Terima kasih sun ucapin buat yang udah riview dan ngasih saran.
The Portal transmision-19. desertsand. L-ThE-MyStEriOus. Yusei'Uzumaki'Fudo. mayra. . HakuZuka.I'MNOTAPERVERT. Yuuchan no haru999.
Yup, langsung saja kita lanjut ke chapter 2.
Title : Syarat buat kawin
Dislaimer : Masashi Kishimoto Sensei
Author : Sun setsuna
Warning :Gaje, OOC, Typo
Don't like dont flame
Summary : Konan meminta Pein untuk melamarnya, tapi apakah rencananya akan berjalan dengan lancar?
-ooo000ooo-
Chapter 2 :
"Gue ada ide bagus." Kata Kakuzu dengan lilin di atas kepalaanya. Pelit banget sih masang lampu nih kakek *di hajar Kakuzu*
"Apa?" Tanya Pein dan yang lainnya penasaran.
"Tadi gue nemu ini nih." Kakuzu mengeluarkan selembar kertas dari dalam kantong celana nya. "Biar gue bacain.." Kakuzu menarik napas panjang.
Pein menganggup angguk dengan antusias.
"Ehem..Apakah anda belum disunat?" Kakuzu mulai membaca isi lembaran tersebut. Pein ngangguk ngangguk.
"Apakah anda sudah terlalu tua untuk di sunat?" Pein ngangguk-ngangguk lagi.
"Apakah calon mertua anda tidak mau menerima anda jika anda belum di sunat?" Pein angguk-angguk lagi tapi urat-urat di kepala nya mulai bermunculan.
"Kasian... deh lu!"
"Kurang ajar lu kuz! Berani-beraninya lu ngatain gue!" Pein tereak-terak sambil memberikan hujan lokal kepada Kakuzu.
"Ampun Pein. Bukan gue yang ngomong, tapi tulisannya bunyinya begitu, gue cuma ngebacain doang."
"Sini, biar gue liat." Pein ngerebut kertas tersebut dari Kakuzu. "Sipa sih yang bikin nih selebaran." Pein mulai menelusuri selebaran itu dari atas ke bawah.
"Tertanda, Orochimaru yang bohay nan menggoda." Pein langsung muntah darah.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Pein ke tempat Orochimaru.
-oo000oo-
"Beneran ini alamatnya?" Tanya Pein ke Kakuzu yang memimpin rombongan Akatsuki ke tempat Orochimaru. Karena Kakuzu yang mendanai sunatannya Pein, jadi dia ynag memimpin rombongan. Saat ini mereka berada di depan sebuah gubuk reot dengan suasana anker yang menyelimuti sekitarnya.
Kakuzu lalu membaca lagi alamat yang berada di selebaran tadi. "Jalan uler kadut, Kecamatan geal-geol, kelurahan muter-muter di atas pager. Iya bener disini." Ucap Kakuzu dengan pasti.
"Masa sih?" Pein gak percaya.
"Liat aja tuh di pintu." Kakuzu menunjuk pintu yang ada sebuah foto yang menempel di depannya. Semua anggota akatsuki langsung melihat ke arah tunjukan kakuzu. Ternyata itu adalah foto Orochimaru yang sedang pamer paha. All Akatsuki langsung muntah masal.
"Selamat datang!" Tiba-tiba muncul seorang pria berkacamata yang membukakan pintu.
"Lho, kita kan belum ketok pintunya?" Tanya Itachi.
"Tidak perlu. Itu karena saya tadi mendengar ada yang muntah-muntah. Pasti karena ngeliat foto ini kan?" Pria berkacamata yang bernama Kabuto itu menunjuk foto Orochimaru dan langsung mendapatkan anggukan dari semua Akatsuki.
"Silahkan masuk. Orochimaru-sama sudah menunggu." Kabuto dan Akatsuki pun langsung masuk kedalam.
"Lama tidak bertemu!" Sapa seorang pria yang fotonya ada di depan pintu tadi, Orochimaru. "Jadi, siapa yang mau di sunat nih?"
"DIA!" semua Akatsuki langsung menunjuk Pein.
"Hohoho, ternyata leader yang belum sunat"
"Jangan banyak omong lu, cepet lu kerjain nih!" Ucap Pein yang udah gak sabar.
Hoek!
Orochimaru langsung mengeluarkan pedang kusanagi dari dalam mulutnya.
"A-apa lu mau nyunat gue pake itu?" Tanya Pein gemeteran sambil nunjuk-nunjuk pedang kusanagi yang lagi dipegang Orochimaru.
"Siapa yang bilang? Orang gue keselek nih pedang. Dari kemaren pengen gue keluarin tapi gak bisa-bisa. Fiuh...akhirnya keluar juga." Orochimaru bernapas lega.
"Sialan lu! Ngagetin gue aja!" Pein ngejitak kepala Orochimaru.
"Woi ero!" Itachi memanggil Orochimaru.
"Nama gue tuh Oro! Bukan ero!" Sangkal Orochimaru. (Red : Ero=mesum. Biasanya naruto manggil jiraiya ero sannin alias sannin mesum. Tapi bukan jiraiya yang disini, jiraiya tetangga sebelah,hahaha)
"Sama aja. Gue mau nanya, Sasu-chan mana?" Itachi bertanya tentang adik kesayangannya.
"Sasuke, ada noh di belakang, lagi maen gundu sama Suigetsu, Jugoo, sama Karin."
"APA! Maen gundu?" Itachi masang wajah sock. "Gue juga ikutan dong!"
Gubrak!
Ternyata dia juga pengen ikutan. Itachi langsung ke belakang buat maen gundu bereng Sasu-chan tersayang.
"Itachi! Gue juga ikut dong!" Sasori langsung ngejar Itachi.
"Danna! Jangan tinggalin aku un!" Deidara ikutan nyusul.
"Deidara–senpai! Tobi juga mau ikut!" Si Tobi ikut-ikutan juga. Dasar autis.
Tinggalllah Hidan, Kakuzu, Zetsu, dan Kisame yang masih menemani Pein.
"Ayo masuk kesini!" Kabuto, selaku asisten Orochimaru mengarahkan Pein untuk masuk ke ruangan lain yang telah disediakan untuk menjalankan proses sunat menyunat.
"Silahkan tiduran disini!" Kabuto menunjuk ke tempat tidur seperti yang berada di klinik-klinik umum. Pein nurut dan tiduran diatasnya.
Orochimaru mulai menurunkan celana Pein perlahan-lahan.
"Wah punya nya lebih besar dari punya ku." Ucap Orochimaru sambil memperhatikan apa yang ada di balik celana Pein.
"Aku juga jadi iri nih Orochimaru-sama." Kabuto juga ikut ikutan kagum.
"Tenang saja Kabuto, aku juga pasti bisa memiliki yang seperti ini."
"Hei kalian!" panggil Pein yang kesal karena dibuat menunggu. "Mau sampai kapan kalian memeperhatikan nya hah?"
"Ehmm.. Pein. Kau beli dimana celana dalam yang bergambar spongebob seperti ini? Gambar nya besar lagi." Tanya Orochimaru. Oh..Ternyata lagi ngeliatin itu toh, kirain apa #Plak
"Beli di tanah abang. Udah ah, cepetan nih sunatnya."
"Tanah abang ya. Kabuto, catet itu." Perintah Orochimaru.
"Baik Orochimaru-sama."
Setelah itu mereka mulai kembali operasi sunat menyunat yang tadi sempat tertunda.
"Gunting?" Orochimaru mulai mengabsen peralatan untuk menyunat Pein.
"Siap!" jawab Kabuto sambil menyediakan barang yang diminta.
"Pisau?"
"Siap!"
"Jarum?"
"Siap!"
"Benang?"
"Siap!"
"Baiklah, kita akan memulainya." Ucap Orochimaru dengan tangan yang sudah memegang pisau dan gunting.
"Lho, gak pake di bius dulu nih?" Tanya Pein dengan wajah gugup.
"Gak pake. Soalnya Kakuzu Cuma ngasih duitnya pas-pasan." Terang Kabuto.
"APA!" Teriak Pein kaget. "Dasar kakek tua sialan. Mau nyiksa gue rupanya tuh orang." Batin Pein mengutuk Kakuzu. "Gue gak mau klo gak di bius." Pein menarik kembali celananya.
"Gimana nih Orochimaru sama?" Bisik Kabuto ke Orochimaru.
"Tenang aja, biar gue yang urus." Orochimaru lalu mendekati Pein.
"Mau apa lu?" Tanya Pein.
"Gue punya cara supaya lu bisa disunat tanpa harus dibius. Tapi lu harus nurutin perkataan gue."
"Sakit ga?"
"Kagak. Gue jamin dengan mepertaruhkan kebohayan gue." Ucap Orochimaru dengan yakin.
Pein sweatdrop.
"Tututp mata lu!" Perintah Orochimaru. Pein langsung nurut dengan menutup matanya.
"Tarik napas dalam-dalam...keluarkan." Orochimaru memberikan instruksi
"Heep...Hoah.." Suara Pein menghela napas.
"Tarik napas dalam-dalam..."
"Hep.." suara Pein menarik napas dan,
Duuuuuutttttt...
Orochimaru langsung kentut tepat diwajah Pein. Alhasil, Pein langsung tepar dengan mulut menganga dan berbusa.
"BILANG-BILANG DONG KLO MAU NGELUARIN TUH JURUS!" Teriak Kabuto sambil menutupi hidungnya supaya gak ikut tepar.
"Klo gue bilang dulu, nanti dia keburu tutup hidung. Lagian kan lu dah biasa sama 'Kentut no jutsu' gue tadi." Orochimaru berkilah.
"Tapi kan tetep aja bau!" Kabuto masih marah-marah. 'Pantesaan aja dulu Hokage-sama ngelarang Orochimaru-sama buat melajarin 'jurus terlarang ini'. Baunya bener-benr gak ketulungan.' Batin Kabuto. Jangan salahkan Kabuto jika nanti dia mengkhianati Orochimaru.
30 menit kemudian.
"Akhirnya selesai juga." Ucap Kabuto sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.
"Ternyata enak juga ya.." Orochimaru juga menyeka keringetnya yang bercucuran.
"Nasi padang ini emang maknyus, apalagi sambelnya." Tambah Kabuto. Ternyata abis pada makan toh. Sunatnya? Tenang aja , udah selesai dari 15 menit yang lalu.
Setelah itu Orochimaru dan Kabuto memanggil anggota Akatsuki yang lainnya untuk masuk kedalam ruangan.
"Bagaimana?" Tanya Kakuzu.
"Beres." Jawab Kabuto.
"Jangan lupa soal pembayarannya." Orochimaru mempaeringati Kakuzu.
"Tenang aja, udah gue transper ke rekening lu."
Kabuto lalu mengambil laptop miliknya untuk mengecek rekening Orochimaru. Wuih.."Sudah Orochimaru-sama."
"Ini, sembuhnya berapa lama?" Tanya Kisame sambil menunjuk ke Pein.
"1 hari lagi juga udah sembuh." Jawab Orochimaru.
"Cepet bener." Akatsuki yang lain pada kagum. Orochimaru gitu loh.
Kemudian, anggota aktsuki yang lain membawa Pein yang masih tepar kembali ke markas.
"Rencana kita berhasil Orochimaru-sama." Ucap Kabuto sambil tersenyum licik.
"Kau benar Kabuto. Sekarang kita sudah mendapatkan sel Pein (kulit sunatnya) si Rinnegan. Dengan ini aku bisa membuat kloningnya, whahahaha." Orochimaru tertawa laknat. Ternyata itu tujuan sebenarnya.
-oo0oo-
3 hari kemudian di rumah Konan.
"Mana Pein si pacar kamu itu hah, udah jam segini kok belum dateng-dateng juga?" Tanya Jiraiya yang terlihat sedang marah-marah ke Konan.
"Tunggu bentar lagi deh beh." Konan berusaha menenangkan bebehnya itu.
"Dasar laki-laki gak punya prinsip. Gimana mau jadi suami yang baik." Jiraiya masih ngomel-ngomel.
Sementara itu di markas Akatsuki.
"Gimana nih un, Pein masih gak bangun-bangun. Padahal kan udah 3 hari un." Ucap Deidara frustasi.
"Sebenernya diapain sih nih anak sama Orochimaru. Emang sih Katanya 1 hari udah sembuh. Tapi percuma aja klo dia belum bangun-bangun juga." Ucap Itachi.
"Iya nih, bisa-bisa lamaranannya di tolak sama babehnya Konan." Kisame ikutan khawatir.
"Gue ada ide nih." Ucap Kakuzu.
"Apa?" Tanya yang lain.
Kakuzu lalu meminjam toa dari para demonstran yang sedang berunjuk rasa supaya Gayus tambunan di hukum seberat-beratnya.(?)
"BANGUN PEIN! ADA MIYABI MAU SYUTING DISINI!" Kakuzu berteriak sekeras-kerasnya di telinga Pein.
"Mana mana mana? Mana Miyabi nya?" Pein langsung bangun dan celingak-celinguk kesegala arah mencari artis favoritnya tersebut.
"Tuh kan bangun." Ucap kakuzu sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Lu gak kerumah nya Konan Pein?" Tanya Sasori.
"He? Emang gue udah pingsan berapa lama?" Tanyanya.
"3 hari." Jawab yang lainnya.
"3 Hari?" Pein masih memproses informasi yang diterimanya.
1 menit
2 menit
"GYAAAA!Dasar Orochimaru sialan! Klo begini bisa-bisa gue gak jadi nikah sama Konan nih!" Pein langsung ke kamar mandi buat cuci muka dan langsung berangkat ke rumahnya Konan. Gak pake mandi.
Kembali kerumah Konan.
"Babeh sih ngasih syarat yang aneh-aneh."
"Babeh kan cuma pengen ngetes dia. Apa bener dia cinta sama kamu. Lagian juga masih mendingan Guy sama dia." Ucap Jiraiya. Entah jampi-jampi apa yang udah digunain sama Guy sampe-sampe babehnya Konan ngedukung dia. Tapi, klo yang di bandingin adalah Pein, kayaknya saya juga setuju, hahaha *di rinnegan*
"Babeh jahat! Babeh gak ngerti perasaan aku!" Konan terlihat kesal lalu berlari kedapur. Kemudian dia balik lagi sambil membawa sebilah pisau.
"Lebih baik...aku.."
"Konan, kamu jangan bunuh diri!" Jiraiya terlihat khawatir melihat puteri semata wayang nya ini main-main dengan pisau.
"Bunuh diri? Siapa? Aku?"
"Lah, emang nya itu pisau buat apa?" Jiraiya jadi bingung.
"Orang tadi aku mau bilang, lebih baik aku...ngupas mangga aja. Daripada besok busuk." Ucapnya sambil memegang mangga yang ada di depan meja.
Gubrak
'Bikin kawatir aja nih anak' Batin Jiraiya bernapas lega. "Babeh Cuma pengen milihin calon suami yang baik buat kamu. Babeh ini udah tua."
Konan sudah selesai mengupas mangga dan memberikannya ke babehnya. Setelah dipotong kecil-kecil dan di letakkan di ats piring tentunya. "Konan ngerti beh."
"Kamu itu kan anak babeh satu-satunya. Babeh pengen kamu seneng, soalnya babeh udah gak punya siapa-siapa lagi. Ibu kamu, dia kan udah gak ada."
Brak!
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu dengan kasar.
Seorang wanita berambut pirang dan berpakaian seksi.
"Siapa yang lu bilang udah gak ada? Lu nyumpahin gue mati ya?" Tanyanya sambil marah-marah.
"Bu-Bukan begitu maksudnya, Tsunade." Jiraiya terlihat grogi.
"Mami." Ucap Konan.
Yup, wanita tersebut adalah Tsunade, ibunya Konan. Berbeda dengan ayahnya yang cukup di panggil babeh, ibunya ini maunya di panggil mami. Gak elit katanya klo di panggil Enyak.
Jiraiya dan Tsunade sudah lama bercerai. Tsunade gak suka kelakuan Jiraiya yang hidung belang. Sementara itu, Jiraiya gak suka kebiasaan Tsunade yang suka berjudi dan mabuk-mabukan. Pengadilan memutuskan bahwa hak asuh jatuh ke tangan Jiraiya. Alasannya, karena hidung belang itu tidak menular. Seandainya anak Jiraiya adalah seorang Pein, mungkin pengadilan itu sudah memilih keputusan yang sangat salah, hahahaha.
Semenjak menjadi janda, penampilan Tsunade langsung berubah heboh. Pakaian yang dulu sopan langsung berubah jadi serba, ehem ehem. Alasannya, supaya dapat menggaet seorang duda tua tapi kaya bernama Danzo. Danzo sebenernya ibarat orang tinggal ngitung umur, tapi yang penting bagi Tsunade adalah, hartanya.
Kembali ke cerita.
"Tumben mami kemari?" Tanya Konan.
"Konan, Katanya kamu mau nikah ya. mami mau lihat calon menantu mami kayak apa."
"Dia..." Konan menunduk karena si calon belum dateng juga sampe saat ini.
"Aku." Ucap pria jabrik, si tokoh utama kita yang baru sampai, Pein.
"Jadi lu calon menantu gue?" Tanya Tsunade.
"I-iya."
"Kenalin Pein, ini mami aku." Ucap Konan.
"Nama saya Pein tante. Pacar sekaligus calon suaminya Konan." Jawab Pein.
"Hm.." Tsunade mengamati Pein –sangat dekat.
Glek!
Pein menelan ludah.
"Ibunya Konan masih muda banget. Udah gitu,.. bohay gila." Pikir Pein yang liur nya hampir keluar. Tangannya mulai bergetar. Entah apa yang di pikirkan makluk mesum ini.
Konan yang sudah hapal akan gelagat Pein yang gampang tergoda rayuan syetan yang terkutuk langsung menarik tangan Pein dan membawa nya keluar rumah.
"Mikir apaan tadi?" Tanyanya sambil masang tampang horror.
"Ehmm..anu.." jawab Pein kikuk.
"Awas ya! Jangan macem-macem!" Ancam Konan.
"I-iya. Maaf ya, aku khilaf." Dasar calon mantu strees! Masa calon mertua sendiri mau di embat juga.
Setalah 'menyadarkan' Pein, mereka berdua kembali masuk ke dalam.
"Bagaimana syarat yang gue kasih?" Tanya Jiraiya.
"Udah om. Klo om gak percaya, biar saya kasih liat." Ucap Pein sambil siap–siap menurunkan celananya..
"Gak perlu! Lu mau bikin gue muntah ya!" Teriak Jiraiya. "Gue percaya."
"Yes. Klo gitu, saya udah bisa nikah sama Konan kan beh, maksudnya om?" Tanya Pein penuh harap.
"Syarat apaan sih nih?" Tanya maminya Konan yang penasaran sama pembicaraan tersebut.
"Begini Tsunade, aku ngasih dia syarat yang harus dilakuin supaya bisa nikah sama anak kita, Konan. Dan dia sudah berhasil melakukannya." Jiraiya menjelaskan.
"Klo gitu, aku juga boleh ngasih syarat dong. Biar begini-begini aku kan ibunya Konan." Tsunade tersenyum licik.
"Alamat buruk nih." Batin Pein.
"Kok mami ikut-ikutan sih. Kasian Pein kan?" Konan masang puppys eye no jutsu. Author blushing.
"Tenanglah Konan. Aku akan melakukan apapun untukmu. Demi cinta kita. Demi masa depan kita." Pein menggenggam tangan Konan.
"Pein..."
"Konan.."
"Pein.."
"Konan..."
"Woi! Ngapain pada adegan sinetron begitu!" Teriak Jiraiya dan langsung narik Konan menjauh dari Pein.
"Syarat selanjutnya.." Tsunade mulai kembali bicara. "Lu karus ngenalin teman-teman lu ke gue"
"Hah?"
"Iya. Gue pengen tau seperti apa temen-temen lu. Gue gak mau Konan punya suami yang pergaulannya gak bener." Ternyata Tsunade perhatian juga yah.
"Ba-baiklah." Jawab Pein terpaksa. 'Bagaimana ini?' Batinnya
TBC
A/N
Chapter 2 selesai. Bisakah Pein memenuhi syarat dari Tsunade alias mami nya Konan. Tunggu di chapter selanjutnya. Buat reader yang udah ngasih saran buat syarat ke Pein makasih ya. walaupun Sun gak bisa penuhin semuanya. Sepertinya chapter selanjutnya adalah chapter terakhir, karena sun kasian sama Pein. apakah kalian percaya itu? Tentu saja tidak,WHAHAHAHA *ketawa laknat, dihajar Pein*. Tapi kayanya chapter depan trakhir, karena klo kepanjangan takut gak bisa nyelesain fic Sun yang lain.
Sekedar tambahan, ada riviewer (nejima sadja) yang nanya "kenapa Author bilang Pein itu mesum? *penggemar nya Pein* ternyata ada juga toh,hihihi. Dia sbenernya riview di fic 'ungkapan cinta Pein'. Tapi karena sun gak tau cara ngebales lewat PM, jadi lewat sini aja yach. Jawabannya adalah. "Sebenernya sun juga gak tau pastinya kenapa, karena sun sendiri masih bisa di bilang baru disini, halah. Di fic2 yang lain soalnya di bikin OOC nya kayak begitu. Mungkin dia dibilang mesum karena di Naruto Shippuden dia adalah murid dari Jiraiya sensei yang terkenal akan kemesumannya *di rasengan jiraiya*. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan langsung pada Pein,hihihi. Sekian dan terima kasih"
Cua-cuap Character
Pein : "Orochimaru sialan! Berani-beraninya lu ngentutin gue!" *marah-marah*
Orochimaru : "Jangan salahin gue dong. Salahin Kakuzu yang gak ngasih duit buat beli obat bius.
"Pein : "Kakuzu! Kenapa lu gak ngasih duit buat beli obat bius hah!"
Kakuzu : "Jangan salahin gue dong. Salahin babehnya Konan yang ngasih syarat kaya begitu ke lu."
Pein : "kenapa om ngasih syarat kaya begitu ke saya?" *gak pake marah-marah. Takut gak jadi di kawinin.*
Jiraiya : "Salahin Sun dong. Kan dia yang nyuruh gue buat ngasih syarat kaya gitu ke lo."
Pein : "Sun!"
Sun : "Salahin Konan dong. Kan demi dia lu mau ngelakuin hal itu."
Konan : "Kenapa! Mau nyalahin aku!"
Pein : "E-engak kok" *gak jadi marah-marah*
Orochimaru, Kakuzu, Jiraiya, Sun, Konan : "Khu khu khu khu khu."
All Chara : "RIVIEW PLISSS..."
