Tonari
Disclaimer Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Humor
Pair: Sasusaku
Warning: OOC, banyak typo!
.
.
.
Don't like don't read
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Sakura berdiri didepan meja yang diatasnya ada roti yakisoba dan roti itu hanya tinggal satu lagi. Saat Sakura memegang roti itu, ada juga tangan lain yang memegangnya. Sakura memalingkan kepalanya bermaksud melihat siapa pemilik tangan yang memegang roti yang akan ia beli itu. Pandangan keduanya bertemu saat mereka saling memalingkan kepala.
"Kau?!" Seru keduanya.
"Pantat ayam!" Rupanya pemilik tangan itu adalah Sasuke.
"Permen kapas!" Seru Sasuke yang memandang kesal.
"Ini milikku, pantat ayam!"
"Tidak, ini milikku!"
Sekarang mulai terlihat kilatan diantara mata mereka berdua. Mulai banyak mata yang memandang kearah mereka berdua.
"Ya ampun. Kalian ini seperti anak kecil saja. Baa-san, aku yang akan membeli roti yakisoba ini" Naruto berjalan memisahkan dua insan yang sedang beradu mulut itu. Dia mengambil roti yakisoba dan membayarnya.
"Hm, arigatou, Naruto-kun" ucap bibi yang menjual roti yakisoba itu.
"Saa, kalian berdua ayo duduk dibangku kantin" Naruto mengrangkul keduanya. Semua orang yang melihat tindakan Naruto itu menghela nafas lega karena tidak akan terjadi kericuhan antara gadis merah muda dan pemuda raven tadi.
.
.
.
Setelah mereka duduk disalah satu bangku, Naruto membagi dua roti yakisoba yang dibelinya tadi.
"Ini untukmu teme" Naruto memberikan sebelah roti itu pada Sasuke. Pemuda raven itu langsung mengambilnya.
"Nah, ini untukmu Sakura-chan" Naruto memberikan sebelahnya lagi pada Sakura.
"Tidak usah. Aku sedang tidak mau berbagi dengan pantat ayam itu" ucap Sakura tanpa mengambil sebelah roti itu.
"Eh? Nanti kau lapar, Sakura-chan"
"Kau sendiri pasti lapar 'kan, Naruto?"
"Oh, soal itu tadi aku sudah makan ramen. Jadi, aku tidak akan lapar"
"Baiklah, aku ambil. Arigatou" Sakura akhirnya mau menerima roti pemberian Naruto itu.
Lama tidak ada pembicaraan diantara mereka bertiga. "Aku pikir kau akan tersesat, permen kapas" ucap Sasuke setelah menghabiskan rotinya.
"Kalau aku mengikuti peta darimu aku pasti akan tersesat"
"Begitukah? Lalu, kenapa kau tidak tersesat? Apa kau tidak mengikuti peta dariku?"
"Aku tidak mengikuti peta darimu, pantat ayam. Aku bisa sampai disini karena diajak Ino"
"Oh, yamanaka itu. Kalau kau mencari sendiri kau pasti akan tersesat"
"Tidak juga. Aku pasti bisa menemukan jalannya meskipun sendiri, baka" Sakura menjulurkan lidahnya tanda mengejek.
"Aku tidak bodoh" ucap Sasuke dengan datar.
"Bisakah kalian menghentikan pertengkaran kecil itu? Aku mulai kesal mendengar kalian terus bertengkar seperti anak kecil!" Seru Naruto yang terlihat lebih dewasa.
"Tidak bisa!" Seru keduanya yang membuat nyali Naruto ciut. Pemuda spike itu hanya menghela nafas frustasi.
.
.
.
Sakura malam itu memandangi langit malam lewat jendela yang ia bukakan. Jendela dirumah sebelahpun dibukakan dan memunculkan kepala pantat ayam yang ia kenali. Sasuke ikut memandangi langit malam itu.
"Oi, permen kapas. Kau belum tidur?" ucap Sasuke yang sedang mengalihkan pandangannya pada Sakura.
"Aku masih ingin memandangi langit malam ini. Kau juga belum tidur, pantat ayam. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Hn, aku sedang mengerjakan tugas dari Kakashi-sensei. Jadi, aku belum bisa tidur"
"Haha, kasihan sekali. Sasuke-kun yang malang"
"Diam kau. Memang kau sendiri sudah mengerjakannya?"
"Eh, aku? Tentu saja sudah" ujar Sakura dengan sikap sombongnya.
"Kalau begitu pinjamkan aku bukumu" ucap Sasuke dengan datar.
"Kau 'kan pintar, jadi tidak perlu meminjam bukuku" Sakura sengaja mengejek Sasuke.
"Cih, kau tahu 'kan besok tugas itu harus dikumpulkan"
"Aku tahu. Kerjakan saja sendiri, baka"
"Kau membuatku ingin melemparkan sesuatu padamu" Sasuke mencoba mengancam.
"Aku tidak peduli" ucap Sakura dengan nada mengejek.
"Oi, permen kapas. Apa aku tidak salah dengar tadi kau memanggilku 'Sasuke-kun' kan?"
"Ya, tadi aku memang memanggil namamu begitu, sekali saja"
"'Sasuke-kun'? Permen kapas, padahal kau selalu memanggilku pantat ayam dan baru kali ini aku mendengarmu menyebutkan namaku dengan embel-embel kun_"
"Baru kali ini aku mendengarmu berbicara banyak begitu" sela Sakura.
"Sebentar, kau memanggilku begitu apa karena kau menyukaiku?" ucapan Sasuke itu berhasil membuat wajah Sakura bersemu merah.
Sreeekk!
"Aku tidak mungkin menyukaimu, dasat pantat ayam jelek!" seru Sakura bersamaan dengan jendela kamar yang ia tutup. Sasuke menyeringai melihat reaksi dari Sakura.
"Oi, setidaknya pinjamkan aku bukumu!" seru Sasuke.
"Besok aku pinjamkan, baka! Sasuke baka! Baka! Baka!" seru Sakura yang membuka jendela dan menutupnya kembali.
"Sakura, ini sudah malam. Cepat tidur!" seru Mebuki yang terdengar oleh Sasuke dari seberang.
"Iya, kaa-san" terdengar jawaban dari Sakura. Sasuke terus mengamati dan ia melihat lampu kamar Sakura sekarang sudah dimatikan menandakan bahwa pemiliknya akan tidur. Sasuke tersenyum tipis saat mengingat wajah Sakura yang bersemu merah tadi.
.
.
.
Pagi itu Sasuke keluar dari rumah nya dengan seragam yang sudah rapih. Ia langsung berjalan menuju rumah Sakura. Setelah mengetuk pintu rumah Sakura, Sasuke disambut ramah oleh Mebuki dan memasuki rumah sederhana itu.
"Ba-san, apa Sakura belum bangun?" ucapnya ketika duduk diruang tamu.
"Ah, dia masih didalam kamarnya"
"Aku akan melihatnya ba-san"
"Ya, sekalian ajak dia kebawah. Ba-san akan menyiapkan sarapan untuk kalian" Mebuki beranjak dan menuju dapur.
Sasuke pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Sakura.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Gomenne, aku langsung upload chap 2 nih
Aku bingung dalam membuat fict humor kaya gini, tapi semoga fict ini bisa menghibur kalian...
Sampai jumpa di chap selanjutnya...
Mata ashita nee...
*lambai-lambai tangan
