TINGKAT DUA

CHAPTER II

Kang Daniel x Ong Seongwoo as main character

Typostinya (typo pastinya) Eyd amburadul dan baku/non baku semaunya.


.

.

Yang ada dipikiran seongwoo saat melihat daniel tepat di hadapannya adalah minta foto bersama. Tidak tidak, bukan itu tapi tentu saja lari. Bohong kalau seongwoo tidak mengagumi sosok daniel, tentu dia mengagumi daniel karena dia juga salah satu dari banyaknya orang yang sudah di tolong daniel. Tidak banyak, hanya sekali sewaktu hari pertama ia masuk sekolah. Ong seongwoo merupakan murid yang masuk di sekolah ini melewati jalur beasiswa, jika seongwoo tidak mendapat beasiswa itu tentunya ia tidak akan masuk sekolah elit seperti ini. Seongwoo tidak mempunyai teman sama sekali, bahkan sampai dua hari kedepan dia selalu sendirian. Teman sebangkunya setelah bel berbunyi langsung menghampiri teman satu sekolahnya yang dulu, meninggalkan seongwoo. Seongwoo sendiri sangat tidak percaya diri untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, lebih baik dia ke kantin sendiri mencari tempat duduk yang paling pojok. Seongwoo bertekad untuk menyelesaikan pendidikannya dengan tenang, tanpa harus bergaul dengan orang-orang kaya disana yang suka menindas dan menghina.

Sayangnya seongwoo haruslah memiliki prestasi lebih selain nilai akademisnya yang tinggi, yaitu menjadi anggota osis. Dia hampir saja gagal ketika esai yang dia kerjakan yang merupakan salah satu syarat dari pendaftaran anggota osis menghilang. Seongwoo sudah mencari di tasnya, seluruh kelas dan memeriksa ke segala tempat yang dia kunjungi tadi seperti perpustakaan dan toilet. Hatinya memberi semangat bahwa berkasnya itu pasti tertinggal di suatu tempat. Tetapi nihil, dia tidak menemukan apapun. Kakinya lemas dan tidak kuat menahan berat badannya lagi. Seongwoo terduduk lemas di depan pintu kelasnya, pikirannya sudah membayangkan beasiswanya akan di cabut dan ia harus pindah sekolah. Saat seongwoo tenggelam dalam pikirannya seseorang datang dan berjongkok di hadapan seongwoo, memperhatikan seongwoo dengan raut cemas.

Seongwoo terkisap ketika seseorang menyodorkan berkas yang bertuliskan nama dan kelasnya, itu adalah esainya. Dengan cepat ia mengambil esainya dan memeriksanya apa ada yang kurang atau tidak, setelah merasa berkasnya baik-baik saja seongwoo akhirnya bisa menatap siapa orang yang sudah menemukan harta karunnya ini. 'kang daniel..' batin seongwoo, seongwoo mengerjap-ngerjapkan matanya memastikan bahwa matanya tidaklah minus, dia masih suka memakan wortel dan sayuran lainnya yang baik untuk penglihatan mata. "cepatlah sebelum waktunya habis, kau harus mengumpulkan esaimu" seongwoo tersadar bahwa batas waktu pengumpulan berkas ini tinggal 15 menit lagi. "ah..iya, ah.. terima kasih banyak" seongwoo cepat-cepat berdiri dan membungkuk lalu mulai berlari.

Sebelum menuruni tangga seongwoo menghentikan larinya dan berbalik melihat daniel. Daniel masih disana, dengan senyuman mengepalkan kedua tangannya. Bibirnya menyerukan kalimat 'fighting' yang tidak bersuara. Seongwoo melihatnya ingin menangis, dia sangat menyesal sudah memberikan pikiran buruk terhadap anak-anak kaya. Seongwoo sangat terharu diantara mereka masih ada manusia seperti daniel, yang sangat berbeda dengan apa yang ia pikirkan selama ini. Seongwoo membungkuk sekali lagi kepada daniel, dan berlari menuruni tangga. Sore itu seongwoo berlari ke ruang osis dengan perasaan yang bergemuruh, jantungnya berdetak lebih cepat. Seongwoo mengira itu semua terjadi karena ia tidak sabar untuk sampai ke ruang osis tepat waktu, ia tidak mengetahui penyebab utama ia merasakan hal itu.


.

.

"ya! Seongwoo apa yang kau lakukan di depan pintu begini si?!" seongwoo tidak sadar bahwa ia sudah berada di depan kelasnya. "jaehwan? Kau di kelas ini juga?" tanya seongwoo kepada teman kelas satunya itu. "bukan hanya aku, ada minhyun dan jonghyun juga" jawab jaehwan sambil nyelonong masuk ke kelas dan mencari tempat duduk yang ia sukai. Seongwoo menarik nafas terkejut "yang benar?" seongwoo sudah mengambil posisi duduk menghadap jaehwan. "iya, paling sebentar lagi mereka dateng. emangnya kamu ngga liat nama mereka di mading apa" seongwoo meringis, mengingat kejadian memalukan yang terjadi di mading tadi. "tuh anaknya dateng" jaehwan menunjuk minhyun dan jonghyun yang baru saja masuk kelas dengan gerakan kepalanya. "demi apa kita sekelas?" tanya minhyun heboh setelah sampai di hadapan seongwoo dan jaehwan. "demikian sekilas info tentang cuaca hari ini semoga hari anda menyenangkan" jawab seongwoo yang langsung dihadiahi jitakan dari minhyun. Sedangkan jonghyun lebih memilih mendaratkan bokongnya dengan selamat di bangku samping jaehwan.

"eh, kalian tahu engga si?" baru aja minhyun duduk di samping seongwoo anak itu langsung mulai berisik. Jaehwan memutar bola matanya malas "ngga tahu, kasih tahu dong baginda" jonghyun cuman ngangguk setuju, sedangkan seongwoo masang tampang jijiknya mendengar minhyun dipanggil baginda. "kita tuh nanti akan sekelas dengan god-" belum sempat minhyun menyelesaikan kata-katanya, anak-anak di dalam kelas yang belum terisi penuh mendadak heboh. Mereka berempat ikut mengarahkan pandangan mereka ke depan dimana ada daniel yang baru saja memasuki kelas dengan cengengesan. "daniel!" panggil minhyun sambil melambaikan tangannya "sini! sini!" seongwoo hanya bisa menatap horror ke arah minhyun. 'ini gila! gila! dari semua orang kenapa harus kang daniel' seiring dengan berjalannya daniel menghampiri minhyun, seongwoo sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya walaupun pasti sia-sia.

Daniel menahan tawanya mati-matian melihat seongwoo yang kelabakan sebisa mungkin bersembunyi dari daniel, setelah sampai di hadapan minhyun daniel langsung di gelendoti oleh minhyun 'hm. as always, clingy minhyun'. "yaa danieel, aku tidak menyangka kita bisa sekelas" seongwoo hanya melotot melihat kedekatan minhyun dan daniel. 'jadi.. selama ini mereka berteman baik..' batin seongwoo. "ah bangku sampingku sudah ada orangnya lagi" minhyun mengeluh melihat bangku di samping kanannya sudah berada tas tanpa pemiliknya. "samping seongwoo masih kosong tuh dan" sahut jaehwan dengan sok kenalnya. "ah iya tuh, tapi udah ada yang isi seorang" jonghyun menimpali, ia melihat kursi paling pojok dekat jendela sudah ada tas hitam besar.

Jaehwan dan jonghyun duduk sebangku, kursi mereka terletak di paling belakang kelas, dekat loker katanya jadi lebih praktis. Di depan mereka bangkunya seongwoo dan minhyun, sebelah kanan minhyun dua kursinya sudah terisi semua tinggal sebelah kirinya seongwoo, kosong sih cuman tinggal satu. "kalau begitu aku duduk disitu saja" daniel melangkah ke kursi samping seongwoo. Seongwoo langsung membuang pandangannya ke arah jaehwan, jaehwan menatap seongwo dengan penuh tanya 'why bruh?' tanya jaehwan dengan gerakan mulut, seongwoo hanya menggeleng. "dan yakin duduk disana, kalau anaknya aneh gimana?" tanya minhyun cemas. Daniel terkekeh "apaansi min, nggalah. Tenang aja udah" jawab daniel sambil meletakan tasnya. Setelah merasa cukup nyaman dengan kursi di kelas barunya, daniel sudah bersiap untuk mengajak bicara seongwoo yang masih membelakanginya namun terhenti karena segerombolan anak-anak yang menganggap dirinya sebagai 'teman daniel' menghampirinya.

"daniel ko sendirian?" "kasiann uhh" "jinwoo sama jisung di kelas mana dan?" "mereka pasti janjian tuh dan, biar hasil testnya sama dan bisa sekelas bareng. Yagak si?" daniel tidak nyaman dengan semua pertanyaan itu tapi ia tetap tersenyum. Inilah mengapa ia tidak mau kalau sampai berpisah dari jisung dan jinwoo, anak-anak yang haus akan popularitas akan melihatnya sebagai umpan yang empuk. Seongwoo melirik ke arah daniel, kasihan melihat daniel yang kewalahan seperti itu, daniel terlalu baik untuk menolak mereka. Raut wajah jaehwan dan minhyun sudah sangat bete dengan keributan yang ada. "berisik banget dah" minhyun akhirnya membuka suara. "kelas kalian dimana si? Berisik di kelas orang aja bisanya" jaehwan ikut membantu. "YA! KALIAN TUH-" teriakan seorang salah satu siswi yang berkumpul di kursi daniel terhenti karena terpotong pengumuman dari pengeras suara kelas yang memberitahu agar para murid memasuki kelasnya masing-masing.

Mereka akhirnya meninggalkan daniel sendiri, saat berjalan keluar salah satu dari mereka ada yang mengancungkan jari tengahnya ke arah minhyun, jaehwan, seongwoo dan jonghyun. Dibalas dengan jari tengah oleh jaehwan dengan raut wajah yang flat. "err.. maaf, kalian jadi keganggu ya gara-gara aku?" daniel merasa sangat tidak enak dengan mereka berempat. Kepala minhyun menyembul dari balik seongwoo "dan, kita tuh berbuat kaya tadi karena kasihan ngeliat kamu udah ngga nyaman begitu. Lagian kamu juga dan, diem aja sama mereka. Ini lagi ngapain si duduknya begini jadi kealingan tahu" minhyun malah ngomel ke seongwoo yang dari tadi duduknya masih membelakangi daniel, membuat minhyun terhalang jika ingin berbicara dengan daniel.

"Jika disekelilingmu, ada orang yang suka menambah atau mengurangi cerita, maka tugasmu adalah tetap menjadi pendengar yang baik. Dengar, lalu disaring. Apakah cerita yang didengar adalah cerita utuh atau cerita sepotong-potong" (rintik kecil)

Seongwoo tertegun mendengar jawaban dari daniel, jonghyun menatap daniel dengan pandangan kagum, sedangkan jaehwan dan minhyun sudah bertepuk tangan dengan lebaynya. Seongwoo menahan dirinya untuk tidak melihat daniel. Daniel tahu seongwoo seperti itu untuk menghindari dirinya, makanya daniel hanya mengangguk dan menghadap kedepan. Seongwoo yang tidak enak akhirnya membalikan tubuhnya, ia melihat ke arah daniel tetapi daniel sudah melihat lurus ke depan.

Tidak lama setelah itu ibu guru datang memasuki kelas, setelah perkenalan singkat dan ternyata teman sebangku daniel adalah kang dongho sehingga mereka dikenal sebagai king kang di kelasnya. Guru mengadakan test dadakan yang dibalas dengan protes dan lenguhan keras dari para murid. Soal sudah dibagikan secara estafet dari depan ke belakang, waktu yang diberikan tidak banyak karena ini merupakan test mengulang kembali pelajaran tingkat satu kemarin sebagai pemanasan. Daniel mencari-cari kotak pensilnya, ia melihat teman-temannya sudah mulai mengerjakan sedangkan ia belum menemukan kotak pensilnya. "dongho, kau ada pensil tambahan?" daniel bertanya pada dongho dengan suara sepelan mungkin "tentu tidak ada, kau tahu? Pensil ini saja untungnya tertinggal di sakuku, kalo tidak aku tidak punya pensil juga" jawab dongho sambil menunjukan pensil satu-satunya milik dia ke daniel. Daniel menghela nafas, jika ia meminjam ke teman di depannya atau belakangnya pasti akan mengganggu ketenangan kelas.

Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan pensil berserta penghapus kepadanya. Daniel melihat tangan itu adalah milik seongwoo. Tangan kanan seongwoo memang masih berkutik dengan pensil dan kertasnya tapi tangan kiri seongwoo terulur dengan pensil dan penghapus diatasnya. Senyum daniel tidak bisa ditahan lagi, setelah mengambil penghapus dan pensil dari tangan seongwoo daniel tidak langsung mengerjakan soal tetapi justru memandangi seongwoo. Seongwoo yang merasa dipandangi menolehkan wajahnya ke arah daniel, membuat tatapan mereka bertemu. Daniel tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya yang membuat seongwoo terheran-heran mengapa daniel masih bisa tersenyum disaat seperti ini. "cepat kerjakan!" seongwoo menahan suaranya agar tidak terlalu besar tapi daniel masih bisa mendengar bahwa seongwoo sedang memarahinya. Daniel melakukan gerakan hormat sambil mengucapkan 'siap pak!' tanpa suara ke arah seongwoo dan merekapun mulai mengerjakan soal dengan serius.


.

.

Semenjak kejadian itu daniel terus menerus nempel ke seongwoo, ditambah bangku mereka berdua yang bersampingan, daniel tinggal menggeser kursinya ke samping dan bergabung dengan obrolan minhyun and the geng itu. Mereka akrab dengan begitu cepat, bahkan daniel sudah menceritakan tragedi mading tadi pagi, seongwoo cuman bisa melotot dengan wajahnya yang merah padam, malu sekali. Sebenarnya diantara mereka berempat minhyun, jeahwan, dan jonghyun sudah bisa dikatakan teman daniel walaupun tidak seakrab sekarang ya kecuali minhyun. Karena ayah daniel merupakan pasien tetap dari ayahnya minhyun yang notabennya adalah dokter jantung paling terkemuka karena keahlian dan jam terbangnya, sedangkan ayah daniel yang mempunyai penyakit jantung pastilah memiliki dokter pribadi yang merawatnya seperti melakukan pemeriksaan mingguan dan sebagainya.

Kalau jonghyun dan jaehwan, keluarga mereka memiliki kerjasama bisnis dengan keluarga daniel. Tidak jarang mereka sering bertemu pada saat berlangsungnya acara yang dihairi oleh pembisnis-pembisnis terkenal. Perusahaan keluarga jonghyun dan jaehwan memang tidak terlalu besar tetapi tidak juga terlalu kecil. Seongwoo lupa dengan semua itu, karena kerendahan hati yang dimiliki teman-temannya dia sampai lupa kalau hanya dia seoranglah yang berasal dari keluarga sederhana dan tidak memiliki kerabat pembisnis satupun. Tetapi ia senang karena para temannya tidak pernah mebeda-bedakan perlakuan terhadapnya, dan sangat menghargai seongwoo.

Saat pelajaran kosong mereka tertawa dan bermain bersama plus dongho yang kalau tidak tidur turut ikut bergabung untuk sekedar bermain uno atau bingo. Banyak yang menatap iri kearah mereka, khususnya seongwoo. Seongwoo bisa dikelilingi oleh anak-anak populer seperti itu, ditambah sekarang ada daniel disana. Saat bel istirahat pertama berbunyipun mereka berlima kompak langsung menuju kantin, disana memang daniel bertemu dengan jisung da jinwoo tapi setelah itu daniel memilih duduk bersama teman barunya. Jisung dan jinwoopun sudah berkumpul dengan teman kelasannya, dan menggoda daniel dari kejauhan dengan raut wajah yang dibuat-buat, cuman jisung sih jinwoo mah pasti ngga akan mau berbuat kaya gitu.

"jadi gimana? Kalian udah siapin apa aja buat demo eskul nanti?" minhyun yang baru datang dengan susu pisangnya langsung memberikan pertanyaan yang membuat jonghyun dan jaehwan kehilangan selera makan mereka. "nanti aja apa min omonginnya, biarin mereka makan dulu" yang sewot malah seongwoo. "emang kenapa sama demo eskul?" daniel ngga tahan banget kalau cuman dia satu-satunya orang yang belom tahu masalah ini, langsung bertanya ke jonghyun yang membuat jonghyun batal memasukan makanannya ke mulutnya. "di demo eskul nanti harus narik adik kelas sebanyak-banyaknya si dan biar eskul seni ngga dibubarin" daniel mengernyit heran "loh kok dibubarin? Emang sekarang anggotanya ada berapa?" "dua dan, cuman aku sama jonghyun" jawab jaehwan cuek bebek sambil menyeruput kuah supnya.

"besok aku dan seongwoo udah bakalan sibuk ngurusi adik kelas, kita juga bakalan dispen ngga ikut belajar. Dari pagi sampe sore bakalan cuman buat urusin acara ini" seongwoo mengangguk "nah besoknya lagi pas masing-masing eskul dapet tempat, tinggal dihias aja tempat kalian sama tampilin sesuatu yang bisa buat adik kelas ngelirik bahkan berniat gabung eskul kalian" sambung seongwoo menjelaskan. "beda ya kaya tahun lalu? Tahun lalu kan kita di kumpulin di aula pertama teus disuruh duduk berjam-jam sambil liatin mereka tampil kan?" tanya jaehwan yang sekarang sudah habis nasi dan supnya. "iya, jadi tahun ini selain bisa milih eskul mereka juga bisa lihat-lihat yang lainnya, nanti juga ada bazar makanan sama permainan, jadi ngga ngebosenin kaya tahun kita. yagak seongwoo?" seongwoo mengangguk "yup, dan mereka juga jadi bisa kenalan sama anak-anak diluar kelasnya. Jadi lebih have fun deh gitu intinya" daniel, jaehwan, dan jonghyun cuman bisa ber'wah-wah'an ria, anggota osis angkatan mereka memang tidak mengecewakan.


.

.

Besoknya daniel dan dongho sudah menempati bangkunya seongwoo dan minhyun mumpung yang punya ngga ada sibuk sama kegiatan osisnya. Udah ada jonghyun disana tapi belum ada jaehwan, mereka bertiga lagi asik aja ngobrol sambil ketawa-ketawa, gatau ulah mereka bikin murid-murid lain dikelas jadi kesemsem. Tiba-tiba jaehwan dateng sambil nyodorin bungkusan gede ke mereka "bantuin nih bikin hiasan" suruhnya. "lah? Apaan nih norak banget warna-warnanya" daniel ketawa geli banget ngeliat pernak-pernik yang dibeli sama jaehwan. "ini tuh biar ngjreng dan, biar nanti anak-anak tingkat satu langsung ke tempat eskul seni" jaehwan membela dirinya, padahal jonghyun dan dongho disana juga udah ketawa-ketawa melihat pernak-pernik yang dibeli jaehwan.

Disetiap jam kosong mereka sibuk bikin ini itu yang ngga karuan bentuknya, jonghyun sm jaehwan udah pasrah apa yang bisa dibikin bikin aja sudah buat rame-ramein. Daniel sama dongho ngangguk-ngangguk aja sambil bikin apa aja sesuka mereka, angsalah kapalah mereka bikin dari origami, gambar hidung babi dan bokong monyet serta ditulis-tulis nama mereka saling menjelekan satu sama lain juga ngga bisa dihindarin. Tapi waktu bel dongho terpaksa absen, dia gabung sama eskulnya buat siap-siap besok juga, dongho kan anak pencinta alam jadi siap-siapnya lebih ke peralatannya sih, dia udah ngebocorin ke daniel jaehwan jonghyun kalo nanti eskul pencinta alam bakal ada atraksi nurunin gedung gitu.

"eh kita ke seongwoo sama minhyun yuk" daniel yang emang anaknya ngga betah kalau diem dia ngusulin ide ini. "boleh tuh, sekalian beliin mereka roti sama susu pasti mereka ngga ada waktu buat istirahat" ngga jauh-jauh ini udah pasti idenya jonghyun. Mereka ke kantin dulu untuk beli makanan habis itu baru keliling mencari seongwoo dan minhyun. Enaknya jadi anak tingkat dua tuh ya begini, banyak jam kosong karena banyak kegiatan sekolah yang panitianya harus dari tingkat dua, karena tingkat tiga udah ngga boleh ikut campur. Contohnya sekarang, daniel jonghyun dan jaehwan jalan-jalan kesana kemari banyak juga anak tingkat dua lainnya yang main-main asal jangan ke wilayah kelas tingkat tiga aja. Tingkat tiga jelas-jelas lagi belajar, ngga ada jam kosong kalaupun ada jam kosong pasti dikasih tugas buat latihan soal-soal.

Seongwoo sama minhyun sendiri lagi sibuk mondar-mandir ngurusin semuanya, mereka menggunakan kaos dan celana olahraga sekolah biar lebih leluasa gerak, anak-anak osis disana yang turun kerja dilapangan rata-rata juga menggunakan itu, ya ada juga yang masih bertahan dengan seragam lengkapnya sih. Seongwoo sama minhyun ngga menyadari keberadaan tiga temannya, jonghyun dan jaehwan juga ngga berniat buat manggil dan mengganggu seongwoo dan minhyun. Tapi engga buat daniel, pas dia ngeliat seongwoo udah hampir jatuh gara-gara bawa kardus besar dia langsung berlari menghampiri seongwoo, jonghyun sama jaehwan cuman bisa melongo.

Seongwoo ngga tahu kalo kardusnya bakal seberat ini tapi dia tetep mencoba untuk berjalan, namun baru beberapa langkah dia merasakan tubuhnya oleng kebelakang. Seongwoo sudah siap-siap bokongnya akan mencium tanah tapi ada tangan yang menahannya, ia menoleh kebelakang dan disana sudah ada daniel. Ternyata punggungnya ditahan oleh kedua tangan daniel, "ngapain disini?" seongwoo sangat terkejut dengan kehadiran daniel. "antar makanan, sama jonghyun jaehwan juga" seongwoo melihat dari balik tubuh daniel disana memang ada jonghyun dan jaehwan melambai ke arah mereka sudah ada minhyun juga disana. Daniel mengambil alih kardus besar dari tangan seongwoo "berat gini, kenapa diangkat sendiran" nada bicara daniel berubah tidak seramah biasanya. Seongwoo bingung "biar aku aja dan" tangannya sudah mau mengambil kardus dari tangan daniel tetapi daniel menolak "ini harus ditaruh dimana?" seram juga melihat daniel yang serius begini "ke ruang perlap sebelah sana" daniel berjalan dengan seongwoo yang mengekorinya.

.

.

Jisung dan jinwo sedang berada di dalam kelasnya ketika salah satu dari temannya melihat daniel lewat jendela kelas yang menghadap lapangan "loh, bukannya itu daniel ya? Ngapain tuh bawa-bawa kardus besar begitu, emangnya dia osis ya?" anak lainnya ikut-ikut melihat ke luar jendela "lah iya, mereka berdua pacaran?" tanyanya ke arah jisung dan jinwoo. "ya! Emangnya nolong orang berarti mereka pacaran? Daniel juga orangnya suka repot gitu kan kalian tahu sendiri" jisung ketawa-ketawa menjawab pertanyaan ketika melihat jinwoo hanya mengedikan bahu peranda bahwa dia tidak tahu. "iya juga sih ya, lagian gamungkin juga daniel sama anak itu, namanya aja kita ngga tahu" "iya, anak tidak di kenal" dan berbagai macam tanggapan negatif lainnya. Sedangkan jisung, diam-diam memperhatikan daniel dan seongwoo sampai mereka berdua hilang dari pandangannya dengan wajah khawatir.

.

.

To Be Continue..

Pesan penulis :

Adalah panjang alur lambat dan sangat membosankan.. tapi masih nekat update, maapkan saya yorobun. Makasih buat Aulyani269 dan tamako000 yang sudah sudi meninggalkan jejaknya hiks. Makasih juga yang udah follow dan favorite ff gaje ini, makasih juga buat yang sudah baca lalu menghilang /plak. Kritik dan saran kalian sangattt dibutuhkan karena aku masih belajar banget nulis ff, oiya ada tambahan buat yang tanda dalam kurung terus miring itu quotes2 favorit aq dan aku masukin juga sumbernya disana. Happy reading semua semoga sukaa!