan lagi dan ia pasti tidak bisa melihat Jaejoong seeing-sering.

"hah kenapa aku dapat lantai empat!"

ruangan Jaejoong di lantai dua dan jika ia bekerja dilantai empat, pasti skala bertemu Jaejoong menjadi begitu mustahil. Yunho menghela nafas kecewa.

"Yu-"

"main seulgi-ah, aku sedang pusing!" tanpa mendengar perkataan dari seulgi lagi, Yunho langsung berlalu pergi.

Seulgi cemberut, ia bahkan belum selesai berbicara.

..

..

Yunho terkejut saat mendengar dari teman perawatnya yang menjaga di ruangan Jaejoong mengatakan pasien bernama Jaejoong akan pulang hari ini. Astaga! apa yang harus ia lakukan. Sudah seminggu ini ia tidak mendatangi dan menyapa Jaejoong, ia sibuk dengan pasiennya yang sering mengamuk. Ia mendapat pasien yang susah untuk ruangannya.

Yunho langsung bergegas untuk mendatangi kamar Jaejoong dan melihat lewat kaca pintu, Jaejoong sedang bersiap-siap untuk pulang, ada ayah, ibu serta adiknya yang Yunho tahu bernama Changmin.

Yunho ingin masuk rasanya tapi ia takut dan malu. Ia bukan siapa-siapa Jaejoong. Yunho mendesah frustasi, apa ini perpisahan untuknya dan Jaejoong. Yunho menggeleng, ia tidak mau itu. Ia belum sempat menyatakan perasaannya. Saat itu saat ia ingin menyatakan perasaan pada Jaejoong, ibunya dan Changmin datang, jadi Yunho mengurungkan niatnya.

Yunho menunggu diluar. Mungkin saat Jaejoong keluar dari kamar ia akan mengajak Jaejoong untuk berbicara.

Handphone Yunho berdering dan yunho langsung mengangkat terlpon yang ternyata berasal dari Yoochun itu.

"wae chun?"

"ya! kau kemana?! pasien kita mengamuk! aku butuh bantuanmu! cepat kesini, perawat kepala sudah marah padamu yang menghilang tiba-tiba. Kau mau dipecat!"

"ya. ya.. tunggu!"

Yunho berdecak. Bingung harus kembali ke pekerjaannya dan membantu Yoochun atau menunggui Jaejoong.

Akhirnya ia menggerakkan kakinya untuk pergi, Jaejoong akan ia pikirkan nanti.

..

..

Jaejoong kecewa saat perawat yang ia tahu bernama Yunho yang sempat berbincang beberapa kali dengannya itu tidak pernah ia lihat lagi semenjak ia pamit saat ibunya dan Changmin datang.

'apa ia tidak bekerja lagi?'

Jaejoong melambatkan langkahnya ia masih berharap bisa melihat perawat tampan itu saat ia pergi dari ruangannya.

Jaejoong menunduk sedih, ia sudah di pintu utama keluar masuk rumah sakit dan setelah puas mengelilingkan matanya untuk mencari Yunho, tetap saja ia tidak menemukannya. Sepertinya memang hari itu adalah akhir dari mereka.

END

KIDDING :)

TWO MONTH LATER

Jaejoong memutar bola matanya malas. Menurutnya Key terlalu berlebihan. Menangisi Jinki yang kecelakaan karena sepedanya menabrak sepeda lain.

"bagaimana jika dia patah tulang, hilang ingatan, gegar otak?, bahkan mati?! hueee aku tidak punya teman untuk kejar-kejaran lagiii"

Jaejoong rasa alasannya bukan 'tidak punya teman untuk kejar-kejaran lagi' tapi lebih kepada KEY ITU MENYUKAI JINKI. Jaejoong tentu tahu itu. Ia juga menyadari jika Jinki juga menyukai Key karena hanya Key lah yang selalu ia ganggu dan juga berikan senyum. Orang lain belum tentu mau ia berikan senyum karena bisa dikatakan Jinki itu cuek pada sekitar kecuali Key, Aneh memang tapi itulah faktanya. Ia juga pernah sih di berikan senyuman oleh Jinki yang biasa Key panggil Dubu itu, tapi dengan Key, Jinki selalu memberikan berbagai senyumam, dari jail, bahagia, cool sampai menggoda. Bukankah itu terlalu jelas. Sebagai info jika Jinki itu sedikit (banyak) populer karena kepintarannya.

Jaejoong sekarang menjadi gadis yang kembali ceria seperti sebelumnya. Penyakit tumornya sudah diangkat habis oleh dokter dan ia merasa lega karena itu. Walau sebenarnya ia cukup sedih karena mengetahui satu rahimnya di ambil dan ia takut tidak bisa hamil, tetapi eommanya memberitahunya jika satu rahimnya masih bisa dipergunakan untuk hamil sehingga ia merasa cukup tenang.

"hmm berhentilah menangis, nanti kita jenguk dia di rumah sakit, kau sudah dapat nomor kamarnya kan?"

Key mengangguk dan mengelap wajahnya dari air matanya yang membasahi.

"diamlah, pulang sekolah kita jenguk!"

..

..

Jaejoong dan Key sudah berada di ruangan rawat Jinki. Wow ruangannya VIP, Jaejoong berdecak, Jinki orang kaya ternyata.

"Yak dubu pabbo, kau itu mau mati ya!"

Jaejoong hanya diam memandangi pasangan didepannya itu.

Jinki hanya tersenyum menanggapi omelan dari gadis yang disukainya itu. Mungkin kali ini ia akan menyatakan perasaanya pada Key karena hanya ada dia dan Key di ruangan ini. Entah kemana Jejoong yang ia lihat tadi berdiri di dekat pintu, Jinki tak mau memusingkan itu.

"Key-ah. Nan niga johayo" Katanya sambil tersenyum manis.

Key balas tersenyum, "maaf! orang yang jadi kekasihku harus mengabulkan tiga permintaanku dulu" katanya jail.

Jinki tersenyum menggoda. "siapa bilang aku memintamu menjadi kekasihku?"

"YAK!"

..

..

Jaejoong sedang duduk di kantin rumah sakit, percuma ia datang bersama Key karena ia seperti obat nyamuk yang tak laku saat pasangan yang heboh dikelasnya itu bertemu. Lebih baik ia menyingkir diam-diam.

Jaejoong menyedot minuman dinginnya dan memandangi kesekeliling kantin. Dan tanpa sengaja matanya melihat orang yang dulu pernah mejadi perawatnya. Orang itu juga memandangnya lekat. Jaejoong buru-buru mengalihkan pandangannya dan bergegas pergi. Ia tiba-tiba merasa gugup dan ingin mencari angin segar.

Yunho langsung berdiri saat melihat yeoja yang selama ini selalu ia rindukan terlihat dipandangannya, kali ini ia tidak boleh melepaskannya.

"ah Jaejoong-ah! tunggu!"

Yunho cepat-cepat menarik pergelangan tangan Jaejoong dan menariknya untuk ke taman belakang, tempat sunyi jauh lebih baik untuknya.

"maaf kenapa anda menarikku!"

Yunho terkejut. Anda?. Apa Jaejoong sudah melupakannya?.

"kau lupa denganku? aku Yunho!"

"tidak aku tidak lupa, aku hanya bertanya! aku kira oppa yang melupakanku"

Wajah Yunho seketika lega. Ia kira Jaejoong melupakannya.

Yunho berdehem sebentar. Ia merasa senang saat Jaejoong memanggilnya dengan 'Oppa'. "saat itu aku dipindah tugas kan ruangan, jadi tidak bisa bertemu denganmu, mian!"

Jaejoong menggeleng dan tersenyum. "tidak apa"

"aku ingin bertanya padamu"

Yunho begitu berdebar saat ini, ini akan menjadi yang pertama untuknya menyatakan perasaan, dulu selalu sang Yeoja yang menyatakan perasaan mereka duluan, Yunho pun hanya bisa mengagguk walau tidak menyukai benar, faktor kasihanlah yang mendominasinya untuk menerima yeoja-yeoja itu. Mungkin bila dihiting-hitung, ia baru tiga kali pacaran dengan jangka waktu yang sangat sebentar. Paling lama satu bulan jika ia tidak salah ingat.

Jaejoong masih menunggu ucapan Yunho yang terkesan terpotong itu.

"apa kau sudah punya kekasih?"

Jaejoong melebarkan matanya, terkejut dan bingung. Tidak dipungkiri dadanya berdebar saat lama tidak melihat perawat tampannya itu.

"belum"

Yunho menelan air liurnya gugup.

"apa kau mau menjadi kekasihku?"

Jaejoong malah terkikik lucu melihat Yunho yang begitu gugup didepannya, bahkan peluh sudah berbiji-biji di dahinya.

"kenapa oppa sangat gugup? ahahah.. baiklah aku terima!"

"apa?!"

"Ya, aku mau jadi kekasih oppa!"

"benarkah? wow, apa sekarang aku boleh menciummu?" Yunho langsung menutup rapat mulutnya karena mengatakan hal yang aneh dan keterlaluan itu. Tadi perkataan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Saat di kamar rawat, bibir Jaejoong terkesan pucat sehingga saat melihat bibir merah Jaejoong yang begitu cantik membuatnya memikirkan untuk mencium Jaejoong.

Jaejoong tersenyum manis. "kurasa boleh"

"apa?!"

"kenapa sangat lama!" Jaejoong langsung maju dan berjinjit.

CUP

..

END

Ini dia endnya... gmna ?

Ngomong2 ada gk yg paling tidak berkaca-kaca baca di dua capter cerita ini? klo ada berarti saya berhasil membuat ini Sad..klo gk da ya...dududududu.. hehe

Membosankan? garing? tidak apa ini adalah karya saya yang melintas di kepala. #tidakbosan-bosanmengingatkan#

review? :)

THANKS BEFORE