Lokasi: Jepang, Tokyo (dunia manusia).

Waktu: 10:00

.

.

.

[00: 03]

[00: 02]

[00: 01]

BUUUMMM!

Suara ledakan keras pun terdengar sampai ke taman tempat dimana gadis berambut honeyblondeberumur empat belasan itu duduk memerhatikan. Dari tempat tersebut, tampak pecahan kaca berserakan beserta bangunan yang remuk dan hancurkarena ulahnya.

Ia pun memperhatikan mobil-mobil polisi yang berjalan di depan taman dengan kecang—melewatinya. Gadis berambut honeyblonde tersebut menghela nafasnya lalu berdiri.

Ia mengenakan dress tipe gothic lolita berwarna hitam dengan renda-renda putih di berbagai ujungnya. Terdapat juga pita besar berwarna hitam di lehernya. Selain itu, sebuah pita berwarna senada bertengger manis di atas kepalanya.

Sepatu yang ia kenakan berupa sepatu boots dengan berbagai pernak pernik dan pita. Sedangkan di pelukannya terdapat sebuah boneka kelinci imut berwarna putih dan pink yang memiliki mata terbuat dari kancing besar berwarna hitam.

Namun jangan salah sangka, di dalam boneka tersebut terdapat sebuah dinamit yang siap meledak kapan saja.

Gadis itu pun tenyuman miris. "Pembalasan untukmu Miku. Kau telah mengambil semuanya dariku. Lenka-nee, Kaa-san, Tou-san, kehidupan normalku, dan semua temanku."

-Shinigami Troubles-

*Ch 1: Len's Present Life, The Mission, and Rin's Life*

*Request Go Minami Hikari Bi*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin x Kagamine Len

Genre: Supernatural, Sci-fi, Adventure, Romance, Mystery, Tragedy, Crime

Warning: Typo(s), all in Normal PoV, Reverse Harem, alur lambat/cepat, slight RinLui dan RinPiko, vampire!Lui, shinigami!Piko, ide sebagian dari Go Minami Hikari Bi

Summary:Kehidupan Len berubah drastis saat dirinya diberikan sebuah misi untuk mengambil jiwa seorang gadis bernama Kamine Rin. Namun yang ia lakukan justru mengubah sang gadis menjadi shinigami!

Lokasi: Vivione, Mansion Akita (dunia supernatural).

Waktu: 06:29

.

.

.

Kringgg!

Len mengerjapkan iris biru safirnya berulang-ulang untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamar yang menyala dengan terangnya. Setelah itu, iapun mengambil posisi duduk.

Rambutnya masih tampak belum disisir, sedangkan ia masih mengenakan baju piyama. Len menggapai ke meja di sebelah tempat tidurnya dan tangannya menekan tombol di jam digital yang selalu ia letakkan di samping tempat tidurnya.

06:30

Len menguap sejenak namun tetap meyakinkan dirinya untuk terjaga. Ia pun melipat selimut dan merapikan bantal guling yang ia pakai tadi malam. Lalu setelah selesai, ia pun mengambil pakaian untuk mandi dari dalam lemari.

.

.

.

"Ohayou, Tou-san," ucap Len kepada ayah 'angkat'-nya—Akita Nero—yang sedang membaca koran. Nero pun menoleh ke arah sang anak dan tersenyum. "Ohayou mo."

Tiba-tiba saja Neru masuk ke dalam ruang tamu sambil membawa sebuah nampan berisi roti panggang. Nero dan Len yang melihatnya pun langsung menghentikan aktifitas mereka dan duduk di meja makan.

"Ohayou, Kaa-san." Neru mengangguk sambil tersenyum lembut, "Ohayou, Len."

Kehidupan Len kini jauh lebih baik daripada dahulu. Para ilmuwan berusaha mencari kehadiran Len kesana kemari, namun mereka tak menemukan apapun karena Neru dan Nero memutuskan untuk mengganti marga Len menjadi Akita.

Dengan begitu, para ilmuwan akan kesulitan melacaknya. Mengenai rupa, Len sudah banyak berubah, sehingga Neru dan Nero memperbolehkan Len memulai sekolah saat ia SMP (sebelumnya ia homeschooling oleh Neru dan Nero sendiri). Mengenai sifatnya, ia masih saja sama seperti dulu.

Dan Len akhirnya memutuskan untuk memanggil Nero dan Neru dengan panggilan Kaa-san dan Tou-san, walaupun susah. Entah mengapa Len saat kecil tidak dapat mempercayai Neru sehingga ia memerlukan waktu tiga tahun sebelum memanggilnya dengan panggilan 'Kaa-san'.

Nero? Anak lelaki tersebut kelihatannya cepat akrab dengannya. Dan bagi Len, Nero memiliki banyak kesamaan dengan ayah kandungnya di berbagai sisi. Sehingga Len hanya memerlukan waktu beberapa bulan untuk memanggilnya dengan panggilan 'Tou-san'.

"Jadi, hari ini kau akan , Len?" tanya Neru. Len mengangguk sambil mengambil sebuah roti panggang.

"Iwya, tapi katwanya swusah." Len mengatakannya sambil mengunyah roti. Nero sendiri hanya diam mendengarkan, sedangkan Neru ber-oh ria.

Neru dan Nero merupakan seorang shinigami. Shinigami adalah salah satu dari dua species yang tinggal di dunia supernatural (species lainnya adalah vampire).

Sedangkan para ilmuwan merupakan shinigami yang memutuskan untuk tidak melakukan tugas mereka seperti biasa (mereka lebih memilih meneliti daripada mengambil jiwa-jiwa).

Len sendiri jugalah seorang shinigami, dan karenanya Neru dan Nero memutuskan untuk memasukkan Len ke dalam sebuah sekolah khusus para shinigami (Shinigawa High School).

Mengenai misi, para shinigami baru diperkenankan untuk melaksanakan misi mengenai pencabutan jiwa saat mereka menginjak masa SMA. Karena itulah, ini merupakan misi pertama Len.

"Semangat ya, Kaa-san akan mendukungmu." Neru meninju tangan kanannya ke udara—memberi semangat pada Len. Len mengangguk –masih dengan mulut penuh roti.

"Uwm!"

.

.

.

"Ini misi pencabutan nyawa pertama kalian." Luna-sensei pun menggunakan sihirnya dan dalam sekejab sebuah lembaran berdiri melayang di depan para murid yang sedang duduk manis di bangku masing-masing.

"Para guru memilihnya random, jadi tak ada yang namanya tidak adil. Jiwa yang kalian ambil harus dikumpulkan lusa. Dan ingat, jangan terburu-buru mengambil jiwanya." Sekali lagi Luna-sensei memperingatkan.

Len pun mengambil lembaran kertas yang melayang di hadapannya dan membaca nama yang tertera disana. Kamine Rin. Ia pun menoleh ke bagian sudut kanan atas dimana foto gadis itu terpajang.

Wajahnya kecil, seperti boneka. Apalagi ditambah kedua manik matanya yang besar. Selain itu, ia tampak tersenyum di foto dan hal tersebut menambah kesan manis dalam pendapat Len.

"Kelihatannya sih takkan sulit..." Len membatin lalu meletakkan lembaran tersebut di meja –tanpa membaca lanjutan informasi mengenai si gadis. Ia pun menoleh ke shinigami lain yang berada di sebelahnya lalu menepuk pundaknya pelan, "Hoi, Piko."

Utatane Piko, teman sebangku Len dan juga salah satu teman baik Len. Ia berambut putih dan memiliki rambut seperti 'antena' di atas kepalanya. Piko dengan cepat menoleh ke arah Len—kebinggungan.

"Ada apa?" tanyanya. Tanpa aba-aba, Len menyambar lembaran kertas yang tadinya sedang dibaca oleh Piko. Awalnya Piko terkejut, namun kemudian menghela nafas pasrah.

"Bukannya bilang-bilang malah langsung main sambar." Piko pun menyindir Len pelan. Len tampak tidak menggubrisnya dan sibuk meneliti target Piko. Piko yang melihatnya mendengus kesal, namun perhatiannya segera teralihkan pada lembaran kertas milik Len.

Tangannya dengan cepat mengambil lembaran yang berisi garis besar informasi mengenai Rin dan membaca nama yang tertera disana: Kamine Rin. Kemudian ia melihat foto di sebelahnya.

Cantik.

Itulah yang berada di pikirannya saat melihat foto gadis tersebut. Dan entah mengapa, ia ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Piko pun membaca informasi selanjutnya mengenai gadis tersebut.

Nama: Kamine Rin

Umur: 14 tahun

Lokasi: Dunia manusia

Negara: Jepang

Kota: Tokyo

Sekolah: Kirayuki Academy

Kelas: 9-C

Pekerjaan: Pelajar, perancang bahan peledak, teroris

Piko membelalakan matanya. Lehernya serasa tercekat. Teroris? Serius? Apa saja yang pernah gadis ini lakukan? Tapi melihat bahwa ia merupakan ahli rancang bahan peledak, Piko menyimpulkan bahwa gadis ini pernah meledakkan/membom manik matanya pun kembali menelusuri kalimat di bawahnya.

Teman baik: -

Keluarga: -

Rin merupakan seorang gadis yang memiliki sifat manis, kekanakan, dan polos. Namun di balik tingkahnya tersebut, ia merupakan buronan para polisi yang dicari-cari sampai sekarang karena telah membom delapan gedung (penuh dengan fasilitas mewah) milik Hatsune Corp. Pemboman terakhir ia lakukan kemarin, jam sepuluh pagi.

Para polisi belum mengetahui bahwa Rin-lah yang membom gedung-gedung tersebut. Karena memang, susah sekali kecurigaan datang kepada seorang gadis yang terlihat begitu 'polos' di luar.

Dan anehnya, Rin selalu membom di malam hari ketika para pekerja sudah pulang ke rumah dan tak ada orang. Seperti menghindari menyakiti orang-orang tak ini normal, ia tidak memiliki gangguan jiwa ataupun semacamnya. Sedangkan alasan mengapa ia membom gedung-gedung tersebut juga belum diketahui.

Piko langsung mengguncang-guncang tubuh Len yang sibuk membaca keterangan target Piko —seorang anak lelaki bernama Megpoid Gumo. Len yang merasa terganggu pun menoleh kearah Piko dengan wajah gusar.

"Ada apa?" tanyanya kesal. Piko menunjuk dan menggaris bawahi kata 'teroris' dan 'perancang bahan peledak' dengan jari telunjuknya. Len membacanya lalu terbelalak.

"Kelihatannya gadis ini jauh lebih parah daripada targetku ya, Len." Len langsung menarik lembaran kertasnya yang berada di genggaman Piko dan membaca keterangan mengenai gadis tersebut sampai selesai.

Setelah selesai, ia pun menoleh ke arah Piko dengan wajah horror. "Piko, ayo kita bertukar target!"

Piko mendelik mendengarnya.

"Enak saja," balasnya. Len menghela nafasnya lalu kembali menatap lembaran kertas miliknya. Ia tampak benar-benar tak menyangka bahwa gadis target misi pertamanya merupakan seorang teroris.

Maksudnya—saat ia melihatnya dari segi wajah, gadis itu tampak seperti gadis yang normal (sangat normal malah). Terlebih lagi, ia terlihat seperti gadis polos yang sangat ceria.

Piko menepuk punggung Len beberapa kali dengan wajah prihatin untuk memberi dukungan pada sahabatnya itu, "Kurasa sekarang kau hanya bisa pasrah, Len."

.

Bwahaha. Saya rasa ga ada yang menyangka kalau Rin disini adalah seorang teroris ya (tentunya kecuali Hikari-san). Entah mengapa saya ngerasa akan ada slight pair RinxMikuo (karena Mikuo merupakan kakak Miku) disini, tapi gatau ah *ngacir*

Pokoknya chap depan mengenai RinLen dulu, disini RinPiko sudah keliatan sedikit sih (Lui masuknya masih agak lama). Terima kasih banyak bagi yang sudah membaca, fave dan follow cerita ini! Saya seneng banget lho saat melihat fav follownya menginjak angka 7.

Ini balasan reviewnya!

-CelestyaRegalyana

Bukan Nero, tapi ilmuwan-ilmuwan yang gila itu tuh *diijek-injek sama para ilmuwan*

Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review!

-Go Minami Hikari Bi

Oke –w-)b ini sebenernya setelah ini saya rada kebinggungan ngeekspresiinnya bagaimana lanjutannya (nanti kita bahas lagi di PM #nak)

Ini sudah lanjut, arigatou sudah ditunggu!

-Kurotori Rei

Bwahaha, namanya juga reverse harem. Tapi Rin disini teroris tuh, mana ada yang mau *disikat Rin* (Rin: Woi! Lu juga yang buat gue gini kaleeee!)

Ini sudah lanjut, arigatou Rei sudah me-review!

-Vanny Zhang

Maaf kalau terlalu Caroline penasaran. Harem itu saat dimana satu cowok direbutin banyak cewek (min. 2), tapi karena ini Reverse Harem, jadi kebalikannya *nak*

3 Bulan? Ohh... (Caroline: Emang Alice kira apa)

Oke, arigatou gozaimasu!

-Hachipine IA

Bwahaha. Entahlah ini juga idenya nyampur aduk semua, tapi memang sengaja biar susah ditebak alurnya *disikat habis sama readers*

Ini sudah lanjut, arigatou ne IA-san sudah me-review!

Maaf kalau hasil cerita ini kurang memuaskan, ada typos, dsb. Ini saya sudah lanjutkan, terima kasih banyak atas dukungan reviewer di atas.

Sekian, jaa ne!

~Kiriko Alicia