Yuta menegak liurnya, bibirnya terasa kering. Dia merasa gugup seakan ini pertama kalinya ia bermain film porno. Dia menarik napas dalam, melonggarkan sedikit kerah bajunya. Tubuhnya gelisah di atas empuknya kasur.

Rileks. Aku seorang pro.

Lawan mainnya sedang diberi pengarahan oleh sutradara. Pakaian yang dikenakannya memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna. Kakinya yang jenjang dan pundaknya yang lebar.

Seorang kru berteriak untuk bersiap. Jaehyun berjalan dengan tenang seolah-olah dia lebih profesional dari dirinya. Dia tidak terlihat gugup sedikitpun dan itu sangat menjengkelkan dirinya yang sudah lama bermain.

Atau mungkin Jaehyun sudah sering meniduri banyak orang?

"Ini pengalaman pertama bagiku," dia berdiri di depan Yuta dengan wajah tersenyum polos, ah menggemaskan. "Mereka sepakat mengedit wajahku."

"Oh ya?" Yuta menaikkan alisnya terkejut dan tidak percaya dengan ucapannya. "Kau terlihat sangat santai."

Jaehyun membuka mulutnya membalas perkataan Yuta tapi sutradara berteriak.

"And action!"

Kali ini mereka melakukannya tanpa plot yang penting mereka menghasilkan satu rekaman untuk hari ini.

Yuta hanya memakai kemeja putih longgar tanpa celana dalam. Dia menutup pahanya malu-malu karena tatapan yang diberikan Jaehyun padanya. Senyuman yang ia berikan membuat tubuhnya panas.

"Kenapa kau menutupnya? Kau sering mengangkang di depan banyak orang, benar kan? Kenapa giliranku kau malah ragu-ragu?"

Mendengar omongannya yang tiba-tiba membuat Yuta gelagapan dan hampir melontarkan kata-kata pedas. Dia menahan dirinya agar tidak kehilangan pekerjaan ini, menggigit bibirnya kesal.

Jaehyun meraih botol yang sudah tersedia di samping botol tergeletak sebungkus kondom untuknya, tapi dia hanya mengambil botol.

Dia menarik resletingnya, sedikit menurunkan celana jeans beserta celana dalam Calvin Klein-nya sekaligus. Ia mengelurkan 'adik kecilnya' yang lumayan besar dan sudah menegang.

Jaehyun mengoleskan pelumas ke batangnya sambil menatap Yuta. "Bagaimana menurutmu?"

Yuta berbicara dengan tenggorokan kering, "Lu-lumayan, tapi tidak lebih besar dari punyaku." Kenapa suaranya tiba-tiba terbata-bata, sungguh memalukan! Dia merasa dialah yang perawan di antara mereka.

Tiba-tiba saja Jaehyun memegang kedua lututnya dan membukanya lebar. Tangan kanannya memegang batangnya yang mengacung. Sejujurnya milik Jaehyun lebih besar darinya. Dia mendengar Jaehyun tertawa kecil. Tanpa basa-basi dua jarinya memasuki lubangnya. Dia tersentak kaget.

"Ah!"

Kedua tangannya mencengkram pundak Jaehyun. Jarinya bergerak maju mundur di dalamnya sesekali menggaruk rektumnya.

"Sialan," desisnya di antara rasa sakit.

Jaehyun memajukan badannya mendekatkan bibirnya di telinga Yuta, menjilati cupingnya. "Aku tak sabar memasuki lubangmu," dan juga dia menggigit telinganya. Jarinya bertambah satu, jari-jari panjangnya sangat lihai bergerak hingga Yuta tak merasakan sakit lagi. Jarinya tidak cukup memuaskan gairahnya dia butuh sesuatu yang besar.

"Masukkan," ujarnya terengah.

Jaehyun tersenyum puas. Dia memegang batangnya dengan bangga dan perlahan memasuki lubangnya yang sedikit renggang. Dengan tangan kanan memegang batangnya dan tangan kiri memegang pinggul Yuta agar tidak bergerak. Dia sedikit kesusahan memasukinya.

Sedangkan Yuta mengerang kesakitan. Kedua tangannya meremas seprai.

Ketika Jaehyun sudah masuk sepenuhnya dia mendesah lega. Dia memeluk lehernya dan mendesah di pundaknya saat Jaehyun mulai bergerak di dalamnya. Yuta menggigit pundaknya menahan sakit.

Dia merasakan jari Jaehyun meraba dadanya dan mulai bermain dengan puting kirinya. Dengan isengnya dia mencubit-cubitnya dan mungkin akan bengkak jika dia terus melakukannya.

Tusukannya semakin kencang dan tangannya berpindah ke batangnya. Dia memijat penisnya dengan gerakan lambat.

Yuta merasakan klimaksnya, dia menggerakan pinggulnya. Kedua kakinya memeluk pinggang Jaehyun.

"Ah a-aku.. sebentar lagi-"

Cairannya keluar mengenai baju lawan mainnya. Ketika dia mendesah, Jaehyun menjilat lehernya dengan napsu. Tangannya tidak berhenti meremas batangnya.

Jaehyun sepertinya ingin mengejarnya, dia menusuk lebih cepat. Keringat menetes di keningnya. Dia sangat seksi hanya dengan kemeja hitam. Napas hangatnya menerpa wajah Yuta.

Menyusul Yuta, dia keluar di dalamnya. Cairannya terasa hangat di dalamnya dan beberapa keluar di antara celah lubangnya. Yuta merasa lemas dan tidak dapat bergerak tetapi Jaehyun tetap menusuk hingga cairannya ia rasa telah keluar semuanya.

Jaehyun menjatuhkan kepalanya di atas dadanya, lidahnya menjilati putingnya yang bengkak. Hanya dengan jilatan saja membuat libido Yuta naik.

"Jae, cukup.." dengan nada lemah dia berusaha menjauhkan kepalanya.

Jaehyun menempelkan telinganya tepat di atas jantung Yuta. Memejamkan matanya mendengarkan detak jantungnya yang kencang. "Kau sangat cantik," bisiknya.

Mereka terbaring lemas seakan hanya mereka berdualah yang ada di ruangan panas itu.

Yuta merona mendengar bisikan pelan dari pemuda yang terbaring santai.

"Cut!"

000

Jaehyun mendapat pujian tiada hentinya dari si sutradara. "Yah, walaupun ini pertama kalinya untukmu tapi cukup bagus juga kau berakting, nak. Lain kali datanglah ke sini lagi kami akan membayarmu lebih."

Yuta melihat Jaehyun membungkukkan tubuhnya. "Terimakasih banyak, Pak. Kalau Mina nuna tidak memanggil saya, saya tidak mungkin datang ke sini."

Tepukan keras di pundaknya membuat dia menoleh.

"Apa kau kenalannya? Tadi kalian terlihat akrab," Doyoung berdiri di depannya penuh curiga.

"Apa?! Tidak, kami saja baru bertemu," dia tidak berbohong, mereka memang baru bertemu kemarin.

Soal kemarin, dia teringat mantel yang dipinjamkan kepadanya.

"Aku kira dia belum pernah berakting di film porno sebelumnya, dia terlihat seperti anak baik-baik dari keluarga baik-baik," kata Doyoung sambil mengelus dagunya mengamati Jaehyun berbicara dengan Mina. "Kita tidak boleh melihat seseorang dari luarnya saja." Untuk kali ini Yuta setuju dengan komentar Doyoung tentang Jaehyun. "Dia terlihat nyaman dengamu," tambahnya.

"Hah? Benarkah?" Yuta bertanya dengan suara meninggi sampai-sampai Jaehyun menoleh padanya.

"Dia tidur di atasmu seakan kalian sepasang kekasih, yah mungkin dia melakukannya karena akting. Nah, kekasihmu menuju ke sini. Semoga hubungan kalian berlanjut," Doyoung tertawa sambil memukul bahunya dia berjalan meninggalkannya yang tengah gugup.

"Hai," Jaehyun mengangkat tangannya menyapa. "Maaf untuk sebelumnya aku sedikit kasar padamu," dia berkata dengan wajah bersalah. Sikapnya benar-benar berbeda ketika di atas ranjang. Apakah dia memang berbakat dalam akting?

Yuta tersenyum untuk menenangkan pemuda di depannya. "Tak apa, aku sudah terbiasa melakukannya dan ada yang lebih parah darimu. Omong-omong aku terus menunggu telponmu soal mantelmu."

"Aku.. Sejujurnya aku malu untuk menelponmu, aku tidak berani."

Jaehyun yang berbicara dengannya sekarang adalah pemuda pemalu berbeda dengan Jaehyun di atas ranjang yang berbicara vulgar tanpa rasa malu sedikit pun.

Yuta merasa ingin mengetahui lebih banyak pemuda yang memiliki dua karakter di depannya.

"Kau mau ke apartemenku untuk mengambil mantelmu?"

000

Jaehyun mencumbu Yuta yang hanya mengenakan mantel cokelat miliknya. Malam itu dipenuhi oleh desahan dari mereka berdua.


a/n: koko bop asik ya liriknya bikin pinggul bergoyang. btw ada yg suka yuta harem?