Howa : *naek ban* *mejeng komuk super suseh bak laksana di sineteron, terombang ambing!* helep! Helep!
Audience : *tiba tiba datang dengan sangat heroiknya*
Howa : *girang*
Audience : *nggeplak pala howa pake dayung* woy, tolol! Banjir udah surut, tauk! Ngapain lu pake ban segala!
Howa : *liat sekeliling* oh.. Udah nggak banjir #telat

Hay, epribadeh, gimana kabarnya? Ada yang kena banjir nggak kemaren? Cetar membahana halilintar badai, u la, la loh, banjirnya, eh, semoga masih sehat selamet sentosa ya, ampe sekarang, biar bisa baca kelanjutan fic ini terus *ditempeleng* hoo..

Balasan review ::
Angchin : udah bales lewat PM ≈(-•-≈)
Hikary : Hoo.. Mangap, nggak bisa lewat PM. Makasih reviewnya, support, dan segala galanya! Lalu, soal Niika dalam cerita ini, akan dijelasken, perhatikan baek baek!
Ada Apa Dengan GunYat? hubungannya prequel dengan fic ini
Ada Apa dengan GunYat? hubungannya second prequel dengan Waktu Yang Kulewatkan Dengan Nikka
Waktu Yang Kulewatkan Dengan Niika hubungannya prekuel dengan fic ini
Waktu Yang Kulewatkan Dengan Niika hubungannya sequel dengan Ada Apa Dengan GunYat?
Fic ini hubungannya sequel dengan Ada Apa Dengan GunYat?
Fic ini hubungannya juga sequel dari Waktu Yang Kulewatkan Dengan Nikka
Hehehe.. Sepertinya begitu (belum begitu ngerti juga soal sequel sequel-an), tapi pokoknya mereka bertiga berhubungan. Nikka yang diceritain udah mati itu cuma di cerita sampingan doang *ditatap Niika tajam*, sekarang dia masih hidup kok, dibangkitin pake Edo Tensei^^ (nah, lo!).

Oiya, kepada seluruh readers yang beriman, mohon dimaafkan segala kesalahannya, maaf, dan terima kasih sebelumnya! Howa mau hiatus! —nanti juga balik lagi— ini ff persembahan untuk hiatus. Akhiri kata, mohon undur diri, dan sampai jumpa lagi di musim selanjutnya! Eits, sebagai kado hiatus, gimana kalo reviewnya didobel? #disambit bata —lagian, satu chapter, satu perivew, bukannya cuma bisa satu review?—


Disclimera -Yoshiro Togaishi-sensei.

Rated- T. Prodak ini memuat konten konten 9 tahun ke atas (menurut lembaga survei Adel), yang masih 9 tahun dianjurkan untuk tidak baca. Harap bimbing anak anda yang masih di bawah umur dalam membaca fic ini.

Genre- Friendship (hah, gontok-gontokan gitu?) & Humorandom (ketidak becusan author dalam ngebanyol).

Summary- [Masih] ch.2::Serangan Umum 1 Maret 1949. Di atas lagit, masih ada lagit, bro! Niika bukan orang terPinter 1 sekolah, ada lagi, satu orang.. Kece, berintelejensi tinggi, dan populer. Tapi, Leader sesat 9.4 senep melihatnya. Suatu saat, dia melaksanakan serangan untuk 'menguji iman' orang ini, well, berhasilkah Leader melancarkan aksi edannya? / "Iya sih, tapi gue belom puas kalo belom ngalahin 'dia'.." /"Liatin deh, MENJIJIKAN 'kan..?"/ KoMer : banjir OC! Yang nggak suka silahkan hengkang^^

Kode Merah (sabda Skipper : "Berharaplah kau hidup tidak untuk melihatnya..") - OC BEZIBUN, AU, OOC-DOC, CCD, cerita membingungkan anda pasti sulit menyerap isi dari fic ini. Humornya GARINGNGENESS, friednship sesat, dan lagi misstype serangkai bersarang disini. Semua itu karena authornya pelarian Snnare Institute. Bagi anda yang hanya membaca fic fic kece badai harap tutup tab ini atau kembali ke HxH archive, karena fic ini bukan yang macam itu. Penting buat anda bahwa perusahaan yang menghandle fic ini — alias PT. ADEL MEMANG KEPO— tidak memberikan asuransi jiwa buat anda jika otak anda terbakar saat
membaca seperti Patrick. Produk ini tidak disarankan untuk orang orang normal. Terakhir yang anda harus tau jika menyukai fic ini harap bacakan di kelasmu besok pagi jika tidak suka, silahkan lindas gadget anda dengan truk sampah ehm— ralat, lindas aja authornya dengan tronton (audience : HOREEee..!).


Killua di GunYat Untuk 1 Semester Terakhir, Cuk!
(sequel ke2 Ada Apa Dengan GunYat?).

Halaman kedua
Serangan Umum 1 Maret 1949


Diproduksi Oleh
PT ADEL MEMANG KEPO INVESTAMA .Tbk.
Jl. Perum 4 No. 196 Sabi City-Indahnesia.

Ide Produk
howa

(Mourice : dan seterusnya, hore semua..)


GUNUNG YATI INTERNATIONAL SCHOOL (full day school) #khayalan semata..

Jam masuk : 07:00
Istirahat : 10:00-10:30
Istirahat makan siang : 12:00-13:30
Jam pulang : 02:30

RSBI dihapus (kata koran Tempol), SMP GUNUNG YATI yang berstatus swasta campuran tebar kembang 40 rupa. Yah, tak perlu author jelaskan dengan tesurat bagaimana sebenarnya GunYat, atau GunYat itu apa. Begini, (baru ngejelasin pas chapter 2 dari sekian sekuel pula) untuk masuk ke GunYat biayanya lebih murah dibandingkan SMP swasta lainnya, bahkan dibandingkan dengan SMP negri, tapi kalo ada ulangan bayar lagi sekian juta, sama seperti SMP swasta lain. GunYat mempunyai standar dibawah rata rata (perlu digarisbawahi) , yaitu nemnya minimal 23,45, selain duit yang berkuasa, nilai cetek ini juga harus tertera di SKHUN, tapi untuk ke GunYat tidak ada tesnya, bro.

Tapi yang paling menyejukkan hati adalah ketika anda sekalian mengalami Masa Orientasi Siswa, berat! Anda bisa bayangkan lapangan Militer Amerika adalah pemandangan MOS di GunYat, mereka dengan kostum cosplay ea saling beradu kekuatan. Jadi mereka kakak kakak berbahagia MOS bisa dengan bebas melempar bom molotov atau memasang ranjau paku matrial di sepanjang arena MOS. MOSnya GunYat = wajib militer, karena kurang lebihnya sama, toh mereka nanti suruh menyergap, nembak lawan yang sudah ditentukan pake senjata beneran —bukan setingkat Glock lagi pastinya, yang gede gede semua— atau dalam keadaan hebring bisa pake bazooka, nyelem di kolam ikan, manjat manjat. Maka itu sekali lagi, Killua bersyukur bisa melewati masa masa penyiksaan itu.

Dalam satu deretan dengan SMP swasta yang Internasional (deretan SMP), GunYat ditempatkan di rank sekian ratus. Ya maklum, anak anak yang sudah muter kiri muter kanan nyari SMP bagus tapi karena NEM kecil nggak terima pada ngumpul di GunYat, well, GunYat itu BUANGAN. Terus.. Anak anaknya sudah terkenal badung, rajin tawuran, nggak ada niat belajarnya, sering megang BB meskipun ada guru, nggak jarang banyak yang pacaran di koridor, dan semua itu adalah mangsa empuk pasukan Mak Lamfir 88. Tapi, sudah 21 generasi yang ngeganyem pendidikan di sana.

Oiya, seragam GunYat.. Super biasa, cuma baju putih (kemeja) yang terserah mau lengan panjang, pendek.. digulung (diseret Mak Lamfir) dan rok atau celana hitam yang juga boleh panjang atawa pendek, jangan lupa dasi hitam! Sebenarnya, GunYat sudah ganti beberapa rezim seragam sekolah, mulai dari yang paling jelek, bagusan, sampe sederhana banget ampe sekarang. 3 tahun sebelumnya, sih, seragam GunYat itu pake jas, terus sebelumnya lagi, ada yang sailor, yah.. Banyak macem, deh. Gantinya 3 tahun sekali, sayangnya mereka mereka ini yang angkatan ke19 (Killu .dkk) kebagian seragam sederhana begitu. Junior mereka malah sekarang modelnya pake cardigans gitu, hehe, sabar, ya kakak!

Dan jangan lupa, dalam akhir tahun, atau akhir semester biasanya sekolah mengadakan event event kece. Kaya turnamen tawuran massal dengan SMP lain (GunYat udah pernah jadi juara pertama 3 kali berturut turut), nobar (tergantung musim), pemulihan (dibimbing howa (ga ada yang mau dateng)), festival musim ujan (festival yang dilaksanakan seperti festival sekolah lainnya pada musim hujan), panggung gembira sebagai ajang unjuk kesombongan. Serta berbagai acara study tour setiap semester dan tur perpisahan ke Sabi(?) di semester6.

Well, kurang lengkap? Informasi landjoot hub.088888888888


Saat tiba di kelas 9.4, Niika memandang 2 kursi kosong di depannya yang ganjil, kenapa? Karena kursi itu bukan bilangan genap (nah lo?). "Si Taju nggak masuk..?"

"Jangan tanya gue, gue bukan nyaknye!" yeh, lagian siapa yang bilang elu, Killua, kawin sama buapaknya Leader.

Selanjutnya tanpa tedeng aling aling lagi, Niika menduduki singgasananya bersama tas yang dibawa. Killua sendiri udah standbye di kursi yang satunya, tumben, nggak telat.

Dalam suasana pasar tanah abang yang panas, rame, sumpek, dan berisik, seorang anak laki laki yang tinggi semampai, yang biasanya sudah ada di sekolah saat matahari baru nongol tiba tiba lewat di depan kelas sambil berkata dengan suara agak keras,

"Tajudin sama Yoken hari ini nggak masuk, kemarin mereka kecelakaan.."jelasnya, lalu dia melengos pergi begitu saja ke luar kelas. Eh, nih orang tau aja lagi pada ngomongin apa.

"Eh..?!" pandangan Killua dan Niika pun bertemu, tapi dengan pandangan bingung sebingung bingungnya.

Otak killua yang bervolume sekitar 200cc pun membayangkan adegan berdarah darah Gore yang begitu memikat, bunyi khas tulang patah pun sempat terbayang lembut melewati telinganya, usus terburai urai (Mature Theme),... Oke, kita lewati saja konten konten Dewasa ini. Maklum, bawaan Killua.

Sementara Niika sudah membayangkan betafa nikumathnya dunia tanpa 2 orang terminators itu, pertama, saingan berkurang, orang bodoh nggak ada lagi, nggak ada orang nyolot, nggak ada orang songong, nggak ada ribut di pagi hari, dan nggak ada Yoken dan Leader. Yang paling penting adalah Niika berbahagia hati atas perihnya penderitaan berkesinambungan yang dialami itu orang dua, huahahaha!

Padahal belum tentu ya, kecelakaan = mati. Tapi, pikiran mereka sudah melalang buana.

Selanjutnya, pelajaran dimulai dengan tenang dan aman. Niika dan Killua pun tak merasakan hawa panas yang biasanya berasal dari depan mereka, tempat duduk Yoken dan Leader, jadi nggak ada gontok gontokan, nggak ada ribut tibutan, nggak ada adu bacotan, nggak ada.. Semuanya, yah, itung itung author juga bisa ngurangin OC yang menggunung, gitu.

Kadang kala ketika menghadapi penjelasan tak berujung yang sukar dimengerti, atau soal latihan yang susang sumbel, Killua bertanya pada Niika. Malu bertanya sesat di jalan, tapi kalo nanya terus orang bego namanya! Lumayan, buat pendekatan, cielah.. Menurut Killua juga, antara Niika dan Yoken yang notabene pernah mengajarinya lebih canggih Niika. Lah, jelas, pinteran Niika. Dan hal terindah saat ini adalah, Mak Lamfir sebagai guru matik tidak ada, bukannya tidak ada, tapi karena memang tidak ada jamnya. Hari yang sangat indah, tak ada suara teriakan nyaring melengking yang mampir ke kuping. Oo.. I think to myshelf.. what a wonderful world.. *lirik Louis Amstrong*


Tapi, saat pulangnya..

"Niika, lu mau ngejenguk nggak..? Bareng, nih, ayo!"

"Nggak, ah. Kaya gue ga ada kerjaan aja.." Niika masih sibuk dengan mengintai kolong mejanya.

"Loh, kan lu sering main sama mereka.." orang yang berambut mahogany di depan pintu itu tampak meyakinkan.

"Yah, nggak dijenguk sama 1 orang nggak bikin mereka mati 'kan..?" jawaban Niika mulai terasa sarkatis.

"Ck, yaudah, deh! Duluan, ya!" akhirnya manusia berambut mahogany (pirang kejemur) tersebut pergi meninggalkan kelas bersama rombongan ondel ondelnya, yang diketahui akan menjenguk abang-adek anti-akur yang tengah terbujur(?) sakit di RSJD. Kira kira rombongannya ada 7-10 orang. Yah, mentang mentang Leader ketua kelas mereka mau nggak mau, meskipun nggak enak juga tetep harus berlagak perhatian meskipun terus berdoa agar itu orang nggak masuk masuk kelas dalam hati.

Sebelum meninggalkan kelas seutuhunya, Niika melirik sejenak benda putih perak disebelahnha yang tidak bergerak, "Killua, lu mau ngejenguk..?" tanya Niika pada benda misterius itu.

Dengan super ogah ogahan —padahal kelas udah bubar, bukannya langsung pulang— Killua si benda itu mengangkat kepalanya dari meja lalu memandang Niika yang berdiri, "Oh, nggak. Kecuali kalo gue diminta, baru.."

Selanjutnya, Killua kembali membawa dirinya ke alam mimpi, alias dari tadi dia tidur. Niika sih, nating-tu-lus (baca : nothing to lose), dia pikir elo, elo, gue, gue. Mau masang tenda di sekolah juga bukan urusan seorang Katsui.

.

.

.

Setelah merasakan sengatan mematikan alat tes gula darah (pen) milik howa dalam mimpinya, Killua dengan segera langsung terbangun. Matanya lalu menelusuri senyapnya 9.4 dalam dunia GunYat yang biasanya selalu ramai oleh bunyi bunyi penghujat kuping, kemana semua orang pergi? Udah pulang Killua, lu dari tadi ketiduran di kelas! -_-"

Kepala yang masih pening membimbing empunya untuk menyadarkan dia harus pulang sekarang, well, dengan lemot Killua merapihkan barang barangnya dengan telaten(?). Hingga sebuah getaran dari sakunya menyadarkannya, langsunglah dia mengambil benda berlayar 3,0" tersebut lalu membathin sambil menatapnya, 'Aih, siapa ini?', perlu anda maklumi, Killua tidak mengenal nomor panggilan yang tertera pada layar hpnya.

"Killua, lu ngejenguk gue, dong!" mendengarnya, membuat Killua mendatarkan pandangannya, dia merasa beruntung membiarkan panggilan setelah menekan tombol jawab, dari pada bilang 'halo' atau 'ini siapa?' tapi keputus gara gara suara di sebrang sana.

Tanpa bertanya, Killua menebak, ini suara seorang Leader sesat 9.4 yang kenceng semi-bariton, maklum masih semi. Jadi, langsung dijawab aja "Mau banget, gitu ya gue jengukin..?"

"Ya ampun, Kill.. Kita kan temen!" eh? Udah temenan, gitu?

"Ha? Sejak kapan gue bilang kita temen..?" tak Killua sadari, dari tadi berjalan tau tau sudah ada di depan gerbang.

"Yaelah, lu ngejenguk doang, paling abis bensin berape! Tega banget luh, sama guee..!" ya ampun, muncul karakter baru, karakter sekong!

Sambil terus memegang handpun di kuping, Killua tengok kanan kiri. Asal tau aja bro, itu anak lagi menyebrangi lautan(?), mana mobilnya kenceng kenceng pula. "Hahhh.. Yaudah, gue jenguk, deh!"
Leader sesat itu pun menyunggingkan senyum kemenangan-licik di bangsalnya. "Lu ada di rumah sakit mana..?"

"Eits, tunggu dulu! Jangan nanya begitu dulu!"

Killua menaikan tensi curiganya, "Apa lagi..?!"

"Jangan lupa bawa buah buahan, ya!" nyess, suaranya terdengar garing, lembut, sekaligus kenyal.

'Anjrit, ada udang dibalik rempeyek!' tak perlu jeda lama, tiba tiba Killua melihat howa dengan gembolannya dagang rempeyek di prapatan sana. Forgatsek!


Bau obat obatan yang mencurigakan, suasana yang jauh dari kata bising, dan tempat tidur yang bisa dinaek turunin pake remot mengisi pencitraan setting ini, kenalkan, ini Rumah Sakit Jiwa Daerah yang jauh terisolir dari kota. Eh, udah diceritain belom, sih, kalo settingnya ini memang di daerah pinggiran dan bukan kota? (Audience : mana gue tau?!). Tapi 2 orang yang mengisi ruangan kelas 2 tersebut masih aja ribut, untung pasien, kalo orang lain pasti udah disekap dan dimasukin karung.

Tajuu memandang orang yang berdiri di sebelahnya dengan horizontal mode. Suer, dia gedek banget sama orang yang super jail itu. Niatnya sih, mau tidur, tapi gara gara nih adek satu, abangnya jadi nggak tenang. "IH, LU DIEM KEK! GUE MAU TIDUR, TAUK!"

"Ye.. Tidur sono!" yang diajak bicara hanya menjawab seadanya sambil masih memainkan rimut yang dia pegang.

Well, abangnya yang sedang goleran di ranjang pun naik darah, "TAPI GUE NGGAK BAKALAN TENANG KALO LU TERUS TERUSAN NAIK TURUNIN RANJANGNYA, PINTER! NORAK, LU!"

Mendengar kata 'NORAK' jebol caps yang nancep di kuping, dia ikut ikutan panas. "APA?! LU NGAJAK RIBUT BILANG BEGITU KE GUE!" katanya seraya menekan tombol a (?) yang langsung membuat ranjang yang ditempati abangnya jadi turun ke bawah dengan hentakan drastis.

"MENDINGAN LO TARO ITU REMOT KE TEMPAT ASALNYA SEBELUM LU GUE PASUNG DI RANJANG!" Leader masih sabar, lho nggak langsung ngerebut remot yang dipegang Yoken lalu menyambitnya dengan benda persegi panjang itu, eh?

"APA?! LO PENGEN GUE LEMPAR KELUAR JENDELA, HAH?!"

30 menit kemudian..

"Yess..! Huhu!"

"Ah, kampret gue kalah lagi!"

"Lagian, sih! Udah tau itu musuh, malah di samperin!"

Kalau Yoken bersorak di depan layar TV, justru abangnya meratapi layar LCD itu dengan empet. Padahal yang masang itu Play Setan biar bisa kesambung dan dimainin Leader juga, meskipun inisiatif bawa PS dan nemuin solusi bisa dipasang di TV kamar itu Yoken. Yah, kalo kata Leader sih, dari pada dia ngantuk tapi nggak bisa tidur —digangguin adeknya— mendingan main PS, tapi kalo Yoken sih, mau nganguk nggak ngantuk, tetep, maen!

"Udah, lah! Ganti aja!" Leader lalu turun dari ranjang Yoken ke depan TV.

"Ngakk! Kalo mau Guitar Hero, juga!" sementara Yoken masih setia duduk di ranjang dan megang stick psnya.

"Nggak mau! Gue kalo main itu juga kalah terus!" Leader lalu menoleh dan menatap Yoken sinis.

"Yahh.. Payah, lagian sih lo. Kebanyakan belajar!"

"Yee.. Masih mending dari pada elo main mulu malah BEGO!" eak, sombongnya Leader keluar.

"Yehe.. Gue juga pinter tauk!"

"Pinter apa..? Pinter nyontek, hah?!" tanya Tajuu dengan nada tinggi sekaligus mengejek.

"Nggak, pinter main games.."

Sontak, kedua pasang mata Yoken dan Leader menatap Killua bersamaan. Tapi, sebenarnya yang paling ditatap adalah sesuatu yang dibawa Killua, kresek putih besar. "Oh, lu berdua ada di sini.. Kirain gue RSJ," ujar Killua menatap Leader jauh.

"RSJ kan pelarian lu kalo lagi galau, iya kan..?" jelas, Leader gak mau kalah.

"Ngomong ngomong ini beneran RSJ, loh.. Lu nggak liat di bawah pada numpuk orang gila..?" celetuk Yoken, yah pan udeh dijelasin howa.

"Oiya, buah buahannya mana..?" 'Gue tau, ke mane otak lu sekarang berlabuh!'.

Dengan ikhlas nggak ikhlas, Killua menyodorkan kresek putih tersebut ke hadapan Tajuu, "Neh," Tajuu lalu menghampiri Killua yang ada di dekat pintu dan merebut apa yang dibawanya.

"Thank you!" ucap Leader ramah, ah, ada maunye lo!

Pandangan Killua selanjutnya beralih pada Yoken yang masih saja asik main PS, dia kira Killua Hollow-man kali. Sementara abangnya sedang asik ngodok ngodok kresek kresek tadi dengan nafsu. "Emangnya lu abis berapa jaitan..?" tanya Killu seraya duduk di kursi yang sudah disediakan.

Leader tidak langsung menjawab, dia malah mengambil keranjang buah —beserta isinya— yang menjadi bobot dari kresek putih, lalu menyingkirkan kresek jatuh begitu saja ke lantai. "Jaitan..?"

"Ye, nih lu ampe masuk rumah sakit segala. Seengaknya ada beberapa yang patah, lah.." dan Killua belum lupa dengan bayangan Gorenya yang terus menghantui, setidaknya dia harus melihat darah (nah lu! *panitia harap bertanggung jawab).

"Oh, cuma lebam dan lecet beberapa, kok.." lalu dengan gaje Leader menggoyang goyangkan kakinya.

"KALO GITU LU NGAPAIN MASUK RUMAH SAKIT SEGALA..?!" acara tutup kuping dilakukan oleh Yoken.

"Yah, waktu itu warga pada heboh ngeliat gue.. Jaadi gue digotong kemari,"

"Oh, pas banget lu berdua bisa kena sama sama begitu! Emangnya lu lagi ngapain waktu itu..?" maksud Killua sama sama yah sama si Yoken, adeknya Leader.

Sebelum membalas perkataan Killua, Leader menghela nafas sepanjang panjangnya, selanjutnya dengan tujuan tidak diketahui kedua matanya yang coklat pecah (Audience : hah, bahasa apa itu?! Coklat muda, maksudnya?) melirik seorang Yoken dengan singit.

"Sebenernya sih, nggak. Awalnya, gue nggak kenapa napa, tapi GARA GARA DIA gue jadi ikutan SAKIT! Panas, mual, pusing pusing, muntah!" tapi.. Yoken udah nyolong start dan membalas duluan perkataan Killua, Leader langsung menoleh kearahnya, yaiyalah orang jelas banget terlihat Yoken nunjuk nunjuk Leader, merasa lah Leader kita, eak.. Pandangan Leader bisa mencapai 360 derajat!

Panas berujung kesal karena ditunjuk tunjuk adek kandungnya sendiri sebagai pelaku dari kasus ini, Leader langsung mengalihkan pandangannya dari Yoken tadi dan melihat Killua yakin, "Gini, waktu itu gue lagi naik motor, terus GARA GARA DIA goyang goyang, nggak bener. Gue jadi NABRAK POHON!"

Tatkala, Yoken ikutan panas mendidih, dengan segera dia turun dari ranjangnya dan ikut dalam pembicaraan tersebut, yang tadi dimulai dengan Killua dan Leader. "KOK LU NYALAHIN GUE, SIH..?!"

"YAIYALAH, UDAH TAU ITU WAKTU MOTORNYA GEDE, LU MALAH UGAL UGALAN!"

"ITU SIH LUNYA AJA YANG NGGAK AHLI BAWA MOTOR! ORANG GUE CUMA MAU GESER DIKIT!"

"GESER DIKIT APAAN..?! ORANG LU AMPE NENDANG NENDANG KAKI SEGALA!"

"GUE NGGAK NENDANG NENDANG KAKI!"

"ALAH, JANGAN BOONG, LUH! ORANG CELANA JEAN'S GUE AMPE KOTOR GARA GARA ELU! LU NGAPAIN NENDANG NENDANG?!"

"GUE NGGAK NENDANG NENDANG! GUE CUMA MAU GESER WAKTU ITU!"

Merasa sebagai pendengar yang baik, Killua sweatdrop. Sejak kapan dia ditakdirkan untuk melihat keributan berkepanjangan ini..? 'Kenapa nih orang dua..?!'.

"Ah.. Kalo gitu, gue balik dulu, deh. Jam besuknya udah abis.."


Niika tidak berhenti memandang langit yang terus menghantam payung hitamnya dengan molekul air, untung dia tidak tinggal di Djakarta dan berdiam di kota pinggiran. Kadang kala, Niika merasa risih saat payungnya dia angkat ke atas sedikit, (ga perlu bertanya kenapa) —siapa yang mau tanya?— Niika punya rambut yang kalo dikuncir tinggi aja nyampe pinggul, oke, makanya kadang kadang kalo nunduk terus bangun, mukanya udah nggak ada, ketutupan rambut semua! Ada yang tau kenapa rambut Niika panjang menjuntai, anak anak? #doorr! Oh, pembahasan topik baru, nih. Rambut Niika.

Biasanya, Niika datang saat matahari tergelincir ke sebelah timur setinggi tombak, tapi gara gara ujan. Abis.. Lah, pertama, jalan utama yang biasanya dia lewatin banjir, ujan, macet. Untungnya dia berhasil mengendap endap tanpa ketahuan kalo telat sama Mak Lamfir, lalu segeralah dia melengkah ke 9.4 yang ada di pojok lantai dasar. Kalau dipandang dari jauh, ada beberapa murid yang sedang asik klantang klantung ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas. Terkadang, Niika merasa kalau berjalan di jalan tengah itu seperti ditatap orang orang, atau kalau menatap satu objek saja, misalnya si A, rasanya kaya diintimidasi si A balik lewat tatapan, jadi kaya nggak boleh menatap 1 objek saja, kalau jalan, tatapan harus lurus gitu, eh malah jadi tegang. Kalo merasa terimindasi atau ditatap juga, pandangan harus di cool cool-in dan lurus ke depan. Tapi, dia mikir juga, dengan back pack putih motif kembang kumel itu siapa yang mau melihatnya? Dasar, cewek keGRan.

Kali ini Niika tidak memandang kursi ganjil di depannya saat tiba di 9.4, lagian, siapa peduli? Tak lama setelah Niika menaruh tas dan duduk di kursinya, Killua datang. Kedatangan Killua pun turut diketauhi Leader yang duduk di depan dan seisi kelas, tentunya. Datang datang Killua melihat Leader seperti bengong, tatapan kosong ke space di depan. Nape, tuh anak?

"Dia.." pandangan Leader yang lurus ke depan itu —emangnya di tembok ada apaan?— terasa galau banjet, kaya mengalami guncangan bathin yang cetar halilintar membahana badai u, la, la! "Sakitnya tambah parah gara gara makan apel beracun dari lo!" seketika, kepala Leader langsung berbalik arah dan menatap tajam Killua di belakang yang dari tadi menatapnya WTF.

"A, APAAN..?! SEENAKNYA AJA LO, EMANGNYA GUE CEWEK BEJAT DI SNOW WHITE!" jelaslah, Killua langsung heriyanto.

"Yooken, dia sekarang ada di rumah, sakitnya belom sembuh, sementara gue udah, dong!" aduh, Leader bangga banget, sich L?

"Duh, kenapa nggak dua duanya sekalian belom sembuh, yea?" tanya Killua sambil melirik Niika yang ada di kursi dengan tatapan prihatin tingkat tinggi.

.

.

.

Heningg..

Heninggg..

Nggak disangka, kelas 9.4 bisa hening, kan rame mulu kaya pasar! Eh, wong pasar aja kalah, ndok!

.

.

.

"Oiya, nih ada hasil hari kamis kemaren!" secara azaib, Leader tiba tiba mengeluarkan setumpuk kertas lusuh dari kolong mejanya, ah itu author juga bisa!

"Kemaren..? Maksud lo yang ngerjain soal ampe beratus ratus itu?" Killua menatap tumpukan bayangan mengerikan —bayangan nilai jelek— di tangan Leader dengan singit.

"Yap,"

"Lu dapet dari mana..?" Niika juga ikut tertarik.

"Tadi gue disuruh ke ruang guru, terus katanya gue suruh bagiin ini… Mak Lamfir lagi ada dinas, " HORE! Mak Lamfirr dinas! Waaaw, chiyuss? Miapa? Sementara howa sedang menulis narasi gajebo, seluruh 9.4 menatapnya dengan tatapan WTF.

Tapi, udah jadi tradisi —yah, tradisi apaan, kali— kalau kedudukan seorang KM yang dijabat Leader kudu membagikan satu persatu hasil TO itu kepada 17 ekor murid. Ada yang merasa aneh kenapa GunYat kemarin, masuk masuk langsung TO. Yah, author nggak bilang kemarin TO sih, ye, namun, GunYat mengejar target 4 kali TO. Dilaksanakan di bulan . . Dilaksanaken demi meningkatken kualitas peserta didik, terus, kenapa TOnya terkesan mendadak? Kadang kala Gunung Yati yang dibawah naungan seorang kepsek nyentrik sengaja mengetes ngetes kemampuan siswanya. Yah, kalo takdir mengizinkan, kapan kapan author kenalin, anda juga PASTI kenal orangnya.

Setelah mendapat apa yang diinginkannya, Niika memandang selembar kertas putih ditangannya, perlu diketahui, hasil yang dibagikan berupa selembar kertas dengan hanya keterangan ipa sekian.. Matik sekian.. dan totalnya.

"Anjrit!" Niika terbelaklak di kursinya.

"Hah, apaan..?" Killua melirik ke hasil TO Niika, kepo dikit boleh lah.

"Hehehe nilai gue lebih bagus dari dia!" tiba tiba Leader yang sudah selesai dengan tugasnya menyambar dengan somse (sombong sekalee).

"Yah, emang lu berapa?" Killua yang mengikuti perkembangan Leader VS Niika pun melakukan tugasnya, mengumpulken informase.

"Gue totalnya 33,39, sedangkan dia 35,65!" TO segini tanpa belajar, bagaimana menurut ada? Silahkan review nanti #BLARR!

Raut kemenangan Leader yang tadinya terpampang di baliho kini mulai berganti dengan komuk serius yang menyayat hati seolah mengatakan hal yang chiyuss.. Metamorfosa itu pun disaksiken oleh 2 pasang mata Mr. K & Mrs. N "Iya sih, tapi gue belom puas kalo belom ngalahin 'dia'.." Leader sok sok misterius banget, deh pake kata 'dia' segala.

Mantenginnye bikin Killua nelen ludah, "Di, dia siapa..?"

"Dia.. Anak paling beken di sini,"

"YA NAMANYA SIAPA, TOLOL! NAMANYA!" dengan ini, author menyatakan Killua sedang spaneng, apa lagi ditambah dengan getokan kusen pintu yang diarahkan ke kepala coklat muda Leader.

Sesaat, Leader mengusap kepalanya dan menatap muke Killua yang tampilannya komuk spaneng kaya di anime. "Iya, aduuh! Namanya Kujiza"

"Hah, namanya aneh banget, bahkan lebih aneh dari dia!" seketika telunjuk kanan Killua langsung diarahkan pada Niika yang dari tadi woles aja oleh empunya.

"APA, LU BILANG NAMA GUE ANEH, BERENGSEK LU!" Killua tidak memperdulikan Niika yang kalap, dia tetap bersidekap dan memandang acuh perempuan itu. Tapi, 2 detik kemudian, Niika duduk kembali ke kursinya perlahan, alih alih buat menenangkan diri, "Ah, udah ah.. Gue males ribut pagi pagi!"

"Yee.. Siapa juga yang ngajak lo ribut..?" balas Killua, udah lah, Kill, author udah cape ngetik adegan ribut mulu, neh..

"Dia anak 9.1, yah gue akuin dia lebih cakep DIKIT dari gue, tapi songongnya bukan main, bro!" ditengah kekicauan burung pinguin di gurun pasir, Leader masih saja membicarakan apa yang kita sebut Kuji dengan komuk jang kelewat soerius pula. "Dulu sih, namanya belom begitu ngetrend, tapi semenjak dia kelas 8 dan udah jadi senior, namanya mulai mencuat. Apalagi pas gue denger dia jadi juara umum pas UAS kelas 8, terus, mulai deh FGnya bejibun. Kalo dia lewat, pada nyapa 'hey, kuji-kun', ih MENJIJIKAN!" menceritakannya, lambat laun membuat wajah Leader seperti manusia haus darah yang siap menerka ayam hidup, tapi, manusia ini tidak bisa menerkanya begitu saja, dia harus ingat, ayam itu milik howa. Yah, dendam tak terbalaskan, deh.

"Hyaa..~ Bilang aja lu SIRIK sama dia 'khaan!~" tutur Killua ngledek, sambil memasang nyolot facenya.

"Yaa.. Sebenernya iya, dikiiiitt. Jangan bilang siapa siapa, ya. Rahasia antar pria!" tak lupa, Niika yang mulai tersingkir memandang 2 mahluk aneh itu dengan tatapan singit ngapain-sih-tuh-orang-dua?!

"Ah, siiipp..!" sementara Killua OOCnya makin naik, karena berpose gaje sok oke (pake ngacungin jempol sgala, lagi!), Leader menyunggingkan senyum sehat senyum Indonesianya, bunga bunga pun berguguran.

"Oiya, topik kita apa tadi..?" ditengah kondisi yang kondusif itu, Killua tiba tiba bertanya.

"Hah..?" Leader harap, author nggak salah ketik.

"Iya, subjek kita apa tadi..? Yang lu mongin..?" tanyanya santaai.

"KUJIZA! Ya, ampun dari tadi!" dan Leader pun spaning.

"Yah, maklum kan, tadi ada iklan gue ribut dulu ama Niika.." ngeles.

Aksi selanjutnya, Leader memandang Niika yang terdiam sendiri dari tadi sambil memandangnya berceloteh bareng Killua, dengan melihat nyalanya manik hijau itu memberikan inspirasi. "Oiya, Niika, lu termasuk fan girlnya kan?"

"Hah, gue FGnya siapa..?"

"Kuji," ujar Leader menyebut nyebut nama itu.

Terbelalak, itulah yang dilakukan Niika setelah mendengar nama yang sebenarnya harem Leader ucapkan, lalu, dengan efek efek sinetron, dia membuka mulutnya, slowly "Kuji siapa..?" sfontan, Killua dan Leader pun jatuh pingsan dengan bunyi GUBRAK berjamaah. Leader tatkala merasa juga, kalau sebenarnya tidak ada yang mengerti apa topik yang dia sajikan sebetulnya. Tadi Killua begitu, sekarang Niika.

"Ku.. Kuji, orang yang NEMnya katanya paling gede di TO ini," tutur Leader.

"Oh, jadi dari kemaren itu TO, ya..?"

'Niika, kenapa lu jadi TELMI..?! Gue aja tau, yang kemaren itu TO!' bathin Killu, eh, tau yang kemaren itu TO? Tau kepanjangan TO aja nggak, kali, ya #DUAKK!

Setelah dicekoki informasi, Niika memandang ke sekeliling kelas yang dari tadi rame terus, ngganggu pembicaraan. "Yeah.. Gue pernah denger sih, tapi gue nggak tau kalo ada orang yang pinter keblinger kaya gitu," lalu Niika mengarahkan pandangannya ke Leader lagi, "Emangnya dia berapa hasil TOnya?"

"36,40.."

Sekilas, Niika tampak tersentak meskipun sedikit, Killua dan Leader pun lantas dibuat terbingung bingung. Yang anehnya lagi, dia langsung menundukan wajah sekaligus kepalanya, Niika.. Depresi? Nilainya bisa dikejar orang lain..? "Ho.. Ho.. Gampang, nilai segitu mah bisa gue kejar! Ini TO yang ke3 'kan?"

Tapi, setelah melihat raut kelicikan iblis jahat yang terpampang begitu sok pada wajah Niika, Killua dan orang disebelahnya yang masih setia dengan pikok pirangnya itu langsung terperangah. "DIH, NIIKA, APAA APAAN LO! SO, SOMBONG BANGEEETT!"

Setelah kondisi mulai kondusif, Niika kembali menyembunyikan sosok dirinya yang lain, "Yah, tau juga sih. TO kan cuma simulasinya UN, gue aja nilainya naik turun" curhatnya.

"Hm, mangkanya yang TOnya bagus, bagus terus, lah sampe UN nanti, tingkatin sekalian." oh, Leader mau ngasih wejangan, "Kaya gue dong,meningkat terus!" bangganya, Niika dan Killua langsung berWTFace.

Jujur sejujur jujurnya, Killua belum terlalu ngerti dengan masalah NEM atau UN dan sejenisnya, tapi biar nggak diem diem banget, Zaoldeyeck ini memberanikan diri bertanya. "Yehh.. Lu yang pertama berapa, sih. Nilainya?"

"29,30.. Gede 'kan?"

"Apaan, ituh?! Itu mah NEM gue pas SD!" celetuk Niika.

Lambat laun, membuat acara talk show bersama membuat Killua tersadar sebenarnya apa yang terus membuat Niika & Leader tetap berada di kursinya masing masing —meskipun Leader ngadep belakang mulu, kaga sakit leher tuh apa?—. Tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan yang habis, Killua akhirnya menyadari ada sebuah buku tulis yang ternyata lembarannya sedang ditoreh tinta oleh Niika, lantas, karena penasaran Killua bertanya."Oiya, dari tadi lu pada ngapain, sih?"

"Loh, kan ada tugas, tadi lu nggak denger?" tutur Niika, Killua pun termanyun.


Dari jam istirahat dimulai sampai berakhir 4 detik yang lalu tadi, Leader masih setia duduk di bangku tunggu yang terbuat dari alumunium di koridor memerhatikan setiap orang yang lalu lalang, eh, asal tau aja, koridor GunYat itu segede gorong gorong yang biasanya di Jakarta, loh! —lah, kecil dong, cuma 60cm!— nggak, lah, author bisa dituntut orang dalem, lanjut! Koridor GunYat itu gedenya biasanya 2 kali dari koridor yang menjadi koridor kantor, kampus, atau sekolah anda! Karena pake ubin yang ukurannya 20x20 sebanyak 21 petak mendatar. Lanjut, kedua mata bola Leader yang warnanya seperti susu coklat kebanyakan aer sebenarnya lebih mengarah kepada 1 objek, objek utamanya sebenarnya terhalang orang orang yang mengelilinginya, jadi, ini bisa dilihat sebagai kerumunan orang yang lagi doa bersama, tak banyak, kok, cuma 4 orang. Omong omong, situasinya sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, berhubung istirahat sudah berakhir.

"Liatin deh, MENJIJIKAN 'kan..?" terdengar sangat jelas sekali dengan penekanan kata MENJIJIKAN.

Dengan kadar kemalasan yang luar biasa, Killua melirik manusia alay disebelahnya itu sinis "Iye, tapi jijik juga masih lu liatin terus.."

Kalau Killua sebenarnya tak sejak dari tadi berdiam di tempat yang bisa dibilang umum itu, dari tadi dia keliling liling untuk observasi, gimana GunYat sebenarnya. Tapi, di perjalanan, Leader yang sudah stand by di pos jagaannya memanggil Killua dengan sutraightsu face dan berkata, ini, ada bahan observasi yang bagus. Merasa tertarik dengan penawaran, Killua akhirnya mendekati manusia durjana itu dan duduk agak jauh di sebelahnya. Kembali lagi ke ke keadaan sekarang, situasi di mana Killua jadi ikut memandang objek yang leader pandang. Jujur nggak jujur, sebenernya Killua juga nggak begitu suka dengan objek yang dia liat. Kalo gitu ngapain diliatin?! Lalu, tersirat beberapa kata yang ingin Killua tuturkan. "Hmm.. Kalo gue perhatiin itu, pertama, itu orang caper, kedua, so cakep, ketiga, belaga tuh orang!"

Mendengar suara yang 20.000hertz itu membuat Leader sedikit membelalakan matanya, lalu dia berkata "Oh akhirnya, ada juga yang matanya terbuka!"

Asal anda tau saja, kondisi ini sangatlah memalukan bagi sebagian orang, bayangkan. Lagi nyetalker orang, terus ngomongin orang tersebut —jelas jelas maksudnya sih biar nggak ada orang yang tau— ya boleh, sih. Tapi, suaranya kegedean, cuy! Kaya seumpamanya, anda lagi berada di tempat umum, terus tiba tiba ada beberapa orang nyolotin bergosip di sebelah anda, bilang, ih bau susu vanila! Apa segala macem, padahal jelas jelas anda yang make parfum vanila, gimana perasaannya?! Seker? Tereng? Mengumpat? Empet?

"Kuji..? Itu.." seseorang yang entah FanGirl atau FanBoy berkata setelah mendengar komentar menghujat Killua, seseorang ini juga langsung melirik Killua tajam, dia tau Zaoldeyek 1 ini lah yang mengatakannya.

Kuji yang berada tak jauh dari Killua dan Leader pun dapat mendengarnya, tapi dia hanya menoleh sebentar ke Killua lalu berkata "Biarin,"

"Oh, yaudah, lanjut, lanjut!" kata yang lain, melanjutkan pembicaraan tak berbobot tanpa tau topiknya apa, yah, yang pasti nggak mutu, lah!

Leader sih, tau kalau Kuji yang ada di sana dapat mendengar suara Killua, seneng sih, dia. Sebenarnya, Leader juga ingin mengumbar pendapat menghujatnya yang nggak jauh beda dari pendapat Killua di depan orang orang, tapi, berhubung.. Inget imej sebagai KM 9.4, lah! Mau ditaro di mana muka? Apa lagi orang kaya Leader, Leader sih udah ngebayangin semalu apa dia ngomong sekenceng itu! Tapi, dia mikir.. Yang malu Killua ini, eh.. Tau malu tau nggak, deh.. "Gue pernah denger dari adek gue, katanya dia itu pernah nggak naek kelas sekali, terus dia itu dulunya baduuuungg BANGET! Sering main bola, eh, sekarang liat aja tuh apa apaan ya, main gitar, apa segala macem begitu, gue juga bisa!" katanya berapi api, dengan komuk dendem.

Wajah Killua yang tadi datar datar aja, tiba tiba langsung menyala nyala(?) seperti habis terkena sengatan alat pen untuk cek gula darah, seketika, dia pun langsung berdiri "Ah, nanti kita bikin di mading terus tulis gede gede! Nanti kita sebarin gosipnya kalo dulu dia itu BEGO BANGET ampe NGGAK NAEK KELAS! Huahahaha!" lalu diakhiri tawa laknat.

Tatkala, Tajuu yang di sebelahnya ikut berdiri juga, tak lupa dengan wajah semangat G30S/PKInya. "Ya, trus jangan lupa kita umumin pake mic dan ngomong di mimbar gede gede! Pastiin juga dia balik DIBULI sama semua orang! Huahahahaha! Balas dendam memang nikmat!"

Dalam pose semangat balas dendam yang kian mendramatis dengan background gunung api meletus seperti di anime anime, akhirnya dua orang yang kesesatannya nggak jauh beda #BRUAKK! itu kembali ke tempat duduk, ya, hilaf, tadi OOC banget! (Audience : *nyambit howa pake martil*). "Ya udahlah, kayaknya lu panas banget sama dia, gue aja anteng anteng aja.." kata Killu selepas dari DOC.

"Yah, iya juga, sih.." renung Leader kita yang dari tadi terus mendendam, lalu, apakah dendamnya akan sirna?

"Lagian biarin aja, mungkin emang udah rejekinya dia jadi populer di sini. Gue sih sebagai pendatang baru hanya bisa diam dan menonton sampai jam berhenti berdetak aja.." lagi, Killua sok bijak mode, Leader hanya menatapnya penuh kesal.

"Oiya, udah dari tadi bel, gue mau masuk dulu..."


Hujan

Hujan, kata howa. Jadi, dia pikir dia harus membuat setting hujan di GunYat kala ini, ya, mengingat kondisi Indo akhir akhir ini.

Lanjut! Sesal hati Leader diwujudkan dengan ekspresi wajahnya yang kelewat bates nggak enak dipandang, udah harus pulang becek becekan, terus nyungsep di kubangan aer pas jalan tadi, bawaan tas yang lebih dari sekedar berat banget, oh maygawd, sabar, kakak! Mana ada author rese yang bikin setting ujan, lagi! Makanya, dari semenjak bel pulang berdentang tadi dia terus terusan termanyun di kursinya dan hanya memerhatikan beberapa langkah kaki dan pemiliknya yang berjalan pulang. Mau pulang juga males, yah, di rumah, ketemu Yoken, bosen!

"Soalnya ujan deres sekarang, tuh! Liat! Mana anginnya gede banget!" kata Killua kencang di depan jendela.

"Yeh.. Mangkanya, belakangan ini jadi makin sering ujan ya, dari malem, pagi baru berenti." sambung Niika.

"Iye tuh, musim sakit lagi! Adek gue aja belom sebuh sembuh tuh, makin parah malah!" komentar abangnya Yoken. Hoo.. Yoken lagi sakit, loh.

"Wah, gue turut berkabung, ya.." kata kata Killua begitu manis terdengar di telinga.

"Oiya, lu bawa payung nggak..?" tanya Niika pada Leader yang sibuk memakai tasnya —yang terlihat begitu berat— serta mengeluarkan payung lipat 3 dari barang bewarna dasar ijo bayem itu, Niika, lu nggak ngeliat payung Leader yang segede itu?

Lalu selanjutnya anak bernama lengkap Tadjudin Soepardjo ini memantapkan posisi tas punggung itu di bahunya dan berdiri dari tempatnya, "Bawa, udah ya. Gue mau pulang dulu, gue disuruh ngejagain adek gue!" setelahnya, dia langsung pergi keluar kelas dan menerpa hujan deras yang kian menderas.

"Lu?" pertanyaan Niika pun diarahkan pada Killua.

"Nggak,"

"Oh, untungnya gua bawa" ta-da-da! Niika pun mengeluarkan payung gede —yang biasanya dipake buat ojek payung— dari balik kursinya, dan Killua baru nyadar bahwa sedari tadi Niika membawa payung.

Melihat Niika membawa payung, Killua pun teringat sesuatu. "Hmm.. Gue bawa, deh.."

'Terus tadi kenapa lu bilang nggak..?!'.

Lalu, dimulailah perjalanan pulang oleh Killua, tak lupa Niika ada di depannya sembahri memegang payung hitamnya. Dari jarak yang lumayan jauh, Killua hanya bisa memandang rambut maroon Niika yang terumbai panjang. Kalau dilihat, sebenarnya ada yang gelayutan di rambut Niika, tak lain tak bukan adalah kertas dengan gambar babi yang ditempel dengan selotip. Korban iseng 2.

"Eh, lu kalo jalan jangan nyiprat, kek. Pelan pelan aja! Gue kena tauk!"

Setelah keluhan keluar dari mulut Killua, Niika sebagei orang yang menjadi bahan keluhan pun otomatis menghentikan langkahnya dan menoleh ke Killua di belakang, "Sabar, kakak!" katanya dengan senyum menggelikan yang jelas jelas ngeledek. "Sepatu gue aja rembes!" lalu, apa daya, Killua pun terdiam memandang genangan air di bawah mereka. Oh, tapi, sepatu Killua tidak rembes meskipun nggak pakai AP Boot, boot sebenarnya.

Perjalanan pun dimulai kembali..

"Kayaknya.. rambut lu nyangkut ke payung, deh" komen Killua, kenape nih anak 1 dari tadi ngoceh mulu ya? (nanya sendiri!). Rambut Niika yang nyangkut adalah rambut rambut ubun ubun susah diatur yang suka mumbul ke atas sendiri, jadi, karena nyagkut di kawat payung, ketarik ke atas dikit aja tuh payung, Niika ngringis ringis.

"Iya, gue juga tau, jangan komentar!" Niika pun enggan memalingkan wajahnya ke belakang seperti sebelumnya.

"Heh, dasar," decih Killua. "Lagian kenapa sih rambut lu panjang bener?" topik baru : rambut.

"Biar nanti gue bisa nyekek lo pake rambut gue.."

.

.

.

Adegan sebuah film horror xxx pun terbayang di otak Killua, adegan dimana dia berlari lari keringet dingin karena menghindari untaian rambut Niika yang terus mengejarnya. Killua menelan ludahnya.

.

.

.

Dan saat bangun dari bayangan mengerikannya, Killua tidak lagi melihat sosok perempuan berambut panjang itu, yang ada hanya hujan jarum yang terus menyerang bergerumul.


"AH, AWAS LU! BALIK LU SINI!"

"YEE.. Maap! Maapp!"

Killua memantapkan langkahnya agar sama dengan kecepatan rambat bunyi, matanya menyala nyala tajam, ditangannya terdapat gelas plastik berisi cairan x yang isinya menyiprat ke mana mana. Sementara Leader di depannya memacu kaki berusaha semaksimal mungkin agar tidak terkena jeratan tangan si Zaoldeyeck, bagaimanapun jua kesalahan yang pernah dia buat terhadap anak berambut perak itu. Oke, sederhananya, kita sebut aja mereka main kucing kucingan, lari larian gitu, udak udakan tepatnya, anggap aja Leader adalah anak curut dan Killua adalah kucing haus darahnya.

Setelah menabrak sekian orang yang dilibasnya dengan membabi buta, Killua akhirnya dapat mengunci targetnya dengan penglihatan bak laksana senapan di game online beken, segera dia ambil ancang ancang untuk menyiramkan cairan x di gelas plastik. Leader sih, sempat tengok ke belakang dan menyadari keadaannya yang sangat terdesak itu, tapi, harus menghindar juga! Aku nggak mau ditangkap!

BRUAKK!
Craatt!

Dalam posisi tiarap di medan perang, Leader yang tadi memeluk kepalanya mulai mengarahkan pandangan ke atasnya. Seketika matanya langsung terbelalak tak percaya, dan dari atas, menetes cairan hitam yang sempat mengenai tangannya..

Audience : Oi, author, apaan seh, gue nggak ngerti!

Heningg..

Dalam hati, Leader nista ini bersorak bersama paus akrobatis dengan back ground taman ria. Kenapa nggak? Yaeyalah, ngeliat musuh terkena serangan, ya seneng. Tapi sebisa mungkin, dia sembunyikan adegan bersama paus akrobatis itu dengan tatapan sok prihatin. Killua sebagai pelaku yang mengarahkan kopi hitam nun panas yang di menit sebelumnya masih di gelas plastik, masih di tangan hanya bisa menatap datar —merasa nggak bersalah banget, ea— orang di depannya. Lalu.. Korbannya ini, nih, yang apesnya kena siraman kopi di muka yang semestinya diterima leader, cuman bisa memejamkan matanya agar tidak merasakan panasnya kopi.

Skenario gampangnya, Killua mengejar Leader agar Leader terkena siraman kopi panas yang dibawanya dengan gelas plastik, Leader, berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari kejaran Killua hingga di detik akhir dia tiarap. Lalu, saat Killua menyiramkan kopi panas pada Leader, Kuji, yang tiba tiba ada di depan Killua lah yang menerimanya, sementara, target sebenarnya (Leader) tengah tiarap dan tidak terkena serangan itu.

Sementara para murid, fg, fan boy maho yang kebetulan ada di TKP memandang pemandangan langka itu dengan hebring.

"Ya ampun, Kuji-kun!"

"KUJI!"

"Oh My GOD! Kuji-nii-kun..!"

Mendengar tetiakan lantang sok khawatir lebay nun alay orang orang beringas itu, secara langsung menghabisi visual dream Leader bersama paus akrobatisnya. Dan.. Anak bermata se'bening' air sungai ciliwung itu merasa ini saatnya dia untuk pergi, kalau dia masih sayang nyawanya, dan jabatan yang dibanggakannya.

Killua yang membaca kondisi siaga 1 itu pun merasa harus mengatakan sesuatu, apa lagi hawa membunuh yang disebarkan orang orang sekitar begitu menyerap sumsum, "Oh, maaf, ya.." tapi, dengan nada maupun tampang yang masih datar.

"APA, LO CUMA BISA BILANG MAAF, AJA..?!"

"NGGAK BAKAL GUE MAAFINN!"

"UWOOO..! LU SIAPA, SEHH? BERANINYAAAAA...!"

Pegal tiarap, memanfaatkan situasi dirinya yang mulai diabaikan ini, Leader mengambil lengkah untuk bangun dari posisinya dan menyingkir.

"Emangnya lu mau gue bilang apa aja? Terus, sebenernya gue minta maaf ama siapa ya? Kok, yang jawab siapa? Oiya, gue Killua, anak 9.4.." jawab Killua santaai.

"Hmm.. Nggak apa apa, kok.." semua mata yang ada langsung tertuju pada tokoh utama sebenarnya dari adegan penyerangan ini, Kuji. Anak laki laki yang jelas bukan Mary Sue ini memasang senyum tulus, tapi, mata Leader membaca itu sebagai ledekan. Sebenernya Kuji nggak selalu masang senyum seribu dusta kaya tokoh tokoh cowok di komik shojo, cuman mukannya adem aja dilihat, anteng, kalau Yoken kan berasa banget tuh tampang nyolotnya!

"Nggak sengaja 'kan?" Killua makin menatap mata selai blueberry Kuji, dia rasa pertanyaan itu diarahkan padanya.

"Ng.. Sebenernya gue sengaja sih, tadi, mau nyiram dia." Killua lalu menengok pada Leader yang berdiri di samping tong sampah, Leader meresponnya tak mengerti. Maaf, sinyal otak Leader terhalang radio aktif dari tong sampah.

"Oh.." Kuji menyimpan kembali senyum dustanya dan mulai memasang wajah normalnya.

Tatapan mengancam Ayo-cepet-pergi-dari-sini! Diarahkan Leader ke Killua, lalu senada dengan hembusan angin mamiri, kedua anak beda bapak itu meninggalkan TKP yang masih ramai. Sementara Kuji mulai mengelap wajahnya yang basah karena siraman tadi dengan lengan bajunya.

.

.

.

"Kalo diliatin dari deket nggak nyolot nyolotin banget mukanya, kayanya adem orangnya.."

'Oh, ada pengikut baru..' kesal bathin Leader dibuatnya, dia lirik Killua dengan sinistis. "Yah, jangan nilai orang dari fisik! Liat dalemnya!"

"Yeilah, masih dendem aja, lu sama dia.." rasanya Killua ingin cepat cepat memberikan boneka jerami pada Leader.

"Woy, Kinyun! Lu masih lama?" mendengar nama Kinyun yang asing di cerita ini, Leader menengok ke sumber suara, didapatinya seorang anak lelaki pendek bertopi. Killua juga ikut memandang anak bertopi itu. "Tuh kan! Gue jadi manggil elu Kinyun!" keluh anak bertopi 'Norte Dame' dengan gambar maskotnya di depan pintu, yeh, lagian siapa juga yang gomong?!

"Iya, iya, bentar lagi!" jawab Leader sibuk dengan tas punggungnya.

"Hmm.. Berkat kejadian tadi, gue jadi punya ide.." suara Killua tiba tiba keluar dengan dingin, mengerikan, dan hampanya. Leader (atau Kinyun) yang tadi baru saja mau meninggalkan tempat duduknya langsung menghentikan lngkahnya, dan menatap Killua yang masih duduk di tempatnya.

"Ide apa..?"

"Gimana kalo kita kerjain terus tuh orang..? Kita uji keimanannya untuk membuktikan diri dia yang sebenarnya," jelas Killua memberitau rencana penyerangannya.

"Eh, bagus juga tuh ide!"

"WOY KINYUN, LU JADI PULANG KAGA, SEH..?!"


Yoken yang keperkasaannya mulai lenyap ditelan sakit keras (*digeplak Yoken*) yang dideritanya tidak bisa berkomentar apa apa lagi perihal apa yang dilakukan kakak tercintanya (Yoken : *muntah darah*) sekarang, di ranjang ukuran queen size itu dia hanya bisa melihat Leader lewat pintu kamarnya yang terbuka dari kejauhan. Leader sendiri tidak pernah menoleh sedikit, saja untuk melihat Yoken, terkutuklah kau! Kinyun tengah duduk lesehan asik menghitung harta bendanya di kamarnya, kamar yang tepat bersebrangan dengan kamar Yoken, dan entah sengaja atau tidak, pintu kamarnya terbuka, membuat mereka memiliki kemungkinan untuk melihat satu sama lain. Sebenarnya, Yoken juga tidak tau apa yang membuat Leader memborong berkardus kardus petasan kretek, tau 'kan? Yang kecil kecil itu dan kalo dilemparin ke tanah meledak, meletup dengan bunyi khas 'pletek!'nya. Dan yang rajinnya lagi, dengan telaten Leader menghitung satu persatu petasan itu. Tak lupa ada beberapa petasan cabai, tau 'kan? Yang bentuknya silinder terus diikatkan menurun satu sama lain, yang biasanya warna merah dan ada sebagai aksesori tahun baru.

Lalu.. Hingga kakaknya itu pergi sekolah meninggalkannya, Yoken tak dapat berkata apa apa. Dengan tampang melas, tatapan kosong, tubuh lemas yang dia tampilkan dia tidak bisa berpikir apa apa, apa lagi dengan jernih. Ohh.. Inikah saat terakhirnya dia?

Omong omong, apa sebenarnya sakit yang diderita anak nyolotin itu hingga absen berhari hari? Eh, sekarang udah nggak bisa nyolot lagi, deh! Terakhir kali, dia iinformasikan menderita demam dan segala rupa, dan dia menunjuk nunjuk Leader sebagai pelaku tunggalnya. Yah.. Begitulah hingga sekarang, malah, kondisinya sekarang makin parah. Dia menghabiskan 2 ember muntah setiap harinya untuk menampung isi perutnya yang minta keluar, karena dia kurang cairan, ditambah meriang dan sakit kepala yang tak kunjung mereda, sekarang.. Yoken yang biasanya paling pinter nyeletuk itu tidak bisa bicara, tepatnya karena tidak ada tenaga untuk melakukan hal itu. Dan.. Jangan lupa, untuk turun dari ranjangnya, Yoken tidak bisa, ya, dia tidak bisa jalan. Yang sabar kakak!


Niika memandang Kinyun dari kejauhan yang kelihatan repot dengan buku ditangannya, handphone, dan tak lupa sebuah kotak kardus kecil, dih, cucok rempong! Tapi, Niika sendiri masih repot mencari penghapusnya yang nyungsep ke mana tau, jadi dia kembali memendepkan badannya ke bawah meja dan mencari kembali benda kecil tapi membawa berkah (?) itu.

"Neh, gue bawa petasan sekotak, isinya 250 biji! Tinggal gue lempar nanti!" setelah menaruh segala rupa benda merepotkannya di meja, Leader menyodorkan kotak putih polos itu ke meja Niika, Niika yang ada di bawah meja ya nggak bisa ngeliat dan ga bakalan tau, lah! "Di rumah juga masih banyak, sih!" lanjutnya dengan nada kelewat bangga.

'Dih, ngomong nggak pake otak kali, tuh anak! Ngapain die ngomong sama gue sementara gue nggak bisa ngeliat die..?!' rutuk Niika. Tulahnya itu anak, setelah ngejek Tajuu, kepala Niika kepentok kolong meja, 'Duh, aw!'.


istirahat..


"Psstt..! Kuji lewat! Kuji lewat!"

"Oh, siiipp..!"

Sesuai dengan komando Leader yang sudah ditentukan, Killua segera membuka kunci senapan, menentukan arah, daann..

PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK BLDAARRR BLDAAARRR BLDAAARRR DUARRRR DUARRR DARRR DARRRRR!

Situasi gaduh pun dimulai, Kuji yang sedang jalan sendiri langsung dibombardir begitu saja dengan petasan yang ditembakan. Beruntung meskipun situasi ramai, tidak ada yang berani mendekat, mata orang orang itu hanya memandang Kuji tertegun. Ho..ho.. Dari atas koridor lantai dua, di balkonnya juga, Leader tertawa puas, sementara Killua di sebelah masih asyik menembakkan peluru (baca: petasan). Eh, tuh orang kerja sama? Killua jadi kaki tangannya?! Tapi, ini kan emang usul Killua, meski dia tidak tertarik, Leader mengiyakan. Jadi, kenapa dia ikut ikutan kaya Leader begitu? #pertanyaan bodoh.

PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK PLETEK BLDAARRR BLDAAARR BLDAARRRR BLDARRRR BLDAARRR BLDAARRR BLDARRRR BLDAAARRR DUARRRR DUARRR DARRR DARRRRR!

KKRETEKRETEK RETEKETEKETEKK PREKETEKETEK PRETETETETEKK PREKETEKETEK PRETEK PRETEK PRETEKETETER KETEKETEKKPREKK! DUARRR!


Kali ini Niika tidak bersembunyi lagi di bawah meja, anak yang seharusnya kelas 1 SMU ini benar benar melihat apa yang Leader bawa. Dan bawaannya itu tidak kurang aneh dari bawaannya kemarin, "Itu.."

"Apa..? Telor semut 'kan?" tak kalah bangga, Kinyun/Leader/Tajuu/Tajudin Sufarjo menyodorkan kantong plastik misterius dengan isi yang bergerak gerak. "Nih, semutnya juga ada! Tadi gue beli dari tukang burung"

.

.

.

Sebelum terjun ke medan perang, dari atas balkon (tempat biasa) Kinyun memberi Killua sebuah headphone dengan bulu warna peach, Killua menatap benda itu bingung kirain ada apaan. Tapi, kata Leader benda itu wajib dipakai pada serangan ke2 ini.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...! ADA APA DI RAMBUT GUE...?! HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAA...!"


Kinyun bener bener terlihat kayak tukang panggul, deh, kala ini. Bayangin aja, ngapain dia bawa tempayan? Dan diiket ke punggungnya pake kain lusuh, lagi. Niika yang melihat tingkah ajibnya belakangan ini makin bingung plus curiga, sebenarnya, buat apa semua barang/benda/perlengkapan/peralatan itu? Maklumin aja, Niika emang nggak up to date meskipun berita Kuji lagi diincer ngalahin boomingnya berita konser SM Entertaiment kemaren, nah lo!

Balik ke Leader, anak dengan high light pirang di poninya ini datang datang langsung menggebrak lantai mejanya dengan tempayan yang dia bawa. Setelahnya dia langsung menoleh pada Niika yang masih saja asekk dengan bacaan 'Budidaya Pohon Toge' di kursinya, eh, kenapa harus budidaya pohon toge?

"Ini.. Aer cucian piring emak gue!"

Sepintas, Niika beralih dari gambar kacang ijo yang dilihatnya di buku ke tempayan berair.. Sebenernya nggak keruh, sih, tapi.. Yah, nggak usah diceritain deh, bekas piring makan yang terkadang nggak bersih itu.. Dicuci pake aer dan aernya ada di tempayan itu. "Hmm.. Gue nggak nanya, sih. Tapi rajin banget luh bawa begituan!"

.

.

.

"1,.. 2,.. 3.." , "SEKARANG!"

BYURRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR...!

"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...! AER APA INIIIIIIIII...?!"


"Kapur barus, kenalin ini Niika, Niika, ini kapur barus!"

"Gue nggak mau kenalan!" by the way busway on the way, Niika langsung hengkang melihat tingkah Leader yang makin 'miring' itu.

Dengan duduk di belakang meja Leader membuat Killua penasaran juga, penasaran dengan serbuk broken white yang ada di kantong hitam itu, "Eh, kapur? Kok serbuk begitu..?"

"Iyap, kapur barusnya udah gue bikin serbuk," dan asal tau aja, loh, penggunaannya bila terkena kulit, apalagi dalam dosis berlebihan, bisa menyebabkan panas menyengat luar biasa! Panasnya begitu nyenget bak laksana jarum jarum yang nancep di kulit, dibilas aer bersih atau direndem es juga nggak bakalan mempan, malah, itu bakalan bikin jarum jarum panas yang menancap makin asoy dan kenceng sengatannya, bener bener bukan panas biasa! Pengalaman nyata! #loh..?


Sudah lelah Niika menghadapi tingkah Kinyun yang ajip itu, padahal dia pikir dengan absennya Yoken, setidaknya dia bisa mengurangi dosis obat sakit otak yang biasa jadi cemilannya. Tapi, kali ini, manusia yang bisa kita bilang alay itu malah menggali liang hidungnya (baca : liang kubur) sendiri. Jadi, saat bel berbunyi 17 menit lagi dan Leader datang, Niika dengan segera menyensor —menutup— mukanya sendiri dengan buku Detik Detik UN 2015.

"Ini kemaren, muntah adek gue di rumah, gue bawa ke mari.." mendengar apa yang Kinyun bawa hari ini, spontan, membawa Niika dari sumsum tulang belakangnya sampai gerak motorik untuk menggebok Kinyun.

BRUAKKKK!

.

.

.

Terkadang, author juga sudah lelah menghadapi tingkah Tag Team yang bisa kita sebut.. KillEr? Ini, Killua Leader, tapi kayaknya ngedenger cap Tag Team buat mereka janggal rasanya, banget.

Bel istirahat ini selalu dimanfaatkan dengan baik, berdiri dari atas balkon, lalu serang! Yang Leader bawa adalah ember semen, sebenernya ember semen yang berisi muntah adeknya, Yoken, yang masih belum diizinkan howa untuk sembuh.

Sebenarnya, mumpung Leader lagi nyari di mana Kuji berada, author akan menjelaskan beberapa hal ganjil saat penyerangan ini terjadi. Pertama, orang orang yang berada di lorong lantai 2, alias balkon yang biasanya dipake buat tempat nyerang, tak pernah curiga dengan apa yang dilakukan Leader dan Killua, mereka nampak begitu tak peduli meskipun sudah jelas jelas pelaku penyerangan ini mereka. Kedua, target selalu lewat di tempat yang sama, diserang di tempat yang sama, sama halnya dengan tempat penyerangan yang tidak berubah. Kalau terkadang Killua berpikir Leader bisa sekeji ini, dan bisa bisaan aja nyiksa dia dulu di ff Ada Apa Dengan GunYat? Terkadang, Leader mikir juga, apa sebenernya si Kuji ini sadar kalo lagi diincer? Dan dia sengaja merelakan diri untuk diserang karena hanya sebagai umpan soalnya tiap kena serangan mukanya adem adem aja dilihat, tapi, tempat yang dia lalui memang tempat yang sering dilewati orang kebanyakan, jadi tidak menutup kemungkinan juga kalo dia lewat situ terus. Ketiga, mereka selalu berhasil lolos. Keempat, Killua jadi selalu siap untuk melakukan penyerangan, entah kenapa, mereka berdua.

'HII..! KETAUAN, MAMPUS GUEEE!' dengan komuk yang super ketakutan banget, kaya lagi diuber massa gara gara nyolong helm, Leader lari.

'ANJRIT, JANGAN BAWA BAWA GUEEEEE..!' Killua mau cuci tangan rupanya, dia nggak mau kebeberan, oh, tidak bertanggung jawab!

Tempo adegan ini cepat, jadi, author jelaskan. Saat penyerangan dilakukan, dan ember muntah sudah mengguyur target kita, Kuji, tanpa diduga duga, sebelum Leader dan Killua lari, Kuji mengadah ke atas, di mana serangan itu diluncurukan. Lantas, Leader langsung kebakaran jenggot lari, lari, ember muntah yang tadi masih ada di tangan Killua kini dijatuhkan begitu saja dan menghantam kepala Kuji, massa yang kepo pun menghampiri Kuji, dengan catatan : menjaga jarak. Balik lagi, dengan membabi buta, Kinyun memasuki sebuah ruangan kosong tanpa pintu bekas UKS yang ada di pojok lantai 2 dengan high speed, Killua lain arah lagi ceritanya, dia main bersembunyi di sebuah ruang kelas yang entah kelas berapa, yang letaknya ada di sebelah ruangan temapat Kinyun mengumpat dan bersembunyi di balik pintunya, penghuni kelas tersebut yang nggak kenal Killua pun menyerang dengan WTF face.

Setelah beberapa kali mengambil nafas, Kinyun berinisiatif untuk melihat keadaan di bawah sana, di TKP. Langkahnya sengaja dia pelan pelankan alihi alih, sih, biar nggak ketahuan. Setelah keluar dari ruagan berdubu itu, situasi benar benar hening, tak ada suara gaduh yang biasanya menghiasi waktu istirahat. Saat melihat lantai dasar sana, Leader tertegun, kok.. 'Kenapa di bawah sepi banget? Nggak ada orang…?' ia makin heran dengan situasi yang sepi sunyi senyap saat ini, ditengoknya lorong lantai yang dia pijaki ini sepi sekali, hanya ada angin bertiup yang berusaha untuk disembunyikan author, kiamat mungkin sudah dekat! GunYat kan rame terus!

"Hai,"

Merinding, keringat dingin langsung membasahi poni dengan highlightnya itu, Leader tak tau siapa sebenarnya dalang dibalik suara ramah yang terdengar dari belakangnya. 'Siapa… Siapa yang ngomong di belakang gue..?' demi menjaga pamornya yang terus menurun, dalam keterkakuannya, perlahan, Kinyun memberanikan diri menengok ke belakang, kalau 'penghuni' GunYat bertambah lagi, berarti ada sequel lagi.

.

.

.

"Sapa L..?"

Killua tak mengubris pertanyaan kepo dari salah satu penghuni kelas itu, curiga dengan Kinyun yang tak tampak lagi, anak yang masih belom bisa menghapal rumus Suku ke-n Barisan Artimetika ini keluar dari kelas yang ramai. Dilihatnya lorong yang masih agak ramain itu, mana Kinyun? Mana poni alay itu? Keliling liling mencari, Killua pun beralih ke sebuah ruangan kosong tanpa pintu di sebelah kelas tadi, dan tak diduga duga, ternyata pemilik poni pirang alay itu ada bersama orang ke3.

.

.

.

Setelah selesai menjelaskan dirinya kenapa bisa ada di sini pada Killua, dan nggak tau ngomongin apa sama Leader dari tadi, Kuji menoleh pada Leader yang kesurupan jin kampret membungkuk 90' di sebelahnya. Dan saat itu wajah Kuji kembali ke wajah asalnya, straight face dingin menusuk, Killua agak kaget.

"Maaf ya,"

"Iya, kok. Udah gue maafin," jawab Kuji menerima maaf Leader.

Sontak, Kinyun tercegang, dia kembali mengangkat badannya dan berdiri tak begitu tegak. "Tunggu dulu deh, lu nggak marah sama kita..?" kini, tatapan Leader dan Killua menyerang Kuji bersamaan.

"Nggak," dengan wajah antengnya Kuji menjawab.

"Benci..?" tanya Kinyun.

"Nggak,"

"Dendem...?" Killua bertanya.

"Iya,"

'GYYAAAAAAAAAAAAAAA...! NANTI GUE BAKAL DIGUNA GUNA SAMA DIAA!' batin Leader menyeruak.

'OH, TIDAK, GUE BELOM TENANG MATI SEBELUM MEGANG X'BOX GUE SENDIRIII!' yang diikuti Killua, kedua orang yang kepribadiannya jelas beda itu saling gaje dengan pose masing masing, sementara, Kuji menatap keduanya masih tajam, nah lo, dendam yang tak terbalaskan!

"Hahahaha, nggak, kok. Cuma bercanda," tapi seketika tatapan tajam itu ditelan mata yang tinggal segaris karena senyum.

"UOOOO! NIH, ORANG PENGEN BIKIN KITA SETRES..!"

"OHH.. MUNGKIN PENGEN DIKERJAIN LAGI, DIA!" Killua langsung mengeluarkan sabit andalannya.

"Nggak, kok…"

"Trus.. Lu.. Kenapa..? Bisa setenang ini..?" tanya Leader, dia masih heran dengan manusia bermata dark blue ini, sabarnya Kuji kayaknya nggak pernah ada batas.

"Yah, abisnya gimana? Gimana pun juga gue harus maafin kalian" kayaknya nih orang ngasih kepalanya ke anak kecil buat maenan juga mau, kali.

"Nggak, juga, sih.. Terserah lu itu.." Leader menatap Kuji masih terbingung bingung, yaiyalah, situ kalo dikerjain ampe parah gitu ngamuk, kaga?!

'Udah bagus kita masih dimaafin, tauk!' bathin Killua, iya juga, itu KM geblek 1 ngapain banget nanya nanya begitu? Pengen nggak dimaafin.

.

.

.

"Yang jujur, nih, nanti malem gue nggak bisa tidur, lagi! Lu serius, nggak marah..?" kayaknya Kinyun ngotot banget ye nanyanya.

"Hmm.. Iya," Kuji juga udah mulai capek ngejawab pertanyaan berulangnya itu. "Emangnya kenapa..? Kok, nggak yakin banget?"

"Lu sebenernya manusia bukan, sih..? Kok, sabar bener?" tanya lagi dan lagi, lagi, Leader, emang elu, kaga sabar nghadepin adek lu, si Yoken! "Lu napak kaga, sih..?" pandangan Leader mulai beralih ke kaki Kuji.

"Lu lagi nglawak, ye? Yah jelas napak! Ini serius, tau!" tapi Killua yang ngjawab.

"Kesabaran manusia itu.. Sebenernya kan nggak ada batasnya, yang bilang 'batas kesabaran gue abis' itu karena orangnya sendiri yang ngebatesin kesabarannya. Jadi, kenapa gue harus ngebatesin kesabaran gue sendiri..?"

Killua sudah habis bingungnya sama Kuji, tapi, Leader masih aja tertegun dan menatapnya bingung. Terus, ngapain Kuji jadi ceramah, gitu, ya?

"Yahh.. Sudahlah, berakhir acara kita kali ini," Leader yang tadi ada agak jauh di sebelah Kuji, makin menjauh dan hampir menginggalkan ruangan.

'Kita..? Aduh, romantis banget bahasanya!' jelas, bukan Kuji yang mbathin.

"Kayaknya.. Apa yang selama ini orang liat itu bener bener diri lu yang sebenernya.." Leader yang tinggal keliatan punggungnya doang, kini ditatap Killua dan Kuji bersamaan.

"Heh, masa iya..?"

"Iya, semuanya.. Ternyata lu bukan manusia bertopeng yang gue kira, diri lu yang selama ini itu bener bener diri lu yang sebenernya, kaya ngeliat wadah air yang bening.." Leader beralih haluan memandang hujan yang mulai turun dari langit, ngeliat aer jadi ngomong aer.

Situasi jadi tak terduga, nggak nyangka bisa begini. Killua pun menoleh ke Kuji dan melihat pandangan anak itu yang memang adem jadi makin adem, sendu tepatnya, "Yah.. Bener, sih, tapi.. Nggak semua yang lu bilang itu bener,"

"Hah, maksud lo..?" kepo, berlandaskan kata itu, spontan, Leader menoleh ke Kuji di belakangnya.

"Iya.. Mungkin diri gue yang selama ini bener bener diri gue yang sebenernya, tapi gue bukan wadah air yang bening atau bukan manusia bertopeng, gue nggak sebening yang kalian kira.." selengkah demi selengkah Kuji berjalan mendekati Leader, pergerakan baru. "Masih banyak yang nggak lu ketahui tentang gue.." lalu melengkahi Kinyun dan meninggalkan ruangan antah berantah itu, makin jauh dan jauh, ditemani bajunya yang sudah berubah aroma terguyur muntah Yoken, jijay banget, ea. Leader menatap kepergiannya serius, sementara Killua berpikir, kenapa tindakan gue bisa sejauh ini, ya? Sambil memandangi tangannya yang sudah melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949.

.

.

.

"Oi!"

"Heh..?"

"Sebenernya lu salah sasaran nggak, sih.. Bikin orang kaya gitu jadi target..?" sampai pulang sekolah, Killua masih saja teringat momentum tadi dan bertanya kepada Leader yang jalan pulang bersamanya.

"Gue nggak tau," Leader memandang susunan konblock yang dipijakinya sambil terus berjalan menuju gerbang.

"Jawaban bagus!" sia sia Killua rasa pertanyaannya.

"Lagian.. Gue juga nggak tau, sebenernya siapa dia…" dan Killua mulai kehabisan kata.

"Oiya, gue baru inget!"

"Apaan lagi..?"

"Gimana, dendam kesumat lu sekarang? Udah mereda..?" nah, ini dia, pertanyaan bermutu yang menjadi cikal bakal Kuji dikerjain, bisa kita bilang sampe lumayan, lumayan mana sama pas di Ada Apa Dengan GunYat? Yang Killua dikerjain (baca :siksa) abis absisan sama Leader, itu?

"Hmm.. Secara teknis sih, harusnya iya, tapi, gue sendiri jadi penasaran sama tuh orang.."

"Ah, udah lah.. Kaya nggak ada kerjaan aje, luh, ngurusin orang. Blajar sono, mau lulus nggak..?" langkah Kinyun langsung terhenti dan menatap Killua terheran heran dalam heran negathif.

"Oh, bukannya gue yang harusnya bilang begitu..?" dan Kinyun masih ingat kalau buku Detiknya masih ada di tangan Killua, rela relain, deh, demi disebut sebagai 'KM yang baik' jadi make buku Yoken yang lusuh dan penuh coretan serta gambar gambar gaje.

Tapi, Leader langsung melanjutkan langkahnya lagi. "Eh, jadi udah selesai, nih.. Serangannya..? Lu nggak ada rencana lagi?" taya Killua, yang kayaknya jadi semangat ngelanjutin serangan.

"Yah, bukannye tadi lu yang bilang gue kudu belajar..?" Leader ngebisa bisain ngebalikin kalimat Killua.

"Yehh.. Payah lu, padahal gue udah nyiapin agresi militer, loh, buat serangan balik.." licik, senyum yang dipamerkan Killua begitu sangat licik dan terasa jahat sekali di mata, spontan Leader langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.

"HAH..?!"


Bagaimanapun juga, kebenaran Kuji bukan tugas Kinyun, atau pun juga tugas howa untuk menulis naskahnya (*dimakan buaya*), apa lagi Killua yang tidak tertarik dengan anak berambut biru dongker itu. Itu urusan Kuji sendiri kalau dirinya benar benar seperti kaca jendela yang bening. Benar atau tidaknya Agresi Militer terealisasi, mending kita baca chapter selanjutnya nanti..

ReviewPedulihowa,
Berapapun review yang anda berikan sangat berarti bagi kami, god bless you..


"Kenape..? Keren 'kan?" Killua nampak begitu senang mengumumkan rencana ajigilenya.

"Nggak,"

"Eh?"

"Gue bingung aja, kok lu tau ya agresi militer itu semacam serangan balik!" kata Leader.

Killua memandang Kinyun empet, seremeh itukah dia di mata Leader agung kita (*muntah berlian*)? Sementara Kinyun sendiri mulai beranjak pergi dari hadapan Killua, mengikuti jejak Kuji duluan.

Koridor sekolah begitu sepi, berkas berkas serangan Kinyun masih mengotori lantai. Meskipun merasa bukan urusannya, tapi, Killua jadi penasaran dibuatnya, dengan Kuji. Pancaran yang diperlihatkannya membutakan mata semua orang akan dirinya, hei, Kuji, siapa dirimu sebenarnya?


THE AUTHOR WOULD LIKE TO THANK YOU FOR YOUR CONTINUED SUPPORT..


Setelah diseret Ibunya ke ruang tv dan disetel sebuah anime di tv tersebut, tak ada perubahan ekspressi dari Yoken, kayaknya dia sakit parah banget ya, kaya orang sakit keras aja. Matanya menatap kosong adegan per-adegan anime yang nama judulnya 'cerita dongeng' itu, itu kalau kata ke2 judul anime itu Tale. Dalam anime itu, ada seorang tokoh yang muncul juga dalam fic ini hampir DOC, itu kalau anda tau sebenernya Yoken nonton anime apa..