Yosh! Yosh!

Ini dia chap kedua dari LNOFP. Saia harus berterimakasih banyak pada para readers yang udah rela menyakiti(?) matanya dengan fic saia yang tidak istimewa ini. Tapi-tapi…saia mengetiknya dengan perasaan sangat senang. Biar begadang dan besoknya harus siap-siap ngurus bazaar disekolah, saia tidak akan menyerah* back sound- Jangan Menyerah by D'Masiv*. Sebelum mulai ficnya, Saia balas ripiuw dulu ya..^_^

Icha yukina clyne : huwaa…makasih banyak. Kamu first reviewer fict saia yg ini.*menangis terharu*

Uhmm..soal siapa suka siapa yg duluan, kita lihat saja nanti*smirk* oh iya, saia ini junior kok. Jadi ga usah panggil senpai ya, Yurie aja.. Yosh! ini updateny..^_^

Hikari Senju : kyaaa..*balas peluk*boleh aja, tp biasanya saia dipanggil Yurie-chan ;). Natsu-chan juga boleh kok, terserah Hikari-chan saja ^_^(boleh panggil begitu?). Sasuke memang cool, and that's why I like, no..love him.. ;) Romancenya ditunggu saja ya ;) Ini updatenya

Nakamura Kumiko-chan : salam kenal juga Miko-chan senpai.. :) Arigatougozaimasu atas saran-sarannya. Itu sangat berarti buat saia. Saia akan berusaha senpai !* semangat membara* Sekali lagi, terimakasih ya senpai, mohon bimbingannya*nunduk-nunduk*

KOPLAK-kun-tul: okeh!

Athena Blackblue : makasih ya udah follow..*terharu*Yosh! Ini updatenya

Ryuna sana: makasih ya.. ini updatenya

7color : Yosh! Ini updatenya :)

4ntk4-ch4n: antka-chan(maaf, boleh tulis begitu saja? Kalo ga, bilang ya . Ini updatenya…semoga suka ya..

Key is my name: Iya nih, Sakura nakal. Habis dia benci pelajarannya sih. Soal hubungan mereka selanjutnya, kita lihat saja ya.. ;) Yosh! Ini updatenya..

Uchiha Sakura97 : Sasuke lucu? Tidak! Dia keren! Tapi..nge-gemesin juga sih*senyum-senyum gaje* Eh? Lucu sama nge-gemesin beda ato sama ya? Saia juga kurang tahu.*digeplak* yosh, ini update nyo..^_^

~23NYU31~

Disclaimer : Yang punya chara dari Naruto ya Forever Mas Ashi Kishimoto* kalau saya yang punya mah, sudah saya boyong Sasuke dari dulu jadi suami saya…^_^a**timpuked all*

Tapi LNOFP punya saia…*bangga**dilempar panci ma tetangga*

Pairing : Sasusaku, GaaSaku, ShikaIno*bisa berubah(?)ada request?* *ga jelas amat nih author!*

Warning : gaje, abal, typo*mungkin*,maybe OOC, tata bahasa aneh, pokoke kekurangan yang lainnya lah…don't like don't read. Just klik 'BACK" key,okay?^^

Summary : Terkadang kebiasaan menjadi suatu keharusan. Saat kebiasaan itu hilang, mungkin akan ada yang tidak terbiasa dan kehilangan. Tapi, apakah MENYEBALKAN bagi seseorang juga termasuk kebiasaan? Kalau sifat itu hilang, ada jugakah yang kehilangan? Baca aja ya…*ga bisa buat summary*

Nanti tolong ripiuw ya, flame juga mungkin dipertimbangkan..*saia memang baik hati, hohoho**ditampar ma readers*

Okelah daripada saia semakin ngalor ngidul ga tentu, monggo..

~^^happy reading^^~

Love Not Only From Pink

Chap 2 : Begin of Something

Istirahat kedua tinggal 3 menit lagi. Sakura masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, jemarinya memegang pagar pembatas atap sekolah. Angin bertiup lembut, membelai wajahnya, memainkan rambut pink-nya pelan. Sakura masih tidak percaya kalau Tuhan begitu cepat menolak doanya. Saat hampir seluruh Kiseki Gakuen-nama SMA Sakura- terjangkit SUS (Sasuke Uchiha Syndrome), yaitu suatu penyakit yang menyebabkan penderitanya selalu membicarakan, memperhatikan, mengikuti bahkan memikirkan seorang Sasuke Uchiha diluar batas kewajaran, mungkin hanya Sakura yang tidak terkena. Bahkan Ino yang sudah punya pacar pun ikut-ikutan. Atau dia bukannya tidak terkena, hanya saja belum?

Huh, Sakura menepiskan pikiran 'aneh' itu sejauh-jauhnya. Sakura Haruno tidak akan semudah itu tertipu oleh tampang! Begitulah Sakura meyakinkan dirinya.

Sakura melangkahkan kakinya ke kelas dengan malas. Pelajaran selanjutnya adalah Kimia oleh Kabuto-sensei. Sakura memang membenci pelajaran yang satu ini, tetapi sebelumnya ia tidak pernah berniat bolos. Walaupun ia tidak pernah mengerjakan tugas Kimia, setidaknya persentase kehadirannya 100%. Walaupun juga ia hanya menitipkan badannya untuk duduk dikursi, sedangkan jiwanya melayang entah kemana.

~23NYU31~

Sakura POV

"Sakura, Ibu dan Ayah mau kerumah Nenek besok. Nenek katanya butuh bantuan menggarap ladang peninggalan Kakek yang disebelah timur itu. Kau ikut ?" Ibu bertanya sambil meletakkan cumi goring keatas meja makan. Aku ikut meletakkan 3 pasang sumpit dan 3 mangkuk nasi, semua kususun dengan rapi diatas meja.

"Garap ladang Bu? Berapa lama?" sahutku. Ibu mengangkat bahu pelan. "Lamanya belum pasti. Tergantung kerjanya nanti gimana. Mungkin sekitar satu bulan." Aku berpikir sebentar. Satu bulan? Minggu depan kan ada banyak tes yang tidak bisa aku tinggalkan. Kalau gagal, aku bisa saja tidak naik kelas. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

"Bagaimana Sakura? Kau ikut tidak?"

"Uhhmm…minggu depan kami ada tes Bu, aku ga yakin.." sahutku ragu.

"Ya sudahlah, kau tinggal saja Sakura,'' Ayah muncul dari tangga tanpa menimbulkan suara. Aku dan Ibu menoleh. Mata ayah beralih keatas meja makan yang telah berisi menu makan malam kami.

"Sepertinya makan malamnya sudah siap. Sebaiknya kita makan sekarang, mumpung masih hangat." Ayah langsung berjalan kemeja makan dan mengambil posisi duduknya yang biasa. Aku dan Ibu mengikuti. Kami mulai makan setelah mengucapkan 'Itadakimasu' berbarengan dengan pelan.

"Apa tidak apa-apa Sakura tidak ikut Ayah?" kali ini suara Ibu yang terdengar ragu. Ayah meminum air putih digelasnya. "Sakura sudah besar, jadi Ayah rasa tidak apa-apa, benar begitu kan Sakura?"

"I-iya, Sakura rasa juga begitu." Jawabku sambil terus melanjutkan mengunyah makananku. "Aku tidak apa-apa kok sendirian disini" sambungku. Padahal dalam hatiku berkata lain.

Ugh, gara-gara kalimat Ayah barusan, aku jadi tidak bisa menolak . Ayah itu sangat ahli 'mewujudkan' pemikirannya. Sebenarnya aku ingin ikut. Nenek memang cerewet, tapi aku suka suasana disana. Sangat suka. Pedesaan yang hangat dan damai. Ladang yang membentang disepanjang jalan, ternak yang berkeliaran dengan santai, juga suara gemericik air sungai yang mengalir lembut dibelakang rumah Nenek. Senyum ramah semuanya, ahh…betapa damainya…

Lagipula, tanpa Ayah dan Ibu, rumah ini pasti akan terasa sunyi sekali. Aku pasti kesepian.

Normal POV

Sakura berlari-lari menuju gerbang sekolah yang terbuka tinggal sedikit lagi. Gerbang itu terus bergerak perlahan. Mempersempit ruang diantaranya.

"Ahhh…tunggu Pak…tunggu," teriak Sakura sekuatnya. Ia menatap jam tangan dan gerbang sekolahnya bergantian. "Cepaaattt..!" Satpam gerbang sekolahnya balas berteriak. Dengan keahliannya menyelip, akhirnya Sakura berhasil masuk. "Terimakasih Pak!" Sakura membungkukkan badannya sebentar lalu kembali berlari ke kelasnya. "Tumben sekali gadis itu terlambat," gumam Satpam itu menggeleng pelan sambil memasang gembok seberat 1 kg*HAH? Yang benar saja!* dirantai gerbang Kiseki Gakuen.

Sakura terus berlari. Ia belum menyelesaikan tugas Bahasanya hari ini.

'Dasar bodoh,' maki Sakura dalam hati. Benar-benar payah. Baru saja ditinggalkan Ibu dan Ayahnya selama satu hari, hidupnya sudah mulai berantakan. Ia telat bangun, karena biasanya Ibu akan membangunkannya dengan teriakan yang amat sangat tidak baik untuk pendengaran lantaran frekuensinya yang diambang batas normal, sedangkan pagi itu tidak ada. Lalu ia juga belum sarapan pagi, biasanya ayah yang ribut soal sarapan ini. Tambahan lagi, bisa-bisanya ia lupa mengerjakan PR pelajaran Bahasa yang biasanya selalu ia kerjakan dengan senang hati. Gara-gara keasyikan baca salah satu komik favoritnya, Eyeshield 21*maafff…saia pinjam dulu ya* sampai dini hari.

Sakura berlari di koridor sambil terus menyesali kesialannya hari ini. Saat mau berbelok kearah kelasnya,

Brukkkk…

Tubuhnya menabrak seseorang tanpa ampun. Sakura langsung tersungkur. Sementara orang yang ditubruknya ikut terjatuh dihadapannya. "Aduuuhh..maaf. Aku buru-buru tadi," seru Sakura cepat. Matanya menatap orang yang ditabraknya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya lelaki bertato 'ai' dan berambut merah dihadapannya. Ternyata Gaara.

"Ah..Gaara. Maaf, aku menabrakmu. Aku buru-buru tadi," Sakura tampak salah tingkah. Selama ini ia jarang berbicara dengan Gaara. Gaara dibenaknya adalah orang yang sulit didekati. Ia adalah ketua kelas yang pendiam, tapi disegani karena kecerdasan dan tanggungjawabnya. Setidaknya itulah yang Sakura tahu.

"Ga masalah. Kau tidak apa-apa kan?" Gaara kembali mengulang pertanyaannya. Sakura mengangguk. Suasana hening sejenak.

Huppp.

Gaara bangkit dari jatuhnya. Mengibaskan celananya yang mungkin sedikit bernoda akibat jatuh tadi.

"Sakura, kau bisa berdiri?" tanya Gaara pelan. Matanya memandang Sakura yang masih terduduk dilantai. "Mau kubantu?" Gaara mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum kecil pada Sakura. "Ah..i-iya," Sakura menyambut uluran tangan Gaara. "Terimakasih," ujar Sakura sambil tersipu. Semburat merah tipis muncul dipipinya. Gaara hanya membalas dengan senyuman. Suasana kembali hening kembali. Saat itulah Sakura menyadari sesuatu.

"Ahh..PR ku" teriaknya kencang. Gaara saja sampai tersentak. Sakura langsung berlari meninggalkan Gaara yang masih terkejut karena teriakannya yang tiba-tiba. Tapi, setelah 5 langkah Sakura membalikkan badannya. "Ano..Gaara, aku duluan ya. Maaf sudah menabrakmu," Sakura membungkukkan badannya. "…dan juga terimakasih.." Sakura mengangkat punggungnya dan tersenyum tulus pada Gaara. Lalu ia pun berbalik dan melanjutkan larinya menuju ruang 2-1 IPA. Kelasnya. Kelas Gaara juga.

Gaara memandang punggung Sakura yang berlalu sambil tersenyum simpul. Ia hampir saja lupa tujuannya ke ruang kepala sekolah. Tanpa disadarinya, sepasang onyx sebenarnya telah memperhatikannya sejak tadi.

Hosh…hosh… nafas Sakura seakan berlomba keluar masuk dalam paru-parunya. Sesampainya dikelas, Sakura langsung menyerbu Ino yang sedang mengobrol melalui HP, mungkin dengan Sai.

"I-Ino…hosh..hosh..pi-pinjam..hosh.." seru Sakura terbata-bata. Ino memandangnya dengan aneh. "Hei, kau kenapa Sakura? Nafasmu seperti orang mau mati saja." Sakura menggeleng. Jujur, rasanya Sakura ingin menjitak kepala Ino. Tetapi, ini bukan saatnya meladeni Ino. PRnya adalah yang paling utama. Atau ia akan dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran dan berdiri dengan satu kaki dihalaman sekolah. Sakura segera mengatur nafasnya cepat.

"Ino, aku pinjam PR Bahasa mu. Aku belum selesai." akhirnya Sakura mengeluarkan kalimat yang bisa dimengerti oleh Ino. "Oh, bilang dong dari tadi." sahut Ino. Ino pun mengeluarkan buku PR-nya dan menyodorkannya pada Sakura. "Sankyu," ujar Sakura cepat lalu segera mengambil posisi di bangkunya. Sekilas dilihatnya, si bocah Uchiha tak ada ditempatnya. Bagus, batin Sakura sedikit senang. Setidaknya ia tidak harus menambah daftar kesialannya dengan melihat wajah sok ganteng cowok menyebalkan itu.

"Tumben kau tidak mengerjakan PR bahasa, Sakura? Kau juga hampir telat." Ino kini menghadap ke Sakura. Sepertinya ia telah selesai mengobrol melalui HP-nya. "Panjang ceritanya," jawab Sakura tanpa memalingkan wajahnya, apalagi menghentikan gerakan mencontek dengan secepat kilatnya*mohon, jangan ditiru ya*. Ino mengangguk-angguk tanda mengerti. "Nanti pasti kuceritakan dikantin," sambung Sakura. Ia tahu Ino pasti ingin tahu. Ino tersenyum cerah."Oke!"

Suasana kelas sedikit lebih damai dari hari biasa. Selain karena ada PR Bahasa, yang belum selesai jadi sibuk mengerjakan (baca: mencontek) PR, ada faktor lain yang sangat berpengaruh. Apalagi kalau bukan ketidakhadiran si Rambut Pirang Jabrik yang tidak masuk hari ini. Katanya dia mengunjungi Pamannya yang masuk RS gara-gara sport jantung dikejutkan olehnya di Kedai Ramen.

Bruakkk!

Tiba-tiba pintu kelas ditendang dengan kuat. Sasuke muncul dengan wajah datar. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku. Tanpa bicara apapun, ia melangkah menuju kursinya dengan tenang. Seluruh penghuni kelas yang tadinya menatap kearah pintu mengikuti gerakan Sasuke. Kecuali Sakura. Sakura justru menambah kecepatan menconteknya. Ia sudah tidak peduli kalaupun tulisannya nanti hanya bahkan tidak bisa dibaca olehnya sendiri. Pokoknya selesai, pikir Sakura.

"eh..eh…Sakura. Sasuke kembali tuh" Ino sibuk menggoyang-goyang lengan kiri Sakura yang menahan buku PR milik Ino agar tidak bergeser dari tempatnya. "Ino, lenganku…" sentak Sakura sedikit kesal sambil menarik kembali lengannya. Ia bahkan tidak berminat untuk mengalihkan pandangannya dari buku PR dihadapannya.

"Wah, ada yang tidak mengerjakan tugas rupanya." suara sinis terdengar begitu jelas ditelinga Sakura. Sejelas keyakinannya, bahwa siapapun yang bicara barusan pasti menujukan kalimatnya untuk Sakura. Bermaksud memancing kekesalannya. Sakura tidak menoleh. Ia tetap menyalin PR itu. Menahan kekesalannya. Ini masih pagi, dan seorang Sakura Haruno tidak ingin semakin menambah daftar kekesalannya secepat itu. Tapi sepertinya tidak juga…

"Tidak kusangka, selain berisik dan kasar, kau ternyata juga amat pemalas."sambung Sasuke sambil duduk dibangkunya. Pena ditangan Sakura berhenti bergerak. Dengan kesal Sakura bangkit dari kursinya dan melangkah kearah Sasuke. Wajahnya tampak sangat marah.

"Kau bilang apa tadi?" seru Sakura keras. Ino dan yang lainnya menatap kearah mereka berdua.

"Tidak ada siaran ulang." Sasuke menyahut santai. Onyxnya memandang Sakura tajam. Sakura melotot. Cowok ini benar-benar menyebalkan.

"Kau! Jangan seenaknya mengataiku begitu. Kau kira kau siapa, hah?" bentak Sakura emosi. Semua berbisik-bisik. Sakura berani membentak seorang Uchiha? Wow.

"Aku?" Sasuke menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya sendiri. "Iya! Kau! Jangan mentang-mentang kau orang kaya, seenakmu saja ya!"

"Tidak kusangka, selain berisik, kasar, pemalas, kau juga pelupa dan bodoh." ujar Sasuke dengan pandangan datar. "Apa sih maksudmu?" emosi Sakura sudah sampai ubun-ubun. Pena ditangannya sudah terlempar entah kemana. Ino sigap menarik Sakura menjauh dari Sasuke, sebelum terjadi sesuatu yang gawat. "Lepaskan aku Ino! Cowok itu harus diberi pelajaran etika." Seru Sakura sambil mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Ino.

Kau juga harus Sakura, keluh yang lain dalam hati. "Sudah Sakura..sudah..tenang.." Ino berusaha meredakan amarah Sakura. "Dia keterlaluan!" bantah Sakura. "Hn. Itukan kata-kata si Dobe. Kau memang bodoh," Sasuke hanya memandang Sakura datar. Seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Ugh, ingin rasanya Sakura menonjok wajah itu.

"Lepaskan aku Ino. Aku ingin menghajar wajahnya." Sakura terus mencoba lepas dari cengkeraman Ino. Ino mulai kewalahan.

"Shikamaru, cepat bantu aku menahan Sakura."

"Cih..Kenapa harus aku sih?"

"Karena kau Wakil Ketua Kelas, baka!" seru Ino nyaris berteriak. Shikamaru mendecih kesal sambil bangkit dari tempat duduknya. Suasana kelas tampak memanas. "Mendokusei, Gaara kemana sih?"keluh Shikamaru. Ia pun menahan lengan Sakura dengan tangan kanannya."Hei..apa-apaan ini!" Sakura tampak kesal.

"Kau berisik sekali Sakura,"keluh Shikamaru. Sakura mendelik. Kenapa seoah-olah dia menjadi yang bermasalah disini? Sedangkan si cowok menyebalkan itu malah duduk santai dikursinya.

"Kacau sekali! Ada apa ini?" Gaara muncul tiba-tiba. Tidak ada yang tahu kedatangannya karena semua sibuk menonton perkelahian ga penting(?) antara seorang Haruno yang emosian dengan si Uchiha yang menyebalkan.*author : tapi keren kan?-dengan aura love-**timpuked by readers. "cepat lanjutkan!"**iya,iya. Sabar sedikit.**timpuked again by readers*

Dengan sekali lihat saja, Gaara sudah mengerti apa yang terjadi.

"Kau darimana saja? Merepotkan sekali jadi Wakilmu. Harus mengurus hal-hal merepotkan begini." keluh Shikamaru dengan kesal. Gaara tak menjawab. Pandangannya beralih kearah Sakura. " Berantem lagi?"tanyanya. Sakura mengangguk dengan wajah sebal. Lengannya sudah dilepas Shikamaru, Ino juga. "Cowok itu menyebalkan, dia duluan yang mengejekku!" tingkah Sakura persis seperti anak kecil yang sudah menemukan pembelanya. Sasuke mendengus. Tak menyanggah sedikitpun.

"Masih kesal?" Tanya Gaara lagi. "Sedikit.." sahut Sakura. Gaara tersenyum. Shikamaru tersentak melihat senyum Gaara*what? Shika suka Gaara?**bukaaaannnn…! Shika tu normal tahu!*

"Sudah..ga ada gunanya juga terus emosi. Duduklah. Aku punya berita bagus." ujar Gaara lembut. Beda dengan saat ia melerai Naruto dengan Sasuke waktu itu. Semuanya tentu menjadi heran. Sakura menurut. Ia pun duduk setelah sebelumnya mengacungkan tinjunya geram kearah Sasuke. Setelah Sakura duduk, Gaara melangkah kedepan kelas.

"Tadi Kepala Sekolah memanggilku karena ada yang ingin ia sampaikan." Suasana kelas mendadak sunyi. Semua mendengarkan penuh perhatian. Gaara mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas. Bahkan Sakura dan Sasuke pun kini mendengarkannya dengan kesadaran penuh.

"Tes ditunda sampai 2 minggu kedepan" ujar Gaara. Tegas. Lantang.

"Hoorrrreeee…" sorak sorai satu kelas langsung membahana dikelas 2-1 IPA. Semuanya tampak senang kecuali Sakura. 'Apa? Ditunda 2 minggu? Tau begitu, mendingan aku ikut ke tempat nenek,' sesal Sakura.

"Tapi.." suara Gaara kembali terdengar. Semua mengernyit heran. Apa maksudnya dengan'tapi'? Gaara tampak menahan nafas. Semua menatap kearahnya. Menanti kata-kata selanjutnya dari sang Ketua Kelas.

'Kita diwajibkan ikut perlombaan Festival Antar Sekolah. Acaranya minggu depan. Kita hanya punya 1 minggu untuk menyiapkan semuanya. Dan yang paling perlu diingat.." Gaara menggantung kalimatnya.

"Kita harus menang. Atau kita semua terancam tidak naik kelas!"

HAH? Apa maksudnya dengan tidak naik kelas?

Gaara bercanda bukan? Bagaimana bisa?, Sebenarnya Kepala Sekolah bilang apa pada Gaara?

~Tsudzuku~

Yosh..bagaimana? Ada yang ngeganjal dihati anda? Silahkan nyatakan keganjilannya melalui Lorong Review dibawah ini ^_^

Oh iya, kesalahan pada chapter pertama tidak ada judul chapternya kan? Maafkan saia yang bodoh ini. Jadi untuk chap pertama saia putuskan judulnya : First Meet With.

Yah, walaupun judul ma cerita ga nyambung, yasud lah.. *back sound-Ya Sudahlah by Bondan P. ft. Fade2Black*(benar gaya tulisannyaa?)*ga yakin*

Akhir kata, AYYYOOO RIPIUUUWWW…*nada lagu –Ayo Sekolah-*

Jaa Ne,

~NYU~