20 (You're my twenties)
by: Imeelia
warning: Out of Character. Typo(s).
disclaimer: Seventeen, apa itu? ((dirajam))
.
.
.
Choi Seungcheol hanyalah seorang remaja biasa, yang jatuh cinta dengan cara yang tidak biasa.
Seminggu –atau ini sudah dua minggu?- setelah pertemuannya dengan si-senyum-manis-nya (Junhui bilang kalau menambahkan kata 'nya' terdengar creepy, tapi Jeonghan bilang itu manis), Seungcheol tidak sehari pun membolos kerja. Bahkan saat hari liburnya, ia bersikeras datang ke bioskop dengan alasan tidak ada kerjaan. Pembual, padahal tugas kuliahnya menumpuk banyak sekali. Harapan Seungcheol sih, dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya yang memiliki senyum manis itu.
Dan memabukkan, itu kata Seungcheol.
Jadi pagi ini, Seungcheol sudah berada di kampus dengan laptop di depannya dan tugas milik Jeonghan di sampingnya. Tugas kuliahnya kurang seperempat lagi selesai, dan harus dikumpulkan dalam 30 menit kedepan. Untungnya Seungcheol termasuk anak yang pekerja cepat, cepat dalam menyalin tugas Jeonghan contohnya.
"Duh, Seungcheol kita tidak serajin dulu." Suara yang di hafalnya diluar kepala mengganggu konsentrasi Seungcheol. Wen Junhui seenaknya datang dan minum es jeruk milik Seungcheol.
"Berisik, Wen."
"Sebenarnya kalau kemarin kau mau tidak bekerja, aku mengajakmu ke rumah Jeonghan dan mengerjakan tugas bersama, lalu berkenalan dengan tetangga Jeonghan." Aku Junhui. "Sayangnya ketika aku ke rumahmu, kau tidak ada."
"Oh," balas Seungcheol sambil tetap terfokus pada laptopnya. "Aku tidak mau kenalan dengan tetangga Jeonghan."
"Bilang aja takut berpaling dan jatuh cinta lagi," ejek Junhui, yang langsung dibalas dengan tatapan sinis ala Seungcheol. "Seingatku, kau ingin mencari tahu tentang your crush kan? Kalau tidak salah, tetangga Jeonghan ini kuliah di tempat yang sama seperti Jeon Wonwoo."
Seungcheol tinggal memindahkan file tugasnya yang sudah selesai ke dalam flashdisk, sambil sedikit tertarik dengan cerita Junhui.
"Lalu?"
"Kalau Jeon Wonwoo tidak mau memberitahumu tentang si kucing, minta tolong saja pada tetangga Jeonghan!" ucap Junhui menggebu. Seungcheol menghela nafas lelah. Junhui ini separuh cerdas, separuh tidak bisa di pahami.
"Jun," Seungcheol memegang pudak Junhui sambil tersenyum lelah. "Satu kampus tidak mungkin hanya berisi tiga orang. Belum tentu stetangga Jeonghan ini mengenal si kucing, paham?"
Junhui membuka mulutnya seperti ingin membantah, lalu terdiam.
Omong-omong, Seungcheol memang tidak cerita kalau dia mengetahui nama sang gebetan kepada Junhui maupun Jeonghan. Menurut Seungcheol, itu adalah hal yang tabu, apalagi mengingat mereka masihlah orang asing (jika melupakan fakta mereka sama-sama teman Wonwoo). Jadilah mereka bertiga menggunakan code name si 'kucing'.
(Berdasarkan kata Seungcheol karena mata si senyum manis-nya ini cantik seperti kucing.)
"Ah, Seungcheol? Kelas akan dimulai lima menit lagi, by the way..." ucapan Junhui menyadarkan Seungcheol dari lamunannya.
"SHIT! Aku belum nge-print tugasku!"
.
.
.
Choi Seungcheol bersumpah dia akan mendapatkan perhatian Hong Jisoo, dengan atau tanpa bantuan tetangganya yang jahat dan tidak berbelas kasih itu. (walaupun Seungcheol tentu meminta bantuan Junhui, tentu saja.)
Wonwoo bilang, dia tidak akan memberitahu apapun tentang Jisoo kepada Seungcheol, karena dia tidak keren dan tidak style-nya Jeon Wonwoo sekali. Padahal kan tidak ada hubungannya sama selera Wonwoo sama sekali. Seungcheol jadi sedikit curiga ke Wonwoo.
Wonwoo itu susah di ajak akrab, tapi sekalinya akrab malah bisa menempel kemana-mana. Contohnya saja ke Junhui. Padahal Seungcheol yang mengenalkan Junhui ke Wonwoo, tapi Wonwoo malah lebih akrab ke Junhui dan sering main bareng. Itu entah Seungcheol tidak ada waktu main dengan Wonwoo, atau Junhui-nya saja yang memang tidak ada kerjaan.
Seperti biasa, Seungcheol bekerja sepulang kuliah, melayani beberapa pengunjung yang datang untuk refreshing. Ada sekelompok remaja yang datang, kemungkinan masih duduk di sekolah menengah. Pasti mereka membolos mata pelajaran terakhir, pikir Seungcheol buruk sangka. Tidak sadar saat sekolah dulu juga begitu kelakuannya.
"Permisi,"
Seungcheol menoleh ke depan, kemudian merasa tidak bisa bernafas. Di depannya, Hong Jisoo, gebetannya yang memiliki senyum manis. Di. Depan. Nya.
"Hong J-jisoo?" sedikit mengutuk dirinya karena tergagap, Seungcheol asyik mengamati ekspresi sosok di depannya ini tang terlihat kebingungan. "Astaga, manis sekali!" pikir Seungcheol langsung ber-fanboy-ing ria.
"Eh? Kau mengenalku?" tanya Jisoo. Seungcheol mengangguk, tidak peduli jika terlihat terlalu bersemangat.
"Aku tetangga Jeon Wonwoo," jawab Seungcheol sedikit malu-malu. Sungguh terlihat berbeda sekali. "Ingat?"
Jisoo terdiam sebentar, lalu tersenyum. "Ah iya," katanya. "Kau yang kata Wonwoo butuh perhatian, 'kan?"
Seungcheol tersenyum, walaupun dalam hati ia ingin mencincang si emo. Tidak peduli jika Nyonya Jeon akan mencincangnya balik.
Sebenarnya Seungcheol ingin berbincang lagi, tapi bioskop sedang ramai saat ini. Tidak lucu jika ia akan di potong gajinya. Jadi, ia membiarkan Hong Jisoo dan senyumnya yang manis, pergi membawa separuh hatinya yang dengan sukarela ia berikan (padahal belum tentu akan diterima, delusi tingkat dewa ala Choi Sungcheol).
.
.
.
"Ayolah, kumohon. Aku jarang memohon padamu, Jeon."
"Tidak akan, Choi."
"Kumohon kumohon kumohon!"
"Tidak untuk kali ini, Choi. Jangan paksa aku."
"Pleeeeaaaassseeee?"
"Jangan merengek, aku tidak suka."
"Nah, aku akan merengek terus hingga kau memberikannya padaku."
"Cih, tidak sudi!"
"Jeon Wonu!"
"No."
Seungcheol mengusap kasar kepalanya, frustasi. Malam ini, selesai jam tugas Seungcheol, ia pergi ke rumah Wonwoo dan langsung merengek di dalam kamar tetangga emonya itu. Biar terlihat jarang bersama, sebenarnya mereka tidak secanggung itu untuk saling masuk ke rumah masing-masing.
Seungcheol berniat dengan segala hormatnya, meminta Wonwoo memberitahu segala hal tentang Hong Jisoo kepadanya. Minimal, dapat nomor teleponnya saja sudah untung. Tapi dasar ya Wonwoo si sadis yang penuh ketegaan, dengan gampangnya dia bilang tidak.
Wonwoo malah asyik bermain game di handphone, tidak peduli Seungcheol sudah mulai guling-guling di kamar Wonwoo. Sudah biasa, sebenarnya.
"Hong Jisoo itu anak yang baik," Wonwoo tiba-tiba mengatakan sesuatu, walaupun masih bermain game. Seungcheol langsung duduk untuk mendengarkan. "Dia ramah dan dewasa. Semua orang suka dengannya, murah senyum."
Seungcheol menunggu kata selanjutnya dari Wonwoo, tapi yang dia temui hanyalah bunyi game Wonwoo.
"Sudah?"
"Sudah."
"Tidak Puas! Beritahukan lagi!" ucap Seungcheol sambil menggoyangkan bahu Wonwoo.
"Tidak mau!"
"Ayolah, satu lagi! Aku tidak puas!"
"Kalu begitu, puaskan sendiri, bodoh."
"Aku tidak bodoh! Kalu kau seperti ini, bagaimana aku bisa puas!"
"Aku tidak tertarik memuaskanmu, puas?"
"TIDAK!"
Tiba-tiba pintu kamar Wonwoo terbuka dan menampilkan sosok adik dari si emo yang masih sekolah menengah. Ada aura menyeramkan di belakangnya.
"BERISIK! Kalian ini ambigu sekali? Please, aku mau konsentrasi belajar!" ucap adik Wonwoo dengan nadanya yang datar (sungguh mirip Wonwoo, tentu saja). Seungcheol tersadar, hanya tersenyum malu. Wonwoo hanya biasa saja menanggapi adiknya.
"Seungcheol minta di puaskan," kata Wonwoo tanpa rasa bersalah di kalimatnya. Membuat Seungcheol dan adiknya melotot karena terkejut.
"BUKAN! Ah, maafkan aku, Bohyuk. Kau bisa kembali ke kamarmu dan belajar dengan tenang." Seungcheol menutup pintu kamar Wonwoo dan mendorong yang paling kecil dari mereka bertiga untuk keluar.
Seungcheol hampir membanting Wonwoo, kalau saja Wonwoo tidak tiba-tiba menatap Seungcheol dengan tatapan yang jarang di lihat Seungcheol. Bukan, bukan tatapan penuh cinta. Tapi, ada sesuatu yang lain yang tidak bisa Seungcheol gambarkan.
"Kuharap, kau akan melakukan pendekatanmu dengan usaha sendiri. Juga mengetahui apa-apa tentang seseorang dengan usaha sendiri. Ini bukan masalah aku tidak peduli padamu atau apa, tapi bukankah lebih manis kau yang mengenalnya dengan usahamu sendiri?" kata Wonwoo. Seungcheol tertegun sejenak. Kata-kata Wonwoo seperti motivasi.
Motivasi untuk benar-benar mengenal Jisoo dengan usahanya sendiri. Tidak seperti selama ini, jika Seungcheol jatuh cinta, dia hanya bersembunyi dan meminta bantuan Junhui untuk bisa dekat dengan seseorang (Junhui punya banyak channel, jadi Seungcheol sedikit memanfaatkannya. Sungguh teman yang baik.).
"Kau memberiku ijin mendekati Hong Jisoo?"
"Kata siapa? Sudah sana pulang. Kamarku sudah cukup penuh tanpamu."
"Sial, Jeon!"
.
.
.
Mel's note:
Ini bukan oneshoot kan, hehe. Beruntunglah Seungcheol dan Jisoo saya buat fanfic ini chaptered, padahal ini bukan kebiasaan saya. ((Saya agak lemah soal chaptered, maafkan))
Jujurnya sih, mau update seminggu sekali. Apalagi, sebenarnya ini belum ada pikiran gimana endingnya? (sampai di protes adek, lol). Semoga saja semangat saja terus naik, agar tidak berhenti di jalan. Dan saya pasti akan menyesal akalau ini discontinue...
By the way, saya nggak nyangka banyak yang suka lol saya akan usaha update secepat mungkin. Tapi tetap tidak janji. hehe.
Regards,
calon fans seorang Jeon Wonwoo
