Semua hal yang berhubungan dengan Naruko bukan punya saya

Warn: cerita ini seperti ova, jika di anime... namun akan berlanjut di cerita sayap cahaya

Dua hari kemudian…

Setelah menerima ajakan Ibu Shikamaru untuk tinggal bersama mereka. Naruko merasakan apa itu yang namanya kasih sayang orang tua, walaupun ia tahu bahwa Ibu Shikamaru tersebut bukanlah orang tua kandungnya, namun ia tetap senang. Di kota ini pun dia diterima dengan baik oleh warga sekitarnya. Ia juga senang dengan fakta tersebut. Walau bagaimanapun, ia tidak bisa melupakan siksaan penduduk di kota sebelumnya. Ia pun mendapat tiga teman yang sebaya dengannya. Namanya Sara dan Shizune. Sara merupakan gadis periang dan juga baik hati, ia juga sangat hyperaktif dan ceroboh. Sedangkan Shizune sedikit pendiam, menyukai hal-hal berbau tentang obat herbal. Satu lagi, kini aku mengingat mimpimu.

Oh ya, teman yang satunya lagi adalah orang yang 3 tahun lebih tua darinya. Ketika aku melihat orang tersebut, aku seperti menatap cermin. Lebih anehnya lagi, ia memanggilku Imouto, bukan Imouto-san ataupun Naruko-chan. Namun entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa hari ini merupakan hari yang paling mencekam. Naruko tersentak begitu melihat dinding rumah yang berada di depannya retak besar karena kerasnya hantaman pada dinding rumah Shikamaru. Naruko sangat mengenal suara di balik dinding itu. Sosok yang sangat ia segani, Shikaku Nara. Jeritan kesakitan berasal dari sisi lain dinding yang retak itu.
"Tou-san," gumam Naruko sembari meruntuki dirinya yang tidak berdaya sama sekali. Dia mau menolong ayahnya Shikamaru, tetapi jangankan menolong ayah Shikamaru, bertahan satu menit aja belum tentu bisa ia lakukan.

Apa kau mau kekuatan?

Sebuah ucapan memasuki pendengaran Naruko. Sementara Naruko menundukkan wajahnya, nampakn memikirkan tawaran tersebut. Ia ingin mengucapkan ya, tetapi cahaya yang sangat terang muncul di depan Naruko. Tubuh Naruko menjadi kaku, shock dengan cahaya yang tiba-tiba muncul.

"Jangan mau terbujuk dengan rayuan suara itu Naruko, berbahaya." Ucap sosok yang berdiri di tepat cahaya tersebut muncul. Naruko membuka matanya dan Nampaknya mata Naruko berubah menjadi mata Trigel, sebuah kekuatan mata tingkat awal, dimana mata tersebut aktif ketika ia merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

"Siapa kamu? Seru Naruko yang sadar dari shocknya. Dia melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan dirinya, mulai dari rambut,

"Aku? Apa kamu tidak bisa melihat persamaan diantara kita?" bukannya menjawab, justru perempuan itu bertanya dengan nada lembut. Mata Naruko melebar, ia ingin percaya, namun ia takut kecewa.

"Ti-tidak mungkin… Tidak mungkin…" ucap Naruko tergagap. Walaupun ia tahu jika di depannya hanya kebohongan dan hanya menyebabkan sakit hati, tetapi setidaknya salah satu harapannya terwujud, yaitu bertemu dengan sosok orang tuanya.

"Aku bukanlah ibumu…" belum sempat sosok perempuan itu menyelesaikan ucapannya, sebuah panah api melesat dari arah kanan perempuan itu. Sosok perempuan itu tidak menghindar yang membuat Naruko melebarkan matanya. Namun, panah tersebut hanya melewati perempuan itu dan menghantam dinding rumah Shikamaru disertai suara ledakan kecil.

Insting perempuan itu berteriak ada bahaya yang menghampiri mereka semua. Dan benar saja, di belakangnya dari kejauhan, ada laser hitam yang melesat dengan cepat mengarah ke mereka, lebih tepatnya Naruko. Sosok perempuan itu menoleh ke belakangnya dan matanya melebar melihat laser yang jaraknya hanya 632 meter dari mereka itu mengarah ke … Naruko. Sementara itu, sosok yang menyerang perempuan itu yang ternyata adalah ibunya Shikamaru, berteriak agar Naruko menghindar. Ia ingin menyelamatkan Naruko tetapi tidak akan sempat karena betapa cepatnya laser itu melesat. Sementara itu, Naruko tidak bergerak sama sekali, rasa takut membuatnya diam tak berkutik, tubuhnya bergetar hebat. Tanpa sadar, air mata membanjiri pipinya. Naruko memandang ke langit-langit rumahnya, seakan ia memandang langit biru yang indah, ia tersenyum sedih dan bergumam pelan, "Sampai disini saja kah perjuanganku untuk bertahan hidup?"

Naruko menutup matanya, menanti rasa sakit yang akan ia terima. Namun, daritadi ia tidak merasakan rasa sakit. Tetapi ia merasakan sesuatu seperti air, tetapi lebih kental, bercipratan di wajahnya. Ia juga merasakan bajunya yang basah akan sesuatu. Naruko membuka matanya dan dirinya terkejut melihat sebuah lubang besar di perutnya sosok itu. Bahkan sayap putih yang indah tersebut hancur tak tersisa.

"Ugh… Jangan bersedih, aku tidak ingin kau menangisiku… Ugh… aku … tidak… pantas… ditangisi… Masih terlalu… dini… dirimu untuk menangis… Karena… perjalananmu… Ohok…" sosok perempuan itu memuntahkan darah segar sebelum menyelesaikan ucapannya. "Masihlah panjang… Dunia… Ini memasuki… masa-masa… ugh… Kritis, jangan… putus… asa… dalam menghadapi cobaan… Kaa-sama" ucap sosok itu dengan suara makin lama makin pelan. Tetapi kata 'Kaa-sama' tidak dapat didengar dengan baik. Sosok itu roboh ke lantai.

"Tidak… tidak… tidak… TIDAK!" teriak Naruko entah karena apa. Ia terduduk sembari meremas rambutnya. Rasa sakit yang luar biasa menyerang kepala Naruko. Pupil Naruko bergerak ke kiri, depan, kanan, belakang secara berurutan. Energy putih menyelimuti Naruko. Muncul lambang dua sayap di punggungnya Naruko. Lambang tersebut bersinar terang. Sedangkan Ibu Shikamaru menatap nanar Naruko yang menderita. Ia ingin mendekati Naruko, tetapi insting bertarungnya mengatakan jangan dekati Naruko. Ibu Shikamaru merasa janggal satu hal. 'Sejak kapan segelnya berubah menjadi lima, bukan tapi empat buah. Apa jangan-jangan… Naruko-chan merupakan seorang malaikat seperti Kushina-chan? Ah tidak mungkin, namun aku tau segel tersebut. Atau jangan-jangan… Naruko-chan anaknya Kushina… ' Analisis Ibu Shikamaru yang sedikit terkejutn ya dengan analisisnya sendiri. Namun jika dilihat dari fisik Naruko, mengingatkannya dengan salah satu sahabatnya yang bodoh, Minato Namikaze. Tetapi Ibu Shikamaru menepis jauh-jauh analisisnya karena ia juga tahu bahwa manusia dan malaikat tidak bisa bersatu, bahkan mustahil.

"Me-menakjubkan, sihir bocah itu menakjubkan. Aku harus 'memakannya' agar bisa menjadi seorang dewa, hahaha!" ucap seorang pria yang mengenakan topeng badut dan baju kerja. Direntangkan kedua tangannya, sakan menanti untuk dipeluk seseorang. Dia menatap takjub dengan sosok Naruko yang perlahan memunculkan sayap transparan dari punggungnya. Energynya sangat putih dan suci, serta energy tersebut sangatlah kuat. "Sayap yang indah." Gumam sosok bertopeng badut, yang hanya di bagian mata dan hidung yang dilubangj.

Setelah itu pandangan Naruko menggelap.

.

.

.

.

.

"Aku ingat… kau… Kau yang membunuh Ibu dan Shikamaru. Kau… kau juga membunuh sahabatku… Tidak akan ku maafkan!"

End…