Jimin tau ini salah, semua perbuatan yang ia lakukan salah. Tidak seharusnya ia menikmati cumbuan laki-laki kurang ajar ini. Ia bisa saja memukul bahkan menendang laki-laki brengsek di hadapannya. Tapi, ini semua demi uang untuk membiayai keluarganya.

.

.

Moment

Only Fanfiction

MinYoon GS!Yoon

.

.

.

Jimin menunduk sedih, ia harus mencari pekerjaan yang layak unruk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tapi, kemana lagi? Ia teringat bayang-banyang istri dan anaknya di rumah. Ini adalah resiko yang harus di tanggung oleh dirinya. Tentu saja, kalau tidak mau ya jangan menikah.

Sejak awal pernikahan mereka, Jimin sudah bertekad. Bisa atau tidak bisa, ia harus membahagiakan keluarganya. Mau atau tidak mau, ia harus mau bekerja keras untuk keluarganya. Karena, itulah moto hidupnya sekarang.

Tangannya mencoret-coret koran yang bertuliskan lowongan pekerjaan. Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang gajinya lumayan tinggi. Tapi, Jimin tidak memenuhi persyaratan tersebut. Apalah daya, ia hanya lulusan sekolah menengah atas. Sedangkan persyaratannya harus sarjana strata satu. Jimin memang berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Matanya menemukan sebuah iklan lowongan pekerjaan tentang pelayan kafe. Tidak harus seorang sarjana, yang penting sudah lulus sekolah menengah atas dan gajinya lumayan besar. Ini dia yang Jimin cari. Ia peluk koran itu saking senangnya, yang menyebabkan bentuknya tidak karuan. Ia segera melihat alamat kafe itu dan ternyata kafe itu terletak tidak jauh dari rumahnya.

Ah.. Tuhan ternyata masih menyayangi keluarganya. Segera Jimin bergegas pergi ke alamat kafe itu berada.

.

.

Jungkook menyeringai pelayan manis yang berdiri di hadapannya. Pemuda itu terlihat ketakutan akan tatapan Jungkook. Jungkook menatapnya seolah-olah pemuda manis itu tidak menggunakan sehelai benang di tubuhnya. Jungkook semakin suka ketika pemuda manis itu takut padanya.

"T-tuan ingin pesan apa?" Bahkan suaranya yang bergetar itu berhasil memancing libido Jungkook. "Americano saja." Suaranya begitu kentara akan sarat gairah. "B-baik tuan." Segera Jimin pergi dari hadapan laki-laki mengerikan itu. Sebelum Jimin membalikkan tubuhnya, sebuah suara sudah menahannya.

"Aku ingin kau yang mengantarkannya untukku." Kata Jungkook tegas. Jimin hanya bisa meringis dalam hatinya. "Nde, Tuan." Jimin hanya menjawab ala kadarnya dan segera berlalu dari hadapan Jungkook. Padahal baru saja Jimin ingin meminta tolong pada pelayan lainnya.

.

5 minute later...

"Ini pesanan anda, Tuan." Jimin menaruh pesanan Jungkook dengan sopan. Tak lupa, dengan senyuman manis yang ia paksakan. Ketika akan berbalik, sebuah suara menahannya. "Bisakah kau temani aku sebentar,Tuan Pelayan?" Jimin meremang mendengar suara Jungkook. Mau tidak mau, Jimin akhirnya menemani Jungkook.

Jimin duduk tepat di depan Jungkook. "Kurasa, aku tidak pernah melihatmu di sini?" Jungkook bertanya sambil menyesap kopinya pelan. "Y-ya, Tuan. Saya baru bekerja hari ini." Jimin bergerak gelisah dalam duduknya. Ia ingin segera pergi dari hadapan pria menyeramkan ini.

"Oh, begitu. Aku Jeon Jungkook." Jungkook mengulurkan tangannya kepada Jimin. Ragu-ragu, Jimin pun membalas uluran tangan Jungkook. "J-Jimin." Ia sengaja tidak menyebutkan marganya. Entah kenapa, ia berfirasat buruk pada tuan Jeon dihadapannya ini.

Jungkook menyeringai samar setelah mengetahui nama pelayan dihadapannya. Dengan agak keras, Jungkook menarik tangan Jimin cepat yang mengakibatkan pemuda itu mendekat kepadanya. Jimin membulatkan matanya, ia merasakan sebuah bibir menempel bahkan melumat bibirnya. Ia mematung, pikirannya langsung blank. Sampai Jungkook melepas ciumannya pun Jimin masih terdiam di tempatnya.

Jungkook semakin melebarkan seringaiannya setelah melihat Jimin yang mematung. Jungkook memutuskan untuk meninggalkan laki-laki manis itu sendiri. Ia harus segera menghadiri rapat dengan dewan perusahaannya. Jungkook meninggalkan uang berupa pembayaran dan tip untuk Jimin. Tak lupa pula, sebuah kartu nama miliknya.

"Jangan lupa menghubungiku, Manis." Jungkook melewati Jimin sambil berbisik rendah di telinga lelaki itu. Ia juga menjilat sekilas cuping telinga Jimin.

Sepergian Jungkook, Jimin terduduk lemas di kursinya. Ia menyentuh telinga dan bibirnya sembari menangis kecil. Ia telah menghianati istrinya secara tidak sadar. Ia melihat ke arah uang, tip dan kartu yang ditingggalkan oleh Jungkook. Dengan segera, Jimin mengambil semua itu beserta cangkir minuman yang dipesan Jungkook ke dapur.

Di dapur, air matanya tak berhenti mengalir. Ia gosok-gosok bibir dan telinganya kasar. Seolah-seolah tubuhnya telah tekena najis. Biginikah Tuhan memperlakukan hidupnya? Mengapa Tuhan tak bisa adil pada hidupnya?

.

.

.

Jimin pulang dengan langkah gontai. Ia hanya cepat-cepat ingin bertemu istri dan putra kecilnya. Ia tidak sabar untuk memeluk putra kecilnya. Tak lama kemudian pintu rumah mereka terbuka, menampakkan Yoogeun dan Yoonji. Jimin menyambut kedatangan keduanya dengan penuh sukacita.

"Pa!" seru Yoogeun senang ketika melihat ayahnya. Yoogeun langsung berlari ke Jimin sambil memeluk ayahnya. Tentu saja, Jimin dengan senang hati memberikan pelukan kepada bocah itu sambil mengusap surai hitamnya lembut.

"Yoonji-ah, selamat datang." Ucap Jimin disertai senyuman kerinduan. Tapi, Yoonji hanya membalas senyuman Jimin dengan senyuman kegetiran. Jimin tidak menyadari senyuman Yoonji karena sibuk mendengar celotehan riang Yoogeun.

"Apa kau sudah makan, Jimin-ah." Bagaimanapun ini tetap kewajibannya sebagai seorang istri. Jimin tersenyum singkat, "Belum, Yoonji-ah. Aku menunggu kalian berdua." Lihatlah, bahkan suaminya belum makan karena mereka berdua.

"Aku akan memasakkan sesuatu. Kami sudah makan di rumah Eomma. Tolong bawa Yoogeun ke kamarnya. Ini sudah waktunya Yoogeun untuk tidur." Jimin mengangguk sekilas dan membawa putranya ke kamar.

.

.

"Jim, aku tidur duluan." Kata Yoonji sambil meninggalkan suaminya di dapur. Jimin memaklumi hal itu, mungkin Yoonji lelah sekali. Setelah makan, ia membersihkan piringnya dan pergi menyusul Yoonji di kamar mereka.

Ia melihat Yoonji tidur memunggungi dirinya. Ia peluk dari belakang tubuh istrinya. Tak lupa, kecupan sayang di surai hitamnya sambil menggumamkan sebuah kata sayang kepada istrinya. Setelah itu, Jimin pun menyusul Yoonji ke dalam alam tidurnya.

Yoonji sendiri sebenarnya belum tertidur. Matanya masih terjaga dan sekarang mata cantik itu mengeluarkan air mata. Yoonji hanya bisa berharap kalau kata-kata Jimin memang benar.

Malam itu, ia mengabiskannya dengan lelehan air mata yang mengalir deras tanpa suara.

.

.

TBC

Akhirnya, ff ini dilanjutkan. aku g nyangka kalau ff ini dapet respon positif dr reader

makasih buat yang udah baca...

Special Thanks : Merli Kim, lol, , de uthie, f lluvia, hoshiloutte, qwertyxing.