Suamiku berselingkuh! Aku tahu dia mempunyai wanita lain diluar sana. Tapi kenapa dia masih memperlakukan aku seolah aku adalah satu-satunya. Haruskah aku bertahan menyaksikan hatiku tersakiti seperti ini? Ataukah membalas untuk semua perlakuannya padaku? Wanita elegan punya cara elegan^^
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Revenge (Elegant) ! © Biii Uchiha
Please HATERS menjauh ! bacaan ini hanya akan membuat anda BUTTHURT !
Terima kasih ^^
.
.
Chapter 1 : What was that for?
.
Happy reading ^^
. . .
Aku melempar jaket kulitku ke atas kursi ketika melintasi kamarku yang berlantai kayu mengkilat. Aku membuka sepatu boots yang sejak tadi setia menemaniku menguntit dan segera membersihkan sisa-sisa lumpur yang mulai mengering dipermukaan kulitnya dan menyimpannya dilemari kaca.
Aku lelah dan panas. Panas secara fisik dan mental. Aku ingin segera berendam dan menenangkan seluruh urat syaraf yang tersebar diseluruh tubuhku. Ini adalah hari yang benar-benar melelahkan, ck, padahal aku tidak melakukan apapun.
Kulepas semua pakaian yang melekat ditubuhku dan beralih menatap cermin besar yang ada disamping bathtub. Bolehkan jika aku sejenak mengagumi diriku sendiri?
Aku memiliki tubuh indah yang sebagian besar wanita impikan. Kulitku bahkan lebih mulus jika dibandingkan dengan model iklan skin care mahal diluar sana. Mataku bewarna hijau terang seperti warna mata Ivory, temanku yang berasal dari Inggris. Bibirku merah muda merona yang menantang siapa saja untuk mencicipinya. Dadaku penuh berisi menjadi pelengkap kekurangan tubuhku.
Pertanyaannya, apa yang salah dari diriku sampai Sasuke dengan brengseknya beralih mencumbu wanita lain dan berbohong padaku?
Air yang sejak tadi kualirkan ke dalam bathtub sudah banjir menggenangi kakiku. Aku beranjak menenggelamkan diri dan membuat sebagian air bak melimpah keluar menuju saluran pembuangan. Aku butuh penenang dan minyak aromaterapi lavender adalah jawabannya. Aku punya dua, lavender dan rose. Tapi aku lebih sering menggunakan wangi lavender. Wanginya menenangkanku.
Tiga puluh menit sudah aku bermanja-manja didalam air. Kulit tangan dan kakiku juga sudah mulai mengkerut. Setidaknya pikiranku sedikit lebih rileks jika dibandingkan beberapa jam yang lalu.
Kuraih gagang pintu kamar mandi saat seseorang mendorong pintu itu kearahku. Aku refleks mundur tiga langkah dan menemukan Sasuke menatapku dalam diam. Untaian poninya berayun-ayun menggoda diterpa cahaya temaram lampu kamar mandi yang kuredupkan. Sehelai handuk putih melilit dilehernya dan brengseknya Sasuke hanya mengenakan celana panjang kerjanya. Otot-otot perutnya terlihat jelas seakan minta dibelai. Ya Tuhan, aku menikahi pria tampan paling brengsek dimuka bumi.
"Kau baru pulang?" tanyaku.
"Hn. Aku mau mandi. Kau mau ikut?" godanya setelah menutup pintu dan mendekatkan tubuhnya padaku. Wangi parfumnya yang kukenal menyapa indra penciumanku. Oh, lebih tepatnya wangi parfumnya dan bau busuk wanita jalang itu bercampur dan menampar indra penciumanku.
"Tidak. Aku mau turun dan menyiapkan makan malam." Tolakku. Sasuke meraih pinggulku, menghentikan gerakkanku dan mengulum cuping telingaku. Biasanya aku akan langsung bereaksi dengan tindakannya, tapi saat ini hatiku hancur untuk sekedar menikmatinya.
"Mandilah. Aku akan menyiapkan makan untuk kita." Ulangku dan beranjak menuju kamar.
Ingin sekali kuhancurkan apa saja yang ada dihadapanku saat ini. Ini menyakitkan, setelah dengan berdosanya dia mencumbu wanita lain, dia tempelkan bibir kotornya di tubuhku. Memangnya aku apa? Saluran pembuangan?
Tiga puluh menit berlalu, aku masih berusaha mengabaikan rasa sakit yang Sasuke torehkan dihatiku. Aku masih bersikap layaknya seorang istri yang melayani keperluan suaminya seperti menyediakan makan malam seperti sekarang. Aku bahkan tidak menambahkan sianida ke dalam mangkuk sup tahu ekstra tomat miliknya. Jadi dia tidak perlu tersedak dan dokter tidak perlu memompa isi perutnya.
Aku hebat 'kan?
Sasuke berdeham disela-sela makan malam kami yang tenang. Pikiran nistaku buyar seketika ketika mendengar suara beratnya. Aku mendongak dengan wajah datar. Jika aku bercermin, kurasa wajahku sama datarnya dengan talenan yang aku gunakan untuk mengiris tomat tadi.
"Apa kau datang ke rumah pertanian hari ini?" Sasuke mencoba membuat pertanyaannya terdengar biasa saja.
Iya, kalau aku datang berkunjung ke rumah nenekku hari ini memangnya kenapa? Kau ingin aku menyapa kalian yang sedang bercinta?
"Tidak. Memangnya kenapa?" aku menggeleng seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa. Malaikat mencatat satu dosaku karena sudah berbohong pada suami.
"Tidak apa-apa. Aku menemukan jejak kaki berlumpur dilantai rumah nenek sore ini ketika berkunjung untuk rapat bersama teman bisnis." Dan malaikat mencatat sepuluh dosa Sasuke karena sudah berbohong padaku.
Rapat bersama teman bisnis? Cih, bercinta dengan wanita jalang pirang yang aku belum tahu namanya, itu baru benar.
"Oh? Kau berkunjung hari ini? Apa kau tahu jejak kaki siapa itu? Apa mungkin ada maling yang masuk ke rumah nenek?"
"Entahlah. Aku akan mengeceknya lagi besok. Kau tidak perlu khawatir."
Seharusnya kau yang khawatir jika aku akan membunuhmu dalam tidur.
"Baiklah."
.
.
.
Aku bangun lebih pagi hari ini untuk berkendara dari Konoha menuju rumah Naruto yang terletak 56 km sebelah selatan pusat kota Tokyo. Jarak dari Konoha menuju pusat kota Tokyo sekitar 30 km. Berarti aku akan berkendara setidaknya 86 km melintasi tiga kota, dan itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan.
Naruto adalah saudara sepupuku yang tinggal dikota Suna dan bekerja sebagai designer interior sebuah perusahaan ternama dikotanya. Entahlah, aku tidak begitu mengerti dengan seluk beluk pekerjaan yang dilakoninya. Tapi kuakui, pria pirang itu mempunyai jiwa seni yang tinggi.
Naruto tinggal dengan kekasihnya yang masih keturunan elite, enam bulan terakhir ini dan aku takjub ketika dia menelpon hanya untuk mengatakan jika dirinya berhasil menjaga Hinata dan tidak menyentuhnya sebelum mereka resmi menikah.
Aku membawa serta Tabby bersamaku. Aku tidak tega jika meninggalkannya dirumah selama aku pergi. Aku yakin Sasuke tidak akan terlalu sering berada di rumah. Atau dia akan terlalu sering berada di rumah dan membawa serta jalangnya, mungkin? Brengsek, memikirkan mereka yang bergumul tanpa busana membuat perutku mual. Bayangan mereka bahkan merusak mood-ku pagi ini.
Tiga puluh menit sudah aku mengendarai Mercedes silver hadiah ulang tahunku pemberian Sasori-nii. Tabby sudah bergelung dikursi sampingku dan aku mengelus-elus bulu tebalnya yang mulai kasar. Ck, sore kemarin adalah jadwal Tabby ke salon hewan dan aku dengan bodohnya melupakan daftar penting itu. Sial.
Aku berhenti disebuah supermarket untuk membeli beberapa snack dan minuman. Tabby menungguku dimobil sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Sesekali ekornya bergoyang-goyang dan menggonggong tiap kali ada orang yang berjalan melewati mobilku.
Aku membeli satu pak coklat batang, setengah lusin minuman soda, dua botol besar air mineral dan satu pak besar snack anjing lalu membayar semua barang belanjaan dengan menyerahkan black card premium milikku. Sekejap aku melihat seorang wanita tua yang aku perkirakan seumuran ibuku menatapku langsung tanpa rasa malu. Dia berulang kali menatapku lalu menatap kartu ditangan pelayan kasir dan kembali menatapku.
Wanita tua itu mungkin mengira aku adalah anak perempuan nakal yang mencuri kartu kredit ibuku dan membelanjakannya untuk membeli narkoba dan minuman keras serta menghambur-hamburkan uang dimeja judi. Yang benar saja, sekalipun aku jatuh miskin, aku tidak akan pernah mau mencuri kartu kredit ibuku. Aku juga bekerja nyonya.
Pelayan kasir mengembalikan kartuku dan aku mengambilnya dan segera pergi dari sana membawa semua barang-barangku. Tidak lupa menatap jengkel wanita tua itu yang terus memperhatikanku sampai aku memasuki mobil. Sialan. Ingin sekali aku memakinya tepat didepan kedua mata birunya.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Satu setengah jam kemudian aku membunyikan klakson mobil tepat didepan gerbang besi tinggi yang berdiri pongah mengelilingi sebuah rumah mewah yang aku ingat adalah rumah Naruto. Aku dan Sasuke pernah sekali datang kemari untuk merayakan ulang tahun si pirang itu.
"Naruto, aku didepan rumahmu. Cepat bukakan pagarnya!" seruku melalui intercom yang dipasang didekat pagar. Aku juga melambai-lambai ke arah sisi tv kecil yang dipasang disudut dinding pagar, persis seperti orang bodoh.
"Hee! Sakura -chan?!"
Tak berapa lama. Pintu gerbang terbuka perlahan dan aku melajukan mobilku seperti pembalap di garis depan.
Rumah Naruto bergaya Eropa klasik dan didominasi oleh tanah berumput yang mengapit jalan batu mengarah langsung pada pintu masuk. Disekeliling tanah itu ditumbuhi oleh semacam semak hias yang memberi batas antara jalan batu dan tanah berumput itu sendiri. Tapi terakhir kali aku kemari, aku tidak melihat semak hias itu. Ah, mungkin Hinata mulai menata hidup Naruto. Dan juga halamannya.
Aku memarkir mobilku disamping sebuah mobil mewah keluaran terbaru. Aku tidak tahu mobil siapa, tapi jika kulihat sekilas mobil itu selera Naruto sekali. Apa dia membelanjakan gajinya yang fantastis itu untuk sebuah mobil baru?
"Sakura-chan!" aku merasakan seseorang menerjangku seperti topan. Aku nyaris menghajarnya jika saja tidak melihat warna kuning mencuat itu didepan mataku.
"Heii! Kau berat, bodoh." Protesku mendorong tubuhnya menjauh. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, dan dia benar-benar bertambah tinggi dengan singkat. Beberapa bulan lalu tinggi kami hanya beda 2-3 cm. Tapi sekarang dia jauh lebih tinggi. Aku seperti berhadapan dengan Sasuke.
Sial, aku rindu suami brengsekku.
"Ayo masuk. Akan kukenalkan kau pada Hinata. Kau akan mencintainya seperti aku mencintainya." Dia terlihat sangat bersemangat seperti remaja yang mengalami masa pubertas. Dan ya, aku hanya mengenal Hinata dari cerita yang Naruto dongengkan padaku setiap akhir pekan. Kami belum pernah bertemu langsung.
Dan inilah saatnya. Aku harap aku akan mencintainya seperti yang Naruto katakan padaku.
Aku bertemu Hinata diruang tamu. Wanita itu cantik dengan surai indigonya yang lurus dan tatapannya yang ramah. Aku tahu dia adalah wanita yang lemah lembut hanya dengan menatap matanya. Hinata tersenyum manis padaku dan aku membalasnya dengan lengkungan terbaikku. Dia mengulurkan tangan hendak berjabat tangan, tapi aku mengacuhkannya dan segera menghambur memeluk tubuh sintalnya.
Ya, beginilah caraku berkenalan. Dengan catatan, hanya jika aku menyukai orang tersebut. Tidak semua orang. Seandainya dia adalah jalang Sasuke, aku akan menghajarnya. Bukan memeluknya. Cih, aku tidak sudi.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menjadi lebih akrab dengan Hinata. Dia adalah wanita yang supel dan tegas. Pantas saja Naruto menjadi sosok yang lebih rapi dari biasanya. Ternyata Hinata merawatnya dengan sangat baik.
Kami memutuskan untuk memasak makan siang bersama. Naruto memilih untuk membeli enam kaleng bir dan dilanjutkan dengan tidur siang sementara kami berbagi resep masakan di dapur miliknya. Aku ingin sekali mencoba membuat hidangan Perancis dan akhirnya kami sepakat untuk mencoba resep sapi bourguignonne yang beberapa hari lalu kulihat di program memasak tv.
Aku mengintip isi kulkas Naruto dan beruntung sekali menemukan dua botol anggur merah untuk digunakan merebus daging bersamaan dengan kaldu dan sayuran lainnya. Sementara aku mengiris-iris wortel dan jamur, Hinata menyiapkan biskuit coklat hangat untuk hidangan pencuci mulut. Hmm, ini akan menjadi malam yang panjang.
Aku membangunkan Naruto yang tidur seperti orang mati dan menyeretnya untuk segera makan malam. Ya Tuhan, perutku benar-benar lapar sekali. Sekejap aku hampir melupakan keberadaan Tabby. Sejak kami memasuki rumah, Tabby seperti sedang mencari-cari tempat dengan mengelilingi setiap sudut rumah. Apa dia sedang bersembunyi?
Kami makan dengan hikmat. Hinata memuji masakanku dan aku jatuh cinta pada wanita itu. Sampai akhirnya hal yang menggangguku terlontar dari bibir Naruto.
"Bagaimana kabar Sasuke, Sakura?" Naruto bertanya disela-sela makan malam kami. Rasanya aku tidak ingin membicarakan masalah kami saat ini, tapi apalagi tujuanku kemari?
Aku berhenti meraih biskuit coklat buatan Hinata yang sangat enak dan menepuk-nepuk kedua tanganku pelan. Hanya membayangkan wajah Sasuke saat ini membuat kerongkonganku seperti terbakar. Aku bergegas meneguk segelas air putih hangat di depan mataku dan itu benar-benar menyejukkan.
Aku mengacungkan jari telunjukku keatas, isyarat untuk tidak membicarakan masalah ini dimeja makan. Dan ya, pria itu mengenalku selama bertahun-tahun. Dia mengangguk dan menuju ruang keluarga.
.
.
.
Kami berkumpul diruang keluarga. Hinata duduk berdampingan dengan Naruto disofa diseberangku. Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, tapi mulutku berkhianat. Semua hal yang mulai membuatku mencurigai Sasuke mengalir dengan lancar seperti sungai dari bibir ini. Aku bersyukur Naruto tidak menyelaku, karena aku tidak akan sanggup memulai kisah ini kembali dari awal.
Aku mengalihkan pandangan ketika menceritakan peranku sebagai detektif kala itu. Air mataku mulai menggenang, tapi aku tidak ingin hal itu membuat mereka mengasihani kehidupan rumah tanggaku yang menyedihkan ini. Rasanya sudah cukup menyakitkan ketika aku harus menyaksikan kakakku terpuruk dan mati ketika Anna Joseph menghadap pemiliknya tahun lalu. Saat itu aku merasakan rasa iba yang mengalir untuk kakakku, dan aku tidak ingin merasakannya lagi.
"Jadi, maksudmu kau membuntuti Sasuke dan melihat ..." Naruto mengedipkan jari tengah dan telunjuknya diudara, berusaha mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan alih-alih menyebutnya langsung.
"Jika maksudmu berhubungan seks, benar. Aku melihatnya." Tutupku sembari mengangguk dan merebahkan tubuhku kesandaran sofa. Aku lelah. Kepalaku penat dan otakku berkecamuk. Bisakah semuanya berakhir ketika nanti kubuka mata?
"Sakura, aku bisa mengantarmu ke kamar jika kau ingin istirahat." Hinata bangkit dan mengulurkan tangannya padaku. Aku meraihnya dan berjalan beriringan menuju kamar.
Dari dulu aku selalu ingin mempunyai saudara perempuan namun usiaku sudah cukup tua untuk mempunyai adik lagi, dan saat itulah Anna datang mewujudkan keinginanku. Saat Sasori-nii memberikan kabar bahwa Anna telah tiada, aku
Kini, yang bisa kulakukan hanya menitipkan salam padanya melalui doa-doaku, berharap Tuhan menyampaikannya melalui semilir angin yang berhembus menuju surga tempat kakakku berada. Kini, perlahan aku kembali menemukan sosok Anna pada Hinata.
"Apa kau mau aku buatkan sesuatu, Sakura? aku punya chamomile jika kau mau." Suara Hinata terdengar selembut beledu. Aku berharap tidak ada lagi perpisahan sampai Naruto berhasil menikahi wanita ini.
"Terima kasih jika tidak merepotkanmu, Hinata."
Hinata menggeleng dan tersenyum, "Aku akan segera kembali." Dan aku benar-benar akan menghajar Naruto jika dia sampai hati menyakiti wanita selembut Hinata.
.
.
.
Pagi menjelang ketika sinar mentari menyingsing di ufuk timur. Cahaya terang memaksa masuk melalui celah-celah tirai yang tersingkap dan menyapaku untuk segera bangkit dari peraduan. Aku duduk dan menemukan teh chamomile yang semalam dibuatkan Hinata masih utuh dan belum tersentuh sedikitpun. Rasa bersalah menjangkitiku karena tidur terlalu cepat dan hanya merepotkannya.
Aku memilih bangkit dan membersihkan diri sebelum meminum chamomile dingin itu. Ada dua puluh lima notifikasi dari sosial media pribadiku dan lima panggilan tak terjawab dari Sasuke. Tiga pesan masuk, satu diantaranya berasal dari nomor Sasuke yang mengatakan bahwa dia akan melakukan meeting penting di Suna.
'Aku akan meeting di Sand Berlin Convention Center, kau dirumah Naruto 'kan?'
Sand Berlin Convention Center?
"Sakura? apa kau sudah bangun?" Aku melonjak kaget mendengar Naruto berteriak nyaring didepan pintu kamar.
"Ya Tuhan, baka. Kau pikir aku tuli? Kau hampir membuatku jantungan." omelku ketika membuka pintu dan menemukan wajah bodoh Naruto dibaliknya. Seperti biasa, si kuning itu hanya menampakkan deretan gigi-gigi rubahnya.
"Ayo sarapan Sakura." Hinata muncul dari balik bahu Naruto membawa semangkuk besar sup, dan mereka benar-benar pasangan yang serasi. Jika aku mengatakan pada Sasori bahwa Hinata adalah istri si bodoh ini, dia pasti akan langsung percaya.
"Maafkan aku, Hinata. Aku ketiduran." Sejujurnya, aku benar-benar ketiduran dan rasa bersalah sialan ini kembali membayangiku.
"Tidak perlu sungkan, Sakura. ini adalah rumahmu dan disini akulah tamunya." Sahutnya merendah. Aku menggeleng dan menolak asumsinya.
Sarapan pagi ini terasa begitu berbeda dengan yang biasa kami lakukan ketika dirumah. Mungkin bagi Sasuke semuanya terasa sama, tapi tidak bagiku. Dia terasa begitu dingin, walau dalam keseharian Sasuke memang sosok yang dingin, namun dalam arti yang berbeda. Dia seperti perlahan menjauh dan sulit untuk kugapai.
Aku mencoba menepis bayangan Sasuke beberapa kali dari pikiranku dan berfokus pada masakkan Hinata yang luar biasa nikmat. Dan aku berhasil. Buah mangga yang kucelupkan pada krim dingin seolah membekukan bayangan Sasuke dan menyingkirkannya dalam sekali gigit. Sungguh, aku ingin menikmati hidup seperti ini.
Naruto bangkit dari posisinya saat ini dan bersiap mencari nafkah untuk pernikahannya kelak. Dia mengecup puncak kepala wanita lavender yang duduk berhadapan denganku dan mengacak surai merah mudaku yang kembali kusut karena ulah tangan jahilnya. Aku berdecak, namun tetap menemani Hinata mengantarnya sampai pintu depan.
Ponsel disaku piyamaku bergetar, satu pesan masuk atas nama Sasuke.
'Sayang, apa Naruto punya dua laptop? Aku lupa meninggalkannya diruang kerja setelah tiba di Suna.'
Lupa? Sejak kapan jenius sepertimu melupakan sesuatu, sayang? Apa kau bekerja terlalu keras semalam?
Pikiran buruk melayang-layang dikepalaku seolah merealisasikan ketakutanku. Tapi, bagaimanapun aku menolak mempercayai bahwa Sasuke telah menghianati janji suci pernikahan kami, aku tidak bisa menyangkal bahwa hati ini masih miliknya. Bahkan setelah apa yang terjadi sore itu, aku masih mencintainya.
Brengsek.
.
.
.
Bodoh.
Aku adalah wanita terbodoh yang bisa ditemukan masih hidup di daerah ini. Bagaimana mungkin dengan polosnya aku bertanya kepada Hinata untuk meminjamkanku sebuah laptop dan saat ini disinilah aku berada. Duduk diam dengan kepala berkecamuk sambil mengemudikan mobil menuju Sand Berlin Convention Center dengan membawa sebuah laptop yang Sasuke minta padaku.
Masih adakah seorang istri yang masih menyayangi suaminya sebegitu dalam setelah melihat dengan mata telanjang, suaminya bercinta dengan jalang sialan, dan saat ini bergegas mengantarkan laptop untuk keperluan suaminya? Ya ada, itu aku. Aku kuat kan?
Ya, kau bodoh, Sakura.
Ya, aku pikir aku terlalu cerdas untuk mengantarkan laptop ini, tapi sepertinya tidak. Sialan.
Aku tidak begitu mengenal daerah Suna seperti aku mengenal Konoha. Karena itulah GPS yang ada dimobilku sangat membantu perjalanan ini, walaupun beberapa kali aku hampir tersesat karena menemukan jalan bercabang yang tidak ada habisnya seperti ranting pohon.
Aku memarkirkan mobilku disamping sebuah mobil sedan silver mengkilat. Sekilas aku seperti familiar dengan kendaraan itu, tapi otakku menolak mengulang memori-memori lalu.
SBCC sangat megah, persis seperti apa yang pernah kulihat ditelevisi saat beberapa penyanyi dan band dalam negeri maupun mancanegara menggelar konser mereka disini. Konoha juga memiliki gendung convention center, tapi kurasa tidak semegah milik Suna.
Aku memeriksa kembali ponselku dan kebetulan disaat bersamaan Sasuke menghubungiku.
"Halo. Kau dimana?" aku melirik sekitarku dan takjub ternyata aku masih di tempat parkir.
"Aku di tempat parkir." Sahutku singkat.
"Di basement?"
"Tidak. Disebuah lapangan parkir, aku tidak tahu dimana ini." aku kembali melirik sekitar, ada beberapa orang berdasi yang turun dari mobil dan berlari-lari menuju gedung. Beberapa diantara mereka seperti berusia diatas 45 tahun dan bahkan lebih.
"Ah, aku tahu. Tunggu disana." Aku yakin Sasuke tidak akan melihat anggukan manisku. Alih-alih menjawab, aku memilih untuk memutuskan sambungan telepon tanpa mengatakan apa-apa.
Udara pagi ini lumayan dingin setelah semalam diguyur hujan lebat yang seolah mewakili perasaanku saat itu. Aku mengeratkan jaket wol dan syal di leherku untuk mendapatkan kehangatan lebih. Aku kembali melirik untuk kesekian kalinya pada lapangan parkir nan luas ini berharap menemukan seseorang yang kukenal.
Bingo !
Aku melihat kepala spike kuning muncul dari dalam mobil dari bangku penumpang. Eh, bangku penumpang? Aku yakin sekali melihat Naruto pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, lalu kemana mobil mewahnya? Kenapa pengemudinya ada disini?
Aku melambai-lambaikan tangan, berharap Naruto melihat eksistensiku. Aku kagum mata Naruto waspada seperti mata predator, dia membalas lambaianku dan berjalan ke arahku. Seseorang tampak mengikutinya dari belakang, aku tidak tahu siapa. Namun jika diperhatikan sekilas, penampilannya sekilas seperti Sasori-nii.
"Sakura, apa yang kau lakukan disini?" Naruto tampak gagah dengan penampilannya saat ini. Tidak seperti biasa yang urakan, saat ini Naruto seperti seorang pengacara ulung dengan long coat navy yang memalut tubuh indahnya.
"Hm, aku meminjam laptop Hinata. Sasuke membutuhkannya." Aku tahu, sejak aku bercerita malam itu, Naruto mulai sedikit tidak menyukai Sasuke. Air mukanya berubah. Dingin dan sendu. Tapi bagaimanapun, Sasuke masih suamiku. Walau sulit mengatakannya, aku memang masih mencintainya.
"Jaga perasaamu. Kau juga manusia." Bisiknya rendah dan dalam.
"Hn. Aku tahu." Sahutku.
"Naruto..!" atensi kami berdua teralihkan oleh sebuah suara dibelakang sana. Aku bahkan hampir lupa karena terlalu larut oleh perasaan. Seseorang yang sedari tadi mengekor sepupuku akhirnya bergabung dengan kami.
Benar. Jika diperhatikan dari belakang, orang ini terlihat seperti kakakku. Namun, jika diperhatikan dari depan dia terlihat seperti ketua gengster dengan tato dikeningnya. Rupanya? Dia sangat tampan.
"Sakura, kenalkan ini Gaara. Gaara kenalkan ini sepupuku, Sakura." raut wajah Naruto berubah sedikit lebih ceria ketika memperkenalkan kami. Aku menyambut uluran tangan Gaara, dan aku bersumpah kulit tangannya sangat lembut. Aku seperti bersalaman dengan Hinata saking lembutnya.
"Gaara. Sabaku Gaara, kau bisa memanggilku Gaara." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Sakura. Haruno Sakura, panggil saja Sakura." aku sendiri takjub ketika menyebutkan namaku pada Gaara. Naruto tahu bagaimana bangganya aku menggunakan nama Uchiha dibelakang namaku, jadi jangan ditanya bagaimana ekspresi bodohnya sekarang.
"Apa kau sepupu Naruto yang berasal dari Konoha?" lanjut Gaara sembari melepaskan genggaman tangannya.
"Ah, iya benar."
"Baguslah. Naruto sering bercerita banyak tentangmu." Senyumnya.
"Ah, begitukah?"sahutku terdengar bodoh. Aku melirik Naruto yang membuang muka ke arah ponselnya.
"Gaara, kita harus cepat. Sepuluh menit lagi rapatnya dimulai." Sela si bodoh itu mengalihkan pembicaraan.
"Kita sambung lagi lain kali, Sakura. Permisi." Gaara kembali melempar senyumnya dan berlalu dari hadapanku. Sedetik kemudian, Sasuke muncul dan menghampiriku.
"Ini." ucapku sembari memberikan laptop padanya.
"Ah, terima kasih, Sakura." Sasuke menerima laptop yang kuberikan dan tersenyum. Tangan kokohnya meraih tanganku dan perlahan mengikutinya berjalan dibelakang. Tangan kami bertautan. Entah kenapa, aku merasakan secuil kebahagiaan kecil dari tindakannya ini.
Aku tersentak, tanpa berkata apa-apa Sasuke melepaskan genggamannya dan berlalu dari hadapanku tanpa mengatakan apapun. Aku memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh dan hilang dibalik tembok bangunan.
Aku menatap tanganku, masih tidak percaya dengan perlakuan Sasuke padaku barusan.
Lalu apa artinya ini? Untuk apa senyuman itu? Untuk apa ucapan terima kasihnya itu? Untuk apa tindakannya itu?
Sejuta pertanyaan melayang di dalam kepalaku. Aku bahkan tidak menemukan satupun jawaban dari pertanyaan itu.
Lalu aku ini apa?
.
.
.
TO BE CONTINUED ...
.
.
a/n :
Dear Haters ... aku tahu kalian adalah fansku yang tertunda. Kalian mencaci maki karyaku merupakan suatu kata lain dari pujian yang kalian berikan untukku. Aku terima. Aku tahu, kalian kan tipe-tipe fans Tsundere ... Upss. Kalian berkata benci dimulut dan menuliskannya langsung untukku, namun kalian sendiri membaca cerita jelekku yang yang bahkan kalian sempatkan untuk menuliskan review untuk perbaikkan chapter selanjutnya.
Oh, aku sangat berterima kasih. Review (tidak penting) kalian menambah jumlah review ceritaku. Aku berterimakasih lagi. Bahkan ada dari kalian yang me-review berkali-kali meminta agar aku menghapus ceritaku. Apa kalian merasa cemburu karena yg lain juga ikut membacanya? Oh, aku terhura, tapi sifat dan perilaku jelek jangan dipelihara. Sudah terlalu banyak orang2 (bodoh) seperti kalian dimuka bumi ini, jangan ditambah lagi.
Aku juga terkesan karena kalian muncul as guest dan berdalih hanya author saja yang memiliki akun sendiri. cih, bodoh sekali. Opss. Padahal hanya karena KEEP OR DELETEya? Main-main ke Wattpad sana, biar ga butthurt lagi.
Aku ingatkan lagi ya, kalau memang tidak suka JANGAN DIBACA. Jadilah orang yg cerdas.
...
Special thanks :
d3rin, elzakiyyah, Luca Marvell, K-LEE13, aramapatriot45, prim, Michi-chan, rainacherry, Read Story, Viva, embun adja1, Snowincherry, Jun30, tidak login, Jey Raven Blossom, Melati, Gue, fava ritsuka, fujiwara, ErlevSS, uchimara02, Kenma Plisetsky, sashaagatha7, uchiha sasasa, owon, vitri, hayaaeeh, Ahza Pink, pinky, DanielleKang, Raven refenna p, Tyamumut, Desta Soo, Sassyla, Ara, TehUchihaSakura1, Liraa, musi, Saskehsaskeh, Name ifachan, sherry, Shinji Shimisukii, shirazen, Q Lenka, misaharux.
