Freedoom
By : Razux
Disclaimer : Naruto Belong To Masashi Kishimoto.
The Cloud Atlas by David Mitchell is the one than inspire me to write this fic
( Fic ini kubuat dengan satu tujuan, yakni; menghibur dan menyampaikan sesuatu yang ada dalam kepalaku pada pembaca yang budiman )
.
.
.
.
.
Chapter 1
Rabu, 25 Maret 3452.
Kesehariannya pada hari itu seharusnya sama. Bangun dari kapsul tidur saat alarm berbunyi, berbaris keluar, mandi, mengenakan pakaian pramusaji, menyanggul rambut, memoles wajah dengan make up tebal. Lalu, menuju restoran tempat mereka akan berkerja. Tidak ada satu hal pun yang berubah, Soth, sang manajer berjalan ke sana-kemari mengawasi para Shint. Nomor 770 menyajikan makanan pada tamu, dan Nomor 769 menerima tamu sambil tersenyum seperti biasanya.
Pukul 17 : 28. Pintu Restoran Rainbow World terbuka. Seorang pria berumur sekitar pertengahan empat puluh berjalan masuk. Matanya berwarna biru, dan rambut pirang pucat panjangnya, berhasil membuat kulitnya yang berwarna putih pucat terlihat semakin pucat. Badannya cukup tinggi, namun, dia juga cukup kurus dan bungkuk. Wajahnya tidak bisa dikatakan tampan, dengan hidung agak pesek, bibir tebal dan rahang yang lebar. Tapi, meski begitu, sekali lihat saja, semua juga tahu, pria itu adalah orang yang berkuasa. Jubah putih dengan sulaman perak dan emas yang dikenakannya sudah cukup membuktikannya.
"Selamat datang ke Restoran Rainbow World, Dijamin makanan kami akan membuat keseharian anda berwarna-warni bagaikan pelangi." Salam Nomor 769 sambil tersenyum. Kata yang telah diulanginya berpuluh-puluh kali dalam sehari.
Pria itu tidak menjawab, dengan angkuh, dia melangkah kaki dan berjalan masuk. Di belakangnya, empat orang pria tegap berpakaian kimono serba hitam dan kepala tertutup helm hitam mengikutinya. Nomor 769 tahu, keempat pria itu adalah Serith, sang penjaga.
Soth segera berjalan mendekati pria itu. Mempersilakannya duduk dan mengucapkan betapa beruntung dan terhormat dirinya karena bisa bertemu dengan pria yang memiliki pangkat begitu tinggi Neo Earth sekarang ini. Para tamu yang lain juga begitu, mereka semua tersenyum dan mencuri-curi pandang pria berambut pirang pucat itu.
Mungkin pria itu memang orang yang sangat penting. Tapi, bagi Nomor 769 dan juga semua Shint yang ada di sana, pria itu bukanlah orang penting. Mereka tidak tahu siapa dia, dan juga, tidak ada hubungan dengan mereka. Keseharian mereka yang monoton akan tetap sama, mereka akan berkerja hingga restoran tutup. Kembali ke kapsul tidur dan mengawali lagi hari esok yang sama. Namun, ternyata Nomor 769 salah, sebab hari itu, jam itu, detik itu adalah waktu dimana bola dadu hidupnya dilemparkan oleh tangan sang takdir.
"Apa yang kau lakukan!?"
Suara teriakan keras itu merebut perhatian semua yang ada dalam restoran. Terkejut, Nomor 769 menoleh wajahnya pada sumber keributan. Mata lavender peraknya terbelalak saat melihat Nomor 770 berdiri dengan wajah pucat pasi bersama pria penting tersebut, dimana kini, jubah putih bersulam emas dan peraknya telah berubah warna karena tumpahan kopi.
"M-maaf.. M-maaf.." Badan Nomor 770 bergemetaran. Ketakutan terlihat jelas memenuhi wajahnya yang pucat. Dia tahu, dirinya kini berada dalam masalah besar.
Soth berlari mendekati mereka. Kebingungan memenuhi wajahnya. Membungkukkan badan, dia meminta maaf pada pria penting itu. Namun, yang bersangkutan tidak peduli. Penuh amarah, dia mendekati Nomor 770. Tangan kanannya terangkat ke atas, tidak mempedulikan dimana dia berada dan siapa yang ada di sekelilingnya, dia menampar Nomor 770 hingga terjatuh ke atas lantai.
"Seorang Shint memang tidak berguna. Shint adalah parasit di Neo Earth."
Hinaan yang diucapkan pria itu dapat didengar semua Shint yang ada dalam restoran. Tapi, tidak ada seorangpun dari mereka yang berani bersuara. Mereka diam membisu seribu bahasa—tidak tahu harus berbuat apa.
"M-maaf.. M-maafkan, hamba…" Air mata mengalir menuruni pipi Nomor 770. Dia segera berlutut, memohon maaf, bahkan menyembah-nyembah. Namun, pria itu tetap saja tidak peduli, dari balik jubahnya, dia mengeluarkan sesuatu—sebuah remote berwarna perak.
Mata hijau Nomor 770 terbelalak. Gemetaran badannya menjadi semakin kuat. Dengan pelan tanpa menolehkan wajahnya dari pria itu, dia menyeret badannya ke belakang. "T-tidak.. H-hamba mohon, jangan.. J-jangan.. M-maafkan hamba.."
Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi Nomor 770. Tidak mempedulikan permohonan Shint tersebut, dia langsung menekan salah satu tombol yang ada. Sedetik kemudian, aliran listrik yang kasat mata langsung menyerang Nomor 770. Seluruh badannya langsung bergetar hebat, mata hijaunya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar meneriakkan kesakitan yang tidak tertahankan.
Nomor 769 dan para Shint lainnya menatap penuh kengerian kejadian di depan mereka. Namun, tidak ada seorang pun yang berani maju untuk menolong atau menghentikan pria itu. Mata lavender perak Nomor 769 menatap sekelilingnya, pada para Xenith yang ada, berharap ada satu diantara mereka yang mungkin bersedia menolong Nomor 770. Tapi, betapa bingung dirinya saat melihat wajah dari setiap Xenith di sana. Tidak ada ekspresi takut, ngeri atau pun belas kasihan di wajah mereka. Wajah dan tatapan mata mereka semua hanya mempelihatkan satu ekspresi, tidak peduli itu pria, wanita, dewasa, tua maupun kecil; ekspresi wajah yang berkata sudah sepantasnya.
Rasa sakit bisa membuat seseorang gelap mata, tidak dapat memikirkan apa pun. Tidak dapat menahan rasa sakit yang menyelimutinya lagi, Nomor 770 tiba-tiba berdiri, berlari mendekati pria yang kini sedang menyakitinya. Tangannya terangkat, berusaha merebut remote yang ada.
Pria itu sangat terkejut dengan sikap Nomor 770 yang di luar dugaan. Namun, belum sempat Nomor 770 merebut remote itu, Serith yang ada disampingnya bergerak cepat. Tiga orang penjaga segera melindungi sang pria, mejadikan badan mereka sebagai perisai, sedangkan penjaga satu lagi mengangkat kaki dan menendang Shint malang tersebut dengan kuat hingga terpental ke belakang.
Tidak ada yang bergerak sedikit pun. Semua yang ada menatap dengan ekspresi wajah terkejut apa yang terjadi. Seorang Shint berani menyerang seorang Xenith? Itu adalah sebuah pelanggaran. Sebuah kejahatan.
Saat pria berambut pirang pucat itu sadar dari perasaan terkejutnya, kemarahan dengan cepat mengambil alih hatinya. Melangkahkan kakinya diikuti para Serith yang menjaganya, dia mendekati Nomor 770.
Nomor 770 yang berusaha bangkit dengan tertatih-tahih menahan rasa sakitnya segera menyadari kehadiran pria itu. Mata hijaunya bertemu dengan mata biru yang penuh kemarahan. Ketakutan kembali memenuhi wajahnya.
"Berani sekali makhluk hina sepertimu mendekatiku, menyerangku." Pria itu kemudian menolehkan kepalanya menatap Soth yang berdiri dengan wajah pucat pasi tidak jauh darinya. Dia tidak mengatakan apa pun, tapi, tatapan matanya segera membuat sadar sang manajer akan apa yang diinginkannya.
Menurunkan tangannya, Soth segera mengeluarkan sebuah remote berwarna merah dari dalam kantong jubah berwarna-warni ceria yang dikenakannya. Matanya menatap Nomor 770, ada kemarahan dan kekesalan di dalamnya. Shint dalam kuasanya telah membuat marah salah satu orang penting di Neo Earth, apa yang akan terjadi terhadapnya kelak, dia tidak dapat mempredeksinya.
Mata Nomor 770 terbelalak menatap remote dalam tangan Soth. Ketakutan yang sungguh luar biasa menyerangnya. Air mata mengalir menuruni pipinya. Menolehkan kepala ke sekeliling, dia berusaha mencari pertolongan. Namun, dia tidak menemukan apa-apa. Semua Shint sepertinya menatap penuh kengerian dan ketakutan padanya, sedangkan para Xenith menatap penuh kemarahan dan ketidaksukaan pada dirinya.
Ditengah-tengah ketakutan dan kebingungannya. Mata hijaunya kemudian bertemu dengan mata sepasang mata Lavender keperakan. Sebuah senyum segera mengembang di wajahnya, melangkahkan kakinya, dia segera berlari mendekati pemilik mata itu—nomor 769.
Nomor 769 bisa melihat semua yang terjadi dengan jelas. Meski kejadiannya sesungguhnya sangat cepat, dalam matanya, baginya, semua terjadi sangat lambat. Nomor 770 berlari mendekatinya dengan air mata di wajah dan sebuah senyum di bibir. Nomor 770 mungkin berpikir dia dapat menolongnya, sebab diantara semua yang ada di sini sekarang dirinyalah satu-satunya yang mungkin bisa dipanggil teman.
Tiga meter.
Dua meter.
Satu meter.
Semakin dekat Nomor 770 kepadanya, semakin lambat dia merasa waktu bergerak. Lalu, di depannya, dibelakang Nomor 770, dirinya melihat Soth menekan remote merah di tangannya.
Merah.
Merah yang sama dengan warna remote di tangan Soth—merahnya darah. Nadi di leher Nomor 770 tiba-tiba meletus, menyemburkan darah, membasahi wajah Nomor 769 yang ada di depannya. Mata hijau itu terbelalak sebelum akhirnya kehilangan sinar kehidupan. Lalu, badannya yang kini telah bermandikan darahnya sendiri segera terjatuh ke atas lantai tanpa bergerak sedikit pun lagi—mati.
Suara seruan terkejut terdengar, namun, sejenak kemudian suasana kembali tenang. Tidak ada satu pun yang panik atau pun takut melihat kejadian tersebut. Dua orang dari empat orang Serith yang ada disana kemudian berjalan mendekati Nomor 770 yang sudah tidak bernyawa, menyeretnya dengan kasar keluar dari restoran. Soth segera meminta maaf pada pria berambut pirang pucat tersebut dan para tamu Xenith yang ada karena telah memperlihatkan suatu adegan memalukan di restorannya. Dengan cepat, dia kemudian memerintahkan para Shint lainnya untuk membersihkan darah yang ada. Lalu, untuk Nomor 769, dia memerintahkannya untuk mengganti baju dan kembali berkerja secepatnya.
"Maafkan Restoran Rainbow World karena telah memperlihatkan sesuatu yang sungguh memalukan. Sebagai permintaan maaf, saya selaku Manajer Restoran akan memberikan discount seratus persen untuk setiap pesanan yang anda pilih."
Kata-kata Soth mengundang senyum di wajah para tamu. Dengan tenang, mereka semua kembali lagi menyantap makanan pesanan mereka, seakan tidak terjadi apa-apa.
Ada yang mati.
Nomor 770 telah mati, dan bagi semua Xenith di sana, itu tidak ada artinya. Kematian seorang Shint adalah hal biasa, bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Hukuman mati bagi seorang Shint jika berani menyerang dan menentang seorang Xenith; itu sudah tertulis dalam undang-undang Neo Earth. Dan telah diajarkan kepada para Shint sejak kecil; tidak perlu merasakan apa-apa untuk Shint yang membangkang, sebab mereka adalah pendosa.
Nomor 769 tahu, dirinya tidak akan melihat Nomor 770 lagi. Tidak akan lagi ada senyum yang dilemparkannya saat mata mereka bertemu. Nomor 770 sudah tiada. Tidak perlu merasakan apa-apa untuk seorang pendosa seperti itu. Namun, tidak tahu kenapa, dalam hatinya yang terdalam, dia merasakan kesakitan, kesesakkan. Dirinya bertanya-tanya dalam hati; kenapa dia bisa merasakan hal seperti itu untuk seorang pendosa? Kenapa? Dan yang terpenting, dia mungkin benar-benar telah sendirian di restoran ini kini…
.xXOXx.
Dalam sudut kota Neo Earth yang maju, dalam sebuah bar kecil yang kotor dan berantakan, seorang pria berambut hitam duduk menikmati equil-minuman beralkohol rendah di depan bartender. Pria itu tidak mempedulikan sedikit pun suara ribut penuh makian, dan juga adegan pertarungan antara tiga orang mabuk yang merebut perhatian seluruh penghuni bar.
"Hari ini, terjadi lagi sebuah kasus dimana seorang Shint menyerang seorang Xenith. Namun, yang mengejutkan adalah, Xenith yang diserang adalah Filix La Décor, salah satu Dewan Neo Earth. Kejadian tersebut terjadi dalam Restoran besar yang sedang naik daun sekarang, yakni; Restoran Rainbow World."
Berita yang dibawakan oleh seorang wanita dalam TV plasma dinding di sampingnya berhasil menarik perhatian pria tersebut. Kedua mata hitamnya bergerak dengan pelan menatap layar plasma dinding tersebut. Terlihat seorang pria berusia pertengahan empat puluh dengan jubah putih dan rambut pirang pucat berbicara dengan pelan.
"Shint berbeda dengan kita semua, Xenith. Kita sudah cukup berbaik hati mengijinkan mereka hidup di antara kita, tapi sikap mereka semua benar-benar tidak dapat ditoleransi. Kuharap hukum bagi para Shint di Neo Earth akan lebih dipertegaskan lagi. Aku Filix La Décor sungguh berharap kejadian seperti ini terjadi lagi."
Wajah pria itu tetap tidak berekspresi saat mendengar kata-kata yang diucapkan Dewan Neo Earth. Dia kembali menolehkan matanya pada equil yang diminumnya. Seorang Shint menyerang seorang Xenith? Dia serasa ingin tertawa mendengar berita itu. Shint adalah orang yang dibesarkan dalam hukum aneh di dunia monoton yang tidak pernah berubah. Dilarang berpikir dan juga berperasaan, mereka adalah orang-orang yang hidup sebagai budak dengan iming-iming kenaikan martabat hidup mereka setelah mengikuti Upacara Suci Ficilioc. Tidak perlu menyelidiki pun, kenyataan sesungguhnya pasti adalah Filix lah yang menyiksa sang Shint hingga kelewatan batas. Seorang Shint yang terbelenggu tidak akan mungkin begitu berani atau bodoh melawan jika tidak ditekan.
Layar Tv plasma di dinding kembali berubah, menampilkan gambar seorang Shint wanita berusia sekitar tujuh belas tahun berambut coklat dan bermata hijau berlari mendekati Filix, berusaha merebut remote ditangannya. Semua terputar dengan jelas, Serith, sang penjaga yang melindungi Filix dan menendang sang Shint hingga terpental kebelakang. Lalu, sang Shint yang berlari, sang tuannya yang menekan tombol kehidupan mereka, nadi leher yang meledak, dan terakhir, tubuh tidak bernyawa yang diseret keluar dari restoran secara kasar oleh Serith.
Seluruh adegan yang terputar adalah sebuah kejadian yang mengakhiri kematian seorang makhluk hidup di dunia. Namun, semua orang yang ada dalam bar tidak mempedulikannya sedikit pun. Meraka, para Xenith lebih memilih menyorakin perkelahian tiga orang Xenith mabuk yang ada. Bagi mereka semua, mungkin kematian seorang Shint dapat dibaratkan dengan kematian seekor tikus, tidak ada kaitan dengan mereka.
Merasa muak berada dalam bar, pria itu pun segera berdiri. Saat kakinya akan melangkah untuk keluar dari tempatnya berada, mata hitamnya menangkap sesuatu dalam TV plasma dinding yang kini telah berubah.
Layar kini memperlihatkan seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun. Kalung perak ketat di leher membuktikan dia adalah seorang Shint. Bajunya berumuran darah, begitu juga dengan wajahnya. Namun, meski kondisi sang gadis begitu berantakan, dia tetap tidak dapat menyembunyikan sepasang bola mata berwarna lavender keperakkannya—warna mata yang tidak umum dan langkah.
.xXOXx.
Author Note's : Hm…. apakah aku perlu menaikkan rating fic ini? Ugh… Aku tahu, pasti banyak yang bingung dengan fic ini sekarang, dan aku berharap semua yang membaca akan mengerti jalan ceritanya seiring dengan perkembangan fic ini ^^. Dan kuakui, mungkin fic ini akan menjadi salah satu fic aneh yang pernah aku tulis lagi -_-"
Juriq cai : Ini, aku sudah update, benarkah? kuharap chapter ini tidak mengecewakanmu ^^ Walau aku rasa kau masih bingung dengan jalan ceritanya, tapi tenang, kau pasti akan mengerti kok seiring perkembangan fic ^^
Bluerose : Apa itu Shint? Xenith? akan aku jelaskan pada beberapa chapter ke depannya? Dan ya, siapa 769? kurasa kau sudah tahu, dan terima kasih untuk informasinya, kukira rambut Hinata itu hitam sih -_-"
Daollyod Hwang : Benar, kepanjangan -_-" Dan mengenai tulisan yang diulang-ulang, aku akan berusaha mengubahnya, walau aku ragu, sebab itu adalah gaya tulis yang sudah snagat melekat pada diriku -_-" Terima kasih untuk reviewnya.
Gui gui M.I.T : hahaha, kau juga setuju, kan? Mengenai Hinata dan juga Sakura? hahahaha ^^, siapa Sasuke nantinya? hahahaha tunggu saja chapter selanjutnya ya ^^, terima kasih sudah menriview ^^
Moyahime : Terima kasih untuk Alertnya ^^
Razux.
