Bagian kedua : Pearl Harbor

Rating : T

Disklaimer: Hidekaz Himaruya sebagai pencipta Hetalia, Earl F. Ziemke sebagai penulis artikel 'World War 2' di Encarta, para penulis dan editor lepas di Wikipedia, The Dorling Kidersley sebagai penulis ensilokpedia super tebal 'Sejarah Dunia', acara 'The Days That Shook the World' disiarkan oleh BBC Knowledge, dan terakhir, Apocalypse: World War II disiarkan oleh NGC.

Pasangan (?): tidak ada~jomblo-lah kalian semua mwhahahaha. Ha. AmeriPan? Ooo tidak D:! Saya pengikut sekte Amerika-Jepang adalah sahabat akrab selama-lamanya! (apaan sih -_-)

Peringatan: karakter buatan sendiri, penyimpangan karakterisasi dari yang aslinya, penyiksaan, darah ditampilkan (?), kekerasan, laki-laki yang tertarik dengan laki-laki -?-, ketidaktepatan informasi di sini dari kejadian yang sebenarnya, dan unsur sejarah. O ya jangan lupa struktur gramatikal saya sangat hancur di sini =_=.

A/N: Selamat ulang tahun buat sekolah saya yang tercinta yang akhirnya sudah berumur seratus tiga puluh tiga tahun #telatenamhari. Semoga sikap sok dan nggaya-nya dikurangi; dan sebelum kiamat di tahun 2012 semoga huruf 'Er'nya bisa hilang yaa. DAN SEGERA GANTI GURU FISIKA SAYA! QAQ. Udahlah...kayaknya doa saya gak bakal didengerin sama murid OON kayak saya. Selamat membaca~~


1 Desember 1941


Kiku masih berang dengan perlakuan Jepang terhadapnya barusan. Dengan penuh emosi dia membanting pintu baja yang cukup tebal dan menghiasinya dengan berbagai rantai yang masih terbilang baru—karena masih mengkilap. Tidak lupa dihiasi dengan berbagai macam ukuran gembok dan terakhir, memasukkan anak kunci ke dalam lubang yang tersedia. Kiku menghela nafas ketika memandangi hasil karyanya—yang berupa pintu baja super besar dan mungkin sekilas orang yang melihatnya bahwa hal tersebut sudah termasuk keamanan yang sangat terjamin. Kiku menaiki tangga baja yang sudah berkarat dan akhirnya keluar dari bunker. Kiku segera mendorong pintu lubang bunker dengan sisa tenaganya, kemudian diputarnya gir sebagai sentuhan terakhir. Dengan begini si negara yang asli mempunyai kemungkinan kecil untuk bisa keluar dari sini.

Dengan langkah hati-hati ditatanya tumpukan salju untuk menutupi tutup lubang agar tidak bisa terlihat, setelah semuanya beres Kiku bergegas ke pelabuhan.


April 1941


"Seperti yang sudah kita pikirkan, kita akan menduduki jajahan Belanda dan Inggris dulu," kata salah satu peserta rapat yang berkumis tebal dan berkacamata bulat sambil mengusap-usap dagunya sendiri.

"Oh ternyata begitu? Kalau begini sama saja kita mengabaikan front ABCD?" tukas salah satu peserta lainnya dengan nada meninggi.

"Itu hanya propaganda, tenang saja," jawab seorang lainnya yang tampaknya paling santai di antara anggota rapat lainnya. "Lagipula mereka kan hanya melakukan embargo kepada kita, mereka belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerang kita."

"Tu-tunggu. Kalau misalnya kita menduduki jajahan Inggris, pasti Amerika akan menyerang kita juga!" sahut seorang yang kelihatannya paling panik di antara lainnya. "Hubungan akrab Amerika-Inggris sudah tidak bisa diragukan lagi."

Semua peserta kembali terdiam.

"Dengan kata lain, kita harus menyerang Amerika dulu. Inggris sudah pasti masih sibuk dengan perangnya dengan Jerman, dengan begitu, koloninya sudah pasti diabaikan. Jika kita melemahkan kekuasaan Amerika di sekitar Asia Pasifik, sudah pasti usaha kita untuk menguasai para koloni di Asia akan berjalan mulus," Kiku memecah keheningan sembari dia mengeluarkan ide cemerlangnya kepada peserta rapat yang lain.

"Tapi bukannya kita tidak seharusnya meremehkan kekuatan Amerika?"

"Kalau begitu kita harus menyerang pangkalan utamanya secara mendadak." Kiku kembali mencanangkan ide cerdasnya. Semua peserta kembali terdiam. Kiku kembali melanjutkan, "rencana ini akan kita namakan rencana Timur untuk mendiamkan Amerika; sedangkan rencana Selatan akan tetap kita laksanakan untuk merebut koloni Inggris dan Belanda—terutama Hindia Belanda. Aku dengar di sana banyak tersedia sumber mentah yang sangat kita butuhkan."

Keheningan masih terjadi. Ekspresi para peserta rapat menunjukkan bahwa mereka sedang berpikir tentang spekulasi atau kemungkinan yang akan terjadi.

"Tidak perlu takut dengan Uni Soviet, selama ada perjanjian hubungan kita akan tetap netral," Kiku membuat suaranya agar terdengar meyakinkan para peserta rapat—atau sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rapat strategi.

"Baiklah, dengan begini sudah diputuskan hasil akhir."


7 Desember 1941


Kiku bisa merasakan betapa segarnya angin darat di pagi hari, walaupun posisinya sedang berada di atas kapal perang. Suasana musim dingin tidak terasa sama sekali karena suhu di atas kapal bisa dibilang menjadi hangat karena semangat para pilot perang yang membara. Kiku tidak bisa melepaskan senyum kecil dari wajahnya karena hari ini adalah hari pertama saat dia akan melancarkan perang terhadap orang Barat untuk kedua kalinya.

"Sudahkah anda siap untuk berkorban demi negara?" tanya Kiku ramah dan tenang saat dia menghampiri salah satu pilot yang sedang berusaha menaiki pesawat tempur.

"Tentu saja! Dan..suatu kehormatan bagi saya untuk bisa berkorban demi anda!" sahut sang pilot dengan muka memerah, dan nadanya terdengar antusias. Senyum Kiku makin melebar; dia senang karena banyak orang yang mau berkorban demi dirinya—atau Omikami Amaterasu secara tidak langsung. Kiku sengaja di saat seperti ini membiarkan rakyatnya untuk mengetahui identitas aslinya sebagai negara—untuk memudahkan Kiku mengontrol semua orang selain Perdana Menterinya yang baru, Hideki Tojo dan Yang Mulia Hirohito-sama.

"Terima kasih, saya sangat menghargai hasil kerja kerasmu. Semoga Omikami Amaterasu menyertai anda," jawab Kiku ramah, dengan senyum terbaik yang bisa dia tampilkan. Hal tersebut membuat sang pilot juga tersenyum dan dengan penuh semangat dia menempatkan dirinya di kokpit.

"Selamat berjuang," bisik Kiku pelan sebelum dia berbalik menuju ke pesawat pengintainya sendiri. Dia sebagai negara juga mempunyai kemudahan untuk membantu kelancaran penyerangan, dan dia berencana untuk memonitori perjuangan tentaranya dengan cara ikut terbang bersama mereka—tapi tidak untuk menyerang. Dia tidak ingin melukai dirinya sendiri, dia sudah cukup puas dengan pengorbanan tentara-tentaranya.

"BERSIAP!" salah satu petugas berbaju hitam yang tampaknya bertugas sebagai pemberi aba-aba meneriakkan perintah sambil mengibarkan bendera. Dalam hitungan detik satu persatu pesawat tempur; atau tepatnya pesawat pengebom meluncur dengan mulus dari landasan pacu dan terbang ke angkasa; menjauhi pangkalan yang berupa kapal induk. Mata merah Kiku terus memandangi wujud pesawat yang makin menjauh dan mulai menghilang dari pandangan. Tangannya yang bersarung membantu menopangnya untuk menaiki tangga kecil yang mengarah ke dalam kokpit pesawat pengintainya. Dia siap untuk mengawasi apakah serangan tentaranya akan berjalan sukses atau tidak.

~O~O~O~O~

Alfred terus berjalan gelisah memutari bagian depan ruangan kantor bosnya. Dia tidak yakin dengan keputusan sahabatnya—Jepang atau Kiku Honda mengapa dia mendadak bersikap aneh sejak Alfred memutuskan untuk melakukan embargo terhadap Kiku. Tiba-tiba Alfred dikejutkan dengan suara dobrakan pintu. Muncul seorang pemuda berdasi hitam yang sedang memegangi kertas dengan nafas tersengal.

"Oh halo! Kenapa kamu terlihat terburu-buru? Ada perlu dengan bos?" tanya Alfred ramah; berusaha menyembunyikan kecemasan yang tampaknya sama dengan sesosok pemuda di hadapannya.

Pemuda berdasi hitam itu segera mengatur nafasnya dan berdiri dengan tegak. "Aku berhasil memecahkan kode yang ingin disampaikan oleh Kedutaan Jepang terhadap AS, kau masih ingat dengan amplop cokelat yang tebal itu, Alfred?"

"Ehhm...iya. Memangnya apa maksud dari kode itu?" tanya Alfred penasaran. Dia berjalan mendekati si pemuda dan meraih kertas yang tampaknya penting untuk dibaca. Alfred membaca kertas itu—dan sekarang mata birunya tidak bisa lepas dari kertas yang dibacanya.

"Sebenarnya isi amplop tersebut adalah Pemerintah Jepang memutuskan hubungan diplomatik dengan kita," jelas pemuda tersebut dengan mimik muka yang serius dan nadanya ditekankan. "Dan maksud dari kode itu...pagi nanti jam tujuh Angkatan Laut Jepang akan menyerang Pangkalan Angkatan Laut kita yang ada di Hawaii. Tentu saja waktu jam tujuh...di daerah sana."

Alfred langsung menatap jam dinding yang terpasang lekat-lekat dan mata birunya melebar. "Segera kabarkan para jenderal yang bertugas di sana! Setidaknya masih ada harapan! Dan segera kirimkan kertas ini ke sana!" Alfred bergegas menyerahkan kertas tersebut ke pemuda tersebut dan berlari menyusuri koridor.

"Mau kemana kamu, Alfred?" tanya pemuda tersebut cemas.

"Hawaii." Alfred menjawab pendek karena dia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan, pokoknya bagaimanapun caranya; dia harus segera tiba di Hawaii untuk menyelamatkan para tentaranya. Setelah tiba di lapangan terbang, Alfred memasang helm dan goggle untuk melindungi matanya. Dia bergegas memilih pesawat dan setiap dia melihat indikator bahan bakar, selalu saja kosong.

"SIAL!" serunya kesal sambil meninju kaca indikator.

"Ada perlu apa di sini, Alfred?" tanya salah satu petugas beseragam Angkatan Udara—yang tampaknya sedang berjaga di sini. Alfred mendapatkan secercah harapan dan dengan gesit dia melompat dari kokpit pesawat.

"Aku minta pesawat dengan bahan bakar penuh, segera!" pintanya panik sambil menarik kerah sang petugas. Sang petugas tanpa basa-basi segera menujuk pada salah satu pesawat yang letaknya paling ujung. Alfred segera melepaskan kerah sang petugas dan langsung berlari menghampiri pesawat dan berusaha menaikinya. Sang petugas menyusul Alfred dan mengajaknya bicara.

"Memangnya apa yang sedang terjadi, Alfred?" tanyanya kebingungan diiringi dengan suara mesih pesawat yang mulai menyala.

"Ada serangan di Hawaii," jawab Alfred pendek dan langsung menarik kaca pelindung kokpit. Pesawat siap terbang dan mulai lepas landas dengan kilat, meninggalkan sang petugas dengan raut kebingungan.

~O~O~O~O~

Kiku terus melihat indikator bahan bakar yang tertera di hadapannya. Masih cukup untuk pulang-pergi dari Hawaii, begitu pikirnya. Tangannya yang terbalut sarung tangan terus memegangi setir kendali pesawat; dia bisa merasakan betapa dingin tangannya—dan terus bergetar. Hatinya terus berdebar. Dia tahu itu pasti efek dari serangan pertamanya—dan dia sangat optimis bahwa serangannya berhasil dengan mulus. Lambat laun Kiku bisa melihat kumpulan asap hitam membumbung ke angkasa; menghiasi langit biru yang perlahan-lahan memerah karena efek dari api. Kiku tersenyum lebar; sempat terlintas di pikirannya jika sumber dari asap tersebut berasal dari kekalahan tentaranya, bukan dari kehancuran pangkalan AL Pearl Harbor.

Kiku terbang mendekat ke sumber asap, dia bisa melihat hanya kehancuran yang tampak. Tentu saja kehancuran pangkalan militer Angkatan Laut Amerika Serikat yang terbesar di Asia Pasifik, Pearl Harbor. Mata merah Kiku terus memandangi beberapa kapal induk yang berhasil ditenggelamkan, banyak bangunan yang hancur, dan walaupun tidak terlihat dengan jelas—mayat mayat yang hangus terbakar bergelimpangan di mana-mana. Kiku mengarahkan pesawatnya lebih jauh untuk memastikan apakah Pearl Harbor ini sudah benar-benar lumpuh atau tidak.

~O~O~O~O~

Alfred tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kehancuran.

Kematian.

Kelumpuhan.

Bencana.

Alfred terduduk lemas dengan bertumpu sayap pesawatnya; sekarang sudah jelas bahwa penyampaian berita penyerangan terlambat datang; begitu juga dirinya yang terlambat untuk tiba di sini dan memperingati para tentara untuk segera bersiaga.

Tapi Alfred kembali berpikir, mungkin dia terlalu lengah untuk penyerangan seperti ini. Seharusnya dia tahu bahwa banyak kemungkinan besar negara-negara yang tergabung dalam blok Poros menyerang dirinya; walaupun dia tidak terlibat dengan perang—mungkin karena dia terus membantu Inggris dan Rusia dengan menjual senjata perang kepada mereka. Alfred juga berpikir bahwa para tentara Angkatan Laut yang ditempatkan di Pearl Harbor masih terlalu dini untuk bertugas—kurang pengalaman karena baru saja lulus dari akademi atau bisa saja terlalu mengandalkan persenjataan canggih yang tersedia di sini. Tapi tentu saja persenjataan secanggih apapun tidak bisa bekerja jika tidak ada yang mengoperasikan. Dan terakhir...ini hari Minggu. Hari saat orang-orang lengah dan dipenuhi dengan keinginan untuk bersantai. Alfred meninju tanah dengan sekuat tenaga sambil menggumam kutukan yang ditujukan untuk Jepang. Mengapa? Padahal mereka bersahabat dengan baik saat dulu, dan dia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan punya nyali sebesar ini untuk menyerang dirinya. Mata biru Alfred memanas sembari dia menggigit bibir bagian bawahnya sendiri. Pikirannya dipenuhi dengan perasaan marah bercampur dengan perasaan kecewa.

Alfred bisa mendengar ada langkah kaki yang ringan mendekati dirinya. Alfred mengusap air matanya dan mendongak ke arah sosok yang mendekatinya. Mata birunya melebar; terkejut dengan sosok yang baru saja dilihatnya.

"Sungguh kebetulan," ucapnya dingin; walaupun dia tersenyum. "Reaksimu bisa dibilang cepat walaupun keadannya...terlambat."

Alfred segera mengumpulkan tenaga untuk berdiri lalu menatap tajam ke sosok di hadapannya. Warna biru matanya menjadi biru es, siapapun yang melihatnya pasti merasa tertusuk. "...jelaskan alasan kenapa kamu menyerangku, Kiku. Dengar, pemecah kodeku berhasil mencerna rencana busukmu dan sayangnya bosku belum membaca permintaanmu untuk memutuskan hubungan diplomatik kita." Alfred melipat tangannya dan memasang wajah serius; walaupun lawan bicaranya bisa melihat ada kekecewaan yang tampak di wajahnya.

"Itu berarti lain kali aku harus membuat kode yang lebih sulit," gumam Kiku perlahan. "Oh? Alasan? Baiklah...dengarkan baik-baik. Aku mendapatkan titah dari Omikami Amaterasu—ditambah dengan semangat bos baruku—untuk menguasai seluruh Asia; di bawah naungan kekaisaran Jepang."

KLIK!

SRET!

"Turunkan senjatamu, Alfred-san. Sebelum kau sempat meledakkan isi kepalaku, aku bisa menjamin katana-ku sudah merobek lehermu duluan," pinta Kiku dingin; tangannya memegangi katana yang bagian sampingnya sudah menempel ke leher Alfred. Alfred hanya diam; matanya masih sedingin es dan raut mukanya menunjukkan kemarahan yang meluap-luap; di tangan kanannya terdapat pistol yang siap untuk menembak kepala Kiku dengan sekali menarik pelatuk.

"ITU TIDAK HARUS MENYERANGKU, KAN?" bentak Alfred yang kemarahannya sudah tidak dapat ditahannya. "Dan aku bisa menjamin kepalamu sudah meledak duluan sebelum kamu sempat menggorok leherku dengan pedang tumpulmu." Alfred melanjutkan dengan nada yang terdengar lebih dingin dari ucapan Kiku barusan.

"Kau mengganggu," jawab Kiku pendek sambil memicingkan mata merahnya. "Kau termasuk ancamanku untuk menguasai Asia; dan kau bisa kapan saja menguasai seluruh Asia dimulai dari pangkalan Angkatan Lautmu di sini serta kekuasaanmu di Filipina."

"ITU HANYA SPEKULASI TOLOLMU!" seru Alfred kesal dan makin mendorong mulut pistolnya ke kepala Kiku; walaupun dia bisa merasakan bilah katana yang dingin makin siap untuk mengiris kulit lehernya. "Kenapa, Kiku? Kenapa? Kamu bukan Kiku yang kukenal." Kemarahan Alfred berubah menjadi kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Sikapnya kembali melunak walaupun matanya masih sedingin es. Dia perlahan-lahan menurunkan pistolnya, diikuti dengan Kiku menyarungkan katana-nya.

Kiku kembali tersenyum dan mata merahnya merekah. "Jangan panggil aku Kiku, aku bukan lagi Kiku yang kau kenal. Aku adalah Kekaisaran Jepang yang berada di bawah kekuasaan Omikami Amaterasu. Tujuanku adalah mewujudkan Hakko Ichiu—delapan ujung dunia bernaung di bawah satu atap."

Alfred hanya bisa terduduk lemas; berat badannya hanya ditopang oleh lututnya dan kedua tangannya memegangi tanah yang berpasir. Kiku hanya menatap lama sosok negara (mantan) sahabat sisi baiknya dan berjalan menjauh.

"Aku menyatakan perang terhadapmu," sahut Alfred tercekat, tapi nadanya terdengar meyakinkan.

Kiku menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat ke lawan bicaranya. "Memang itu yang kuharapkan."

Alfred hanya bisa melihat sesosok Kiku—atau Kekaisaran Jepang yang dibalut oleh seragam serba hitam—yang perlahan menjauh dari dirinya; meninggalkan dirinya yang sedang terduduk lemas, meratapi apa yang baru saja dilakukan oleh sahabatnya.


8 Desember 1941


Lee Kirkland terus memandangi langit biru yang tidak berawan sama sekali. Cuaca sedang cerah walaupun musim dingin sedang berlangsung. Tapi entah kenapa hatinya terus merasa gundah; merasakan hal buruk akan terjadi. Saat Lee beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba dia dirangkul dari belakang dengan kuat dan sebilah pedang menempel di depan tenggorokannya. Suara dingin terucap; menggelitik daun telinganya karena jarak antara bibir dan daun telinganya begitu dekat.

"Halo Hong Kong-san. Sudah lama tidak bertemu. Masihkah kau ingat dengan diriku?"

BERSAMBUNG


[1] ABCD alias American-British-Chinese-Dutch adalah front (kalau gak salah) yang melakukan embargo terhadap Jepang. Beda sama ABDACOM yang bakal saya munculkan di bagian selanjutnya :D. Maaf saya salah, sebenarnya Belanda sama Inggris dulu yang melakukan embargo, baru AS *sembah sujud minta ampun*.

[2] Sekitar April atau Mei 1941, Jepang merencanakan 'rencana Selatan' untuk menguasai Asia Tenggara yang sebagian besar ditinggalkan kompeni-nya yang lagi sibuk perang (fokusnya ke jajahannya Belanda ma Inggris), dan 'rencana Timur' diciptakan karena Jepang berspekulasi jika mereka menyerang koloni Inggris, sudah pasti AS akan terlibat karena hubungan AS-Inggris sangat akrab (sayangnya spekulasinya belum tentu benar).

[3] Sebenarnya serangan 7 Desember gak terlalu sukses, karena bagian-bagian yang lebih penting daripada kapal perangnya—pesawat tempur dan bahan bakar—tidak tersentuh sama sekali.

[4] Lend Lease program itu perjanjian antara AS-sekutu, yaitu AS menjual senjata kepada para sekutu, khususnya Inggris (yang udah mohon-mohon sama AS untuk gabung perang lol) dan Uni Soviet. Hal ini membuat AS semakin kaya di atas penderitaan rakyat Eropa (saya jauh lebih suka Alfrednya daripada AS-nya -_-).

[5] 8 Desember 1941 Jepang menyerang British Hong Kong dan berhasil direbut pada tanggal 25 Desember 1941. Banyak tentara Kanada sama tentara sukarela Hong Kong yang terlibat. Markas AS di Pulau Guam dan Pulau Wake juga berhasil direbut di waktu yang sama.

[6] Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo (masa pemerintahan 1941-1945) termasuk salah satu promotor (?) yang mendorong Jepang untuk menyatakan perang dan berperang kepada AS. Pada tahun 1948 beliau diadili sebagai penjahat perang.

[7] Blok Poros = Blok Axis. Saya jadi inget pas kelas sembilan...saya gak terima kenapa nama 'Axis' yang jauh lebih keren malah dijadiin 'Poros' –w- #gaknasionalis


A/N: Yihaaa dari Hawaii menuju ke Hong Kong~~. Terima kasih buat kalian semua! Kalian bisa dan paham menghargai perjuangan saya memahami ini ;;w;; *peluk peluk pembaca*. Sebenernya saya gak pernah kepikiran untuk memperdalam Perang Pasifik; karna saya lebih suka medan Afrika Utara (di sana banyak USUKnya lol 8DD). Tapi karna udah sejauh ini...ah sudahlah banyak bacot dah saya. Oh ya ada tiga hal yang ingin kusampaikan, yang gak mau baca saya mogok lanjut ke bagian ketiga *digebuk*

[1] Saya punya kuis! Hideki Tojo-san muncul di sini loh! Bagi yang bisa nunjuk di mana dia muncul (?) saya kasih tautan salah satu doujin: USUKUS/RussPrus/RussChi/PolLieth/GreePan/DenNor/SuFin/Spamano/GerPrus/PrusHung/SwitzLiech/PrusAus/NorIce! #promosi

Pemenang bisa pilih mau doujin pasangan mana yang tertera di atas~ ^^v (kalau bisa login ya :DDD).

[2] BUTUH NAMA MANUSIA INDONESIA! Mau cewek atau cowok, terserah! Yang bisa kasih nama terbaik (lebih bagus ditambah makna); saya kasih lagi tautan doujinnya hahaha~

[3] BUTUH SARAN! Saya lagi mandek di bagian ketiga karena kebimbangan sumber mana yang harus saya pegang...Wikipedia (yang lengkap tapi saya gak mudeng) atau Encarta (bahasanya mudah dicerna tapi resiko wawasan berkurang). Yang bisa kasih saran terbaik saya kasih lagi tautan doujin hahaha~

[4] Maaf ya di bagian pertama (walaupun gak ada yang memperingatkan) tapi saya SOK TAHU banget...maaf banget *sembah sujud lagi*.


Dengan kata lain, yang bisa memenuhi tiga permintaan laknat dan lancang saya bisa dapat tiga doujin sekaligus nyahahaha~ :DDD #dibakar