Note: Thanks banget untuk semua reader yang udah nyempatin review, jujur aku seneng bgt baca review kalian. Jadi fanfic ini bakalan tetap rate T bukan M dan scene shikaino yg kemaren itu mungkin yg terakhir.
Oh yah klw ada yg ada g suka sama shikaino kayaknya harus berhenti baca nih fanfic, soalnya aku suka bgt Shikamaru I like everything about him dan kedepannya peran shikaino bakalan banyak.
Benar. Fanfic ini udh pernah di-update dengan nama author 'Chlorin' cuma akun yg itu g bs terbuka makannya aku bikin akun yg lain.
Disclaimer: Sakura, Gaara, Sasuke, Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei
Happy Reading Guys! aku bakalan seneng bgt klw kalian nyempatin review.
Sakura menatap bangunan yang telah menjadi tempatnya menuntut ilmu selama hampir 3 tahun terakhir dengan pandangan kosong, sang merah muda bukan mengagumi bangunan tersebut hanya mencari sesuatu yang bagus untuk dipandang dalam waktu beberapa menit. Waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan diri memulai hari barunya, hari yang tidak dia harapkan akan seperti apa, hanya mungkin hari ini akan lebih baik dari hari-harinya yang lalu.
Tidak ada yang berbeda, hanya rambut merah mudanya yang sedikit dipangkas hingga panjangnya hanya sebahu, toh orang yang katanya menyukai perempuan berambut panjang telah dilepasnya.
Sakura melangkahkan kaki jenjangnya memasuki bangunan tersebut, tersenyum ramah pada beberapa junior atau pun teman satu klub yang menyapanya seperti paginya yang kemarin-kemarin.
Benar, tidak ada yang berbeda. Sakura tak ingin menjadi suatu pribadi baru seperti cerita-cerita fiksi bergenre hurt/comfort/romance yang sering dibacanya, di mana sang perempuan akan berubah menjadi dingin ataupun pendiam setelah disakiti beberapa kali. Sakura akan berusaha bersikap biasa walaupun keadaan yang sebenarnya jauh dari keadaan yang biasa saja.
Langkahnya berlanjut memasuki kelas yang tampak sudah sangat ramai, masih dengan tersenyum sakura berjalan menuju bangkunya, duduk dan kembali pada kebiasaannya, menatap pohon sakura di taman sekolahnya, lagi pula tak ada lagi yang bisa Ia pandangi selain itu.
Pagi itu, semua berjalan seperti biasa, seperti hari-hari kemarin. Ah tidak, satu hal yang berbeda, sang emerald tak pernah lagi melirik manusia yang duduk dua bangku di sampingnya.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, kaki sakura melangkah mengikuti dua pemuda yang berjalan di depannya dalan keadaan diam.
Mereka berjalan menuju bangku yang telah ditempati Ino dan Naruto. Shikamaru mengecup bibir Ino dan duduk di samping kekasihnya, sementara Naruto membuang muka lalu tersenyum cerah begitu melihat Sakura duduk di sampingnya.
"Sakura-chan, kau terlambat hari ini?" Naruto memulai percakapan, masih dengan senyum di wajahnya
"aku kesiangan Naruto-kun, tapi aku tidak terlambat kok" Sakura menjawab dengan ekspresi pura-pura kesal.
"pantas saja hari ini sakura-chan tak bawa bekal, mau aku pesankan?" Naruto kembali bertanya yang dijawab dengan anggukan semangat Sakura, jujur saja Sakura tidak suka berdesak-desakan di area pemesanan makanan makannya Ia selalu membawa bekal.
"aku pesan jus stroberi saja Naruto-kun, hari ini aku malas makan" ucap Sakura, lalu Naruto baru akan berjalan saat mata safirnya menyadari bahwa salah satu sahabatnya masih diam di tempat.
"kau teme, mau pesan apa?" Naruto berucap, seperti tidak ada masalah di antara mereka. Terjadi jeda beberapa detik sampai akhirnya pria dingin itu bersuara "seperti biasa dobe" dan sisanya berlanjut seperti hari-hari kemarin, Ino dan Shikamaru yang masih terus bermesraan, Naruto yang terus menggoda Sasuke dengan cerita-cerita konyolnya dan Sakura yang tertawa seperti biasa menanggapi lelucon Naruto.
Ah tidak, satu hal berbeda, siang itu Sakura tak sekalipun berbicara dengan Sasuke walau hanya sekedar basa-basi.
Jam Istirahat hampir selesai, Naruto dan Ino telah kembali ke kelasnya sementara Sakura dan Shikamaru berjalan berdua menuju ruang klub karena ada urusan klub meninggalkan Sasuke yang berjalan sendiri menuju kelas mereka. Setelah urusan klub mereka selesai, Sakura dan Shikamaru berjalan menuju kelas dalam diam
"Shikamaru-kun terima kasih" Sakura berucap, membuat pria nanas itu meliriknya sejenak
"Hn" respon shikamaru, mungkin orang lain akan bertanya sakura berterima kasih untuk apa, tapi ini seorang Shikamaru, seseorang yang akan mengerti apapun tanpa kau harus mengungkapkannya.
Lalu keduanya kembali berjalan dalam keheningan, hingga seseorang yang berjalan menuju mereka menarik atensi keduanya.
Shikamaru menyeringai melihat pria berambut merah dengan tato Ai di wajahnya berjalan ke arah mereka.
Here we go, The Third Person
"kau sudah tiba?" Shikamaru berucap begitu pria berambut merah telah berdiri di hadapan keduanya. Sang pria merah hanya diam, atensinya focus pada sang gadis berambut merah muda dengan emerald yang sangat memesona, bibir gadis itu mengulas senyum tulus ke arahnya, kebiasaan gadis itu saat bertemu orang-orang baru.
"Gaara ini Sakura, Sakura ini Gaara, adik Temari" Shikamaru kembali berucap, membuat Sakura mengulurkan tangannya yang disambut oleh Gaara yang berusaha mengulas senyum ramah seperti gadis di depannya.
"adik Temari, berarti dia orang Suna. Kenapa bisa di sini?" Sakura berucap setelah jabat tangan keduanya terlepas, menyisakan rasa hangat dan lembut di tangan Gaara.
"Dia baru pindah di sini" Shikamaru berucap singkat, jujur ini menjengkelkan buat shikamaru, harus berada di antara dua manusia yang sepertinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mata kelamnya menatap Gaara yang sepertinya tak ingin melepaskan atensinya pada Sakura, sementara Sakura masih bersikap seperti biasanya, Sakura yang ramah pada setiap orang bahkan orang baru sekalipun.
Shikamaru menyeringai seperti mendapatkan sebuah ide, detik selanjutnya Shikamaru berucap bahwa Ia masih ada urusan dengan Ino lalu meninggalkan mereka berdua.
Gaara tak protes, apalagi Sakura, Ia sangat mengetahui bagaimana hubungan sahabatnya dengan pria terjenius sekonoha itu, hubungan yang sudah melebihi hubungan remaja pada umumnya.
"kau masuk kelas apa Sabaku-san?" Sakura bertanya, mencoba memecah keheningan di antara mereka. Jujur sakura tidak tahan dalan keheningan apalagi dengan orang baru. Ia terkenal sebagai gadis yang ramah, ceria dan cerewet, kecuali pada satu orang.
"Gaara, panggil Gaara saja" Sakura berucap syukur dalam hati, akhirnya pria itu berbicara. Sakura tersenyum, Ia merasa seperti dejavu, rasanya Ia pernah mengalami hal seperti ini bertahun-tahun yang lalu, tapi dengan orang yang berbeda, orang yang juga irit bicara.
"Baiklah, Gaara-san kau kelas berapa?" Sakura kembali bertanya, namun dengan intonasi berbeda
"panggil aku seperti kau memanggil Shikamaru" pria itu kembali bersuara dengan nada datar. Ini benar-benar seperti bertemu dengan Sasuke kedua. Batin Sakura jengkel
"Baiklah, Gaara-kun kau kelas berapa?" Sakura bertanya lagi tapi dengan senyum yang dipaksakan dan wajah cemberut, sontak pria merah itu tertawa membuat wajah Sakura tambah cemberut.
"kau tahu wajahmu sangat lucu" masih dengan tertawa, Gaara menatap wajah cemberut Sakura yang menatapnya sebal.
Sakura sebenarnya tak mengerti, apa yang lucu dengan wajahnya sekarang, jujur sejujurnya Ia benar-benar jengkel pada pria yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu dan sepertinya, pikiran bahwa Gaara adalah Sasuke kedua benar-benar salah, Sasuke tidak akan pernah tertawa seperti itu.
"aku kelas 3B" Gaara akhirnya menjawab, namun Sakura masih diam sambil memalingkan wajahnya. Tawa Gaara benar-benar berhenti, sepertinya Sakura benar-benar marah. Batinnya.
"Sakura, aku tak bermaksud menertawakanmu" Gaara berucap kembali, namun Sakura hanya diam.
"Sakura" Suara Gaara kembali terdengar
"sudahlah, ayo kuantar ke kelasmu, sebentar lagi jam pelajaran dimulai" Sakura bersuara dengan nada kesal lalu berjalan mendahului Gaara.
Namun pria itu tidak mengikutinya, hingga Sakura kembali berbalik dan memberikan tatapan 'kenapa tidak mengikutiku?'
"aku tidak akan ikut, sebelum kau berhenti marah" Gaara merajuk dengan nada datar, Sakura memutar mata.
"Oh baiklah, aku tidak marah lagi" Sakura berucap dengan nada setengah jengkel
"kau masih marah Sakura" suara datar Gaara kembali terdengar. Sakura menunduk, lalu menarik nafas dan membuangnya pelan.
"Gaara-kun, ayo kita ke kelas" Sakura mengangkat kepala sambil tersenyum, sontak membuat Gaara juga ikut tersenyum. Lalu gadis itu berjalan diikuti Gaara di belakangnya. Langkah mereka terhenti di depan kelas Gaara yang bersebelahan dengan kelas Sakura.
"ini kelasmu, masuklah" sakura tersenyum dan Gaara juga ikut tersenyum, sejenak Sakura tertegun hingga Gaara mencondongkan tubuhnya membuat wajah Sakura memerah.
Ia ingin mendorong pria itu namun tubuhnya seperti tak bisa digerakkan, maka Sakura hanya diam merasakan wajah Gaara semakin mendekat, Sakura dapat merasakan nafas hangat Gaara menerpa wajahnya, semakin dekat hingga tak tahu dorongan dari mana Sakura menutup mata membuat Gaara lagi-lagi tersenyum.
"terima kasih" suara bisikan tersebut membuat Sakura membuka mata, menatap Gaara yang telah berdiri seperti semula sambil tersenyum ke arahnya.
Sakura masih mematung hingga Gaara masuk kelasnya.
Ada apa ini? Batin Sakura
Sakura tak tahu bahwa ada pria yang dapat membuatnya berdebar-debar seperti ini selain Sasuke, Sakura tak tahu bahwa ada senyuman yang dapat membuatnya hangat selain senyuman Naruto, Sakura tak tahu bahwa berdekatan dengan laki-laki akan membuatnya dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Sakura tak tahu bahwa ditatap seperti itu akan membuatnya menahan nafas.
Selama hidupnya hanya ada tiga pria yang ada di sekelilingnya, Sasuke, Naruto dan Shikamaru namun ketiga pria itu tak pernah berada dalam jarak di mana Sakura dapat merasakan nafas lawannya, mereka tak pernah berada dalam jarak di mana Sakura juga dapat mendengar detak jantung mereka, mereka tak pernah berada dalam jarak sedekat…sedakat jaraknya dengan Gaara.
Apa Ia telah jatuh cinta? Secepat itu? Baru kemarin, dia melepas cintanya yang telah Ia perjuangkan selama 8 tahun. Secepat itukah sakura jatuh cinta lagi.
Tidak … selama delapan tahun ini berulang kali Sakura membuat dirinya jatuh cinta dengan pria lain namun dia tak pernah bisa merasakan debaran seperti debaran yang dirasakannya pada Sasuke hingga hari ini.
Sakura merasakan kakinya melangkah sambil mengontrol jantungnya yang berdetak begitu kencang dengan berkali-kali menarik nafas lalu membuangnya, kedua tangannya menangkup pipinya sendiri berusaha meredakan panas yang berkumpul di wajahnya.
0ooo0
Gaara tersenyum sambil memandangi pohon Sakura dari balik jendela kelasnya, merah muda terus menggerayangi otaknya, entah karena warna pohon yang tengah Ia pandangi atau warna gadis yang terus menghantui otaknya sejak belasan jam terakhir.
Otaknya kembali mengulang memori pertemuannya dengan gadis merah muda itu, walau singkat tapi cukup membuat seorang Gaara keluar dari sifat aslinya. Gaara mengetahui bagaimana sifat dirinya sendiri dan sifat menggoda serta tertawa bukanlah salah satu kebiasaannya.
Namun bersama gadis itu, segalanya menjadi berbeda, gadis berhelai merah muda sebahu dengan mata emerald yang menyejukkan, nyatanya mampu membuat sudut bibir Gaara terus tertarik membentuk senyuman.
Tentu Gaara menyadari bahwa sesuatu yang indah akan banyak peminatnya dan gadis cantik seperti Sakura tentu akan menjadi incaran setiap pria.
Beberapa pria di kelas 3B yang melihatnya bersama Sakura telah mewanti-wantinya untuk tidak jatuh cinta pada sang bunga. Sontak Gaara saat itu bersuara 'kenapa?' dengan nada yang benar-benar tajam membuat para pria itu bergidik takut.
Salah satu dari mereka menceritakan bagaimana kisah cinta tak berbalas Sakura pada salah satu pangeran Konoha, Sasuke. Selayaknya legenda atau romansa dalam novel best seller, kisah itu telah diketahui hampir seluruh penghuni Konoha High School, kisah penantian Sakura menunggu Sasuke membalas cintanya, kisah keteguhan hati seorang Sakura yang terus berpegang pada cinta pertamanya.
Saat itu Gaara terdiam, otaknya bertanya, bagaimana mungkin ada orang yang dapat mengabaikan gadis seperti Sakura, bagaimana mungkin ada hati pria yang tak luluh dengan senyuman tulus Sakura, dan yang paling membuatnya penasaran, bagaimana rupa bentuk seorang Sasuke, seseorang yang mulai detik itu Gaara anggap sebagai rivalnya.
Dan disinilah Gaara, berdiri di antara para siswa yang sibuk mengisi energy mereka yang terkuras selama di kelas. Mata jadenya menelisik ke setiap sudut kantin, mencari kepala berambut merah muda atau pun kepala berambut nanas yang dapat membantu rasa penasarannya.
Binggo, Gaara menemukan mereka di salah satu sudut kantin, di sana tampak Sakura tengah tersenyum sambil menatap pria berambut pirang di sampingnya, sementara Shikamaru duduk di samping seorang gadis berambut pirang sambil menutup mata, terdapat siswa lain berambut raven yang tengah makan dalam keadaan diam, seakan mengabaikan keadaan sekitarnya. Gaara melangkahkan kakinya menuju kumpulan manusia tersebut.
"Sakura" Ucap Gaara sesaat telah berdiri di belakang gadis itu, Sakura menoleh dan sontak emeraldnya membesar
"Gaara" suara Sakura terdengar setengah berteriak, seolah tak bisa menyembunyikan antusiasnya saat bertatapan dengan pemilik suara yang memanggilnya, nada yang kelewat tinggi itu membuat empat pasang mata di sana juga tertuju pada keberadaan Gaara. Gaara hanya tersenyum, masih sambil menatap emerald Sakura
"boleh aku bergabung?" Gaara menyadari mulutnya berucap dan mendapat anggukan Sakura, lalu segera Gaara mendudukkan diri di samping Sakura yang memang masih kosong.
"teman-teman perkenalkan, dia Sabaku Gaara, adik Temari" Sakura memperkenalkan Gaara seakan menjawab rasa penasaran teman-temannya, kecuali Shikamaru tentunya.
"adik Temari?" suara melengking pertama terdengar dari Ino sambil menatap Gaara dan Shikamaru secara bergantian"jadi kenapa kau bisa pindah ke sini?" selanjutnya Ino bertanya dengan nada tak suka, tentu saja karena yang duduk di hadapannya adalah adik dari seseorang yang sempat menyukai kekasihnya.
"Temari-nee diterima di Konoha University, jadi aku menemaninya" Gaara menjawab dengan nada datar, sekarang Ia tahu siapa gadis pirang di samping Shikamaru, gadis yang membuat kakaknya patah hati.
"itu bagus, di universitas dia bisa mendapatkan yang lebih baik dibanding seorang anak SMA" Ino berkomentar dengan nada sarkastik sambil melirik Shikamaru yang kembali menutup mata, tapi Ino tahu pria itu tidak benar-benar tertidur.
"Tidak, Temari-nee masih menyukai Shikamaru, dan kurasa mereka masih berkomunikasi" Gaara kembali bersuara menanggapi sang gadis pirang karena jujur saja, tak ada yang Ia harapkan menjadi kakak iparnya selain Shikamaru.
"WHAAT??" pekik Ino sambil melirik tajam Shikamaru yang sekarang telah membuka matanya
"Mendokusei Ino" Shikamaru akhirnya bersuara sambil melirik Gaara yang tengah menyeringai
"jawab Shika, kau masih berkomunikasi dengan Temari?" suara Ino masih memekik
"Ya tap-"
"sudah, aku tak mau mendengarnya, memangnya aku kurang apa Shika sehingga kau lebih memilihnya" Ino berteriak, membuat para penghuni kantin sedikit banyak menghentikan aktivitasnya.
"aku ti-"
"sudah, aku lelah" Ino mengakhiri perdebatan itu lalu berjalan setengah berlari meninggalkan kantin, dan shikamaru masih diam, lalu membuang nafas kasar sambil memandang Gaara.
"kau tahu, kakakku jauh lebih baik dari perempuan tempramen itu" Gaara kembali bersuara
"Mendokusei, dia sedang dalam minggu periodnya dan ini hari pertama, kau seharusnya tidak menyulut emosinya Gaara" Shikamaru kembali menghembuskan nafasnya kasar, lalu berjalan menyusul kekasihnya. Kini yang tersisa hanya Gaara, Sasuke, Sakura dan Naruto.
"minggu period? Hari pertama? Maksudnya apa Sakura-chan?" Naruto bertanya, sambil memandang Sakura dengan muka yang benar-benar polos, sontak wajah Sakura memerah.
"BAKA" Gaara dan Sasuke berteriak secara bersamaan ke arah Naruto, membuat wajah pria pirang itu bertambah bingung dan langsung cemberut
"memangnya kalian tahu apa itu huh?" tantang Naruto, namun kedua manusia yang meneriakinya hanya terdiam, seakan tak bisa menjawab.
"Naruto-kun, itu minggu dimana para perempuan akan lebih mudah marah, jadi kau tak boleh menyulut emosi mereka seperti yang dilakukan Gaara tadi" Sakura berusaha menjelaskan, dan seketika Naruto tersenyum seakan mengerti
"Oh begitu, berarti kalau Teme sepertinya bukan minggu periode tapi tahun periode, karena setiap hari dia marah-marah Sakura-chan"
Sakura tak bisa menahan mulutnya untuk tidak tertawa mendengar celotehan Naruto, tak hanya Sakura, penghuni kantin lain yang mendengar suara Naruto juga tengah menahan tawa, sementara yang diejek telah memerah menahan marah, seakan seluruh darah tengah berkumpul di kepalanya.
"DOBEEE" Sasuke menggeram, sementara Naruto segera berlari menghindar yang langsung disusul Sasuke, meninggalkan Gaara dan Sakura yang tinggal berdua di meja itu. Sakura masih tertawa, sementara Gaara sebenarnya kurang mengerti, apakah kedua manusia tadi tengah bercanda atau benar-benar saling membenci.
"apa mereka berdua saling membenci?" Gaara menyuarakan pikirannya, membuat tawa Sakura berhenti
"Sasuke…Naruto…kau pasti bercanda, mereka itu bersahabat" Sakura menjawab lalu menyeruput jus stroberinya yang tak lagi dingin
"Sasuke?" Gaara menggumam, mendengar nama rivalnya disebut Sakura
"Yah yang berambut pirang tadi namanya Naruto, sementara yang raven namanya Sasuke. Teme dan Dobe hanya panggilan sayang mereka" Sakura kembali menjelaskan, setelah menghabiskan seluruh jus stroberinya.
Gaara terdiam, berusaha mengingat wajah pria berambut raven yang ternyata bernama Sasuke. Apakah wajahnya sudah lebih tampan dari Sasuke? Pertanyaan konyol mencuat di otaknya.
"Gaara-kun, sepertinya pelajaran selanjutnya akan dimulai, sebaiknya kita harus kembali ke kelas" suara Sakura terdengar, Gaara ikut berdiri mengikuti langkah gadis itu.
"besok kau harus lebih cepat ke kantin, agar tak kehabisan waktu seperti ini, pada akhinya kau ke kantin tapi tidak makan, kenapa juga kau menyulut emosi Ino-chan, Gaara?" Sakura bersungut-sungut, memikirkan dia harus jadi tempat sampah sahabatnya nanti
"apa besok, aku boleh bergabung lagi?"
Gaara bersuara, mengabaikan kalimat-kalimat Sakura sebelumnya. Gadis itu menoleh padanya, lalu tersenyum yang diartikan Gaara sebagai pertanda 'iya' selanjutnya keduanya kembali berjalan, menyusuri ruang demi ruang, melewati beberapa pasang mata yang menatap kebersamaan mereka dengan raut tanya, seakan itu adalah hal yang baru, seakan itu melanggar beberapa prinsip yang telah ada sebelumnya.
TBC
Please let me know what you think!
Cepat tidaknya update tergantung dari banyaknya yang review
