Disclaimer : 'Bleach' milik Tite Kubo. Fanfic ini milik author.
WARNING : AU, OOC SANGAT T.T
Huaaa... update (?) lama ya... hahhahaha, aduh, aku sama sekali gak punya outline cerita ini lho. jadi apa adanya gini dah. hahaha
met baca yaaa.. thx buat yang udah review.. :*
thx bangeet
makasi udah mau nyempat2in baca, hiks.. thx :*
balasan buat yang gak login ada di bawah yaaa :*
buat yang login udah ku kirim message :*
:* :* :* *lagi suka emot muah2 *author stres. hahahha
#Chap 2
Rukia berjalan cepat, menyusuri rerumputan yang sedikit berlumpur. Bajunya yang basah menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna, rasa dingin membuat giginya bergemeletuk, badannya pun sedikit gemetar. Tapi ia tidak peduli, karena walaupun bibirnya sudah membiru ia merasa segala ini masih kurang untuk menutupi rasa aneh di dalam hatinya.
Itu Ichigo? Dan dia tidak mengenaliku.
Rukia sadar sepenuhnya, pria yang ia temui tadi sama sekali tidak sedang berpura-pura atau memainkan sandiwara aku-tidak-kenal-denganmu. Dia bisa membaca dari wajah atau tatapan mata si rambut oranye, bahwa orang itu memang tidak mengenalinya.
Buru-buru Rukia meraih telpon umum terdekat, menekan nomor telepon yang cukup ia hapal.
"Orihime? Apa yang terjadi? Aku bertemu Ichigo, tapi ia tidak mengenaliku, benar-benar tidak mengenaliku."
Orihime membisu.
"Apa yang terjadi?" desak Rukia.
Akhirnya gadis di seberang telpon angkat suara. "Terakhir kali aku berkunjung ke rumah sakit, dia juga tidak mengenaliku. Ibunya menyuruh aku pulang. Aku rasa orang tuanya menyembunyikan sesuatu."
"Dan kau juga menyembunyikan sesuatu," tegas Rukia.
"Oh Rukia…"
"Aku tahu kau menyukainya sejak dulu. Bilang saja padaku hal yang sebenarnya."
Orihime mendesah. "Baiklah. Aku memang menyukainya dulu. Dan waktu itu aku sering menjenguknya, dia tidak mengenaliku, atau mengenali ayah dan ibunya. Ichigo hilang ingatan. Aku pikir itu sebuah kesempatan emas, kau tahu? Ibunya juga mendukung, jadi aku berpura-pura menjadi pacarnya."
Rukia terdiam. Dan Orihime terus bercerita. "Tapi dia tetap tidak menyukaiku dan memutuskanku, wah, padahal dia pencumbu yang hebat."
Darah Rukia memanas.
"Aku sekarang punya Ulquihora, aku tidak menyukainya lagi," lanjut Orihime.
"Aku tidak memintamu bercerita sebanyak itu. Aku cuma ingin tahu apa yang terjadi padanya, bukan padamu dan dirinya."
Orihime terkekeh. "Seperti biasa, ucapanmu selalu menusuk seperti itu."
Rukia langsung menutup telpon tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan pada Orihime, dia agak muak dan jengkel pada Orihime. Tapi ya sudahlah, ini yang namanya hidup, penuh intrik. Jadi untuk apa membenci? Kalau ada di posisi Orihime, Rukia pasti akan melakukan hal yang sama. Kalau begitu, mereka berdua sama busuknya, bukan? Jadi untuk apa memarahi Orihime lagi?
Rukia menarik nafas dalam-dalam, hujan masih mengguyur di luar box telpon. Jadi dia memilih menunggu sambil bersandar di kaca box, menatap hujan yang jatuh dari langit tanpa keraguan. Seandainya dia tidak punya otak untuk berpikir, pasti saat ini ia akan menghampiri Ichigo dan menerjangnya tanpa ragu lalu mengatakan betapa ia rindu dan ingin kembali mendapatkan dirinya sepenuhnya.
"Aku bertemu dengan seorang gadis," cerita Ichigo pada Sado saat mereka ada di taman kampus sore harinya.
"Kau suka padanya? Padahal aku benar-benar suka pada gadis seksi yang bilahari kau tinggalkan," komentar Sado tenang sambil meminum soda di tangannya.
"Tidak, tentu saja aku tidak suka padanya. Aku hanya merasa gadis itu aneh, sangat aneh."
"Memangnya apa yang dilakukannya?"
"Dia menghancurkan biola miliknya di depanku, aku agak shock melihatnya," lanjut Ichigo sambil memandangi pepohonan di hadapannya.
"Dan itu membuatmu terpesona?" Sado terkekeh.
"Tidak. Dia terlalu pendek untukku." kali ini Ichigo tertawa. "Tapi permainan biolanya yang membuatku terpesona. Permainannya bahkan lebih bagus dari permainan ibuku."
"Hahahaha, aku yakin ibumu akan menangis bila mendengarmu berkata seperti ini."
"Tidak. Aku rasa dia akan langsung bunuh diri."
Sado tergelak. "Ibumu adalah wanita dewasa yang manis, kalau ayahmu sudah meninggal, aku bersedia menjadi penggantinya."
"Aku rasa dia akan lebih dulu memintaku jadi suaminya daripada melirik pria lain."
Tawa sahabat Ichigo itu semakin keras terdengar. "Oh iya, kau harus pulang nanti. Padahal Kyoto dan Karakura itu sangat jauh, tapi ibumu sepertinya tidak mau tahu menahu tentang hal itu."
"Iya, dan dia mewajibkanku pulang seminggu sekali. Ini baru hari ketigaku disini, dan dia terus saja menelponku memintaku pulang. Aku heran, kenapa dia begitu over protective padaku. Aku tidak suka, aku bukan anak kecil."
"Mungkin karena kecelakaanmu dulu. Kadang-kadang orang tua bisa seperti itu, jadi terlalu paranoid setelah anaknya mengalami sesuatu."
Ichigo mendesah. "Aku pulang," katanya tanpa semangat lalu berdiri dan meninggalkan sahabatnya yang tampak sangat terhibur mengenai sikap ibunya.
"Akhirnya kau pulang," sambut nyonya Kurosaki dengan senyum mengembang pada wajahnya. Buru-buru dihampirinya anak kesayangannya yang baru sampai di depan pintu rumah, lalu memeluknya. "Bagaimana Kyoto?"
"Bagus. Langitnya masih biru dan pohonnya masih hijau," jawab putranya sekenanya.
Ibu Ichigo merengut. "Ada apa? Perasaanmu sedang tidak enak?"
"Ya… begitulah."
"Kyoto tidak menyenangkan?" Wajah ibunya mencerah. "Sudah ibu katakan padamu, lebih baik kau melanjutkan pendidikanmu di sini saja."
"Kalau aku di sini terus, aku rasa aku akan segera masuk rumah sakit jiwa."
"Heh, begitukah sikapmu pada ibumu? Tidak sopan."
Ichigo cemberut. "Maafkan aku, Ibu."
Wajah Nyonya Kurosaki mencerah. "Biar ibu memainkan satu lagu untukmu, biasanya setelah mendengar suara biola, moodmu akan baik kembali."
Anak sulungnya itu mengangguk seraya memasang senyum yang tampak sangat jelas karena terpaksa. Tapi ibunya tidak memedulikan hal itu, dan segera meraih tangan anaknya menuju kebun di belakang rumah mereka.
Ichigo memerhatikan kebun di belakang rumahnya yang sangat terawat. Ada berbagai jenis bunga serta sebuah kolam yang di tengahnya ada patung gadis dengan mulut menganga. Dari mulut itu mengalir air, persis seperti air liur yang tumpah. Ichigo sering heran melihat selera seni ayahnya yang jelas-jelas bernilai nol besar.
Ibunya segera kembali dengan sebuah biola ditangan.
"Aku ingin mendengarkannya di sofa ruang keluarga saja," kata Ichigo kemudian. Patung di kolam itu benar-benar membuat suasana hatinya semakin buruk.
Nyonya Kurosaki mengerenyitkan keningnya. "Baiklah," ujarnya kemudian segera membalik tubuhnya.
Ruang keluarga mereka sangat luas, ada beberapa sofa berukuran besar dan beberapa rak buku yang menempel di dindingnya. Lantainya dilapisi permadani berwarna oranye, agak terlalu mencolok memang, tapi hal itu disesuaikan dengan warna rambut Ichigo. Dan semua itu lagi-lagi saran ayahnya, Ichigo sampai sakit mata setiap berada di rumah. Satu-satunya yang membuat Ichigo bertahan di ruangan itu adalah televisi berukuran raksasa dan satu set game terbaru yang melengkapinya.
Di dekat rak buku ada sebuah lemari kaca berisi biola. Lemari berukuran kecil, tapi tinggi, seolah-olah memang khusus dipesan untuk menaruh biola tersebut. Dia memang sudah lama melihatnya, tapi entah kenapa dia mulai tertarik pada benda itu saat ini.
"Itu biola milik siapa?" tanya Ichigo pada ibunya yang baru saja siap menggesek senar biolanya.
"Milik ibu, kau pikir milik siapa?" jawab ibunya. Ichigo merasa curiga karena dia mendengar sedikit nada gugup pada suara ibunya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya. Karena sepertinya tidak rusak."
"Memang tidak, tapi ibu sudah bosan menggunakannya. Rasanya menggunakan ini lebih pas," sahut ibunya lagi sambil menunjuk biola yang tengah berada di atas pundaknya dengan manik mata.
"Tapi kenapa ibu memajangnya di sana? Seolah-olah itu adalah barang yang sangat penting."
"Karena memang itu barang yang sangat penting. Itu biola pertama milik ibu, banyak kenangan di dalamnya. Tapi ibu terpaksa meninggalkannya, masalah teknis."
Ichigo hanya membalas jawaban ibunya dengan menaikkan pundak dan tidak melanjutkan pertanyaannya, melainkan berjalan mendekati lemari kaca tersebut. Disentuhnya lemari itu, kemudian membukanya perlahan dan meraih biola di dalamnya. Dia memang tidak tahu apa-apa tentang biola, tapi rasanya benda yang ada ditangannya ini sangat berkualitas.
Lantunan nada dari gesekan biola milik ibunya mulai terdengar. Ichigo tahu, ini salah satu lagu karya Chopin, tapi dia lupa judulnya. Lagu yang ceria, dan musik ini sukses membuat hatinya kembali tenang. Ditaruhnya kembali biola tersebut di tempatnya semula. Ichigopun berjalan menuju rak buku, tapi tetap memasang telinganya baik-baik. Dia memeriksa beberapa buku, berusaha mencari beberapa buku yang sekiranya bisa ia gunakan nanti saat kuliah. Setahunya, ayahnya dulu juga mengambil jurusan yang sama dengannya, seharusnya pria tua itu memiliki banyak buku.
Di rak paling atas, Ichigo melihat judul buku yang ia inginkan. Ditariknya buku itu dengan mudah, tinggi rak sama sekali tidak menghalangi tangan dan kakinya yang jenjang. Tapi sebuah map tipis jatuh bersamaan dengan buku yang ia tarik.
Di dalam map itu terselip beberapa kertas partitur.
"Ini milik siapa?" tanya Ichigo pada ibunya. Dia tahu itu bukan tulisan ibu maupun ayahnya, tapi tulisannya.
"Milikmu," jawab yang ditanya, singkat.
"Aku? Aku bisa menulis lagu?" tanyanya lagi, skeptis.
"Ya, sebelum hilang ingatan kau bisa menulis lagu. Ibu dan kau suka menulis lagu bersama."
"Benarkah?" Ichigo terkejut. "Ibu tidak pernah memberitahuku."
"Kau sudah lupa, ibu pikir kau tidak akan bisa menulis lagu lagi. Jadi ibu merahasiakannya, dan menyuruhmu serius pada kuliah saja."
"Heh, ibu bisa kejam juga ternyata. Padahal kalau saja ibu memberitahuku, mungkin kita bisa terus berada di rumah bersama, bersama-sama menulis lagu," komentar Ichigo.
Nyonya Kurosaki terkekeh. "Tidak, dulu kau tidak terlalu suka melakukannya. Kau hanya menulis apa yang ibu suruh."
"Wah, aku pikir aku mungkin saja penulis lagu berbakat," kali ini Ichigo yang terkekeh. "Ibu mau memainkan satu untukku?"
Sejenak Nyonya Kurosaki tampak ragu, namun ia segera mengangguk. Diraihnya map tersebut dari tangan anaknya, dipilihnya kertas yang paling atas. "Tentu saja."
Ichigo tersenyum, ia langsung merebahkan diri di atas sofa dan memejamkan matanya.
Suara biola kembali memenuhi ruangan tersebut. Ichigo langsung membuka matanya. Salah, ada sesuatu yang salah. Ini lagu yang ia dengar tadi pagi.
"Ibu," panggil Ichigo.
Nyonya Kurosaki menghentikan permainannya. "Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Lagunya sangat indah. Ibu pernah memainkannya di konser?"
Wanita di hadapan Ichigo menggeleng. "Tidak pernah. Ini hanya lagu milik kita. Rahasia orang tua dan anak."
Ichigo tersenyum. "Kurasa hubungan kita dulu sangat dekat."
"Tentu saja, sampai saat inipun masih begitu."
"Iya, tapi aku tidak tahu bahwa ibu pandai berbohong."
Nyonya Kurosaki tersentak. Pandangan matanya mulai waspada. "Apa maksudmu?"
"Tadi pagi aku mendengar seorang gadis memainkan lagu tersebut," jawab Ichigo tenang sambil menatap ibunya. Tapi wanita di hadapannya membisu. "Dan lucunya, gadis itu sepertinya tidak mengenalku."
Hening sejenak. "Hahahaha, itu pasti dia. Apa rambutnya hitam, tubuhnya mungil, dan matanya berwarna ungu?"
Kening si rambut oranye berkerut. "Benar."
Ibu Ichigo tersenyum. "Tentu saja dia tahu lagu itu, dulu ibu sering memainkannya di hadapannya. Dia adalah salah seorang murid kesayangan ibu. Ibu sangat memperhatikannya dan menyayanginya, tapi dia malah berkhianat dengan cara mencuri di rumah ini."
"Mencuri?"
"Iya, dia mencuri beberapa barang. Ibu mengampuninya, tapi memutus hubungan kami."
Kening Ichigo semakin berkerut. "Dia tidak tampak seperti seorang pencuri."
"Hahaha, tentu saja. Kalau dia tampak seperti itu, ibu tidak akan mengizinkannya menginjakkan kaki di rumah ini."
"Dia seperti tidak mengenaliku."
"Mungkin dia merasa bersalah. Jadi dia pura-pura tidak mengenalimu."
"Apa dia tahu kalau aku hilang ingatan?"
"Tentu saja dia tidak tahu. Kalau dia tahu, ibu yakin dia akan mendekatimu lalu menguras isi kantongmu. Ibu sangat tidak percaya dia wanita seperti itu sebelumnya."
"Tapi sepertinya tidak seperti itu. Waktu itu aku tidak mengenalinya, dia harusnya sadar bahwa aku tidak mengenalnya, tapi ia tetap bersikap seolah-olah tidak mengenaliku."
"Kalau begitu mungkin saja dia sudah berubah. Dia gadis yang cerdik, kau harus hati-hati dengannya. Mungkin saja itu tipu muslihatnya supaya kau tertarik padanya."
Ichigo termangu. "Aku tidak tertarik padanya."
Wanita di hadapannya tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Naiklah ke kamarmu, kau sepertinya butuh istirahat."
"Baik," Ichigo menyanggupi dan segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sebelum melangkah menjauh, dia memandang biola dalam lemari itu sekali lagi. Ide gila muncul di kepalanya, nanti dia akan membawa biola itu pergi.
Saat tubuh anaknya sudah melengang jauh, Nyonya Kurosaki menarik nafasnya dalam-dalam. Susah memang mempunyai anak yang terlalu pintar. Pikirannya mulai mewaspada, saat ini Rukia Kuchiki berada dekat dengan anaknya. Ia sangat tidak sudi gadis perebut masa depan putranya itu kembali memasuki hidup anak sulungnya. Dia harus memperingatkan kepada gadis itu untuk tidak mendekati Ichigo. Rasa dendam dan marah menyala-nyala di hatinya. Bagaimanapun juga dia harus menemukan gadis itu dan mengatakan padanya untuk menjauhi putranya –selamanya.
buat :
Nana, Felicia dan minori chihara : makasi banget yaaa udah ngedukung aku.. dan Ichigo emang amnesia. eng ing eng. hehehhe :)
Ichiruki rien : hubungan mereka berakhir ga yaaa.. hehe, baca aja laah. heheh :*
makasiii
salam manis Ha_va :D
