WARNING! : a Yaoi fict!boys love!OOC!don't like don't read

Disclaimer: DBSK punya SME

Pairing : YUNJAE

oo0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

iniii ku bawa lanjutannya untuk kalian!

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o

Jaejoong POV

"Jae, kenapa kau sendirian di tempat ini?" suara Heechul hyung memecahkan kesunyian dan lamunanku dalam seketika.

"Bukan urusanmu!" ucapku malas menanggapinya.

"Kau masih marah padaku?" ucapnya takut-takut sambil menepuk pundakku pelan.

"Bukannya kau harus foto pra wedding?" aku segera melepas tangannya yang berada di pundakku.

Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi menuju kamarku. Aku tak perduli teriakannya yang memangil-manggil namaku. Maaf hyung, aku belum bisa berada dekatmu. Aku tak ingin menghancurkan kebahagianmu. Walaupun aku sangat ingin sekali menghancurkanmu.

BRAAKK

Ku tutup dan ku kunci rapat-rapat kamarku. Aku benar-benar tak ingin diganggu oleh siapapun. Aku tahu dan aku pasti akan menyesal kalau aku sampai menghancurkan pernikahan itu. Aku takkan sanggup melihat Heechul hyung mengeluarkan air mata. Tapi, apa Heechul hyung memikirkanku? Memikirkan perasaanku yang juga masih mencintai Siwon hyung.

Ku raih sebuah photo yang tergeletak di atas kasur. Fotoku yang sedang menggunakan gaun pernikahan. Namun, ia adalah pengantin kesepian yang tak mempunyai pasangan. Hanya terisi setengah di foto itu. Setengah hatiku yang telah dibawa pergi olehnya. Ia yang sudah mengambil hatiku dan mencampakkannya begitu saja. Ia yang senangnya mempermainkan hatiku. Sampai-sampai aku berpikir bahwa ia adalah cinta sejatiku.

"Jae?" ku dengar suara ummaku memanggil dari balik pintu.

"Umma?" aku segera menghapus air mata yang sebelumnya siap mengalir ke pipiku.

"Buka pintunya sayang!" ucapnya lembut.

"Sebentar umma!" aku segera menyimpan foto dan membuka pintu yang sebelumnya memisahkanku dengan umma.

"Turunlah!" ucapnya langsung saat aku membuka pintu.

"Untuk apa umma?" apa lagi akal ummaku ini.

"Kau tak ingin bertemu dengan Siwon? Bukannya kalian selama ini sangat dekat?" kening umma menyiratkan rasa heran yang sangat besar.

"Aku sedang malas bertemu dengannya!"

"Kenapa?"

"Hanya sedang malas umma!" aku memandangnya dengan tampang memelas. Aku yakin ia takkan memaksaku lebih dari ini.

"Mau sampai kapan kau tak mau berbicara denganku?" suara berat itu terdengar. Suara yang sangat aku tak ingin dengar saat ini.

"Siwon?" umma langsung berbalik dari hadapanku.

"Mianhae ahjumma, aku lancang untuk kemari!" ia membungkuk memohon maaf pada umma.

"Anggap saja di rumah sendiri! Umma tinggal ya?" ucapnya seraya beranjak dari hadapanku dan Siwon.

Setelah umma pergi, tak ada satupun kata yang keluar dari mulut kami. Bahasa dan kata-kata adalah sesuatu yang mahal saat ini. Kami hanya saling memandang dalam diam. Menikmati kesunyian yang tercipta tiba-tiba. Tak ingin mengusik ketenangan yang benar-benar damai.

"Jae!" ucapnya mencoba memulai percakapan.

"Apa?" ucapku acuh padanya. Kali ini ku alihkan pandanganku ke arah lain.

"Mau sampai kapan kau tak bicara padaku?"

Tak enak jika terus berbicara di depan kamar. Sengaja tak ku jawab pertanyaannya, aku langsung pergi ke arah balkon di ruang atas itu. Ia pun secara refleks mengikutiku. Aku mencari posisi senyaman mungkin untuk berbicara dengannya.

"Aku takkan pernah bicara denganmu lagi!" ucapku ketus padanya.

"Kau seperti anak kecil Jae!"

"YA! AKU MEMANG SELALU ANAK KECIL DIMATAMU! KAU TAK PERNAH MELIHATKU YANG SUDAH DEWASA! APA KAU TAHU BETAPA SUSAHNYA MENCINTAI SESEORANG YANG BUKAN MILIK KITA?" aku segera bergerak maju dan meraih kemeja. Memukul-mukul dadanya yang bidang. Aku benar-benar sudah tak sanggup menahan perasaan ini lebih lama.

"Mianhae..jeongmal mianhae! Kau tahu aku hanya mencintai kakakmu!" Siwon hyung menahan tanganku yang terus memukul dadanya.

"Tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa kau memikirkannya? Apa kau memikirkan perasaanku yang mencintaimu?" lirihku. Aku sudah tak sanggup untuk berdebat lagi dengannya. Seluruh ragaku sudah pupus mendengar dan mengalami semuanya. Aku benar-benar tak punya tujuan untuk hidup. Masih adakah alasan untukku tetap hidup?

"Mian Jae!" Siwon menarik tubhku ke dalam pelukannya. Hangat, tapi tubuh ini bukan milikku. Tubuh dan hati orang yang memelukku ini bukan milikku. Takkan pernah jadi milikku. "Berhentilah menangis! Kau membuatku sedih!"

"Apa kau menyayangiku?"

"Aku menyayangimu sebagai adikku Jae! Kau tahu itu! Memang benar dulu aku sempat menyukaimu. Tapi, itu adalah cinta anak kecil. Aku sudah memilih kakakmu untuk jadi pendampingku. Lagipula kami memang sudah di jodohkan!" ucapnya sambil menjelaskan secara perlahan. Susah baginya untuk menjelaskannya padaku.

Ku lepaskan tubuh yang memelukku. Ku tinggalkan ia begitu saja di balkon. Aku tak mau mendengar apapun darinya. Belum cukupkah ia menyakitiku dengan kata-katanya? Apa aku satu-satunya yang tak boleh bahagia?

"Jae!" ucap seseorang sebelum aku benar-benar menghilang di dalam kamar.

"Apalagi hyung?" ucapku kesal.

"Kau benar-benar tak mau memaafkanku?"

"Apa yang harus ku maafkan? Kau punya salah apa padaku?" segera ku tutup pintu kamarku di depan wajahnya.

"Jae! Dengarkan hyung dulu!" ucapnya sambil terus menggedor pintu kamarku.

"Pergilah! Aku ingin sendiri!" segera ku tutup telingaku dengan bantal.

Akhirnya ketokan di pintu kamarku berhenti. Mungkin hyung sudah menyerah untuk membujukku. Ketenangan inilah yang sangat ku tunggu. Sama sekali tak ada yang mengganggu. Lama-lama aku bosan juga ya? Enaknya kemana?

Akhirnya aku memutuskan mengambil kanvas beserta cat-catnya. Mungkin dengan menggambar perasaanku akan tenang. Setelah mengambil semua perlengkapan dengan menggunakan jendela sebagai jalan keluar, aku segera meninggalkan rumah itu menuju bukit. Kebetulan di belakang rumahku ada bukit yang mempunyai pemandangan sangat indah. Dimana ada air sungai yang mengalir jernih, kupu-kupu yang saling berkejar-kejaran, dan hamparan bunga-bunga yang melengkapi. Pemandangan ini cocok untuk dijadikan bahan melukis. Walaupun aku sudah berulang kali melukisnya, tetap saja aku tertarik untuk melukisnya lagi.

Ku edarkan pandanganku untuk mengamati objek yang ingin ku gambar. Namun ada sesuatu hal yang berbeda, ada sesosok pria yang tengah berdiri di hamparan bunga itu. Siapa dia? Aku tak pernah melihatnya. Ia pasti bukan orang daerah sini.

"Hey!" teriakku padanya.

"Hey, kau yang disana!" ucapku meninggikan nada suaraku karena ia sama sekali tak menoleh ke arahku.

"Hmm?" ucapnya menoleh dan berjalan pelan ke arahku.

"Siapa kau?" ucapku padanya.

"Aku? Untuk apa kau tahu namaku?" ucapnya dingin.

"Aisshh~" menyesal aku bertanya padanya. Dingin sekali sikapnya. Huh~ aku acuhkan saja dia yang masih terus menatapku.

"Hey! Dasar tak punya sopan santun!" ucapnya pelan dan tanpa perasaan di dalamnya.

"Apa kau bilang?" ku lepas semua peralatan lukisku dan ku serang dia balik.

"Tak punya sopan santun!" ulangnya.

"Apa masalahmu denganku?" wajahnya saja yang tampan tapi hatinya busuk, buruk, dingin.

"Kau tadi memanggilku! Sekarang kau mengacuhkanku!" kali ini sorot matanya tajam menatap mataku.

"Kau keberatan? Lucu sekali! Tadi kau mengacuhkanku, gilaran aku mengacuhkanmu, kau mearah-marah. Dasar orang aneh!" segera ku rapikan kembali peralatanku dan pergi meninggalkannya.

Aissh~ bukannya mendapat ketenangan, malah bertemu dengan orang yang menyebalkan. Kenapa aku sungguh sial hari ini? Sebenarnya apa salahku? Bisa-bisa aku gila jika terus sepeti ini. Aku benci dengan keadaan ini. Ingin rasanya kabu dari tempat ini. Tapi bukankah itu sikap pengecut? Heechul hyung, kau akan mendapat balasanmu! Ku rasa aku benar-benar akan menghancurkan pernikahanmu. Agar kau juga merasakan apa yang ku rasakan.

0o0o0o0o0o0o0o0

"Jae, sejak kapan kau keluar rumah?" Tanya umma begitu aku melangkahkan kakiku ke kamar.

"Kapanpun aku bisa keluar dari rumah ini!"

"Jae, jaga ucapanmu!" kali appa yang buka suara.

"Appa!" protesku.

"Aiishh~ aku bisa gila kalau menghadapimu Jae!" ucap appa sambil mengacak-acak rambutnya.

"Aku yang gila appa! Aku sudah gila!" segera ku lempar peralatanku ke sudut.

"YA JAE!" kali amarah memenuhi diri appa.

"Sudah!" umma berusaha menenangkan appa.

"Kau masuk kamar dan segera istirahat! Nanti malam calon tunanganmu akan datang!" ucap appa yang sudah kembali tenang.

"APA?" aku tak salah dengar kan? Tunangan? Apa-apan ini?"

"Cepat masuk kamar!" ucap appa kali ini dengan penekanan.

Aissh~ apalagi kali ini? Tak cukupkah melihatku menderita? Malangnya nasibku. T.T

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Balasan Review

runmaharani : kalo sesadis2nya.. nanti aku yang dihajar massa.. gimana nih? hahahahahaha

Arisa adachi :ini aku LANJUTTTT.. walupun g suka Sichul. baca yang YUNJAE aja ya!

REvisca : kejawab ga? suka g Jae ma Yunho?

Kiimeee08 : jarang? bukannya masih banyak ff YUNJAE ya?

Angel Xiah : yaaa aku semangat mengupdatenyaa!

Kim Jaena : IIIaaaaaaaaaaaaa ini udaaahhh di lanjuuttt

GImo Michiko : apa yang ini juga pendek?

Priss Uchun : INI UDAH DILANJUTT*caps keinjek*

Kim Taena : Yunho bukan tuangannya?

Rara : wah, jangan kissu saya. nanti YUnho marahh hahahahahaha

Sizunt Hanabi : lumayan panjangkah?

Rizmahuka-huka : uno? itu permainankan? ahahahahahaha *kabuuurrr*

NIkwon : jawaban pertanyaanmu ngga kejawab disini

0o0o0o0o0o0o0o0o

makasih yang udah review.. dan makasih yang cuma baca tanpa ninggalin jejak...

Tbc

Dilanjutkan atau tidak.. tergantung peminat n review pembaca...

Please RnR