Author: Kyaaaa! Chapter 2 update! ^^! Disclaimer: Yamaha Corp, dan pihak-pihak yang bersangkutan (saking banyaknya, author sendiri lupa -.-). Makasih yang sudah membaca dan me-review ceritaku yang pasaran ini wuheheheheh…. Akhir kata, happy reading and enjoy it!
Heart Paralyzed
Chapter 2
.
.
.
BRAAK!
"Pagi semuaaa!" seru Miku menyapa semua orang yang ada di kantor.
"Pagi, Miku"
"Eh, ada gadis SMA datang ke sini. Heheheheh, pagi juga Miku"
Semua orang terlihat akrab dengan Miku yang selalu ceria itu. Mereka bergiliran menyahut sapaan Miku.
"Eh? Miku? Ada apa datang ke sini?" Tanya Gakupo.
Miku tersenyum lebar, "Gakupo-san aku ingin bertemu dengan Len untuk menyerahkan hasil edit-an karyaku ini!" terangnya penuh semangat.
"Wah kebetulan, dia ada di ruangannya, tapi, sebentar lagi dia mau pergi," ujar Gakupo, yang ternyata bekerja sebagai illustrator buku.
"Ok, deh! Aku ke sana, yah!" ujar Miku sambil pergi ke ruangan Len.
Gakupo menatap punggung Miku dari kejauhan. Kemudian dia menyeringai, "Kena, kau!"
Tok… Tok… Tok…
Miku mengetuk pintu ruangan Len. Tak ada jawaban. Miku kembali mengetuk pintu. Dan kembali, tak ada jawaban. Sebenarnya, Miku tak ingin masuk kalau belum ada jawaban dari seseorang yang berada di dalam, karena menurutnya itu tidak sopan. Tapi, Miku semakin penasaran. Akhirnya, dia nekat masuk.
"Permisi…." Ucapnya pelan sambil melangkah masuk.
Baru beberapa langkah. Tapi dia sudah terhenti. Terdiam karena sesuatu. Dia melihat sebuah pemandangan aneh. Si rambut pirang itu sedang tertidur di meja kerjanya. Tanpa sadar, Miku mendekatinya.
Mata Len terlihat sembab, seperti habis menangis. Rambutnya berantakkan, tidak diikat rapih, seperti biasanya. Bajunya juga. Miku menundukkan kepalanya dan mencoba mendekati Len.
Krrrriiiiinnngggg….!
Jam alarm di meja kerja Len berbunyi. Len terbangun, "Kyaa! Jam berapa ini?!" Len segera berdiri, tapi….
Duaakkh!
Kepala Len terbentur kepala Miku, yang berada di sampingnya. Mereka berdua meringis kesakitan memegang kepala mereka masing-masing. Len menatap tajam ke arah Miku.
"Oi! Ngapain ke sini?" Tanya Len ketus.
Miku mengelus pelipisnya yang sedikit memar, "Aish! Aku hanya ingin menyerahkan hasil edit-anku. Kau saja yang tidak hati-hati!" kilah Miku.
Len mendengus sebal, "Ukh! Kau bisa menyerahkannya lain hari, jangan sekarang! Aku mau pergi, tau!"
Dengan buru-buru, Len masuk ke kamar mandi. Dengan cepat dia mencuci muka dan menggosok giginya. Sambil menggosok gigi, dia bergerutu tidak jelas. Kemudian, dia melepaskan pakaiannya, hendak mengganti baju.
BRAAK!
Miku memaksa masuk, "Memangnya kau mau pergi ke mana?!" Tanya Miku, dia bahkan tidak melihat situasi kalau Len sedang ganti baju.
"HEI! Ngapain masuk?!" teriak Len.
"Umm… i-itu," Miku gelagapan. Seketika dia langsung membeku melihat Len yang bertelanjang dada. Walau Len terlihat kurus, tapi berotot juga loh! Langsung saja, Miku menutup kembali pintu kamar mandi.
Pipinya memerah, entah kenapa. Tiba-tiba, kejadian tadi dan kejadian di lift melintas di benaknya. Huuaaaahhh!jerit Miku dalam hati. Tubuhnya tiba-tiba memanas. Dia mengipas-ngipaskan kertas kearahnya, berharap kondisinya seperti semula.
Len keluar dari kamar mandi. Mata mereka berdua saling bertemu. DEGH! Kejadian-kejadian tadi terulang lagi dalam pikiran mereka masing-masing. Pipi mereka memerah. Len langsung membuang muka.
Piip… Piiipp…
Arloji Miku berbunyi. Miku segera melirik ke arah jam tangannya yang berwarna biru aqua, "Kyaaa! Lima belas menit lagi, bel sekolah!" jerit Miku.
Len langsung menoleh ke arah miku, "Berarti, bentar lagi masuk dong?"
Miku mengangguk cemas. Kemudian dia tersadar akan sesuatu. Len memakai seragam SMA, "Hei! Kau siswa SMA ternyata! Ku kira kau sudah kuliah."
"Ssst! Diam! Kita tidak ada waktu. Sekarang, kita berangkat" ujar Len sambil memakai jaket kulit berwarna hitam.
Miku mengerutkan keningnya, "Berangkat? Maksudmu?"
"Ku antar sekalian," sahut Len sambil menyambar tangan Miku. Kemudian tangan lainnya, menyambar kunci sepeda motornya, yang berada di atas meja.
"H-hei!" seru Miku yang sama sekali tidak digubris oleh Len. Miku pasrah mengikuti Len. Walau, tangannya terasa nyeri saat di genggam kuat Len. Kalau bukan keadaan terdesak, Miku mungkin akan menendang kaki Len, seperti biasa.
Begitu melewati meja kerja pegawai-pegawai yang lain, semuanya menatap aneh ke arah Miku. Ada yang terbengong-bengong tak percaya, ada yang berbisik-bisik. Dan itu semua membuat Miku gelagapan.
"Se-sejak kapan, mereka berdua dekat?"
"Apa mereka pacaran?"
"tapi, setiap hari mereka selalu bertengkar 'kan?"
"Lagi pula, mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Apa mereka langsung jatuh cinta?"
"Wah, cinta pada pandangan pertama dong?"
Semua orang membicarakan mereka berdua. Miku semakin gelagapan. Dia menggeleng-gelengkan kepala, "Bu-bukan! I-ini tak seperti yang kalian piki-"
"Ayo, cepat! Keburu telat!" seru Len sambil membawa lari Miku.
"Kyaaaa!" Miku yang belum siap lari, jadi terseret-seret.
Sampailah mereka di parkiran. Len naik ke atas motornya. Dia memasukkan kuncinya. Kemudian menyalakan motornya. Dia menatap aneh ke arah Miku, "Tunggu apa lagi? Ayo, naik!" seru Len.
"Na-naik?!" Miku melongo tak percaya.
"Mau telat atau enggak, sih?" kata Len dengan sorot mata yang tajam.
"I-iya!" Miku pasrah dan akhirnya naik ke atas motor yang bermerek Kawasaki Ninja berwarna putih dengan garis hitam dan kuning milik Len.
Len memberikan helm pada Miku berwarna putih dengan garis-garis berwarna biru pucat. Miku menerimanya dengan sebal. Len mulai menjalankan motornya.
.
.
Tanpa sepengetahuan mereka, Gakupo dan Luka membuntuti mereka hingga tempat parkir. Gakupo menatap motor Len yang sudah berjalan menjauh dari mereka. Setelah memastikan keadaan, bahwa Len dan Miku sudah pergi, barulah mereka keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Heh! Sudah kuduga, sesuai dengan yang kubilang! Sekarang, kau traktirku ramen!" ujar Gakupo puas.
Luka medengus sebal, "Uh! Kenapa, tebakanmu benar, sih? Kau curang, yah?"
"Gak, lah!" kilahnya cepat.
Luka terdiam, dia teringat akan sesuatu. "Eh, bukannya hari ini hari peringatan dia?"
Pluk! Gakupo menepuk jidatnya, "Iya! Benar! Pantas, Len bangunnya kesiangan. Pasti semalaman, dia memikirkan orang itu."
.
.
Miku gengsi untuk memegang pinggang Len. Len juga tidak meminta Miku untuk memegang pinggangnya. Dia menyeringai kecil. Laju motor mulai bertambah cepat dan semakin cepat.
Kemudian dia mengegas motornya lebih kencang lagi. Miku ketakutan, dengan reflek dia memeluk erat tubuh Len. Len mendengus sebal sambil melirik Miku yang berada di belakangnya.
Mata Miku berusaha melihat jarum speedometer. 80 km per jam! Damn! Apa-apan cowok ini! Brandal sekali! Batin Miku menggerutu.
Sampailah mereka di sekolah, SMA Vocaloid. Setelah Len mematikan mesin motornya, Miku segera turun dari motor Len. Kemudian melepas helm yang diberikan Len tadi. Wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras.
Len melepas helmnya sambil tertawa geli melihat Miku, "Heh! Masa naik motor saja takut! Payah, ah!"
Miku menatap tajam ke arah Len, "HEI! Kau yang gak kira-kira! Bawa motor ngebut banget! Gak pikirin nyawa orang?! Hah!"
"Idih! Siapa juga yang mau mikirin nyawamu! Aku sih, masa bodo! Udah bagus, dianterin masih aja cerewet!" balas Len sambil menatap sebal kepada Miku.
"Ukh!-" Miku terdiam dan menyadari sesuatu di diri Len. "Heei… kau bersekolah di sini, juga?"
"Iya. Terus, kenapa?" jawab Len.
Tubuh Miku serasa melemas, "Oh, ya Tuhan! Apa-apan ini! Ternyata bener, yah! Dunia itu emang sempit! Masa gak di sekolah, kantor, jala, ketemunya sama orang resek bin nyebelin kayak dia, sih?! Kenapa kita yang sering berantem dan gak bisa menyatu, mesti ketemu terus. Suasana bagaikan perang, kalau ketemu orang ini. Oohhh… tidak!" batinnya merintih.
Lamunannya tersadar ketika Len berkata padanya, "Hei! Tunggu apa lagi, hah?! Ayo, cepat, masuk! Nanti, tel-"
Ting… Tong… Teng…. Tong….
Sebelum Len menyelesaikan perkataanya, bel masuk sudah berbunyi. "GYAAAAA!" teriak mereka berdua bersamaan.
"Bagaimana ini, kita telat! Huaaa…" seru Miku.
"Gawat, kalau sampai ketahuan KepSek!" kata Len mulai cemas.
"Udah! Kita bolos, saja!" usul Miku dengan ide sablengnya itu.
"Ayo!" Len menggangguk setuju.
Mereka mengambil ancang-ancang lari. Miku mulai menghitung mundur, "Tiga… dua.. sa-"
Prrriiittt!
Mendadak terdengar suara peluit. Mereka berdua langsung membeku seketika. Mereka tahu siapa yang membunyikan peluit itu. Jantung mereka berdegup kencang.
"Kalian mau ke mana, hah?!" terdengar suara berat seseorang dari arah belakang.
Mereka dengan takut-takut menoleh ke asal sumber suara tersebut. Dan dugaan mereka benar, Pak Kiyoteru, KepSek paling galak di Jepang!
Secara bersamaan, Len dan Miku berlutut dan memohon pada Pak KepSek, "Bapaakk… maaf kami telat, tapi jangan hukum saya. Please… Paakk," pinta mereka dengan puppy eyes andalan mereka.
KepSek menyeringai seram. Matanya memancarkan aura kegelapan dibalik kacamatanya. "Heh! Kalian minta untuk tidak dihukum?! Enak saja!" segala urat yang berada di tubuh KepSek keluar, pertanda suatu yang buruk akan menimpa Len dan Miku. Glek! Miku dan Len hanya menelan ludah, dengan pasrah.
.
.
.
"Ayo! Bersihkan, yang benar! Pastikan tidak ada permen karet yang tertinggal!" seru Pak Kiyoteru, sang KepSek berkacamata hitam tebal.
Yup! Len dan Miku sedang menerima hukuman atas pelanggaran mereka. Membersihkan sampah sisa permen karet! Miku dengan susah payah, membersihkan permen karet yang berada di bawah meja kantin. Sedangkan, Len membersihkan permen karet di lantai.
Pak Kiyoteru Hiyama, memang terkenal dengan KepSek yang kreativ dalam soal memberikan hukuman bagi siswa malang yang telah melanggar. Sangat beragam dan bervariasi hukuman yang diberikan KepSek ini, contohnya hukuman Miku dan Len. Pernah, ada yang dihukum membersihkan daun kering yang bertumpukkan di atap sekolah. Belum lama ini, ada yang di suruh membersihkan kolam ikan di taman. Dan masih banyak lagi.
Miku memijit-mijit punggungnya yang mulai pegal karena lama membungkuk dan berjongkok. Saking fokusnya, Miku sampai tidak melihat kedepan. Dia merangkak ke depan, tapi matanya fokus pada pugungnya. Akhirnya…
DUAKH!
Lagi, Miku dan Len kembali tabrakkan. Haduh! Ckckckck, mereka berdua ini! Len menatap kesal ke arah Miku sambil mengelus kepalanya yang benjol. Miku hanya terkekeh bodoh. Len hendak berdiri ingin memarahi Miku, tapi dia lupa di atasnya ada meja. Naas, kepala Len kembali terbentur. Kasian…
"Hmmpphh-" Miku menahan tawanya, namun apa dayanya, tawanya lepas. "Bhuaahhahahahahahaah"
Len mendengus sebal, "Kau! Ukh!" Len mulai ngambek, karena Miku tertawa berlebihan. Tapi, kalau dipikir, memang sedikit lucu juga, sih. Len sedikit tersenyum. Kemudian sedikit-demi-sedikit tertawa kecil.
Len menyadari sesuatu… begitu banyak kejadian hari ini, membuatnya menghapus kesedihan karena sesuatu, menghiburnya di saat hatinya kosong dan sepi. Dia sedikit bersyukur, bertemu dengan Miku yang banyak omong dan periang.
.
.
.
To be continued…
Author : Fiuh! Akhirnya selesai juga :D
Len : OI! Author nih, gimana sih!? Aku bisa gagar otak, masa kepalaku kejedot mulu sih! Sakit, nih! Parah, yah!
Author : ( =.=") maaf….
Gumi : Kasian, deh, lo Len! Kasian, kasian, kasian! Wkawkawka!
Len : Diam!
Gumi : :P
Author : Sudah-sudah!
Gumi : Heheheh! Btw, buat readers nih, terima kasih udah membaca fic ini! Tunggu aku, yah!
Author : Eh!? Kok, jadi kamu yang nutup, sih? Terus, siapa juga yang bilang kamu bakal muncul di fic ini? :P
Gumi : Serius!? Aku gak muncul, nih?(;_;)
Author : Mmm…. Liat aja di chapter selanjut-selanjutnya! :P! review? Boleh, banget! Makasih, sudah membaca dan me-review ceritaku :*
Dengan senang hati, saya menerima kritik dan saran yang Anda berikan, agar kedepannya, saya bisa memperbaiki kesalahan saya.
