Mad City

Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul


2


Karena saat aku post ini, ffn (terutama reviewnya) lagi error, awalnya agak ragu buat ngepost hari ini. Tapi ini dia...


Ada banyak hal di dunia yang tercipta begitu kontras. Hitam dengan putih, berkecukupan dan kekurangan, rajin dengan malas, bising dan hening.

Terdapat banyak hal yang bertolak belakang namun saling beriringan.

New York sendiri memiliki kekontrasan itu. Saat kakinya melangkah lebih dalam lagi menuju Paley Park, Ten tau raganya masih berada di tengah kota namun dengan keadaan yang berbeda.

Ukurannya sendiri sangat kecil, mungkin hanya sekitar 400 meter dengan beberapa kursi di dalamnya. Ten memilih salah satu kursi kosong yang berada paling dekat dengan air terjun buatan itu, mengistirahatkan telinganya dari kebisingan kota.

"Setelah ini kita kemana?" Tanya Ten kepada satu-satunya orang yang duduk di meja yang sama dengannya, Johnny yang masih berkutat dengan buku What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell.

"Museum of Modern Art, bagaimana?"

"Kau suka museum?"

Basa basi, sebenarnya ,sih, ia ikut ikut saja mau diajak kemanapun.

"Biasa saja. Tapi menurutku museum seni kontemporer seperti itu memang tidak selalu membosankan. Kau tidak suka?"

"No, no. It's okay."

Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan Paley Park menuju Museum of Modern Art yang memilki bangunan yang sama modernnya dengan namanya.

Dengan berbagai karya seni yang mengelilinginya, Ten merasakan dimensi berbeda telah menguasainya. Entah lukisan The Starry Night ataupun The Persistence of Memory yang seperti menariknya ke alam mimpi dan juga berbagai film yang menariknya ke masa lalu.

Ketika ia melihat sekeliling, ia sudah kehilangan Johnny. Bagus sekali.

Melanjutkan langkahnya untuk masuk lebih jauh lagi, yang kali ini ia temukan adalah seorang laki-laki berambut silver yang sedang terduduk di salah satu kursi, kakinya lurus kedepan dengan balutan ripped jeans berwarna hitam.

"Hei."

Ten mendudukan dirinya di sebelah Taeyong yang juga menatapnya balik. Tidak ada emosi disana. Kosong atau mungkin Ten yang tidak bisa membacanya.

"Kita bertemu lagi di sini." Lanjutnya dengan senyuman meski ia memiliki puluhan persen keyakinan jika senyuman itu tidak akan terbalaskan.

Tidak ada kalimat lagi di antara mereka. Hanya suara langkah di belakang yang mengisi telinga masing-masing.

Bermaksud untuk membuka pembicaraan, tetapi Lee Taeyong sudah terlanjur berdiri.

"Kau sendirian?" Tanya Ten lagi yang ikut berjalan di belakangnya.

"Hm."

Ck. Jawaban macam apa.

"Sekarang mau kemana?"

Menghujani dengan berbagai pertanyan, sudah seperti menginterogasi.

"Pulang."

Pulang? Ten pikir dia tipe laki-laki yang suka berpergian. Pulang saat jam menegaskan bahwa hari sudah pagi.

Tetapi sebagaimana keindahan sebuah sastra saja tidak diukur melalui bagus atau tidaknya sampul, semua pilihan Taeyong adalah masuk akal.

Tidak ada alasan khusus bagi Ten untuk mengekor Taeyong menuju bagian luar dari museum ini. Hanya saja ia sendiri, barangkali dengan mengikuti laki-laki berambut silver ini bisa mengantarkannya kepada Johnny yang entah ditelan bumi atau bagaimana.

Ketika langkah Taeyong membawanya menuju trotoar di sisi 53rd Street, Ten tau bahwa ia baru saja meninggalkan Johnny di dalam sana. Jadi dia langsung mengambil handphone di saku celananya lalu mengetikan beberapa kalimat untuk dikirim.

"Kau tinggal di sini?"

Laki-laki yang lebih pendek mengagkat kepalanya. Semenjak tidak ada orang Korea lain di sekeliling mereka, Ten berasumsi bahwa suara barusan memang suara Lee Taeyong yang ditujukan kepadanya.

"Iya, untuk sekolah."

Ten sedikit mempercepat langkahnya sehingga berjalan beriringan dengan laki-laki berambut silver ini.

Lalu Taeyong bertanya lagi, "Memangnya kau sekolah dimana?"

"New York University."

Ten tidak tau apakah ia baru menyebutkan nama sekolahnya sendiri dengan keliru atau mengucapkannya dengan aksen yang aneh, namun Taeyong langsung menatapnya. Membuat Ten harus buru buru memutus kontak mata agar tidak terlihat canggung.

"Uh… Bagaimana denganmu? Kau memang warga di sini atau…."

Dan Taeyong mengangguk.

"Keluargaku memang tinggal di sini."

So, he's really a citizen?

Lee Taeyong membawanya mengelilingi Manhattan dengan hebatnya hingga membuat Ten sedikit ragu apakah setelah ini ia bisa pulang dengan lancar atau tidak. Namun akhirya mereka bukan berhenti di sebuah rumah atau apartment yang bisa dijadikan 'rumah' bagi Taeyong. Di sekelilingnya sekarang adalah pepohonan hijau dan banyaknya orang yang berlalu-lalang. Dan dari tempatnya berdiri sekarang, Ten dapat melihat Flat Iron Building di arah barat.

"If you wouldn't mind, how about we eat first?" Tanya Taeyong, masih dengan kondisi berjalan di samping Ten.

"No problem."

Mereka berhenti di depan gerai Shake Shack yang sama ramainya dengan seisi Madison Square Park ini. Duduk di kursi bagian tengah dan ditemani dengan Shack Stack milik Taeyong dan Smoke Shack di tangan kanan Ten, mereka menikmati makan siang hari itu dengan tenang. Tenang dalam artian tidak mendapatkan hambatan sedikitpun.

"Setelah ini kita akan langsung ke dormmu saja."

Ten mengerutkan dahinya. Bukankah tadi laki-laki ini yang bilang kalau dia ingin pulang? Kenapa jadi Ten yang harus diantar?

Namun Taeyong melanjutkan, "Dormku jauh dari sini."

"Memangnya kau sekolah di mana?"

"Columbia University."

Kalau tadi Taeyong adalah satu satunya yang menatap Ten setelah ia menyebutkan nama kampusnya, sekarang gantian Ten yang menatap Taeyong dengan muka –agak terkejutnya.

"Kau berhasil masuk situ? Wah, kau pasti sangat pintar."

"Tidak juga." Matanya langsung beralih kearah kiri bawah, lalu kembali ke burgernya yang tinggal satu per empat.

Mungkin sekitar empat puluh menit sampai akhirnya mereka berdiri dan meninggalkan Madison Square Park, berjalan bersama menuju Fifth Avenue. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya pertanyaan seputar New York atau kampus mereka masing masing.

"Jadi kau Sternie?" Taeyong menoleh ke arah Ten yang langsung mengangguk pasti. Sternie atau sebutan untuk para mahasiswa bisnis Leonard N. Stern NYU dan terbesit rasa bangga yang cukup membuat dirinya jauh lebih baik ketimbang saat ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Juilliard School bukanlah takdirnya.

"Bagaimana denganmu?" Ten bertanya balik.

"International and public affairs."

Yang berambut hitam hanya mengangguk, tidak menemukan hal lain yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Ketika setiap langkah kaki itu mengantarkan mereka kepada Rubin Hall, dorm Ten, tempat itu juga yang menandakan perpisahan mereka di hari itu.

"Thanks for today, Lee Taeyong!" Ten tersenyum ke arahnya sedangkan yang disebut hanya mengangguk meskipun Ten yakin seratus persen bahwa laki-laki itu baru saja ikut tersenyum.

Ketika Taeyong hampir melangkahkan kakinya menjauh, Ten berdeham.

"Kau citizen, kan? Besok ada rencana jalan-jalan lagi, tidak?"

"Tidak tau."

"Kalau begitu besok kita jalan-jalan lagi, mau tidak?"


Jam menunjukan pukul sembilan saat handphonenya berbunyi dan menampilkan pesan masuk di lockscreennya. Tidak menunggu berdetik-detik sampai ia menyambar coat yang ada di tempat tidur dan langsung berpamitan pada Johnny yang menatapnya bingung dari sofa ruang tengah.

Terburu-buru dikejar waktu pada awalnya namun berubah 180 derajat menjadi santai saat pintu masuk sudah berada di depannya.

Tidak boleh berlebihan.

"Hei, maaf sudah membuatmu menunggu," ujar Ten sambil mengusap tengkuknya

"Tidak apa-apa."

Pagi itu cukup cerah, mendukung perjalanan mereka dan ratusan bahkan ribuan pejalan kaki New York lainnya.

"Kita mau kemana?"

Taeyong balik bertanya, "Mau museum, taman atau tempat belanja?"

"Bagaimana kalau semuanya?"

Ini kan masih pagi jadi tidak mustahil, pikir Ten.

"Kalau ke Grand Central bagaimana?"

Percakapan mereka jadi berubah dengan saling mengungkapkan pertanyaan.

"Itu terminal, kan?"

Taeyong mengangguk dan Ten langsung setuju.

Kalau dibandingkan dengan Central Park atau Madison Square Park yang sudah ia kunjungi sebelumnya, Grand Central Terminal adalah hal baru bagi Ten. Menyesal juga mengapa ia tidak mengunjungi tempat ini sejak dulu.

"Ini keren sekali. Kau sudah sering kesini?" Tanya Ten yang masih sibuk menatap berbagai sisi bangunan.

"Tidak juga. Tidak banyak yang bisa ku lakukan di sini."

Tidak banyak yang bisa dilakukan di sini katanya sementara banyak sekali manusia yang berlalu lalang di sini.

"Atapnya juga keren sekali."

Ten sudah berasa seperti anak kecil yang kagum melihat betapa indahnya dunia luar. Tetapi kali ini ia serius. Langit-langit bewarna biru hijau yang dipenuhi berbagai mural zodiak yang begitu menakjubkan, setidaknya bagi Ten.

"Tau tidak? Dulu langit-langit ini sempat kotor dan berubah menjadi warna hitam. Awalnya mereka mengira kalau itu disebabkan oleh asap dari kereta, tetapi ternyata bukan itu penyebabnya."

"Terus apa?"

"Asap rokok. Separah itu, ya akibatnya?"

Ten langsung mengangguk setelah mendengarkan penjelasan Taeyong barusan. Namun rasanya ia belum puas. Bagaimana laki-laki ini menjelaskan sejarah dengan memikatnya.

Ten bersedia kembali SMA dan belajar sejarah tiap hari kalau memiliki guru seperti Lee Taeyong.

"Lihat kotak kecil bewarna hitam itu, tidak?"

Yang lebih pendek langsung menyipitkan matanya, mencari objek yang Taeyong maksud dengan teliti. Saat ia menemukannya di dekat gambar kepiting, ia langsung kembali semangat.

Dia melanjutkan, "Waktu dibersihkan, mereka sengaja meninggalkan kotak kecil itu sebagai pengingat kalau langit-langit ini pernah separah itu. Bisa dijadikan self reminder juga."

Sepuluh menit kemudian, setelah Ten sedikit lebih puas mendengarkan penjelasan Lee Taeyong dan mengambil gambar, mereka meninggalkan tempat itu menuju tempat lain yang ingin Taeyong tunjukan.

"Ini Whispering Gallery, kan?" Ten mengenal tempat ini. Kalau tidak salah, temannya pernah bercerita tentang bagaimana menakjubkannya bagian dari terminal yang satu ini.

"Iya. Mau coba?"

Tidak ada yang bisa mengalahkan semangat Ten saat mengantre bersama orang-orang lainnya, bahkan anak-anak sekitar umur tujuh tahunan yang berdiri tegap di belakangnya.

"Lee Taeyong, kau mendengarku?"

Kalau saja ini bukan Whispering Gallery atau kalau saja ada orang yang tidak tau, mungkin ia sudah di cap orang gila. Berbicara pada tembok di depannya.

"Tentu saja."

Dan Ten langsung berbinar saat mendengar suara Taeyong yang kelewat jelas dan keras. Tidak menyangka sebuah arsitektur bisa sekeren ini. Ajaib!

"Mengapa bisa jelas sekali, sih? Ini keren sekali."

"Dari sini pun aku dapat melihatmu yang sangat excited."

Ia langsung membalikan tubuhnya. Dan dari jarak sejauh ini, Ten bersumpah ia baru saja melihat Taeyong tersenyum.

"Memangnya kelihatan sekali, ya?"

"Anak kecil di belakangmu itu juga tau kalau kau sangat senang, Ten."

Tidak bisa untuk tidak tersenyum, Ten membiarkan bibirnya tertarik ke atas.

"Setelah ini kita keliling, ya. Lalu setengah satu kita makan siang."

"Baik, Tuan Lee."


Makan siang versi Lee Taeyong hari ini adalah Bryant Grill Park yang sangat ramai. Duduk di dekat jendela dengan posisi berhadapan, ditemani dengan spicy thai coconut seafood noodle soup dan east coast fish and chips di depan mata masing-masing dan chocolate peanut butter s'more di tengahnya.

"Bisa kita skip entreesnya tidak? Aku penasaran sekali dengan rasa s'morenya."

"Save the best for the last, Ten."

"Ish."

Daripada dihujani dengan tatapan tajam untuk kelima kalinya dari Taeyong, Ten menghabiskan piring fish and chipsnya dengan cukup cepat.

Dengan sendok di tangan masing-masing, Taeyong tersenyum miring. "Sudah siap?"

Ten tidak bisa untuk tidak mengangguk semangat.

Dan semua kesabarannya terbayar. Ini makanan dari surga!

"Oh my god, ini enak sekali."

"Lebih enak dari shake shack kemarin?"

"Setara."

Satu piring pun rasanya tidak cukup untuk membayar keinginan Ten untuk memasukan s'mores itu ke dalam kerongkongannya. Ia mau lebih. Berjanji untuk mengajak Johnny ke sini di lain waktu.

"Ck, kau mengambil banyak sekali, Lee Taeyong. Lihat piringnya sudah kosong sekarang."

Yang disalahkan langsung mengernyit, "Kau bahkan memakan bagianku. Aku melihatnya!"

Pouting. Semua cara langsung di lakukan kalau sudah begini.

"Yasudah, setelah ini kemana?"

.

.

.

TBC

.

.

a.n: lama-lama ini ff berasa buku panduan;-; intronya begini dulu ya, kawan. Setelah ini baru muncul beberapa hal aka konflik & moment.

Don't forget to follow, fav & review walaupun ffnnya lagi error ya, gengs! Thank you~