2 / 5
; bad and puffy boy.
©Jo Liyeol
.
.
.
.
.
...
Remedial uji kompetensi Making film.
Kelas Multimedia A.
1. Goo Junhoe.
2. Kim Mingyu.
3. Kunpimook Bhuwakul.
4. Jeon Jungkook.
5. Yoon Sanha.
etc.
.
.
"Fuck!" Jungkook mengumpat emosional, "UKOM sialan! Mati saja semua pengawasnya! Memang membuat film tuh mudah apa?! Dasar brengsek!"
Ia masih meracau di depan mading ketika Irene buru-buru menggeret lengannya menjauh.
"Sudah susah payah mengerjakan dan sekarang aku harus ulang? Mereka kira ini gampang hah?!"
Irene menepuk punggungnya berkali-kali, lumayan kasar dan gemas, "Sudahlah tenang saja. Kita buat sama-sama, kan ada aku ... kubantu nanti. Jangan rewel, tidak malu dilihat orang-orang?"
Jungkook merengut.
Hening sejenak tatkala mata besarnya berbinar-binar; meraskan basah dan nyeri di dada. Ia bersandar di pundak Irene, mengusal pada rambut panjang siswi itu, "Aku mau menangis, Bae! Rasanya menyebalkan sekali harus mengulang syutingnya!"
Irene menghela napas panjang, "Duh, cup-cup. Aku bakal minta tolong anak-anak juga nanti."
"Siapa? Anak kelas?"
"Bukan," Irene menggeleng, merangkul bahu Jungkook membiarkan siswa itu menumpu banyak beban di bahunya, "Teman-temanku. Anak kelas lain."
Maka Jungkook mengangguk banyak sekali, lantas memeluk tubuh ramping kawannya, "Thanks."
"Hm ...," Irene mendengung lantas mengusap sudut mata Jungkook yang tergenang, "Sudah, jangan cengeng."
.
.
"Fuck!" lagi, Jungkook mengumpat emosional.
"Kulihat namamu di mading, remedial ya? Wah, kasihan."
Jungkook menarik napas banyak sekali, wajahnya datar bukan main sementara gigi-giginya menggemelatak kesal.
Lantas, ia langsung menoleh menemukan Irene yang sibuk berbicara dengan salah satu kawannya. Jungkook hampir beranjak dari sana namun ujung almetnya lebih dulu ditarik.
"Mau ke mana?"
Ia mengigit bibir bawah, menghela napasnya perlahan seiring menutup mata. Berusaha mengontrol tempramen, lalu menoleh menepis jemari itu sambil menatap Taehyung terlalu sebal, "Brengsek sepertimu kenapa muncul di mana-mana sih?"
Mengusap pergelangannya yang membekas tepisan Jungkook, Taehyung menggedik bahu santai, "Hanya memenuhi panggilan dari mantan," delikan matanya memberi isyarat menunjuk Irene, kemudian balik menatap Jungkook dengan menyebalkan, "Salah kalau aku membantunya?"
"Satu-satunya hal salah di sini adalah kau. Yang hidup menjadi manusia paling brengsek seantariksa."
Taehyung menahan tawa, alisnya terangkat, merasa tertarik juga terhibur, "Kenapa kau berpikir demikian?"
"Karena kau Kim Taehyung," Jungkook mendengus, "Dan itu sudah cukup menjadi alasan," keningnya berkerut sarat emosi, "Pulang sana!"
Taehyung terkekeh sungguhan sebab ini, sudut bibirnya terukir, "Kenapa aku harus menurutimu?"
"Banyak tanya!" Jungkook mendecak, "Karena ini tugasku tentu saja! Aku yang bakal remedial! Bukan Irene!" lalu menggeram pongah, "Jadi pulang sana, aku tidak membutuhkanmu."
Lantas hening.
Sesaat sebelum Taehyung menguap dengan begitu mengesalkan, "Kalau aku tidak mau, kau mau apa?"
"Aku akan menghajarmu."
Lagi, hening yang membalas sejenak.
Taehyung cuma melirik, mengatup mulutnya dan menelisik bagaimana Jungkook terlihat tak main-main. Akan tetapi ia justru menggulung tangan persisten, "Coba. Aku mau merasakan selembut apa tingkahmu," sarkasme mengudara dari cara Taehyung mengerling mencemooh.
Paham betul rasa tinju Jungkook yang pernah dirasakannya tempo hari.
Lumayan perih, tapi tidak sesakit pukulan ayahnya.
Maka Taehyung tidak akan pernah paham kalau Jungkook justru menghajarnya dengan tas laptop di punggung.
Tidak ada laptopnya memang. Tapi setidaknya, tepat di bagian depan yang mengenai kepala Taehyung ada hardisk yang Jungkook simpan di sana.
"Mampus kau! Mampus brengsek!"
.
.
"Ini penganiayaan namanya."
Irene meringis, memperhatikan Taehyung yang duduk di sebelah; mengusap kening dengan es batu.
"Aku ke sini membawa teman-temanku karena kau meminta tolong. Dan hal ini yang kudapat?" Taehyung mendesau kesal, "Bagus sekali."
Sanggup menjadikan gadis itu merengut, "Maaf, ta-tapikan ... bukan aku yang memukulimu."
"Tetap saja," Taehyung berucap final, "Ulah kawan baikmu, benar? Berarti kesalahanmu juga."
"Ah ... Taehyung," lagi, Irene meringis tidak enak hati, "Jangan begini, Jungkook memang suka meledak-ledak ... tapi sumpah, dia tidak pernah kasar pada orang lain seperti dia memperlakukanmu tadi."
"Jadi?"
Irene menampakan cengirnya, merengut sambil menautkan kepalan tangan di depan wajah, "Maafkan aku, maafkan dia, tolong lupakan untuk kali ini saja. Please? Kumohooon ... kali ini saja."
"Oke," Taehyung mengangguk, lantas menghadap depan. ekspresinya ketus bukan main, "Asal temanmu memohon ampun dariku."
Serius, Irene mengigit bibir bawahnya gelisah.
.
.
"Sumpah, Jungkook! Kau sudah gila ya?!"
"Apa?"
"Kenapa memukuli Taehyung pakai tasmu? Kau tau isi ransel itu barang-barang berat 'kan?!"
Dengan tanpa dosa, ia mengangguk apatis.
Menjadikan gadis ini mendengus tidak habis pikir sama sekali.
Jeda sebentar.
"Minta maaf sana."
Jungkook menoleh, menatapnya horor tepat di retina, "Apa?"
"Minta maaf," Irene mengulang lebih geram.
Sementara itu Jungkook justru membuang pandang ke depan, "Tidak mau," ulasnya keras kepala.
"Baik," Irene mengangguk, "Terus saja begini, dan kau tidak bakal mengerjakan hasil remedialmu!" lantas bangkit, sebentar menoleh pada kawannya dengan emosi, "Kau membuatku malu demi Tuhan. Kalau kau tidak mau minta maaf, aku pulang. Dah."
Kemudian bergegas pergi usai mengambil tasnya di sebelah Jungkook.
Menjadikan Si Jeon bergeming, merasa bersalah dan perih luar biasa.
Lebih dari apapun, membuat sahabat cerewetnya satu itu sungguhan marah padanya benar-benar hal yang tak pernah terpikir. Terlebih, apa tadi Irene bilang; Jungkook membuatnya malu?
Sial. Tidak pernah ia merasa sesesak ini mendengar tempramen kawannya.
Maka usai memperhatikan punggung Irene yang semakin menjauh, Jungkook buru-buru bangkit, berlari mengejar anak perempuan itu sambil berseru terlalu keras, "OKE, BAE! AKU BAKAL MINTA MAAF! OKE!"
.
.
"Jadi?" Taehyung menaikan sebelah alis merasa terhibur, mengulum senyum antagonis menunggu sosok di depannya bicara. Tidak menyangka sosok ini bisa sangat-sangat menuruti perkataan mantannya, "Aku tidak punya banyak waktu, 'ndut. Katakan apa yang mau kau bilang."
"Maaf," Jungkook berkata dengan cara yang kejam. Intonasinya tidak ikhlas dengan tatapan tajam menghunus Taehyung.
Si Kim justru menggulung tangan dan bersandar pada tembok, "Begitu caramu meminta maaf?"
Jungkook menggerit, kesal sekali sebenarnya.
Sial. Gara-gara orang ini ia mendengar bagaimana ucapan Irene sempat menyakiti hatinya.
"Apa maumu sialan?" Jungkook mendecak kemudian, "Setelah tidak mau membantu orang, sifat jelekmu yang lain tuh tak gampang memaafkan ya?"
Taehyung terkekeh, cara tertawa yang mengerikan. Ia menegapkan diri, melangkah mendekati Jungkook hingga berdiri di depan sosok itu, "Sepertinya kau yang tidak tau cara meminta maaf dengan benar, gendut."
"Aku tidak gendut, brengsek."
Sebelah alis Taehyung terangkat heran. Apa-apaan? Gampang sekali orang ini mengalihkan pembicaraan?
"Kau gendut menurutku," Taehyung menggedik masa bodoh.
Kemudian, Jungkook hanya memutar bola mata, "Terserah deh," lalu mendecak, "Intinya sekarang aku sudah minta maaf. Sisanya terserahmu."
Nyaris berbalik menyisakan Taehyung yang tertegun dan melangkah pergi andai kata pergelangannya tidak ditarik dengan barbar.
Jungkook menoleh, menemukan manusia itu yang mencekalnya.
"Kalau sisanya terserahku ... oke," senyumnya terukir separuh, "Habis pengambilan gambar hari ini selesai, kuantar pulang."
Jungkook mengernyit tidak mengerti, "Terimakasih, tapi aku bawa motor," ketusnya.
"Irene yang bawa, dia tau rumahmu 'kan? Biar aku yang bilang nanti," sedetik jeda mengambil ketika Jungkook hendak merespon dingin dengan argumennya yang tidak setuju, akan tetapi Taehyung lebih dulu menyuarakan terminasi, "Tidak ada penolakan. Atau kubakal bilang ke dia kalau kau tidak sungguh-sungguh minta maaf padaku."
.
.
; bara-bara vroom.
"Jadi?"
Jungkook memutar bola mata, jengah bukan main menghadapi orang yang dengan sengaja menghalangi jalannya. Sedikit kasar, ia mendorong bahu itu lalu kembali melangkah.
"Oh ayolah! Kau sudah janji, gendut!"
Dari sudut mata Jungkook melirik kesal, sedikit menoleh memperhatikan Taehyung yang menaikan sebelah alis tiba-tiba, "Kapan aku bilang janji?"
Belagak bodoh, Taehyung mengangkat pergelangan kanan, menelisik sejenak jam yang melingkar, "Empat jam dua puluh tiga menit lalu," kemudian balik memeta ekspresi si Jeon. Tersenyum kecil di sudut dari caranya—hal paling menyebalkan dalam pengelihatan Jungkook.
"Sayangnya," remaja Jeon ini menggedik bahu masa bodoh, "Aku tidak merasa menjanjikan sesuatu," lantas berbalik dan melanjuti perjalanan.
Memperhatikan hal ini, Taehyung justru menarik senyum simpul. Bergegas membuntuti Jungkook sambil memasukan tangan-tangan ke saku almet, "Setelah mendapat bantuan, begini caramu berterimakasih?"
"Hanya syuting yang tidak memakan banyak waktu. Jangan menjadikan alasan macam-macam buat mencari masalah," Jungkook mendecak. Masih berjalan menuju parkiran YaGook, tanpa peduli sosok di belakang, "Lagi pula, Irene yang meminta bantuanmu. Bukan aku. Sudah kubilang dari awal 'kan? Kau sangat-sangat tidak dibutuhkan."
"Kalau empat jam lebih termasuk tidak memakan banyak waktu bagimu, kuakui kau manusia paling meremehkan masa sedunia," Taehyung mengulas senyum mengesalkan.
Bahkan tanpa melihat, Jungkook bisa menemui bagaimana ekspresi lelaki itu; terdengar dari vokalisasi nadanya.
Terlalu sarkastis dan mengesalkan.
"Gendut," kembali mengudara suara remaja itu, mendecak main-main membakar pendengaran Jungkook, "Jika benar kau tidak membutuhkanku, atau memang tidak memerlukan bantuanku. Setidaknya pahami Irene yang membanting harga dirinya hanya untuk memohon-mohon supaya aku memaafkanmu," jeda, Taehyung menggerit nyinyir, "Ini bukan hanya tentang kau, 'ndut. Pikirkan lagi orang-orang di sekelilingmu."
Langkah Jungkook terhenti.
Hening mengudara.
Cukup lama.
Hanya menimbukan desir itu bergema menyedihkan.
Kemudian, di menit ke dua; pada akhirnya Jungkook menoleh. Nyaris tak menyangka menatap Taehyung dari bola matanya yang besar, "Apa katamu?" bibirnya tak terkatup, lidahnya kelu, rasionya melompong tanpa akal, "Irene apa ...?"
Di tempat, Taehyung menyerongkan kepala, sedikit. Berlagak tak acuh saat menggedik alis, "Yang mana?" jeda. Sudut bibirnya terangkat mencemooh, "Membanting harga diri? Atau memohon-mohon?"
Jungkook mendecak sebab ini. Tiba-tiba menjadikan telapak kakinya berbalik, berjalan cepat menghampiri Taehyung. Terlalu kilat. Jemarinya terangkat mencengkram kerah seragam Taehyung, mencekalnya kuat bersama angkara yang menyala-nyala, "Bangsat! Apa yang kau lakukan hah?!"
Sepi sebentar.
Hanya untuk menyajikan tentang cara Taehyung tersenyum pongah, menggenggam pergelangan Jungkook dan menyentak cengkramannya menjadikan wajah mereka merapat tipis, "Aku tidak melakukan apa-apa, 'ndut. Dia yang melakukan itu dengan sendirinya," sengaja, Taehyung mendesau tipis mengembuskan napas ke wajah Jungkook. Lantas menatap dengan teliti bagaimana ekspresi Si Jeon tetap kaku dan kesal—mungkin lebih marah, sebab sangat jelas onix itu berpendar emosional.
Ada hening mengintrupsi.
Akan tetapi, Jungkook tidak bicara.
Hanya menghasilkan atsmosfer barbar dari keduanya.
Kemudian, tatkala pelan-pelan retina Jungkook berpendar tidak lagi terlalu tempramen. Taehyung mendelik perlahan, memeta bahwa sosok ini mungkin mulai mengendalikan diri untuk berusaha mengerti—bahwa mengapa Bae Irene melakukan tindak seperti itupun karena ulahnya.
Maka Taehyung yang mengalah pertama kali, melepas cengkraman membuat Jungkook melakukan hal sama.
Tatkala Si Jeon menunduk, mengusap pergelangannya sambil menghela napas berat, Taehyung justru menggulung tangan di depan perut, "Lagi pula, apa susahnya pulang sama-sama hm?" sebelah alisnya terangkat agresif, "Yang harus kau lakukan hanya duduk di belakang, diam, dan menunggu sampai tujuan," lalu menggedik bahu entang tatkala melanjuti asal-asalan, "—yah ... kau boleh memelukku sih kalau mau."
Lantas cukup.
Terlalu sukses membuat Taehyung mendapat satu pukulan di kepala, dari permukaan empuk tas yang Jungkook lempar.
—yah, setidaknya bocah itu selalu belajar dari pengalaman.
"Jangan bicara sesuatu yang mengharukan," Jungkook mendecak, memakai kembali ranselnya dengan benar.
Sementara itu Taehyung justru terkekeh pelan sambil mengusap kepala, "Wah," ia menegapkan tubuh, menghadap Jungkook langsung tanpa menurunkan jemari, "... heran sekali aku ada manusia sepertimu."
Jungkook mendecak masa bodoh, berbalik dan nyaris berlalu pergi andai Taehyung tidak buru-buru menarik kerah belakangnya.
"Sudah memukulku sekali masih mau pergi?" Taehyung mendecak main-main, menarik kasar seragam Jungkook menjadikan Si empunya memberontak kesal, "Tidak boleh seperti itu, 'ndut. Kau harus belajar menghargai orang lain."
Jungkook menyergah, menepis marah hingga genggaman Taehyung terlepas, lalu menghadap remaja itu kembali dengan obsidian yang menyalang murka. Jemarinya terangkat, menunjuk Si Kim tepat di muka, "Satu-satunya orang yang tidak bisa menghargai orang lain itu kau, brengsek!" ia mendecak sebal, "Dari awal menyadari keberadaanmu, tidak pernah kulihat muka jelek ini berhenti mengernyit untuk manusia yang berusaha berbaik hati padamu! Bahkan tersenyum saja tidak! Kau pikir orang sepertimu bisa mengomentari perangai orang lain, hah?!" pada akhirnya Jungkook meledak, tanpa sadar menoyor kepala Taehyung dengan lancang, "Pakai otakmu buat berpikir, bukan cuma mencari gara-gara!"
Oke.
Hal ini terlampau sanggup menjadikan emosional Taehyung berkobar dalam sekejap.
.
.
Persetan Bae Irene beserta tetek bengek kelakuan jahanamnya. Sebab karenanya; Kim Taehyung berhasil membawanya kabur ke tempat terpencil—sekedar melampiaskan amarah karena kepalanya yang ditoyorkurang ajar.
Sore menjelang malam tadi, Irene justru dengan senang hati mengangguk pada negoisasi Taehyung. Bicara; "Oke, tenang saja," sambil mengacungkan ibu jari. Lalu menggerayangi tubuh Jungkook buat mengambil kunci motor. Tak cukup sampai di sana, gadis itu lantas kabur dan membawa kendaranya pergi dari area sekolah.
Begal.
Yah, mungkin. Dasar perempuan brengsek. Esok hari, pastikan Jungkook untuk membelah kepalanya jadi dua.
"Kau mau membawaku ke mana, hah?! Ini arah ke mana?!" Jungkook berteriak, memukuli punggung Taehyung berulang kali, "Sialan! Turunkan aku!" sekali, pada akhirnya Jungkook memukul kepala yang tertutup helm itu.
Maka yang selanjutnya terjadi adalah Taehyung; tiba-tiba memutar kencang batang stir, membuat motor sportnya sedikit melompat yang sontak membuat Jungkook reflek memeluk remaja ini.
Di balik helm, merasakan tangan Si Jeon yang melingkar di pinggangnya, Taehyung mengulum senyum lebar. Lantas bicara dari intonasi yang mengesalkan, "Jangan kurang ajar, 'ndut," lalu tangan kirinya melepas stir, sekedar menepuk-nepuk pergelangan Jungkook, "Pelajaran pertama, tidak boleh pukul-pukul kepala," jeda sebentar, menahan dengan benar bagaimana gelak tawanya nyaris menyembur, "—jangan songong."
Cukup menjadikan Jungkook menggerit, mengangkat pipinya yang menempel di punggung Taehyung. Hampir melepas tautan andaikan Taehyung tidak melajukan motornya semakin ugal-ugalan. Tanpa gentar menerobos jalanan sepi pedalaman kota.
Sanggup membuat Jungkook lebih mengeratkan pelukan, "Bajingan gila!"
.
.
Pelosok Myeongdong, Taehyung menghentikan motor. Menyentak standar dan melepas helm, sedikit menoleh, ia tertegun.
Hampir tersedak liur sendiri sebab terlampau syok. Benar-benar tidak percaya hingga mulutnya terbuka tipis.
Karena mendapati Jungkook yang terlelap; menumpukan kepala di bahunya.
Kening Taehyung berkerut-kerut tidak menyangka, "Astaga," ia menggumam tipis, separuh terpukau, "Tuhan benar-benar menciptakan manusia seperti ini?" sekali ia mendecak separuh jengah. Tak lama, sebab memperhatikan Jungkook lebih jauh justru menjadikan bibirnya mengulum senyum tanpa sadar.
Berpikir; pantas saja banyak teman-temannya yang familier dengan siswa ini.
Wajahnya itu—sungguh perpaduan manis tampan yang sempurna.
Alisnya yang tebal, bulu matanya yang panjang. Hidungnya yang runcing, matanya yang bulat. Rahangnya yang tegas, pipinya yang gembil. Juga bibirnya—menggemaskan sekali.
—tunggu.
Taehyung mengerjap, buru-buru menghadap depan dan menggeleng berulang-ulang, "Shit," ia mendesau, memukul kening tiga kali seraya bergumam dalam hati: "Sadar, Tae. Bedebah ini yang bakal jatuh, bukan sebaliknya."
Kemudian, jemarinya terangkat menepuk pelan puncak kepala Jungkook, "Hei!" tanpa menoleh, pukulannya terasa lebih kencang, "Bangun-bangun!"
Tak lama Jungkook membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali membiasakan indranya dengan benar. Keningnya mengernyit sebentar memeta keadaan. Kemudian, tatkala mengingat suatu kejadian ia buru-buru mengangkat kepala, melepas tangannya dari pinggang Taehyung dan memutar atensi.
"Siapa yang waktu awal perjalanan mengoceh tidak karuan?" Taehyung mendesau mencemooh, mengulum senyum sarkastis yang dapat Jungkook lihat dari spion, "Saat mau sampai malah menikmatinya—hebat sekali, aku bahkan tidak sadar."
Jungkook bersungut-sungut karenanya, menggerit kesal, "Bilang begitu ke sesaeng fans yang sedang menculikku."
Taehyung memutar bola mata tidak peduli, "Ya-ya, fans sekali aku."
Lalu melompat turun dari motor. Berbalik sekedar mengulurkan tangan kanan.
"Apa?" Jungkook menatapnya menyelidik.
Sanggup membuat Taehyung menghela napas hiperbola, "Membawa bahan culikanku ke gudang, mau menyekap dan mengikatnya berhari-hari," jemari itu bergemelitik kemudian.
Sudut bibir Jungkook terangkat mencemooh, mengangguk masa bodoh, "Sounds fun," lantas menjangkau jemari Taehyung untuk perlahan turun dari motornya yang tinggi, "Pastikan sesaeng fans-ku menyiapkan makanan yang layak."
Taehyung memegangi pinggangnya, menggenggam tangan Jungkook untuk menahan bobotnya, "Sudah gendut begini, yang kau pikirkan masih makanan?"
Jungkook melompat, menepis kasar tangan Taehyung. Lalu menyentak tautan jemari mereka hingga terlepas, "Aku tidak gendut, brengsek."
Taehyung mengulum tawa kecil, "Persetan," lalu berbalik. Mendahului Jungkook menuju rumah kecil di tengah-tengah toko usang.
Jungkook memperhatikan punggungnya sejenak, mengernyit curiga.
Hingga Taehyung sadar bahwa remaja itu tidak mengikuti langkahnya, ia menoleh, mengantongi tangan-tangan ke saku almet. Bicara kasual dengan senyum implusif, "Kuingatkan, pasar ini banyak penunggunyadi malam hari."
Maka ucapannya terlampau sanggup membuat Jungkook memekik reflek, bergegas memacu kaki dan melangkah ke sebelahnya dengan gelagapan.
Taehyung memperhatikan, tersenyum gemas saat Jungkook tidak menyadari. Lantas di saat Si Jeon menoleh menatapnya nyalang, Taehyung pura-pura berekspresi kaku, "Kuingatkan balik, Kim," telunjuk remaja itu menghakiminya, "Kalau tidak mau kuhajar, berhenti bercanda seperti itu!"
Taehyung mengulum senyum tipis, menggedik bahu lalu berjalan lebih dulu. Meninggalkan Jungkook yang masih tertegun, "Aku tidak bercanda loh."
Terlalu sanggup menjadikan Jungkook histeris mengejarnya, menyetarakan langkah dangan tubuh yang merapat.
.
.
Di depan rumah, tatkala Taehyung sibuk mengetuk pintu Jungkook menengadah; meneliti seksama bagaimana lusuh keadaan depan kediaman ini.
"Ini rumahmu?" ia berhenti memeta, beralih menatap Taehyung.
Yang dimaksud mendelik tanpa suara.
Harusnya, Taehyung tidak memiliki tanggapan untuk suara Jungkook, tapi tatkala bocah itu melanjuti dengan senyum mengesalkan, "Miskin," bersuara mencemooh dan nyaris tanpa canda.
Taehyung menganga sejenak.
Lalu mendesau tak percaya, "Tuhan ...," ia menggeleng tipis, "Ternyata kau matre?"
Jungkook menggedik bahu masa bodoh, "Secara harfiah—aku tidak," lalu menghadap pintu, "Tapi kalau ini memang rumahmu, akan sangat bagus sebagai bahan untuk aku menghinamu sebanyak mungkin," iris matanya mendelik pongah, "Dasar miskin."
Lalu, di saat Taehyung hanya menggelengkan kepalanya lagi, Jungkook justru menyadari satu hal. Retinanya berputar memperhatikan motor yang terparkir.
"Astaga," ia bergumam seolah prihatin. Matanya yang bulat menatap langsung ke muka Taehyung dengan binar tidak percaya, "Apa kau tipikal anak durhaka?" ia mendecak sekali, "Dengan keadaan begini, kau menuntut orang tua buat membelikan motor sport? Untuk bergaya di sekolah? Supaya tidak ketahuan miskin?"
Meracau terus soal miskin, terdengar menyebalkan juga lama-lama. Tapi Taehyung cuma mendelik. Berusaha tidak peduli bahkan ketika Jungkook kembali berceloteh macam-macam.
Hingga berselang lima menit, Si Jeon berhenti.
Bungkam untuk menutup mulutnya.
Tepat ketika pintu itu akhirnya terbuka, perlahan menampakan seorang wanita paruh baya di ambangnya. Jungkook mengerjap sekali lalu melirik pada Taehyung.
Mamanya pasti. Ia pikir begitu.
Lalu detik di waktu yang tepat tatkala Jungkook hampir membungkuk buat memberi salam, Taehyung telah berjalan maju lebih dulu. Merentangkan tangan memeluk wanita itu dengan rindu. Sedangkan ia bisa lihat, dari rautnya yang terkejut menyaksikan bagaimana wanita ini membalas pelukan Taehyung, menenggelamkan wajah di bahu Si Kim.
"Bibi Jang ...," Jungkook bisa mendengar vokal Taehyung tersuara rendah. Nyaris membuat Jungkook mengambil kesimpulan bahwa wanita ini adalah kerabatnya.
Yah, jika saja Si wanita tidak lebih dulu bergumam sambil mengusap rambut Taehyung penuh kasih sayang, "Tuan muda, Anda kenapa hm? Bertengkar lagi dengan tuan?"
Jelas menyatakan perbedaan status antara keduanya.
Ya.
—apa?
Tunggu—
Hah? Status?
Tuan muda?
Jungkook menganga tidak percaya. Situasi macam apa ini?
.
.
; magic formula.
Semenjak dipersilahkan duduk, Jungkook hanya diam; memperhatikan interaksi Taehyung dengan wanita ini.
Andai kata ia tidak diberitahu lebih dulu bahwa perempuan paruh baya yang duduk di hadapannya adalah mantan pengasuh Taehyung semenjak bayi. Mungkin Jungkook tidak akan mempercayai jika mereka bukan orang-orang dari keluarga yang sama. Sebab bagaimana cara keduanya berbincang kelihatan akrab sekali, seperti seorang ibu dan putranya.
Kemudian, selepas satu jam lebih cuma mengamati, Jungkook mengambil kesimpulan bahwa kedatangan Taehyung ke mari hanyalah untuk mengadu.
Soal rumah dan apalah itu tentang pria yang ia sebut-sebut bajingan. Jungkook tidak begitu paham —kendala besar dari otaknya yang lamban merespon— maka ia memilih diam; cukup memeta dan berusaha tidak mengganggu.
.
.
"Jadi hanya untuk itu?" Jungkook menoleh menelisik Taehyung yang memakai sepatu di depan pintu
Sejenak, Taehyung melihatnya. Dari posisi baru menyadari satu hal menjadikannya mendongak memperhatikan Jungkook yang berdiri, "Kau pakai sandal?" sebelah alisnya terangkat tak percaya, "Dari tadi?"
Jungkook berkedip sekali, lalu menunduk memperhatikan kakinya sendiri. Tak lama ia kembali menatap Taehyung, "Iya," sekejap menggedik bahu enteng, "Aku sekolah selalu pakai sandal kok. Baru sadar?"
Satu hal.
Ucapan Jungkook terlampau sanggup menghambat rasionalisme Taehyung hingga sel-sel otaknya macet sejenak. Terlalu tidak mempercayai cara kerja pemikiran sosok ini.
Seumur hidup—sesembrono apapun ia dicap banyak orang, Taehyung tidak pernah sebegini urakan buat datang ke sekolah.
Lantas sekembar hazel itu menelisik Jungkook sarat curiga, "Kau berandalan ya?"
Si Jeon balik menelisiknya lama. Hening sejenak sebelum ia menanggapi, "Harusnya itu pertanyaanku 'kan?"
Taehyung menutup bibirnya, mengikat simpul terakhir tali sepatu lalu berdiri menyetarai Jungkook. Caranya menatap dipenuhi insting curiga, "Kau pernah lompat tembok belakang YaGook?"
Senyap kemudian.
Cukup lama Taehyung menunggu sekedar memperhatikan Jungkook yang balik menelisiknya intens. Lantas, detik tatkala Jungkook menyahut dengan begitu santai menjadi waktu yang sama saat Taehyung nyaris tersedak liur sendiri.
"Siswa gila mana yang belum?" ia mendecak sekali, mengantongi tangan-tangan ke saku celana, "Kau meremehkanku? Meski begini aku masih main sama cowok loh, walau kebanyakan waktu dengan Irene."
Maka Taehyung sukses menganga.
Jungkook—tidak kelihatan sama sekali dari sampulnya yang manis dan ceria. Taehyung pikir dia tipikal siswa yang rewel soal menaati aturan.
Sisi lain, ekspresinya sanggup menjadikan Jungkook menemukan satu hal. Onixnya menyelidik memeta Taehyung, "Jangan bilang kau ..."
Sunyi.
Tidak ada tanggapan semenjak Jungkook menggantung kata-katanya.
Hingga Taehyung mengulum senyum tipis, "Ya, aku belum," lalu menggedik alis masa bodoh, "—secara harfiah, sebagai siswa gila seperti persepsimu tadi."
Sukses membuat kening Jungkook berkerut-kerut seketika, "APA—?"
"Sshh!" Taehyung membekap mulutnya langsung, menoleh sebentar ke arah dalam dan balik menatap Jungkook sambil meletakan telunjuknya yang lain di depan bibir, "Jangan berisik, nanti bibi Jang bangun," lantas ia melepas tangan-tangannya buat meraih pergelangan Jungkook. Membawa remaja itu keluar dari rumah.
"Kukira kau berandalan," Jungkook berbisik, sedikit merapatkan diri ke telinga Taehyung.
"Info dari mana?"
Jungkook menggeleng, sedikit banyak Taehyung bisa melihatnya dari ujung mata, "Tidak ada. Hanya pemikiranku sendiri."
Maka Taehyung terkekeh pelan, menghentikan kaki-kaki mereka di sebelah motornya. Ia berbalik menatap Jungkook tepat di mata, "Kenapa begitu?"
Jungkook menggedik bahu, tangan kanannya terangkat; mengarahkan telunjuk dengan lancang ke permukaan dada Taehyung, "Gayamu tidak sopan."
Sebelah alis Si Kim terangkat, "Nonsens, aku selalu rapi di sekolah," senyumnya terukir tampan, "Rambut," ia menunjuk sisi kepala, "Almamater," mengamit ujung almet yang di kenakannya, "Kemeja, celana, kaos kaki, dan sepatu tentu saja," terakhir ia menunjuk bawah dengan ujung kaki yang mencuat menyebalkan.
Jungkook tertawa meremehkan sebab ini, "Jangan menyindirku, sialan," sebelah tangannya memukul bisep Taehyung, lalu meraih pergelangan almamater itu, "Kau rapi—ya. Tapi apa perlu pakai ini di bulan Juli? Seragam musim panasmu ke mana hah?"
Sebab ini. Taehyung sukses tertawa. Perpaduan gemas dan kesal; rasanya ingin sekali menelan Jungkook hidup-hidup.
Belum ada manusia yang berani memperlakukan atau membalas perkataannya dengan begini santai. Bertingkah tanpa dosa dan memiliki keinginan superior yang sama.
"Setidaknya lebih baik dari pada kau yang tidak pernah pakai sepatu."
Jungkook memutar bola mata masa bodoh, "Kau saja baru menyadarinya barusan."
"Kalau begitu," Taehyung perpikir sejenak, "Pokoknya aku lebih baik. Karena belum pernah lompat tembok."
Jungkook mendecih sarkastis mendengarnya, "Kau cupu, Man. Jangan bangga."
"Tentu saja harus bangga. Aku siswa yang taat aturan loh."
Sekali, Si Jeon mendecih sebelum menanggapi. Telunjuknya terangkat menuju muka Taehyung, "Benar taat aturan?" iris matanya menghakimi, "Sumpah belum pernah bolos?"
Sontak menjadikan Taehyung bungkam.
"Ei," remaja Kim ini mengulum senyum lebar, "Kalau itu sih beda urusan, Gendut."
Maka Jungkook menurunkan jemarinya sambil mengusung mimik menyebalkan, "Pantatmu tuh taat aturan. Nyatanya kau juga brengsek."
"Setidaknya aku tidak lompat tembok," Taehyung berucap keras kepala.
"Lalu? Kau bolos cuma di sekolah? Ke kantin?" Jungkook menatapnya pongah, penuh ejek menyala-nyala, "Tidak usah bolos sekalian, idiot!"
"Wah, pikirmu aku manusia purba?" Taehyung mendecak meremehkan, "Kita bukan spesies yang sama, 'Ndut. Aku sama kawan-kawanku tidak menggunakan cara primitif seperti kau dengan teman-temanmu."
"Lalu?"
"Tentu saja lewat gerbang. Kau tidak tau yang namanya trik? Kalau mau bolos, kami tinggal bilang mau fotocopy atau ada barang yang tertinggal di rumah. Satu persatu keluar, lalu tidak balik-balik lagi," ia menggedik bahu bangga, "Beres," jemarinya terangkat menunjuk balik dada Jungkook, "Setiap bolos keluar YaGook, kau tidak pikirkan kendaraanmu ya?"
Maka Jungkook bersungut-sungut, tangannya menepis pergelangan Taehyung, "Kami bisa balik lagi pas siang, tidak bakal dicurigai juga."
Menjadikan Taehyung terkekeh tipis, "Ya, ya," ia mengulum senyum menjengkelkan, "Sudah keluarnya susah, bolak-balik pula," tanpa sadar tanganya terangkat menepuk bahu Si Jeon, "Besok-besok kalau mau bolos ikut aku saja. Jangan menyusahkan diri."
Cukup membuat Jungkook mengerutkan kening bertanya-tanya, tangannya kembali menepis pergelangan siswa Kim ini, "Buat apa aku bolos denganmu?"
Taehyung berkedip. Hampir menggigit lidahnya sendiri tatkala sadar apa yang baru saja ia lakukan, "Mm," pelan suaranya berdeham tipis, "Entahlah, hanya membantumu?"
"Tidak terimakasih. Aku bolos buat main sama kawan-kawanku, bukan buat balik ke rumah."
"Main ke mana?"
"Kenapa aku harus memberi taumu? Ada jaminan kalau kau tidak bakal membocorkan ke guru BP, jika suatu saat aku tiba-tiba menghilang dari sekolah?"
Taehyung mengernyit. Sumpah, sulit juga meladeni Jungkook.
Lantas ujung bibirnya terangkat pongah, "Bar Hantan. Gangnam 10-27. Blok A, lantai empat. Kau bisa melaporkanku balik ke guru BP andai suatu saat aku tiba-tiba menghilang dari sekolah juga," ia terkekeh pelan, "Kau tau kalau hukumanku bakal jauh lebih berat?"
Jungkook mengernyit, mengingat-ingat sebentar. Berusaha memacu kinerja otaknya yang sering kali loading, "Bar Hantan?"
Taehyung mengangguk santai.
"Bukannya itu diskotik?"
Lagi, Taehyung mengangguk. Benar-benar tanpa beban.
Sukses menjadikan Jungkook menganga lebar.
"Kau bolos sekolah buat ke sana? Yang benar saja?!"
Taehyung menggedik bahu enteng, "Lalu mau ke mana lagi? Aku tidak punya tujuan lain."
"Teman-temanmu?"
"Semua di situ. Makanya aku bilang tidak punya tujuan lain."
"Memang pelajar boleh masuk?"
"Barnya punya keluarga Hoseok. Kau tau Hoseok 'kan? Jung Hoseok."
"Persetan Hoseok siapalah itu. Kenapa kau tidak ke rumah saja?"
Taehyung diam.
Kali ini bungkam dan tak cepat menjawab.
Sanggup menjadikan Jungkook menunggu lebih lama.
"Mm ...," ia mendelik sejenak. Lalu kembali menatap Jungkook, "Orang idiot mana yang bolos larinya ke rumah?" suaranya mendengus kilat, "Lebih-lebih tempatnya tidak 'rumahku surgaku'-able. Yang ada muak 'kan?"
Jungkook bungkam. Menatap Taehyung lewat onixnya yang berpendar heran, "Maksudmu?"
Maka Taehyung hanya tertawa tipis lalu berbalik, "Lupakan," mempersiapkan diri menaiki motor sambil memakai helm, "Ayo pergi, dasar gendut lola."
Mengabaikan Si Jeon yang mendecak tempramen.
.
.
"Kau belum jawab pertanyaanku."
Taehyung masih menyetir, mendengarkan Jungkook yang duduk di belakang; belagak mundur mengambil jarak dari Taehyung tanpa butuh pegangan.
"Pertanyaan apa?" di bisingnya udara malam yang terhempas berbaur bunyi mesin motor, intonasi Taehyung sedikit berteriak.
"Kau menculikku ke sana hanya untuk curhat sama mantan pengasuhmu?"
Jeda sebentar. Jungkook cuma mendengar suara berisik dari embusan angin yang cepat.
"Ya," Taehyung menjawab kilat.
"Memang kau tidak punya teman? Kenapa cerita ke ibu-ibu?"
"Tidak suka."
"Tidak suka apa?"
"Tidak suka cerita ke teman. Tidak suka banyak yang tau masalahku. Tidak suka dikasihani."
Dari sudut bibir Jungkook mencebik kesal, "Wah. Pantas imagemu terkenal individualis."
"Hanya pemikiranmu lagi, atau kali ini dari gosip yang beredar?"
"Tidak keduanya," jeda, "Ini fakta yang tersebar, bahan bagus buat omongan anak-anak."
Taehyung hanya tertawa, vokal berat itu teredam helm di kepalanya.
Lalu hening kemudian.
Menyisakan suara-suara lain di sepanjang perjalanan.
Sampai selang beberapa menit, pada akhirnya Jungkook berkomentar dari akal refleknya yang suka tiba-tiba, "Curhat saja padaku."
"Apa?"
"Curhat padaku, kau boleh cerita apa saja. Kau tidak punya sesuatu yang bisa membuatku menjadi kasihan lagi pula," jeda "Aku tidak bakal cerita ke teman-temanmu dan mungkin aku juga sudah tau sedikit dari masalahmu—entahlah, buat yang ini aku juga tidak begitu yakin."
Maka dalam diam, saat sepi kembali tercipta; Taehyung mengulum senyum lebar dan menahan tawanya yang siap memecah hening.
Apa ini? Jungkook mulai peduli padanya?
"Wah tidak asik, baru satu malam."
Ia tidak membalas. Justru mendecak sambil memacu motornya lebih cepat, "Pegangan! Nanti kau jatuh!"
Si Jeon mengernyit, rautnya bersungut-sungut emosi, "Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, brengsek! Cepat pegangan!"
"Tidak mau!"
Akan tetapi, pada akhirnya remaja Jeon ini tidak memiliki pilihan lain buat memeluk Taehyung erat-erat; karena laju kendaraannya menembus jalanan nyaris seperti flash.
"Pelan-pelan!"
"Makanya menurut!"
Jungkook mendengus, sebal bukan main, "Bangsat!"
.
.
; sickness my amoeba.
Satu tamparan menggema, Taehyung berpaling menahan sakit yang menghantam pipinya. Menghasilkan bekas kemerahan di selaput daging.
"Mau sampai kapan kau seperti ini, hah?!" ayahnya berteriak untuk kesekian kali, "Setelah segala masalah yang terjadi kau tidak menyesalinya?! Masih pulang malam seperti anak tidak tau aturan?! Mau sampai kapan kau mempermalukan namaku?!"
Taehyung menggerit, emosi bukan main, "Pikirmu ... apa yang membuatku tidak betah di rumah?" ia menghirup napas banyak-banyak, lantas mendelik, menatap balik ayahnya tanpa gentar, "Yang kau pikirkan hanya nama baikmu! Reputasi! Dan segala hal tentang dirimu sendiri!" napasnya tersenggal, tercekat di kerongkongan, "Jika kau inginkan putra yang berbudi baik, berkacalah lebih banyak! Sebab buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!"
Sekali lagi.
Taehyung mendapat tamparan keras.
Membuatnya merintih dan menggeram terlampau marah.
Melebihi sakit yang menimpa fisik, hatinya lebih terluka. Terkoyak barbar terlalu banyak.
"Kau—"
"Puas?" geraman Taehyung tersuara saat kembali menatap balik ayahnya. Iris matanya memindai sejenak, memeta kurang ajar raut di wajah pria itu. Lantas beralih pada wanita yang hanya mampu menangis di belakang sana, Taehyung menggerit, menatapnya sama benci, "Kalian pikir aku apa?" sekali, ia mendeguk lirih, "Yang satu hanya tau cara untuk meratapi nasib, dan yang satu selalu mendahulukan urat—" matanya mulai kemerahan, berpendar basah yang ia tahan kuat-kuat, "Kalian pikir membesarkan anak hanya berpatok pada materi? Memberikan uang yang berlimpah-limpah? Lalu menyerahkan segalanya pada pengasuh?" Taehyung mengigit bibir bagian dalamnya, mengepal tangan kuat-kuat, "Jika memang begitu yang kalian lakukan dari awal, kenapa sekarang mesti sok perhatian? Melarangku seolah orang tua sungguhan—"
"Tutup mulutmu."
"Kalian sudah terlambat untuk bertindak! Bertingkah saling tak melepas demi perkembanganku, tapi nyatanya kalian cuma orang-orang bodoh yang egois—"
"Kim Taehyung!"
"UNTUK APA KALIAN MENIKAH?! BUAT APA MELAHIRKANKU KE DUNIA?! HAH?!"
.
.
Jungkook menguap, melangkah malas melewati siswa di koridor.
Hanya menampakan cengiran polos sesekali tatkala disapa, lalu kembali melangkah ke kelas.
Dalam hati mempersiapkan diri buat memaki Irene sebanyak mungkin, sebab karenanya, hari ini ia tidak bisa membawa motor. Kemarin waktu bocah itu memakainya dia menabrakan motornya di perjalanan pulang, sampai kaca depan motornya pecah dan otomatis tidak bisa dibawa.
Benyak efek yang terjadi.
Pertama, polisi.
Kedua, abangnya membawa motornya ke bengkel tadi malam.
Ketiga, sekalipun motornya tak diperbaiki Jungkook tidak bakal memakainya juga. Masih cukup waras buat tidak mengendarai motor rusak seperti itu.
Yang mau Jungkook ungkit ke Irene bukan perkara Si motor, akan tetapi kebiadaban gadis ini atas hari kemarin juga bagaimana kesalnya ia harus bersesak-sesak di bus buat ke sekolah.
Namun sekejap akal sehatnya buyar saat bobot menimpa bahunya tiba-tiba. Mengerat lancang mengalung di leher.
Jungkook menoleh, mendapati Taehyung tersenyum lebar di balik masker. Sejenak Jungkook memperhatikan, masih sama seperti Si brengsek yang ia kecam, memakai pakaian super sesak di musim panas.
"Baru datang?"
Sebelah alis Jungkook terangkat, "Pertanyaanmu nonsens, sudah tau pagi-pagi aku bawa tas dari arah gerbang."
Maka Taehyung terkekeh berat karenanya.
Rasa sakit itu masih menyerang untuk seluruh memar di wajah dan tubuh, menjadikan persendiannya kebas dan sensitif, akan tetapi mendapati Si gendut ini di depan mata entah mengapa menghapus dendam dan amarah.
Membuatnya terlupa sesaat atas segala kejamnya kenyataan.
Taehyung menunduk, mengusak kepala di leher siswa ini tiba-tiba. Sanggup membuat Jungkook tersentak, mengernyit heran sekaligus geli, lantas atensinya beralih pada banyaknya siswa di koridor.
Duh, mati-mati. Kalau penggemar Taehyung melihatnya bisa habis dia.
"Apa-apaan? Menjauh sana!" Jungkook mendorong kejam kepalanya, berusaha keras mengenyahkan pangutan Taehyung. Akan tetapi Si Kim tak bergeming, justru merapatkan diri.
"Aku butuh."
Jungkook mengernyit, "Butuh apa?"
Maka jawabah Taehyung mampu menjadikannya berkedip bingung, "Kau."
Sekali, Jungkook berdeham, "Maksudmu?"
"Aku butuh kau."
.
.
Taehyung membawanya.
Tanpa membiarkan Jungkook menaruh tas ke kelas, ia membawa remaja Jeon ini ke atap sekolah.
Bersandar di pinggiran tembok pembatas. Duduk bersisi-sisian.
"Datang jam berapa?" Jungkook bersuara pertama.
Taehyung melepas maskernya, lantas menoleh sambil menurunkan tudung jaket, "Pagi seperti kemarin."
Tanpa balik memandang, Jungkook menanggapi, "Kalau begitu kau sudah masuk kelas tadi?"
Taehyung mengangguk. Entah mengapa memandangi separuh wajah Si Jeon terasa menyenangkan, "Cuma untuk menaruh tas."
Sanggup menjadikan Jungkook memutar bola mata jengah, "Kalau begitu kenapa tidak kau biarkan aku taruh tas dulu—" kalimatnya terhenti, mati di sana. Tepat tatkala kepalanya menoleh pada Taehyung. Mengghasilkan sekembar onix yang melebar, "—ka, kau—kau—" bola mata besarnya berpendar gelisah, tanpa sadar menjadikan posisi duduknya separuh menghadap Taehyung. Tangan-tangannya terangkat, reflek menyentuh memar di tulang pipi itu dengan telunjuk, "Muka—mukamu, ke—kenapa?"
Taehyung mengerjap sekali. Lantas melirik bagaimana jemari Jungkook terlihat gemetar, ragu-ragu menyentuh wajahnya.
Entah. Mungkin efek lebam-lebam di sekujur tubuh dan seluruh rasa perih yang masih kentara—atau apapun yang berhubungan dengan ini, Taehyung tidak tau, hanya merasakan desiran aneh menjalar dari jantung hatinya ke setiap tulang-tulang. Menimbulkan sensasi menggemaskan dan rancu bukan main.
Tanpa sadar, ia tersenyum. Tipis. Mengenggam pergelangan Jungkook dan bergumam pendek, "Bukan apa-apa," lalu ia bangkit menyisakan Jungkook yang terdiam di tempat, sekedar berbalik buat berdiri di balik tembok di batas dada. Menatap kosong segala pemandangan kota dari atas—dalam bola matanya yang berpendar sarat angan, ""Ndut," Jungkook mendongak, memperhatikannya dalam diam, "Kemarin ... kau bilang aku boleh cerita apa saja padamu."
Sekali, Si Jeon bungkam. Ada yang membuatnya tergugu tatkala memperhatikan helaian Taehyung beterbangan, terlihat luar biasa rapuh dari rautnya yang tak mengenal suka. Untuk anak seusia mereka, apa yang tergambar dalam air muka Si Kim cuma dipenuhi realitas kehidupan.
Terlalu berat dan monoton.
Sama sekali bukan Kim Taehyung yang belakangan ia ingat sangat pas buat menjadi objek caci-maki.
"Hm," Jungkook mengangguk.
Maka Taehyung perkedip sakali, menghirup napas dalam-dalam sambil memegangi batas besi. Kepalanya mendongak saat memejam mata menikmati semilir angin. Hening sejenak. Tatkala ia membuka mata pelan, hazel kembarnya terlihat lebih hidup, "Apa yang akan menjadi jaminanku kalau kau tidak bakal bocor ke mana-mana?"
Ia tidak menatap Jungkook, justru kembali menghadap depan dengan benar.
Sesaat Jungkook mendengung sebentar. Tidak berpikir akan sesuatu; untuk membalas pertanyaan Taehyung, namun rasionya lebih memikirkan 'apa maksud pertanyaan ini'.
Ia menggedik bahu kemudian, "Aku tidak memaksamu buat cerita segalanya padaku. Cuma menawarkan diri andai saja kau butuh teman curhat."
Taehyung mencerna beberapa detik, sebelum senyumnya terukir tanpa makna, "Kalau aku mempercayaimu. Apa kau juga akan mempercayai Irene untuk menceritakan apa yang kuceritakan padamu?"
Kepala Jungkook menyerong kecil, berkedip lewat rautnya yang mengernyit, "Untuk apa? Kalau kau tidak ingin cerita itu diketahui orang lain, maka ibuku sendiripun tidak bakal kuberi tau," sebentar, ia mengambil jeda, "Jika memang ingin cerita. Cerita saja, aku tidak menuntutmu menceritakan seluruh yang diketahui pengasuhmu tempo hari. Hanya hal-hal yang ingin kau utarakan—karena mungkin, yeah—kau butuh seseorang yang lebih dekat ... ketimbang ibu-ibu yang rumahnya jauh?"
Sejenak. Taehyung menjadi benar-benar bungkam. Fokusnya sama sekali tak membalas bagaimana atensi Jungkook hanya tertuju padanya.
Akan tetapi remaja Jeon ini kembali menggedik bahu apatis, "Tergantung padamu mau mempercayaiku atau tidak, toh bukan urusanku juga. Lagipula aku pelupa, andai kau cerita hari ini mungkin saja minggu depan aku bakal bertanya 'Apa yang kau ceritakan sebelumnya?'"
Maka Taehyung berkedip, seketika menampakan cengir lebarnya yang terasa lebih tulus. Sekali ia menarik napas lagi, begitu dalam dan sesak, melunturkan seluruh ekspresi. Lantas kembali menstabilkan bagaimana raut kakunya tertera.
Ia mengembus napas pelan-pelan sekedar menoleh pada Jungkook akhirnya, "Kau percaya pada cinta?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—tbc.
Wattpad : joliyeol
PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(4): see you on chapter one.0w
— 14.02.2018 / 25.02.2018 / 04.03.2018. / 11.03.2018.
