Taiyou senso 1

disclaim : kishimoto no kochira

rate : T

Pair : Minato Naru (in this chapter)

Shounen-ai and boys love

by Junnior

Anata ga sukide wa nai baai wa, yonde inai. (Dont like dont read.)


Taiyou Senso Chapter 1 Lounge.

.

.

.

.

"Tousan." Naruto memanggil Minato untuk ke-dua kalinya. Namun, Minato hanya melambaikan tangan dan tersenyum manis pada anak sulung satu-satunya yang sangat ia sayangi.

'Maafkan aku Naruto.' Minato terdiam mengamati sekelilingnya, sambil menggenggam tangan seorang wanita yang ada di sampingnya, 'Mei Terumi'.

"Minato-kun, mengapa wajahmu muram?" Mei memandang Minato dengan sedikit curiga.

"Aku tidak apa-apa." Minato tersenyum singkat lalu masuk ke dalam mobil –Limossinnya, tanpa menghiraukan raut wajah dari Mei yang perlahan selalu mengamatinya.

Dalam perjalanan menuju lokasi Shooting, yang berada cukup jauh dari Konoha. Mei terus saja menanyai Minato, dengan ocehan-ocehan yang terkadang membuat Minato sedikit emosi. Tetapi, Minato terus saja menahan dan menyumpal telinganya, dengan mendengarkan musik Country yang terdengar samar-samar, karena keras dan cepatnya suara dari seorang Aktris cantik bernama Mei Terumi itu.

"Minato-kun, sebenarnya apa sih yang kau pikirkan dari tadi?" Mei terus saja memaksa Minato yang diam dan berkonsentrasi pada menyetirnya.

Minato menghembuskan nafasnya yang sedikit terdengar berat. "Aku hany-" suara Minato terpotong oleh ocehan dari Mei lagi. "Minato-kun, aku mengerti sekarang. Kau memikirkan anakmu itu, kan yang bernama... unn, –Naruto?" Mei memegang lengan Minato.

"..." Minato masih berkonsentrasi pada menyetirnya.

"Minato-kun, mengapa kau tidak menjawabku? Hmm... padahal sedari tadi, saat aku menanyaimu, bukan tentang anak itu, kau pasti menjawabnya." Mei membenarkan posisi duduknya dan bersandar lebih dalam di jok mobil yang berwarna autumn.

"Ya, aku sedang memikirkannya." Minato mengeluh sedikit menyesal, karena meninggalkan anak sulung semata wayangnya sendirian di rumah. Padahal, besok adalah hari pertama Naruto duduk di Sekolah Menengah Atas. Seharusnya dirinya mengantar dan menemani sebentar, tetapi, tuntutan pekerjaannya sebagai Aktor Senior yang membuatnya menggugurkan rencana untuk mengantar Naruto ke Sekolah barunya, di 'Taiyo Senso Gakuen.'(Sekolah Matahari Perang)

Tiba-tiba Mei memegang tangan Minato yang terlihat sedang menggenggam Pressneling. Minato sedikit tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Mei.

"Hei! Apa kau tidak melihat, aku itu sedang menyetir!" Minato, sangat terkenal dengan kelembutan yang selama ini di kagumi oleh fans wanitanya, tapi, kali ini ia secara mendadak berubah menjadi seorang laki-laki yang sensitif.

"Sepertinya kau sangat menyayangi putramu itu, ya?" Mei terkekeh sendiri. sedangkan Minato mengeluarkan semburat merah pada wajahnya yang tenggelam pada konsentrasinya.

"Ya, aku sangat menyayanginya, tapi- membahagiakannya sungguh sesuatu yang sangat tidak mudah." Minato membelokkan stirannya dan memberhentikan mobilnya pada sebuah jembatan yang menghadap ke sebuah lautan.

Mei sedikit bingung dengan Minato yang tiba-tiba memberhentikan mobilnya. Namun, ia langsung turun dan mengikuti Minato. Minato dan Mei berduaan menghadap ke sebuah lautan yang sangat terlihat indah. Mei tidak sedikitpun lepas dari pandangan pada Minato yang memang muda dan tampan. Tetapi, Minato tidak menghiraukan Mei.

"Pantas saja para wanita menyukaimu dan-" Mei mulai lagi.

"Sudahlah, jangan terlalu membesar- besarkan hal yang kecil." Minato meleguh dan mengusap dahinya yang tidak berkeringat.

"Kenapa kemari?" Mei memandangi wajah Minato yang terlihat pucat kebingungan.

"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku saja." Minato mengambil ponselnya dan melihat, apakah ada pesan masuk atau tidak.

"Khawatir lagi?" Mei menengadahkan wajahnya menghadap lautan yang terlihat sudah berwarna siup senja. "Tenanglah Minato-kun, dia kan seorang laki-laki, pasti dia baik-baik saja. Tidak perlu terlalu berlebhan begini." Mei mengambil camera digitalnya dan mengfoto dirinya dengan Minato pada season kali ini.

Minato tergugah dari rasa kekhawatirannya. "Eh~ mengapa ka-?"

"Sekali-kali, boleh kan?" Mei menggandeng tangan Minato.

Beberapa saat kemudian.

"Katamu, kau sering mengecewakannya, bukan?" Mei memeluk Minato dari samping. "Yah... begitulah~" Minato sedikit risih, tetapi ia membiarkan Mei berlaku seperti itu padanya.

"Waktumu yang selalu tersita untuk pekerjaan dan wawancara pers~" Minato mulai memandang Mei dengan pandangan tergugah.

"Ya... selalu saja seperti itu."

"Aku bisa membuatnya bahagia." Mei memasuki mobil. Perkataan Mei membuat tanda tanya besar pada Minato.

"Maksudmu dengan, kau bisa membuatnya bahagia?" Minato mengikuti Mei masuk mobil dan mulai menghidupkan mobilnya, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Distrik Iwa.

"Sudah lama sekali aku menunggu moment seperti ini." Mei menggunakan safe belt-nya. "Moment dimana kita hanya berdua saja, yaa... tanpa adanya orang ke-tiga dan para pemujamu~" Mei melirik Minato yang wajahnya tersorot sinar matahari sore.

"Maksudmu?" Minato mulai gusar dan merasakan sesuatu yang tidak enak.

"Sebenarnya... Aku menc- " Kata-kata Mei terpotong oleh dering ponsel Minato.

RING RING

Terdengar suara dering dari ponsel Minato yang ia letakkan di Dashbor mobilnya.

"Moshi... Mainato Namikaze disin-" Minato berhenti bicara.

'Tousaan... aku kangen.. unn'

"Sejak kapan kau menjadi anak yang manja, Naruto?" wajah Minato terlihat lega.

'Aku akan seperti ini, jika kau tidak pulang, tousan.' Suara Naruto manja

Minato tersenyum dengan suara anaknya yang tidak biasanya seperti ini. Mei melihat ke-segaran dari wajah Minato yang berbeda dari dia yang tadi. Mei terus memperhatikan Minato yang sedang bercakap-cakap dengan riang gembira. Sepertinya Minato sudah kembali menjadi orang yang biasanya.

O.O.O.O.O

"Bagaimana, Naruto?" tanya Konan pada Naruto. "Jawabannya, tidak. Tidak akan pulang malam ini... hufh." Naruto meninggikan suaranya.

Konan adalah sahabat dari Naruto sejak masih kecil. Ia selalu mengikuti Naruto kemanapun ia malangkah dan pergi, bahkan Konan sejak kecil sudah menyukai Naruto, tetapi... Naruto tentu saja tidak tau.

Hingga saat ini, hubungan mereka masih terjalin seperti ketika mereka masih kecil dulu. Konan mengetahui Naruto adalah anak yang manis dan cenderung tampilan wajahnya mirip dengan anak perempuan di banding dengan laki-laki. Di perparah lagi, Naruto sama sekali tidak pernah menceritakan tentang perasaannya pada Konan. Hal itu yang membuat Konan bertanya pada pikirannya sendiri, mengenai jati diri Naruto yang sebenarnya. Namun, Naruto sering sekali menceritakan mengenai, ia dan ayahnya yang memang masih terlihat muda dan tampan.

"Skak ster!" Konan berteriak keras kegirangan, saat ia memajukan pion ke arah raja. Naruto yang hobi sekali memainkan catur, yang biasanya ia selalu tidak mau kalah, tetapi, entah apa yang membuatnya terlihat tidak seperti hari-hari sebelumnya.

"Naruto baka- Kenapa kau tidak menuntutku?" Konan memasang raut wajah seperti orang bingung.

"Menuntut?" Naruto garuk-garuk kepala "Apa... eh~?" Naruto memegang ponselnya, dan lagi-lagi ia menelpon ayahnya yang sedang berada di Iwa bersama teman satu Perfilemanya.

Konan menunggu Naruto dengan sabar dan sedikit mengantuk. Setelah Naruto menutup ponselnya, dan tentu saja jawabannya sama dengan yang tadi.

"Sudah-" Konan mendengus

Konan menguap dan ia memohon pamit untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah lumayan larut.

Naruto duduk bersandar di tiang kayu pohon sugi yang berada di balkonnya. Ia terus memandangi papan catur classic milik-nya hingga dua jam lamanya. Dan ponselnya berdering untuk pertama kalinya, senjak ayahnya pergi.

"Hn..." Naruto malas-malasan.

"Naruto-"

"Nani?" Naruto merenggangkan kakinya yang tampak sudah pegal-pegal.

"Malam ini, Tousan akan pulang." Suara Minato nampak sedikit lirih.

"Benarkah?" Naruto berdiri dari duduknya "Kyaaaa...! yaree..yaree.." Naruto lompat-lompat dengan perasaannya yang bergembira. Ia sangat senang sekali mendengarkan kabar yang memang membuatnya sumringah. Naruto bercakap-cakap sedikit. Setelah menutup ponselnya, ia langsung menatap papan catur yang sejak tadi dibiarkan tergeletak tanpa di hiraukan olehnya.

"Kyaaa! Konaaan-chan!" Naruto berteriak saat ia menyadari bahwa yang memenangkan permainan ini adalah Konan.

06.00 AM

.

.

.

"Nghh.. " Naruto terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

Naruto langsung melihat sekelilingnya dengan mata yang masih berat. ~Nihil. Ia tidak menemukan Minato di sebelahnya. Naruto membuka Ponselnya dan membaca satu pesan masuk pada mail-box nya.


From : Otousan

Number : +9865476444

Oyasumi koi... gomen nasai, tousan tidak bisa menemanimu malam ini, kebetulan Mei sakit dan tousan mengantarkannya pulang. Hari ini angin bertiup sangat kencang, jadi tousan memutuskan untuk menginap disini.


"Shit!" Naruto membuang ponselnya hingga layar LCD-nya pecah.

#PRAK!

Naruto memeluk tubuhnya sendiri yang merasa hangat. Dan entah mengapa, ia merasakan sakit di dadanya. Sungguh tidak seperti biasanya, Naruto memungut ponselnya dan menenggelamkannya di kolam renang yang terletak di belakang rumahnya.

"Kuso-" Naruto menahan emosinya. "Huh... masih ngantuk~" lagi-lagi Naruto mencoba memalingkan rasa tidak nyaman pada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian.

.

.

.

"Uwaaaa! Sudah jam setengah tujuh... uwaaaa- waaaaaa... aku tidak boleh telat. Hari ini adalah hari pertamaku."

Naruto langsung bergegas mandi seperti biasanya, setelah selesai mandi, ia langsung menyambar tas ranselnya dan menggunakan sarung tangan, pelindung lutut dan siku, Dan menggunakan helm sepedanya. Naruto nampak sedikit melupakan skandal yang baru saja terjadi pada pagi hari.

Perjalanan melintasi kota Konoha yang terlihat sudah mulai ramai oleh aktivitas pagi. Naruto membukakan matanya lebar-lebar, saat ia mulai memasuki Gate Gakuen 1. Naruto merasa dirinya sangat kasian sekali, ia bengong sambil menenteng sepedanya yang sedikit lebih tinggi dari tubuhnya. Naruto terlihat bingung dengan tempat parkirnya, ia mencoba mencari sendiri, karena ia tidak mau menyerah begitu saja. Beberapa menit kemudian, Naruto mulai terlihat jengah dan lelah. Ia meletakkan sepedanya di depan sebuah mobil yang hendak parkir. Bunyi Clakson terdengar sangat nyaring di telinga Naruto, ia hanya memalingkan wajah dan kembali bersandar, lalu mengamati Gakuen barunya dengan seksama, tanpa melihat seseorang yang sudah emosi keluar dari mobilnya.

"Ck... merepotkan." -mendengus-

"Yaa.. bakabon!" Seorang laki-laki berpawakan tinggi dan semampai, berdiri di depan Naruto yang sedang duduk setengah santai. "Hn.." Naruto hanya menjawab seenaknya sendiri.

"Singgirkan sepedamu." Perintahnya untuk pertama kali.

Namun, Naruto masih duduk dan tetap memandangi Gakuen barunya, tanpa menghiraukan si-empunya mobil.

"Kau!" Sang empunya mobil merenggut kerah baju Naruto sampai ia terpaksa berdiri. Bertemulah, pandangan antara Onyx dengan Saphire. Onyx agak kewalahan saat ia melihat keindahan mata orang yang sedang ia paksa untuk berdiri.

"Lepaskan tanganmu dari bajuku." Naruto memerintah dengan santai dan acuh.

Tidak lama kemudian, terdngar desiran suara dingin yang sedikit menyeruak bulu kuduk Naruto. "Setelah kau memindahkan sepedamu. Mengerti?" Onyx menggenggam kerah Naruto lebih keras.

"Ah... ittai!" Naruto melotot ke Arah Onyx.

Naruto bergegas memindahkan sepedanya dan menyandarkannya, pada batang pohon Beringin yang berada di samping pintu gerbang. Naruto acuh tak acuh, ia mulai memasuki bangunan sekolah barunya, terasa sejuk dan segar. Naruto senyum-senyum sendiri dan memandangi tiang-tiang kuno yang berjejer rapih sebagai penyangga dari bangunan tersebut.

.

.

.

"Ohayou gozaimasu." Sapa seorang yang berbadan kekar dan suara terdengar memiliki wibawa. Naruto yang sedang duduk di kursi taman dalam sekolah barunya, pun langsung merasa tenang.

"Ohayou." Naruto senyum dan menengadahkan wajahnya.

"Junior?" Seorang berpawakan bersar dan memiliki taring pada giginya, mata yang sipit dan kulit yang sedikit pucat menyapa–nya. Naruto pun berbincang dan berkenalan dengan seseorang yang bernama Kisame Hoshigaki, yang ternyata dia adalah Ketua Osis di Sekolah ini. Naruto pun bertanya-tanya mengenai sistem Sekolah ini dan tidak lupa pula ia menyanyakan, diamana letak tempat parkiran untuk menaruh sepedanya.

"Oh, ha'i... Hoshigaki senpai."

"Ingatlah yang tadi aku katakan padamu ya, Junior. Apabila kau bingung, carilah aku atau pengurus Osis yang lainnya. Aku dan mereka semua akan membantumu. Selamat menjadi Junior, Jyaa."

"Ha'i... Senpai." Naruto merasa merdeka, karena ternyata orang disini sangatlah menyenangkan sekali, ia tadinya berpikir, Sekolah disini, hanya akan menjadi malapetaka untuknya. Tapi, siapa sangka?

Kyōmi no komento suru ni wa?

OWARI


Tuk.. Tuk..Tuk Tuing tuing :3

Hyaaa.. Minna-san .. sankyuu sudah repot-repot membaca pik ini. Karena ini pik sudah tinggal di Lounge, besok saya publis chapter 2-nya. atau 2hari lagi, tergantung permintaan pembaca sekalian.. kussu kussu #PUAK

(Tebar bunga dandellion)

Hajimemashite yoo .

Special thanks : zee, my nee-yuuchan, hotaru my best and lovely sister, via Sn, Hatake-sama, my best twintwon ryu999, hime, my best and lats frend lilya, dallet, my sweety mouchan cha, kagari-kun, micon, kimy no michi.

N/B : shitsurei shimasu minna, yang belum punya akun ffn, hubungi ryuu. Ryuu dengan senang hati, mau membuatkan teman-teman sekalian akun ffn, dengan Nick name dan alamat email sesuai dengan keinginan teman-teman. Bukannya ryuu mau cari sensasi. Tapi, saling membantu satu sama lainnya dan menjalin hubungan yang harmonis, itu alasan masuk akal dan baik, bukan?

Ryuu mau garap Next fic dulu yak. #PLAK pake promo lagi -" jyaa neeoo