Title : You're my Wife?

Author : Meyla Rahma

Rated : T to M

Pairing : HaeHyuk , KyuMin and other Couple

Genre : Romance and Family

WARNING…!

YAOI / Boy Loves / Boy X Boy

Miss typo(s)

MPreg

Sedikit Out of Character

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKE

Summary : Ketika persahabatan para Orang Tua menentukan Takdir Cinta Anak-anak mereka.

Happy Reading . . .

"Itu karna kalian berempat akan tinggal serumah mulai malam ini."

"MWO..?"

"MICHIGETDHA..!"

'Kami akan tingal satu rumah? Apa mereka sudah Gila?' batin Hyukkie dan Sungmin dalam hati.

'Satu rumah dengan mereka? Aku rasa tidak terlalu buruk.' Batin Donghae dan Kyuhyun.

.

.

Kini ketiga Keluarga pengusaha itu tengah berada di depan rumah mewah nan megah yang disinyalir adalah rumah untuk keempat anak mereka tinggal nantinya. Ketiga keluarga itu tak pernah main-main untuk masalah perjodohan anak-anak mereka. Dua tahun yang lalu Kibum dan Heechul membangun rumah mewah itu diatas lahan seluas satu hektar untuk kelangsungan 'perjodohan' anak-anak mereka. Namun, mereka berdua menyetting sedemikian rupa rumah tersebut hingga 'menunjang' rencana mereka.

Arti kata menunjang dalam hal ini adalah mampu membuat anak-anak mereka yang terkenal Playboy namun berhati dingin bisa bertekuk lutut di hadapan anak-anak Leeteuk. Rumah yang memilik luas 1 hektar lebih itu dibuat hanya dengan 2 kamar utama. Singkat kata mereka merencanakan 'hal-hal' diluar nalar orang sehat.

"Chagi, ini rumah kalian mulai sekarang. Umma harap kalian menyukainya." Kata Heechul pada HaeHyuk dan KyuMin yang masih bertahan di posisi mereka – posisi cengo karna melihat rumah mewah yang lebih megah dari rumah mereka sendiri.

"Em, umma. Apa kau yakin akan menyuruh kami tinggal dirumah ini?" tanya Donghae ragu.

"Ne, tentu saja. Kenapa? Rumahnya kurang bagus?" tanya Heechul.

"Aniyo, ajhumma. Ini terlalu bagus malah. Aku suka." Ucap Hyukkie riang.

"Aish, jangan panggil aku ajhumma chagi. Panggil aku umma. Kan sebentar lagi kau akan jadi istri Hae." Ujar Heechul sambil tersenyum lembut.

"Arreseo. ." ujar Hyukkie pelan sambil menundukkan wajahnya yang memerah karna tersipukarna mendengar kata – Istri Hae.

"Kajja kita masuk." Kata Siwon mengintrupsi yang lain sambil menggandeng tangan sang istri – Kibum.

Keluaga besar itu pun memasuki rumah besar nan mewah itu dengan pandangan kagum. Desain interior yang menakjubkan tersuguh di depan mata mereka. Gaya klasik Yunani kuno berpadu dengan estetika Italy bercampur dengan sentuhan gaya Korea, membuat rumah itu tak bisa lepas dari kesan mewah. Sepertinya hasil karya istri Hankyung dan istri Siwon itu membuahkan hasil yang menakjubkan. Buktinya semua pasang mata terbuai dengan keindahan rumah yang didedikasikan untuk tempat tinggal anak-anak mereka itu.

"Yah, Chullie-ah. . . Bummie . . Berapa harga yang sudah kalian keluarkan untuk semua ini?" tanya Leeteuk dengan mata yang tak henti-hentinya mengelilingi tiap sudut rumah itu.

"Ish, itu tak seberapa hyung. Jika dibandingkan dengan 2 anak mu yang manis ini. Anggap saja ini hadiah dari aku dan Chullie Hyung, karna Hyukkie dan Minnie mau menerima perjodohan ini." Ujar Kibum sambil tersenyum lembut – dengan tangan mengelus surai lembut milik Sungmin.

Para suami hanya bisa tersenyum lembut melihat adegan mertua menantu yang disuguhkan Kibum dan Heechul pada kedua calon menantu mereka – Hyukkie dan Sungmin. Sedang Leeteuk hanya bisa menatap haru karna membayangkan kedua putranya akan segera menikah dan menjadi 'istri' orang.

.

.

Saat ini Sungmin dan Hyukkie tengah berbenah dikamar baru mereka. Seluruh keluarga mereka telah pulang. Sungmin terlihat melipat baju-bajunya dan Hyukkie lalu dimasukkan kedalam lemari. Sedang Hyukkie sendiri tengah berkutat dengan pikiran nya sendiri – membiarkan sang Hyung membereskan barang-barang mereka. (adik yg kurang ajar) #plak

'Untuk sekarang, Hyukkie satu kamar dengan Sungmin dan Kyuhyun dengan Hae. Tapi jika kalian sudah menikah, kalian harus satu kamar dengan pasangan kalian masing-masing.'

Omongan Heechul itulah yang kini tengah mengganggu pikirannya. Harus Hyukkie akui, ia masih belum siap jika harus menikah apalagi satu kamar dengan namja yang baru saja ia kenal. Memang Hae perlahan sudah memikat hatinya. Tapi itu masih belum cukup bagi Hyukkie.

"Hyung ~" panggil Hyukkie – membuat Sungmin menghentikan aktivitasnya.

"Wae?" ujar Sungmin dengan pandangan bingung.

"Apa kau sudah siap, hyung?" kata Hyukkie.

"Huh? Maksudmu?" ujar Sungmin dengan alis yang terangkat.

"Maksud ku, apa kau sudah siap menikah dengan Kyu, hyung?" tanya Hyukkie sambil merebahkan dirinya diatas kasur berukuran King size.

"Kenapa kau tanya seperti itu, Hyukkie?" tanya balik Sungmin sembari melangkah menghampiri dongsaengnya di kasur – setelah membereskan pakaian mereka kedalam lemari.

"Molla. Jawab saja, hyung." Ujar Hyukkie sambil memejamkan Onyx kelamnya – berusaha menjernihkan pikirannya yang masih kalut.

"Siap tak siap, hyung akan menjalaninya, chagi." Ujar Sungmin lembut – hingga membuat Hyukkie membuka matanya yang terpejam tadi.

"Apa hyung akan mengorbankan hidup hyung demi menikah dengan Kyu, namja yang baru hyung kenal?" tanya Hyukkie ragu.

"Molla. Hyung hanya ingin menjalaninya." Ujar Sungmin sambil tersenyum lembut.

"Bagaimana dengan . . Cinta?" ujar Hyukkie lirih – namun masih bisa terdengar oleh Sungmin.

"Dengar chagi – " kata Sungmin sambil memegang pundak sang adik dan memandang lurus kearah Onyx kelam milik Hyukkie yang menatapnya bingung.

"Cinta itu tak pernah ada yang tahu kapan datangnya. Bahkan kita juga tak tahu pada siapa kita akan melabuhkan hati kita nantinya. Kita hanya bisa mencoba membuka hati kita pada siapapun. Apalagi orang itu merupakan pilihan orang tua kita. Hyung yakin, appa dan umma sudah memilihkan yang terbaik untuk kita, chagi." Jelas Sungmin bijak – sambil membelai surai platinum milik sang adik.

"Kau benar, hyung. Appa dan Umma pasti memilihkan yang terbaik bagi kita. Hanya saja aku sedikit . . takut." Kata Hyukkie sembari memeluk sang hyung.

"Hyung mengerti perasaan mu, chagi. Tapi kurasa kau tak perlu khawatir –" ujar Sungmin hingga membuat Hyukkie menatapnya dengan pandangan bingung.

"Karna sepertinya Hae sangat menyukaimu. Dan aku pikir kau pun juga. Iya kan?" ujar Sungmin sambil mencolek dagu sang adik.

"Yah, hyung bicara apa sih.! Siapa bilang aku begitu?" pekik Hyukkie marah sembari melepas pelukannya pada sang hyung dengan wajah yang berblushing.

"Aish, memang tak ada yang bilang padaku. Tapi onyx kelam dan pipimu yang memerah saat membahas tentang Hae lah yang berkata pada hyung kalau kau juga menyukainya." Kata Sungmin sambil memasang seringai – yang mungkin ia pinjam dari Kyuhyun.

"Yah, hyung bicara apaan sih.! Sudah ah, aku ngantuk..!" pekik Hyukkie sebal dengan wajah yang memerah sambil merebahkan tubuhnya dan berbalik memunggungi Sungmin.

"Aish, kau ini hyukkie. Tapi ingat perkataan hyung –" ujar sungmin sembari mengelus lembut rambut pirang sang adik yang berbaring memunggunginya.

" –Jangan pernah mengingkari perasaanmu, chagi. Berusahalah jujur pada hati mu sendiri. Selamat tidur, Hyukkie chagi." Kata sungmin lembut sambil mengecup kening sang dongsaeng dan menarik selimut, menyelimuti Hyukkie lalu berbaring menuju alam mimpi di sebelah sang adik.

Hyukkie yang sebenarnya tidak berniat untuk tidur, kini hanya bisa melamun resah dalam diamnya. Kekalutan kini tengah menyita sebagian besar tempat di otaknya. Ia tahu sebenarnya hal ini tak perlu untuk dikhawatirkan. Namun, entah mengapa sebagian dari diri Hyukkie masih belum bisa menerima Hae sebagai orang yang akan bersamanya menapaki masa depan kelak. Ia memang menyukai kepribadian Hae yang menurutnya lembut. Tapi harus ia akui bahwa ia masih sedikit merasakan. . takut.

.

.

"Pagi ~" sapa Hae pada Sungmin dan Hyukkie yang baru bergabung di ruang makan yang juga menyatu dengan dapur.

"Loh, kalian yang masak? Bukan kah ada maid?" tanya sungmin heran ketika melihat Donghae yang memakai apron dan tengah memasak pancake sedang Kyuhyun tengah menuangkan susu pada 4 buah gelas di depannya.

"Maidnya baru datang nanti jam 9, bunny. Jadi kami yang mengambil alih pekerjaan dapur." Ujar Kyuhyun yang sekarang tengah membuat roti isi sambil mengerlingkan matanya pada sungmin.

"Aish, bocah ini. Bisa kah kau memanggil ku hyung saja.?" Seru sungmin dengan wajah yang mulai memerah.

"Aniyo." Kata Kyuhyun singkat sambil meletakkan nampan berisi roti isi dan beberapa gelas susu ke atas meja makan.

Sepertinya sedari tadi kita tak mendengar suara Hyukkie chagi, sedang apa ia? Oh, ternyata Hyukkie tengah menatap sendu sosok yang kini tengah asyik memanggang pancake di depan kompor. Sosok yang membuat Uri Hyukkie tak bisa tidur semalaman hanya karna memikirkan masa depannya nanti dengan sosok itu – Donghae.

Hyukkie masih tenang dengan aktivitas mari-memandangi-donghae, hingga tak menyadari sosok itu telah berbalik dan memandanginya dengan senyum yang penuh arti. Perlahan donghae melangkah dan mendekati namja yang sekarang merupakan tunangannya itu dengan sebuah seringai penuh arti yang masih setia bertengger di wajah tampannya.

"Aku tampan ya?" tanya Donghae dengan nada pelan di dekat telinga Hyukkie.

"Ya, kau memang tampan, sunbae –" jawab Hyukkie dengan tidak sadar. Namun, beberapa saat kemudian namja manis itu terlihat baru menyadari apa yang ia katakan dan refleks menoleh kearah samping dan menemukan namja tampan yang tengah tersenyum puas sambil menatapnya.

"Aish, akhirnya kau mengakui kalau tunangan mu ini memang tampan, chagi. Eh, tapi kan sudah ku bilang jangan memanggil ku sunbae lagi. Cukup panggil nama ku saja, arra?" tanya Donghae sambil menyentil hidung mancung Hyukkie.

"Ish, arra. . arra." Jawab Hyukkie sambil menundukkan wajahnya yang sudah memerah hingga ke telinga.

Kyuhyun, Sungmin dan tentunya Donghae hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah imut namja manis itu. Tanpa pikir panjang, Hyukkie langsung meraih segelas susu yang ada di hadapannya dan langsung meminumnya. Sedetik setelah susu itu berada di mulutnya, onyx kelamnya tiba-tiba melebar.

"Ugh ~" hyukkie segera berlari kearah wastafel dapur dan memuntahkan susu yang ada dimulutnya. Sedang sungmin yang tadi menatap horror sang adik, kini beranjak menghampiri hykkie dan memijit pelan tengkuk sang dongsaeng.

"Yah, kau kenapa, chagi? Apa kau sakit?" tanya sungmin khawatir.

"Ani, hyung. Aku tak apa-apa. Hanya saja. . rasa susu itu aneh." Kata Hyukkie sambil mengelap bibirnya dan menunjuk kearah segelas susu yang tadi ia minum.

"Jinjja?" ujar Hae tak percaya – lalu meraih gelas Hyukkie dan meminumnya.

BRUSHH ~

Donghae langsung menyemburkan susu itu tepat di muka Kyuhyun yang ada di depannya dengan tidak elit.

"Yah,.! Kau ini apa-apaan hyung.!" Pekik Kyuhyun murka sambil mengelap wajahnya – yang sudah terkontaminasi semburan Donghae – dengan tissue yang ada diatas meja.

"Aish, kau apakan susu ini?" desis Donghae sambil mengelap bibirnya dan menatap tajam kearah Kyuhyun.

"Oh, itu. Tadi susu yang kau buat kemanisan hyung. Kata Umma sesuatu yang manis itu tak baik untuk kesehatan. Jadi, aku tambahkan garam biar lebih gurih." Jelas Kyuhyun santai sambil memasang wajah tanpa dosanya.

"Ish, kau ~" desis Donghae geram.

PLETAK ~

"Yah . .! Appo Hyung..!" pekik Kyuhyun kesakitan.

"Kau itu bodoh atau apa sih..! Kau ingin meracuni kami, eoh?" pekik Donghae sambil menghadiahi Kyuhyun pukulan dari Spatula yang masih setia bertengger di tangannya. Sepertinya tak rugi juga ia sering melihat sang Umma yang marah-marah pada sang appa karna ia bisa mempraktekkan apa yang Ummanya lakukan itu saat ini.

"Sudahlah, Hae. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula aku paham maksud Kyuhyun itu baik." Kata Hyukkie – berusaha menengahi kedua namja tampan yang tengah sibuk beradu otot wajah (?) mereka.

Kyuhyun yang merasa terselamatkan langsung menghambur dan memeluk hyukkie erat.

"Gomawo, hyung ~ kau sudah menyelamatkan ku dari Ikan gila yang sedang mengamuk." Ujar Kyuhyun sambil memeluk erat Hyukkie. Sedang Hyukkie hanya tersenyum melihat tingkah calon suami hyungnya ini.

PLETAK ~

Untuk ketiga kalinya di pagi hari yang indah ini Kyuhyun diberi 'hadiah sayang' dari seseorang yang sudah ia anggap seperti hyungnya sendiri – Donghae. Satu kali 'semburan' yang tidak elit dan dua kali pukulan telak spatula di kepalanya.

"Yah..! Jangan main peluk CALON istri orang sembarangan..!" pekik Donghae geram setelah memberikan pukulan pada kepala Kyuhyun (lagi). Sedangkan Hyukkie hanya bisa menundukkan kepala – tersipu – karna ucapan Donghae yang secara tersirat itu mampu membuat kedua pipi cubbynya kembali memerah.

"Appo . .! kau ini suka sekali memukul kepala ku sih hyung.! Kau ingin otak jenius seorang Choi Kyuhyun rusak, eoh?" ujar Kyuhyun sinis sembari mengelus-elus kepalanya yang baru 'dicium' spatula.

"Aish, sudahlah kalian ini. Ayo kita makan sekarang.! Aku tak ingin kita telat berangkat kekampus. Cepat duduk.!" Perintah sungmin dengan wajah garang – namun terlihat imut dimata Kyuhyun.

Donghae dan Hyukkie yang tahu jika Sungmin adalah pemegang sabuk tertinggi material art, langsung duduk dan menuruti apa yang sungmin katakan – sebelum namja bergigi kelinci itu benar-benar marah dan mengeluarkan jurus material art nya. Kyuhyun? Ia sekarang tengah duduk dengan tersenyum tak jelas kearah Bunny nya – Sungmin. Dan Sungmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah 'bocah' yang akan menjadi suaminya kelak itu.

.

.

Pagi ini pasangan tunangan baru (?) berangkat ke kampus dengan pasangan masing-masing. Sungmin berangkat bersama Kyuhyun naik motor sportnya – mengingat Kyuhyun paling malas jika harus ke kampus dengan membawa mobil. Awalnya Sungmin menolak, namun karna Kyuhyun tak berhenti merengek sambil mengeluarkan pupyy eyes – yang menurut Lee Brother malah menakutkan – akhirnya Sungmin mengalah dan berangkat dengan Kyuhyun bersama motornya.

Sedangkan Hyukkie berangkat bersama Donghae dengan mobil Ferrari AX7 milik namja ikan itu. Selama perjalanan Hyukkie hanya menundukkan kepalanya dan diam dengan wajah yang bersemu merah karna Donghae tak henti-hentinya menggoda dirinya. Tak jarang juga Donghae mencuri-curi pandang kearah namja manis yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya itu.

Mobil mewah milik Lee Donghae itu kini sudah memasuki kawasan parkiran Param University. Terlihat namja tampan itu membuka pintu dan berlari-lari kecil menuju pintu penumpang untuk membukakan pintu seseorang. Kini seorang namja manis keluar dari pintu yang dibukakan Donghae. Namja bersurai platinum dengan pipi yang dihiasi rona merah membuatnya terlihat begitu cantik, manis, menggemaskan dan tak akan ada kata yang mampu melukiskan keindahan makhluk Tuhan satu itu, yang saat ini tengah digandeng tangannya oleh seorang Lee Donghae – pangeran kampus.

Kedua namja manis dan tampan itu berjalan sambil bergandengan tangan, membelah kerumunan dan hiruk pikuk mahasiwa yang mengarahkan pandangan mereka pada sepasang pasangan yang terlihat sempurna itu. Tak jarang beberapa dari mereka berbisik lirih tentang kekaguman sampai rasa iri mereka ketika melihat sepasang insan yang terlihat serasi dan sempurna itu.

'bukankah itu donghae dan anak baru pindahan dari paris?'

'mereka terlihat serasi, ya?'

'Yang satu tampan yang satu manis. Sungguh cocok mereka.'

Bisikan-bisikan lirih seperti itulah yang terdengar ditelinga Hyukkie dan Donghae ketika mereka berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang tengah menatap kagum mereka.

"Hae ~ bisa kau lepaskan gandengan mu?" Ujar Hyukkie lirih.

"Aniyo." Jawab Donghae singkat sambil menggelengkan kepalanya.

"Tapi aku . . malu, hae." Jelas Hyukkie sambil menundukkan kepalanya.

Donghae hanya menghela nafas kemudian menghentikan langkah dan tentu saja membuat Hyukkie berhenti dan menatap sang namja tampan itu dengan tatapan bingung.

"Bisa kalian tidak memandangi kami?" ujar Donghae lantang – entah pada siapa. Yang pasti seluruh mata yang awalnya memandangi mereka, kini tak lagi menatap mereka berdua.

"Bagus. Gomawo." Ujar Donghae lalu menatap namja manis disebelahnya yang semakin menundukkan kepalanya.

"Sudah tak ada yang memandang kita lagi kan?" tanya Donghae lembut.

"Nde." Jawab hyukkie singkat sambil menganggukkan kepala – tanpa mengangkat wajahnya.

"Sekarang, aku antar kau sampai kekelasmu, arra.?" Ujar Donghae sambil menarik gandengan tangannya pada Hyukkie. Sedangkan Hyukkie hanya bisa tersenyum lembut melihat tingkah laku Donghae yang menurutnya – lembut.

.

.

Seorang namja manis terlihat tengah duduk bosan disalah satu meja di kantin kampusnya. Mengaduk-aduk minumannya bahkan sesekali meniup-niup poni platinumnya guna menghilangkan suntuknya. Namun yang ada ia semakin bosan.

'Nanti hyung tidak bisa pulang dengan mu, chagi. Hyung harus ke rumah ummanya Kyu. Mungkin nanti malam hyung baru pulang.'

Perkataan hyungnya kini berputar-putar dikepalanya.

"Ish, berarti aku harus pulang sendiri. Huft. . " gumam Hyukkie. "- aku bisa saja bareng Hae, tapi. . ." Kata Hyukkie ragu.

"Ani. . Ani . . yang ada aku bakalan jadi pusat sorotan mata anak-anak disini seperti pagi tadi." Gumam Hyukkie sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Hyukkie masih terus bergumam sambil mengaduk-aduk minumannya saat seseorang tengah melangkah menuju kearahnya.

"Kenapa kau bicara sendiri?" tanya orang itu yang kini sudah berdiri dihadapan Hyukkie.

"Ani, aku hanya memikirkan sesuatu. ." ujar Hyukkie sambil mengangkat wajahnya untuk melihat orang itu – lalu ia kembali menatap gelas Orange jusnya. Tapi entah sadar atau apa, sedetik kemudian onyx hitamnya membulat lalu menatap kembali orang dihadapannya itu diiringi dengan pekikan girang dari bibir cherrynya.

"Chansung. .!" pekik Hyukkie sambil berdiri dan memeluk namja yang ia panggil Chansung itu.

"Hey, kau benar-benar merindukan ku, eoh?" goda Cahnsung sambil memeluk pinggang ramping Hyukkie.

"Ish, kau ini." Bantah Hyukkie sambil memukul pelan dada bidang namja yang sudah menjadi sahabatnya waktu di Paris.

"Hahaha. . sudah mengaku saja. Kau merindukan ku, eoh?" goda Chansung sambil mencolek dagu namja manis itu.

"Ne. .Ne. . aku sangat merindukan mu, Brother Fool." Ujar Hyukkie sambil memeluk kembali sahabatnya itu.

"Aish, kau ini. Tak bisa kah kau berhenti memanggil ku dengan sebutan itu?" ujar Chansung sambil melepas pelukannya – namun tidak dengan tangan yang masih melingkkar di pinggang Hyukkie – dengan memasang muka cemberut.

"Aigo, kau benar-benar imut dengan muka seperti ini." Ujar Hyukkie sambil mencubit gemas pipi chansung.

Jika dilihat dari jauh, keua namja itu terlihat sangat mesra. Namja bertubuh tegap itu tengah memeluk pinggang ramping namja manis itu ditambah lagi sang namja manis tengah mencubit gemas pipi namja bertubuh atletis yang tengah memeluknya. Sungguh pemandangan yang mesra, eoh?

Mungkin itu lah yang terlihat dimata seorang namja tampan yang melihat kemesraan kedua namja itu dari ruang latihan dance yang terletak dilantai duan kampus yang menghadap langsung ke kantin – tempat dua orang namja yang terlihat mesra itu. Tanpa terasa tangan namja tampan itu mengepal kuat. Ingin rasanya ia menghampiri kedua namja itu dan menonjok muka namja yang tengah memeluk namja manis yang berstatus tunangannya itu. Namun, ia urungkan niatnya ketika sadar ia harus memulai latihan bersama teman-temannya yang sedari tadi telah menunggunya.

.

.

Disebuah rumah mewah nan mewah yang berada di kawasan perumahan mewah di Korea terlihat seorang namja tampan tengah mondar-mandir di dalam ruang tamunya. Bukan karna ia sedang mengadakan senam monadr mandir, namun karna ia tengah menunggu seseorang yang sudah seharusnya pulang sore tadi. Tapi hingga sekarang jam menunjukkan pukul 22.00, orang itu tak kunjung pulang.

Ingin rasanya namja tampan yang bernama Lee Donghae itu menghampiri dan menjemput sang tunangan – Lee Hyukjae – tapi itu tak mungkin karna saat ini ia tak tahu dimana namja manis itu berada. Berulang kali ia menelpon bahkan puluhan pesan sudah ia kirim, namun hasilnya nihil. Yang semakin membuat Donghae resah adalah karna malam ini. . hujan.

"Apa ia pergi dengan namja yang tadi di kantin ya?" gumam Donghae.

"Sebenarnya apa hubungan mereka? Kenapa mereka terlihat begitu akrab dan mesra?" tanya Donghae entah pada siapa.

Sedetik kemudian ia mengambil ponselnya dan mencari sebuah kontak untuk dipanggilnya.

-Sungmin Hyung-

Terdengar nada terhubungan dari sambungan telpon itu. Namun itu justru memperkeruh perasaan khawatir yang tengah melanda namja berambut brunette itu.

'Yoboseyo?'

"Ne, yoboseyo hyung. Apa Hyukkie tadi menghubungi mu hyung?" tanya Donghae to the point.

'Ani. Kenapa Hae? Ia belum pulang?' ujar sungmin terdengar khawatir.

"Ne hyung. Aku pikir ia menghubungi mu jadi aku bisa menjemputnya." Jelas Donghae.

'Ani, ia tak menghubungi ku hae. Lalu bagaimana ini?' tanya Sungmin gelisah.

"Tenang lah hyung. Aku akan coba menghubunginya sekali lagi. Kalau tetap tidak bisa aku akan mencarinya." Ujar Donghae menenangkan.

'Ne hae. Oh ya, mungkin mala mini aku tak pulang. Ummanya Kyu menyuruhku untuk menginap disini. Tolong kau sampaikan pada Hyukkie kalau ia sudah pulang, ne.'

"Ne hyung. Akan ku sampaikan. Ya sudah kalau begitu hyun. Aku akan mencoba menghunginya lagi. Kalau ia sudah pulang aku akan menghubungi mu. Anneyeong."

'Ne hae. Gomawo. Anneyeong. Pipp ~'

Donghae menatap kosong kearah ponsel yang tengah ia pegang.

"Kau kemana Hyukkie." Ujar Donghae lirih.

Kini Donghae memilih untuk duduk dan menunggu Hyukkie pulang, walau pikirannya dibuat resah oleh namja manis itu. Beberapa saat kemudian pintu rumah terbuka dan seorang namja manis masuk dengan keadaan basah kuyup karna hujan. Wajahnya yang putih terlihat pucat. Sepertinya ia terlalu lama kehujanan.

Hyukkie terlihat meletakkan sepatunya di rak sepatu kemudian berjalan masuk kedalam rumah.

"Kau dari mana saja?" tanya Donghae dengan nada dingin dan wajah datar.

"Aku habis keluar dengan teman lama ku. Tapi aku terjebak hujan, jadi baru bisa pulang sekarang." Jelas Hyukkie sambil meletakkan tasnya yang sedikit basah di salah satu sofa ruang tamu.

"Kenapa kau tak memberitahu ku dulu? Bagaimana pun aku calon suami mu!" ujar Donghae tegas. Sedangkan Hyukkie hanya bisa menghela nafas.

"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan mu untuk membahas masalah ini hae. Aku capek." Ujar Hyukkie lirih. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan namja tampan itu. Kepalanya pening akibat kehujanan.

"Tapi kau butuh penjelasan mu sekarang juga.!" Kata Donghae tegas sambil mencengkeram lengan Hyukkie.

"Yah, tidak bisa kah kau pelan saja." Ujar Hyukkie dengan nada tinggi.

"Tidak.! Karna kau sepertinya sama sekali tak menganggap serius perjodohan ini.!" Seru Donghae marah. Sedang Hyukkie hanya bisa merasakan kepalanya semakin pening.

"Yah., kenapa kau jadi marah padaku seperti ini.!" Pekik Hyukkie tak terima

"Karna aku calon suami mu..!" seru Donghae namun ia tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi lembut lalu berkata.

"Dan karna kau mencintaimu."

BRUKK ~

"HYUKKIE..!"

.

.

To Be Continued ~

.

.

Anneyeong chingu.

berhubung FF saiia yg perdana 'LOVE NEVER WRONG' kehapus ma Admin FFn, author putuskan untuk HIATUS dari Ffn.

mian klo ini mengecewakan krna saiia msi buat 2 FF tpi keduanya juga kna hapus.

awalnya saiia mau republish lggie, tpie yg saiia dpet mlah penghapusan FF saiia yang satunya.

berhubung FFn laggie kacau , saiia memutuskan buat Hengkang sementara dari sini.

mian klo kputusan saiia mengecewakan apalagi bagi reader's yg uda mau menunggu FF saiia.

.

klo masih ada yg berkenan untuk membaca FF saiia, silahkan kunjungi blog saiia di :

meyla12rahma( )

.

atau juga bisa chingu baca di :

Kpopers_Fanfiction

.

saiia tetep pke pen name 'Meyla Rahma'

buat yang uda request FF ke Saiia, pasti author update di dua blog diatas.

gomawo buat semua review reader's slama innie di FF saiia.

mian saiia tdak bisa menjaga FF saiia dengan baik.

.

klo kurang jelas silahkan liat profile.x author. .

.

sekali laggie mianhe bagi para Reader's yg setia baca FF saiia.