Title:
School AU!
Chapter 2 – High School Teacher!Hijikata/ High School Student!Gintoki
Disclaimer:
Gintama by Hideaki Sorachi
Rated:
T
Summary:
Cerita yang ideal seperti ini; seorang siswa jatuh cinta pada gurunya. Awalnya gurunya menolak. Namun –akhirnya memutuskan untuk jujur pada perasaannya sendiri dan membalas perasaan siswanya itu. Guru itu kemudian berjanji akan menunggu hingga siswanya lulus untuk mereka bisa hidup berbahagia bersama.
Harusnya begitu.
Idealnya seperti itu.
Bukan sang guru yang jatuh cinta.
Bukan seperti ini.
Warning & Note:
Typos, weird plot line, homosexuality, inappropriate language, OOC, etc.
Genre:
Angst; Romance
.
.
Kacamata yang menggantung di batang hidung Hijikata sedikit melorot. Jari telunjuk meluncur lincah membetulan posisi kacamata. Sudah terbiasa.
Pelajaran matematika memang sulit dan membutuhkan penjelasan yang panjang. Para siswa lebih tertarik pada smartphone atau teman mereka. Tidak banyak yang dengan serius memperhatikan pelajaran. Hijkata tidak marah. Sudah terbiasa.
Bel berbunyi. Waktu belajar sudah habis. Seluruh siswa bernapas lega. Senang akhirnya bisa pulang. Hijikata menyudahi pelajaran dan mengucapkan hati-hati pada siswa tanpa niatan tulus. Sudah terbiasa.
Semuanya hanya berbentuk kebiasaan sekarang ini.
Hijikata justru senang. Tidak ada anomali yang mengganggu kehidupannya. Semuanya monoton. Monoton lebih baik.
"Hijikata-kun."
Derap langkah siswa di lorong terdengar keras. Hijikata berharap suara itu bisa menyamarkan suara detakan jantungnya.
"Hijikata-sensei, darou. Ada apa?"
"Aku enggak mengerti pelajaran tadi."
"Akan kuminta seseorang untuk menjadi tutor-mu."
"Enggak mau. Aku maunya sama Hijikata-kun aja."
Sesuatu rasanya tengah menari di dalam dada Hijikata. Ataukah itu ombak? Rasanya dada Hijikata bergemuruh.
"Aku ini guru. Aku sibuk."
"Ayolah! Jangan pelit!"
Tidak aneh dan tidak jarang melihat siswa merengek pada gurunya. Entah meminta bantuan –atau minta diloloskan dari hukuman.
Tapi ini berbeda. Hijikata tidak bisa tegas. Hatinya akan berkhianat. Seenaknya mengambil alih logikanya dan menuruti seluruh ucapan Gintoki.
"Baiklah. Sekarang saja kalau begitu."
"Sekarang enggak bisa."
"Kau ini!"
"Aku ada kencan dengan senior Oboro. Besok aja."
"Iya. Iya. Baiklah."
"Yey! Aku suka Hijikata-kun."
Jangan. Hijikata mohon jangan berucap begitu dengan ringannya. Hatinya terasa sakit.
Hijikata berlalu. Tidak lupa iseng menepuk puncak kepala Gintoki dengan buku presensi di tangannya.
Gintoki hanya nyengir. Berlari mendahului Hijikata. Melesat menuju gerbang sekolah.
Hijikata hanya bisa memperhatikan punggung Gintoki dari jendela lorong sekolah. Menatap iri tangan yang menggenggam Gintoki. Tapi –tidak ada yang bisa Hijikata lakukan. Perasaannya sendiri saja tidak bisa disebut etis. Jangankan menggenggam tangan Gintoki. Ia bahkan tidak berhak untuk menyatakan perasaannya.
Terkadang –Hijikata akan menutup kelopak matanya. Membayangkan wajah Gintoki dan waktu-waktu bahagia yang bisa ia lewatkan bersama Gintoki. Pergi berkencan. Duduk bersisian. Saling menceritakan tentang diri masing-masing.
"Toshi? Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Kondou-san."
Pembohong.
.
.
"Untuk mencari jarak antara titik i dan titik t kau hanya perlu menggunakan rumus pythagoras sederhana. Hanya saja –kau perlu lebih dahulu mencari panjang jarak antara titik c dan titik tengah. Sudah mengerti?"
"Hijikata-kun itu ganteng, ya."
Genggaman Hijikata pada pensil mengerat.
'Kumohon tenanglah. Gintoki bisa mendengar suara detakan jantungku.'
"Jangan melantur. Aku sedang menjelaskan penyelesaian soal."
"Hijikata-kun punya pacar?"
"Tidak punya."
"Padahal ganteng –kok, tidak laku?"
"Selesaikan soal ini."
"Mau kucarikan jodoh?"
Kadang –manusia itu menjadi sangat jahat dan sadis tanpa dirinya sendiri menyadari.
Kejam, ya.
.
.
Hijikata kebingungan. Perasaannya tidak mau hilang. Dengan keras kepala melekat di hatinya.
Menyusahkan.
Menyiksa.
"Pagi Hijikata-kun!"
Padahal semua siswa juga menyapanya.
Kenapa jantungnya hanya berdebar saat Gintoki yang menyapanya.
"Yang benar itu Hijikata-sensei, Sakata-kun."
"Maish pagi tapi sudah kaku begitu. Pantas tidak laku."
"Biarkan saja."
Karena yang aku inginkan hanya kamu.
"Hijikata-kun –aku mulai curiga. Kau ini punya perasaan tidak, sih?"
Punya.
"Kau itu seperti robot."
Aku menyukaimu.
"Kaku."
Aku mencintaimu.
"Tapi –aku tahu kok sebenernya Hijikata-kun itu baik dan lembut!"
Hijikata ingin berlari –tapi harga diri menahannya.
"Jangan mengoceh seenaknya tentang guru."
"Tuh 'kan! Kaku! Ya udah deh! Aku ke kelas. Bye bye!"
Hijikata membenturkan kepalanya ke tembok. Berusaha menyalurkan perasaan bergolak dalam dadanya.
"Kurang keras, Hijikata-san. Kalau bisa sampai bocor harusnya."
Sougo –ayo ke neraka bersama.
.
.
Kepala Hijikata berdenyut. Sepertinya ia sakit. Dahinya terasa hangat.
"Istirahatlah di ruang kesehatan."
Hijikata mengangguk. Berbaring di atas ranjang ruang kesehatan tidak terdengar buruk. Mungkin di sana juga ada obat atau kompres untuk meringankan nyeri yang ia rasakan di tulangnya. Mungkin ia sudah semakin tua. Sedikit flu bisa membuat seluruh tubuhnya sakit.
Hijikata nyatanya lupa dengan obat dan kompres. Begitu melihat ranjang –ia langsung membaringkan tubuhnya. Mengantuk dan lelah.
"Hijikata-kun –minum obat dulu."
Gintoki?
"Duduk sebentar."
Gintoki.
"Ini obat dan air."
Gintoki, aku-
"Kalau sudah diminum pasti akan terasa lebih baik."
—aku mencintamu.
Sangat mencintaimu.
Aku ingin memelukmu.
Merasakan hangat tubuhmu.
Memilikimu.
Jadilah milikku seorang—
"Gintoki... Gintoki... Tolong –lepaskan aku."
.
.
Hijikata menatap langit-langit ruang rawat inap ia ditempatkan. Sepertinya kemarin panasnya meningkat drastis. Membuatnya bergumam aneh. Menyebabkan kegaduhan dan dirinya yang berakhir di dalam rumah sakit.
"Hijikata-kun!"
Dia datang.
"Bikin panik aja! Untung ternyata bukan masalah besar. Katanya kau hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Memangnya apa sih yang dipikirkan?"
"Kau."
"Aku?"
"Aku khawatir kau tidak lulus. Ujian negara sebentar lagi. Tapi –kau masih belum bisa apa-apa. Mengkhawatirkan."
"Kurang ajar! Lihat saja! Aku akan lulus dengan nilai yang bagus!"
"Biasanya disituasi seperti ini orang akan bersumpah mendapatkan nilai terbaik."
"Aku sadar diri –aku ini bodoh."
"Benar juga."
Gintoki tertawa dan hati Hijikata melantunkan nada kebahagiaan.
Ini tidak baik.
Ia ingin menghentikan perasaan ini.
Ia harus berhenti.
Ini tidak akan baik untuknya –ataupun untuk Gintoki.
Ini tidak adil.
Tapi—
"Gintoki. Saat upacara kelulusanmu nanti —ada yang ingin kubicarakan."
"Hm? Kau ingin aku mencarimu?"
"Ya."
"Bagaimana, ya?"
"Kumohon. Ini —untuk yang terakhir kalinya."
"Serius amat."
Hijikata hanya memejamkan matanya. Menyiapkan dirinya.
Ia akan menyatakan perasaannya pada Gintoki di hari itu.
Begitu ia menyatakan perasaannya —ia yakin akan terbebas.
Mungkin.
.
.
Hijikata menatap ruang kelas kosong di hadapannya. Ia bisa melihat bayangan dirinya dan Gintoki. Hijikata selalu melakukan tutoring untuk Gintoki di ruang kelas ini. Di jam yang sama. Di hari yang sama. Terjadwal dengan kaku.
Gintoki selalu protes.
Ia tidak bisa kencan katanya. Padahal yang meminta untuk ditutoring adalah dirinya sendiri. Anak itu memang sedikit unik.
Pintu digeser terbuka.
"Hijikata-kun?"
"Gintoki."
"Gintoki? Panggilan baru? Jadi –mau bicara apa?"
"Gintoki."
"Apa?"
"Gintoki."
"Apa sih?"
"Gintoki."
"Hijikata-kun –jangan mulai aneh deh. Kesurupan, ya?"
"Gintoki –aku mencintaimu."
Gintoki menatap Hijikata tidak percaya.
"Kenapa?"
"Maafkan aku."
"Tapi –kenapa aku?"
"Aku sudah tidak ingat. Yang kuingat hanya –aku mencintaimu. Hanya itu."
Gintoki mentapa Hijikata penuh rasa bersalah.
"Maaf. Aku –menyukai orang lain."
"Aku tahu."
"Aku sungguh menyukai orang ini."
"Aku tahu."
"Aku sudah berjanji akan menikah dengannya."
"Aku paham. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku ini."
"Maafkan aku –Hijikata-sensei."
"Terima kasih sudah mendengarkanku. Selamat tinggal, Sakata Gintoki-kun."
.
.
Musim semi kembali datang. Murid-murid baru memasuki gerbang sekolah dengan wajah riang. Hijikata menemui ratusan murid tiap tahunnya. Namun –tidak ada yang bisa menggerakkan hatinya seperti Gintoki.
Bagi Hijikata –Gintoki adalah satu-satunya.
Dan Hijikata melepaskannya.
Demi kebahagiaan Gintoki —dan kebahagiannya.
Perasaan itu masih ada. Dan Hijikata tahu akan tetap ada.
Tapi setidaknya –Hijikata pernah memperjuangkannya. Menyatakan perasaannya. Gintoki dengan baik hati telah memahami usahanya dan menolak perasannya dengan jujur.
Itu sudah cukup.
"Toshi? Kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik."
Kali ini Hijikata tidak berbohong.
