Silhouette of Lady in Dress.

Chapter one, Lady in Red.

Hetalia (C) Hidekaz Himaruya.

Warning: OC, OOC, Reverse Harem.


06:30 PM, Sabtu.

Aku akui, aku mulai mencandu buku semenjak duduk di bangku SMA. Biarpun buku, terutama sastra, mengajarkan macam-macam, termasuk filosofi dan bahasa, menurutku tetap saja membaca terlalu banyak bisa memberikan efek samping yang buruk. Mata contohnya. Dan waktu. Aku sama sekali tak sadar dan terlalu mendalami buku hingga saat pertama kali aku membaca, yaitu pukul satu siang, dan saat aku melihat kearah jam lagi, yang membuatku yakin dapat mengatakan bahwa buku bisa menjadi mesin waktu, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, dan pesta dansa akan dimulai jam delapan. Merias diri mungkin tak akan memakan hingga satu jam, tetapi perjalanan dari bangunan asrama ke bangunan sekolah bisa memakan setengah jam biarpun sudah berlari. Sialnya aku tak memiliki sepeda. Akibatnya, aku tergeletak dengan napas yang menderu, kening berkeringat, dan tubuh lemas luar biasa saat sampai di ruang rias.

"Sudah aku bilang! Nyalakan alarm ponselmu yang berisik itu dan pasang jam setengah enam! And now look, what time is it now?!"

Tak ada lagi tenaga untukku memperdebatkan hal yang dimaki oleh Alice. Aku melakukan apa yang ia instruksikan, tetapi tanpa sadar aku mematikan alarm ponselku dan lanjut membaca buku. Aku hanya bisa pasrah dimaki olehnya, sementara aku sendiri berusaha melap keringat dan membuka pakaian. Dalam ruangan tersebut, ruang persegi yang tak terlalu besar, yang seharusnya menjadi ruang rapat bagi sebuah kelompok, diambil alih sepenuhnya oleh Alice dan—entah bagaimana, penuh dengan peralatan rias dan gaun-gaun yang beberapanya dipakaikan pada manekin kayu yang juga mampu dipertanyakan keberadaannya. Kata Alice, tak hanya aku yang dirias olehnya, beberapa teman lainnya juga datang meminjam gaun miliknya.

"Tetapi aku sudah menyiapkan gaun khusus hanya untukmu. Since you are my best friend."

"Aww."

Pipi Alice berubah merah padam. Masih sibuk merapikan gaun miliknya dan gaun yang ia pinjamkan untukku.

"Dari mana kamu mendapatkan semua gaun ini? Milikmu?" Tanyaku sembari memakai korset hitam kematian yang ketatnya luar biasa.

"Some does, most from mum's and nana's. Dan nenek dari nenekku, neneknya nenek moyangku. Ya begitulah." Jelasnya, sambil membantuku mengikat tali korset yang terletak di punggung. "Aku sudah berjanji akan membersihkan dan mengembalikannya hingga terlihat seperti baru, tetapi mum dan nana tak mau meminjamkan gaun yang lebih bagus."

"Lebih bagus? Ini sudah sangat—," napasku tercekat seketika saat Alice mengikat tali terakhir yang mengencangkan bagian dada.

Alice tertawa jahil, "whoops, sorry. Terlalu kencang ya?"

"Sinting!"

"Pakai crinoline yang itu," tunjuk Alice selesai membantuku, sementara ia sendiri memakai kerangka rok yang akan membuat rok gaun terlihat menggembung, yang ia tadi sebutkan sebagai crinoline. "Sudah menemukan Matty?"

Aku menggeleng, berusaha mengikat tali crinonline di pinggulku. "Tetapi ia memberikanku pesan singkat kalau ia meminta maaf karena tak mau mengangkat panggilan telepon dariku, dan akan menemuiku di pintu masuk aula utama."

"Good."

Gaun hijau Alice memiliki rok pendek dibawah lutut. Aksennya tentu saja sangat Inggris dan penuh renda putih. Jadi siapa pun yang melihat Alice akan buta seketika saking terang dan menyakitkan warnanya. Mencolok, katanya, terlalu mencolok, kataku. Tetapi saat ia mengenakannya, dengan kulitnya yang putih merona, aku langsung terpana dengan kecantikan yang tiba-tiba terpancar. Rambut pirang Ashnya jadi terlihat menojol. Ditambah lagi dengan gaya rambut yang sangat cocok dengan tema pesta yang formal. Keseluruhan penampilan Alice dapat ku definisikan menjadi dua kata, Klasik dan Elegan.

"Kamu bisa menata rambutmu sendiri?"

"Ya, berangkatlah terlebih dahulu." Jawabku, melihat gaun yang Alice pinjamkan kepadaku, keheranan bagaimana aku akan masuk ke dalamnya. "Oh iya, siapa yang menjadi pasanganmu?"

"Francis."

"HAH?!"

"I am going!"

Francis?! Bagaimana bisa? Bukannya Arthur sangat membencinya? Bukannya ia juga sama? Tetapi ada satu memori dimana aku sedang berada di bangunan ketiga, dekat kelas langganan Francis, dan aku melihat mereka berdua, bersama, tak terlihat terlalu dekat, tetapi tak juga terlalu jauh atau saling membenci seperti yang biasanya mereka tunjukkan dengan sangat jelas. Mereka berbicara sesuatu yang tak dapat ku dengar, tetapi keduanya mengangguk setuju lalu pergi begitu saja. Apa itu awal mulanya? Akan ku cari tahu lebih jauh setelah pesta dansa.

Akan tetapi, saat aku memasangkan gaun berwarna merah Scarlet itu pada manekin, aku tercengang. Gaun dengan aksen warna merah dan hitam itu terlihat lebih menonjolkan lekuk tubuh perempuan di bagian atasnya, sementara itu rok gaun tersebut sangat panjang di bagian belakangnya. Potongan lengannya sepanjang siku, beberapa lapis kain dan renda hitam akan menjuntai panjang hingga pergelangan tangan, tetapi tak akan menutupi lengan. Dua kata, Elegan dan Misterius. Aku jatuh cinta. Dan aku jadi semakin sayang pada Alice, satu lagi alasan kuat untuk mencari tahu apa yang terjadi antaranya dan si playboy Francis. Tak akan ku biarkan Francis melukainya.


08:00 PM.

Oh Alice oh Alice. Andai ia memberitahukanku dimana jepit dan peralatan lainnya untuk menata rambut, aku tak akan telat! Sialan! Dan ternyata saat menggunakan gaun, roknya sempat tersangkut beberapa kali pada crinoline, membuatku harus merapikannya dengan susah payah. Ada satu kejadian dimana aku tak sengaja menarik rok terlalu keras dan nyaris membuat crinoline terbalik. Dan sekarang aku telat menemui Matthew, aku hanya berharap ia masih berada di pintu masuk Aula menungguku... Aku rasa itu tak mungkin. Ia juga tak membalas pesan singkatku yang ku kirim empat puluh lima menit lalu.

"Ayolah Matt, angkat..." Bisikku sambil melihat ponselku dengan pasrah. Tiga puluh kali. Tak satu pun diangkat olehnya tentu saja, hingga membuatku sempat berpikir kalau sebenarnya ia gaptek dan berusaha mengangkat panggilan teleponku, tetapi tetap tak bisa, dan itu yang membuatnya kalang kabut kemarin.

Di Koridor khusus sama sekali tak ada orang, lampu juga sengaja dimatikan supaya pencahayaan di Aula dapat semaksimal mungkin. Biarpun terlihat anggun dengan rok panjang, aku baru menyadari minusnya, saat dipakai untuk berlari, mengangkat roknya butuh tenaga luar biasa, padahal saat mengenakannya tadi tak terasa berat sama sekali. Bayangkan jika koridor dipenuhi murid-murid lainnya yang juga mengenakan gaun.

"Alice juga tak menjawab hah?" Kesalku saat panggilan teleponku tak juga ia angkat. Lalu aku pun sampai di pintu ke gang kecil yang menjadi jalan paling dekat menuju ke Aula, dan menemukannya terkunci rapat. Terdapat kertas yang ditempelkan pada pintu dan bertuliskan, "Koridor ditutup sementara untuk Pesta Dansa."

Ditutup sementara untuk Pesta Dansa? Memangnya pesta dansanya diadakan di gang ini?! Tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali memutar arah. Topeng juga terasa mengganggu sekali, ditambah aku harus menggunakan Lensa Kontak karenanya, dan aku tak terbiasa sama sekali. Sambil terus berlari dengan susah payah menuju Aula, aku terus-terusan mencoba menghubungi Matthew. Akan tetapi, hasilnya tetap saja sama, nihil.

"Masih tak diangkat juga? Apa musik di Aula sebegitu—."

Ya. Sesampainya aku di perempatan yang jauhnya ada dua puluhan meter dari pintu masuk Aula, aku sudah dapat mendengar suara musik, biarpun pelan. Tetapi bayangkan, dua puluhan meter, bagaimana jika sudah berada dalam Aula? Dan lagi Arthur memintaku terus hadir hingga selesai, kapan selesainya? Bagaimana jika selesainya saat sudah menjelang pagi? Jam empat misalnya? Seperti tahun lalu? Aku saja tak dapat mendengar dengan baik hingga beberapa hari setelahnya, padahal lagu yang diperdengarkan tak sebesar ini. Oh dan aku yakin pasti Arthur meminta kelompok Orkestra untuk bermain. Dengan alat musik sungguhan. Yang sekali lagi, tak seperti tahun lalu yang hanya menggunakan Sound System saja dan kaset musik pinjaman.

Langkahku terhenti karena tiba-tiba aku merasa gugup saat sudah berada sangat dekat dengan pintu masuk Aula yang gigantis, yang satu pintunya terbuka sedikit, cukup untuk dapat dilewati para murid. Apa yang aku harus lakukan jika sudah berada di dalamnya? Bersosialisasi tampaknya cukup sulit karena suara musik Waltz yang dimainkan terdengar sangat, luar biasa keras. Dan saat aku mengintip ke dalam, ada ratusan murid yang sedang berdansa, makan, dan berbaur. Sulit bagiku mencari Alice, apa lagi Matthew yang tak ku ketahui rupanya dalam balutan tuksedo.

Alice oh Alice... Matthew oh Matthew... dimana kalian?! Jangan buat aku mencari kalian yang berada dalam lautan manusia yang juga bertopeng, betul-betul bertopeng tersebut! Jangan buat aku melakukan hal merepotkan tersebut... dan lagi... oh tidak. Serangan panikku kembali... aku pun langsung menarik diri, bersandar pada tembok dan mulai merasa sesak napas.

"Tamat riwayat kalian... hah... Alice... Matthew... awas kalian berdua... uhuk uhuk!"

Aku tak bisa bertahan disini hingga serangan panik hilang, kurasa taman belakang bangunan keempat akan menjadi tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu dan menikmati malam yang indah ini. Jadi dalam perjalanan menuju tempat itu, aku bisa menenangkan diri sejenak, sambil menikmati malam yang tenang, jauh dari makhluk-makhluk ekstrovert yang sedang bersuka cita. Lagi pula aku tak akan mengambil resiko megap-megap di tengah kerumunan, yang justru malah membuatku makin tak bisa bernapas, bagaimana kalau aku sampai pingsan? Julukanku nanti pasti akan berubah menjadi Nona Pingsan, dan aku akan sangat tak menghargai itu.

Setelah merasa sedikit lebih baik, aku pun membuka kipas yang kata Alice menjadi aksesoris pasangan untuk gaun ini, dan menutupi mulutku dengannya. Lalu aku berusaha menegakkan diriku, membetulkan posturku yang membuat korset kini terasa sedikit mengendur, sekalian berjalan-jalan memutari bangunan utama, siapa tahu salah satu dari Alice atau Matthew mencariku dan menghubungi ponselku, jadi aku tak perlu terlalu jauh untuk dapat kembali ke Aula utama.

Saat serangan panikku sedikit mereda, aku pun mulai memperhatikan pemandangan diluar jendela yang, luar biasa. Aku terpana dengan keindahan taman utama sekolah yang sangat cantik dibawah sinar rembulan. Dan ketenangan tersebut membuatku sempat terkaget melihat pantulan rupaku di kaca, seorang wanita cantik yang tak diketahui identitasnya, yang mengingatkanku pada diriku waktu masih duduk di bangku SMP. Betapa berbedanya aku yang dulu dengan sekarang. Padahal dulu aku seperti Michelle dengan bumbu Alice, sangat ceria dan tukang gosip. Biarpun begitu aku tak pernah terkena masalah, tak ada yang sebegitu membenciku, dan aku populer karenanya.

Sekarang?

Arthur dan Feliciano, kami saling membenci satu sama lainnya, dan aku nyaris lupa bagaimana aku bisa sebegitu membenci mereka karena aku selalu menemukan alasan baru untuk semakin tak menyukai mereka. Ivan, mungkin satu-satunya yang secara buka-bukaan menekanku, dan alasanku membencinyalah yang paling jelas. Alfred dan Eduard, aku tak terlalu membenci keduanya, kami memiliki hubungan netral, setidaknya aku berpikir seperti itu, tetapi keduanya jelas tak menganggapku sebagai temannya. Orang-orang terdekatku, Alice, Berwald, Matthew, dan Kasem... aku bukan yang nomor satu bagi mereka. Jangankan Lukas.

Kalau aku berubah, setidaknya mencoba berubah... apa hubunganku dan pandangan mereka terhadapku akan berubah pula?

Namun aku langsung bersiaga saat mendengar dua suara langkah yang mendekat. Aku pun mengintip dari balik kipas, dan melihat dua sosok lelaki mengenakan setelan formal yang perbedaannya sangat kontras. Dan saat aku melihat wajah mereka, berusaha mengenenali siapa yang berada di balik topeng, betapa terkejutnya aku saat menyadari keduanya adalah Arthur dan Alfred. Mereka berdua, makhluk paling bebal yang ku benci, terlihat begitu tampan dan menawan dengan gaya pakaian mereka yang khas. Arthur mengenakan tuksedo tradisional beraksen Inggris kental yang dengan tegas menyatakan kalau ia memang memiliki kelas. Sementara Alfred, mengenakan kemeja coklat dan rompi berwarna hitam. Tiga kancing kemejanya terbuka dan dasi yang ia kenakan dibuat kendur dan berantakan, memberikan kesan Liar yang pasti membuat para penggemarnya menjerit histeris.

"—you twat! I said no!"

"Duuude, kamu sendiri yang bilang aku boleh pergi."

"Aku menyuruhmu untuk enyah, bukan memberikan waktu lagi dimwit! Kamu sendiri yang bilang besok! Jika kamu tak membawa semua laporan dari minggu-minggu sebelumnya, terpaksa aku melarang kelompokmu untuk ikut pertandingan nanti!"

Sialan! Kebetulan macam apa ini?! Kenapa mereka berdua? Oke, tenang, aku bisa mengelabui mereka dan pergi meninggalkan mereka, tanpa mereka tahu ini aku. Aku pun melipat kipas yang menutupi mulutku, menggenggamnya dengan kedua tanganku yang tersandar manis di bagian ulu hati. Ku tarik napasku dalam-dalam, lalu berjalan menjauhi bagian kiri jalan yang dekat jendela, menjauhi mereka yang berada di jalur tersebut. Mereka tak bakalan mengenali ini aku selain karena aku tak mengenakan kaca mata tebalku yang ikonik, juga karena bahkan aku sendiri tak mengenali ini aku saat tadi melihat refleksi diriku di kaca. Hanya perlu berjalan perlahan dan anggun, tak perlu terburu-buru, mereka toh tak akan perduli—Alfred mungkin akan melirikku, tetapi kekasihnya saat ini, si gadis manajer sudah jelas dua tiga kali lebih cantik dari sosokku saat ini. Dan saat aku sudah melewati mereka, aku akan mempercepat langkahku dan pergi sebelum mereka tertarik perhatiannya akan keberadaanku yang seharusnya di dalam Aula.

"Pokoknya laporan harus sudah ada di meja kantorku besok! Now we are done with our discussion, if you may! Pardon me, lady?"

Tiba-tiba Arthur menyetopku, dengan cepat ia berjalan ke hadapanku dan sedikit membungkuk. Apa-apaan ini?! Kenapa—...?!

"Mungkin lady lupa, tetapi pestanya ada di Aula utama sekolah. And, I am sure you wouldn't mind for me to escort you there and have a pleasant conversation just between the both of us?"

Aku sedikit lega karena ia benar-benar tak menyadari siapa aku dari balik topeng, tapi saat ia selesai mengatakan hal tersebut dan menawarkan tangannya, aku langsung seketika berpikir ia sinting. Sebegitu berbedanya kah aku dengan yang biasanya? Sebegitu baik topengku bekerja hingga bahkan ia terlena?

"Oi oi Arthy, jangan mengganggu gadis itu..." Alfred datang mendekatiku, "dari pada bersama bapak tua yang kuno ini, bagaimana kalau denganku? Wild and sexy over old and rusty, no?"

Sebenarnya apa yang terjadi saat ini? Mungkin benar kata Eduard, dan tak hanya Arthur saja, tampaknya Alfred juga mengalami malfungsi parah pada otaknya.

"For the love of—... jaga sopan santunmu di depan seorang wanita! Pardon my rude cousin, and please do ignore him. Mari, ku antar ke Aula? Atau mungkin lady ingin berkeliling dulu sebelum dansa dimulai? Enjoying the calm and beautiful night with me?"

"With you? Don't joke around old man. Apa yang seru dengan berjalan-jalan? Lets go girl, lets enjoy the party with your hero!"

"Alfred Jones!"

Bisa sinting jika aku terus berada di dekat mereka, aku harus mencari cara untuk kabur. Sementara mereka sibuk berdebat sendiri, aku melihat bayangan seseorang yang tampaknya baru saja keluar dari Aula dan memberikanku sebuah ide. Aku menunjuk-nunjuk ke arah sebaliknya dari koridor dengan tak mengeluarkan suaraku, takut mereka mengenaliku.

"What is it lady?" Arthur bodohnya malah memperhatikan tanganku, "tanganmu gemetaran... lady?"

Kedua lelaki tolol itu menoleh kearah yang ku tunjuk, dan seketika itu aku langsung berbalik berjalan cepat menuju persimpangan, berusaha tak mengeluarkan suara, biarpun seharusnya sih tak mungkin jika aku berjalan di bagian paling tebal dari karpet merah. Ku lepas sepatu hak tinggiku setelah berhasil kabur, menyelipkannya di sela-sela tembok dan meja penghias, petugas bersih-bersih akan datang hari senin 'kan? Aku akan mengambilnya besok. Setelahnya, aku berlari sambil mengangkat rokku tinggi-tinggi, membiarkan bagian bawah crinoline terlihat dan sedikit terangkat. Dan samar-samar, aku bisa mendengar suara Arthur dan Alfred yang telah lama menyadari hilangnya keberadaanku dan tampaknya tak menyerah untuk mencari. Dari pembicaraan mereka, aku menangkap kalimat ini;

"She's shaking so badly, something is wrong with her, or something is chasing her." Kata Arthur.

"Or, she loves the thrill of hide and seek with a hot dude like me. And I will catch her, just you see."

Arthur benar, aku dikejar-kejar oleh sesuatu, monster yang awalnya tak perduli denganku, tiba-tiba kini sangat haus akan darahku. Dua keparat yang kini membuatku makin benci terhadap mereka. Biarpun halangan pertama sudah disingkirkan, yaitu sepatu hak tinggi, kini datang halangan kedua, crinoline. Beratnya rok yang disangga oleh crinoline membuat lariku tak seimbang karena panjang kerangka hanya selutut, ditambah dengan rok bagian belakangnya sangat panjang. Setelah menurutku keadaan sudah sedikit aman, aku menoleh ke balik punggungku, memastikan kedua makhluk itu tak lagi mengikutiku. Yakin situasi telah aman terkendali, aku merencanakan cara untuk melenyapkan halangan kedua. Hal yang aku hanya perlu lakukan adalah berlari ke bangunan kedua, berganti pakaian, lalu kembali ke asrama, menikmati dua belas jam tidur di kasur yang empuk tanpa ada yang mengganggu. Sempurna.

"Aduh!"

Hidungku serasa nyaris patah, menghantam langsung sesuatu yang keras dan menjulang tinggi. Karena tak terlalu memperhatikan jalan, tampaknya aku menabrak tembok yang ada persis di depanku... Tunggu... tak ada tembok... aku masih ada di koridor... ada bayangan besar yang tiba-tiba berbelok di persimpangan...

"Ostorozhnym!" Tangan putih besar menangkap bahuku saat aku nyaris terjungkang ke belakang, genggaman tangannya sangat kuat tetapi juga lembut.

"Apa kamu baik-baik saja?"

"Ivan!" Spontan aku menyebutkan namanya saat melihat wajahnya tanpa topeng, juga karena keterkejutanku akan keberadaannya yang tak terduga.

"Da. Aku Ivan, apa aku mengenalmu?"

Terpana. Setelah kaget, kali ini aku dibuat terpana. Si beruang Russia yang mengenakan kemeja bergaris, rompi coklat, dan pita kupu-kupu mampu membuatnya terlihat seperti manusia, bidadari malah, saking tampannya. Ia juga masih mengenakan syal kremnya yang kali ini hanya dililitkan di bahunya dan terlihat rapi. Kesan kuno dan klasik, tetapi menawan.

"Kita... kamu, kamu tak mengenalku. Maaf. Terima kasih, aku pergi dulu." Kataku dengan suara yang dibuat-buat supaya tak menyerupai suaraku yang biasanya. Tetapi saat aku melepaskan genggamannya di bahuku, ia justru malah menggenggam pergelangan tanganku... sialan, bahkan Ivan juga?

"Setidaknya," katanya perlahan dan lembut, "bolehkah aku tahu namamu?"

Tampaknya gaun Alice disematkan sebuah kutukan oleh seseorang, dan siapa pun yang mengenakannya akan menarik perhatian orang yang paling dibenci. Aku hanya menggigit bibirku, karena tiba-tiba otakku tak bekerja saat aku berusaha mencari nama.

"Mi—," awalnya aku ingin menyebutkan Michelle, tetapi aku tak ingin ia menjadi incaran si beruang Russia, ia terlalu baik untuk mendapatkan kesialan itu. "Mira."

Genggaman tangannya berubah erat dan menyakitkan.

"Aku tahu bukan itu namamu." Matanya menatap mataku dengan dalam, "apa kamu takut padaku?"

Aku SANGAT takut denganmu, terima kasih. Tetapi bagaimana bisa si beruang berubah menjadi seorang pangeran seperti ini? Apa sebetulnya ia memang seperti ini? Tidak, tidak mungkin. Ada puluhan murid yang juga ia tindas, jadi aku yakin ia hanya terlihat seperti ini pada seorang yang menurutnya cantik, tetapi itu bukan urusanku. Sifatnya tetap saja seenaknya ya?

Suara Arthur dan Alfred yang sedang bertengkar sudah dapat ku dengar dari kejauhan, dan Ivan menyadari hal tersebut. Ia melihat ke sekeliling kami, mencari dari mana suara tersebut datang tanpa melepaskan tanganku, bahkan tarikan tanganku yang liar seperti bukan apa-apa untuknya.

"Apa mereka mencarimu?" Nada suaranya menunjukkan kekhawatiran yang nyata. Ia mampu mengagetkanku dua kali malam ini. Betul-betul kaget. Aku sungguh tak tahu dengan siapa aku berbicara saat ini, apa mungkin Ivan memiliki kembaran? Aku dengar sepupu laki-lakinya, yaitu kakak laki-laki Irunya, mirip dengannya, apa ia bukan Ivan tetapi sepupunya? Sejak kapan ia bisa bersikap sebaik ini?

Suara Arthur dan Alfred membuatku semakin panik, dan aku pun dapat melepaskan tanganku dalam satu tarikan karena aku mengenakan sarung tangan. Dengan segera aku langsung berlari menjauh, dan anehnya, Ivan tak mengejarku. Dan sekali lagi, aku dapat mendengar percakapan Arthur, Alfred, dan Ivan sebelum aku betul-betul jauh dari mereka.

"Dimana dia?" Tanya Alfred, "hei, Ivan, kau melihatnya?"

Tampaknya saat ditanyai begitu, Ivan menyembunyikan sarung tanganku yang terlepas, aku tak yakin motifnya apa melakukan itu karena ingin melindungiku atau mungkin ia memiliki rencana dengan sarung tangan tersebut. "Melihat siapa?"

Disini, Arthur tahu Ivan menyembunyikan sarung tangan hitamku. "You have her glove... where is she?"

Setelah itu aku tak lagi dapat mereka kalimat yang dikatakan Ivan. Akan tetapi aku tak perduli lagi, berada lebih lama lagi disini demi menguping tak dapat membayar resiko tertangkap.


08:25 PM.

Aku bersandar pada pintu ruang rapat nomor tujuh belas. Aku sudah tak perduli lagi jika ketiga monster itu masih mengejarku atau tidak, yang pasti, rencanaku untuk dapat kembali ke asrama gagal total. Pintu dikunci, entah siapa yang memegang kuncinya sekarang, dan kunci cadangan ada di ruang OSIS. Aku tak sebodoh itu, menyusup ke ruang OSIS hanya demi kunci apa lagi saat ini aku sedang diburu oleh ketuanya. Jika aku berkeras untuk ingin tetap kembali ke asrama, bakal sangat mustahil dengan kostum seperti ini, aku hanya bisa menunggu hingga seorang yang ku kenal datang, biarpun sekali lagi, itu mustahil. Untuk sementara waktu, aku akan keluar dari bangunan dan bersembunyi di taman belakang bangunan keempat, hingga malam mungkin? Aku akan mengecek ruang rapat beberapa jam sekali hingga akhirnya aku bisa berganti pakaian dan pulang.

Selama perjalanan keluar bangunan kedua, aku sempat berpikir beberapa saat. Kenapa serangan panikku tak datang? Padahal biasanya aku terkena serangan saat dalam suasana genting. Apa karena aku tahu mereka tak tahu ini aku? Maka aku percaya diri mereka tak akan bersikap menyebalkan seperti biasanya? Seandainya mereka tahu ini aku, apa mereka akan kembali bersikap sama seperti sebelumnya? Atau ada yang berubah? Aku ingin mencari tahu hanya karena iseng dan untuk memuaskan rasa penasaran. Jika mereka tak mengubah sikap mereka terhadapku yang biasanya, aku akui mereka memang pantas ku hargai karena konsisten dan tidak tiba-tiba berubah hanya karena aku... terlihat cantik?

"Veeh?"

Tubuhku seketika membeku mendengar suara yang luar biasa familiar tersebut. Aku melihat ke sekelilingku dengan panik, mencari dimana si pemilik suara. Oh tidak, jangan sampai Feliciano juga, tetapi jika memang ia juga tertarik perhatiannya, maka aku benar kalau gaun ini dikutuk. Tidak, aku memang tidak melupakan kalau ia adalah seorang playboy yang bisa melahap siapa saja, bisa, bukan berarti dia harus. Ia tak mendekati Michelle atau Lucille. Ia juga tak mendekati Elizaveta yang sangat menawan.

"Sei un Angelo?"

Ia pun muncul dari balik pilar besar di teras. Ia mengenakan kemeja biru dan rompi coklat, hampir mirip dengan gaya Alfred, hanya saja, Feliciano tak menggunakan dasi, dan hanya dua kancing yang ia biarkan terbuka. Untung aku entah kenapa sudah terbiasa dengan tiba-tiba-ada-pria-tampan-yang-biasanya-tidak-terlalu-dan-sekarang-ada-di-depanku, jadi saat melihat Feliciano yang sudah menawan, aku tak terlalu terpana lagi.

"Tu davvero sei uno!"

Aku tahu beberapa bahasa Italia, tetapi saat ia sepenuhnya berbicara menggunakan bahasa itu, aku tak dapat mengerti artinya. Tetapi biar ku tebak, Angelo itu artinya Bidadari bukan?

"Sebuah takdir bisa bertemu dengan seorang bidadari!" Katanya dengan nada ceria palsu yang biasanya ia gunakan. Benar tebakanku. "Veeh... siapa namamu?"

Topeng coklat yang ia gunakan sama dengan topeng yang ia kenakan tahun lalu. Dan jika dilihat dari dekat dan dibantu oleh cahaya lampu malam, aku bisa melihat detail yang menegaskan kalau topeng itu tak ia rawat dengan baik.

"Apa kamu tak bisa berbicara?" Tanyanya lagi, kali ini ia berjalan semakin mendekat, akan tetapi, melihatku berjalan mundur saat ia maju satu langkah kearahku, membuatnya berhenti mendekat. "Aku tak akan melakukan apa-apa padamu, bella donna."

Separuh dari alasanku menjauh darimu memang karena kamu akan melakukan APA-APA terhadapku andai kamu berhasil menangkapku, sama seperti yang dilakukan Ivan, dan yang akan dilakukan oleh Alfred dan Arthur jika mereka berhasil menangkapku. Tetapi sikapnya yang tak memaksa lumayan membuatku terkejut.

"Yes? Hello? I am sorry babe, terjadi sesuatu, aku tak bisa datang, ada sesuatu yang sangat darurat, you know, hero's duty. Ya? What?!! Well, b****, do what ever the f*** you please then, aku sudah berbuat banyak untukmu, dan sekarang saat aku tak bisa—... what the f***!? Well, go f*** yourself!"

Suara Alfred terdengar sangat dekat! Apa ia sudah melihatku? Kenapa situasinya jadi intens sekali sih?! Di belakang ada Alfred, di depan ada Feliciano? Jika aku harus ditangkap salah satunya, siapa yang menurutku tak akan melakukan hal yang buruk-buruk padaku seandainya mereka tahu akulah yang ada dibalik topeng? Alfred? Feliciano? Aku rasa tak keduanya, dan benar sekali umpamaanku mengenai vonis mati, saat ini aku tinggal memilih mau mati dengan cara bagaimana, ditikam di jantung, atau digantung? Tidak keduanya menyenangkan, keduanya juga tak memberikan mati yang cepat, pada intinya aku harus bisa mencari celah yang nyaris mustahil ditemukan tersebut untuk dapat hidup...

Persetan dengan semua ini! Aku ingin hidup! Aku tak perduli lagi kalau sampai tertangkap!

Persis saat Alfred berada di belakangku, aku berlari kearah Feliciano, namun aku menghindari uluran tangan Feliciano dan berlari melewatinya. Aku sudah menyiapkan telapak tanganku untuk menampar siapa pun yang menarik tanganku, akan tetapi, tak ada suara langkah yang mengejarku sama sekali, dan biarpun penasaran, aku tak lagi mau mengambil resiko menoleh kebelakang, tak peduli jika hanya sebentar. Tetapi, aku sudah kehabisan napas duluan, dan tak mau membiarkan kesempatan itu lewat, aku pun melihat kebelakang dan mendapati Feliciano dan Alfred sedang berdebat. Beberapa kali Alfred berusaha berjalan kearahku, tetapi Feliciano menghalanginya.

Sekali lagi pertanyaan itu datang... apa ia, Feliciano khususnya, akan melakukan hal yang sama terhadapku yang berada di balik topeng? Membantuku? Entah kenapa, aku mulai merasa kecewa berat. Bukan karena semua akan kembali seperti semula setelah pesta dansa berakhir, bukan juga karena aku tak lagi akan dikejar-kejar seperti saat ini karena aku cantik—yang sangat tak mungkin, tetapi, aku ingat sekali, beginilah sikap mereka terhadapku saat pertama kali kami berkenalan. Bukan kejar-kejarannya, tetapi sikap sopan, saling menghargai, dan saling melindungi. Aku juga sama, baik terhadap mereka...

Pertanyaan lainnya.

Kenapa mereka tak lagi bersikap seperti itu? Apa karena mereka sendiri membenciku? Apa yang membuat mereka membenciku? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa yang membuatku menjadi seperti ini? Menjadi buntalan berisi semua hal negatif? Apa sebetulnya mereka menjauh dariku, membenciku balik, karena aku duluan yang memperlakukan mereka secara buruk?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatku berhenti berlari dan kembali menoleh kebelakang. Alfred dan Feliciano sudah tak ada, membuatku agak kaget dan takut pada awalnya, biarpun separuh dari sisa otakku masih terus memikirkan dengan dalam untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan aku rasa memang, duduk diam sendiri di taman belakang bangunan keempat, merenung, akan membuat waktu kosong menjadi setidaknya lebih berharga dan bermakna. Jadi kini aku hanya melanjutkan perjalananku dengan berjalan pelan. Dan seandainya salah satu dari empat orang tersebut kembali datang, aku akan membuka topengku dan menyudahi kejar-kejaran yang membuang waktu ini. Akan lebih baik jika mereka bisa menikmati pesta dansanya tanpa perlu perdulikan aku, aku cukup dibiarkan sendiri.

"Signora?"

Ah, Feliciano tepat waktu. Ia berada di jendela yang sudah ia buka separuh, lalu melompati semak-semak dan keluar. Ia bertelanjang kaki, dan dari rupanya, ia pasti sempat adu tinju dengan Alfred. Apa membuka topeng akan membuatnya kecewa sudah mau menerima tinju dari Alfred? Mau merasakan sakit hanya untuk melindungi orang yang ia benci? Apa ia akan kecewa?

"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang telah Alfred perbuat terhadapmu?" Tanyanya. Ia melihat keseluhuran tubuhku hingga rambutku. "Kamu tampak kacau."

Tiba-tiba, datang perasaan kasihan terhadap Feliciano. Aku tak ingin menghancurkan imajinasi mereka kalau mereka telah menemukan gadis cantik dan anggun. Aku tak ingin meluluh lantakkannya hanya karena aku membenci mereka. Tidak, mereka sudah mendapatkan cukup kebusukan, tak perlu lagi mereka mendapatkan sampah di malam yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan. Jadi aku meraih wajahnya, dan mencium pipi kanannya, nyaris menyentuh bibirnya dengan sengaja.

"Terima kasih." Bisikku, masih dengan suara yang dibuat-buat. Semoga saja ia tak mengejarku lagi. Aku betul-betul berharap tak ada lagi yang mengejarku. Aku pun kembali berlari, kali ini bukan demi diriku, tetapi deminya, demi mereka. Sebagai tanda permintaan maafku. Mungkin besok aku akan menyesalinya dan melupakan alasan kenapa aku melakukan ini, semuanya akan kembali seperti semula, tetapi aku ingin, hanya hari ini saja, menjadi orang lain. Menjadi orang yang tak mereka benci, biar aku dapat merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi diriku yang bersikap baik—setidaknya, tak seburuk diriku yang sebelumnya.

Aku mencuri lirik sedikit saat aku sudah berjalan cukup jauh. Ia masih berdiri di tempat, dan dengan ujung tangan kirinya, ia menyentuh bagian dimana aku menempelkan lipstik merah milik Alice yang berbentuk bibirku. Aku yang biasanya agresif penuh kebencian mungkin akan mendapatkan satu ide jahil dan akan mengkonfrontasi Feliciano, memanas-manasinya seolah aku menang, jika Feliciano semakin membenciku. Dan aku baru menyadari betapa kekanak-kanakannya aku selama ini.


Alice bakalan membunuhku... rok dari gaun yang ku kenakan terkena bercak tanah, lumpur, dan rerumputan, serta debu. Sial, aku harus membersihkannya segera saat sudah di asrama nanti, untuk sementara ini, aku terpaksa mengangkatnya dengan benar dan memastikan ujung rok tak terkena tanah yang dapat memperburuk keadaan, malam ini akan berjalan panjang dan melelahkan... Beruntung keempat orang tersebut tak lagi mengejarku, setidaknya aku yakin mereka tak mengejarku hingga ke bangunan keempat, mereka pasti sudah kehilangan jejak. Tidak, semoga saja mereka membuang harapan mereka dan kembali menikmati pesta dansa. Membuang waktu hanya untukku akan membuat mereka kecewa berat. Aku tak mau lagi dibenci lebih jauh dari ini, setidaknya...

Pikiranku sudah terokupasi oleh pertanyaan-pertanyaan tadi yang belum terjawabkan. Tetapi ada lagi pertanyaan egois yang baru saja muncul. Untuk apa aku berubah untuk mereka? Beginilah aku, semua orang berubah, jika aku dibenci oleh mereka, memangnya kenapa? Ada sesuatu yang mengubahku dari gadis Ekstrovert yang popular menjadi kutu buku Introvert bukan? Kenapa aku yang merasa bersalah? Akan tetapi semua pertanyaan tersebut langsung ku buang jauh-jauh, kali ini, aku ganti dengan pertanyaan baru. Apa yang membuat mereka membenciku? Perubahan apa pada diriku yang membuat mereka sebegitu tak sukanya hingga bersikap menjengkelkan terhadapku?

Kenapa? Kenapa aku merasa sedih? Merasa kecewa? Padahal biasanya aku tak perduli jika mereka membenciku... apa yang terjadi padaku malam ini?

"Kenapa aku tak mati saja sekalian?" Erangku saat aku berhasil sampai di taman belakang bangunan keempat. Pertanyaan kedua datang setelah aku sudah berada di depan kursi batu pertanyaan paling terpenting yang jawabannya sudah pasti. Bagaimana aku duduk? Dengan crinoline aku rasa mustahil.

"Kenapa?"

Pertanyaan tersebut membuatku nyaris terlompat, dan otomatis aku menoleh ke belakangku. Apa aku tertangkap? Si murid yang bertanya, yang menampakkan dirinya dari balik pepohonan adalah seorang pangeran dalam balutan tuksedo beraksen warna putih dan biru muda. Topeng putih yang terkesan regal seolah memperlengkap tampilannya yang bagaikan seorang pangeran sungguhan. Ah, mengingatkanku pada skenario drama dari negara asal Yong Soo, dan kartun dari negara asal Kiku.

"Kenapa kamu mau mati?" Tanyanya dengan nada penasaran ketimbang khawatir, "apa kamu tak perduli kalau percobaan bunuh diri itu melanggar hukum?"

Aku tertawa, "dan jika aku ditangkap oleh polisi? Apa hukumannya? Hukuman mati?"

"Kita tidak di Inggris." Jawabnya. Yang mebuatku terkejut setelahnya adalah, tiba-tiba ia membuka topeng putihnya dan menunjukkan wajahnya, biarpun aku sudah tahu siapa dia, tetapi kenapa ia melakukan itu?

"Kenapa?" Tanyanya lagi.

Aku menatap matanya yang berwarna biru Indigo. Melihat betapa berbeda ia bersikap padaku dan pada gadis yang ia tak kenal. Aku yakin sekali ini tak ada hubungannya dengan cantik atau tidaknya wajahku, sekali lagi, pasti ada hubungannya dengan perubahan sifatku akhir-akhir ini. Tetapi, sebegitu cantiknya kah penampilanku saat ini hingga orang-orang tak perduli dengan tanganku yang tak dibalut oleh kain, yang berwarna lebih gelap dari mereka orang barat dan asia timur? Dan apa mereka tak dapat melihat kombinasi warna kulitku yang gelap dan rambut sehitam arang memberikan mereka petunjuk yang sangat besar?

"Karena aku muak." Jawabku dengan tegas. "Sangat muak."

"Gadis sepertimu tak sepantasnya muak akan sesuatu."

"Kenapa? Kenapa aku tak bisa? Aku masih manusia, Lukas." Kataku dengan ketus. "Aku hanya merasa kalau... cukup sudah aku diperlakukan seperti ini, dan aku ingin menghentikannya."

Akan tetapi, bukannya menanggapi pernyataanku, ia balik bertanya. "Kenapa kamu tahu namaku?"

Ups... sialan, kenapa tiba-tiba aku lupa kalau ia tak tahu akulah yang ada dibalik topeng ini?

"'Cukup sudah'... maksudmu, memutuskan hubunganmu dengan orang-orang itu? Mereka membuat hidupmu sulit, makanya kamu hanya ingin berteman dengan orang-orang yang membuatmu senang? Bahagia?"

Perkataannya membuatku membelalak terpukau. Ia seolah telah menjawab pertanyaanku, biarpun itu bukan solusi yang menurutku tepat... tetapi kenapa tidak? Meminta maaf kepada mereka, Arthur, Feliciano, dan orang-orang yang harus menerima perlakuan burukku. Dan selesai. Aku tak perlu berubah, aku hanya perlu mencari teman baru. Dengan begitu, aku tak perlu merasa kecewa, mereka juga tak perlu lagi berteman denganku. Brilian!

"Kau benar... kau jenius." Kataku, masih terpukau. "Terima kasih banyak. Bagaimana aku bisa tak terpikir? Aku pergi dulu, sekali lagi, terima kasih."

Namun Lukas tiba-tiba meraih tanganku, menggenggamnya erat.

"Kamu... aku tahu siapa kamu."

"Siapa?"

"Nona Perpus."

Aku pura-pura menahan tawa. "Dia?"

"'Dia'? Siapa lagi?"

"Aku tahu aku bukan dia. Ia bersama Matthew dan Alice tadi, dan aku melihatnya." Jawabanku terdengar cukup meyakinkan. Akan tetapi, tampaknya ia tidak mempercayainya dilihat dari ekspresi yang ia tunjukkan. Dan ia tak menerima jawaban tersebut. Dengan satu gerakan gesit, ia berusaha menarik buka topengku, biarpun usahanya tersebut gagal dan justru memutuskan talinya yang terpasang di telinga kiriku karena aku berhasil menghindarinya dengan menarik diriku mundur. Dengan cepat tanganku menyangga topeng yang nyaris terbuka. Ia tetap kasar eh? Tetapi kali ini ia menggunakan fisik sebagai medianya.

"Jeg beklager..." Katanya dalam bahasa yang tak ku mengerti. Ada penyesalan dalam suaranya.

"Selalu saja kasar." Kataku dengan ketus, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkannya. Dan satu lagi orang yang masuk ke dalam daftar baruku, daftar orang-orang yang hubungannya denganku akan segera ku putuskan. Lukas Bondevik.


10:56 AM, Minggu.

Adalah sebuah vonis mati untukku yang tertulis di kertas tersebut. Namun bukan sebuah pemberitahuan yang kali ini tertempel di papan pengumuman. Melainkan sebuah berita yang dibuat oleh kelompok Koran sekolah. Sebuah cerita hantu. Sesuatu yang menjadi perbincangan hangat murid-murid sedari tadi. Tentu saja Alice, yang menarik tanganku dengan sangat gembira kesini, menginginkanku melihat kabar yang menurutnya sebuah mukjizat. Tidak... ini adalah sebuah vonis mati baru... dan tentu saja, judul cerita tersebut yang menjadi topik utama dengan judul yang dibuat sebesar mungkin di halaman pertama.

Lady in Red, the beautiful lady from a popular ghost story, spotted in school at Prom night?

Wanita bergaun merah, seorang wanita cantik yang datang dari sebuah cerita hantu populer, terlihat di sekolah saat malam Pesta Dansa?

Lady in Red

Fin.


-Russia:

Ostorozhnym = Hati-hati

Da = Ya

-Italia:

Sei un Angelo = Apa kamu seorang bidadari?

Tu davvero sei uno = Kamu seorang bidadari!

Bella donna = Bidadari/wanita cantik

Signora = Nona

-Norwegia:

Jeg beklager = Maafkan aku


Author's Corner:

Terima kasih sudah membaca SLD! Tetapi SLD belum selesai sampai disini, saya sudah siapkan chapter kedua, dimana klimaks akan terjadi! Yang pastinya akan terjadi character developement besar-besaran! Whoot whoot! Jangan sampai ketinggalan ya! :D :D

Review's Corner:

Balasan untuk Colors-of-fire;

Terima kasih sudah mau membaca SLD! Saya salah satu dari fans karakter protagonist perempuan yang sifatnya keras dan kuat, dan menurut saya karakter Indonesia yang seperti itu bakalan bisa membuat cerita lebih menarik kan? Biarpun di Fic ini, Nesia kesannya jadi keliatan kayak gadis negatif yang galak xD. Terima kasih untuk Reviewnya! :D

Balasan untuk Freeze112;

Itulah intinya xD. Karena menurut saya karakter yang keinginannya kompleks itu bisa jadi bahan cerita yang bagus, juga bisa menciptakan ceritanya sendiri hanya dengan berinteraksi sama orang. Terima kasih sudah mau baca SLD dan atas Reviewnya! :D :D