Happy Birthday Kibum Kim ex-Super Junior. Love ya ( -_-)/

.

.

LullabyDik

Presents

.

.

.

Kyuhyun memilih lewat pintu samping yang langsung menuju ruang tengah dekat ruangan dirinya dan Donghae. Laki-laki berkulit pucat dengan ruam kemerahan di sekitar leher yang tidak dia tutupi itu bergegas masuk ke ruangannya.

"Ya Tuhan... ini gila!" Kyuhyun membuka lemari kecil tempat Farmasis itu menyimpan baju cadangan, memakai kemeja dan celana baru beserta dalamannya. Terakhir, jas putih yang menjadi kebanggaan Kyuhyun.

Masih sebelah tangan yang terpakai ke lengan jasnya, saat itu Donghae membuka ruangan mereka. Kyuhyun berjengit kaget.

"Ketuklah sebelum masuk!"

"Tapi, ini ruangan ku juga," dengan wajah bingungnya setelah diketusin Kyuhyun tanpa sebab, Donghae beralih ke mejanya yang penuh berkas-berkas dari penting sampai tidak. Donghae mengernyit begitu melihat tumpukan baju habis dipakai terletak di meja Kyuhyun, "kau tidak pulang semalam? Pantas terlambat."

Kyuhyun mendengus. Berkacak pinggang ke rekannya, "Lihat siapa yang bertanya. Kau masih ingat rupanya. Tuan tidak bertanggung jawab! Bisa-bisanya kau meninggalkan ku. Di mana kau semalam? Kau membuatku seperti orang bodoh..."

Sebelum berbicara panjang kali lebar dan membuat pusing kepala beruntun, Donghae segera menyela, "Ku lihat kau bersenang-senang dengan kumpulan namja yang tidak ku kenal. Jadi, ku biarkan saja. Lagipula, kau sudah dewasa. Bertanggung jawab seperti apa yang kau minta. Ada-ada saja." Buktinya Kyuhyun kembali ke ruang kerjanya dengan selamat tanpa cacat. Donghae mengangkat bahu acuh tak acuh. Memilih melanjutkan tujuannya ke sini.

Kyuhyun juga tidak sambung bicara lagi. Terlalu banyak pikiran sekarang untuk sekadar berdebat. Pun tubuhnya terasa lemas sekali. Setelah menggelung pakaian kotornya dan memasukkan ke dalam plastik, Kyuhyun hendak ke meja Donghae dan bertanya seputar anak magang.

Tapi, di tengah perjalanan, Kyuhyun menabrak ujung meja. Pinggangnya terkena, tidak begitu kuat, seperti ke senggol. Hanya saja, efeknya begitu luar biasa. Bagai sengatan lebah yang menjalar sampai-sampai bokong. Kyuhyun refleks membungkuk dengan memegangi pinggang. Persis kakek-kakek bongkok yang mengeluh sakit.

"AKHH... SAKIT SEKALI...!"

Donghae mengalihkan pandang ke Kyuhyun, "Hey...kau tak apa?" –dan mendekati rekannya.

Kyuhyun meringis-ringis, wajahnya memerah menunjukkan farmasis itu tidak bercanda.

"Ini sakit sekali. Pinggangku mati rasa! Aku tidak bisa bergerak! Apa aku terkena sindrom stroke? Bagaimana ini Hae? Aku masih ingin liburan sama eomma dan appa. Jadi captain Cho yang disayangi Ahra noona."

Melebih-lebihkan segala hal adalah keahlian Cho Kyuhyun. Daripada merespon perkataannya dan terjadi debat tak berujung, Donghae berinisiatif menyelipkan kedua tangannya di lutut Kyuhyun yang tertekuk. Meski pun lebih pendek, Donghae bisa menguasai tubuh Kyuhyun dengan otot-otot tubuhnya.

"Pelan-pelan! Kau tak tahu rasanya sakit sekali!"

Donghae tidak menggubris protesan Kyuhyun, tapi, saat dia melihat ke bawah dan matanya tertumbuk ke bagian leher Kyuhyun yang tak tertutupi kemeja dan jas putihnya. Saat itulah Donghae menyeringai lebar.

"Ya. Aku memang tidak pernah di posisi bawah," Donghae berdecak, "seharusnya kau dan aku buka-bukaan dari awal. Mungkin kita bisa bermain selama ini. Kau terlalu serius sih."

Kyuhyun mengernyit. Seratus persen tidak mengerti. Posisinya masih menggantung di udara dengan bantuan tangan kokoh Donghae.

"Kau bicara apa! Aku tidak paham."

Donghae menggeleng-geleng berlagak tidak habis pikir dengan kemalu-maluan tapi mau dari seorang Kyuhyun. Setelah menurunkan Kyuhyun pada satu-satunya sofa berduduk tiga di ruangan itu dengan hati-hati, Donghae mengambil syalnya dan melilitkan ke leher Kyuhyun yang tengah mengaduh-aduh sakit.

"Apa kata anak magang nanti, kalau melihat penilainya sendiri terlambat karena baru menghabiskan masa-masa indah di ranjang."

Kyuhyun refleks memukul kepala Donghae, "Ini kesalahan! Aku diperkosa!"

"Ck!" Donghae berdecak, tidak mau dekat-dekat dengan Kyuhyun lagi, dia pun berjalan ke mejanya melanjutkan tujuan awalnya masuk ruangan ini, "terserahmu saja." Dalam hati Donghae mencibir, syukur saja dia tidak menyentuh orang seanarkis Kyuhyun, siapa pula yang berani melakukan itu, mampuslah dia.

"Ehm..., jadi bagaimana mahasiswa magang?"

"Kau masih ingat tugasmu ternyata."

Kyuhyun berdecak, "Beritahu saja. Aku akan menemui mereka."

"Sudah sampai perkenalan. Karena menunggumu tadi, tidak banyak yang ku lakukan. Jumlah mereka ada enam. Jadi, tiga untukmu dan tiga untukku. Tapi, ada satu orang yang belum datang..," Wajah Kyuhyun menunjukkan ketidaksukaan saat mendengar penuturan terakhir Donghae, "kau tidak masalah kalau aku memutuskan sepihak pembagian kelompok kan?"

Merasa bagian punggung dan pinggangnya sudah lumayan baik, Kyuhyun pelan-pelan bangkit dari sofa dan mendekati tempat Donghae. Tatapannya penuh selidik.

"Siapa mahasiswa magang yang cari mati itu? Ku harap dia berada di kelompokku."

Donghae bergidik mendapati jiwa sadis Kyuhyun mulai bangkit, "Soal itu..."

"Kau tidak membaginya berdasarkan wajahkan?" potong Kyuhyun sarkastik.

"Tidak," Jawab Donghae tanpa ekspresi, "dengar, aku mengacak dari nomor absen mereka. Jadi, aku tidak tahu menahu mahasiswa cari mati yang kau katakan berada di kelompokku atau kelompokmu."

Mengangkat bahunya, Kyuhyun menepuk bahu Donghae sekali, ujung dagunya terayun ke arah pintu.

"Ayo kita temui mereka."

[~A~B~]

Terhitung 5 kepala di ruang tunggu yang duduk gelisah tidak sabaran. Sesekali mereka bergantian melihat pintu yang disinyalir sebagai ruangan apoteker tampan bernama Donghae tadi masuk.

"Lama sekali." Gerutu namja oriental berwajah baby face, di sebelahnya namja lain bermata belo hanya menatap ke depan tanpa ekspresi. Jika diperhatikan, keduanya bertubuh mungil untuk ukuran laki-laki, persis anak SMP yang menunggu hasil raport.

Tiga kepala lagi terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan. Beruntunglah perempuan itu menjadi satu-satunya kaum hawa di sana.

Tiba-tiba dari arah pintu masuk, seorang namja berwajah menawan yang meretas senyum tipis bergabung bersama kelima lainnya. Atmosfer berubah canggung.

Namja berwajah baby face langsung bersemu merah terpesona. Wajah cemberutnya berganti jadi senyum malu-maluin. Di sebelahnya, oh, namja bermata belo masih memandang ke depan seakan ada hantu-hantu kertas bergoyang dumang.

"Ah perkenalkan. Aku Kim Kibum. Jurusan farmasi di Universitas SuJu."

"Kalau kau tidak di jurusan farmasi, kau tidak akan berada di sini." alis Kibum berkerut mendengar sambutan tak hangat itu. Berasal dari namja berkulit agak kecoklatan seperti dirinya yang berpegangan tangan dengan namja lain bermanik mata coklat terang.

"Onew yeobo... jangan begitu." Ujar namja bermanik coklat terang ke pemuda berkulit agak kecoklatan yang berhasil membuat Kibum kehilangan kata.

"Tapi kau terpesona dengannya yeobo." –yang dipanggil Onew balas merengek.

"Kau salah paham yeobo. Aku hanya cinta padamu. Kau tidak percaya lagi denganku?"

"Aku percaya yeobo. Tapi, kau harus melihatku saja, jangan dia. Aku cemburu."

.

.

Kibum mengalihkan perhatian ke satu-satunya wanita di sana –tampak lebih normal karena duduk di sofa sambil memperhatikan dua sejoli lovey dovey dengan ekspresi jijik. Kibum memutuskan duduk di sebelahnya tanpa izin.

"Aku Kim Kibum." Kibum mengulang perkenalannya khusus untuk si wanita yang berwajah di atas standar wanita pada umumnya.

Wanita itu menoleh, "Hm aku tau. Panggil aku Hani. Dari Universitas Exid."

Tidak mau ketinggalan, namja berwajah baby face berjalan ke depan Kibum dan Hani. Senyummya lebar, mata sipitnya terlihat menjadi garis.

"Aku Byun Baekhyun. Panggil Baek atau Bae saja tak masalah," Dia berkata ceria seakan bunga matahari berjatuhan dari langit, "yang bengong di sana itu namanya Do Kyungsoo. Tapi, aku memanggilnya Dio. Aku dan Dio berasal dari Universitas EXO. Salam kenal! Mohon bantuannya untuk 2 tahun ke depan teman magang!" Baekhyun membungkuk hormat.

Hani lantas berdiri dan balas membungkuk, "Aku Hani dari Universitas Exid."

"Kau wanita yang cantik Hani-ya." Puji Baekhyun.

Hani tertawa kecil, "Terima kasih Baek."

Sementara Kibum, laki-laki itu mengusap tengkuk belakangnya lalu berdiri untuk melakukan hormat formal sebelum interupsi dari namja tampan lain bergabung bersama mereka. Diikuti namja berkulit putih pucat bersyal yang menatap mereka satu per satu intens.

"Maaf lama," Tutur Donghae. Di tangannya terdapat map biru berisi daftar hadir anak-anak magang, "ini rekanku, Cho Kyuhyun. Ada insiden kecil jadi mohon dimaklumi atas keterlambatannya." Donghae melirik Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya, melihat bagaimana respon pemuda itu, Kyuhyun selalu sensitif tentang semua hal buruk dirinya disinggung ke orang lain.

Tapi, bukan pelototan tajam untuk Donghae, melainkan mimik horor dilayangkan Kyuhyun kepada salah satu anak magang yang berdiri rapi di depan mereka.

Donghae mengamati wajah anak magang itu. Tentu saja! Dia salah satu pemuda di meja Kyuhyun di bar semalam. Senyum miring sarat makna tercipta di wajah tampan Donghae.

"Ehm, kau," tunjuk Donghae ke anak magang itu, "aku baru melihatmu di sini. Kau terlambat?"

Kibum yang sedaritadi berusaha tidak menghiraukan pelototan Kyuhyun langsung menjawab pertanyaan Donghae sambil membungkuk 90 derajat.

"Maaf sajangnim. Ada insiden kecil jadi mohon maafkan atas keterlambatan saya."

Rasanya Donghae membutuhkan ruang kosong sekarang untuk melepas bom tawanya.

"Baiklah tidak apa. Karena rekanku juga terlambat. Kau, ku maafkan. Dan jangan panggil sajangnim, aku bukan bosmu tapi penilaimu. 'Hyung' akan terdengar lebih baik." Kibum kembali berdiri tegak dan mengangguk singkat.

Kyuhyun mendengus. Tangannya sudah terkepal menahan amarah.

"Aku sudah membagi kalian menjadi dua kelompok berdasarkan nomor absen. Satu kelompok akan berada di bawah bimbinganku dan satunya dengan Kyuhyun."

Baekhyun merapal dalam hati untuk berada di kelompok Donghae, karena Kyuhyun itu, yang bahkan tidak menyapa mereka terlihat tidak bersahabat.

Well... ada yang lebih meminta pada Tuhan bagai mantera dalam hati. Kibum. Demi Tuhan atau apapun yang lebih agung darinya, berada di kelompok Kyuhyun sama saja masuk ke neraka.

"Kelompok satu dan akan menjadi kelompokku adalah..." kata Donghae mendramatisir. Bagai diiringi tabuhan drum, semua mendengar dengan seksama.

"Lee Jinki, Do Kyungsoo, dan Kim Kibum."

Mereka yang dipanggil namanya tersenyum sumringah, termasuk Kim Kibum yang sudah sempat berjanji akan rajin ibadah ke gereja.

"Yeobo... kita satu kelompok!" seru pemuda bermanik coklat terang.

"Tapi, yeobo. Dia juga Kim Kibum. Kim Kibum yang mana?"

Mendengar percakapan dua sejoli itu, yang lainnya sama-sama bingung. Donghae tidak menyadarinya, pun melihat daftar absen lagi.

"Kim Kibum dari Universitas SuJu." Ralatnya.

Senyum Kibum akhirnya tak jadi luntur. Tapi, dua sejoli di sana saling bermuram durja. Baekhyun dan Hani saling tatap kecewa. Sudah di kelompok Kyuhyun, terpisah dari Kibum pula. Kutukan apa ini?

"Selebihnya otomatis berada di bawah bimbingan Kyuhyun. Kim Kibum dari Universitas Shinee. Byun Baekhyun. Dan Hani."

"Sebentar..." Kyuhyun angkat suara. Nadanya dingin dan menusuk. Keenam anak magang kompak terdiam dan fokus memperhatikan ke arah Kyuhyun.

"Tidak baik memisahkan pasangan kekasih," Kyuhyun diam sejenak, yang lainnya bingung, lebih-lebih Donghae di sebelahnya, "Kim Kibum dari Universitas Shinee akan berada di kelompok Donghae. Untuk menghindari kesamaan nama, sebagai gantinya, Kim Kibum dari Universitas SuJu akan berada di kelompokku."

(O.O)

Mata Kibum membola. WHAT THE! Pemuda itu siap melayangkan protes atas alasan tidak masuk akal. Tapi, Kyuhyun menatapnya tajam dan berkata, "Tidak ada bantahan atau anda langsung saya gagalkan, Kibum-ssi." Diakhir kata, Kyuhyun seakan mendesis bagai ular Anaconda di imajinasi Kibum.

Donghae mengulum senyum. Baiklah, sepertinya dua tahun ke depan tidak akan membosankan seperti sebelum-sebelumnya. Donghae bahkan berharap Kim Kibum itu, yang dari Universitas SuJu berada di kelompok Kyuhyun.

Baekhyun dan Hani saling tatap kembali. Kali ini berganti jadi tatapan bahagia.

Doa mereka terkabul!

.

.

.

[To Be Continued]

Mohon Maaf Sebesar-besarnya.

Dulu saat masih menjadi pembaca, aku mikir, penulis yang gak lanjutin ceritanya itu tidak bertanggung jawab atau penulis yang pake acara hiatus sungguh alay. Apa susahnya lanjutin ceritanya sendiri?

Dan sekarang aku bersumpah gak akan memikirkan hal bodoh seperti itu lagi.

Silahkan menganggap aku bagaimana. Tapi satu hal, aku akan berusaha tetap melanjutkan apa yang aku mulai.

Terima Kasih. Aku baca semua review. Love Ya