Seorang pria manis dengan celana pendek dan kaos bergambar nemo terlihat sedang berpikir keras di depan mesin minuman kaleng setelah memasukkan selembar uang 5000 wonnya. Berpikir apakah ia harus memulai pagi cerahnya dengan meminum soda atau kopi.

Sampai akhirnya ia memutuskan akan membeli kopi, seorang pria berwajah blasteran menghampirinya dan dengan tidak berdosanya memencet tombol untuk membeli soda.

Pria blasteran tersebut menatap dan memegang bahu si pria manis. Membuat pria manis itu mau tidak mau memalingkan pandangannya dari mesin minuman kaleng pada pria balsteran tersebut.

" hey! Lee daehwi! Kenapa akhir akhir ini kau tidak masuk kelas? Sudah hampir sepekan kau tidak mengikuti kelas. Ingin menjadi mahasiswa abadi ya? "

Klontang

Daehwi menatap nanar sekaleng soda yang sudah berada di bawah mesin minuman kaleng.

Ah padahal aku ingin kopi.

Ia menatap pria berwajah blasteran tadi dengan tatapan kau-ingin-cari-mati-ya-?

Daehwi berusaha menahan dirinya dengan mulai berpikir positif bahwa memulai pagi cerahnya dengan meminum soda adalah bukan pilihan yang buruk.

" memangnya itu urusanmu jika aku mengikuti kelas atau tidak? "

Daehwi menatap garang pria blasteran yang berada tepat di hadapannya itu.

Pria blasteran tersebut lalu melepaskan tangannya dari bahu daehwi. Ia lalu mengambil sekaleng soda yang berada di bawah mesin minuman kaleng dan meminumnya.

" jelas urusanku. Kan aku jadi tidak bisa melihat wajah manismu ini dikelas "

Daehwi langsung ingin melontarkan seratus kata sumpah serapah ketika tiba – tiba pria blasteran itu mengambil sodanya dibawah mesin minuman kaleng dan meminumnya tepat dihadapannya.

Rasanya ia ingin mencoret – coret muka pria blasteran di hadapannya ini dengan eyeliner yang berada di tasnya karena sudah berani menghancurkan imajinasi paginya dengan kopi lalu mencuri sodanya. Oh dan jangan lupakan kata – kata gombal yang membuatnya ingin muntah itu.

" tutup mulutmu kim samuel atau aku akan mencekikmu sampai kau mengeluarkan seluruh soda milikku yang telah kau curi dan kau minum itu "

Samuel menatap sekaleng soda yang sudah tidak berisi di tangannya itu dan tersenyum jahil. Ia tidak tahu jika menjahili daehwi di pagi hari akan menjadi sangat menyenangkan.

" maaf, akan aku ganti kapan – kapan " ucap samuel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Daehwi Menggelembungkan kedua pipi bulatnya dan memajukan bibir penuhnya itu kedepan. Membuat samuel gemas dan mencubit bibirnya.

" ah! "

" kau terlihat seperti seekor bebek "

Daehwi mengusap pelan bibirnya yang sepertinya akan benar - benar maju.

" aku tidak masuk kelas karena harus merawat ibuku. Ibuku sakit, tapi sekarang sudah membaik. Walaupun belum sembuh sepenuhnya "

Samuel mengangguk paham dan menatap daehwi dengan tatapan prihatin.

" aku harap ibumu cepat sembuh "

Daehwi mengangguk dan tersenyum.

" ya, terima kasih "

Samuel balas tersenyum dan menyadari betapa indahnya senyum seseorang yang sedang berdiri dihadapannya ini.

Andai aku bisa memilikimu.

Samuel yang sedang memperhatikan daehwi itu melihat sebuah tanda aneh dileher daehwi. Tanda itu berbentuk segitiga sempurna dengan ketiga sisinya yang berwarna merah terang.

" hey lee daehwi, kau habis membuat tato? Tanda segetiga merah apa itu yang ada dilehermu? Aku baru melihatnya "

Daehwi meraba lehernya dan merasakkan kulitnya. Ia dapat merasakan tanda segitiga dilehernya itu melalui jarinya.

" oh, ini? Tanda ini sudah ada sejak aku lahir. Hanya baru tadi pagi saja berubah warna menjadi merah. Karena biasanya tidak berwarna jadi tidak kelihatan. Digigit serangga mungkin? "

Samuel terus memperhatikan sambil mengernyitkan dahinya.

" benar digigit serangga atau kau habis melakukan kegiatan seksu- "

Daehwi menutup mulut samuel dengan tangannya sebelum ia melanjutkan kata – kata tidak senonoh yang tidak boleh didengarnya.

" bodoh. Mana mungkin aku melakukan hal – hal seperti itu " ucap daehwi sambil melihat ke sekeliling, takut ada yang mendengar. Dia tidak ingin jadi objek panas untuk digosipkan mahasiswa sekampus.

" hehehe bercanda. Yasudah aku pergi dulu ya. Jangan lupa meminta materi selama sepekan ini pada jinyoung "

Samuel melambaikan tangannya dan berjalan pergi.

" ya dan aku juga tidak akan lupa untuk berusaha mencuci otak mesummu itu " kata daehwi pelan yang pastinya tidak didengar samuel.

Daehwi lalu melihat jam dan tersadar kelasnya akan mulai dalam 5 menit. Ia lalu bergegas untuk masuk ke kelasnya dan berfikir akan membeli yoghurt setelah kelasnya selesai siang nanti. Menggantikan kopi yang seharusnya ia minum pagi ini.

.

.

.

Setelah keluar dari ruangan peramal kerajaan, dongho terus berkutat dengan pikirannya yang kacau.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan pada ayah?

Dongho berusaha untuk mengontrol nafasnya dan memantapkan langkah kakinya yang bergetar. Ia berjalan menuju ruangan raja dan ratu. Ruangan ayah dan ibunya.

Klek

Dongho membuka pintu ruangan itu yang langsung menghadapkannya dengan raja dan ratu. Ayah dan ibunya. Ia membungkukkan badannya sembari sedikit mengibaskan jas hitam panjangnya.

" salam baginda, kang dongho menghadap "

Raja dan ratu tersenyum dan langsung menghampiri putra bungsunya itu. Mencium keningnya dan memberikan pelukan hangat.

" selamat ulang tahun yang ke 1000 anakku. Waktu benar - benar cepat berlalu "

Dongho menegakkan badannya dan menatap orang tuanya dengan perasaan khawatir. Ia tidak sanggup berkata dengan jujur tentang mate yang ditakdirkan untuknya. Apalagi setelah kejadian 'itu'.

" bagaimana? Apakah kau sudaah bertemu dengan bapak jaehwan? Apa yang dia katakan tentang mate mu? "

Dongho meremas ujung bajunya dengan gelisah.

" maafkan aku raja, ratu. Mate ku adalah seorang… manusia "

Raja dan ratu tersentak kaget. Raja langsung memalingkan pandangannya dan menggertakkan giginya geram.

" manusia? Lagi? Apakah dewa sangat ingin menghancurkan kaum vampire? "

Dongho menundukkan kepalanya. Sangat mengerti dengan sikap ayahnya. Memang hal seperti ini harusnya tidak terjadi untuk yang kedua kalinya.

" dongho, kau mengerti dengan apa yang seharusnya kau lakukan kan? Jangan buat kesalahan yang sudah dilakukan kakakmu itu terjadi lagi padamu "

Kenapa harus aku?

" kau tidak bisa membiarkan kaum kita punah kan? Sekarang temui mate mu itu dan jangan buat ayah kecewa "

Dongho menunduk dan mengibaskan sedikit jas hitamnya lagi. Dengan berat hati menyanggupi perintah ayahnya. Dengan berat hati menerima takdirnya.

" baik ayah "

Dongho keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju pintu portal yang akan membawanya ke dunia manusia. Lalu, memasuki portal dengan hati yang gundah.

Apakah aku harus benar – benar membunuhnya?

.

.

.

Daehwi keluar dari kelas ekonominya dengan ceria. Memikirkan segarnya yoghurt yang bisa ia dapatkan siang ini.

Ia berlari kecil menuju sebuah toko swalayan. Mengambil yoghurtnya dan membayarnya dengan uang sisa bulanannya.

" terima kasih paman "

Daehwi tersenyum pada paman penjaga toko yang sudah lama dikenalnya.

" ya, sama – sama. Hmm.. daehwi, kau sekarang sudah punya pacar ya? " kata penjaga toko tersebut sambil sesekali melihat keluar.

Daehwi mengernyitkan alisnya bingung.

Pacar?

" tidak aku tidak punya pacar, memangnya kenapa paman? "

Paman penjaga toko tersebut mengisyaratkan dengan dagunya agar daehwi melihat keluar.

" pria itu dari tadi memperhatikanmu terus. Paman kira dia pacarmu "

Daehwi memalingkan wajahnya keluar dan melihat seorang pria memang berdiri disana. Namun, pria tersebut terlihat agak… aneh?

Pria tersebut memakai jas hitam yang panjangnya sampai menyentuh mata kaki. Ia juga memakai payung dan kaca mata dengan warna yang sama, hitam. Mana ada orang yang memakai payung walaupun tidak hujan ataupun panas?

Tapi harus daehwi akui pria tersebut cukup tampan, sangat tampan malah dengan kulit putih pucat dan badan proporsionalnya. Bahunya terlihat sangat lebar dan tegap. Dan jangan lupakan bibir merahnya yang terlihat sangat menggo-

Ah sepertinya otakku tertular otak mesum samuel

" tidak, aku tidak kenal mungkin hanya orang aneh. Yasudah paman, aku pulang dulu ya "

Daehwi keluar dari toko dan berjalan menuju apertemen kecil yang ia sewa di ujung gang. Tapi daehwi merasa pria aneh tersebut terus mengikutinya.

Daehwi berbalik namun ia tidak melihat siapa – siap dibelakangnya. Ketika ia memalingkan wajahnya kedepan lagi daehwi merasa akan terserang serangan jantung dan akan pingsan saat itu juga karena pria aneh tersebut tiba – tiba sudah berada di depannya.

" hai "

Pria aneh tersebut mengangkat tangan kanannya keatas dan menyapanya dengan wajah datar.

" s-siapa kau?! "

Daehwi merasa bulu kuduknya berdiri dan merasakan hawa dingin dari pria aneh didepannya.

Pria aneh tersebut mendekatkan wajahnya pada wajah daehwi. Matanya menelusuri setiap inchi wajahnya dengan teliti.

Sampai matanya terhenti pada leher daehwi. Pria aneh tersebut mendekatkan wajahnya pada leher daehwi dan memegang tanda kemerahan yang berada di sana.

" oh jadi kau yang bernama lee daehwi? Hmm.. lumayan juga "

Daehwi dapat merasakan nafas berat pria aneh tersebut dilehernya dan sentuhan dingin dari jari pria aneh tersebut pada tanda kemerahan di lehernya terasa… nyaman?

Deg

Deg

Deg

Daehwi mendorong pria aneh tersebut dengan kasar dan menetralkan hatinya.

" j-jangan macam – macam ya atau aku akan teriak! "

Ancaman daehwi sepertinya berpengaruh karena pria aneh di hadapannya ini langsung diam dan menjauhkan badannya.

" siapa kamu? Kenapa mengikutiku terus dari tadi? "

Pria aneh dihadapannya itu membuka kaca matanya dan menaruhnya di saku celananya.

" maaf aku lupa belum mengenalkan diriku "

Ia tersenyum samar dan mengangkat tangan kanannya, mengajak bersalaman.

Tapi daehwi hanya diam tak bergeming. Terlalu takut untuk menyambut tangan pria aneh tersebut.

" oi, aku kang dongho seorang vampire dan kau lee daehwi adalah mate ku "

Apa?!

.

.

.

.

Hai! Aku update nih, cepet banget ya? Wkwkwk. Tadinya ff ini mau aku buat update setiap 3 hari sekali tapi ngeliat review kalian aku jadi semangat buat ngetik lagi '-')9

Makasih ya buat semuanya yang udah nyupport author baru ini dengan ff abalnya hiks. /bow/