"STUPID REALIZED"
Chapter 2
By : KRAY-on
Cast : -Kris Wu
-Zhang Yixing (Lay)
Sub Cast : -Victoria Song
-Huang Zi Tao
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Rate : T
Disclaimer : KRAY milik diri mereka, SMent, orang tua dan orang-orang yang bersangkutan lainnya. Huang Zi Tao asli milik author ._.V #dibacok
FF murni dari otak author ^_^v
Summary : Menikah tanpa rasa saling mencintai? Lay terikat dengan Kris dalam jalinan pernikahan tanpa adanya ikatan cinta satu sama lain. "Kenapa? Kau khawatir akan diriku? Harusnya kau senang kalau aku pergi! Kau bisa menghabiskan malammu dengan kekasihmu, sementara aku akan menginap di rumah Victoria! Itu lebih baik, bodoh!"
WARN! typo(s) ! Alur gaje!
IF YOU NOT LIKE THIS FF OR AUTHOR, PLEASE GO AWAY!
.
.
ENJOY READING! ^_^V
.
.
*_Stupid Realized_*
CHAPTER 2
Lay menangkap percakapan 'suami'-nya tadi dengan siswa itu dari lantai dua. Siswa sekolahnya. Huang Zi Tao.
"Jadi, dia kekasih Kris?" gumam Lay pelan sambil terus memperhatikan mobil itu hingga menghilang dari pandangannya.
.
.
.
*_Stupid Realized_*
Lay sedang membersihkan lantai rumah dengan penyedot debu milik mereka. Tak berapa lama, sebuah suara pintu terbuka dan masuk seorang pria tampan bertubuh tinggi ideal dan membuka sepatunya.
"Aku sudah memasak," ujar Lay singkat. Kris tidak menanggapi omongan Lay.
"Ah, aku lupa. Kau baru saja pulang kencan dengan Huang Zi Tao," sindir Lay tanpa menoleh ke arah Kris yang kini beralih menatapnya. Kris tertawa remeh.
"Jadi kau sudah tahu?" tanya Kris dan segera menuju ruang tengah untuk bersantai.
"Bukankah kau bilang kalau aku mengenalnya, tsk!" balas Lay ketus sambil terus melanjutkan pekerjaannya. "Baguslah,"
.
.
Lay kembali mengajar hari ini. Tak jarang juga ia berpas-pasan dengan siswa bernama Huang Zi Tao itu. Mereka tidak terlalu akrab, hanya saja, sekarang Tao lebih sering mengunjunginya karena sebentar lagi Ujian Semester akan segera dilaksanakan. Tao yang notabenenya adalah siswa terpintar di kelasnya tidak mau membuang waktu-nya hanya untuk bermain-main sekarang. Ia lebih memilih untuk fokus pada Ujiannya dan menemui beberapa guru untuk membimbingnya belajar.
"Annyeonghaseyo, Zhang seonsaengnim," sapa Tao dengan senyum sumringahnya dikala ia masuk ke dalam ruang guru dan menghampiri meja Lay. Lay melepas kacamatanya yang sering ia pakai jika ia sedang bekerja dan menyapa Tao.
"Annyeong, Tao-sshi. Kau mau belajar lagi?" tanya Lay. Tao mengangguk cepat. "Ne!"
"Baiklah. Kalau begitu kita ke perpustakaan saja," ajak Lay.
Di perpustakaan, Lay sibuk mengajar Tao yang juga serius menanggapi materi yang diberikan oleh Lay.
"Ssaem, jelaskan padaku bagaimana cara menyelesaikan soal ini," pinta Tao sambil menunjuk salah satu soal yang menurutnya sulit untuk diselesaikan.
"Ah, begini…" Lay mulai menjelaskan beberapa cara untuk menyelesaikan soal yang tidak Tao mengerti. Kadang mereka menyelingi canda tawa di dalam proses pembelajaran mereka.
"Baiklah. Sampai disini, apa masih ada yang tidak kau mengerti, Tao-sshi?" tanya Lay sambil tersenyum, memamerkan dimple manis miliknya. Tao menggeleng.
"Aku sudah mengerti, Ssaem. Aku lebih menyerap apa yang kau ajarkan padaku. Aku lebih senang bila Zhang ssaem yang mengajar. Bagaimana kalau aku privat denganmu?" ajukan Tao membuat Lay memudarkan senyumnya seketika.
"P—privat?" Tao mengangguk. "Wae, Ssaem?"
Lay pun terbangun dari buaian pikiran yang melandanya. Ia mencoba untuk tersenyum di hadapan Tao, menghilangkan segala kegugupannya dikala anak itu menawarkan dirinya untuk belajar privat dengannya.
"Ah, kenapa kau ingin belajar privat denganku, Tao? Disini banyak guru yang lebih menyenangkan dari pada aku. Kalau mau, Song seonsaengnim juga pasti akan mau diajak privat denganmu, hehehe," kata Lay. Tao mengerutkan dahinya.
"Apa kau keberatan jika aku ingin belajar privat denganmu, Zhang ssaem?" selidik Tao. Lay buru-buru menggeleng, memusnahkan segala kesalahpahaman di dalam diri Tao terhadapnya.
"Bukan, bukan. Yasudah, kalau begitu, aku saja yang akan datang ke rumahmu, bagaimana?" tanya Lay mengajukkan sarannya. Tao menggeleng.
"Jangan. Di rumahku terlalu banyak gangguan. Aku mempunyai dua kakak dan dua adik. Mereka selalu membuat kebisingan di kala aku belajar, maka dari itu aku selalu meluangkan waktu istirahatku untuk belajar disini bersama beberapa guru daripada belajar di rumah. Jadi, aku saja yang akan ke rumahmu nanti, ya, ssaem?" pinta Tao yang membuat Lay buru-buru menelan ludahnya. Bagaimana jika anak ini mengetahui sebuah rahasia besar yang ada di dalam rumahnya? Bagaimana jika Tao bertemu dengan Kris disana? Lay pun memejamkan matanya sejenak, sebelum ia kembali menatap Tao.
"Baiklah kalau begitu, hehehe," cengir Lay yang menatap khawatir akan Tao.
*_Stupid Realized_*
"Kris! Cepat sembunyikan foto pernikahan kita!" Lay buru-buru masuk ke dalam rumah sepulangnya ia bekerja. Ia segera menuju ke sebuah sisi dinding yang terdapat sebuah bingkai foto berukuran sangat besar yang menggambarkan dirinya dan Kris disaat upacara pernikahan mereka.
"Ada apa?" Kris baru keluar dari kamarnya dengan rambut basah dan handuk yang tergantung di lehernya. Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya ia baru selesai mandi. Ia melihat Lay yang sedang menggeser sebuah kursi dan mencoba melepaskan wedding photo mereka.
"Hey, apa yang kau lakukan!?" tanya Kris yang segera menghampiri Lay.
"Bantu aku. Singkirkan benda ini dari sini sekarang," perintah Lay.
"Heh, apa kau gila? Jika ibuku atau ibumu tahu kalau foto ini tidak dipajang, mereka akan merebus kita satu persatu, Zhang Yixing!"
"Ah, itu urusan nanti. Ini lebih parah. Ibuku atau ibumu tidak akan datang kesini hari ini. Tapi, ada seseorang yang akan berkunjung kesini. Makanya, cepat bantu aku! Ppali!" Lay turun dari kursinya dan menggeser sebuah kursi lagi lalu menyuruh Kris untuk menaikinya. Mereka pun segera bekerja sama untuk menurunkan foto itu.
"Memangnya siapa yang kau undang, bodoh!?" tanya Kris. Lay melirik tajam ke arahnya.
"Jika aku bodoh, aku tidak akan bekerja sebagai guru lagi, bodoh!?"
"Jika aku bodoh, aku juga tidak akan disuruh oleh ayahku untuk menyelesaikan beberapa tugas kantornya!"
Akhirnya, setelah perdebatan antara 'siapa-yang-bodoh' di antara mereka, foto itu pun berhasil dilepaskan. Mereka menyusun kembali kursi yang sempat mereka injak ke tempat semula. Lalu, ditaruhnya foto itu di dalam kamar Lay.
"Heh, memang siapa yang akan datang?" tanya Kris. Lay mendengus.
"Tapi jangan terkejut, eoh?" pinta Lay sebelum ia menjawab pertanyaan Kris. Kris mengangkat kedua bahunya.
"Dia…"
TING TONG~~
'Mati saja aku!' ujar Lay dalam hatinya sambil menepuk dahinya yang sama sekali tidak bersalah. Kris memandang pintu rumahnya dengan bingung.
"Siapa dia?" tanya Kris. "Apa aku mengenalnya?" lanjutnya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Kris, ia segera mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya itu menuju kamarnya.
"Sudah, kau masuk saja sana. Kumohon!" Lay memohon. Kris sedikit tidak terima.
"Siapa memangnya!?" bentak Kris. "Sudah sana, masuk saja!"
BRAK!
Lay segera menutup pintu kamar Kris dan mengambil kunci cadangan kamar mereka, lalu mengunci Kris di dalam.
"Yakk! Zhang Yixing! Apa kau mengurungku, huh! Yakkk!" pekik Kris dari dalam.
TING TONG~~~
"Tunggu sebentar!" pekik Lay melengking supaya suaranya terdengar oleh orang yang berada di balik pintu masuk rumah mereka tersebut.
"Kris, kumohon jangan berkutik sepatah katapun dengan suara yang besar. Kau cukup diam di dalam sana, mengerti?" ujar Lay melalui lubang kunci pintu kamar Kris.
"Aiish, jinjja!" terdengar suara erangan geram Kris di dalam sana. Melihat kondisi sudah begitu bagus, Lay pun membukakan pintu rumahnya.
Ia membuka pintunya, dan tampaklah seorang lelaki manis yang tingginya lebih tinggi sedikit darinya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Annyeong, ssaem!" sapanya. Lay tersenyum.
"Ne, annyeong. Silahkan masuk, Tao-sshi," ternyata orang itu Huang Zi Tao, yang berjanji akan mengunjungi rumahnya dan belajar privat dengannya. Tao pun dengan senang hati masuk ke dalam rumah yang bisa dibilang luas itu.
"Wah, ssaem. Rumahmu rapi juga. Apa kau tinggal sendiri disini, ssaem?" tanya Tao sambil menerawang sudut-sudut rumah itu.
"Ah, iya. Aku…aku tinggal sendiri disini," jawab Lay gugup sambil sedikit melirik ke arah pintu kamar dimana seorang Kris sedang dikurung di dalam sana. Dia berbohong sekarang. Lihat? Lay berbohong demi keselamatan dirinya.
"Ya, silahkan duduk disini. Aku akan membuatkan minuman dulu," Lay mencoba mengalihkan perbincangan. Ia takut Tao akan bertanya lebih jauh lagi dari ini.
"Ne, seonsaengnim," ujar Tao sambil mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa yang sudah disediakan.
Sementara, seseorang di dalam sana mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan tamu itu dengan Lay.
"Apakah dia murid Lay?" tanya Kris pada dirinya sendiri.
"Aiish, jinjja! Harus sampai kapan aku harus mendekap disini!? Arrgh!" desisnya geram.
"Ini minuman untukmu, Tao. Supaya lebih rileks, aku menyuguhkanmu secangkir teh hangat saja," kata Lay seraya menyuguhkan secangkir the hangat di hadapan Tao.
"Gwaenchanhayo, seonsaengnim," ujar Tao.
"Nah, mulai darimana kita?"
.
.
Sudah tiga jam lebih mereka menghabiskan waktu bersama. Suasana canggung yang dirasakan Lay ternyata tidak berlangsung lama, mengingat Kris ternyata bisa diajak bekerja sama juga kali ini.
"Ah, ssaem. Sepertinya, hari sudah hampir sore. Aku juga sepertinya harus pulang, mengingat ada pelajaran tambahan lagi yang menunggu nanti malam, hehehe," kata Tao sambil melirik jam tangannya.
"Wah, kau juga mengambil jam tambahan di malam hari?"
"Ne, hehehe,"
"Apa itu tidak melelahkan?" tanya Lay berbasa-basi.
"Anniyo. Jalani saja. Lagipula, hasilnya juga tidak mengecewakan, hehehe. Baiklah, ssaem. Aku permisi dulu. Gamsahamnida," kemudian Lay mengantar Tao sampai di gerbang rumahnya.
"Hati-hati dijalan, Tao-sshi," kata Lay.
"Ne, annyeonghi gyeseyo, ssaem!" Tao pun akhirnya pamit pulang dan berjalan pergi dari hadapannya.
Sedangkan seorang pria yang berada di dalam sana masih berusaha untuk keluar. Tiba-tiba, ia mengingat sesuatu. Bukankah tadi Lay mengunci dirinya dengan kunci cadangan kamar mereka? Berarti, masih ada kunci asli yang berada di dalam kamarnya. Ia segera merogoh laci meja riasnya dan mengambil benda kecil berjuntai yang berwarna keperak-perakan itu. Ia tertawa remeh.
"Inilah kenapa aku memanggilnya 'Yixing bodoh'!" ujarnya dan segera mencoba mengeluarkan dirinya dari ruangan itu.
"Hah…" Lay menghela nafas lega setelah ia menutup pintu rumahnya. Ia masih ingat, Kris masih ada di dalam. Kemudian, ia berniat untuk membukakan pintu kamarnya untuk Kris. Namun, ia sudah dikejutkan oleh 'suami'nya itu.
"Aigoo! Kau selalu membuatku terkejut, Kris! Heh, bagaimana bisa kau keluar?" tanya Lay. Kris menyeringai sambil menunjukkan kunci asli yang dipegangnya di hadapan Lay.
"Ah, iya. Aku lupa!" Lay menepuk dahinya lagi.
"Cih, b-o-d-o-h!" ledek Kris. Lay hanya melipat kedua tangannya di atas dadanya.
"Lalu, jika kau tahu ada kunci asli di dalam kamarmu, kenapa kau baru keluar sekarang?" tanya Lay dengan nada merendahkan.
"E—eh, bu…bukannya tadi ada tamu? Aku, aku sudah tahu sejak awal, tapi aku ingin menyelamatkan rahasia ini, bodoh!"
"Cih, b-o-d-o-h!" Lay mengikuti kata-kata ledekan yang dilontarkan Kris tadi kepada dirinya.
"Yak!" bentak Kris. Lay kemudian berjalan mengambil laptopnya.
"Tadi itu muridmu, bukan?" tanya Kris. Lay mengangguk.
"Oh," Kris segera menuju ruang keluarga, dimana tadi tempat Lay dan Tao berbicara tentang ilmu. Mata Kris menangkap sebuah objek yang sepertinya bisa ia kenali dengan mudah. Sebuah benda berbentuk persegi panjang kecil berwarna putih yang tergeletak di sofa. Benda itu juga dilengkapi sebuah sticker huruf yang ditempel di bagian atasnya. Huruf 'K'.
"Tunggu, Lay. Kau mengundang siapa tadi kesini?" tanya Kris tanpa mengalihkan pandangannya dari benda yang diketahui ponsel tersebut.
"Kenapa masih bertanya, sih! Itu 'kan bukan urusanmu," kata Lay sambil terus berkutat dengan laptopnya.
"Tentu saja itu urusanku! Kenapa kau mengundang Tao kesini!?"
"E—eh? Bagaimana bisa kau—"
"Ini ponsel miliknya. Ada sticker huruf 'K' yang menempel disini!" gerutu Kris sambil menunjukkan ponsel Tao tepat di hadapannya.
"Heh? A—ah, itu. Aduh, dia yang memaksa mau kesini. Dia ingin belajar privat denganku!" jelas Lay yang tentu saja belum bisa berbohong.
"Lalu, bagaimana jika ia mencium unsur-unsur pernikahan di rumah ini!? Bisa hancur hubunganku dengannya, Zhang Yixing!" Kris masih menggerutu.
"Aku… Aku mana tahu! Aku juga sudah bilang kalau aku tinggal sendiri disini! Yasudah, diam saja! Yang penting dia tidak mengetahuinya, 'kan!?" Lay ikut emosi ketika Kris terus memarahinya.
"Ya Tuhan!" erang Kris.
Sementara itu, seorang lelaki manis yang ingin menggunakan ponselnya, tidak mendapati benda itu di dalam sakunya.
"Heh, dimana ponselku?" tanya pria itu sambil meraba-raba celananya. Ia juga memeriksanya dalam tasnya.
"Omo! Apakah tertinggal di rumah Zhang seonsaengnim?" kemudian lelaki itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat menuju tempat dimana ia terakhir singgah disana.
TING TONG~~
"A—ah!?" Lay dan Kris menatap pintu dengan serempak. Lay segera menuju pintunya dan mengintip sebentar dari lubang pengintai di pintunya. Huang Zi Tao ada di luar.
"Astaga!" desisnya. Ia buru-buru memaksa Kris untuk masuk ke dalam kamar lagi. Namun, Kris bukan orang yang begitu suka diatur.
"Demi Tuhan, Kris! Kenapa kau begitu sulit untuk diatur, huh!?" Lay geram dan membuat suara sekecil mungkin agar kebisingan mereka tidak terdengar sampai keluar.
"Tunggu sebentar! Apakah Tao datang lagi!?"
"Berikan ponselnya padaku!" perintah Lay. Kris pun segera memberikan ponsel Tao ke tangan Lay.
"Oh, ssaem lama sekali? Uum, pintunya tidak dikunci, eoh?" ujar Tao di luar sana sambil iseng membuka pintu rumah Lay.
"Cepat masuk, bodoh!"
"Iya, iya, tungg—"
"Cep—"
"Ssaem? Kris-ge?" Tao membulatkan matanya disaat Tao memunculkan kepalanya di pintu dan menatap Lay dan seseorang yang sedang berstatus sebagai kekasihnya disana, Kris. Tao masih belum bisa mencerna, kenapa Kris juga berada disini.
.
.
"Ssaem, kau bilang kau tinggal disini sendiri!" ujar Tao minta penjelasan yang sejelas-jelasnya, kenapa kekasihnya yang tersayang ini berada di dalam rumahnya. Lay belum menjawab dan malah melirik Kris.
"Lalu, Kris-ge. Kenapa kau ada disini? Apa ada hubungan diantara kau dan ssaem, ge?" Tao pun minta penjelasan dari kekasihnya. Ia menatap mata Kris dengan sedikit tajam.
"Ah, Tao-sshi. Jangan salah paham dulu. Kris dan aku hanyalah sebatas teman. Mungkin dia menyembunyikan hal ini darimu karena ia juga mungkin tidak ingin ada kesalah pahaman dalam hubungan kalian. Kris tinggal disini untuk sementara, karena ia sedang ada masalah dengan orangtuanya. Tao, apa kau mengerti? Jadi, jangan berpikiran yang macam-macam tentang kami berdua. Kami, hanya teman. Percayalah," Lay mencoba menjelaskan semuanya. Dia baru saja berbohong lagi kali ini. Kris tidak percaya kalau Lay ternyata pandai membual juga.
"Apakah itu benar, Kris-ge?" tanya Tao beralih tatapan ke arah Kris.
"N—ne. Aku berteman dengan gurumu ini. Aku mempunyai masalah di rumah, jadi kuputuskan untuk tinggal di rumah Lay dulu. Hehehe, kau percaya padaku, 'kan, baby?" Kris mencoba membuat wajah sememelas mungkin, agar kekasih kecilnya ini mudah percaya. Sementara itu di sampingnya, Lay hanya menahan hasrat ingin muntahnya saat mendengar panggilan Kris terhadap Tao.
Tao pun menghela nafasnya. Ada sedikit perasaan lega di dalam hatinya.
"Tapi, Zhang ssaem. Kenapa tadi kau tidak jujur padaku? Kau bilang kau tinggal disini sendirian!"
"Ah, itu. Ah, Tao-ya, bukankah kau tahu, kalau aku tidak mau merusak hubunganmu dengan Kris. Jadi, aku berbohong agar kau tidak salah paham denganku. Maafkan aku, Tao," ujar Lay.
"Benarkah, ssaem!?" mata Tao sedikit bersinar, mengetahui gurunya malah menjaga hubungannya dengan Kris, kekasih tersayangnya.
"Te—tentu saja. Bukankah tidak baik merusak hubungan seseorang?" kata Lay. Tao pun menyimpulkan senyumnya dan menatap Kris.
"Baiklah kalau begitu. Aku percaya pada kalian! Kalau begitu, aku akan sering-sering main kesini! Akhirnya, aku tahu dimana Kris-ge tinggal, hihihi," ujar Tao ceria. Lay hanya menghela nafasnya.
"Tapi, baby…"
"Apa, ge?"
"Kau jangan bilang siapapun tentang ini, ya? Hanya kau saja yang tahu, mengerti? Aku… Aku hanya takut kalau orangtuaku bisa menyusul kesini," pinta Kris dengan sedikit bualan di akhir kalimatnya. Tao pun mengangguk.
"Tentu saja. Lagipula, siapa yang ingin kuberitahu? Aku tidak punya kenalan yang mengenalmu, gege. Atau, Song seonsaengnim?" mendengarnya, Lay mendongakkan kepalanya dan menatap Tao penuh harap.
"Tenang saja, ssaem. Aku akan tutup mulut di hadapannya," ujar Tao sambil menyengir. Lay pun mengelus-elus dadanya.
"Tapi, kenapa aku tidak boleh memberi tahu Song seonsaengnim?"
"Ya, sebenarnya, ya… Emh, bagaimana ya aku menjelaskannya?" Lay sedikit menggumam di kalimat terakhirnya.
"Ya, pokoknya, kalau kau ingin sering-sering berkunjung kesini, kau hanya perlu menjaga hal ini dari siapapun, mengerti?" Lay mulai mengancam Tao.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kris-ge, aku akan sering main kesini! Hehehe,"
"Ah, ne, tentu saja aku akan selalu menunggumu, baby, hehehe," cengir Kris. Tao pun berdiri.
"Kau mau pulang sekarang?" tanya Lay yang juga ikut berdiri, disusul oleh Kris. Tao mengangguk.
"Ne, ssaem. Ah, gege, aku pulang dulu," Tao mengucap sama pamitnya. Ia pun melangkah menuju pintu keluar. Sebelum Tao melangkah keluar, Kris menahannya.
"Changkkaman," Kris pun mengecup bibir Tao. Lay hanya membelalakan matanya melihat adegan semacam itu tepat di hadapannya. Ia memang sering melihat adegan seperti itu, bahkan ia dan Victoria sudah sering melakukannya. Tapi, ini berbeda. Sesama pria dan… tidak tahu tempat dan situasi! Dasar!
"Gege…" gumam Tao saat Kris menyudahi ciuman singkatnya. Kris hanya tersenyum di depan kekasihnya yang kini berwajah semerah tomat.
"Hati-hati di jalan, ne? Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang," kata Kris lembut. Lay berdecak. Kris bahkan tidak pernah berkata selembut itu di hadapannya.
"N—ne, tidak apa-apa, ge. Ah, ssaem, maafkan aku. Aku pulang dulu. Annyeong," dengan segera Tao keluar dari rumah Lay dan Kris.
"Ya ampun! Hampir saja," Kris segera mengelus-elus dadanya lega. Lay malah menatap jengkel Kris.
"Apa kau tidak tahu tempat, huh? Seenaknya berlaku seperti itu di depan gurunya sendiri. Ckckck," cibir Lay menatap Kris geli. Namun, Kris hanya tersenyum sambil mengusap bibirnya.
"Kenapa? Kau juga mau, huh?" tanya Kris sambil berjalan mendekat ke arah Lay. Melihat aksi Kris, Lay tidak mau hal buruk terjadi padanya.
"Ti—tidak! Ieuh!" Lay malah menunjukkan sisi gelinya di hadapan Kris dan segera berlari ke dalam kamarnya.
*_Stupid Realized_*
Dua pasangan itu tengah sarapan berdua. Tidak saling bicara dan hanya sibuk mengurus santapan masing-masing. Sampai akhirnya, suara Lay memecah kesunyian.
"Yak, sampai kapan kita harus mempertahankan hubungan ini?" tanya Lay tiba-tiba yang membuat Kris berhenti mengunyah dengan segera.
"Kau tahu? Kita mempunyai kekasih masing-masing. Aku mempunyai Victoria, dan kau juga mempunyai Tao. Malah, hubungan kita masing-masing dengan mereka adalah saling mencintai. Apa kau tahan dengan hubungan kita ini, Kris?" tanya Lay. Kris menaruh roti selainya. Ia menatap Lay.
"Bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu, Lay? Kau selalu saja berbicara tentang pernikahan kita disaat kita sedang makan. Kau membuat nafsu makanku berkurang!" ketus Kris. Lay hanya mendengus.
"Bukankah hanya di acara makan saja kita bisa duduk berdua seperti ini, huh!? Kita jarang berbicara juga tidak sekamar. Dasar!" tukas Lay.
"Yasudah. Memangnya kau saja yang tidak tahan dengan pernikahan ini? Aku juga,"
"Kalau begitu… Bagaimana kalau kita… Uhmm, bercerai?" Lay mengeluarkan saran terbaiknya, membuat Kris dengan ceoat melotot ke arahnya.
"Apa katamu?"
"Ber-ce-rai, Kris," ulang Lay.
"Hey, kalau begitu, kau tinggal pilih. Mau mati dihajar ayahku, atau segera direbus oleh ibumu juga ibuku!?" Lay merinding seketika saat mendengar kalimat-kalimat Kris tadi. Ia mengelus-elus lehernya.
"Ah, pilihan yang sulit," kata Lay dengan wajah bodohnya.
"Kalau begitu, jangan menambah masalah. Aku pergi," Kris kemudian beranjak dari kursi makannya dan meninggalkan Lay sendirian disitu. Ia kemudian menelungkupkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya di meja.
"Ya Tuhan," ia kembali berdoa.
.
.
TING… TONG~~
"Ah," Lay kembali mengintip ke lubang pengintainya. Melihat orang itu aman, ia segera membukakan pintunya.
"Hai, ssaem!" seru Tao dengan wajah cerahnya. Lay hanya tersenyum.
"Hai, Tao. Ayo masuk," ajak Lay dan menyilahkan Tao masuk.
"Oh, my baby!" Kris buru-buru keluar dari kamarnya dan merengkuh Tao ke dalam pelukannya. Lagi-lagi tepat di hadapan 'istri'-nya sendiri.
"Gege," sahut Tao juga sambil membalas pelukan Kris.
"Hey, sudah sudah. Kris, minggir. Dia kesini untuk belajar, bukan untuk bermain denganmu!" Lay mulai tidak tahan melihat kemesraan mereka berdua. Akhirnya, dengan kesalnya Kris menjauh dari Tao, dan dengan malu-malunya Tao mendekat kepada gurunya.
"Baiklah, Tao. Apa yang ingin kau pelajari?"
.
.
"Apakah kalian sudah selesai?" tanya Kris sambil terus mengamati proses pembelajaran Tao dan Lay. Lay menatap anarkis ke arahnya dan segera membuat mulut Kris bungkam seribu kata lagi.
"Tunggulah sebentar, gege," ujar Tao menenangkan Kris. Lalu, wajah Kris berubah menjadi bahagia dengan efek berbunga-bunga di belakangnya.
"Ah, tentu saja, baby, hehehe," kemudian Lay hanya mendengus melihat tingkah Kris yang memuakkan saat berada di hadapan Tao.
Selama tiga jam sudah Kris menunggu. Akhirnya, Lay selesai juga mengajar Tao. Dengan segera ia menarik Lay menjauh dari sisi Tao dan ia mengambil alih tempat duduk Lay tadi saat bersama Tao.
Lay kemudian berdecak kesal sambil menatap kedua sejoli itu di sofa lain.
"Baby, kau sangat manis hari ini," puji Kris sambil merangkul mesra pundak Tao. Tao melirik Lay sekali-sekali dengan raut malunya. Kris mulai mencium aroma parfum yang dipakai Tao tepat dileher kekasihnya.
"Ge—gege…" Tao masih sedikit menghindar dikala Kris ingin menyentuhnya. Ia terus menjauhkan kepalanya dan masih sesekali melirik gurunya yang masih duduk tepat di hadapan mereka. Seakan memberi isyarat, Lay kemudian pergi dengan wajah yang sangat-sangat kesal. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya.
"Cih, benar-benar tidak tahu aturan! Kris bodoh!" Lay mulai melempar bantalnya. Bukannya apa, hanya saja, ia selalu saja tidak dianggap, dikala Kris sudah bersama Tao. Kris hanya akan menggoda Tao dengan seenaknya di hadapannya. Ia kemudian mencoba memainkan I-pad-nya dan mencoba mencairkan pikiran kesalnya dengan bermain game favoritnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ketika ia sesekali mendengar lenguhan Tao dari luar sana.
"Yakk! Apa yang mereka lakukan, huh!?" erang Lay sambil menahan emosinya. Ia melempar I-pad-nya ke asal tempat dan ia berbaring sambil menutup telinganya dengan bantalnya. Tapi, itu tidak berhasil. Desahan demi desahan yang keluar dari mulut Tao samar-samar selalu terdengar di telinganya.
"Astaga, ya Tuhan!" kemudian ia memilih untuk keluar. Ia berpikir, mungkin dengan ia keluar dari kamarnya, akan membuat Kris dan Tao menghentikan aksi panas mereka. Akhirnya, Lay keluar dari kamarnya.
"K—kris-ge… Eunghhh… Mmmhh, ge…ge…"
Tapi, yang ada malah suara desahan itu semakin menjadi-jadi di kala Lay keluar dari kamarnya dan menatap kedua insan yang sedang memadu kasih di atas sebuah sofa. Ia merinding melihatnya.
"Ya Tuhan, ini benar-benar gila," desisnya. Tidak mau mengganggu, ia pun keluar rumah untuk menjernihkan pikirannya.
.
.
Lay duduk sendiri di depan mini market di dekat rumahnya. Ia meminum sekaleng kola dan beberapa makanan ringan. Ia benar-benar tidak mau pulang sekarang. Ia tidak mungkin juga menelepon Victoria sekarang hanya untuk menemaninya, karena hari sudah malam. Ia hanya menunggu sampai kira-kira adegan tak mengenakan di rumahnya berakhir sudah. Ia kemudian menyumpal telinganya dengan headseat dari MP3-nya. Memutar beberapa lagu favoritnya mungkin bisa sedikit merileks-kan pikirannya.
TIK… TIK… TIK..
"Eh?" Lay menatap jalanan yang sudah sedikit basah akibat rintikan hujan. Kebetulan, ia duduk di bawah meja berpayung yang melindungi ia dari hujan.
"Ya ampun, kapan mereka menyudahinya?" Lay memeluk dirinya sendiri sambil menatap keadaan sekitar yang benar-benar sudah terguyur hujan.
Sementara itu di sisi lain, Kris menghentikan permainannya dengan kekasih kecilnya.
"Hujan?" gumam Kris. Tao kemudian bangkit dari posisi terbaringnya dan duduk dengan sempurna. Ia hanya mendapat beberapa sentuhan menggoda dari kekasihnya, tidak lebih.
"Sudah malam. Apa Zhang seonsaengnim sudah tidur? Aku jadi merasa tidak enak dengannya, ge," kata Tao masih dengan mata sayunya akibat permainan kecilnya dengan Kris tadi. Kris melirik sebentar ke pintu kamar Lay. Apa ia masih di dalam?
"Yasudah, kalau begitu, kuantar kau pulang saja, ne?" ujar Kris. Tao pun membenahi pakaiannya dan rambutnya yang berantakan.
"Ne," sahutnya.
.
.
Lay masih merenung dan berpikir bagaimana caranya pulang ditengah hujan deras begini. Udara dingin semakin merasuk sampai ke tulang rusuknya.
"Aiish, jinjja!" gerutunya sambil menyentuh tombol-tombol ponselnya. Ia berusaha menghubungi Kris.
"Ah, angkat, bodoh!" Lay memohon. Namun, panggilannya tidak diangkat sama sekali.
"Manusia bodoh! Arghh!" Lay melempar ponselnya ke meja dan semakin kedinginan.
TIN TIN!
Lay menoleh ke arah mobil yang berhenti tepat di hadapannya.
"Yak! Apa yang kau lakukan disini, huh!? Kukira kau di kamar!" seru orang yang berada di dalam mobil itu. Lay malah tertawa remeh.
"Memangnya aku sanggup apa di kamar sambil mendengar suara Tao yang mendesah seperti itu! Bodoh!" gerutu Lay. Kris malah memutar kedua bola matanya.
"Cepat masuk!" Kris menyuruh Lay untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Shirreo! Aku tidak mau melihat kau dan Tao…"
"Tao sudah pulang. Aku baru saja mengantarnya. Jadi, cepat masuk!" Lay menoleh sebentar. Ia masih duduk disitu. Dengan tidak sabar, Kris pun membuka pintu mobilnya.
"Haiish, menyusahkan saja!" ia keluar sambil membawakan paying dan berlari ke arah Lay.
"Cepat! Kau mau mati kedinginan, huh?" Lay menggeleng polos. Akhirnya, Kris mengangkat Lay dari posisi duduknya hingga ia berdiri dan membawanya sampai ke mobil di bawah paying bersamanya.
"Hah, dasar!" gerutu Kris.
*_Stupid Realized_*
'Hachhiimm!'
Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Lay bersin. Ia mengusap-usap hidungnya yang mulai memerah. Ia membungkus dirinya dengan jaket tebal miliknya dan menatap televisi dengan tatapan lelahnya.
"Makanya, penyakit jangan kau cari, bodoh!"
"Yak! Bisakah kau diam sebentar saja, Kris? Aku sedang tidak mau mendengar ocehanmu! Ha—hachiimm! Argh!" Lay kembali menggigil. Kris hanya mendecak sambil sibuk di dapur sana. Entah apa yang dilakukannya. Sangat jarang Kris berada di dapur seperti sekarang ini.
Beberapa menit kemudian, Kris menghampiri Lay dan menaruh semangkuk sup hangat di depan Lay.
"Ige mwoya?" tanya Lay yang tidak tahu apa maksud Kris memberikan semangkuk sup kepadanya. Kris mengganti channel TV-nya dan duduk di sofa lain.
"Sup," jawab Kris singkat. Lay sekali-lagi bersini, sebelum ia mengangkat sesendok sup buatan Kris dan menyuapi dirinya sendiri.
"Aaah, euuh! Huuuh, panas!" keluh Lay saat kuah sup itu menyentuh lidahnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya agar memberi sensasi sejuk di mulutnya. Kris yang memperhatikannya hanya tertawa mengejek.
"Bodoh!" sekali lagi Kris mengoloknya. Lay hanya melayangkan tatapan setan ke arah Kris, walau tatapan setan milik Kris jauh lebih seram dari miliknya.
.
.
Pagi menjelang sudah, sinar matahari mulai menembus gordyn-gordyn jendela kamar Kris. Ternyata, efek silaunya mampu membuat sang empu-nya kamar terbangun dengan cepat. Ia kemudian merenggangkan anggota tubuhnya.
"Hm, hari Minggu?" gumam Kris sambil melihat kalender meja yang berdiri di meja samping tempat tidurnya. Ia turun dari ranjangnya dan segera keluar menuju ruang makan. Tapi, sama seperti beberapa hari kemarin, meja makan tidak menampilkan beberapa santapan paginya.
"Aiih, dia mengulanginya!" gerutu Kris dan segera menuju kamar Lay yang entah mungkin Kris sedang beruntung, pintu kamar itu tidak terkunci. Ia kemudian membuka pintunya dan masuk begitu saja.
"Eh, masih tidur?"
Kris menyibak selimut Lay, bermaksud untuk membangunkannya.
"Ah, di—dinginnya!" keluh Lay yang masih belum sadar sepenuhnya, namun ia sadar, seseorang sudah mengambil selimutnya. Kemudian, Lay mencoba meraih kembali selimutnya.
"Ha—hachiim! Ke—kembalikan selimutku, siapapun itu, euunghh," Lay ternyata masih berada di alam mimpi. Kemudian, Kris melepas genggaman tangannya dari selimut Lay dan membiarkan Lay membungkus dirinya lagi dan kembali tidur.
"Hachiim!" sekali lagi ia bersin.
"Apa ia sakit?" gumam Kris pelan sambil memberanikan diri untuk menyentuh dahi Lay menggunakan punggung telapak tangannya.
Panas. Kris membulatkan matanya. Dicarinya sebuah thermometer di kotak kesehatan yang berada tidak jauh dari Lay. Kemudian, ia masukkan ujung termometernya ke dalam mulut Lay.
"Euungh," Lay sedikit melenguh. Kris menunggu beberapa menit, sampai ia meraih kembali termometer itu dari mulut Lay.
38 derajat Celcius. Tidak terlalu parah, hanya Kris terlihat sangat kewalahan.
"Ya Tuhan, kenapa anak ini selalu saja menyusahkan!" Kris kemudian bangkit dan keluar dari kamar Lay dan masuk kembali beberapa menit kemudian seraya membawa sebuah baskom dan kain yang di dalamnya terdapat banyak tumpukan es batu. Kemudian, di tempelkannya kain itu tepat di dahi 'istri'-nya.
"Euuh?" Lay yang mendapat sebuah sensasi dingin di dahinya, segera mencoba untuk membuka matanya. Ia mencoba menyempurnakan penglihatannya.
"Hachiim! Euh, Kris?" sahut Lay lesu. Lay mencoba melirik dahinya.
"Kau ini kenapa selalu menyusahkan saja, huh?" Kris masih sibuk menempelkan kain dingin itu ke dahi Lay.
"Oh, Tao akan privat pagi hari ini. Ha—hachiimm! Aigooo," ujar Lay sambil berusaha untuk duduk. Kris tidak bisa melarangnya.
"Jangan kabur dari rumah lagi!" tegas Kris. Lay menatap Kris kesal.
"Kau menyuruhku untuk diam disaat kau melakukan 'ini-itu' dengan Tao, huh? Cih! Hachiim!" celetuk Lay. Kris lagi-lagi memutar bola matanya.
"Sudah, pokoknya jangan kabur! Kau mau membuatku kewalahan lagi seperti hari ini? Pagi ini aku belum sarapan sedikitpun, dan itu karena aku sibuk mengurusmu yang seperti ini,"
"Tsk, lagipula siapa yang menyuruhmu untuk kewalahan mengurusku? Minggir," Lay berusaha untuk berdiri.
"Ah, kepalaku," Lay memegang kepalanya.
"Mau kemana kau?" tanya Kris yang mengikuti Lay berjalan dari belakang.
"Tentu saja masak, bodoh!"
.
.
"Ini obat untukmu. Selesai sarapan ini, minumlah obat itu," perintah Kris sembari menaruh sebuah obat tablet di hadapan Lay. Lay menatap benda bulat kecil yang masih terbungkus rapih itu dengan jijik.
"Euh, aku benci obat!" tukas Lay sambil menopang dagunya lemas.
"Sudah diam!"
TING TOONG~~
"Ah, pasti Tao," ujar Lay dan bangkit dari duduknya menuju pintu rumahnya.
"Selamat pagi, ssaem!" sapa Tao dengan gembira. Lay hanya mengangguk sambil tersenyum. Tersirat raut cemas dari wajah Tao.
"Eoh? Apakah ssaem sakit?" tanya Tao. Tapi, Lay tetap tersenyum.
"Ah, hanya sedikit. Ayo masuk," Lay menyilahkan lelaki manis itu masuk ke rumahnya. Tao hanya menyunggingkan senyumnya dan segera masuk ke dalam rumah.
"Tsk!" decak Lay ketika Tao masuk, Kris segera menyambutnya dengan pelukan hangat untuk kekasihnya.
"Lebih baik setelah ini, aku akan keluar bersama Vic saja," gumamnya sambil menghela nafas panjangnya.
.
.
Lay berjalan di sekitar keramaian kota Seoul. Ia sedang ada janji dengan kekasihnya sekarang, Victoria Song. Dia menuju toko es krim langganannya dengan Victoria, yang juga milik temannya, Xiumin.
"Hoi, Lay!" sapa Xiumin disaat Lay memasuki tokonya. Lay melambaikan tangannya ke arah Xiumin dan tersenyum. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke segala arah di dalam toko itu. Namun, ia belum menemukan Victoria.
"Xiumin, apa Vic belum datang?" tanya Lay sambil berdiri di meja kasir di dekat Xiumin. Xiumin mengendikkan bahunya.
"Entahlah. Aku belum melihatnya," ujar Xiumin sambil sesekali meladeni para pelanggan lainnya. Lay hanya mendesah. Ia kemudian merasakan rasa sakit di bagian kepalanya.
"Akkh!" ringisnya sambil memegang sudut kepalanya. Xiumin sedikit cemas melihat Lay yang kesakitan.
"L—lay! Kau… baik-baik saja?" tanya Xiumin. Lay terlihat menggeleng.
"Sepertinya tidak, Xiumin. Aaww," Lay malah menopang dirinya dengan tangannya yang menggenggam ujung meja kasir Xiumin. Lay ternyata belum sembuh total dari penyakitnya tadi pagi. Xiumin kemudian memegang bahu Lay agar bisa menyeimbangkan tubuhnya.
CRIINGG~
Seorang wanita kemudian masuk ke dalam toko es Xiumin. Matanya sedikit terkejut saat ia mendapati seorang pria yang tak lain adalah kekasihnya sedang ditopang oleh Xiumin. Wanita itu kemudian dengan segera menghampiri kedua pria itu.
"Lay, ada apa denganmu? Lay! Kau baik-baik saja?" Victoria—wanita itu—kemudian ikut menopang tubuh Lay dan memperlihatkan raut cemasnya. Lay masih terus meringis.
"Xiumin-sshi, apa yang terjadi dengan Lay?" tanya Victoria. Xiumin menggeleng.
"M—mollasseo! Tadi kelihatannya, kepalanya tiba-tiba sakit. Lebih baik kau antar saja ia ke rumahnya," saran Xiumin. Mendengarnya, Lay sedikit menyadarkan dirinya sambil menatap Xiumin dan Victoria bergantian.
"A—aa… Aku tidak tahu dimana Lay tinggal sekarang. Dia tidak pernah mengajakku untuk mengunjungi rumah barunya,"
"Ya—yasudah, bawa saja dia ke rumahmu!" Victoria pun sedikit berpikir, sebelum pada akhirnya ia menyetujui saran Xiumin.
"Baiklah,"
.
.
Victoria menuntun Lay berjalan keluar dari mobilnya dan menuju pintu rumahnya.
Victoria membaringkan Lay di ranjang tepat di kamar tamu.
"Lay, apa yang terjadi?" tanya Victoria. Lay menyunggingkan senyumnya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit pusing," jawab Lay pelan. Victoria kemudian mengambil sebuah plester demam dan ditempelkannya benda yang merekat dengan sensasi dingin itu ke kening Lay. Victoria duduk di samping ranjang Lay sambil menatap Lay sedih.
"Apa kau tidak apa-apa tinggal sendirian di rumah barumu?" tanya Victoria.
"A—aa.. Aku tidak sendirian. Ada orang yang menemaniku. Kau jangan khawatir, Vic," sanggah Lay. Victoria mengernyit.
"Nugu? Apa… orang itu seorang wanita?" selidik Victoria. Lay segera menggeleng pasti.
"Tentu saja bukan. Kalau pun itu wanita, pasti itu ibuku atau bibiku. Yang menemaniku ialah cucu dari kakek temanku itu. Hehehe," mendengar jawaban dari Lay, hati Victoria sedikit lega, namunmasih menatap sedih keadaan kekasihnya. Badannya sedikit panas.
"Yasudah kalau begitu. Kau istirahat saja disini untuk sementara. Aku akan buatkan sup dulu," ujar Victoria. Lay tersenyum dengan disertai dengan anggukan.
.
.
Beberapa menit Lay menunggu, akhirnya Victoria masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas air putih.
"Ini untukmu. Makanlah. Aku yang suapi," ujar Victoria sambil duduk di samping ranjang Lay lagi. Ia mengambil sesendok sup dari mangkuknya dan mengarahkannya ke arah mulut Lay. Namun, Lay sedikit menolak.
"Tidak usah. Aku bisa makan sendiri," Lay mencoba untuk bangkit, namun dengan cepat Victoria melarangnya dan membiarkan Lay untuk sekedar menyandar saja pada kepala ranjangnya.
"Jangan. Biar aku saja yang menyuapimu. Ayo, buka mulutmu, aaaa…" Victoria menyuruh Lay untuk membuka mulutnya. Alhasil, Lay pun mengalah dan membuka mulutnya. Ia mengunyah beberapa sayur yang sudah di cincang lembut di dalam sup itu. Kemudian, ia teringat oleh sesuatu.
Sup ini rasanya benar-benar mirip dengan sup buatan seseorang yang dibuat untuknya. Sangat mirip dengan… sup buatan Kris.
"Lay, kau kenapa?" tanya Victoria membuyarkan lamunan Lay.
"A—aaa… Annieyo. Ah, Vic. Apa ini, sup instan?" tanya Lay tiba-tiba. Victoria pun sedikit tertawa malu.
"Ah, n—ne. Lay, kau 'kan tahu aku tidak begitu pandai dalam memasak. Jadi, aku hanya membuat sup ini dari sup instan. Hehehe. Wae?" tanya Victoria balik pada akhirnya. Lay pun kemudian terkekeh.
"Kris bodoh!" desisnya pelan.
"Mwo? Nugu?"
"Ah, anniya. Hehehe, suapi aku lagi!"
.
.
Lay berjalan di dalam kesendirian. Langit mulai gelap. Ia memutuskan untuk pulang dalam waktu seperti ini karena ia tahu, Tao pasti sudah pergi dari rumahnya. Kemudian, ia juga menolak untuk diantarkan oleh Victoria. Akhirnya, ia pulang dengan bus dan berjalan dari halte menuju rumahnya.
Baru saja Lay ingin membuka pintu rumahnya, seseorang telah membuka pintu itu terlebih dahulu dan menahan keinginan Lay.
"K—kris?" sahut Lay ketika ia melihat seseorang sudah siap dengan pakaian dinginnya yang lengkap. Kemudian, lelaki itu terkejut dengan kedatangan Lay dan mengusap wajahnya. Tingkah Kris—lelaki itu—berhasil membuat Lay mengerutkan dahinya bingung.
"Arrgh! Cepat masuk!" Kris mengurung niatnya untuk keluar dan malah menarik Lay untuk segera masuk ke dalam rumah.
"W—wae!?" Lay mulai menampakkan raut yang benar-benar bingung. Kris kemudian terlihat begitu emosi terhadapnya.
"Yak!" bentak Kris tepat di hadapan Lay yang mulai bergidik ngeri.
"M—mwoya!?" balas Lay dengan sedikit bergetar namun dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Kau… Sudah kubilang jangan kabur, tapi kau tetap saja pergi! Dan juga kau sedang sakit lalu pulang pada pukul sekarang!" omel Kris. Lay sedikit tertawa remeh setelah mendengarnya.
"Lalu, tadi kau keluar untuk mencariku?" tanya Lay santai.
"N—ne!"
"Kenapa? Kau khawatir akan diriku? Harusnya kau senang kalau aku pergi! Kau bisa menghabiskan malammu dengan kekasihmu, sementara aku akan menginap di rumah Victoria! Itu lebih baik, bodoh!" Lay malah balik mengomeli Kris. Yang dimarahi hanya diam menatap 'istri'-nya itu.
"Hah, dasar! Aku akan libur mengajar Tao besok! Aah, kepalaku~" Lay kembali memijat kepalanya. Tersirat raut khawatir—lagi—di wajah Kris.
"H—hey, kau baik-baik saja?"
"Minggir!"
.
.
.
TBC / END ?
Annyeong!
Weehehehe, chap 2 apdet!
Eotte? ada perkembangan? alur gaje? typo bertebaran? TOLONG DINILAI
Thanks for all reviewers ! Thank you so much ({})
And i need more REVIEW again for this chap!
Gamsahae :*** ! *bow*
