Title: It's You
By Lee Suhae
Main cast: Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Choi Siwon
And others
Genre: Romance, yaoi
Rated: T
Mungkin ini semua sudah jalan Tuhan .. hal yang paling indah saat bercinta adalah, berkorban. Tentu saja?
o
o
o
~oOo~
-LSuhae-
"Aku ingin kau adalah orang pertama yang akan ku lihat saat aku bisa melihat nanti"
"Tentu saja! Aku akan selalu disampingmu. Jadi jangan khawatir, Fishy!"
Ia tersenyum kecil, mengingat kenangan –kenangan indah masa kecilnya. Kenangan yang tidak akan pernah terhapus meski oleh sang waktu sekalipun. Kenangan yang sangat teramat berarti bagi dirinya. Kenangan yang masih ia harapkan bisa terulang kembali. Walaupun, itu rasanya tidak akan mungkin terjadi.
Meskipun dalam hatinya ia meyakini, suatu saat nanti ia pasti akan bertemu dengan cinta pertamanya.
"Kau sudah siap?"
Ia sedikit terkejut, saat menerima sentuhan dikulit lengannya. Terdiam sesaat untuk dirinya mengetahui, siapa yang tadi bertanya padanya. Karna, ditempat ini sangatlah ramai sekali. Hingga, suara sosok itu hanya terdengar samar.
Ia memejamkan matanya, mencoba menghirup aroma tubuh dari sosok itu. meski, ia sudah mengetahui siapa sosok itu. Ketika, sosok itu kembali menyentuh kulit tangannya, dan menggenggam tangannya erat.
Ia menjauhkan tangan sosok itu dari tangan mulusnya. Tak suka, saat orang lain menyentuh tubuhnya. Terkecuali, orang terdekatnya. Dan, sosok yang saat ini berada tepat disampingnya. Menatapnya dengan jarak dekat, serta memberikan senyuman manis padanya. Bukanlah, orang yang begitu dekat dengannya. Baru kenal malah, walaupun sosok pemuda tampan itu berusaha untuk bisa menjadi bagian penting dari hidupnya.
Ia tersenyum sekilas, lalu mengarahkan mata lurus. "Boleh aku jujur?" tanyanya pelan, meski kali ini pemuda tampan itu sangat jelas mendengar pertanyaannya. Pemuda tampan itu, yakni Siwon mengangguk menjawabnya. Meski, sosok yang ia kagumi dan ia cintai tidak melihat anggukan itu. Karena, sosok itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Terlebih, karena sosok itu buta.
"Tentu. Katakan saja" pintanya sambil menatap dari samping wajah manis bak malaikat itu. Begitu putih, bersih dan mulus. Sangat cantik dan sempurna. Dalam hati ia bertanya, Mungkinkah aku bisa mendapatkannya? Untukku?
Ia –Donghae memejamkan matanya. Lalu, saling menautkan jemarinya. Tak selang beberapa detik, mata indah yang memancarkan sorot polos tanpa cahaya itu terbuka. Seulas senyum terlihat kembali.
"Aku belum siap. Aku tidak akan pernah siap, Siwoniie"
"Apa ini karna Sungmin Hyung?"
Ia menggeleng pelan mendengar pertanyaan Siwon. Pemuda yang akan menjadi calon pendampingnya nanti. Calon yang telah dipilihkan orangtuanya. Calon yang begitu menyukainya saat pertama kali bertemu. Calon yang begitu tampan dan berwibawa. Ia juga sangat baik dan perhatian.
Calon yang begitu ideal. Namun sayang, Donghae tidak mencintainya. Meskipun diri menyukainya, tapi hati menolaknya. Ada cinta masa kecil yang masih tertanam disana.
Cinta tanpa ujung yang masih ia tunggu.
Siwon terdiam menatapnya. Lalu, berdiri dan memilih berjongkok tepat dihadapan Donghae. Menarik tangan Donghae, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Awalnya Donghae ingin sekali melepaskan genggaman itu. Tapi, semakin ia ingin melepaskannya, semakin kuat pula Siwon menggenggamnya. Hingga akhirnya ia menyerah. Membiarkan tangannya berada didalam genggaman Siwon.
Ia menghela nafasnya sesaat. Sebelum akhirnya tersenyum. Senyum yang terlihat begitu pedih dimata Siwon yang kini begitu lekat memandangi mata wajah manis itu.
Donghae sudan membuka mulutnya, namun hatinya masih ragu untuk bercerita. Lantas, ia mengurungkan niatnya itu. Menutup kembali mulutnya, hingga bibir tipis bewarna merah muda itu saling bersentuhan atas dan bawah.
Siwon tidak berucap, masih menunggu Donghae untuk membuka kisahnya. Menanti Donghae mengutarakan isi hati padanya.
Hening beberapa saat. Hingga, mulut Donghae kembali terbuka dan kini, ucapan –ucapan itu kembali terulang. "Aku tidak akan pernah siap untuk bisa melihat dunia ini, Siwoniie" ujarnya lagi kepada Siwon. Dan Siwon, mengangguk sambil tersenyum.
"Ya, lalu apa masalahnya? Jika Sungmin Hyung bukan menjadi jawabannya. Lantas apa ..? atau, siapa?"
"Itu .. karna aku ingin orang lain yang ku lihat saat aku bisa melihat lagi" jawabnya pelan. Tak enak hati dengan Siwon. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu" sesalnya dengan nada dan raut wajah sedih. Menyiratkan kalau ia telah menyesal mengucapkan kata –kata yang mungkin akan menyakiti hati Siwon.
Siwon menggelengkan kepalanya sekilas. Lalu tersenyum, "Itu adalah impianmu. Harapanmu. Jadi, kau tidak usah meminta maaf denganku. Kau tak salah. Aku mengerti, Hae". Donghae begitu senang mendengarnya. Ternyata, Siwon tidaklah seperti yang ia kira sebelumnya.
Siwon baik padanya ..
Tapi, kenapa hatinya tak bisa menerima kehadiran Siwon bahkan sedikitpun. Tak bisa ..
Padahal Siwon sangat menerima tentang ceritanya saat ia berkisah tentang masa kecilnya. Meski saat itu, ia tidak melihat bagaimana Siwon menyembunyikan air matanya. Hatinya sungguh sakit, jika orang yang dicintainya masih mencintai cinta pertamanya. Apalagi, Donghae masih menunggu sosok itu. Sosok yang tidak diketahui keberadaannya. Bahkan, Donghae tidak ingat atau memang tidak tahu nama si Simba itu.
"Lalu? Apa kita akan pulang saja, dan tidak akan pergi ke America?"
"Kalau itu keinginanmu, akan turuti"
Siwon berdiri, masih dengan menggenggam kedua tangan Donghae dalam satu genggaman tangannya. Ingin mengajak Donghae berdiri, namun Donghae menahannya. Alis Siwon bertaut samar sambil menatap Donghae yang menatapnya. Meski ia sangat tahu, tak ada bayangan disana.
"Ada apa? Bukankah kau ingin pulang?"
Donghae ragu sesaat, wajahnya menggambarkan ketakutan. Walaupun masih tertutupi dengan pembawaannya yang santai. Ia menarik tangan Siwon, menyuruh Siwon untuk duduk.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Siwon lagi, saat dirinya kini sudah duduk disamping Donghae.
Donghae menggigit bibir bawahnya sesaat. Sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk menjawab,
"Bagaimana dengan Yunho Appa dan Eomma. Juga Appa dan Eommamu?". Satu pertanyaan yang membuat Siwon terdiam, berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian, senyum mulai terlukis diwajah tampannya. Hingga, lesung dikedua pipinya terlihat.
"Aku akan urus semuanya. Jadi, kau tenang saja"
"Jangan!" cegah Donghae kemudian.
"Memang kenapa, Hae? Mereka tidak akan memarahimu. Lagipula, janji itu bisa saja dibatalkan"
Donghae menggelengkan kepalanya keras. Lantas, meraba paha Siwon. Mencari tangan Siwon dengan menggenggamnya dengan erat. Mata itu memerah, menatap wajah Siwon meski dengan tatapan kosong penuh makna.
"Aku .. aku tidak akan suka melihat orang lain berkorban untukku. Aku akan sedih jika orang lain terluka karena aku"
"Aku baik –baik saja, Hae"
"Tidak. Kau tidak akan baik jika kau tidak mengantarkan aku ke Amerika!"
"Lalu, apa aku harus bilang ini kemauanmu? Dan kau yang akan dimarahi oleh Eommamu karna tidak menghargai kerja keras Appaku dalam mencarikan donor mata itu? begitu!" amarah Siwon kentara, kesal karna sikap Donghae yang menurutnya keras kepala. Walau amarah itu masih bisa diredamnya. Karena memang, ia bukanlah tipe orang yang pemarah. Masih bisa ditahan, apalagi didepan pemuda yang ia cintai.
Donghae tidak bisa berkata. Meski, mata itu sudah menjawabnya.
Siwon tersenyum seraya menghapus air mata yang berada dipelupuk mata Donghae menggunakan usapan jempolnya. Lama .. sambil menyentuh wajah manis Donghae.
"Aku tahu kalau kau ingin sekali melihat orang yang kau cintai. Cinta pertamamu. Tapi lihatlah keadaanya? Apa dia ada sekarang? Apa dia saat ini ada disampingmu? Tidak ada, Hae. Dia tidak ada". Siwon kembali menggenggam erat tangan Donghae, dan tangan yang lainnya mengelus pipi Donghae sambil menyeka air mata itu.
"Mungkin, baru sebentar kita dekat. Saling mengenal satu sama lain. Tapi .." ia tersenyum, "Jujur. Aku sedih melihatmu seperti ini. Aku ingin kau bahagia dengan matamu " lanjutnya dengan mata yang memerah.
"Lakukanlah untuk dirimu, Hae"
Donghae memejamkan matanya, membiarkan air mata itu terjatuh tanpa bisa dicegah. Akhirnya, ia menganggukan kepalanya samar. Lalu tersenyum begitu manis ke arah Siwon.
"Baiklah. Tapi, aku melakukan hal ini bukan demi diriku?"
Siwon terdiam, memaksakan senyum yang terlihat tak tulus. Ia tahu, apa jawabannya. Pasti Donghae ingin melakukan operasi karena cinta pertamanya.
"Tetapi, karna kau!"
Mata Siwon berkedip beberapa kali. Terkejut dengan penuturan Donghae. Ia tersenyum gugup, meski hatinya merasa senang. "Karna aku?" tanyanya untuk meyakinkan dirinya. Siapa tahu saja ia salah mendengar.
Donghae mengangguk lucu menjawabnya. Terlihat begitu menggemaskan dimata Siwon. Untung saja, Siwon masih bisa menahan nafsunya untuk tidak mencubit pipi yang sedikit chubby itu.
"Ya! Aku tidak mau jika kau akan dimarahi Appa dan Eommamu nantinya" jawab Donghae dengan perkataan yang manja. Tentu saja hal itu membuat Siwon senang mendengarnya. Lantas, ia memeluk tubuh Donghae. Memberikan pelukan hangat dari tubuhnya.
Pelukan ini sangat berbeda dengan pelukan masa kecilku dengan dia. Walau begitu, pelukan ini hangat. Meskipun, tidak sehangat pelukan dia …
"Gomawo Siwonniie". Siwon hanya bisa tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Donghae. Mereka terus berpelukan, hingga beberapa menit.
Siwon melepaskan pelukan itu. Lalu, menatap wajah Donghae yang begitu dekat dengannya. Ia tersenyum,
Aku akan berusaha, mencari cara agar kau bisa jatuh cinta denganku, Hae. Aku benar –benar mencintaimu. Entah sejak kapan …
"Pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sebaiknya kita bersiap –siap" saran Siwon yang dianggukan Donghae. "Tapi, bisakah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menelpon Sungmin Hyung. Aku rasa dia mengkhawatirkanku" ujarnya sambil terkekeh geli.
Siwon mengangguk sambil mengacak rambut coklat Donghae. Lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket coklatnya. "Berapa nomornya?" tanya Siwon, dan Donghae langsung menyebutkan nomornya. Ia hafal dengan nomor ponsel milik Sungmin, tapi tidak dengan nomor orangtuanya.
O
O
~OoO~
"Ah! Hyung kau lihat sepatu putihku?" teriak seorang pemuda dari dalam kamar Apartemennya yang begitu mewah.
"Sepatu putih yang mana?" sahut seseorang lain yang sepertinya berada diluar kamar miliknya. Ia menghembuskan nafasnya, lalu kembali berkutat pada lemari sepatu miliknya. Mencari sepatu favoritenya. Sepatu yang ia beli saat berlibur ke Hawaii beberapa bulan silam.
"Apa yang ini?" seorang masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengetuk. Karena memang pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Pemuda tampan bertubuh tinggi itu menolehkan wajahnya, lalu tersenyum saat mendapati sepatu favoritenya kini berada ditangan sang manajer.
Ia berdiri dari jongkoknya. Lantas, berjalan menghampiri sang manajer yang jauh lebih pendek dari dirinya.
"Dimana kau menemukannya, Hyung? Tanyanya yang mendapatkan pukulan bukan jawaban dari sang manajer. "Bukankah kau yang meletakkannya didepan pintu. Bodoh!" sungut kesal manajer sambil melangkahkan kakinya keluar, sebelumnya ia berikan sepatu itu kepada artisnya –Kyuhyun.
Kyuhyun menggaruk kepala belakangnya, "Benarkah? Aku lupa!" ujarnya lalu mengayunkan kakinya menuju ranjangnya. Meraih koper yang terisi akan pakaiannya. Namun, tangannya terhenti untuk membuka koper tersebut saat mengingat seseorang yang sempat ia temui beberapa hari yang lalu.
Fishy .. Fishy ..
"Sebaiknya aku harus bergegas" ujarnya sambil memasukkan sepatu putih ke dalam koper. Kemudian, ia bangkit dan berjalan menuju sofa didalam kamarnya. Mengambil sebuah jaket kulit warna hitam dan langsung ia kenakan. Tak lupa, ia mengambil sebuah masker dan kaca mata hitam.
"Kau sudah siap?"
Ia menoleh ke arah pintu, dimana ada sang manajer yang sudah siap dengan segala sesuatunya. Jaket, kaca mata hitam, dan topi. Ia tersenyum sekila. "Tentu saja, Hyung! Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan pemotretan untuk majalah itu". Ia membenarkan jaketnya, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menghapiri manajernya –Ryeowook.
Kyuhyun harus menjalankan kontrak yang sudah ditanda tangani –nya dengan majalah terbitan Amerika itu.
"Kita ke Brazil?"
"Ya .. mereka semua sudah menunggumu disana!"
Kyuhyun hanya mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam mobil. Lalu disusul oleh Ryeowook yang duduk disamping supir.
Ryewook menolehkan wajahnya ke belakang. Alisnya bertaut samar saat melihat Kyuhyun terdiam. Meski Kyuhyun menggunakan kaca mata hitam, Ryeowook tahu kalau Kyuhyun sedang melamun.
"Kau ada masalah?"
"Kyu?"
"Ah, aku .. tidak ada!"
"Kau berdusta Kyuhyun" ujarnya sambil menatap sinis Kyuhyun. Dan akhirnya benar. Kyuhyun tertawa sesudahnya. "Begini Hyung, aku sedang memikirkan seseorang yang aku temui beberapa hari silam" jelasnya yang membuat Ryeowook menaikan satu alisnya.
"Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Tidak, Hyung. Aku juga tidak tahu siapa dia"
"Lalu, apa masalahnya?"
Kyuhyun terdiam sejenak. Hatinya ragu, apa ia harus mengatakan hal ini pada Ryeowook atau tidak. Sebenarnya, Ryeowook tahu masalalunya. Tentang cinta masa kecilnya. Tapi, "Dia seperti –"
"Fishy? Benar?". Ryeowook menebak, memotong ucapan Kyuhyun. Ia menghela nafasnya, lalu menunjukkan senyumnya sekilas. "Inilah yang ku takutkan. Kau memikirkan hal yang tidak –tidak. Ini bisa menganggu pikiranmu". Sebuah peringatan yang diberikan Ryeowook padanya. Ia tahu, setiap kali ia menceritakan tentang cinta pertamanya, ia selalu mendapat teguran dari manajernya itu.
Ryeowook mengedikkan bahunya, memilih memandang jalan didepannya. Wajahnya berubah sedih setiap kali Kyuhyun menceritakan tentang masalalu –nya. Ia merasa .. cemburu.
"Hyung, kau baik –baik saja?"
"Ya .. aku baik –baik saja" jawabnya dengan nada malas. Dan ia tahu itu. Ryeowook marah dengannya. Itu karena, 'Fishy'. Ia tak buta. Ia tahu kalau manajernya itu menaruh hati padanya. Tapi, ia berpura –pura menutup matanya karna sudah ada oranglain dihatinya yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
Fishy .. apa kau juga memikirkanku saat ini?
O
O
~oOo~
-Lsuhae-
Donghae tersenyum begitu senang saat Siwon berkata, "Kita sudah sampai di Brazil".
Siwon juga ikut tersenyum saat melihat senyum malaikat yang terulas dari bibir tipis bewarna merah muda itu. Ia menggenggam tangan Donghae, lalu tangan satunya membenarkan topi wol dikepala Donghae.
"Aku senang jika melihatmu seperti ini"
"Ini berkatmu, Siwoniie. Terimakasih". Ia berucap ceria, seakan –akan hal yang sempat terjadi beberapa saat lalu ketika di Incheon tidak ada. Tentu saja, hal itu membuat Siwon senang sekali. Ingin rasanya ia memiliki Donghae untuk dirinya sendiri.
Siwon melangkah mendekat, menarik tubuh Donghae ke dalam pelukannya. "Aku yang berterima kasih padamu, Hae. Karna dirimu, aku seperti hidup kembali dengan membawa cinta". Donghae tersenyum, meski hatinya merasa sedih saat Siwon berkata seperti itu. Hal yang sama dirasakan Siwon tentunya. Tapi, ia berusaha untuk menutupi kegalauan hatinya dengan senyum dan nada bicaranya yang riang.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung ke penginapan?"
Donghae mengangguk,"Tapi .." ia menarik lengan Siwon, menggenggamnya sangat erat. "Kau bisa menuliskan email untuk Ming Hyung? aku harus memberitahunya kalau aku sudah sampai" ucap Donghae selanjutnya.
Siwon tersenyum, lalu berpindah posisi. Melepaskan genggaman Donghae lalu, berdiri membelakanginya. Kemudian, ia bawa kedua lengan Donghae untuk bisa memeluk lehernya.
"Kalau begitu, naiklah ke punggungku. Nanti, sampai dipenginapan akan ku kirimkan email kepada Min Hyung"
Donghae ragu sejenak, meski begitu akhirnya ia merebahkan tubuhnya pada punggung Siwon. Dan membiarkan Siwon untuk bisa menggendongnya.
"Tapi, apa kita tidak berlebihan, Siwoniie?"
"Disini banyak sekali orang. Aku takut pegangan tangan kita akan terlepas" ujar Siwon berbohong. Tentu saja, disekitarnya adalah jalanan lengang. Tak banyak orang. Meski Donghae lari sekalipun jauh darinya. Ia masih bisa menemukannya.
Modus!
Donghae sebenarnya sedikit curiga, kenapa ia tidak bisa mendengar suara bising disekitarnya jika banyak orang. Hanya terdengar sayup –sayup orang berbicara saja.
Lama ia berpikir, hingga akhirnya kalungan tangan pada leher Siwon menguat. Ia tersenyum, "Baiklah". Siwon tersenyum senang mendengarnya. Kemudian, barulah ia mengayunkan kakinya menuju Hotel yang akan ia diami beberapa hari selama disini.
Semoga saja, aku bisa benar –benar memilikimu, Hae.
Donghae memejamkan matanya, mengingat tentang masa kecilnya. Dulu, ia sering sekali digendong dengan 'cinta pertamanya' ..
"Apa aku tidak berat!"
"Tentu saja berat!"
"Kalau begitu, turunkan aku!"
"Bodoh. Mana mungkin aku menurunkan dikerumunan orang!"
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja, Fishy!"
…
Kyuhyun terpaku, tak bergerak sedikitpun. Langkahnya terasa berat untuk diayunkan. Matanya tak lepas untuk memperhatikan, memandangi dua pemuda yang berjalan cukup jauh dari dirinya. Ia tak bisa memastikan mereka itu siapa. Tapi, kenapa ia merasa kenal dengan sosok yang kini berada didalam gendongan itu.
Seperti ..
"Fishy"
"Kyuhyun! Cepatlah .."
Kyuhyun tersentak saat mendengar teriakan dari manajernya. Segera ia tolehkan kewajahnya ke arah samping. Dimana ada Ryeowook yang sudah menunggunya dimobil.
Kyuhyun kembali mengarahkan wajahnya ke arah depan. Untuk kembali melihat sosok itu. Tapi, "Eh? Kemana dia?" ia bertanya, mencari sosok itu tapi tidak ada.
"Kyuhyun !"
Ia berdecak, sebelum akhirnya pergi berlari menghampiri Ryeowook yang sepertinya sudah kesal menunggunya sedari tadi.
"Kau ini tidak sabaran sekali, Hyung!" . Pintu mobil tertutup dengan keras, setelaH Kyuhyun masuk. Kesal.
Ryeowook memutar bola matanya jengah, "Kita kesini bukan untuk liburan. Kau ingat?". Kyuhyun mengangguk tanpa menjawab. Lebih memilih mendengarkan musik dari I –padnya.
"Selalu seperti itu" gerutu Ryeowook saat melihat Kyuhyun sama sekali tidak mendengarkan perkataannya. "Sudahlah" ujarnya setelahnya.
O
O
~oOo~
Wajahnya gugup, tubuhnya gemetar. Saat ia menyadari kalau tidak ada seseorang disampingnya. Ia berdiri, mencoba meraba. Tapi, terjatuh. Ia asing dengan ruangan ini.
"Siwoniie.. kau dimana?". Matanya mulai memerah. Takut. Ia sangat takut sekarang. "Siwoniie.." ia memanggil lagi untuk yang kesekian kalinya.
Siwon tidak ada disampingnya. Padahal, sebelum ia terlelap dalam gendongan Siwon, Siwon masih ada. Ia sempat mendengar Siwon mengucapkan selamat beristirahat. Sebelum semuanya gelap.
Isakan mulai terdengar. Ia tak kuasa bangun. Membiarkan dirinya terduduk lemas diatas lantai. "Hiks .. Siwoniie .. kau dimana" lirihnya dengan diiringi air mata.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Menampakkan seorang pemuda tampan dengan membawa dua kantong plastik dimasing –masing tangannya. Saat ia melihat Donghae terduduk diatas lantai matanya membulat. Segera ia berlari menghampiri Donghae, dan melepaskan dua kantong plastik begitu saja.
"Hae .. kau kenapa?"
Mendengar suara Siwon masuk ke dalam gendang telinganya. Tangisnya semakin pecah. Segera ia membalas pelukan yang diberikan Siwon padanya. Memeluknya dengan sangat erat. Seakan takut apa yang ia bayangkan terulang kembali.
"Hikks .. aku takut, Siwoniie .. hiks" adu Donghae pada Siwon yang terlihat sangat bersalah. Ia hanya bermaksud untuk meninggalkan Donghae sebentar untuk membeli beberapa makanan dalam kamar hotel selagi Donghae tertidur.
Siwon mengusap punggungnya lembut. Seraya menenangkan diri Donghae akibat ulahnya. Tubuh Donghae gemetar, sepertinya ia benar –benar takut kalau Siwon akan meninggalkannya.
"Maafkan aku, Hae. Aku tidak akan lagi meninggalkanmu. Aku janji"
Donghae masih saja menangis, meski gemetar dan rasa takut mulai pudar. Ia memejamkan matanya, mengangguk sekilas. Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Siwon. Ia menahan isak tangisnya saat ingin berbicara,
"Aku percaya" ucapnya dengan suara parau. Siwon tersenyum, dan kembali mengeratkan pelukan itu. "Terimakasih" balasnya setelah itu.
….
Kyuhyun berhenti berjalan, tepat didepan sebuah pintu kamar hotel. Entah kenapa saat melihat pintu kamar itu, jantungnya berdegup amat kencang. Apalagi, sekilas ia mendengar suara tangisan dari seseorang. Tangisan yang begitu ia kenal. Meski ia tak yakin sepenuhnya.
"Hiks .. hikss"
"Kau kenapa menangis Fishy?"
"Hikks, kau meninggalkanku!"
"Tidak, tidak. Aku akan selalu ada disamping, Fishy. Aku janji!"
"Hikks, janji hm?"
"Iya! Jadi, jangan menangis lagi"
"I –iya"
Ia memejamkan matanya, mencoba mengulang kembali kisah masalalunya yang begitu indah. Tentang sosok itu.
Fishy
"Hey, sedang apa kau disini?" tegur Ryeowook yang membuatnya sangat terkejut. Kyuhyun terlihat gugup, meski bisa ia sembunyikan lewat wajahnya yang memang santai.
Selain penyanyi, ia juga aktor yang sangat handal.
"Menunggumu"
Ryeowook tersenyum sekilas. Sebelum akhirnya memberikan kunci kepada Kyuhyun. "Kamarku ada disebelahmu". Kyuhyun mengangguk, lalu meraih kunci yang diserahkan Ryeowook padanya. "Kalau begitu, aku mau istirahat, Hyung" ujarnya.
Ryeowook mengangguk, "Ya. Dua jam setelah ini, kau harus sudah bersiap. Kita akan dijemput oleh pihak dari majalah itu". Tidak menjawab, hanya sebuah anggukan yang diberikan Kyuhyun kepadanya. Dan itu, membuat Ryeowook sangat kesal.
Kini, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar yang menjadi sorotannya tadi.
Ia membuka pintu kamarnya, memejamkan matanya sejenak sambil bergumam,
"Aku merindukanmu, Fishy"
.
.
-tbc-
Next Chap,
Kyuhyun berlari tergesa, keluar dari kamarnya setelah mendapat pesan yang dikirimkan Ryeowook padanya. Ryeowook mengatakan kalau dirinya sudah dibawah, bersama dari pihak majalah.
Namun sial. Mungkin karena terlalu terburu, ia tidak melihat kalau ada orang yang sedang berada didepannya. Orang itu terjatuh cukup keras ke bawah. Dan, Kyuhyun yang melihat itu sangat terkejut.
Kyuhyun berjongkok, "Apa kau baik –baik saja?" tanyanya sambil memperhatikan wajah pemuda itu. Hingga pemuda itu mengangkat wajahnya, dan tersenyum.
"Hanya sakit sedikit, selebihnhya aku baik –baik saja"
Tak ada respon dari Kyuhyun. Karena kini ia begitu terkejut dan takjub saat melihat wajah sosok pemuda manis itu. Matanya tak mampu berkedip saat melihat mata itu. Mata yang mengingatkan dia pada seseorang.
-LSuhae-
Huaaahhh .. ini ff lama sekali ya? Gk tamat" pula ! #plakk
Padahal mau twoshoot aja, tapi … gk jadi. ! capek nulisnyaaaaakkkkk kkkkk~~~~
Ok, akhir kata gua ucapin terimakasih untuk teman" gua dan juga para readers ^^
FF SELANJUTNYA (INSYAALLAH) "ENDLESS MOMENT" ! lagi kangen ama Kihaaeeeekkk !
/ Mari kita berdo'a, semoga Ayah, Nenek dan Kakek dari Teuki Oppa/Hyung ditempatkan yang terbaik disisi Tuhan … (Amiiin ) /
Mind RnR PLISSSS?!
