Hai hai~~/ akhirnya FF satu ini update juga setelah sekian lama Shinon tinggal /di sleding Zhao Yun
Oke selamat membaca~
WARNING : OOC, TYPO, HARSH WORD
Setelah pertempuran Fan Castle, Guan Yinping harus merelakan kepergian Kakak dan Ayah tercintanya. Dia pun terpisah dari Guan Xing dan Guan Suo saat di kejar oleh pasukan Wei. Di tepi laut Guan Yinping membersihkan lukanya walaupun sangat perih dia harus menahannya.
"Aaaaahhhkkkk! S-sakit..."
Di lain tempat, Zhu Ran sedang membersihkan dirinya awalnya dia malas untuk mandi tetapi jika bukan karena mulut cerewetnya Lu Xun dia sudah berada di kapal dengan kondisi berlumuran darah. Zhu Ran pun mendengar suara perempuan sedang kesakitan sekaligus menangis. Karena penasaran Zhu Ran segera menghampiri asal suara itu.
"Siapa disana?!"
Guan Yinping pun terkejut saat mendengar suara teriakan Zhu Ran, "K-kau!?" Yinping ketakutan saata monster itu berada di depannya, orang yang hampir membunuhnya sekarang berada di depannya.
"Dilihat dari pakaianmu sepertinya kau dari Shu." Zhu Ran mendekati Yinping, tetapi Yinping mundur beberapa langkah sambil menatapnya dengan sedikit takut dan tajam. "Jangan mendekat!" "Menjauhlah dariku, MONSTER!"
Dengan wajah bingung, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Jangan berpura-pura! Karena kau... tidak karena kalian... aku harus kehilangan Ayah dan juga Kakakku!" karena bebatuan licin, Yinping pun terpeleset dan tercebur ke laut. "Kyaaaaaa!"
"Ah! Sial!" Zhu Ran pun terpaksa menyelamatkan Yinping yang tenggelam.
Beberapa menit kemudian
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Hah... hah..."
"Baiklah nona, aku tidak tahu kenapa kau takut denganku dan sepertinya kau pernah bertemu denganku. Tetapi maaf, aku tidak begitu ingat apa yang terjadi di waktu sebelumnya." Zhu Ran duduk sambil mengatur nafasnya begitu juga dengan Yinping.
Yinping tidak menjawab pertanyaan Zhu Ran dia hanya menatap Zhu Ran dengan tajam, Zhu Ran tau Yinping tidak akan menjawab pertanyaannya. "hah... kau harusnya bersyukur karena aku yang menemukanmu."
"Apa maksudmu?"
"Jikalau kau ditemukan oleh pasukan Wei atau... yang lainnya, mungkin saja kau akan langsung dibunuh atau... dijadikan sebagai pemenuh nafsuh mereka." jelas Zhu Ran membuat mata Yinping terbelalak, dia segera menundukkan kepalanya. "Dan kau juga akan melakukan itu!"
Dengan marah, Zhu Ran menarik rambut panjang Yinping. "JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN MEREKA BRENGSEK!"
"AHK! SAKIT! L-LEPASKAN! LEPASKAN SIALAN!" Yinping meringis kesakitan dan memohon ampun agar di lepaskan. Tapi, Zhu Ran yang sudah berubah menjadi orang lain. Tidak melepaskan Yinping malah... mungkin saja menikmati.
"Boleh saja Nona... tapi, kau harus memohon dan mengatakan 'aku mohon Tuan Zhu Ran lepaskan aku' dan aku akan melepasmu." Zhu Ran sedikit membukukkan badannya agar dia bisa mendekati wajahnya dengan wajah Yinping.
"Aku tidak sudi berbicara seperti itu kepada bajingan tengik seperti kau!" "lebih baik aku mati tenggelam di laut tadi dari pada memohon kepada kau!"
Ekspresi Zhu Ran berubah, "dan aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja." Zhu Ran segera memukul belakang Yinping agar dia pingsan. "istirahatlah, Nona..." Zhu Ran menggendong Yinping dan membawanya ke kapal.
"Hey Zhu Ran, siapa yang kau bawa itu?" Tanya Lu Xun. "seorang perempuan dari Shu." Jawabnya datar. Lu Xun memperhatikan perempuan yang digendong oleh Zhu Ran. Awalnya dia sedikit tidak percaya karena perempuan yang di bawa oleh Zhu Ran adalah puteri God of War tetapi setelah di teleti lagi ternyata dugaan Lu Xun tidaklah salah.
"Kau membawa puteri God of War, itu tidak buruk." "Sebaiknya kau cepat bawa dia kedalam kapal, dilihat-lihat dia terluka dan basah kuyup seperti itu. Dan juga pakailah bajumu, kau tidak ingin kan ada kesalah pahaman jika kau bawa dia dengan tidak memakai baju." Lu Xun pun masuk kedalam kapal duluan, sedangkan Zhu Ran menurunkan Yinping dan memakai pakaiannya terlebih dahulu.
Di dalam kapal, banyak sekali prajurit – prajurit yang selamat, ada yang terluka, ada yang tidur dan ada yang berteriak kesakitan karena salah satu tangan mereka terpotong. "wow Tuan Zhu Ran anda membawa barang yang sangat bagus." Salah satu prajurit mendekati Zhu Ran dan memperhatikan Yinping, hampir saja Yinping disentuh jika Zhu Ran tidak mengancam mereka, "Jangan sentuh dia, jika kalian menyentuhnya akan aku pastikan tanganmu itu sama dengan tangan temanmu disana." Ancam Zhu Ran dengan tatapan membunuhnya itu. "B-baik maafkan kami..."
"Ah Zhu Ran, kau sudah disini rupanya. Cepat kita bawa dia ke dokter dia harus dioba-"
"Biar aku saja yang mengobati dia."
"Nona Lianshi!" Lu Xun memberi hormat.
"Anda tidak perlu repot-repot untuk mengobatinya, kita bisa menyuruh dokter untuk mengobati lukanya."
"Ini adalah keinginanku." Tegas Lianshi kembali, "Sekarang bawa dia ke kamar."
Lu Xun dan Zhu Ran saling bertatapan dengan wajah bingung lalu Zhu Ran melaksanakan perintah dari Lianshi, Zhu Ran meniduri Yinping di kasur dan mundur beberapa langkah. Lianshi ingin membuka pakaian Yinping tetapi dia terhenti dan menatap Lu Xun dan Zhu Ran. "Apa yang kalian tunggu? Sekarang keluarlah!" Lu Xun dan Zhu Ran langsung memberi hormat dan segera keuar dari kamar.
"Aku tidak tahu kalau nona Lianshi bisa seseram itu." Zhu Ran menyender ke tembok. "tapi kenapa nona Lianshi harus melakukan itu? Kita kan bisa saja menyuruh dokter untuk mengobati perempuan itu.
"Aku rasa karena dia adalah anak God of War? Tunggu, kau tidak tahu namanya? Dan... jangan-jangan kau juga tidak tahu alasan misi ini? " tanya Lu Xun. Zhu Ran hanya menggeleng kepalanya, Lu Xun pun mengehala nafas dan sedikit sabar dengan sahabatnya ini. Dia sudah mengenal betul dengan Zhu Ran yang memiliki sifat yang dingin dan cuek ini, begitu juga dengan kepribadian gandanya. "Zhu Ran... aku tahu kau ini tidak suka bergaul atau... bersosialisasi, tapi setidaknya kau harus tahu sedikit tentang misi ini."
"Baiklah Tuan Penasehat. Beritahu aku, kenapa Master Lu Meng begitu nafsuhnya ingin membunuh God of War?" Zhu Ran melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Lu Xun dengan serius.
"Seharusnya Jing Province itu adalah milik Tuan Sun Quan tetapi Guan Yu menolak untuk memberi Provinsi itu. Begitu pun dengan perjodohan yang di tolak mentah-mentah oleh Guan Yu." Jelas Lu Xun. "Tunggu. Apa maksudmu dengan perjodohan?" Zhu Ran memotong pembicaraan Lu Xun.
"Kau tidak tahu ya? Tuan Sun Quan ingin menjodohkan puteri Guan Yu dengan anaknya, tetapi Guan Yu menolaknya."
Zhu Ran pun hanya mengangguk mengerti dan sedikit memikirkan Guan Yinping, entah mengapa dia merasa bersyukur perjodohan itu di tolak oleh Guan Yu. "baguslah..." gumamnya dengan suara pelan.
Cekrek!
"Nona Lianshi." Lu Xun dan Zhu Ran memberi hormat.
Lianshi memasang wajah sedih, "luka – lukanya sangat banyak dan dalam... begitu juga dengan luka di tangan kanannya... tapi aku sangat salut padanya dia bisa bertahan sampai sekarang dengan lukanya itu." Lianshi menatap Zhu Ran. "bisakah kau menjaganya. Zhu Ran?"
"Sesuai dengan perintah Nona akan saya laksanakan."
"Ini pasti berat baginya... di usianya yang masih muda dia harus kehilangan keluarganya..." dengan nada sedih dia pun berlalu meninggalkan Lu Xun dan Zhu Ran.
"Baiklah sepertinya aku juga harus pergi." Belum melangkah, Lu Xun sudah di cegah oleh Zhu Ran dengan tatapan yang sudah di tebak oleh Lu Xun bahwa Zhu Ran ingin mengatakan 'mau kemana?'. "aku harus memberi laporan kepada Tuan Sun Quan, dia pasti sudah menungguku."
"Dan juga Zhu Ran." "Jangan yang berbuat aneh – aneh." Lu Xun pun berlalu meninggalkan Zhu Ran. Zhu Ran menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal mencoba mencerna perkataan Lu Xun. Dia segera memasuki kamar dan melihat Yinping yang sedang pulasnya tertidur.
Zhu Ran's POV
Aku duduk di kursi yang sudah di sediakan di samping tempat tidur tersebut yang sudah di pakai oleh Nona Lianshi tadi. Walaupun sedikit bergoyang karena berada di kapal, aku mencoba untuk membiasakan diri.
Kuperhatikan perempuan yang terkapar lemah di tempat tidur ini, banyak sekali perban yang di berikan oleh Nona Lianshi. Harus kukagumi seorang Istri Tuan Sun Quan ternyata bisa melakukan seperti ini. Dia bisa menjadi dokter yang hebat.
"Emmmm..."
Wah, sepertinya dia sudah mau sadar. Mungkin.
"Ayah... Kakak... jangan... jangan tinggalkan aku..."
Dia pasti sedang bermimpi buruk, kasihan juga kalau dibiarkan. Tetapi aku tidak memiliki hak untuk membangunkannya hanya karena dia sedang bermimpi buruk.
"Pasti sangat berat ya bagimu..." gumamku, aku terus memperhatikan wajahnya. Memang sangat cantik dan imut tapi aku tidak begitu tertarik..
"Monster..."
Huh?
"Pergi kau monster!"
Dia bilang monster?
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
Monster
MONSTER!
Tidak! Tidak! Hentikan!
Aku memegang erat kepalaku dengan kedua tanganku. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Kenapa... kenapa rasanya sakit sekali!?
Rasanya sekelilingku menjadi hitam, semuanya menghintam. Hanya ada... Api.
"Aku hanya ingin membunuh..."
"D-dia monster... GYAAAAAAAAA!"
"ANAK SEPERTIMU LEBIH BAIK MATI SAJA!"
"ANAK TIDAK BERGUNA!"
"Kau... Kau pembunuh... PEMBUNUH!"
"KAU BUKAN TEMANKU! KAU PEMBUNUH!"
"KENAPA KAU MEMBUNUH ANAKKU?! KENAPAAA?!"
"BUNUH DIA ZHU RAN! CEPAT BUNUH DIA!"
"Ran-"
"Zhu Ran—"
"ZHU RAN!"
Hah!
"Hah... hah... Lu-Lu Xun?"
"Kenapa kau tidur disini?"
"Apa-" Aku melihat sekelilingku, ternyata aku masih di kamar perempuan tadi. Tapi, tiba-tiba saja aku berpindah tempat duduk di bawah dan bersender di tembok kamar ini. Seharusnya aku duduk di kursi yang dekat tempat tidur tapi kenapa aku disini?
"Lu Xun... a-aku..."
"Sudahlah." Dia memegang pundak kananku, "kita sudah sampai, ayo berkemas dan bangunkan perempuan itu." Aku dan Lu Xun menatap seorang perempuan yang sedang pulasnya tidur di tempat tidur berkayu itu.
"Kalau bisa ikat saja tangannya agar dia tidak macam-macam, tapi... jangan berlebihan ya." Lu Xun segera beranjak dan meninggalkan kamar ini. Baiklah aku berusaha mencerna perkataan si pintar satu ini.
Aku segera bangun dan mendekati perempuan ini dan. Aku tidak memperdulikan mimpiku tadi, "Hey... ayo bangun."
Tidak ada respon.
"Hey! Bangun!"
Dan tidak ada respon juga. Sumpah, rasanya aku ingin sekali menggunakan caraku untuk membangunkan Lu Xun. Tapi karena dia seorang wanita mana mungkin aku harus menggunakan cara itu.
"Emmm..." oh sudah bangun rupanya.
Dia mengucek-ngucek matanya dan berusaha membenarkan penglihatannya, "Kakak... apa aku kesiangan lagi?"
"Maaf... Kakakmu tidak ada disini..." Akuku.
Suasana pun menjadi hening, dia tidak berbicara dan akupun tidak berbicara. Dia hanya menatap sebuah ikatan kepala berwarna hijau bisa dibilang sangat kotor karena ada bekas darahnya. Lama kelamaan sebuah air jatuh ke tangannya. "Benar... Kakak tidak ada disini... begitu juga dengan Ayah... tidak ada... Hiks... hiks... hiks..."
Tanpa satu kata apapun, aku langsung mengikat kedua tangannya itu walau dia sedikit memberontak. "aku tidak ingin Tuanku lama menunggu."
Guan Yinping's POV
Orang ini. Apa dia tidak di ajarkan sopan santun? Sampai-sampai terhadap wanita dia sekasar ini. Tapi, bukan itu yang aku pikirkan. Kenapa... kenapa aku berada di tempat musuh? Kenapa aku harus bersama dengan pengkhianat?
"Hey! Bisakah kau pelan-pelan?!" akuku dengan kesalnya menarik dia kembali.
"Apa kau bisa tenang sedikit?" kini dia mulai menatapku dengan tatapan yang dingin-tak ada perasaan. "untuk apa aku harus tenang dengan orang seperti kau?!"
Dia hanya membuang muka dan melanjutkan langkah sambil menarikku layaknya seekor sapi. Aku melihat sekeliling, banyak sekali yang memperhatikanku sampai-sampai ada seorang prajurit yang berusaha menggodaku. Kami berdua pun keluar dari kapal, aku berusaha membiasakan mataku dengan cahaya matahari yang terik ini, dan. Butuh waktu untuk membiasakan mataku ini sampai-sampai ketika kubuka mataku... aku benar-benar terkejut.
Bendera Wu..
Kenapa... kenapa aku harus berada disini... kenapa aku harus berada di tempat musuh... harusnya. Harusnya aku berada di Shu bersama kedua Kakakku! Kakiku mati rasa, nafasku tidak beraturan, pendengaranku tidak begitu jelas, aku... aku...
"Kenapa..."
"Hm?"
"Kenapa... kenapa... KENAPA AKU ADA DISINI!?" aku berteriak sekuat tenaga sampai-sampai aktivitas para orang Wu terhenti dan mata mereka tertuju padaku. "KENAPA AKU HARUS BERSAMA PENGKHIANAT SEPERTI KALIAN! KENAPA!"
"Dia orang Shu?"
Dilihat dari warna pakaiannya harusnya iya."
"Tunggu, aku kenal perempuan itu."
"Dia puteri God of War bukan?"
Aku menatap tajam orang yang berada di depanku ini, orang yang berusaha membunuhku. "lepaskan aku!" dia hanya menatapku seperti orang yang ingin tahu lebih banyak, tetapi aku tidak suka dengan cara menatapku ini. Seolah-olah aku seperti patung yang hanya menjadi bahan tontonan.
"Jika aku melepasmu apa yang akan kau lakukan? Menghajarku?"
"Lebih dari itu!"
Lalu, datanglah seorang pria dengan gagahnya menghampiri kami berdua. Dengan pakaian layaknya pemimpin sambil memegang sebuah pedang yang tidak terlalu besar dan kecil. Aku arahkan pandanganku kepadanya, dan benar saja. Dia adalah Emperor Wu, Sun Quan.
"Tuan." Laki-laki yang memegang tali untuk mengikatku segera memberi hormat padanya— "kau puteri Tuan Guan Yu?"
Aku hanya terdiam.
"Aku tidak menyangka salah satu Officerku menangkapmu dan aku salut padamu karena perempuan seperti kau sudah ikut berperang." Ucapnya, "aku akan memberikanmu pelayanan yang layak sebagai puteri God of War. Sampai aku memutuskan kau di bebaskan."
Apa? Maksudmu aku disini sebagai tahanan?
"Sebenarnya apa alasanmu memutuskan persekutuan ini?!" tanyaku dengan lantangnya kepada Tuan Harimau ini.
"Jawabannya sudah jelas bukan saat pertempuran di Fan Castle?"
"Padahal... alasan Ayah tidak ingin memberikan Jing Province... untuk menyerang Wei..."
"Apa?"
Kini aku menatapnya dengan tajam, "Ayah sudah berjanji menggunakan Jing Province untuk menyerang Wei! Untuk menyerang Fan Castle! Tapi kenapa kau malah bekerja sama dengan Wei?!" setelah aku melontarkan pertanyaan lantang ini, dia sama sekali tidak berkutik. Ekspresinya seperti orang yang tersambar petir. Jika saja seorang perempuan paruh baya yang berada di samping tidak menyadarkannya dia akan terus-terusan seperti itu sampai hujan mau turun.
"Aku tidak apa-apa Lianshi... Zhu Ran... aku serahkan dia kepadamu..." dia pun berlalu tanpa harus menjawab pertanyaanku. Dan, laki-laki yang di panggil Zhu Ran ini menghalangiku saat aku ingin berbicara dengan Sun Quan karena dia belum menjawab pertanyaanku. "Minggir!"
"Tuanku menyerahkan kau kepadaku, jadi jangan harap kau-"
"Zhu Ran!"
"Ya, Nona Lianshi?"
"Aku ingin kau membawa dia ke kastil dan berikan dia kamar yang layak, aku TIDAK ingin kau memperlakukan dia seperti seorang tahanan. Mengerti?"
"Baik Nona."
"Lu Xun aku serahkan pengawasan kepadamu."
Entah kenapa aku mulai menyukai dengan bibi yang di panggil Nona Lianshi tersebut, dia sangat cantik dan terlihat sekali sosok seorang Ibu. Walaupun aku sendiri tidak tahu siapa Ibuku. "kerjaanku bertambah lagi mengurusi hewan ternak."
"Permisi?"
Zhu Ran menatapku, "tentu saja kau. Sudahlah aku tidak ingin membuang-buang waktu." Dia menarik tali pengikatku dengan kasar sampai-sampai aku hampir terjatuh.
"Zhu Ran... lembutlah sedikit..." terima kasih kau yang bernama Lu Xun mungkin, sudah mengingatkan teman brengsekmu ini. "maaf dengan sikapnya ini. Oh iya, perkenalkan namaku Lu Xun. Bolehkah kami berdua tahu siapa namamu?"
"Guan... Yinping..." jawabku sedikit ragu.
Orang yang bernama Lu Xun tersenyum ramah, "salam kenal Yinping semoga kita bisa akrab." Kujawab dengan anggukan kecil.
Aku melihat sekeliling yang begitu ramai dengan barang-barang yang di keluarkan dari kapal. Mulai dari persenjataan, kuda, mayat dan... sebuah kotak. Aku tidak begitu tertarik dengan isi kotak yang sekarang aku perhatikan ini, tapi—perasaanku ingin sekali tahu apa isi kotak itu.
"Apa kau ingin tahu isi kotak itu?" Zhu Ran mengetahui diriku yang sedang fokus terhadap kotak yang membuat diriku penasaran ini. Aku menatap Zhu Ran sedikit khawatir dan tebak ekspresi apa yang ia tunjukan padaku. Tepat sekali, sebuah senyuman yang sangat menyeramkan menurutku—
"Kepala Ayahmu dan Kakakmu."
DEG
"Dan, kau tahu apa yang akan kami lakukan dengan kepala mereka?" "Kami akan menggantung kepala mereka di tengah kota..."
Tidak... tidak... jangan... jangan! Jangan lakukan kepala mereka seperti itu!
"Zhu Ran! Kenapa kau berbicara seperti itu!?"
"Memang kenapa? Itu memang benar."
"Tapi Ran-" "Sudahlah Lu Xun, kau tidak usah ikut campur. Perempuan ini milikku sekarang."
Sekarang, aku berada di sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan kecil. Kamar ini masih terlihat bagus walau kelihatannya menjadi kamar gudang. Ada satu tempat tidur, meja dengan sebuah kursi seperti meja belajar, vas bunga yang tidak terawat, satu lemari dan jendela dengan penghalang.
Bisa kubilang, ini tidak buruk.
"Ini kamarmu sekarang." Zhu Ran melepas ikatan tanganku, "penjaga disini ketat, jangan harap kau bisa kabur." Dia melangkahkan kakinya untuk keluar—
Kutahan dia dengan menarik bajunya, "Tunggu! K-kepala Ayah... dan Kakakku... aku mohon jangan..."
"Aku tidak bisa janji." Dia pergi dan meninggalkanku sendirian di kamar.
Aku terdiam di tempat selama beberapa detik, di kepalaku terisi dengan penuh banyak pertanyaan dan kekhawatiran: 'apa yang terjadi dengan Kak Suo dan Kak Xing?' 'apa mereka baik-baik saja?' 'bagaimana denganku..?' 'apa aku akan baik-baik saja disini..' 'atau... aku akan seperti Ayah dan Kak Ping?'
Tiba-tiba, air mengalir keluar dari mataku membasahi kedua pipiku. Benar, aku sendirian.. Aku sendirian disini.. tidak ada lagi canda tawa bersama Kakak-Kakakku, tidak ada lagi yang mengelus kepalaku, tidak ada lagi... tidak ada lagi... tidak ada lagi... tidak ada lagi...
"Hiks... hiks..."
Sendirian.
Aku sendirian sekarang..
Zhu Ran's POV
Setelah pertempuan di Fan Castle, tubuhku benar-benar sangat lelah dan sakit semua karena tendangan dari seseorang yang entah siapa itu. Aku tidak sabar untuk menemui tempat tidur kesayanganku ini, tidak ada yang lebih nyama selain tempat tidurku ini.
"Hey, Zhu Ran." Oh ayolah, hanya tinggal beberapa meter lagi aku akan sampai ke kamarku ini. "Ada apa lagi Lu Xun?"
"Bagaimana keadaan Nona Guan Yinping?"
Aku bersender di tembok, "baik-baik saja..." jawabku malas. Dan Lu Xun melipatkan kedua tangannya sambil menatapku tidak yakin. "aku serius Lu Xun, dia baik-baik saja."
"Baiklah aku percaya padamu. Tapi ingat Zhu Ran, Nona Lianshi akan selalu mengecek keadaan Nona Guan Yinping. Aku harap kau tidak macam-macamnya dengannya karena kau berurusan dengan Nona Lianshi."
"Ya... ya... aku tahu, aku tahu." Aku berjalan mendahului Lu Xun, "aku ingin istirahat Lu Xun jadi, jangan ganggu aku." Aku segera memasuki kamarku dan menutup pintu kamarku. Rindu rasanya melihat kamarku ini, padahal aku pergi berperang selama Seminggu tapi aku sudah sangat menantikan tempat tidurku yang nyaman ini.
Aku membuka pakaian atasanku dan kulempar ke dalam ranjang untuk di cuci, kulihat tubuhku ini penuh sekali dengan memar dan luka-luka yang kudapat saat pertempuran di Fan Castle. Apa lagi luka memar yang kudapat dari tendangan orang yang super kuat itu mungkin saja kekuatan kakinya setara dengan Ling Tong. "Sampai sekarang masih saja sakit.."
Kulihat ada sebuah baskom yang berisi air bersih, kugunakan untuk mencuci muka dan membersihkan leherku. Aku melihat pantulan bayanganku di baskom berisi air tersebut.
"Kau MONSTER!"
Aku menggelengkan kepalaku dan menarik nafas panjang lalu kuhembuskan secara perlahan, tenang Zhu Ran kau hanya kelelahan saja. Jika aku istirahat, pikiranku menjadi lebih jernih dan tenang. Ya, tenang.
'Kau tidak ingin membunuhnya?'
"Untuk apa aku harus membunuhnya.."
'Akan sangat di sayangkan kau tidak membunuhnya. Bagaimana kalau kau bermain sedikit dengannya?'
"Bermain, huh? Perempuan itu... memiliki wajah yang cantik, bibir merah, rambut yang panjang... dan... tubuh yang indah..."
'Menarik sekali ya...'
Menarik...
'Aku tidak sabar kau bermain dengannya, hihihi...'
Dia menghilang, bayangannya menghilang dari pantulan air di baskom ini. "Hah..." kurebahkan diriku ini di tempat tidurku yang nyaman ini, mencoba untuk tidak memikirkan mimpiku waktu aku tertidur di kapal. Apa lagi gadis itu "mungkin... suatu saat kau pasti akan menjadi milikku."
Mungkin.
