*Chapter 2-nya rada garing, sori… Haiku credits to me 8D*
"saat kau tiada
berangkat sendirian
aku relakan"
Hiroki tengah mencoba tidur di perpustakaan, namun tak bisa. Wajah sedih Nowaki terbayang terus di otaknya.
"Apakah tadi aku terlalu kasar? Ah, peduli setan. Ia toh tak lagi peduli perasaanku seperti apa…"
Saat ia terus memikirkan Nowaki, ponselnya berdering. Nowaki. Tak berani mengangkat, ia terus menekan tombol merah di ponselnya.
"Aku memang tak lagi layak untuknya, setelah hampir sepuluh tahun kita bersama…"
Di rumah, Nowaki pun sedih. Ia terus-menerus gagal menghubungi Hiroki. Setiap percobaannya berakhir dengan nada sibuk.
"Tak ada jalan lain… Akan kukiriminya e-mail saja"
Di perpustakaan, Hiroki akhirnya dapat menenangkan perasaannya saat membaca tulisan kawan kecilnya. Sebuah novel dari Usami Akihiko. Ia tenggelam dalam novel itu, sampai tak menyadari ada email masuk di ponselnya. Begitu ia selesai membaca novel itu, ia melihat ponselnya, dan menemukan email dari Nowaki. Hiroki langsung gemetaran.
"Apakah isinya.. Semua akan berakhir?"
Dalam kebimbangannya, Hiroki menekan tombol "Clear" pada ponselnya. Untuk menghapus email itu. Menghapus ingatannya pada Nowaki.
"Tak biasanya Hiro-san tidak membalas email dariku" batin Nowaki. Ya, dua jam lalu ia memang mengiriminya email. "Sudah pukul empat. Nanti, aku akan meninggalkannya catatan saja. Ia pasti masih marah besar kepadaku, padahal tak ada apa-apa diantara aku dan Sora-sensei"
Pagi hari tiba, dan Hiroki mengajar seperti biasa. Selepas mengajar, ia kembali ke ruangannya. Miyagi tidak ada di sana.
"Kesempatan bagus untuk beristirahat" batin Hiroki. Namun keinginan beristirahatnya lenyap seketika saat ada yang mengetuk pintu ruangan.
"Permisi, kami dari Palang Merah Mitsuhashi"
"Masuk!" teriak Hiroki.
"Ah, Hiroki-sensei, kami akan mengajukan cuti untuk mahasiswa yang ada di fakultas Literatur" ujar seorang mahasiswa. "Ini daftarnya" sambil menyodorkan daftar.
"Berapa lama kalian akan berada di Indonesia?" tanya Hiroki, tanpa memalingkan matanya dari laptopnya, mencoba mengetik nama-nama yang tertera dalam daftar yang diberikan si mahasiswa.
"Satu bulan. Ada mentor kami dari Tokyo Byouin, lima belas orang dokter. Mereka sudah berangkat sejak tadi pagi, dan kami akan menyusul besok"
"Oh, baiklah"
Setelah selesai mencetak surat rekomendasi cuti dan menandatanganinya, Hiroki berpesan pada mahasiswa itu.
"Jaga diri kalian. Jangan permalukan nama Jepang di mata negara orang. Sampaikan salamku untuk korban bencana, dan doaku semoga mereka cepat pulih"
"Baik, Kamijou-sensei"
Setelah mahasiswa itu berlalu, Hiroki tertidur sejenak, dan akhirnya pulang ke apartemennya. Saat Hiroki tiba di apartemennya, aura sepi langsung terpancar.
"Apakah Nowaki bekerja?"
Matanya terus mencari jejak Nowaki tanpa hasil. Namun akhirnya, ia menemukan catatan kecil di meja kecil sebelah tempat tidur mereka.
"Hiro-san,
Saat kau membaca catatan ini, aku sudah berada di Indonesia. Aku menggantikan Sora-senpai menjadi relawan dokter. Aku akan kembali bulan depan.
PS: Aku minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi diantara kita"
Hiroki melempar catatan itu ke tempat sampah. Ia marah karena merasa tak dianggap.
"Mengapa hanya aku yang tak diberitahu? Apakah karena ia marah padaku?"
Hiroki mencoba menekan nomor ponsel Nowaki. "Nomor yang anda hubungi tidak berada dalam jangkauan SoftBank Global Roaming. Silakan coba kembali beberapa saat lagi."
"Ya, ia sudah tiba di Indonesia, nampaknya…" desis Hiroki. "Nowaki, maafkan aku…"
Di saat yang sama, Nowaki sibuk memeriksa pasien yang semuanya adalah korban bencana.
"Kebanyakan dari pasien ini menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut karena abu vulkanik, Niwa-sensei. Aku akan mencoba bertanya pada salah satu penerjemah kita agar aku bisa mengobrol dengan pasien"
"Silakan" jawab Niwa-sensei. "Tugasmu sudah selesai hari ini. Ini sudah pukul 10 malam. Istirahatlah"
Nowaki melirik layar ponselnya. "12:21AM". Ia ingin menghubungi Hiroki, namun ponselnya tidak mendapat sinyal. Jaringan telekomunikasi di Indonesia belum berfungsi sebagaimana mestinya. Akhirnya ia tertidur dengan tetap memikirkan wajah Hiroki.
Begitupun Hiroki yang tidak bisa tidur karena memikirkan Nowaki.
"Nowaki… Apa kau baik-baik saja disana? Bagaimana keadaan pasien-pasienmu?"
Setelah membaca novel Akihiko mengenai bencana alam, akhirnya Hiroki tertidur, namun tetap memikirkan Nowaki. Ia semakin merasa bersalah.
"Ya, Nowaki, aku relakan kau pergi menjadi relawan.. Aku harap duka Indonesia berkurang sedikit karena kehadiranmu" desah Hiroki.
