HIDDEN

(Bagian II)

Disclaimer : Kuroko No Basket by Fujimaki Tadatoshi

Story originaly by Kuroi Sora

Main Pair : Kise Ryouta x Kuroko Tetsuya

Rated : K

Rated bisa berubah seiring dengan berkembangnya cerita.

WARNING !

Fic ini mengandung konten Shounen-ai/BL/yaoi/alur kecepetan/jamur typo/absurd/gaje/OOC dst.

Bagi yang alergi dengan konten fic ini, dengan damai author sarankan untuk klik menu BACK di layar masing-masing.

Cerita mungkin banyak berbeda dengan versi aslinya. Ini semua karena tuntutan author yang mengharuskan ini jadi fic Shounen-ai . Nyahahahaha~*gampared*

.

.

.

author proudly present...

.

.

.

.

.

'Tetsu-kun?'

Terdengar samar-samar suara Momoi dari sambungan telepon Kise. Saat ini Kise sedang istirahat di pemotretan untuk sebuah majalah mingguan.

"Sou-ssu! Akhir-akhir ini aku jarang menghubunginya karena terlalu sibuk semenjak upacara kelulusan."

'Ahh~ itu karena Ki-chan seorang model, pasti sibuk sekali kan?'

Kise tertawa renyah mendengar ucapan Momoi. Mantan menejer tim basket Teikou itu memang terkadang suka sekali menggodanya.

"Ahaha...begitulah-ssu!"

'Apa Tetsu-kun tidak memberitahumu? Kupikir kalian sangat dekat?'

Ah ya dekat. Tapi jika mereka dekat Kise tidak akan bertanya soal kecil kepada Momoi. Andai si surai pink itu tahu jika hubungan mereka bahkan lebih mengenaskan dari sekedar sahabat.

"Tidak-ssu!" Kise menggeleng lemah."Tentu Momocchi tahu tentang kesepakatan bodoh Akashicchi setelah upacara kelulusan itu kan? Kami akan terpencar ke sekolah yang berbeda untuk membuktikan siapa yang terkuat. Tapi, Kurokocchi tidak ada disana saat itu-ssu! Aku ingin tahu dimana dia mendaftar SMU."

'SMU Seirin. Tetsu-kun mendaftar disana.'

Kise terpaku dengan wajah terkejutnya. Seirin? Apa dia tidak salah dengar? Gedung sekolah yang terletak di distrik yang bersebelahan dengan distrik tempat tinggal Kuroko itu bahkan belum lama ini di bangun.

"Seirin?Kenapa Kurokocchi memilih sekolah baru itu-ssu! Dia harusnya di sekolah dengan reputasi tim basket yang baik seperti Kaijou atau sekolah besar yang lainnya. Kenapa harus Seirin?" tanya Kise. Dia sepertinya sangat menyayangkan keputusan orang yang selalu dikaguminya untuk bersekolah di sekolah baru macam Seirin.

'Tetsu-kun punya alasan tersendiri kenapa dia mendaftar disana. Aku bahkan ingin satu sekolah dengannya, tapi aku tidak bisa meninggalkan Aomine-kun dengan sifat seperti itu di Touo sendirian, Ki-chan.'

Setelah mendengar pernyataan dari Momoi, Kise jadi teringat dengan pembicaraannya dengan Kuroko tempo hari.

Kemenangan itu apa?

Sebuah pertanyaan dari Kuroko yang sampai saat ini tidak mampu dijawab olehnya. Apa Kuroko berniat untuk berhenti bermain basket?

'Moshi-moshi, Ki-chan?! Apa kau masih-'

TUT.

-Dan sambungan telelpon itu pun terputus.

.

.

.

.

.

SMU SEIRIN

Kise menatap ke depan dengan senyum rupawannya. Gedung sekolahnya terbilang cukup besar untuk ukuran sekolah baru. Kaki jenjangnya melangkah lebar memasuki gerbang sekolah yang terbuka lebar di depannya. Menghiraukan tatapan kagum siswa-siswi yang menyerukan namanya sebagai bintang model terkenal. Ah, bintang basket juga.

"Oi! Oper bolanya, baka!"

Suara sorak-sorai dari arah gym menyita perhatiannya.

Mungkin saja Kuroko ada disana.

Netra cerahnya melongok ke dalam gym dan mendapati klub basket sedang latihan. Ini hari keberuntungannya.

Kuroko, bola basket, dan deru napasnya di lapangan - Kise merindukan semuanya.

"Kurokocchi!"

Dan Kuroko melihat kearahnya.

"K-Kise-kun?" ujar Kuroko. Nampak dia agak terkejut dengan kehadiran si blonde yang merupakan mantan rekan setimnya di Teikou. "Ohisashiburi, Kise-kun." Kuroko menunduk untuk mengucapkan salam.

"Oi, kau kenal dia Kuroko?" Hyuuga Junpei-si kapten tim basket Seirin bertanya dengan wajah kagetnya.

" Ha'i. Dia rekan setimku di Teikou Hyuuga-senpai."

"Heeh?! Kise ? Si Kise Ryouta anggota Kiseki no Sedai yang itu?! Maji de?!" Izuki Shun - senpai tahun kedua yang menempati posisi point guard itu juga tak kalah takjub. Pasalnya baru kali ini, mereka berbicara langsung dengan anggota tim yang menjadi langganan juara kompetisi basket nasional.

Kise sedikit bernafas lega. Pikiran negatifnya tentang Kuroko yang berhenti bermain basket lenyap sudah. Sungguh dia menikmati moment saat netranya melihat Kuroko dengan wajah datarnya yang seperti biasanya.

"Aku dengar Kurokocchi mendaftar ke Seirin jadi aku kesini untuk mengunjungimu-ssu."

"Doumo. Tapi aku tidak butuh dikunjungi, Kise-kun."

Nampak tombak imager menusuk dada Kise sampai tembus ke belakang dengan sadisnya.

"Kurokocchi, hidoi-ssu! "

Namun rengekannya harus terhenti karena sebuah bola basket melesat menuju ke arahnya. Berterima kasihlah pada kemampuan refleknya yang luar biasa. Bola basket itu berhasil ditangkis meskipun dia yakin telapak tangannya akan memerah setelah ini.

"Kau Kise Ryouta anggota Kiseki no Sedai? Aku ingin menantangmu, one on one."

Lalu muncul orang tak terduga, cahaya baru Kuroko -Kagami Taiga.

.

.

.

SMU KAIJOU.

Kise menunduk menyiram wajahnya yang dipenuhi oleh keringat. Hari ini adalah hari kekalahannya. Tepat satu hari yang lalu, dia mengundang tim Seirin untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan tim basketnya di Kaijou. Sungguh hasil yang tidak pernah dia duga bahwa dirinya akan kalah melawan tim yang baru di bentuk dua tahun yang lalu itu. Dia menatap sedih tangan kanannya yang tanpa sengaja memukul Kuroko hingga mengakibatkan remaja baby blue itu mengalami pendarahan di kepalanya.

"Sudah kuduga, seperti ramalan Oha-Asa keberuntungan Gemini hari ini sangat buruk-nanodayo."

Kise menoleh dan mendapati Midorima melempar handuk kecil ke arahnya.

" Midorimacchi, kau selalu seperti biasanya. Ohisashiburi-ssu!"

"Aku tidak menyangka kau akan kalah melawannya-nodayo."

"Kau datang menonton pertandingan kami-ssu. Kau tidak menyapa Kurokocchi? Tapi Seirin memang hebat. Kau juga harus berhati-hati-ssu."

Midorima menaikan sedikit kaca matanya. Dia tersenyum miring padahal Kise sama sekali tidak sedang melawak sekarang.

"Itu tidak perlu. Aku yang bergolongan darah B kurang cocok dengan Kuroko yang bergolongan darah A. Agar keberuntungan selalu menyertaiku, hari ini aku membawa lucky item dari Oha-Asa yaitu mainan kodok ini-nanodayo."

Kise sama sekali tidak menghiraukan ucapan Midorima barusan. Netranya kini malah terfokus dengan rombongan tim Seirin yang pergi meninggalkan sekolahnya. Kuroko berjalan beriringan dengan rekan setimnya sambil sesekali memegang kepalanya yang dibalut perban.

.

.

.

.

.

Kuroko menghela nafas ketika dia keluar dari restoran steak super rekomendasi pelatih mereka - Aida Riko. Mengharuskannya untuk menghabiskan 4kg daging steak dan jika sampai gagal menghabiskannya dalam waktu 30 menit maka mereka harus membayarnya seharga 10.000 yen sebagai hukumannya. Berterima kasihlah pada Kagami yang sanggup menghabiskan sisa makanan teman-temannya yang lain hingga mereka tidak perlu membayar ke pemilik restoran.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Kuroko terpaku saat mendapati Kise sudah menunggunya di depan restoran.

"Kise-kun?"

Kise tersenyum lega saat melihat keadaan Kuroko yang terlihat baik-baik saja. Mereka berdua berjalan-jalan menyusuri trotoar sambil berbincang-bicang sejenak.

"Sudah lama sekali, kita tidak berbicara berdua seperti ini-ssu."

Kuroko hanya menumpu pandangannya pada langkah kakinya.

" Ano...Bagaimana dengan luka di kepalamu?Apa baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." ujar Kuroko sekenanya. Matanya memandang Kise yang berdiri di depannya dengan ekspresi datarnya.

"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, Kurokocchi." jeda sejenak sebelum Kise mendekat dan membawa Kuroko kedalam pelukannya. "Kenapa kau menghilang?"

Tangan Kuroko dengan ragu menggenggam erat blazer abu-abu milik Kise. Dari sana, dia bisa merasakan jika tubuh Kise bergetar menahan tangis.

"Kenapa kau tiba-tiba menghilang saat final kompetisi nasional itu-ssu? Aku juga mencarimu sesaat setelah upacara kelulusan. Tapi aku tidak bisa menemukanmu."

Pelukan Kise kian mengerat. Membuat Kuroko sempat terpaku. Netranya bergulir gelisah saat Kise melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan lekat.

"Sumimasen deshita."

Pandangan Kise menyendu. Sampai saat ini pun Kuroko tidak memberitahu alasan sebenarnya kenapa dia seolah menghilang dari pandangannya.