Special fict for NHFD…
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Rated : T
Warning : AU, TYPO(S), OOC, GAJE, ABAL dll
Pairing : NaruHina slight NejiTen.
My Brothers chapter 2
.
.
.
"Ne-Neji ke-kenapa kau.." Hinata sangat terkejut melihat penampilan kakaknya yang err aneh.
"Kau ini tidak sopan sekali pada kakakmu, panggil aku kakak," ucap Neji sedikit kesal.
"Maaf. Lagi pula kenapa kakak berpakaian seperti itu?" Tanya Hinata masih memandang kakaknya tersebut.
"Apa ini kelihatan aneh ya?" Tanya Neji balik.
"Sa-sangat a-aneh," kata Hinata sedikit ragu-ragu.
"Aku tidak seperti seorang gadis ya," raut wajah Neji kecewa.
"Apa artinya kakak mau menyamar menjadi aku?" Tanya Hinata pada Neji, yang ditanya hanya mengangguk.
Hinata langsung berlari memeluk Neji. "Sudah, lepaskan aku. Ayo kita harus segera berangkat, nanti ayah marah." Neji membawa koper Hinata dan berjalan keluar.
"Eeeh tunggu-tunggu," Hinata tiba-tiba saja mencegah Neji yang keluar kamarnya.
"Ada apa Hinata? Apa ada barang-barangmu yang mau aku bawakan lagi?" Tanya Neji bertubi-tubi.
"Bukan itu," Hinata mendekati Neji yang memasang wajah heran.
"Lalu apa?" belum sempat Neji mendapat jawaban pasti, Hinata langsung menyeretnya masuk kembali kekamarnya.
" Sekarang Duduk." Perintah Hinata. "Tapi.." Neji masih belum mengerti Hinata mau apa. "DUDUK!" Neji langsung duduk mendengar adiknya berteriak.
"Kakak butuh sedikit sihir untuk berubah menjadi Hyuuga Hinata." Ujar Hinata menyeringai. Neji hanya bergidik ngeri melihat adiknya menyeringai aneh.
Beberapa Menit Kemudian.
"Selesai. Sekarang buka matamu dan bercerminlah." Perlahan-lahan Neji membuka matanya dan menatap cermin dihadapannya.
1 detik. Belum ada respon dari Neji.
2 detik. Neji Masih saja diam.
3 detik. Mulut Neji mulai terbuka.
4 detik. Mata Neji membelalak lebar.
5 detik…
"APAAA?" itulah respon dari Neji. Baru kita ketahui para pembaca yang budiman ternyata salah seorang anggota keluarga Hyuuga ada yang mempunyai penyakit telat mikir.
"Bagaimana? Baguskan?" Tanya Hinata menatap pantulan wajah kakaknya dicermin.
"HINATAAA! KAU APAKAN AKUU?" Jerit Neji histeris. "Kenapa aku jadi begini? Kembalikan Neji yang macho dan gentleman." Rengek Neji pada Hinata.
"Kakak, aku hanya memoles sedikit wajahmu kok agar terlihat lebih feminim," ujar Hinata polos. "kakak mau membantu akukan?" Hinata mengeluarkan jurus puppy eye's-nya. Dia tau pasti kakaknya akan luluh.
"Hhh. Ya," ucap Neji pasrah. Hinata tersenyum sumringah dan pergi berlalu.
"Semoga saja di sana tidak terjadi hal-hal yang merepotkan," harap Neji. Neji melihat adiknya kembali membawa dress berwarna biru muda.
Hinata menghampiri Neji yang masih duduk manis di kaca rias. "Ini," Hinata menyodorkan dress tadi pada Neji.
"Untuk?" Tanya Neji tidak mengerti. "Untuk dipakai kakak." Jawab Hinata enteng tapi menurut Neji hal itu sangat-sangatlah berat.
"Ayolah. Kakakkan mau menyamar jadi akukan. Masa mau pakai daster itu sih, punya si bibi pelayan kita lagi." kata Hinata.
"Eh? Baiklah," dengan enggan Neji menerima dress itu. "Eh tunggu sekalian kakak pakai ini," Hinata member Neji bra dan busa.
"Wanita harus lebih berisi, kakak mengertikan?" Neji langsung mengambilnya dan lari menuju kamar mandi. Ia takut adiknya menyuruhnya memakai yang aneh-aneh lagi.
Selang beberapa lama Neji keluar dari kamar mandi dengan kostum berbeda. "Bagaimana?" Tanya Neji pada Hinata yang sibuk SMS-san dengan Tenten. Tapi Hinata tak memberi respon.
"Hinata, bagaimana penmpilanku sekarang?" Tanya Neji lagi yang akhirnya mendapat tolehan dari sang adik. Telah kita ketahui juga bahwa selai telmi keluarga Hyuuga memiliki penyakit tuli.
"WOW," Neji menatap Hinata penasaran dengan pendapat adiknya itu. Hinata menghampiri Neji dengan senyum mengembang dan memegang pundak pemuda itu,
"Kau aku nyatakan sebagai Hyuuga Hinata.
-00o00-
"Hinata cepat!" kata Neji pada Hinata.
"Bagaimana penampilanku kak? Apa masih terlihat besar? Tapi aku sedah pakai perban kok." Tanya Hinata. Hinata sekarang sudah berganti pakaian Neji.
" Itu cukup. Kau hanya perlu mengikat kendur rambutmu, dan kau akan menjadi Hyuuga Neji." Neji tersenyum pada Hinata. Merekapun berangkat menuju Tokyo.
Di perjalanan menuju Tokyo –Pesawat-.
"Kakak?" panggil Hinata pada sang kakak yang duduk disebelahnya. "Hmm?" Respon Neji tenang.
"Bersikaplah selayaknya seorang gadis Ya," ucap Hinata sambil merapatkan kaki Neji yang sebelumnya mengangkang lebar.
"Akan aku usahakan," jawab Neji sekenannya. "Jangan di'usahakan', kakak harus benar-benar bersikap layaknya gadis tulen," ujar Hinata mencoba membujuk kakaknya.
"Lagi pula sahabatmu 'itu' juga ada yang seperti laki-laki," kata Neji membela diri.
"Maksudmu Tenten?" Tanya Hinata memastikan.
"Mungkin." ujar Neji pura-pura tidak tahu.
-00o00-
"Akhirnya sampai juga," Neji dan Hinata berjalan menuju pintu keluar bandara.
"HINATAAA!" suara cempreng seorang gadis terdengar memanggil, Hinata dan Neji pun membalikan badan dan…
GREEB,
"Aku merindukan Hinata," gadis itu memeluk Neji yang sedang menyamar menjadi Hinata. Sedangkan Neji wajahnya sudah merah karena di peluk gadis selain adiknya, tiba-tiba lagi!
"Tenten?" Tanya Hinata memastikan.
"Eh kak Neji, Apa kabar?" sapa Tenten sopan pada Hinata yang ia kira Neji. "Kabarku baik." Jawab Hinata sambil tersenyum.
"Sebaiknya kita langsung ke kediaman Namikaze, aku sudah menyiapkan mobil di depan. Ayo," Hinata terlihat bingung dengan perkataan Tenten.
"Kenapa ke kediaman Namikaze?" Tanya Hinata mencoba mencari tahu, ia tak kenal dengan keluarga bermarga Namikaze.
"Namikaze itu keluarga pemuda yang akan di jodohkan dengan Hinata," jawab Tenten.
'Jadi pemuda yang akan di jodohkan denganku itu berasal dari kelaurga Namikaze..' batin Hinata.
"Ayo kita berangkat Hinata," seru Tenten sambil berbalik menghadap Neji yang sempat dicuekin.
"Hinata kau sedang apa?" Tanya Tenten yang melihat Neji yang sedang menggaruk err bokongnya.
"Eeh? Ee a-aku.." Neji bingung menjawab apa, "Mungkin bokongnya gatal, bahan baju itu memang sedikit kasar," timbrung Hinata mencoba membantu Neji.
"Oh, bagaimana kak Neji tau? Jangan bilang bahwa baju itu milikmu?" Tanya Tenten curiga.
"So-soal itu, aku yang membelikan baju iti. Jadi aku tau, Aku juga bercita-cita menjadi designer." Jelas Hinata gugup sambil melirik Neji yang sedang men-deathglare dirinya.
"Oh ya sudah lagi pula itu tidak penting. Ayo Hinata." Tenten pun menggandeng Neji keluar Bandara.
"Hhh, untung saja." Ujar Hinata memegang dadanya sambil mengikuti Neji dan Tenten yang memimpin jalan.
TBC
terimakasih yang sudah membaca fict abal ini.
Terimakasih juga yang sudah memberikan review di chap pertama.
Bersedikah meninggalkan review?
