#2 Dark Age

Mataku membelalak, tubuhku lemas. Aku harus bersandar di tembok, bila tidak, tubuh ini tak akan berhenti bergetar.

Apakah aku tak salah dengar?

Apa ini mimpi?

Bila iya, bangunlah, Hatsune Miku!

Sayangnya tidak. Aku berkali - kali mencubit pipiku. Sakit, tapi aku tetap tidak terbangun.

Luka...?

Kenapa? Apa dosaku padamu? Ini adalah satu - satunya cara aku bisa kembali menemui Kaito Shion...

Mengingat seluruh kebaikanmu padaku, rasanya sakit jika itu semua palsu belaka.

Tak lebih lagi, aku bisa melihat jelas dari balik tembok, Kaito mendekati Luka, dan mendaratkan sebuah ciuman lembut dan hangat di bibir merah mudanya.

Mataku hanya bisa menatap nanar, dan akhirnya cairan bening membendung. Kakiku berbalik, dan aku segera meninggalkan tempat menyedihkan itu.

Cairan bening itu sudah melewati batas, tumpah. Air mata ini berlari bersamaan dengan kakiku yang belum mengerti kearah mana.

Terus, terus berlari. Bila perlu, biarkan aku mati hari ini.

BRUK!

Tubuhku membentur seseorang, dia menggenggam kedua pundakku. Dengan kekuatan yang masih tersisa, aku mendongakkan kepalaku.

"Hatsune-san?"

suara yang tak asing bagiku. Itu suara seorang laki - laki yang berhasil menaklukkan hati Rin, Len Kagamine.

Aku duduk di sebuah bangku taman yang lokasinya dekat dengan rumahku. Len membeli minuman di mesin minuman yang berada tepat di sebelah bangku putih ini.

Dia berjalan melewatiku sambil meletakkan sekaleng teh sakura di pangkuanku, kemudian dia duduk di sebelahku. Bukan teh yang kuperhatikan, tetapi lambang Sakura yang tertera di kaleng itu. Bagaimanapun caranya, aku tak mungkin bisa melupakan janji itu, karena janji itu sudah terkubur dalam, sangat dalam di lubuk hatiku.

"Ada apa, Hatsune-San?" tanyanya sambil membuka kaleng sari Lemon miliknya dan meneguknya. Aku terdiam, aku sudah tak punya kekuatan lagi untuk bercerita.

"Hatsune-San?"

Setiap orang yang hendak bercerita pasti harus mengingat apa yang akan dia ceritakan. Walaupun mengingatnya pun terasa sakit, apalagi menceritakannya.

Pemikiranku untuk bercerita kepada Len Kagamine buyar ketika dia mendaratkanku diantara kedua lenganya, pelukannya.

"Hatsune-San, aku tak tahu apa yang membuatmu sedih seperti ini, tapi kau bebas menangis dipundakku,"

Lagi - lagi air mataku membendung dan tumpah. Sebagai seorang gadis normal yang sedang ditimpa kesedihan berat, tentu membutuhkan seseorang untuk berada di sisinya.

Yang membuat janji dengan Kaito adalah diriku, bukan Luka.

Yang mengaku kepada Kaito harusnya diriku, bukan Luka.

Dan yang menerima ciuman itu harusnya diriku, bukan Luka...

Tubuh Len sangat hangat. Lengannya yang melingkar di tubuhku, dan jari - jarinya yang mengusap air mataku... itu sangat melegakan. Aku tenggelam dalam pelukan itu. Namun sebuah pelukan yang sesungguhnya membutuhkan cinta, tapi aku...

tidak mencintai Kagamine Len.

Pelukan ini hanya untuk menghiburku. Aku hanya menerima ini saat aku bersedih. Kemudian pelukan ini akan berakhir begitu senyuman terpasang lagi di wajahku.

"Kagamine-San... Terimakasih..." kataku sambil melepaskan lengannya dari pundakku.

"Kau yakin kau tak apa, Hatsune-san?"

Matanya menatapku khawathir. Aku tak pernah melihat seorang laki - laki yang begitu mengkhawathirkan diriku. Aku sedikit terbuai dengan tatapan matanya.

"Aku tak apa...terimakasih..." kataku. Aku segera membuka kaleng berisi teh Sakura yang isinya sudah tak hangat lagi dan meneguknya pelan.

Len mengantarku hingga sampai ke rumah. Untung Kak Mikuo sedang tak ada di rumah, mungkin bekerja seperti biasanya.

Len benar - benar orang yang pengertian. Bisa saja aku berpindah hati kepada Kagamine Len. Tapi tidak,

hatiku sudah melekat pada Kaito Shion.

Aku berjalan lunglai masuk melewati gerbang besar Vocaloid Academy. Aku bahkan tak ada niat untuk masuk hari ini.

Sampai ke koridor sekolah, semua murid memandangiku. Mereka yang berjalan melewatiku berbisik - bisik. Ada apa ini?

Aku segera memeriksa seragamku, memeriksa tasku, mengecek sepatuku. Tidak ada yang janggal, semua normal.

Aku terus berjalan dengan keheranan sampai aku menemukan segerombolan murid sedang mengitari mading sekolah. Murid - murid yang berbisik - bisik juga berasal dari gerombolan mading sekolah itu.

Aku segera berjalan mendekati papan mading itu, dan satu - persatu murid yang bergerombol disana menatap diriku. Tatapan mata mereka seperti tatapan... tidak menyangka.

Mereka langsung bubar ketika aku hendak bertanya pada mereka. Dengan cepat aku berlari melihat mading itu.

Badanku terbujur kaku, wajahku pucat. Bagaimana tidak, kertas besar seukuran poster tertempel disana dengan gambar ketika Len sedang memelukku saat itu!

Aku hanya bisa meletakkan telapak tanganku di depan mulutku untuk menahan diriku yang ingin berteriak sekencang mungkin.

Si...siapa yang mengambil foto kami berdua saat itu? Dan... tega - teganya dia memajangnya di mading seperti ini?!

Tanpa basa - basi, aku langsung merobek poster itu, melepaskannya dari mading dan membuangnya ke tempat sampah.

Aku berlari dengan cepat menuju kelasku. Apakah Rin sudah melihat poster itu? Celaka bila dia sudah melihatnya.

CKREK

"Ah... ini dia... sang pengkhianat sudah datang,"

"Aku tak percaya aku memiliki teman sampah seperti dia..."

Ah...

Terlambat.

Semua sudah tahu.

Gadis - gadis sekelas bergerombol di salah satu bangku, dan yang berada di tengah adalah Rin. Dia menundukkan kepalanya, wajahnya memerah. bukan wajah marah, namun, wajah sedih yang sangat sakit ketika kulihat.

Apa yang telah kulakukan? Aku telah... menghancurkan kepercayaan Rin padaku.

Len yang berada di ujung kelas memukul keras mejanya, "Hei! Hatsune-san tidak salah apa-apa! Akulah yang memeluknya lebih dahulu!"

Rin yang mendengar Len membelaku terlihat terkejut dan dia menundukkan wajahnya lebih dalam. Bagus sekali Len, kau membuat suasananya lebih buruk!

Gerombolan gadis - gadis itu tidak terima, mereka menatapku tajam, "Tapi Rin-chan menyukaimu! Jangan buat dia sakit hati! Rin-chan gadis yang lebih baik daripada pengkhianat itu!"

Emosi Len memuncak. Terlihat sekali dengan tangannya yang mengepal. Namun hukum norma berkata, tidak boleh ada kekerasan terhadap perempuan. Bila tidak ada, tinju pasti sudah melayang dari tangan Len.

"AKU TIDAK MENYUKAI RIN! TERSERAH SIAPA YANG LEBIH BAIK, AKU TAK PEDULI!" bentak Len yang membuat Rin spontan bangkit dari tempat duduknya.

"O-oh... Begitu ya? Terimakasih banyak atas jawabanmu L-Len..." katanya dengan suara parau. Matanya berkaca - kaca. Dia segera berlari menuju keluar kelas. Sebelum itu, dia melewati tempatku berdiri.

"Terimakasih Miku, berkatmu, kisah cintaku hancur. Terimakasih banyak," isaknya seraya keluar dari kelas 10-1 diikuti oleh gerombolan gadis - gadis yang membelanya.

"Lihat apa yang telah kau lakukan pada Rin! Dasar sampah rendahan! Kau tak pantas menginjakan kaki disini!" seru mereka.

Mungkin mereka dengan gampangnya mengatakan itu, tapi kata - kata itu benar - benar membuat sebuah goresan luka yang membekas di dalam hatiku.

Lagi - lagi aku kehilangan sahabat.

Lagi - lagi aku mendapat masalah.

Sekarang apa lagi yang ingin menimpaku?

Siang ini terik seperti biasanya. Aku membuka kotak bekalku. Memakannya di bawah pohon sakura seribu tahun, pohon yang menyimpan kenangan terbesarku ini.

Jika kalian bertanya kenapa aku makan bekal disini, jawabannya adalah...

"Haha, Lihat si pengkhianat itu! Dia makan disana karena dia takut pada kita. Dasar pengecut!" seru Kasane Teto, Gadis yang paling sering mengejekku diantara gadis-gadis gerombolan yang lain.

Lebih baik aku makan disini sebelum mereka menumpahkan debu - debu kotor hasil piket mereka ke dalam bekalku lagi.

Mungkin aku harus menjadikan ini sebagai rutinitasku sehari - hari. Dan mungkin juga aku menghabiskan sebagian besar waktuku bernaung di bawah pohon sakura besar ini. Karena lebih aman daripada diriku saat berada di dalam kelas.

Aku melahap nasi dan telur gulungku. Mengunyahnya pelan sambil meletakkan teh peach disebelahku. Hingga...

SRAK!

Seseorang rubuh didepanku. Tapi dia tidak pingsan, dia segera bangkit dan menyambar memelukku.

"Maaf, tolong tunggu sebentar!" serunya padaku. Tentu saja aku jadi salah tingkah dan tidak melakukan atau tidak berkata apapun.

Selang beberapa menit, laki - laki ini melepaskan pelukannya. Dia segera melepas topi dan jubahnya. Astaga, Kaito Shion!

Apa yang dia lakukan di saat seperti ini? Dengan jubah lebar dan topi yang sangat besar itu, dia seperti orang gila.

"Maaf aku telah membuatmu terkejut," kata Kaito. Dia beralih duduk di sebelahku. "Fans ku semakin gila akhir - akhir ini! Mereka mengikutiku kemana - mana, bahkan ada yang nekad mengikutiku ke toilet!" curhatnya.

Aku tak bisa menahannya, aku pun tertawa lepas. "Hei, ini tidak lucu! Ini musibah untukku!" katanya. Tapi akhirnya dia juga ikut tertawa.

"Kau anak yang menarik, namaku Kaito Shion. Kau?" tanyanya.

Kaito, kau bahkan dengan polosnya menanyakan namaku seperti kau belum pernah bertemu denganku sebelumnya. "Aku Hatsune Miku," jawabku pelan.

"Hatsune Miku, sepertinya kau tidak terlalu bahagia bertemu denganku, kau bukan fans atau haters ku kan?" tanyanya sambil menjauhkan sedikit posisi duduknya mengantisipasi apabila aku salah satu fans gila-nya.

"Tenang saja. Aku bukan haters ataupun fans mu kok," kataku. Dia pun bernafas lega. "Syukurlah,"

"Mereka mengejar diriku hanya karena diriku yang memperoleh banyak perhatian. mereka selalu ada di saat aku bahagia, tapi mereka menghilang begitu aku membutuhkan mereka. Sungguh konyol," katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk, aku tak tahu harus bicara apa lagi, aku terlalu bahagia bisa duduk di sebelah orang yang kusuka selama ini.

"Hatsune... Em, bisakah aku memanggilmu Miku?" tanya Kaito. "Dengan senang hati," jawabku.

Dia memandangkan matanya kearahku. Tatapan matanya tak berubah seperti saat dia memandangku saat itu. Lembut, penuh kasih sayang...

Kami pun saling menatap mata satu sama lain dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kemudian dia terlihat kaget. "Ma...maaf Miku, ketika aku melihat sosokmu, aku jadi teringat seseorang," katanya.

Ya, itu adalah aku 8 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang kau masih mengira gadis itu adalah Luka. Gadis yang sesungguhnya tepat berada di depanmu, Kaito!

"Miku, bisakah aku datang kesini besok, dan besok lagi dan besok lagi? Di jam yang sama?" tanya Kaito. "Untuk apa?" tanyaku. Seorang penyanyi terkenal sepertinya tentu tak ada waktu luang, bukan?

"Saat istirahat makan siang seperti ini, aku dibebaskan dari pekerjaan. Meskipun begitu, aku tak bisa istirahat dengan tenang bila para fans gila itu terus mengejarku. Disini tenang, dan aku bisa istirahat tanpa kebisinginan. Lagipula..."

"Lagipula?" tanyaku meminta dia melanjutkan kalimatnya.

"Aku suka telur dadar," katanya sambil mengambil satu dadar gulung dari kotak makanku. "Dan juga es krim," katanya dengan mulut yang masih mengunyah.

"Sampai jumpa,Miku!" katanya sambil berdalih pergi. Berarti dia akan datang lagi besok? Aku harus membuat dadar gulung yang banyak!

Tunggu Miku, kau jangan terlalu bahagia.

Kaito...

Masih berada di tangan Luka.

"Kak, gadis brengsek itu masih saja bersabar, sampai kapan dia akan keluar dari sekolah ini?"

"Tenang saja, adikku tersayang... Gadis cantik sepertiku gampang sekali mendekati laki - laki. Dan kau beruntung, sebab aku sangat dekat dengan kepala sekolah dan kakak dari gadis brengsek itu..."