"Je—"
"Kau yakin kepalamu baik-baik saja, nak?"
To be Kristein's Bride
Chapter 2 : Her First Step
Diclaimer: SnK tetep selamanya punya Hajime Isayama oppa #bletak!
Plot and Story : Ellena Weasley
Pair : Jean Kirstein and Sasha Blouse
Prekuel dari Fic "Just Stay Next To Me"
Warnings: typos tak kasat mata, OOCs (berusaha keras tetep on character, tapi iya enggaknya Readers-lah yang menentukan), di luar alur baik anime atau manga-nya, dan beberapa ke-abal-abalan yang lainnya, maaf ya…. Disini baik tokoh yang mati, kabur, atau berkhianat di cerita manga dan anime kembali ada (karakter mereka diperlukan soalnya, jadi lupakan konflik mereka sejenak),
Hope you like it, and…
Have a nice reading…. \(^_^)/
Kepingan cangkir porselen itu masih bergerak di lantai batu itu. Tumpahan teh hangat itu tetap berasap walau tumpahannya semakin melebar. Tak ada suara Lain. Bahkan suara napas tak terdengar, semua orang di ruang itu serasa membeku. Jean membekukan ekspresinya. Sasha hanya mampu memberi pandangan bermakna seribu pada Jean. Jean sungguh bersyukur Sasha tidak memberinya tatapan bloon atau muka ternganga.
"A-ah, maaf, tangan ibu agak licin. Sebentar ibu akan membereskannya."Ujar nyonya Kristein yang seakan baru tersadar dari pingsan, setidaknya dialah yang petama kali menguasai diri dari syok dibandingkan dengan suaminya.
"Tahukah apa yang telah kau katakan, Jean Christopher Kristein?" Mr. Kristein mulai meninggikan suaranya. Wajahnya yang sedikit angkuh agak memerah karena menahan emosi.
"Ayah seharusnya mendengar dengan sangat jelas. Aku ingin menikahi Sasha."Kata Jean dengan mata yang lurus.
"Ayah mengerti setiap kata dari apa yang kaukatakan, nak. Tapi ayah masih tidak yakin kau paham dengan apa yang telah kau keluarkan dari mulutmu." Mr. Kristein kemudian terdiam, "Yah, dengan begini kau telah membuktikan kau sudah dewasa." Mr. Kristein akhirnya memberikan tatapan hangat kepada putra semata wayangnya itu. Ia meraih pundak putra yang sudah ia warisi sifat luar dan dalamnya itu.
Ekspresi Jean sedikit lega, ia sadar ia lolos dari maut. Tapi tidak dengan Sasha. Sasha masih menatap Jean, seakan ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan selain menatapnya.
"Nah, Sekarang mari kita makan malam. Kalian pasti sudah lapar kan?" Mrs. Kristein sudah memasuki ruangan dan kembali menjadi nyonya rumah yang luwes.
Saat mereka beranjak menuju ruang makan, Sasha menarik siku Jean dan menahannya sebentar.
"T-t-tunggu, Ap-apa maks-sud mu dengan Pernikahan t-tadi?" Sasha tergagap saking syoknya.
"Eh, biar kujelaskan nanti. Aku lapar. Dan aku yakin perutmu berbunyi lebih keras daripada perutku. Nah ayo."Jean mengedikkan kepalanya sebagai isyarat mengarahkan Sasha ke ruang makan.
Sasha yang masih bingung tujuh keliling hanya bisa memasang raut tak terbaca sambil mengikutinya.
Saat makan malam berlangung….
Dengan adanya banyak piring yang menyuguhkan makanan luar biasa lezat, Sasha sudah lupa dengan kebingungannya tadi. Jean lega akan itu, namun…..
Cap! Krausss..
Cap! Haup!
Cap! Slurrp…
Decapan mulut Sasha yang mengunyah makanan dengan penuh semangat membuat Jean harus benar-benar mengendalikan emosinya. Pasalnya, walaupun ajaibnya itu bukan masalah bagi kedua orangtuanya yang malah terlihat sangat senang dan nyaman-nyaman saja dengan keadaan absurd ini, namun ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Urat nadi di kepalanya mulai berdenyut-denyut.
"Mau tambah lagi, Sasha?" Tawar Mrs. Kristein ramah pada Sasha yang sudah menghabiskan piring ke-3 nya.
Sasha hanya mengangguk dan mengangsurkan piringnya kepada Mrs. Kristein.
"Sasha-honey,"Jean menutup kedua matanya, bersiap menahan emosinya yang mungkin keluar pada kata-kata selanjutnya dan SYOK dengan kata terakhir yang terucap dari bibirnya. "Bukankah kau sedang diet?"
"Aaa…. Diet,ya. Oke. Aku sudah selesai dengan dietku malam ini. Jadi sah-sah saja kan, Jean?"
Jean hanya bisa meraih dahinya, menenangkan urat-uratnya yang serasa ingin melompat. 'sabar, jean. Sabar, ini lebih baik daripada menikahi Irina.'
"Kudengar kalian akan libur panjang, kan? Kenapa tidak sekalian saja menginap disini selama liburan?" Cetus Mr. Kristein di sela denting garpu dan pisau makan.
"Ide yang cukup bagus, kami punya satu kamar tamu yang bisa kau gunakan Sasha. Kau mau menghabiskan liburan mu disini?" tambah Mrs. Kristein
Sasha bersiap akan mengangguk antusias namun jawaban Jean membuatnya terhenti.
"Kami harus segera kembali, lagipula barang-barang dan baju-baju Sasha masih ada di barak. Mungkin lain kali ibu."
"Ah, kau kan bisa mengambilkannya bukan. Aku akan meminjamkan baju ku saat aku masih gadis kepadanya untuk sementara ini. Pasti menyenangkan, bukan, Sasha?" Sahut Mrs. Kristein
Sasha mulutnya masih sedikit belepotan mengangguk setuju. Jean menahan diri untuk tidak melempar lap ke wajah Sasha.
Setelah Sasha menghabiskan piringnya yang ke-4, pudding penutupnya dikeluarkan. Sasha sangat menyukai makanan manis. Ia memakan pudding itu dengan penuh sukacita. Wajah Mrs. Kristein terlihat sangat sumringah melihatnya.
"Ano, Sasha. Mau aku berikan resepnya agar ibu mu bisa membuatkannya untukmu. Kelihatannya kau sangat suka."
Sasha membeku, tanpa sadar ia melepaskan pegangannya pada sendok pudding itu.
TANGG!
Jean menatap Sasha Heran. Seketika wajah gadis berkuncir kuda itu sedikit pucat. Ia melihat gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah sebelum kembali menyunggingkan senyum bodohnya lagi.
"Ada apa?"
"Terima kasih nyonya Kristein. Tapi… Kalau pudding, Sasha bisa membuatnya sendiri, Nyonya Kristein. Itu camilan pertama yang mama ajarkan untuk Sasha buat sendiri. Mama sudah meninggal saat Sasha berusia 7 tahun, Nyonya Kristein. Mama pamit untuk berburu jamur langka di hutan barat. Tapi, yang kembali hanyalah kudanya malam itu. Keesokan paginya Papa mencoba mencari jejaknya, Papa hanya menemukannya di dalam jurang. Tubuh Mama tak bisa diangkat dari sana."
Jean menyesal telah bertanya. Wajah Sasha masih sumringah, tapi matanya sedikit berkaca-kaca dan berkali kali menelan ludah. Ibunya bahkan menutup mulut, Jean curiga ibunya sedang ternganga dan menangis. Ayahnya tak jauh beda dengannya.
Nyonya Kristein meraih tangan Sasha. Pandangannya seperti ia sedang memandang putra kesayangannya sendiri, air matanya berlinang.
"Mulai sekarang, kau boleh memanggilku ibu. Ibu."
"Ibu." Sasha tersenyum dan balik menggenggam tangan sang ibu.
Suara percakapan yang begitu akrab antara Sasha dan ibunya terdengar sangat hangat.
"Kau tak perlu ikut membereskan piring-piring ini, Sasha. Kau tamu ibu, jadi ibu yang harus melayanimu."
"Sasha hanya ingin membantu."
"ckckck, kau ini sangat keras kepala ya seperti Jean-boy."
"Benarkah?" ujar Sasha sambil terkikik
"Tentu saja benar. Jika ia ingin melakukan sesuatu, tak ada yang bisa menghalanginya untuk melakukan itu, bahkan titan sekalipun." Mrs. Kristein mengakhiri pembicaraan itu dengan tawa pelan.
Hening sejenak. Hanya suara denting-denting porselen dan metal yang mengisi ruangan itu.
"Jean agak gemuk saat ia masih kecil. Pipinya ranum seperti tomat matang. Ibu sangat gemas padanya." Mrs. Kristein kembali membuka pembicaraan. Matanya menerawang jauh pada kenangan masa lalu yang indah itu.
"Benarkah? Ibu masih punya fotonya?"
"Tentu saja, itu harta berharga ibu. Besok akan ibu perlihatkan."
"Wah, Sasha merasa terhormat."
"Hem, tentu. Kau kan akan bersamanya selamanya. Kau juga harus tahu seperti apa dia sebelum bertemu denganmu. Kau akan mendampinginya sepanjang hidupmu Sasha. Pastikan kau kenal betul siapa dia."
"Baik, Ibu."
Suara perkakas dapur yang beradu itu berakhir dengan suara ayunan daun lemari dapur yang tertutup.
"Ibu harus melakukan beberapa pekerjaan dulu sebelum tidur. Kau bisa langsung beristirahat di kamar tamu, ini sudah malam. Jean akan mengantarmu kesana." ujar Mrs. Kristein
"Baik ibu," Kata Sasha sambil mengelap tangannya lalu berbalik keluar dapur. Beberapa langkah keluar dari dapur, sebuah suara dalam kegelapan memanggilnya.
"Oi, Gadis kentang," Sasha menoleh, Jean bersandar pada dinding sambil bersedekap. Mata hitam nya menatap Sasha. Sedari tadi ia menunggu Sasha keluar dari dapur untuk menjelaskan sesuatu. "Ikut aku sebentar."
Sasha menurut saat Jean memimpinnya menuju atap. Sepoi angin memainkan kuncir kudanya saat ia menapaki lantai semen atap, tangannya menggenggam sepotong roti yang sempat ia comot dari dapur. Sejuknya membuat Sasha nyaman. Sejenak ia tutup kedua matanya. Sebaliknya, pemuda berwajah tirus di depannya terlihat gusar. Angin meniup surai cokelat susunya.
"Eng… ehem.." Jean tak tau harus bagaimana memulai pembicaraan ini.
"Kau pasti senang memiliki ibu seperti Ibu. " ujar Sasha sambil menerawang jauh.
"yah… tentu saja," Jean masih mencoba mencari celah untuk membuka pembicaraan. Namun pikiran nya tetap kosong.
"Leluconmu tentang pernikahan tadi lumayan lucu, sayang aku tak kau perbolehkan bicara kalau tidak kau suruh, kan? Aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Siapa bilang kau mempunyai rasa humor sekaku batang pohon? Ternyata kau bisa melawak juga rupanya." Sasha mengakhiri perkataannya sambil menoleh kearah Jean. Yang ditoleh malah memasang wajah tak percaya.
"Eng… Gadis Kentang, maukah kau membantuku?"
"Asalkan aku tetap bisa kenyang setelah membantumu, I'm in." sahut Sasha dengan mudahnya.
Jean makin tak percaya, sebegitu mudahnya gadis ini menyetujui konspirasi besar ini. "Baiklah, begini cerita sesungguhnya…"
Jean menceritakan kepada Sasha tentang awal mula dan sebab ia ikut terlibat dalam masalah ini.
"Aku tidak sedang mimpi aneh, kan?" kata Sasha sambil mencubit pipinya.
"Jadi, intinya. Selama liburan ini kau akan berpura-pura sebagai calon menantu idaman ibuku. Lagi pula kau tak punya tempat lain untuk menghabiskan liburanmu bukan? Disini kau bisa makan, masak, dan melakukan apapun yang kau ingin kan, asaaaaal…." Jean mengakhiri perkataannya dengan dramatis
"Ahahl afha?" ujar Sasha yang mulutnya masih penuh kunyahan roti.
"Jaga Kelakuanmu senormal mungkin." Ujar Jean dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Haaa?… bisa kau ulang lagi? Normal? Memangnya selama ini aku tidak normal begitu maksudmu?! Hah? HAH?!" Sasha mulai naik darah menghadapi mulut sinis si muka kuda. Tangannya yang sudah bebas dari roti mulai memukul-mukul pundak Jean.
"Aw! Hen, Hentikan bodoh!" seru Jean sambil menangkis pukulan-pukulan Sasha. Tangannya lalu mengunci kedua lengan Sasha dan menahannya di depan dadanya. "Kau ternyata Brutal sekali. Aku ragu kau ini benar-benar seorang wanita."
Sasha Hanya menggembungkan pipinya sejenak. Lalu mengembuskan napas dan membebaskan lengannya dari kuncian Si Kuda—Jean. "Lalu, sampai kapan kau akan mempertahankan Sandiwara ini? Aku tidak mau bila harus benar-benar menikahi orang sepertimu."
"Aku juga tidak mau!" Sahut Jean, "Setidaknya tolong bertahanlah sampai liburan ini selesai. Aku akan mencari cara untuk mengakhiri ini tanpa membuat ibu ku curiga. Pokoknya, nikmati saja 1 minggu berperan menjadi anak ibuku sambil makan makanan sekelas buatan koki terkenal milik ibuku, mengerti?"
"Aye-aye, Captain!" Seru Sasha sambil menghormat pada manusia kuda nan bossy yang satu itu.
"Good Girl." Ujar Jean sambil nyengir dan bersendekap, lalu melenggang menuruni tangga tanpa menunggu si Gadis Kentang.
"Heiiii, Tunggu aku, Kudaaa! Aku tak tahu dimana kamarku!"
Cicitan sepasang burung gereja membangunkan Jean yang tadinya masih tertidur di kasurnya. Jean perlahan membuka matanya lalu menguceknya. Dengan enggan ia mendudukkan dirinya di kasur. Ia mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan. Dan sambil menguap lebar ia menoleh ke arah jendela yang menyorotkan cahaya fajar ke dalam kamarnya. Disana, bertengger sepasang burung gereja yang sedang ramai berkicau dan membuat jean makin terganggu. Ia langsung melangkah ke arah jendela dan berniat mengusir dua burung kecil nan ribut itu. Namun bukannya takut, burung-burung itu malah seolah gembira dengan kedatangan jean dan makin ramai berkicau.
Melihat ia gagal mengusir perusak mimpi indahnya bersama mikasa, ia berbalik tak acuh keluar kamar. Jean yang sebenarnya masih setengah tidur melangkah menuruni tangga. Namun ia sontak berhenti melihat sesosok gadis muda yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah tergerai di punggungnya. Gadis itu mengeringkan rambut dengan handuk di tangannya hingga menyingkap rambutnya sampai leher dan pangkal bahunya terlihat. Jean merasakan darahnya naik kepala begitu belihat bahwa gadis itu tidak menutup dua kancing teratas kemejanya. Meskipun tidak lebar namun jean bisa melihat apa yang tersembul di celah kemeja itu. Sep—
GUBRAKKK!
Yang Jean tahu ia sudah tergeletak dengan posisi tidak elit di tangga paling bawah. Kakinya melintang ke depan, badannya melengkung, membiarkan kepalanya menyembul di antara kakinya. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Sasha yang terperangah dan wajah ibunya yang kuatir.
"Je—"
"Kau yakin kepalamu baik-baik saja, nak?"
Jean yang masih shock akibat atraksi nya tadi tetap ternganga. Namun ia langsung sadar begitu matanya menangkap penyebab ia jatuh terguling dari tangga. Wajahnya kembali hidup dan langsung merona. Jan lalu duduk membenahi dirinya yang tadi terjebak di posisi tak enak.
"A—aku baik-baik saja kok, bu." Ujarnya pendek.
"Benarkah? Apa kau tak merasa pusing? Apa perlu ibu berikan kompres es? Sepertinya jatuhnya lumayan sakit…." Tanya ibunya.
"Tak apa bu, tak ada yang serius." Jean lalu bangkit danmembersihkan debu yang menempel di badannya.
"Baiklah kalau begitu, turunlah sarapan jika kau sudah mencuci mukamu. Sasha dan aku sudah selesai memasak. Nah Sasha, kau juga harus segera turun ya… ibu tunggu di ruang makan, oke?" Mrs. Kristein lalu berbalik meninggalkan dua pemuda dan pemudi itu dalam diam.
Begitu suara langkah ibunya tak terdengar lagi, jean langsung mendesis keras pada Sasha, "Cobala berpakaian lebih rapi disini! Aku hampir celaka gara-gara ulahmu! Kancingkan kemejamu dengan benar!"
Sasha langsung menunduk melihat kerapian kemejanya dan langsung mencengkram bagian kemejanya yang terbuka dengan wajah yang merona hebat. "Berisik kau muka kuda mesum! Sana sikat gigimu! Mulutmu benar-benar bau! Week" Sasha langsung pergi ke kamarnya yang tepat di depan pintu kamar mandi setelah menjulurkan lidahnya pada Jean.
BLAM! Ia menutup pintunya di depan muka Jean. Diperlakukan seperti itu Wajah Jean mulai berkeriut-keriut marah
"OI! OJOIFVBUGFAFBJDGUASJDFHALFJ….." Jean sudah mengomel panjang lebar dan sasha bahkan tak peduli.
Jean dalam perjalanan pulang menuju kembali kerumah. Ia pulang dari markas Scout Legion untuk mengambilkan pakaian ganti untuknya dan Sasha. Jika saja ibunya tidak memaksanya untuk melakukannya ia mungkin sudah asik berbaring di atap sambil membayangkan wajah mikasa. Untung saja Mina mau membantunya mengepak pakaian Sasha walaupun gadis berkuncir kembar itu tersenyum dan cekikikan sambil membantunya.
Ia melewati jalan pasar di perjalanan pulang. Sudah lama ia tak kesini sejak bertahun-tahun yang lalu. Aneka kios yang menjajakan barang dan deretan pedagang memenuhi jalan yang ramai itu. Suara riuh pedangan yang menjajakan dangangannya memenuhi udara.
"Sayur Segar, Sayur Segaaar! Ada tomat, sawi, wortel, dan kentang… semuanya bagus-bagus. Dibeli, dibeli, dibeliiiiii."
"Tuan, Nona, daging segar untuk hari ini! Nona mau apa? Sapi, kambing, ayam, atau Babi? Semua ada di sini!"
"Roti baru dimasak semua. Masih hangat, siap makan!"
Jean meringis sendiri. Jika Sasha ia ajak juga, mungkin gadis itu akan memandang semua ini dengan mata berbinar-binar. Ia mungkin juga harus bekerja ekstra agar gadis itu tidak lari kemana-mana. Jean barangkali akan butuh tali kekang untuk mengontrol tingkah Si Gadis Kentang. Mungkin, sebagai imbalan setelah semua ini selesai, ia akan benar-benar mengajaknya kemari.
"Jean? Jean Kristein?" suara lembut tertangkap oleh gendang telinga Jean. Jean segera menoleh kea rah sumber suara. Ia mendapati seorang wanita anggun berambut blonde yang mengepang rambutnya dan menyampirkannya ke bahu. Wanita itu menatap Jean dengan sumringah.
"Anda siapa nona?"
"Kau tidak ingat padaku? Aku Irina, jean… wah, apakah hanya gara-gara menjadi prajurit ingatan mu memburuk?" Ujar Irina ramah.
Jean terbelalak. "Kau benar-benar Irina?"
Irina mengangguk.
"A-ah, Irina. Lama tak bertemu." Ujar Jean terperangah. Teman kecilnya yang selalu membully nya semasa kanak-kanak kini berubah menjadi seorang wanita cantik yang tampak sulit ditolak. Rasa menyesal sedikit terbesit dalam hatinya.
"Benar Sekali. Kau banyak berubah ya?" Tanya Irina. 'tak sebanyak dirimu tentu saja.'batin Jean. "Kudengar kau masuk Pasukan Scout legion, benarkah kalian pulang dari misi kalian di Wall maria? Rumornya itu pertempuran yang sangat sengit. Aku sengan kau kembali selamat."
"yaah, begitulah."Jawab Jean seadanya.
"Kau tahu kan aku akan kerumah mu mala mini. Ibumu mengundang ku untuk makan malam. Apa ini? Apa ini syukuran karena kau selamat dari pertarungan maut?"
JGERRR! Kilat menyambar kepala Jean. Ia tak menyangka undangan itu masih berlaku. "Ya, sepertinya begitu." namun Jean ingat ia terlanjur mengatakan rencana konyolnya pada ibunya, "Sekalian syukuran karena aku akan menikah."
"Wah, benarkah?"
"Eng-Ehh, ya begitulah."
"Waaah…. Aku penasaran wanita seperti apa yang mau dengan mu, jean."
"O-oi. Begini- begini aku idaman banyak wanita tau."
"Pembual. Hahaha" tawa Irina renyah terdengar di telinga Jean. "Baiklah kalau begitu." sampai jumpa nanti malam, Jean. Daah." Kemuadian Irina berjalan menjauh meninggalkan Jean yang kembali bergolak batin nya.
"AKU pulang." Ujar Jean begitu masuk rumah
"Selamat dataaang." Ujar Sasha ramah menyambut kedatangan Jean petang itu.
Jean terperangah menatap Sasha yang sudah didandani ibunya dengan Blus berkerah lebar berwarna gading dan rok cokelat susu yang terlihat manis di badannya. Ia menggelung rambut cokelat nya dihiasi kepangan-kepangan lebar. Wajahnnya dipulas tipis oleh riasan sederhana yang semakin menonjolkan wajah sumringahnya.
"Kau terlambat pulang, ada apa?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berkeliling sebentar. Yah, setidaknya aku rindu tempat ini setelah lolos dari maut."
"Oooh." Sasha ber oh-ria. "Ibu menyuruhmu segera bersih diri dan ganti baju. Tamunya segera datang." Ujar Sasha lalu berbalik, tinggal lah Jean yang masih sedikit terperangah dengan perubahan cantik Sasha.
'aku tidak salah pilih partner-on-crime.'
"Jean, kau masih disitu?"
Jean sedikit tersentak, "Hemh, kau lumayan cocok dengan baju itu." Ujar Jean tidak nyambung
Sasha tersenyum, senyum yang entah mengapa membuat hati Jean bergetar.
"Terima kasih pujiannya, Kuda!" Cetus Sasha.
Ya, Jean tidak salah pilih partner.
TBC
A/N
Ulalala….
Kaku ya bahassanya akibat udah jarang nulis.. hehehe…
Lanjut?
Review dulu…
Sampai jumpa di Chapter depan (semoga aja)
—Ellena
