The Weird Hyuga
Sasuke tidak tahu sebelumnya jika ternyata Hyuga Hinata itu aneh, tapi yang lebih aneh lagi kenapa dia mau menolongnya ?
(6 bulan yang lalu)
"Sial" maki Sasuke ketika dia merasakan rintik hujan mulai membasahi tubuhnya. Hari ini dia berniat untuk berlatih di dalam hutan, karna sudah lama dia tidak mendapatkan misi hingga dia merasa otot-ototnya agak kaku. Sasuke segera berputar arah dan menelusuri jalan yang paling cepat untuk sampai ke rumahnya.
Sudah setahun lebih semejak Sasuke kembali ke konoha, meninggalkan semua kehidupan kelamnya setelah mendengar semua kebenaran dari mulut Itachi. Tapi meski begitu beberapa penduduk desa masih tidak bisa menerimanya. Meskipun mereka tidak mengatakannya dengan gamblang tapi dari sorot mata mereka sasuke tahu.
Samar-samar dia mendengar isakan, Sasuke berhenti dan memeriksa sekitarnya. Dan disanalah dia melihat seseorang atau mungkin seorang gadis yang meringkuk di bawah pohon di tengah hujan ini. Ketika Sasuke sampai dia baru sadar kalau dia mengenal gadis itu.
Dia Hyuga Hinata.
Meskipun mereka tidak pernah benar-benar berbicara sebelumnya Sasuke tetap mengenali gadis ini. Yang dia ingat tentang gadis ini adalah gadis paling pemalu dan paling pendiam diantara semua teman sekelasnya. Dia juga ingat kalau gadis ini selalu mengikuti Naruto kemanapun ketika mereka masih genin dulu. Ya...hanya itu yang Sasuke ingat.
Merasakan kehadirannya, Hinata membuka matanya dan tersentak ketika mengetahui siapa yang datang. Sasuke mengamati penampilan gadis ini, buku-buku jarinya membiru dan memiliki memar yang parah. Sasuke mengalihkan pandangannya kesekitar dan dia menemukan beberapa batang pohon tumbang. Wajah gadis ini lusuh dan yang paling menonjol adalah matanya yang memerah, sama sepertinya gadis ini pun basah kuyup karna hujan.
"Sa-Sasuke-kun...?" dia mendengarnya memanggilnya dengan nada tidak percaya.
"Kau berlatih Taijutsu?" dia bertanya padanya.
"H-Hai..."
"dan menangis pada saat yang bersamaan?" dia bertanya lagi. Sasuke melihatnya mencoba bangkit namun gerakannya yang kaku mendorong Sasuke untuk membantunya. Dia memegangi tangannya untuk menompanya, hingga gadis itu tersandung dan membuat mereka berdua terjatuh.
Bagus, sekarang dia tidak hanya basah kuyup tapi juga berlumpur.
"G-Gomenasai.." Hinata segera meminta maaf ketika menyadari hal bodoh yang baru saja dia lakukan. Ayahnya – Sang Kepala Klan Hyuga - selalu mengatakan kepadanya bahwa dia lemah. Tapi pagi ini berbeda, dia-ayahnya tidak hanya mengatakan dia lemah tapi juga tidak berguna dan beban bagi Klan Hyuga.
Hinata segera pergi meninggalkan kediaman Hyuga begitu mendengarnya, dengan air mata yang mengalir deras dari matanya. Setelah tepat di tengah hutan dia berhenti yang mulai memukuli batang-batang pohon itu tanpa repot-repot menggunakan chakra sebagai pelindung.
Saat itu Hinata sangat ingin merasakan rasa sakit.
"Huh..." si Uchiha menghela nafas kesal lalu segera bangkit. Sekali lagi dia membantunya berdiri lalu dengan sekali ayunan Sasuke meletakan Hinata di punggungnya, seolah dia adalah barang paling ringan di dunia. Mau tidak mau Hinata melilitkan tangannya di leher Sasuke, dia meringis ketika Sasuke mulai melompat kembali ke pepohonan, merasakan rasa sakit karna tubuhnya yang penuh memar.
Sasuke dapat merasakan tubuh gadis ini bergetar. Dan sedetik kemudian dia mulai menangis.
"K-kau bisa meninggalkanku di luar hutan Sasuke-kun,...a-aku akan baik-baik saja." Dia berkata di sela isak tangisnya yang mati-matian dia sembunyikan. "terima kasih telah menolongku...dan aku sangat minta maaf atas semua kekacauan yang..."
"Hujannya makin deras...dan meninggalkanmu di luar hutan? Aku tidak yakin."
"A-Aku akan baik-baik saja. Sungguh."
"Kau pikir aku bodoh?" Sasuke bertanya dengan jengkel. Demi tuhan dia sedang menangis sekarang, apanya yang baik-baik saja dan jangan lupakan kalau gadis ini bahkan tidak bisa berdiri sendiri, atau bahkan mencoba untuk berdiri tanpa menjatuhkan wajahnya ke tanah terlebih dahulu.
"Tapi-"
"Diam saja. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah."
Mendengar kata rumah membuat Hinata panik seketika. Dia tidak ingin pulang ke rumahnya sekarang. Pulang dengan keadaan seperti ini – lemah dan cengeng- semakin membuktikan bahwa perkataan ayahnya benar. Dia tidak ingin melihat muka kecewa ayahnya lagi ketika dia membandingkanya dengan Hanabi. Adiknya yang terlahir kuat. Sasuke harus menyeretnya jika dia mau membawanya ke rumahnya.
"Tidak!" Hinata berkata dengan tegas sambil mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia segera melepaskan leher Sasuke dan setelahnya dia bisa merasakan dinginnya udara ketika dia terjatuh. Hal itu adalah upaya putus asanya, tapi Hinata tidak punya pilihan lain. Hinata bertanya-tanya apakah tindakan bodohnya akan membunuh dirinya sendiri. Dia menutup matanya bersiap untuk merasakan benturan.
Tapi, hal itu tidak pernah datang karna Sasuke segera menangkapnya, beberapa detik sebelum mereka berdua menyentuh tanah. Uchiha itu membalikan keadaan sehingga Hinata ada diatasnya dan menjadikan tubuhnya matras darurat. Hinata merasakan udara keluar dari paru-parunya ketika Sasuke memeluknya.
Sasuke mengerang ketika punggungnya menyentuh tanah berlumpur.
Mata Hinata melebar, dia membeku begitu sadar dia sedang berada di atas seorang pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Perlahan dia mulai pulih dari keterkejutannya, dengan gemetaran dia beringsut turun dari tubuh sasuke.
Sekarang, Hinata tidak hanya lemah...tapi juga seorang pembuat masalah.
"Gomenasai..."
"Aku menyangka kalau kau gila." Katanya kasar sambil membasuh mukanya dengan satu tangan. Hujan nya semakin besar dan mulai menyakiti matanya. Benar-benar hari yang menyenangkan.
"Gomen..."
"Kau benar-benar harus membayarnya Hyuga...Harus."
Setelah kejadian di hutan, dimana Sasuke memutuskan untuk menyelamatkannya dan membawa Hinata ke rumahnya, hingga gadis itu bisa berjalan sendiri dengan kedua kakinya, apa yang Sasuke dapatkan sekarang?
Hyuga Neji baru saja mencengkram lehernya dengan jari-jarinya yang tajam lalu mendorongnya ke dinding beton yang keras itu. "Dimana Hinata-sama?" Hyuga itu hampir menggeram ketika mengatakannya. Cengkramannya semakin kuat, sebuah peringatan bagi Sasuke kalau dia akan menghancurkan batang tenggorokannya.
Wajah Uchiha itu tetap datar. Menatap dingin pada mata putih yang menatapnya tajam dengan pembuluh darah disekitar matanya menonjol. Memperlihatkan kekkai Genkai milik Klan Hyuga. Sasuke lalu menyeringai. "Hinata sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang dia inginkan."
"Biarkan aku melihatnya."
"Tidak"
"Atau aku tidak punya pilihan lain selain membunuhmu Uchiha. Aku tidak peduli sekarang kau kapten ANBU atau mantan kriminal."
"Lakukan." Sasuke menantang. "Aku tidak akan membiarkanmu membawanya setelah apa yang dilakukan ayahnya. Dia terluka sangat parah dan bahkan dia tidak bisa berjalan sendiri."
"Hanya biarkan aku melihatnya, brengsek."
"Nii-san" sebuah suara yang lemah memanggilnya dan kedua pria itu seketika berhenti. Ketika Neji berbalik dia melihat Hinata berdiri disamping pintu dan memegangi pintu untuk membantunya tetap berdiri. Uchiha itu benar, Hinata terluka parah dan Hinata memandangnya dengan khawatir. "Neji-Niisan.."
Neji melepaskan cengkramannya dari si Uchiha. Dia segera menghampiri sepupunya dan memeganginya agar Hinata tetap bisa berdiri. "Hinata-sama...Aku sangat Khawatir. Aku mencarimu sepanjang malam. Kenapa kau melarikan diri? Aku baru saja pulang dari menjalankan misi...aku tidak tahu apa yang terjadi."
"Maaf membuatmu khawatir." Hinata menjawab dengan lemah. "Aku...Aku hanya tidak bisa pulang sekarang. Otou-san akan menghukumku."
"Ada aku disini sekarang. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."
"Nii-san..."
"Pulang lah denganku...segelanya akan segera membaik. Jika kau terus bersembunyi, itu akan memperburuk keadaan. Aku berjanji Hinata-sama...aku tidak akan ragu menentang Hiashi-sama selama itu bisa melindungimu. Kau percaya padaku kan?"
Pandangan Hinata beralih ke Sasuke.
Sasuke memalingkan muka. "terserah padamu, Hinata.." Uchiha itu berkata.
"Sasuke-kun..."
Dengan mata menyipit, Hinata melihat Sasuke memandang sepupunya yang masih belum melepaskan genggamannya pada Hinata. "Hyuga Neji, aku akan memegang kata-katamu untuk melindungi Hinata...Jika sesuatu terjadi padanya...giliranku untuk membunuhmu."
...
Sasuke memejamkan matanya.
Meskipun sekarang sudah pagi, tapi dia masih merasa sangat lelah. Dia tidak memiliki rencana apapun hari ini kecuali malas-malasan sepanjang hari di tempat tidurnya. Dia baru saja selesai menjalankan misi dengan dua orang paling berisik di Konoha yaitu Naruto dan Kiba. Dan itu membuatnya sangat kelelahan. Sudah cukup dengan mengurus Naruto saja, ditambah dengan si Inuzuka yang pemarah dan gegabah. Rasanya seperti berada di neraka.
Atau mungkin karna memang perasaannya sudah kesal bahkan sebelum misi itu dimulai. Punggungnya masih sakit akibat benturan dengan tanah ketika menyelamatkan si Hyuga. Area dada dan perutnya pun juga sedikit sakit karna si Hyuga itu mendarat tepat di atasnya.
Hari ini adalah hari liburnya...dan sasuke pastikan tidak akan ada yang berani mengganggunya.
Tok...tok...tok..., suara ketukan pintu terdengar.
Sasuke merengutkan dahi.
Suara ketukan itu sebenarnya sangat lembut, tapi dibenak Sasuke suara ketukan itu seperti suara ledakan. Suara ledakan paling menjengkelkan yang pernah Sasuke dengar sepanjang hidupnya.
Dia tetap di tempat tidurnya.
Dan suara ketukan itu berlanjut.
Dengan perasaan kesal yang seperti terbakar, yang panasnya mungkin bisa melelehkan besi dan kaca. Uchiha itu bangkit dari tempat tidurnya dan menuju pintu. Sesuatu dalam dirinya terus saja mengatakan padanya untuk menenangkan emosinya. Dia menarik gagang pintu itu dengan paksa. "Apa?" Sasuke menyeruakan ketidaksukaannya pada siapapun yang berani menganggu waktu istirahatnya.
Hinata memerah seketika saat dia melihat si Uchiha yang setengah telanjang tepat dihadapannya. Dia sangat terkejut hingga menjatuhkan keranjang kecil di tangannya. Sambil menggumamkan permintaan maaf, Hinata membungkuk untuk mengambilnya. "Gomen...gomenenasi...gomen."
Sasuke melihat si Hyuga ini – yang merupakan alasan tubuhnya sakit – mencoba untuk membenahi dirinya sebelum memandangnya kembali. Pipi Hinata berwarna merah terang sekarang. "Aku...kemari...un-"
"Jika kau ingin mengatakan sesuatu, segera katakan." sasuke berkata padanya. Dia tidak punya waktu untuk hal semacam ini. Dia butuh istirahat sekarang jadi dia bisa kembali mengerjakan tugasnya sebagai ANBU.
"A-aku kemari u-untuk membawakanmu ini. A-aku mi-minta maaf atas semua kekacauan yang aku buat... Sasuke-kun." Hinata menyodorkan keranjangnya ke arah Sasuke. "Maaf...dan terima kasih karna telah menyelamatkanku dari tindakan bo-bodohku kemarin lusa."
Hinata segera membalikan badannya dan lari sekencang mungkin dari Sasuke. Meninggalkan aroma lavender yang lembut di hidung Sasuke. Sasuke hanya diam, dia menutup pintu dan kembali ke tempat tidurnya dan duduk diatasnya.
Gadis itu aneh...
Dia melepaskan kain putih yang menjadi penutup keranjang tersebut, ia menemukan ada botol kecil dengan ramuan lengket di dalamnya. mungkinkah ini sejenis racun, lalu dia membaca catatan kecil yang di buat Hinata.
'Salep penyembuhan buatan Hinata Hyuga.'
Selain itu, dia juga menemukan kotak bento. Ketika dia membuka tutupnya, hidungnya langsung mencium aroma makanan yang lezat. Bento itu berisi Nasi, Tempura Udang, Sayuran dan Daging Sapi dengan saus Teriyaki.
Ya...tidak salah lagi. Gadis itu aneh.
...
Hinata melihat dengan kagum bagaimana seorang Uchiha Sasuke sedang berlatih, ketika dia dengan tepat melempar shurikennya ke targetnya bahkan dengan mata tertutup. Sebenarnya Hinata adalah orang pertama yang menempati arena berlatih itu, tapi ketika dia mengaktifkan Byakugannya dia melihat Sasuke berlari tepat ke arahnya. Tanpa pikir panjang lagi dia segera bersembunyi di semak-semak
Hinata tahu tindakannya sangat bodoh. Tapi, dia tidak bisa mengulang waktu.
Hinata melihat sasuke meraih beberapa Shuriken lagi dan tanpa bisa di cegah, shuriken itu melesat ke arahnya. Dengan sigap Hinata segera menghindari serangannya.
"Keluarlah, Aku tidak akan meleset untuk kedua kalinya."
Dia menghela nafas sejenak untuk menenangkan dirinya sebelum keluar dari persembunyiannya.
"Ehm...Go-Gomen...Sasuke-kun, a-aku ti-tidak bermaksud.."
"Apa Kau selalu berbicara dengan tergagap?" dia bertanya, kesal.
Hinata menggigit bibirnya dan kegelisahan terlihat jelas dari jari-jarinya yang saling meremas. "Aku...aku akan pergi sekarang. Aku tidak bermaksud mengganggumu...sungguh." berlari secepat mungkin adalah hal pertama yang Hinata pikirkan setelahnya, dia benar-benar akan melakukannya sebelum seseorang memegang lengannya, menahannya untuk melarikan diri. Ketika dia berbalik dia berhadapan langsung dengan wajah Uchiha Sasuke.
"Kau menguntitku?" dia bertanya. Mungkin Hinata salah satu fangirls nya yang gila. "Pertama bento dan salep, lalu sekarang ?"
"Tidak!" gadis itu menjawab. "Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu Sasuke-kun. Maksudku, bukan karna kau tidak ta-tampan. Tapi karna ka-kau...a-aku...maksudku aku tidak menguntitimu. Salep itu untuk punggungmu...aku tahu kau terluka setelah me-menolongku."
"kau dulu mengikuti Naruto kemanapun..."gadis itu terperangah mendengarnya. "Saat itu aku masih kecil...tapi sekarang aku tidak melakukannya."
"Hey...lepaskan dia Uchiha." Sebuah suara yang dingin terdengar, diikuti dengan suara dengungan serangga. Sedetik kemudian Aburame Shino mendarat didepan mereka. Meraih lengan Sasuke dan mejauhkan Hinata darinya.
Sasuke menyeringai. "Aku tidak melakukan apapun pada pacarmu. Aku hanya bertanya padanya."
...
A/N :
makasih ya, buat yang udah review sama nge-favorite Fic ini
Ia, fic ini bakal di lanjutin ko.
tapi gimana tanggapannya juga sih hehe...
Oh ya, aku ini Hinata-centric. jadi kalau kalian punya Fancfic Hinata yang seru kalian bisa kasih tau aku.
